[jarar siahaan; blog berita; untuk pelajar dan mahasiswa]
Kirimkan artikel singkatmu, raih uang Rp1,5 juta.
Sayembara ini bertajuk “Menulis Esai Gugah Batak”. Idenya muncul dari salah seorang pembaca Blog Berita, Dian Sidauruk, lelaki Batak yang tinggal di Bali. Selain memberi gagasan, Dian jugalah yang menyediakan hadiah uang Rp 750 ribu bagi pemenang lomba.
Selain Dian, ada juga seorang pelanggan/pembaca setia Blog Berita di Jakarta, seorang Batak, yang kemudian menyusul menyediakan uang Rp 750 ribu lagi sebagai hadiah. Donatur ini lewat imel padaku mengatakan agar identitasnya tidak usah diungkapkan. Tapi pada intinya dia mendukung ide Dian Sidauruk dan mendukung penuh kesediaan weblog-ku menggelar lomba menulis ini.
Beberapa waktu lalu Dian Sidauruk memberi usul padaku soal lomba menulis esai, yang intinya bertujuan untuk mengingatkan dan merangsang generasi muda Batak, terutama yang tinggal di perantauan, supaya tidak lupa pada budaya leluhurnya. Sekaitan itu dia menyertakan sebuah artikel pendek berbentuk prosa yang ditulisnya pada 1995 ketika bekerja di Kalimantan Timur; prosa tersebut sudah pernah kumuat di Blog Berita, dan kutampilkan ulang di halaman ini.
Sayembara menulis yang diusulkan Dian adalah sesuatu yang sangat baik, dan sesuai pula dengan niatku selama ini; mengajak orang untuk mengekspresikan pemikiran dengan menulis. Maka aku pun menyatakan padanya bahwa aku setuju mengadakan sayembara lewat weblog ini. Dian menyerahkan sepenuhnya padaku untuk menangani lomba, dan dia tidak akan campur-tangan.
Sedikit catatan mengenai Dian Sidauruk; dia sudah lama ingin pulang dan menetap di kampungnya, Kabupaten Samosir, sebuah pulau indah di tengah Danau Toba, tapi belum bisa karena masalah pekerjaan. “Sejak tahun 1994 saya telah merencanakan pulang kampung, mukim di sana dan memberi kontribusi semampu saya. Tetapi saya harus bersabar menunggu,” katanya. Meskipun tidak bekerja di bidang tulis-menulis, Dian sangat mendukung budaya menulis.
Dia juga pernah memberikan “sedikit” uang kepada sebuah SD swasta di Kediri, dan meminta pihak sekolah menggelar lomba bahasa Inggris untuk muridnya. Walau hadiahnya tak seberapa, “Las ma roha ni nasida. Marlumba-lumba ma nasida marsiajar, ai hujanjihon do tahun depan bahenon muse. Bah, mansai las rohani murid-murid i. Mudah-mudahan molo mulak hami tu Samosir, boi bahenon nami songon on [Anak-anak itu senang dan terpacu untuk belajar lebih giat, apalagi aku berjanji untuk membantu lomba sejenis tahun depan. Kalau nanti aku sudah tinggal di kampung, Samosir, semoga saja aku bisa melakukan hal yang sama],” kata Dian.
Secara pribadi Dian Sidauruk ingin agar peserta lomba dibatasi pada usia remaja, sekitar 18 tahun, karena dia ingin menggugah generasi muda Batak di tingkatan umur tersebut. Tapi dia juga setuju ketika aku menyarankan supaya batas usia itu diperluas.
Naskah yang diikutkan dalam lomba ini cukup pendek, jadi engkau tidak perlu menulis panjang dan berbelit-belit.
Ketentuan Sayembara Menulis Esai Gugah Batak
1. Tema lomba: Menggugah generasi muda Batak untuk senantiasa mencintai budaya Batak [bukan judul].
- Prosa Gugah Batak [lihat di bagian bawah] karangan Dian Sidauruk dijadikan bahan untuk diapresiasi/diulas oleh peserta lomba.
