[farida simanjuntak; blog berita; artikel dari malaysia]

Bagiku, dia masih hidup. Selamat ulang tahun, Brata.

Saat mengirim artikel ini dari Malaysia, Farida Simanjuntak menulis padaku bahwa hatinya sangat berat menceritakan kisah kematian adiknya ini. Farida, semoga dengan menuliskan ini, dengan airmatamu yang sudah menetes, beban dan sakit yang kaurasakan itu bisa lepas … walau hanya untuk sesaat.

HUJAN YANG MEMBASAHI bumi dari pagi di hari Minggu membuatku malas untuk beraktivitas. Untuk mengusir kejenuhan aku mendengarkan lagu-lagu Batak. Tak terasa sudah bulan November, musim hujan sudah mulai datang (pantesan grup musik Guns N Roses menciptakan “November Rain”) Tiba-tiba perasaanku sangat sedih dan tanpa kusadari air mataku menetes.

Yah, aku menangis dan tidak bisa ku tahan, aku sampai sesegukan. Lagu itu… Membuatku mengingatnya lagu.. Lagu yang mengantarnya ke rumah terakhirnya. ” Nahinali Bakkudu”, lagu yang sampai detik ini mamaku sangat benci mendengarnya karena akan membuatnya menagis dan berduka lagi, lagu yang membuatku merasakan jasadnya seolah masih di depanku.

Ingatanku melayang ke masa 7 tahun lalu. “Aku sangat membencimu! Aku menyesal pernah punya adik sepertimu.. Kau hanya orang paling bodoh di dunia ini…Dasar pencuri !” Pagi itu teriakanku sudah memecah keheningan di rumah kami. Dengan kasar kurebut kostum Tim Azzuri favoritku dengan nama Del Piero dari tangan adekku Brata. Emosiku sangat memuncak, ingin rasanya kuhajar dia, seperti dulu tapi dia sudah jauh lebih tinggi dariku, jadi mudah aja baginya mengelak.

Entah mengapa, dari mulai anak-anak kami berdua tidak pernah akur. Selalu bertengkar bahkan baku hantam. Tidak jarang bibirnya atau bibirku berdarah. Setelah itu kami akan dihukum tapi lebih sering aku yang kena akibatnya dari bapakku. Kebencianku makin menumpuk. Penyesalan karena punya adik sepertinya. Mungkin karena dia anak laki-laki paling besar dan ditunggu makanya keluarga besarku sangat sayang. Padahal bagiku dia sangat bodoh dan nilainya selalu memalukan. Dibandingkan nilai kakak dan adiknya, dia hanya akan jadi pelengkap penderita.

Sejak dia lahir, aku merasa makin tidak adil. Kenapa bapak selalu memanjakannya yang bagiku sangat bodoh dan sering marah padaku padahal prestasiku baik. Aku tumbuh jadi pemberontak kecil dan penuh kebencian saat melihatnya.

Seperti pagi itu, saat kujumpai kaos Del Piero yang baru dibeli bapak tapi sudah hilang. Dan aku menjumpai di dalam lemarinya yang selalu berantakan. Dengan kesal kuhantamkan baju itu ke badannya. Aku siap-siap menerima aksi balasan darinya. Tapi dia hanya diam dan memandangku dengan tatapan yang lain dari biasanya. Tatapan yang sangat sedih.

“Ada apa ini ? pagi-pagi udah ribut lagi kalian berdua. Sudah besar tapi tidak ada malu …” Ternyata bapakku terbangun mendengar teriakanku.

“Kenapa kakak sangat membenciku ?” Aku terkejut mendengar pertanyaan yang sangat pelan itu.. Aku merasa emosiku tibaa-tiba seperti diserap oleh kata-kata yang dia lontarkan… Kami semua terdiam. Aku menundukkan kepalaku, rasanya tenagaku habis.

“Sudah, cepat mandi nanti terlambat ke sekolah” Bapak yang juga terkejut dengan pertanyaan adekku, menyuruh kami bersiap-siap.

Di sekolah aku tidak bisa konsentrasi… Pertanyaan adekku terus terngiang dan aku merasa hatiku sangat hampa. Yah… kenapa aku sangat membencinya selama ini ? Dia tidak pernah mengganggu siapa pun. Dia jenis orang yang sangat pendiam dan mungkin terlalu introvet.

Keesokan harinya aku berangkat ke Siantar untuk Retreat dari sekolah selama 3 hari. Selama itu juga batinku mengalami pergolakan yang luar biasa. Aku sangat merindukan adikku dan ingin minta maaf. Sepulang dari retreat, aku berlari ke rumah dan mencarinya. Begitu pintu kubuka, dia sedang duduk sambil memainkan keybord kesayangannya. Begitu dia lihat kehadiranku, dia langsung berdiri sambil menundukkan kepala dan berjalan keluar.

