bagian #3; blog berita; jarar siahaan
Silakan anonim, tapi jangan lakukan illegal blogging.
Kapan dan mengapa seorang bloger perlu menyembunyikan identitasnya?
Dalam buku Handbook for Bloggers yang diterbitkan oleh Reporters Without Borders, sebuah organisasi internasional bagi kebebasan pers, disebutkan bahwa bloger sebaiknya memilih menjadi anonim hanya dengan alasan keselamatan jiwa. Bila artikel yang dia tulis atau foto yang dia tampilkan di weblog dinilai sangat mungkin membahayakan jiwanya, maka dia perlu memilih anonim. “Bloggers need to be anonymous when they are putting out information that risks their safety,” demikian tertulis dalam buku itu.
Prinsip sama ditetapkan oleh Media Bloggers Association, sebuah organisasi citizen journalism di Amerika Serikat. Lembaga ini memberi syarat bagi para bloger-wartawan calon anggotanya: tidak menerima bloger anonim. Untuk satu-dua kasus, mereka menolerir, tapi proses rekrutmennya cukup selektif.
Aku setuju anonim dipilih demi menyelamatkan jiwa seperti kasus bloger Burma mewartakan kekerasan junta militer. Namun faktanya tidak sedikit bloger memilih anonim atau memakai nama samaran bukan karena keselamatan jiwa, tapi hanya supaya bebas memaki, memfitnah, dan menghujat pihak lain sesuka hatinya. Tidak bisa dibantah bahwa ada kecenderungan bloger anonim sering melakukan illegal blogging, baik dalam menulis artikel di blognya maupun berkomentar di blog lain; dengan catatan, ada juga bloger anonim yang baik.
“Illegal blogging? Apa pula ini? Macam illegal logging kutengok.”
Di lingkungan blog multi-user seperti WordPress.com, Multiply.com, Blogspot.com, banyak weblog yang memuat materi pornografi, seperti cerita, foto, dan video porno; ini termasuk illegal blogging karena melanggar terms of service [TOS] alias peraturan tertulis dari ketiga blog raksasa itu. Berbeda dengan bloger luar negeri, di Indonesia tidak sedikit bloger anonim [juga bloger dengan identitas asli] yang memaki-maki bloger lain bila tidak setuju dengan tulisannya atau karena sentimen pribadi; ini pun termasuk illegal blogging karena melanggar TOS tadi. Contoh lain yang fatal-haram tapi terkesan sudah dianggap halal adalah pembajakan lagu MP3. Banyak bloger yang menyediakan lagu MP3 untuk diunduh secara gratis tanpa izin dari si pemilik lagu atau produsennya; dan uniknya, si bloger pembajak MP3 itu sering terpilih sebagai jawara dalam ajang pemilihan blog oleh komunitas bloger.
Dalam konteks bloger-citizen reporter, seperti apakah yang disebut dengan illegal blogging? Di Indonesia tidak [belum] ada kesepakatan atau kode etik resmi soal itu, maka setiap bloger-wartawan boleh punya jawaban berbeda.
Berikut kupetikkan wawancara Koran Tempo pada edisi 4 Nopember 2007 dengan bloger senior Wimar Witoelar — bekas juru bicara Presiden Gus Dur, menulis di Internet sejak tahun 1970-an, pemilik web Perspektif Net.
Apakah ada sebuah kode etik di dunia blog?
Saya tidak tahu kode etik profesional di media, tidak pernah baca. Bagi saya, saya punya kode etik pribadi. Itu lebih kuat daripada kode etik mana pun.
Bagaimana dengan bloger yang lain? Apakah juga punya kode etik pribadi seperti anda?
Mungkin tidak ada.
Kalau dalam sebuah blog ada yang mengandung unsur fitnah atau pencemaran nama baik, apa bisa dituntut secara hukum?
Bisa. Ada hukumnya. Jadi kita punya hukum, dan hukum itu harus ditegakkan, itu yang harus dilakukan. Kalau ada komplain terhadap bloger, komplainnya kepada aparat hukum.
