Agama, Batak, Berita, Budaya, Jarar Siahaan, Wawancara

Parmalim bukan sipele begu

“Marsahit ma annon akka dongan na so Parmalim, tong do laho tu datu. Hape sai didokhon ma hami padatu-datuhon,” kata Martogi Sijabat (55) alias Oppu Ruhut, seorang ulu punguan (semacam pendeta) Ugamo Malim di Kabupaten Samosir.

JARAR SIAHAAN, PEMRED KORAN TAPANULI

Baru-baru ini Koran Tapanuli mewawancarai Martogi, lalu menyaksikan langsung ritual ibadah Ugamo Malim di Bale Parsaktian yang digelar tiap Sabtu, dan berbincang-bincang dengan beberapa warga penganut “agama pertama Batak” tersebut di Lumban Sijabat, Desa Tomok, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir. Perjalanan jurnalistik ini untuk mencari tahu apa yang menyebabkan banyak pihak, terutama orang Batak pemeluk “agama resmi yang diakui negara”, sering memojokkan umat Ugamo Malim dengan menuduh mereka sebagai sipele begu.

Sejumlah warga bukan Parmalim — penyebutan yang lebih lazim untuk Ugamo Malim — yang pernah ditanyai di Kabupaten Samosir dan Toba Samosir mengatakan alasan mereka menuduh Parmalim sebagai penyembah berhala antara lain karena Parmalim membakar haminjon (kemenyan) saat beribadah, melakukan praktik manjujur ari (memilih hari baik), memakai istilah Ompung untuk menyebut Tuhan, dan karena, “Sisingamangaraja do disomba halaki,” kata seorang warga.

Martogi Sijabat mengakui masih banyaknya orang Batak yang melihat agama mereka secara keliru. “Memang masih banyak orang Batak yang mengidentikkan Parmalim dengan hadatuon atau perdukunan. Itu karena mereka belum melihat secara langsung bagaimana kami beribadah, juga karena tidak lebih dulu mengenali ajaran kami sebelum memberi kesimpulan. Padahal sebenarnya kami sama sekali tidak menyembah berhala. Yang kami sembah juga adalah Tuhan, Debata,” katanya saat ditemui di warungnya pada suatu Sabtu, satu jam sebelum dia memimpin ibadah yang terletak tidak seberapa jauh dari gereja HKBP Tomok.

Di Kabupaten Samosir terdapat empat rumah ibadah Parmalim, yakni dua di Kecamatan Onan Runggu, satu di Kecamatan Palipi, dan satu di Tomok.

Dengan hati yang terbuka Martogi mengizinkan Koran Tapanuli meliput ritual ibadah mereka. “Kami terbuka pada siapa pun. Nanti boleh masuk, silakan saja, tapi harap sepatu dilepaskan.”

Rumah ibadah bernama Bale Parsaktian itu berukuran kecil, sekitar 7×7 meter, berdinding dan berlantaikan semen. Di sekelilingnya hamparan sawah dan berada di dataran tinggi; pemandangan Danau Toba sungguh indah terlihat dari sana.

Seorang remaja lelaki berseragam SMP yang baru pulang dari sekolah menjalankan tugasnya membakar kemenyan lalu membawanya masuk. Dupa ditaruh di atas meja di bagian terdepan ruangan, mengeluarkan aroma wangi. Seorang remaja puteri buru-buru mengenakan kain sarung, kemudian menyapu lantai.

Di teras, 20 menit sebelum ibadah dimulai, sekelompok kaum ibu dan sekelompok kaum bapak duduk terpisah. Mereka bercengkerama. Tutur-bahasa mereka sangat sopan. Nada suara tidak “membentak- bentak” seperti umumnya orang Batak ketika berbicara. Bila ada pembicaraan yang lucu, mereka tertawa dengan halus. Mereka tidak saling menyela percakapan secara sembarangan. Kesan yang tertangkap Koran Tapanuli: inilah orang-orang Batak dengan sikap dan tutur kata yang menyejukkan hati. (BERSAMBUNG…)

Tentang Jarar Siahaan

Jarar Siahaan adalah wartawan, pemimpin redaksi situs berita daerah Koran Tapanuli, tinggal di Balige, Kabupaten Toba Samosir.

Diskusi

Komentar telah ditutup

Koran Tapanuli di Twitter

Ikuti Twitterku

Mengutip isi situs ini WAJIB dengan backlink.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 42 pengikut lainnya.