[suhunan situmorang; blogberita; wartawan yang jadi aktivis]

Total membaktikan diri untuk memperjuangkan buruh, meninggal tanpa puja-puji. Ia melupakan keluarganya di Tarutung, tidak menikah, dan berjuang membela buruh Indonesia.

Artikel ini ditulis Suhunan Situmorang, advokat di kantor Nugroho Partnership, Jakarta, dan penulis novel Sordam. Blog Berita mengucapkan belasungkawa pada keluarga Tohap, aktivis idealis itu. Akankah ada lagi pejuang buruh sekokoh dia?

BEBERAPA HARI INI hatiku dirundung sedih. Sahabatku yang lama kucari, ternyata telah pergi Jumat pekan lalu. Ia berpulang setelah tiga bulanan bergumul menahan sakit disebabkan kerusakan levernya. Ketika penguasa maut menjemput nyawanya, tak seorang pun sanak-saudara, kerabat, atau teman, yang mengetahuinya. Kini ia sudah takluk, jasadnya telah ditimbun tanah pekuburan Pondok Rangon di timur Jakarta.

Tohap Simanungkalit, kawan lamaku sejak menekuni profesi wartawan di majalah Forum Keadilan itu, tak pernah kusangka akan mengalami perjalanan hidup “sesingkat” dan setragis itu. Sebelum majalah hukum tempat kami bertemu diambilalih grup majalah Tempo, ia dan Mochtar Pakpahan memang sudah hengkang duluan. Mereka tergerak mengadvokasi kaum marjinal, para pengasong dan kaum miskin kota yang dibenci penguasa. Mereka harus sering berhadapan dengan kantor polisi dan Koramil karena masa itu pembelaan bagi kaum miskin selalu dicurigai dan dituding berbau kiri.

Sekitar tahun 1992, Tohap dan Mochtar (kemudian diikuti Rekson Silaban, Sunarti, Aldentua Siringo-ringo dan aktivis lainnya), mengalihkan advokasi ke kaum buruh yang sudah bertahun-tahun tertindas dan tak punya ruang kebebasan untuk berkumpul dan menyuarakan pendapat—sebab SPSI tak lebih dari kepanjangan tangan pemerintah untuk mengontrol dan mengekang buruh. Mereka dirikan SBSI, serikat buruh yang fenomenal dan terbilang radikal, yang sontak menggamit perhatian dan dukungan ILO serta serikat-serikat buruh di berbagai belahan dunia.

Rezim Soeharto kian risau melihat sepakterjang SBSI. Militer dan intel dikerahkan memata-matai kegiatan mereka. Gubernur, bupati, camat, lurah, RT/RW pun diinstruksikan mengintip dan menghalangi aktivitas mereka. Sekretariat SBSI harus berpindah-pindah karena camat, lurah, RT/RW, tak membolehkan rumah penduduk digunakan jadi kantor. Rumah kontrakan Tohap yang sesekali kukunjungi, siang-malam diintai orang-orang bertubuh atletis berambut cepak. Ban mobilku pernah gembos akibat tusukan benda tajam. Saat itu perasaanku benar-benar lemas, Tohap malah tertawa-tawa, sama sekali tak gentar.

Di tengah kegugupan menyaksikan dua roda belakang mendadak kempot, Tohap—dengan suaranya yang lantang—berkata: “Teror seperti ini sih masih kecil. Saya sudah terbiasa menghadapinya. Aliran listrik ke rumah diputus, di depan pintu menemukan bangkai anjing dan kucing yang lehernya disembelih, taksi yang kutumpangi diserempet mobil-mobil misterius, pemilik rumah kontrakan tiba-tiba mengembalikan sisa uang kontrakan dan menyuruh pindah…” Aku tahu, sengaja ia berkata keras-keras karena petugas intel masih berkeliaran di sekitar rumahnya.