- Batak yang dimaksud dalam hal ini tidak terbatas pada Batak Toba, tapi juga sub-etnis Batak lainnya.
2. Artikel yang dilombakan: Berbentuk esai [karangan bergaya bebas, berisi opini pribadi].
- Artikel yang dikirim tidak sedang diikutkan dalam lomba lain dan belum pernah terbit di media massa, buku, blog, milis, dan bentuk media lainnya.
- Satu orang peserta lomba hanya boleh mengirim satu artikel.
- Bila kemudian artikel pemenang ternyata adalah plagiat/hasil jiplakan, maka Blog Berita akan mengumumkannya kepada publik.
3. Panjang artikel: 800 kata sampai 1.200 kata.
- Ditulis dalam bahasa Indonesia; boleh memasukkan istilah-istilah Batak tanpa harus membuat terjemahannya.
4. Peserta lomba: Orang Batak, berusia maksimal 23 tahun, berstatus sebagai pelajar/mahasiswa, tinggal di Indonesia.
- Bukan wartawan, bukan penulis/kontributor di Blog Berita.
5. Waktu lomba: Mulai 20 Nopember 2007 dan ditutup 20 Desember 2007.
6. Penilaian: Tim penilai, termasuk Blog Berita, adalah bersifat tertutup dan tidak melayani tanya-jawab secara pribadi [seperti lewat imel atau telepon] dengan peserta lomba atau siapa pun.
- Keputusan penilai adalah mutlak.
- Yang paling utama dinilai adalah isi artikel, baru kemudian teknik menulis [pemilihan judul, tata-bahasa, dll].
7. Hadiah pemenang: Pemenang lomba tiga orang, dan berhak mendapatkan hadiah uang dengan total Rp 1,5 juta.
- Pemenang pertama: Rp 750 ribu
- Pemenang kedua: Rp 500 ribu
- Pemenang ketiga: Rp 250 ribu
8. Pengiriman artikel: Hanya lewat email blogberita [at] gmail.com.
- Pada saat mengirim artikel, peserta WAJIB menuliskan nama lengkap, alamat tinggal, nomor HP, dan nomor rekening bank. Nomor HP dan rekening bank diperlukan ketika Blog Berita hendak mengirimkan uang hadiah.
- Pada saat mengirim artikel, peserta juga WAJIB melampirkan identitas diri yang masih berlaku sebagai pelajar/mahasiswa [berupa hasil scan].
- Artikel yang dikirim TANPA melampirkan identitas diri TIDAK AKAN diikutkan dalam lomba.
- Kirimkan artikelmu dengan memakai alamat email yang benar dan asli. Bila nanti artikelmu terpilih sebagai pemenang, maka ke alamat email itulah Blog Berita memberitahukannya.
9. Esai peserta lomba adalah opini/ditulis berdasarkan prosa Gugah Batak karya Dian Sidauruk berikut ini:
Gerimis subuh berhenti. Pagi yang temaram, tak sedingin pagi kemarin.
Dari Timur Mentari menyapa: “Horas, horas, horas,” sambil tersenyum dikibas-kibaskannya tiga kali ulosnya.
“O Tano Batak, haholonganhu, mansai masiholdo ahu tu ho…,” demikian senandung riangnya menapaki cakrawala menuju Barat.
“Horas, horas, horas.” Tiga kali kata itu ditaburkannya lagi kepadaku.
Penat berjalan menapaki Timut Barat membuat raganya layu. Dia rebah tertidur di pangkuan ibu pertiwi.