Mendekati pintu, aku memanggilnya. “Brata….” lidahku rasanya kelu dan tidak bisa mengucapkan apa-apa. “Hm…” jawabnya sambil terus menundukkan kepala. Aku ulurkan tanganku, “Kakak minta maaf”. Hanya itu kata-kata yang mampu kuucapkan.

Dia memandangku dengan terkejut dan seperti tidak percaya. Aku meraih tangannya dan kami bersalaman. Tanpa mengucapkan apapun, dia pergi. Beberapa hari kemudian, ompung boruku menyuruh bapak membawa adekku berobat ke dokter spesialis di siantar karena dia terlalu sering sakit dan batuk. Aku mulai merasa tidak tenang tapi ada kebahagiaan kurasakan, Brata mulai sering mengajakku berjalan-jalan naik sepeda motor kesayangannya dan kami mulai sering bercanda.

Bapak dan mama membawanya ke Siantar, malam harinya sepulang berobat aku melihat mereka seperti berunding. Tapi aku tidak bisa mendengar dengan jelas. Keesokan harinya, bapak minta ijin dari kantor dan membawa Brata ke medan. Kata mama sebelum mereka berangkat, dokter di Siantar curiga ada seperti daging di paru-paru adekku. Seminggu lebih mereka di medan dan aku sibuk dengan persiapan Ebtanas dan mengurus 2 adekku yang lain juga ompungku. Setelah hampir 2 minggu di Medan, mereka pulang tapi hanya mau mengambil barang-barang karena keesokan harinya mereka harus ke Medan lagi dan langsung berangkat ke Jakarta. Tapi tidak ada yang mau memberitahuku, sakit adekku.

Sebelum berangkat, Brata minta ijin supaya dia bisa memakai kaos azzuri, tanpa merasa berat hati aku beri kaos kesayanganku itu. Tapi dia tertawa dan bilang sudah punya yang baru, yaitu Inzaghi. “Jadi nanti kita main sepak bola lagi ya kak, kita jadi tim tangguh. Aku ganteng kan seperti Inzaghi? Makanya rambutku ku potong pendek seperti dia.Tapi mana ada Del Piero jadi kiper? Biasanya kakak kan jaga gawang kita, tapi jadinya berantem melulu sama anak tetangga.”

Kami tertawa bersama dan saling meledek. 2 bulan mereka di Jakarta dan aku tidak tahu ada apa dengan dia. Tiba-tiba aku menerima kiriman uang Rp 50.000 yang Brata kirim dari sebagian pemberian orang yang menjenguknya. Hatiku makin tidak tenang. Bersama uang itu dia kirim surat yang kata mama dia tulis dengan menahan sakit yang luar biasa.

“Aku minta maaf selama ini banyak salah. Tolong doakan supaya aku cepat sembuh.”

Tanpa sengaja, seorang saudara keceplosan cerita kalau Brata sakit kanker paru-paru dan parah. Aku sangat terkejut, langsung aku berlari ke rumah Inanguda yang menjaga kami. Aku tanya dia, tapi inanguda pura-pura sibuk dan menyuruhku pulang. Sambil menangis aku telepon malam itu juga ke Jakarta.

“Mama ga perlu bohong lagi, Brata sakit kanker kan? Kenapa mama jahat, merahasiakan dari aku?”

“Ini semua Brata yang minta, dia mau Farida lulus Ebtanas dan masuk Perguruan Tinggi Negeri. Dia bilang sayang sama farida.”

Sejak itu, Brata tidak mau bicara denganku. Hari terakhir Ebtanas, mereka pulang ke Medan. Katanya mau berobat di Medan. Hari yang mendebarkan, setelah 2,5 bulan aku akan berjumpa Brata. Dengan semangat aku memasaak kue bolu yang sangat disukainya. Bertiga dengan adekku yang di Balige kami buat sampai karton pembungkusnya. Sampai di rumah Paktua, aku ke dapur dan melihat bapak yang rambutnya sudah memutih dan kurus. Langsung bapak ku peluk dan dia menanyakan ujianku.

Waktu aku mau masuk ke kamar, bapak mengatakan adekku tidak bisa lagi makan apapun. Dan yang terpenting jangan menangis karena dia sangat benci orang menangis. Aku kuatkan hati dan memaksa untuk tersenyum. Kulihat Brata terkejut melihatku dan mukanya ditutupi.