Semakin lama, Tohap semakin kehilangan rasa takut. Bersama kawan-kawannya sesama aktivis, ia kian garang dan militan menentang otoritarianisme penguasa. Mereka rajin dan gencar mendidik buruh agar berani menuntut hak dan berjuang melawan penindasan. Karena tak ada izin berkumpul—yang masa itu sulit didapat—ia sering diinterogasi aparat. Ia tak gentar. Impiannya, buruh harus diperjuangkan agar merdeka dan sejahtera. Saatnya bergerak melawan penindasan dan penghisapan tenaga buruh. Segala jenis pelanggaran HAM pun harus ditentang.

Namanya tercatat di buku rahasia militer, polisi, kejaksaan, intelijen. Ia menjadi bagian dari kaum dissindent yang dibenci Soeharto dan pendukung sistem kekuasaan yang dibangunnya. Berbagai tuduhan disebarkan untuk melemahkan perjuangan mereka: komunis, turunan PKI, Gerakan Pengacau Keamanan.

Anehnya, Tohap kian terangsang bertarung menghadapi rezim yang dulu dibayangkan amat susah ditumbangkan itu. Hormon adrenalinnya seakan makin aktif berproduksi manakala menghadapi ancaman dan bahaya baru. Ia seperti menikmati “permainan” yang menakutkan itu. Sikapnya tetap tenang, pikiran kritisnya kian tajam, tawanya tetap renyah, bicaranya meledak-ledak, dan akan bak singa lapar bila penguasa mencoba menekan pergerakan SBSI.

Mereka, para aktivis SBSI itu, begitu cerdik menyusun strategi. Mochtar Pakpahan sengaja disorong ke garis depan, tetapi di belakang, Tohap mendukung dengan sejumlah strategi dan statements kritis berbasiskan data; sementara Rekson, Sunarti, Luthfie, sibuk menyiapkan advokasi, pembentukan DPC SBSI, perekrutan anggota, penyebaran informasi, komunikasi ke publik, dan riset kasus-kasus perburuhan.

Pikiran lelaki kelahiran Tarutung ini (kalau tak salah, 1959), sungguh kritis dan berbobot. Sejak kali pertama mengenalnya, 1998, cara bicara, pola pikir, dan referensi bacaannya sudah membuatku tercengang. Ia mampu mengartikulasikan pikirannya yang dibangun berdasarkan referensi teori-teori ilmu sosial secara runtut dan mudah dicerna. Ia piawai menjelaskan persoalan negara dan masyarakat dengan sistimatis, tak asal cuap, dengan pilihan kata penuh nas, dipadu logat Bataknya yang masih kental. Entah dari mana didapatkannya kemampuan berpikir, bicara, dan menulis sebagus itu.

Di lingkungan majalah Forum, ia termasuk wartawan dan penulis andalan, khususnya bila sifatnya investigasi dan menjamah ranah politik. Tahun 1999, ia sudah membuat liputan langsung ke perbatasan Malaysia mengenai penyeludupan TKI ilegal, yang sampai kini tetap jadi masalah besar di kedua negara. Di kamar kosnya yang kerap kusinggahi dan tiduri, ratusan buku asing dan lokal, jurnal, juga dokumen-dokumen terkategori rahasia, menumpuk di rak dan lantai; aku pun harus tidur di sela-sela harta bendanya yang berdebu itu.

Persahabatan kami terbilang dekat, memang. Apapun masalah dan rahasiaku, kubeberkan padanya—sebagaimana yang juga kulakuan pada seorang kawan lama yang kini menjabat Kepala Litbang Liputan 6 SCTV. Tohap mengaku kehilangan saat kuputuskan mengakhiri masa lajang, Desember 1991. Alasannya, tak ada lagi teman yang setiap saat bisa diajaknya bergadang untuk berbagi cerita, membicarakan wanita impian, mendiskusikan persoalan-persoalan hukum-sosial-politik. Juga membincangkan karya sastra (ia juga penulis fiksi selain artikel ilmiah populer di berbagai media), mendengar lagu-lagu Batak sambil minum bir dan pulang dini hari dengan kondisi “setengah sadar” dari pub Hotel Pardede, Jln. Raden Saleh. Atau pada malam-malam tertentu, disertai kopi atau wisky (bila baru gajian) di teras rumah indekosannya, dengan vokal dibagi dua beriring petikan gitarnya yang ala kadarnya, melantunkan “lagu wajib” He Ain’t Heavy He’s My Brother milik The Hollies, dan Roho Saonari gubahan Nahum Situmorang.