Aku pribadi sependapat dengan Wimar, setiap bloger sebaiknya menetapkan etika bagi blognya dan bagi dirinya sendiri. Termasuk memilih menjadi anonim atau bukan, itu juga berhubungan dengan etika atau standar menulis sang bloger.
Walau aku tidak mendukung anonimitas, tapi juga harus kukatakan bahwa seorang penulis dengan identitas asli belum tentu, atau tidak otomatis, menulis secara bertanggung jawab; bisa saja dia berbohong. Namun bagiku, bloger dengan identitas asli adalah pilihan yang lebih baik ketimbang anonim, kecuali untuk kasus seperti di Burma.
Pengalamanku melakukan ribuan wawancara selama 12 tahun bekerja di media cetak memberiku kesimpulan: Orang yang tidak mau dikutip namanya lebih potensial untuk berbohong ketimbang orang yang bersedia disebutkan identitasnya.
Banyak netter mungkin sudah sering melihat gambar kartun di awal artikel ini. “Di internet, tidak ada yang tahu bahwa sebenarnya kau adalah seorang seekor anjing.” Itu adalah karya Peter Steiner, terbit pertama kali di majalah The New Yorker pada 1993. Kartun Steiner ini kemudian memopulerkan ungkapan terkenal perihal identitas pengguna internet: “On the Internet, nobody knows you are a dog.” Secara bercanda pernah kukatakan pada kawan bloger, “Untunglah aku menulis identitas lengkap di Blog Berita. Kalau tidak, bisa-bisa pemilik blog ini dikira anjing.”
Untuk mengakhiri omong-kosong ini, kukutipkan sebuah kalimat pendek yang sangat kusukai; slogan Google, perusahaan Internet paling berpengaruh nan maha-kaya. “Don’t be evil!” kata Google. Artinya?
Selamat menyambut Hari Raya Natal bagi pembaca nasrani, dan selamat Hari Raya Idul Adha bagi pembaca muslim.
Gak nyambung! Makanya perlu BERSAMBUNG. [www.blogberita.com]
Artikel sebelumnya:
Boleh mengutip artikel ini dengan menyebut sumbernya www.blogberita.com
Setiap pembaca yang ingin menulis komentar pada artikel mana pun di Blog Berita menyatakan SUDAH PAHAM dan SETUJU:
- Bahwa andalah yang bertanggung jawab atas seluruh isi komentar yang anda tulis, bukan Blog Berita.
- Bahwa Blog Berita akan menghapus komentar yang berisi caci-maki, menyerang pribadi, menghujat agama, memancing sentimen SARA, dan komentar yang keluar dari topik artikel.


20 Desember 2007 at 5:34 pm
Pertamax…
Udah nyambung Lae
20 Desember 2007 at 9:13 pm
anonim atau nama terang, yg penting tg jawab.
21 Desember 2007 at 1:41 am
Nice post. Memang, teknologi terlalu cepat masuk ke tempat kita, sampai2 moral/etika dalam berteknologi (baca: internet) pun diabaikan.
Mungkin memang perlu menggalang abusive report dari para blogger yang menemukan aktivitas blogging yang memuat sentimen SARA. Blog seperti itu bisa jadi membuat bangsa kita akan terus berpikiran pendek dan sempit.
Salam
21 Desember 2007 at 6:33 am
Iy bener juga tuh….
Download MP3 Gratis kn harusnya ga bLh…
Tp kLo ga ada dy,ga enak juga rasanya..
21 Desember 2007 at 8:25 am
Perlu buka kamus dan belajar lebih giat lagi nih.
tapi saya juga setuju dengan Wimar dan Anjing Internetnya.
Iblis google apa maksudnya?
21 Desember 2007 at 9:06 am
iya, saya biasanya juga menggunakan anonim dengan menggunakan Pedhet sebagai identitas saya di dunia maya. namun karena perkembangan waktu dan alasan lain sebagainya, lama-lama identitas anonim saya terbuka juga lewat blog. dan akhirnya saya tidak pernahlagi menggunakan anonim tersebut, kecuali sebagai nickname.