“Keluar..” Teriaknya.

Mama memberiku tanda supaya keluar. Aku menangis dan menutup pintu. Akhirnya, mama menyuruhku masuk. Ternyata dia baru menangis. Sambil mengusap tangannya aku mulai cerita yang lucu-lucu tapi dalam hati aku menangis. 2 minggu aku merawatnya di rumah dan akhirnya masuk RS Herna karena kondisinya kian memburuk.

“Aku baru menyadari ternyata kakak sangat baik dan aku menyayangi kakak.” Tiba-tiba Brata mengatakannya padaku sehabis aku membantunya buang air kecil. (Brata sudah tidak bisa apa-apa lagi, bahkan untuk memalingkan muka harus dibantu).

“Aku juga sangat menyayangimu dan bangga punya adek seperti Brata.”

4 Juni 2000 pukul 10.00 Brata tiba-tiba sesak nafas dan muntah. Karena malamnya dia mencuri-curi memakan kepala ikan mas arsik, makanan favoritnya. Dan saat itu dia mengatakan sangat puas dan yakin esok hari pasti akan sembuh.

Sebelum dibawa ke ICU, dia minta aku memimpin doa untuknya. Sambil menangis aku berdoa untuknya. Selama di ICU aku menemaninya dan Brata selalu mengenggam tanganku walau matanya tertutup. Kadang air mata menetes dari kedua matanya. pukul 4.55 Brata mulai gelisah dan jantungnya makin melemah. Tim dokter mulai memompa jantungnya. Aku lari keluar dan memanggil bapak dan mama. Mereka masuk ke ICU, saat bersamaan tanteku mengajak untuk menelepon keluarga yang lain.

Rasanya hanya 5 menit aku keluar, saat aku masuk ke ICU aku lihat bapak memeluk mama yang menangis sambil memanggil nama Brata. Dokter sedang mencabut semua selang dan alat bantu pernafasannya. Aku mendekatinya dan memanggilnya.

“Pak, adek sudah sembuh? Mau pulang sekarang?”

“Far, adek sudah pergi. Adek pulang ke surga.”

Dengan emosi aku mulai menarik badan Brata untuk duduk, aku tidak percaya. Hanya 5 menit, dia tidak mau menungguku. Aku histeris dan teriak merasa dibohongi mereka. 2 satpam datang dan menarikku keluar.

Saat itu gerimis seolah-olah mewakili kedukaan yang dirasakan keluarga kami. Pukul 5.00 WIB Brata pergi untuk selamanya tanpa mau menungguku. 3 hari Brata disemayamkan di rumah dan selama itu juga lagu Nahinali Bakkudu dinyanyikan di rumah kami. Karena kata Bapak, sewaktu sakit, Brata sangat menyukai lagu ini. Dan pernah sambil bercanda dia minta kalau tiba-tiba meninggal, lagu ini mengiringi kepergiannya. Sejak saat itu, dia selalu menyanyikan atau mendengar lagu ini.

Ah…. tidak terasa, duka itu membuatku menangis dan menyebut namanya. Padahal, Brata selalu berpesan, “Aku benci dengan air mata, jangan pernah menangis untukku karena aku tidak akan mati karena sakit ini. Justru penyakitku akan kumatikan.”

Maafkan aku dek, karena masih terus menangis dan belum bisa jadi kakak yang baik. 27 November ini, ulang tahunmu yang ke 23 tahun. Bagi orang lain kau sudah meninggal tapi bagiku kau masih hidup dan sedang berada di suatu tempat yang jauh.

Seperti tahun-tahun yang lalu, aku pasti akan merayakan ulang tahunmu walau sendiri. Brata memang spesial bagiku karena 27 November 2004 aku wisuda, itu kadoku untuknya. Selamat ulang tahun adekku… Semoga damai dalam tidur panjangmu… Suatu hari nanti kita pasti berjumpa. Semoga aku bisa menerima kepergianmu… Suatu hari nanti… [www.blogberita.com]

CATATAN BLOG BERITA:
Farida, ceritamu membuatku “ambruk”. Saat aku membacanya sebelum kutampilkan di blog ini, saat aku menyimak kata demi kata tulisanmu, saat kau menyebut-nyebut lagu Nahinali Bakkudu ….

Sudah lama CD lagu itu kusimpan, hampir tujuh tahun, dan tidak pernah lagi kuputar. Aku selalu menghindar, jangan sampai memutarnya. Tapi membaca artikelmu, rasanya aku rindu untuk mendengarnya lagi, dan kudengarkan ….