Dalam tidurnya sesekali dia meniup seruling: “Molo dung binsar Mataniari, laho panapuhon hauma i. Denggan do ngolu siganup ari… O, Tano Batak… Andigan…”
Di punggung gunung, Bulan tersenyum menimpali senandungnya: “Bulan i, bulan i, bulan i… pardomuanni simalolong…. Boha bahenon dai inang, bagian i ingkon jaloon… Andiganpe boi ahu pajumpang, dohot dainang sipangintubu, dohot damang parsinuan…”
Tak kalah riangnya, sambil menari berkedip menggoda, Bintang-bintang memetik kecapi: “Bintang narumiris…. Borupe riris…”
Dan, Awan pun membentangkan sayap, penuh tingkah meniup serunai: “Ombun nasumorop… Anakpe torop…”
Matahari, Bulan, Bintang dan Awan, kepadamu kutitip pesan:
Panggil mereka dan sampaikan: “Bonapasogit mangandung, mulakma ho, pature hutam.” [www.blogberita.com]
Update 20 Nopember 2007 siang hari:
Artikel di atas kurevisi sehubungan dengan donasi dari seorang pembaca Blog Berita di Jakarta. Dia menyediakan uang Rp 750 ribu lagi sebagai hadiah, sehingga pemenang lomba menjadi tiga orang. Selengkapnya sudah kujelaskan pada artikel di atas. Selain itu dia juga memberikan Rp 250 ribu lagi sebagai donasi untuk Blog Berita. Terima kasih untuk lae dan juga lae Dian.
Bagaimana bila tidak ada pemenang?
Atau lebih tepatnya, bagaimana seandainya tidak ada pelajar/mahasiswa Batak yang mau mengikuti lomba menulis ini? Kalau saranku secara pribadi bagi kedua donatur; uang itu nantinya kita serahkan saja pada keluarga miskin atau anak yatim-piatu atau orang susah yang menderita sakit, dll. Tapi bagaimana baiknya, yang memutuskan nanti adalah kedua donatur.


20 November 2007 at 8:42 am
Lowongan pekerjaan di perusahaan tempat saya bekerja: lihat http://www.jobsdb.com – Catatoguing Trainee – PT. Mitrais
20 November 2007 at 9:58 am
tambahinlah…juara 2 rp 500 ribu dan juara 3 rp 250 ribu dan 250 ribu untuk panitia/pemilik blog ini, pasigaret pada saat evaluasi setiap essai.
nanti kutransfer ya Lae Jarar ke rek. Mandirinya. Tapi tak usah sebutkan nama donaturnya, bilang saja dari salah seorang netters blogberita.com (No Name)
BLOG BERITA: terima kasih, lae. tadi aku sudah membaca imel dari lae, beserta lampiran bukti transfernya. sekali lagi, terima kasih.
21 November 2007 at 10:38 am
Jangan lupa untuk pembaca blog ini, cukup 50 rb aja
22 November 2007 at 12:03 am
lae tambahin lah, byar semangat orang2 buatnya. ok. mauliate parjolo lae
22 November 2007 at 12:07 am
bah sori na marappara do hita .ok . harap reply
22 November 2007 at 12:39 pm
@sabar sidauruk
Tambai bo ampara Sabar asa las jala hia-hia rohani naposo i manurat Esai i, jala mudah-mudah dengan menulis artikel-artikel seperti ini, mereka menjadi berani atau lebih berani mengekspresikan diri mereka. Ngomong-ngomong ampara Sidauruk apa?
22 November 2007 at 12:55 pm
@all
Bagaimana bila tidak ada pemenang?
Atau lebih tepatnya, bagaimana seandainya tidak ada pelajar/mahasiswa Batak yang mau mengikuti lomba menulis ini? Kalau saranku secara pribadi bagi kedua donatur; uang itu nantinya kita serahkan saja pada keluarga miskin atau anak yatim-piatu atau orang susah yang menderita sakit, dll. Tapi bagaimana baiknya, yang memutuskan nanti adalah kedua donatur.
—————————————————————-
Saya sangat setuju bahwa: Uang yang seharusnya untuk pemenang – tetapi karena pemenangnya tidak ada, maka uang tersebut diberikan kepada yang membutuhkan berdasarkan pemikiran blogberitadotcom a/n Jarar Fendi Siahaan dan pelaksanaanya saya percayakan kepada blogberitadotcom a/n Jarar Fendi Siahaan. Pernyataan saya ini sah tanpa persetujuan tertulis atau tanpa persetujuan formal. Dian Sidauruk
22 November 2007 at 2:17 pm
“Bagaimana bila tidak ada pemenang?