Suatu malam tahun 1994, via telepon, ia menghubungiku, entah dari kota mana. Katanya, ia sedang buronan intel dan militer, sementara Mochtar Pakpahan sudah ditangkap—yang kemudian dipidana dan dipenjarakan di LP Tanjung Gusta, Medan. “Siapa tahu aku hilang misterius, biar kau tahu,” ucapnya terkekeh, tak ada rasa takut dari nada suaranya.

Tohap sudah menjadi seseorang yang amat diperhitungkan di kalangan aktivis muda dan opposan senior. Ia dekat dengan Goenawan Mohamad, Ali Sadikin, Adnan Buyung, Amartiwi Saleh, Romo Magnis, Romo Sandyawan, dan beberapa tokoh yang dianggap pemerintah dissindent. Demo besar itu jadi digelar; aku cuma penggembira dari kejauhan.

Aktivitasnya kian “gila”, tak mampu lagi kubuntuti. Ia sering diundang serikat-serikat buruh Eropa, Australia, Jepang, Thailand, juga menghadiri events yang dibuat ILO di berbagai negara. Namanya kian sohor di luar negeri, terutama di kalangan aktivis perburuhan dan pemantau HAM. Majalah dan surat kabar Belanda, Jerman, Perancis, Inggris, Hongkong, Jepang, beberapa kali mewawancarainya—apalagi sejak Mochtar Pakpahan dipenjara. Wawancaranya dengan BBC disebarkan ke semua stasiun BBC di seluruh dunia, demikian halnya VOA dan Radio Hilversum Nederland. Di dalam negeri ia terus bergerak membentuk DPC SBSI, aktif mendidik buruh, mengajari teknik negosiasi, strategi demo yang aman, juga mendoktrin kaum yang tertindas itu agar berani menuntut perubahan.

Suatu malam ia menelpon, memberitahukan bahwa studi hukumnya yang terputus-putus (sebelumnya di FH USU Medan dan FH UKI Jakarta) sudah dilanjutkan di FH UI program ekstension. “Lanjutkanlah,” tanggapku antusias. “Kali ini seriuslah kau. Aku setuju perjuangan dan kagum idealismemu, tapi jangan kau tumpahkan seluruh hidupmu untuk perjuangan buruh. Pikirkan juga diri dan masa depanmu. Mari kita realisasikan impian kita tujuh tahun lampau itu, mendirikan sebuah firma hukum yang lawyer dan karyawannya mayoritas wanita, berpakaian seksi, hehehe…”

Dalam pertemuan kami berikutnya, kembali aku sok arif dan seolah lebih tua menasehatinya. Kutekankan lagi padanya—yang entah keberapa kali—agar memikirkan diri dan orangtuanya. (Ia agak tertutup soal yang terakhir ini, namun pengakuannya, orangtuanya masih lengkap dan bermukim di Tarutung). Kembali pula kusarankan agar ia menikah, dengan harapan, bila sudah berkeluarga akan ada pengendali “keliaran pikiran” dan “zat radikalisme” yang bergelinjang di dalam tubuhnya.

Seperti biasa, Tohap hanya tertawa. Mungkin ia menertawakan pikiran-pikiran konvensional dan tradisionalku, terutama ketika kuingatkan: betapa orangtua dan sanak saudaranya di kampung pasti mengharapkan perubahannya. Ia memang tergolong manusia ganjil, kalau tak aneh. Hidup sendiri di Jakarta, membiayai keperluannya dengan menulis di media cetak dan honor dari sana sini, tak tertarik merancang masa depan yang mapan laiknya keinginan umumnya para perantau, tak berpikir menikah dan berkeluarga sebagaimana galibnya keinginan orang-orang.

“Tak rindukah kau pada orangtuamu?” tanyaku suatu malam di sebuah kedai kopi pinggir jalan Matraman. “Tak pengen kau jalan bersama istri dan anakmu?”