“… Mate ma ho amang doli, mate di paralang-alangan da amang, mate di paraung-aungan ….”

Lagu Nahum Situmorang ini, dan Tears in Heaven Eric Clapton, adalah lagu yang aku dan istriku sering dengar ketika abangnya Gibran, anak pertama kami, meninggal tahun 2000. Ah…, kaubuat air mataku menetes lagi. Aku “menyesal” membaca artikelmu ini. :cry:

Artikel terkait:

Artikel Farida Simanjuntak sebelumnya:


  1. elli nainggolan

    Terimakasih ych kakak Farida buat artikelnya.
    Artikel ini mengandung begitu banyak hikmah yg harus kita lakukan.
    Marilah kita saling menyayangi dna slaing memaafkan…..

    Happy Birthday buat Brata yang da jauh ….

    Tapi, saya mo nanya nich, dulu Brata sempat sekolah di Balige ych?
    Kalau g slaah di SLTP Katolik Balige.
    Soalnya juga saya dulu punya teman namanya Brata yang meninggal karena sakit yang dideritanya…

  2. linar

    Kisah kakak benar2 menyedihkan…tapi aq yakin kakak tetap kuat.

    Membaca cerita kakak aq jadi teringat adek laki2ku satu2nya (anak laki2 satu2nya dikeluarga kami). Sama seperti kakak, dulu kami juga sering bertengkar dan aq sering beranggapan kalau dia dianak emaskan karna laki2 satu2nya.
    Tapi seiring bertambah dewasa, dan sejak aq melanjutkan sekolah keluar kota, aq makin sadar kalau itu hanya perasaanku, dan sadar kalau aq sangat sayang dengan adekku.

    Satu hal yg aq pandang baik dari kisah kakak….sebelum kepergiannya (adik kakak), kalian sudah saling menunjukkan kasih sayang masing2. Karna ada banyak orang yang bahkan sampai kepergian orang yang disayanginya, tidak sempat menunjukkan dan mencurahkan kasih sayangnya. Yakin lah bahwa adek yang kakak kasihi sudah berbahagia ‘disana’.

    Salam,

    *maaf kalau ada kata2 yang salah*

  3. Gloria

    Hiks… Sedih sekali..
    Aku gak bisa puas nangis walapun ada sedikit yang keluar, tapi rasanya dadaku sesak sekali waktu membacanya.
    Puji Tuhan, karna pada hari2 terakhir adik kakak hidup, kalian masih sempat saling berbagi dan mengungkapkan kasih sayang kalian. Walaupun waktunya sangat singkat.

    Tuhan punya maksud dari setiap kejadian.
    Aku yakin, salah satu maksud Tuhan dibalik kejadian ini adalah untuk mengingatkan orang2 lain untuk lebih kasih mengasihi.

    Makasih kak Farida, karna aku pribadi diingatkan untuk lebih mengasihi adik2 dan abangku yang masih kelihatan..
    Intinya sekarang, yuk kita kasihi mereka yang masih kelihatan.
    Mumpung kita masih ada di dunia.

  4. tumpal sitorus

    sumpah…..aq terharu banget membaca cerita Kaus Del Piero dan Lagu Nahinali Bakkudu. mudah2an kita bisa ambil hikmahnya dari cerita diatas. kita harus baik sama adik. kaka n saudara2 kita yang lain…bener ga????
    thanks GOD for my family that u have gave to me….please everyone in my family and all my friends especially who read this story…AMIN.
    GOD BLESS US

  5. Gledy Simanjuntak

    Kak Farida, aku akhirnya tahu seperti apa kejadian jelas waktu Brata meninggal…

    Aku tahu aku cuman sebentar jenguk Brata..aku inget waktu itu badannya kurus..

    Aku kangen banget karena Brata beda..dia beda sama Putra dan Surya, apalagi si Asido..

    Dia pendiem, selama di Balige aku jarang ngomong ama dia, tapi sekalinya dia senyum, aku bahagia banget..

    Aku ngerasa aku jadi bagian keluarganya..

    Sebagai sepupunya, aku pengen bisa jalan bareng, becanda, curhat..

    tapi sayang dia terlalu cepat diambil..

    Kakak, seneng bisa baca cerita kakak.. Aku jadi makin ngerti bagaimana kondisi Brata waktu sebelum dia meninggal..

  6. RIKARDO SIAHAAN

    Paribanku Frida Simanjuntak,

    Mamaku adalah boru Simanjuntak dan Istriku juga adalah boru Simanjuntak. Aku baru menikah tahun 2006 pada usia 49. Sekarang aku sudah punya boru.

