Oleh Tunggul Sianipar, wartawan Koran Tapanuli di Kecamatan Laguboti, Toba Samosir.
Berbicara tentang tuak, ada beberapa pendapat. Pro dan kontra, ada yang tidak setuju, ada juga yang setuju. Katanya tuak tidak perlu ada, karena bikin orang suka mabuk. Tetapi pihak lain ada yang setuju kalau tuak adalah minuman khas Batak yang tetap harus dilestarikan. Tuak atau nira atau dalam bahasa pasaran disebut bir panjat.
Ada humor terkenal tentang sebuah kedai tuak. Disebutkan bahwa segelas tuak adalah penambah darah, 2 gelas lancar bicara, 3 gelas mulai tertawa-tawa, 4 gelas mencari gara-gara, 5 gelas hati membara, 6 gelas membuat perkara, 7 gelas semakin menggila, 8 gelas membuat sengsara, 9 gelas masuk penjara, dan 10 gelas masuk neraka.
Kemudian ada lagi pendapat Pak Edu Nababan di laponya sendiri yang terletak di simpang pintu gerbang masuk komplek Perum Korpri Toba Indah I Land Bow, Desa Sibarani Nasampulu, Kecamatan Laguboti, yang mengatakan bahwa perputaran uang selama 1 tahun untuk biaya minum tuak bila dikumpulkan dari seluruh peminum tuak di seluruh K abupaten Toba Samosir, menurut hitungannya adalah sebesar APBD Tobasa selama 1 tahun. Pendapat ini tidak diketahui dengan memakai kajian dari mana, yang jelas, bila direnung-renungkan, ada benarnya. Karena kalau dihitung- hitung (hitung sendiri saja) ada miliaran rupiah per tahun uang yang keluar dari kantong para peminum tuak di seantero Tobasa.
Tetapi saat ini kita tidak fokus membahas perekonomian, atau membahas asal muasal tuak, atau siapa penemunya, atau penciptanya. Penulis hanya ingin tertarik untuk mengumpulkan komentar para parmitu. Di lapo Pak Edu, pagi dan sore hari selalu dikunjungi orang. Biasanya pada pagi hari orang akan singgah untuk sekedar ngopi. Tapi sore hari ketika tuak sudah turun dari pohonnya, para langganan pada umumnya lebih dominan minum tuak.
Kegiatan di lapo Pak Edu biasanya bermacam-macam, ada yang main catur, ada yang main gitar. Tetapi biasanya kegiatan ngalor-ngidul merupakan kegiatan di luar main catur dan main gitar. Terkadang ada yang berbicara tentang jual beli motor. Kemudian di tempat lain, ada yang diam-diam sudah ngomong lewat ponsel, berbicara tentang soal penjualan tanah. Lapo ini memiliki langganan bukan hanya warga sekitar, tetapi ada yang datang dari pusat kota di Laguboti.
Yang menjadi daya tariknya adalah pelayanan Pak Edu dan Mak Edu. Pemilik kedai ini mempunyai sifat yang ramah. Tidak seperti ada 1 atau 2 lapo di lain tempat yang parlapo duluan mabuk daripada langganan. Ada parlapo yang serba tahu dari Utara hingga Selatan, tetapi Pak Edu tidak demikian. Dia berprinsip, dia adalah penjual, jadi tidak mau mencari permusuhan. Walau ka-dang-kadang 10% tuak itu me-rupakan jatah untuk dirinya sendiri juga, sih, he-he-he.
Kemudian sajiannya bermacam- macam, bukan hanya tuak, tetapi makanan ringan dan lainlain. Sekali seminggu, minimal untuk hari Sabtu atau hari Minggu, dia sajikan makanan khas Batak, B1 atau B2 (daging anjing atau daging babi).
Bila di sore hari para pelanggan datang dan minum, awalnya masih ngomong biasa-biasa saja, tidak ada yang ngelantur, masih berbi-cara pada koridor . Tetapi sesudah masing-masing masuk 3 ke 4 gelas, sebagian mulai ada yang ngelantur.
Namun pun begitu, sepanjang pembicaraan hampir tidak ada yang sampai menyinggung pera-saan hati orang lain. Masih ada tenggang rasa di antara mereka. Walau ada 1 atau 2 orang yang sengaja memancing-mancing. Sepanjang perjalanan lapo ini, semua hanya sebatas seloroh saja. Hanya untuk menghangatkan suasana. Pada prinsipnya mereka ingin menyampaikan unek-unek di dalam hatinya, tanpa ada niat untuk mencari perselisihan dengan sesama teman yang minum. (Bersambung…)



Diskusi
Komentar telah ditutup