Cukup lama Tohap memberi jawaban. Aku tahu, pertanyaan semacam itu tak dikehendakinya, tetapi kudesakkan. Memang, karena merasa kawan dekat, aku kerap berupaya mengembalikannya ke kehidupan yang menurutku “normal”, walau kusadari bahwa ia tak tertarik mengikuti pola hidup yang dianggap orang kebanyakan “normal” itu. Jawaban Tohap atas pertanyaanku, sebagaimana sebelumnya, tak terkesan dipaksakan. Memang begitulah adanya, mengalir dari alam pikiran dan lubuk hatinya. Ia mengaku belum bisa yakin sepenuhnya bahwa lembaga perkawinan sedemikian penting, sebagai syarat utama untuk meraih kesempurnaan hidup. Ia percaya bahwa manusia tak lahir dengan keinginan, cita-cita, kepuasan, yang seragam. Dan manusia yang “berjiwa”, menurutnya adalah, bila terus-menerus melakukan pencarian hingga ajal tiba.

“Bukankah dengan melakoni perkawinan, berkeluarga, mencoba hidup teratur, tak berarti akan menghentikan pencarianmu pada makna hidup?” tanyaku padanya.

Ia mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu mengulas senyum. Nyatanya ia tetap melanjutkan kehidupannya yang tak jamak dan senantiasa mengundang bahaya itu. Saat itu ia dekat dengan tokoh-tokoh AJI, juga dengan anak-anak muda radikal dari Yogja yang kemudian nekat mendeklarasikan PRD. Tohap juga akrab dengan kelompok PIJAR, bersahabat dengan dua aktivis perempuan bernyali macan: Yenni Rosa Damayanti dan Dita Indahsari. Ia juga intim dengan kelompok pendukung dan tokoh-tokoh PDI pro Megawati, bahkan sempat intim dengan putri Bung Karno yang sempat jadi Presiden RI itu. Setelah Peristiwa 27 Juli 1996 yang berdarah-darah itu, ia sempat tiarap berbulan-bulan. Intelijen terus mengubernya, membuatnya bersembunyi ke berbagai tempat.

Kembali Tohap berkiprah menjelang kejatuhan Soeharto. Berbagai komunitas anti-Soeharto (termasuk kelompok Petisi 50 yang dimotori Ali Sadikin cs), dan barisan mahasiswa garang bernama Forkot diakrabinya dan mengakrabinya. Ia menjadi mentor untuk aktivis-aktivis muda, yang tujuan dan agenda utamanya menjatuhkan Soeharto dan menggulingkan rezim Orde Baru. Meski misi mereka sudah sukses, langkah Tohap tak jua berhenti. Di era pemerintahan Habibie, kembali ia lanjutkan perlawanan karena menurut mereka sesama aktivis, reformasi belum tercapai karena sisa rezim Soeharto masih memegang tampuk kekuasaan. Di masa-masa krisis itu ia akrab dengan Gus Dur, Nurcholish Madjid, Adnan Buyung, Permadi, Arbi Sanit, Arief Budiman, Hariman Siregar, Sri Bintang Pamungkas, dan hampir semua tokoh yang anti Jenderal Wiranto dan Habibie.

Sesekali ia masih menghubungiku dengan cara menelepon ke rumah, menanyakan kabar, dan dengan guyon menyindir kaumku para pengacara, yang menurutnya termasuk yang harus bertanggungjawab atas kebobrokan penegakan hukum di Indonesia. Terkadang kami seperti orang pacaran: saling mengaku kangen dan buntutnya mengulas kisah-kisah romantik; masa lalu kami selagi berkantor di Jln. Tirtayasa II, Kebayoran Baru. Yang dengan perasaan takut sekaligus malu-malu tapi butuh menerima amplop dari narasumber; yang sering tidur di kantor karena lembur tanpa dibayar perusahaan, selain untuk menghindari pemilik rumah kos karena belum bayar sewa; yang berlagak bagai kaum elite ikut menggauli kehidupan malam Jakarta, sementara untuk membayar cover-charge berharga puluhan ribu rupiah diskotik Musro, Oriental, Tanamur, kas bon dulu ke bagian keuangan Forum.