    Lagu “Na Hinali Bangkudu” adalah bagi mereka yang tidak berharap lagi menikah dan tidak lagi berguna. Adekmu terilhami oleh kehidupan pengarangnya Nahum Situmorang.

    Lagu ini cukup lama menjadi lagu wajib saya hampir 20 tahun sejak Bapa saya meninggal tahun 1986.

    Kalau boleh saya sempurnakan syair lagunya begini:

    Na hinali bangkudu da sian bona ni bagot
    Beha ma ho doli songon boniaga so dapot
    U-e amang doli, o amonge
    Boniaga so dapot, langku do pe masa onan
    Beha ma ho doli tarlompo ho parsombaonan
    U-e amang doli, o amonge
    Atik parsombaoanan dapot dope na pinele
    Beha ma ho doli songon buruk buruk ni rere
    U-e amang doli o amonge
    Mate ma ho amang doli
    Mate di paralang alangan da amang
    Mate di paraul aulan

    Buruk-buruk ni rere adalah tikar yang tidak dapat dimanfaatkanlagi tapi sayang kalau dibuang atau dibakar.

    Janganlah engkau terus bersedih. Tuhan punya caraNya sendiri untuk kita kenal. Barata diciptakanNya sampai seperti itu kita harus terima sebagai cerita Tuhan pada kita.

    Seringkali kita menagisi kehidupan kita tanpa kita sadar Tuhan sudah punya cerita sendiri tentang kita. Itu menurut saya adalah manusiawi. Seperti tertulis… Margogo do anggo tondi alai gale do ia pamatang (Iman dan roh kita boleh kuat apa boleh buat daging dan fisik kita tidak kuat).

    Jika kau juga akan suka lagu itu, harapan saya janganlah kau hidup di lagu itu. Tuhan memberkati.

  7. Farida Simanjuntak

    @ all…
    Terima kasih untuk komentar dan simpatinya. Yah, walau adekku Brata sudah bahagia di bersama Bapa tapi aku yakin jiwanya masih ada bersama semua orang yang dicintainya.
    Dari Brata banyak hal yang kupelajari. Terima kasih adekku…

    @ Panurat22
    Tulang, aku pun tidak bisa lupakan kalau kalian berdua sedang bersama. Dia hanya tersenyum simpul dan oke aja tulang ajak.

    @ Eli Nainggolan
    Benar dek, Brata Simanjuntak dulu sekolah di SMP Katolik Budhi Dharma. Waktu kalian EBTANAS dia paksa pulang ke Balige. Hampir tiap hari dia minta telepon frater Placidus Siagian.
    Waktu dia meninggal Frater juga menyanyi sambil menangis. Tidak bisa kulupakan waktu guru dan kawan 1 kelasnya mengangkat peti jenazah ke kuburan. Terima kasih kalian pernah jadi teman adikku. Sampai saat inipun aku tidak sanggup berjumpa teman Brata terutama teman dekaatnya seperti Bismar Pardede dan ketua kelas mereka waktu itu. (Maaf aku lupa namanya tapi dia sahabat Brata dari SD tapi dia keburu pindah selepas ujian dan mungkin tidak tahu sahabatnya sudah meninggal. Mereka terakhir jumpa waktu Brata mau berangkat berobat ke Jakarta,kalau jumpa dengan dia sampaikan salam dari keluarga kami)
    Salam kenal ya dek…

    @ Ledy Simanjuntak
    Terima kasih ya Ledy…
    Wah, tumben bisa kasih komentar di sini. Sedang tidak sibuk dengan Metro TVnya ? Kata bapak dan adek2, kamu makin oke dengan liputannya…
    Sukses selalu ya Ledy……..

    Sekali lagi terima kasih buat semua…
    Semoga kita makin mencintai saudara-saudara kita dan tidak menyia-nyiakan mereka bahkan saat yang paling susah.

    Tuhan memberkati kita

  8. Sharipuddin

    Di mana ku dengar cerita ini ya

  9. Ete Marboens

    kesedihan adalah hal yang wajar untuk setiap orang yang baru saja kehilangan orang yang dicintainya, itu artinya kita masih diberikan perasaan bersedih, tetapi kalau boleh kita renungkan, kitapun hanya sebentar tinggal di dunia ini, nggak lama lagi kitapun akan mengalami kematian. hidup didunia bagaikan asap, hanya sebentar terlihat kemudian hilang. begitupun hidup kita hanya sebentar kemudian hanya tinggal sejarah.
    bukan bermaksud mengajari ya, akupun menangis membaca artikel ini dan akupun turut berduka.