Toba Samosir Tapanuli

Jarar Siahaan Penulis Berita Batak

Berita parmitu lapo tuak oleh Tunggul Sianipar

(Berita sambungan dari Liputan lapo tuak oleh wartawan Koran Tapanuli di Laguboti, Kabupaten Toba Samosir: Tunggul Sianipar.)

Seperti suatu waktu terjadi pembicaraan sesama mereka. Tenggen Sibarani (bukan nama asli, gelar diberikan oleh rekan-rekannya) mengomentari tentang BLT alias bantuan langsung tunai. Menurutnya BLT itu tidak layak dibagikan kepada masyarakat, karena dia termasuk orang yang tidak mendapat jatah.

“Hancit do rohangku, ai na mora do dapotan, ia au so dapotan napogos on,” katanya.

Pada prinsipnya tidak ada parmitu yang pulang ke rumah dan besoknya membawa persoalan yang semalamnya untuk dimun-culkan kembali. Parmitu datang ke lapo hanya untuk menghilangkan stres. Walau kelihatannya di lapo ngomong sudah ngelantur, tetapi pembicaraan cukup menarik.

Kemudian ada pendapat seseorang yang namanya sengaja tidak disebutkan di sini, yang sudah rada-rada gila. Tuak sudah masuk melewati kerongkongannya lebih dari 4 gelas, sehingga pembicaraan pun makin lancar. Dalam beberapa pembicaraan, Koran Tapanuli membuka sebuah pembicaraan, yakni tentang teroris yang lagi marak-maraknya. Jangan-jangan teroris sudah masuk ke komplek perumahan Korpri Land Bow ini, kata yang lain.

Kemudian parmitu lapo tuak yang satu ini menyatakan, bahwa lebih enak masuk anggota teroris. “Makan ditanggung, ada uang saku. Kalau ketangkap diberikan jaminan,” katanya. Kalau dia tahu markasnya, dia akan mendaftar! Hehehe…, namanya saja sudah gila.

Di meja lain, beberapa waktu kemudian, pembicaraan lari ke soal judi togel. “Ai si aha i dapotan ate nantoari.” Kemudian setiap ada yang ganjil selalu dikaitkan dengan “kode alam”. Maksudnya setiap yang terlihat oleh mata, bila agak ganjil dan jarang terlihat akan dikaitkan dengan nomor di buku erek-erek.

Koran Tapanuli membuka kamera untuk mengabadikan aktivitas minum tuak tersebut. “Bah…, nga kode alam on,” kata seorang. “Nomor 99 do on.”

Lalu seseorang datang marga Simbolon menggendong 1 unit sangkar burung, dengan cepat dia bilang “angka 31 kode alam sonari, ai sangkar burung nomor 31.”

Dua hari kemudian Koran Tapanuli kembali singgah di lapo tuak Pak Edu, dengan niat minum tuak, tetapi karena tuaknya sudah habis, jadi urung untuk minum. Hanya sekedar cerita-cerita saja. Di sana ada Amani Febri, Lukman si pengusaha tempel ban, dan satu orang lagi masih lajang, baru diketahui namanya si Kennedy. Amani Febri membuka pembicaraan.

“Molo nirimang-rimangan do, dang adong be hape artina hepeng Rp 100 ribu, hape sai nimurukan inanta, molo nilean hepeng Rp 200 ribu saminggu pintor habis. Nangkin kebetulan ahu belanja tu pajak, molo huetong, tu kebutuhan tolu ari pe dang cukup, hape hepeng na Rp 100 ribu i, nga habis,” katanya.

Lukman dengan spontan menjawab mengapa tidak cukup, itu sudah cukup untuk beli kebutuhan seminggu. Amani Febri bilang, kalau untuk 1 minggu bagi yang berkeluarga itu pasti tidak cukup. Kemudian pembicaraan pun nge-lantur, namun asyik, masing-masing membuat pendapatnya sendiri. Amani Febri bertahan dengan pokok persoalan,

“Maksudhu nangkin, nahudok, dang adong be lapatan ni hepeng Rp 100ribu, nikku do.” Pengusaha lapo tuak, Nai Edu yang mendengar dari dalam laponya, karena mendengar pokok bahasan tentang ibu-ibu, dia pun terpancing untuk ikut ambil bagian, “Ai maksud ni amani Febri i, dang adong artini hepeng Rp 100 ribu, ido, alai hamu gabe ngelantur do tudia-tudia,” katanya. Pembicaraan tetap berjalan sambil tertawa-tawa. (Dikutip dari Koran Tapanuli)

About these ads

Author: Batak Toba

Demi Yesus, aku percaya Muhammad utusan Allah • Ikuti Twitter @ja_rar • Baca konten khas dan bernas di www.khas.co • Tahu nggak, menonton siaran Piala Dunia itu dosa loh menurut agama Islam. Baca di http://benar.org/do-sa

Komentar ditutup.