Tak lupa akan ditanyakannya kabar rekan-rekan wartawan yang sudah berpencar dan sebagian sudah jadi bos: Winahyo Seokanto, K. Lukie Nugroho, Posma Radjagukguk, Joko Soempeno, Rina Muchardiyah, Taryono Asa, Zainal Abdi. Juga bekas bos kami: Slamet Effendy Jusuf, Wina Armada, Karni Ilyas.

Berikutnya ia sibuk menggagas dan mengurus KIPP (Komite Independen Pemantau Pemilu), kian bebas mengembangkan SBSI, dan pada akhirnya mendirikan dan menjadi ketua umum PBN (Partai Buruh Nasional). Aku termasuk yang tak setuju ketika SBSI membuat hibrida sebuah partai politik. Menurutku, biarlah SBSI tetap menjadi lembaga pembela buruh, tak berambisi meraih kekuasaaan di parlemen. Prediksiku tak meleset, PBN tak dapat suara yang signifikan dalam pemilu-pemilu di era reformasi, sementara elan, spirit, misi, dan visi perjuangan SBSI mulai kendur.

Ketergiuran penggiat SBSI berpartai-partai itu pula yang kemudian memicu friksi dan perbedaan kepentingan di antara mereka. Bukan karena Tohap kawanku, aku memang lebih mempercayainya dan kubunya (Sunarti cs) yang menurutku masih setia bergerak di jalur idealisme dan perjuangan awal SBSI. Menurutku, barangkali anda tak setuju, Mochtar Pakpahan—yang harus diakui sudah banyak berkorban, babak belur berjuang, diteror, ditindas pemerintah Soeharto dan bertahun-tahun istri serta anak-anaknya menderita secara materi dan psikis—akhirnya terjebak di bingkai ketokohannya yang sudah menggelembung hingga meluputkan misi utama SBSI.

Tohap pernah mengeluh, Mochtar tak lagi mendahulukan kepentingan organisasi. Perjuangan utama ketua umum itu, katanya, sudah bergeser ke kepentingan personal. Popularitasnya yang sempat melambung setelah ditulis majalah terkemuka Time sebagai salah satu bakal pemimpin Asia masa depan, telah dimanfaatkan Mochtar untuk proses tawar-menawar politik yang tak bisa ditepis dari aroma uang. Persoalan besar di tubuh SBSI menyangkut uang itu, khususnya bantuan Jamsostek yang angkanya milyar rupiah, akhirnya menguap ke ruang publik. Mochtar Pakpahan sampai dilaporkan Sunarti cs ke Polda Metro Jaya dengan tuduhan penggelapan uang organisasi. Pengurus SBSI pun terbelah dua, kubu Mochtar Pakpahan-Rekson Silaban vs Tohap Simanungkalit-Sunarti. (Entah bagaimana kelanjutan kasus ini, kelihatannya tuduhan pada Mochtar tak cukup memenuhi unsur pidana).

Lelaki lajang yang hidupnya mirip kaum gypsy itu amat kecewa pada Mochtar, yang selama belasan tahun diakrabi, dikagumi, dibelanya—dan sudah berkawan sejak dari Medan. Ia luapkan gundah hatinya dengan cara mengembara ke berbagai komunitas dan wilayah, seperti sengaja mengasingkan diri. Nomor HP-nya sudah berubah, rumahnya pun entah di mana. Teman-teman lamanya seperti Aldentua pun tak tahu. “Kabarnya dia di New York,” kata pengacara cum politisi dari Partai Damai Sejahtera itu suatu kali. Beberapa tahun, Tohap Simanungkalit benar-benar hilang dari radar pikiranku.

