(Sebelumnya, bagian pertama: Parmalim bukan Sipele Begu. Berita wawancara tentang agama pertama orang Batak.)
Mereka memasuki Bale Parsaktian setelah melepaskan alas kaki. Tidak seperti namanya, jangan mengira di dalamnya terdapat benda- benda sakti seperti keris pusaka atau tunggal panaluan. Rumah ibadah ini nyaris kosong melompong, bahkan satu kursi pun tidak ada. Umat Parmalim cukup duduk bersila pada tikar yang terbentang di lantai. Para bapak melilitkan kain putih polos di kepala dan mengenakan ulos pada kedua pundak. Semua peserta ibadah — tua maupun muda, lelaki atau perempuan — wajib memakai kain sarung.
Sang pendeta, Martogi Sijabat, berdiri di depan, dekat dupa, dengan kedua telapak tangan dirapatkan dalam posisi menyembah. Dengan lancar dia merapal doa-doa dan pujian bagi Ompung Mulajadi Nabolon. Belasan orang umat yang duduk bersila di belakangnya terdiam hening menyembahkan tangan, termasuk anak-anak.
Pengucapan doa-doa dalam bahasa Batak Toba ini berlangsung sekitar 1,5 jam. Berkali-kali terdengar kata Tuhan, Debata, Ompung, dan Raja nami. Sebanyak 23 patik atau perintah Tuhan diucapkan. Tidak ada alunan musik keyboard atau gondang, tidak ada kidung rohani. Di ujung doa, “Nabonar junjunganhu …,” ucap Martogi mengakhiri. Ritual pun usai.
Dalam keyakinan Parmalim, Raja Sisingamangaraja adalah nabi atau rasul Tuhan yang ber tugas menyebarkan patik dan ajaran hamalimon dari Mulajadi Nabolon. “Jadi tidak benar kami menyembah Sisingamangaraja sebagai Tuhan,” kata Martogi.
Diwawancarai kemudian di rumahnya, Martogi menjelaskan mengapa mereka membakar kemenyan saat beribadah. “Haminjon adalah tanaman ciptaan Tuhan. Baunya wangi. Itulah simbol persembahan yang paling tepat bagi Tuhan menurut kami, dan telah dipakai oleh banyak agama di dunia sejak dahulu sampai sekarang, termasuk Yahudi dan Katolik. Kami tidak menggunakan persembahan uang karena uang adalah ciptaan manusia. Haminjonlah yang merupakan ciptaan langsung dari Tuhan.”
Soal manjujur ari, katanya, adalah salah satu budaya tertua orang Batak dan bukan merupakan praktik kepercayaan pada begu atau berhala. Penduduk Kecamatan Simanindo sendiri sering mendatangi Martogi untuk meminta pendapat dalam memilih hari baik bagi acara-acara pesta yang akan mereka langsungkan. Sebagian besar dari warga yang datang untuk manjujur ari itu justru bukan pemeluk agama Parmalim.
Ditanya Koran Tapanuli apa istilah agama Parmalim untuk menyebut nama Tuhan, dia menjawab Mulajadi Nabolon. Panggilan agung ini terkadang juga ditambah dengan Ompung di awalnya.
“Pernah di rumah saya ini kami gelar acara adat Batak, sebagian besar undangan adalah teman-teman beragama Kristen. Sesudah acara, ada yang bertanya mengapa kami menyebut Ompung Mulajadi Nabolon. Ompung adalah sebutan paling tinggi dalam budaya Batak. Mulajadi adalah Dia Yang Pertama, Utama, Satusatunya. Nabolon dalam bahasa sekarang Yang Maha Besar, Maha Kuasa,” jelasnya.
Maka Ompung Mulajadi Nabolon sesungguhnya adalah sinonim dar i frasa Tuhan Yang Maha Esa. Penulis teringat dengan kebiasaan orang Kristen di Maluku yang menyebut Tuhan dengan panggilan Tete Manis. Kata tete berarti kakek/nenek atau ompung dalam bahasa Batak.
Dalam satu-dua hal, Parmalim juga sering diidentikkan dengan agama Islam karena memiliki pantangan untuk menyantap daging babi, anjing, binatang pemangsa seperti kucing, dan juga darah. Umat Parmalim dan Islam adalah parsubang.
Inti ajaran Parmalim adalah mengajarkan hamalimon atau kesalehan, baik dalam ucapan, pikiran, dan perbuatan. Kata Martogi, “Ikkon malim do hita manghatai, mamereng, hundul, mardalan, jala malim do sahat tu parmanganon.” (Bersambung di Batak News)
Oleh Jarar Siahaan, pemimpin redaksi Koran Tapanuli.



Diskusi
Komentar telah ditutup