21 Desember 2007 at 9:36 am
Sekedar info, blog porno tidak melanggar Tos … asalkan kontennya legal
silakan baca ulang http://wordpress.com/tos/
Dulu (kira2 3 minggu yang lalu), enda nasution (bapak blogger Indonesia) melaporkan sebuah blog di wp.com karena kontennya berisi cerita dewasa (dalam bhs Indonesia) dan foto porno
jawaban dari pihak wp dapat dlihat di gambar ini
http://luthfi.files.wordpress.com/2007/12/tidak-melanggar-tos.jpg
meskipun demikian, bukan berarti saya menyetujui adanya konten tsb di internet
BLOG BERITA: terima kasih, mas luthfi telah meluruskan. selama ini pun aku bingung dengan peraturan wp itu: porno boleh, asal isinya legal.
21 Desember 2007 at 9:51 am
gak paham dimana nyambungnya antara judul ma isi.
21 Desember 2007 at 11:00 am
hihihi, iya endingnya emang nggak nyambung.
21 Desember 2007 at 11:25 am
lalu… kasus blog malaysia yang menghina Indonesia itu bagaimana? apakah bisa dituntut? haha.. sekarang masalahnya, bagaimana bisa dituntut kalo yang maen lebih pintar ketimbang aparatnya?
emang enak ngelacak seseorang di internet? kalo maen dari rumah sih yah enak ngelacaknya, tapi kalo maen di warnet? gimana? ajarin dunk… udah maen di warnet, pindah” warnet lagi maennya… mau dilacak? silahkan deh lacak…
21 Desember 2007 at 2:17 pm
Setuju, etika pribadi perlu, tentu dalam arti positif, sesuai dengan adat istiadat, norma dan hukum, yang diterima masyarakat. Sehingga pernyataan Peter Steiner, bahwa “On the Internet, nobody knows you are a dog.” dan slogan Google “Don’t be evil!”, memperjelas dan memberi pilihan rambu jalan, ke arah mana kita, ketika sedang mengarungi dunia maya, karena “netter” bermacam macam (etika).
21 Desember 2007 at 2:22 pm
karena sangat oot
21 Desember 2007 at 8:04 pm
Anjing ma Iblis sama-sama busuknya! Tapi yang lebih busuk lagi ya iblisnya anjing.
22 Desember 2007 at 1:10 pm
Memang ‘tul itu, Bang. Anonimitas itu agak mirip gerombolan. Ketika kita ada di dalam gerombolan, kita jadi berani. Makanya, kalau dalam kerumunan ada yang bilang, “Lempar…Serbu…”, pasti yang lain mudah bergerak. Begitu juga saat kita bebas menulis tanpa orang tahu siapa kita, pasti kita tambah berani.Toh kalau ada apa-apa nggak ada yang protes ke kita. Btw, judulnya emang nggak nyambung. Keknya sengaja bang Jarar buat kek gitu biar orang pada penasaran. Horas
BLOG BERITA: aku heran juga ada yang bilang judulnya tidak nyambung.
padahal memang itulah isi artikel tersebut; bercerita tentang anonimitas [berkaitan dengan kartun "anjing internet"] dan pesan agar tidak mempergunakan internet untuk kejahatan/illegal blogging [berkaitan dengan slogan google "don't be evil"].
22 Desember 2007 at 3:18 pm
biar gimanapun klo menurut saya sih itu kembali ke orangnya masing2. Setiap orang punya tujuannya masing2 dlaam ngeblog .
23 Desember 2007 at 1:14 pm
Bang JJ, aku ijin kutip ya sebagian tulisanmu….untuk mendukung kampanye anti pembajakan ku……
BLOG BERITA: silakan, pren.
27 Desember 2007 at 8:16 am
he he he he da pa ni tiba tiba k` ngomongin iblissssssssssssssssssss masak d internet ada setan scara g ada kehidupan gitu loh yang ada hanya dunia maya.kwa kwa kwa kwa.capek deh
29 Desember 2007 at 8:30 pm
ya.. mas, saya juga anonim. tapi q pikir gak ada salah jadi anonim, asal bener aja. dan jadi anonim itu lebih asyik dan bebas, semua itu pilihan sih.