Atau lebih tepatnya, bagaimana seandainya tidak ada pelajar/mahasiswa Batak yang mau mengikuti lomba menulis ini? Kalau saranku secara pribadi bagi kedua donatur; uang itu nantinya kita serahkan saja pada keluarga miskin atau anak yatim-piatu atau orang susah yang menderita sakit, dll. Tapi bagaimana baiknya, yang memutuskan nanti adalah kedua donatur”
Usul tambahan, dan itu pun kalau Lae Jarar bersedia tambah capek
Kalau memang tidak ada yang berminat yang kirim lewat email, barangkali Lae bisa kerja sama dengan salah seorang guru bahasa di salah satu sekolah yang dekat dengan tempat Lae (balige) untuk diajukan sebagai Lomba Essai kepada para murid-murid di sana.
Para murid itu adalah calon-calon perantau yang besar kemungkinan akan sukses nantinya di tanah perantauannya. Mereka akan selalu mengingat tulisan yang pernah mereka buat sendiri semasa sekolah di bona pasogit (misalnya balige), yang barangkali akan selalu mengugah hati mereka nantinya memberikan sesuatu yang bermanfaat ke bona pasogit.
Tapi diberikan kepada keluarga miskin atau anak yatim-piatu atau orang susah yang menderita sakit, dll, juga tidak masalah.
Intinya, hak dan tanggung jawab penuh (atas donasiku saja ya…ndak tahu kalau rekan yang lain) aku serahkan kepada Lae Jarar saja. Porsea do ahu di Lae.
JARAR SIAHAAN: terima kasih untuk lae dian dan lae no name atas kepercayaan kalian untukku. kupikir ide lae no name sangat bagus. maka bila nanti tidak ada pemenang, atau tidak ada yang mengikuti lomba ini via internet, maka aku akan menemui kepala-kepala sma di kabupaten tobasa [kuusahakan sebanyak mungkin sma] agar murid mereka mengikuti lomba ini. dan hadiahnya mungkin akan kupecah lagi untuk enam pemenang, agar lebih banyak mereka yang bisa menikmati uang itu. meskipun lae berdua sudah mempercayakannya secara penuh padaku, segala saran dari lae akan tetap kupertimbangkan. nanti kukabari lagi kelanjutan lomba ini via imel. terima kasih sekali lagi atas kepedulian lae berdua pada budaya batak. horas.
23 November 2007 at 1:55 pm
Pertanyaan; Bagaimana bila tidak ada pemenang?
Ini khawatirku laeku sekalian. Hampir semua komentator, distributor dan mungkin saja pembaca blog ini, berusia dewasa..malah yang sudah transisi rambut hitam ke uban (ubanku dah mulai timbul lae, jadi nyadar aku gak muda lagi ternyata, hahhaa). So, gimana mau nyentuh berumur 18 – 23 thn kalau range usia itu bukan pembaca setia blog ini?
satu usulku, bagaimana kalau tulisan ini di link kan juga ke milis-milis mudiba (muda-mudi batak maksudku) atau kumpulan mahasiswa/i batak/sumut. Kalau berkenan, saya akan link kan ke milis “mahasiswa bonapasogit surabaya”.
Satu lagi lae JJ, kalau si penulis bukan dari etnik batak tapi punya gugahan dan kepedulian yang tulus, gak bisa ikut ya? (banyak kali pun cengkunekku).
Mauliate/Terima kasih.
JJ SIAHAAN:
silakan lae link, terima kasih. untuk sementara ini kita khususkan dululah untuk generasi muda batak — seperti pesan/niat awal dari donatur yang menggagasi lomba ini.
7 Desember 2007 at 2:46 am
lae buat aja selebaran di warnet di balige sana.
nanti harus di kirim lewat email esai nya.yah sekalian memperkenalkan anak anak sana dengan dunia internet ini lah.
soalnya banyak anak anak smu yang masih awam dengan dunia internet hehehhe
menuju TKP
10 Desember 2007 at 9:44 am
Mauliate da Tulang!Molo so adong na monang ba tu iba ma lehonon ni Tulang.Tarhilala tu anak kos laho mangallang saksang. Ai kejam do na mangaranto on.Masihol do iba mulak tu Toba dung manjaha Prosa ni Tulang.Dang adong hepeng.Boama, namarsikkola do iba ro tuson poang. Mangalului sita-sita niba.Tertarik do iba poang dohot tu lomba on.Sai monang ma ate iba.