Rabu kemarin, tak direncanakan, aku ketemu fotografer Edward Tigor Siahaan di sebuah kedai makan. Ia kenalkan kawannya lelaki bermarga Simanungkalit yang ternyata Salomo Simanungkalit—wartawan senior Kompas dan kini pengasuh kolom Bahasa yang kesohor itu, yang tulisan-tulisannya menyangkut ekonomi dan bisnis, dulu, amat kusukai. Setelah bercanda-ria, spontan kupuji marga Simanungkalit, dan bilang begini: “Sebenarnya tak begitu banyak marga Simaungkalit kukenal. Tapi dari beberapa yang kukenal, umumnya cerdas, intelektual, bertalenta besar, macam lae Salomo, Panangian, Nortir, dan seorang kawan dekatku yang tak kutahu lagi di mana rimbanya.”

“Siapa?” tanya Salomo.

“Tohap Simanungkalit.”

“Hah?!” Salomo terperanjat, raut mukanya berubah drastis. “Lae nggak tahu? Baru Jumat kemarin dia meninggal dunia!”

“Meninggal? Yang benar lae?”

Salomo pun menceritakan sebagaimana yang kusinggung di awal paragaraf tulisan ini. Tohap Simanungkalit, kawan lama yang kukagumi sekaligus kurindukan itu, ternyata sudah berbulan-bulan bertarung melawan sakit lever yang menggerogoti kesehatannya. Selama berbaring kesakitan, pengakuan para perawat RS PGI Cikini yang dikutip Salomo, jarang yang datang membesuk, kecuali sesekali jemaat sebuah gereja Bethel di bilangan Cempaka Putih—yang kemudian diketahui, tempatnya terakhir berkebaktian.

Tatkala tubuhnya sudah kaku, rohnya telah melayang-layang, petugas medis RS Cikini kebingungan menghubungi keluarga atau orang dekatnya. Seorang suster yang suaminya bermarga Simanungkalit berinisiatif mengontak pengurus marga Simanungkalit. Pengurus marga kemudian melacak asal-usul Simanungkalit eksentrik yang sebetulnya baik hati dan amat peduli pada kaum miskin itu. Setelah menemukan titik terang, mereka sampaikan kabar duka itu ke Tarutung. Seorang saudara lelaki Tohap langsung berangkat ke Medan dan selanjutnya terbang ke Jakarta. Esoknya, Tohap dikuburkan di pemakaman Pondok Rangon.

Hatiku benar-benar sedih, selain menyesali diri. Saat bengong, sendirian, kusesali diriku yang tak gigih mencari Tohap. Juga menyesalkannya karena melupakanku. Hujan badai yang menghantam Jakarta menambah kesedihan, tempiasnya kubiarkan menerpa muka dan badanku. Tak sadar butir-butir airmata meluncur di mukaku. Pak satpam di depanku tentulah tak paham mengapa airmataku berlinang di tengah derasnya hujan. Juga semalam, saat duduk sendiri mendengar tembang lawas He Ain’t Heavy He’s My Brother yang kuputar berulang-ulang, istri dan anak-anakku tak tahu mataku kembali berkaca-kaca.

Belum mampu aku melongok kuburannya. Kubayangkan ia terbujur kaku di peti matinya yang sempit dan pengap itu, ditimbun tanah basah. Sesungguhnya kuingin mengguratkan selarik kata di pusaranya, semacam epitaf untuk menghormatinya.

Ah, hujan ini. Lagi-lagi mengajakku meneteskan airmata. [www.blogberita.com]

Artikel sejenis:

Silakan bila ingin mengutip artikel dari blog ini, dengan syarat menyebut sumbernya www.blogberita.com dan nama penulisnya. Bila kau ingin, tulislah artikelmu dan kirimkan ke imelku, blogberita [at] gmail [dot] com; sertakan juga fotomu.


  1. Ningky

    Itu baru namanya mengisi hidup dengan yg sebenarnya, tdk melacurkan diri, teguh pendirian, pintar lg. Apalgi tulisan pak Suhunan ini selalu enak dibaca, serius ni, bukan angkat telor (serem bgt ya istilahnya! hehehhe)

  2. stephen dawni

    Ternyata masih ada orang Indonesia seteguh beliau..
    Tulisan anda membuat saya terharu seolah-olah saya sudah mengenal beliau…