11 Desember 2007 at 4:00 pm
@ boru Tambunan
Horas bere – tetapi tunggu dulu – ai mengapa kau katakan aku tulangmu? Inangku boru Haloho dan inang-inangku boru Jawa tapi sudah dibuat jadi boru Haloho. Jadi sebenarnya hasian boru Tambunan – kau adalah parumaenku. Saya tak berani menerima panggilan ‘tulang’ dari kau.
Kau sekolah di mana parumaen? Kirimkanlah Esaimu ke Blogberita ya inang, mudah-mudahan kau yang menang nanti – tapi ingat – kalau Esaimu tidak bisa mengalahkan Esai orang lain tentu kau harus belajar dan banyak membaca, siapa tahu pada kesempatan lain ada sayembara seperti ini agar kau yang memenangkannya. Tetapi sebetulnya, walaupun tidak ada sayembara macam begini, tetapi kami para orangtuamu ini berharapa agar kalian yang muda-muda terutama yang masih bersekolah – giat belajar termasuk belajar menulis artikel, ya parumaen!
Tapi aku ingatkan kau parumaenku, tak boleh bilang ‘poang atau puang’ kepada lae Jarar Siahaan, kepada lae Simanullang, kepada saya dan kepada yang lain ya!
Kami ini orangtuamu -sayang kepada kalian semuanya, kami pasti senang dan bangga kalau kalian pintar-pintar dan berprestasi. Unang jo marhalleti kalian ya sebelum sekolah kalian selesai. Annon ma na marhallet i, ai ro sandiri do i molo dung dibereng akka doli-doli i ho tupa jala denggan.
12 Desember 2007 at 10:52 am
Kami ini orangtuamu -sayang kepada kalian semuanya, kami pasti senang dan bangga kalau kalian pintar-pintar dan berprestasi. Unang jo marhalleti kalian ya sebelum sekolah kalian selesai. Annon ma na marhallet i, ai ro sandiri do i molo dung dibereng akka doli-doli i ho tupa jala denggan.
@Ito Dian
Mekkel-mekkel au manjaha bagian on bah..ckckckck.Lussu nai.Dung dibereng tupa jala denggam.Hemma tutu
13 Desember 2007 at 9:09 am
@Desy Hutabarat dan kalian naposo borua
Maksud kami orangtuamu ini: Kalau doli-doli itu tidak tupa jala denggan, unang jalo da, papeos bohim. Jadi harus sama-sama tupa dan denggan. Apalagi kalau dia penjudi, jangan mau kalian ya! Mula-mula dia bilang bahwa dia betul-betul mensintau kau, siang malam, terang dan gelap. Dia bilang begini: “Sintaku berkobar-kobar untukmu. Makanan terasa seperti duri-duri durian menusuk usus dan air minum menggores-gores tenggorokanku -pilu rasanya – bila kau tak kulihat walau hanya sedetikpun”. Tapi nanti kalau kau sudah jadi istrinya, baru juga 3 bulan, dia sudah lebih mensintai kartunya daripada kau. Banyak kali alasannya meninggalkan rumah. Mulut baulah, ketiak banyak belukarnyalah, ini itu sudah molor molor lah. Kalau dia mau agar mulut tak bau, ketiak halus bagai porselen dan tidak suka sama yang molor-molor, maka seharusnya dia kasi uang dong untuk beli odol dll. termasuk membeli yang baru agar terlihat ketat. Tapi – ini – tuntutannya banyak tapi kelakuannya gak karuan dan lebih banyak waktunya memandangi kartu – bukannya memandang wajahmu..
Dia bilang gini: “Aku merana karena judi”.
Tapi gak berobah…..huh…..