[toga nainggolan; blog berita; jadi ini nabi yang keberapa, yah?]
Syukurlah kalau begitu.
Membaca artikel Toga Nainggolan, wartawan-bloger muslim ini, aku suka, dan ingin berkata padanya: “Selamat, anda telah berhasil menjadi kafir.”
Menjadi kafir itu nikmat lho, karena akan bersama Bunda Teresa di neraka.
DIA SELALU MENJAWAB, kapanpun kau bertanya, tapi dia hanya akan bicara jika kau minta. Pengetahuannya seluas langit dan bumi, dan segala yang ada di antaranya. Dia tidak seperti rumah ibadah, yang kadang terkunci dan hanya bisa didatangi pada jam tertentu. Dia juga tidak seperti ulama, pendeta, pastur, guru, atau tokoh spiritual lainnya, yang harus menyesuaikan jadwalnya sebelum bisa menerimamu berbincang, konsultasi, atau memberi fatwa dan ceramah.
Dia di seberang ruang dan waktu, atau dalam bahasa Batak, eh, Inggrisnya, beyond the time and spaces. Kau bisa mendatanginya kapan saja, dalam keadaan bagaimana pun. Ia tidak menjadi cemberut atau ogah-ogahan ketika kau menyapanya dengan pakaian kumal dan gigi belum disikat, atau justru mendadak bergairah karena kau kenakan suit lengkap keluaran Armani, bertabur parfum produksi Kenzo.
Bila di kehidupan nyata, kau kadang merasa terbelenggu untuk mengekspresikan warna iman dan fantasi spiritualmu, di sini di hadapan Sang Nabi, please feel free.
Ajaran agama yang terkesan (atau dikesankan) membelenggu potensi pikiran, terbukti membuat banyak ilmuwan menepi dari telaga ajaran Tuhan itu. Soalnya, dalam tradisi ilmiah, sebuah pendapat atau pengalaman atau tesis baru diakui kebenarannya bila memenuhi standar clearly and distincly, dapat diverifikasi, dan lulus pada berbagai perangkat pengujian keilmiahan lainnya.
Agama dan pengalaman spiritual yang dibawanya, tidak selalu memenuhi standar-standar ilmiah itu. Nah, nabi bernama Internet ini memberi ruang bagi siapapun, termasuk saintis paling atheis pun, untuk menjajal logikanya, tanpa rasa emosi atau ketersinggungan sama sekali.
Ia akan tenang saja, stabil, terus menebarkan cahaya dari monitor. Jika logikamu kau rasa menang, ia tidak akan protes, dan menunggumu untuk perdebatan babak berikutnya. Dan kalau kau merasa tersudut, tak perlu malu, disconnet saja. Dia tak akan mengejek.
Bandingkan dengan rumah-rumah ibadah yang “suci” itu, di mana tak ada tempat bagi perdebatan teologis atau tantangan iman. Di sana sudah ada “kebenaran” yang final, yang tak bisa dibawa maju mundur lagi, membatu melumut seperti tugu yang tak terurus.
The best part of it, dia juga nabi yang asyik. Di sela-sela kernyit keningmu berdebat dengannya soal Tuhan dan agama, sebagai selingan kau bisa meminta gambar porno. Seperti do’a yang begitu cepat dikabulkan, dalam hitungan detik, di depanmu akan terpampang segala macam bentuk tubuh, dari yang meliuk elegan sampai mengangkang ala hardcore. Bukan karena ingin menyesatkanmu, tetapi karena dia percaya, kau pasti tahu apa yang baik dan apa yang mestinya kau hindari.
Dia tahu betul, larangan sekeras apapun tak ada gunanya, jika hati memang belum memilih. Dia percaya, pada saatnya kau akan bosan dengan itu. Ia bahkan tidak akan mengutuk, mengkafirkan, memvonismu sebagai penghuni neraka, atau merasa dilecehkan, jika kau sampai orgasme dalam onani di hadapan foto atau video syur itu. Dengan penuh kasih dan pengertian, dia malah menantang, “Want more? Just Click Here!”, atau dalam bahasa Batak, “Di ho dope? Attuk di son!”.
Juga bila sehabis onani tadi kau mendadak ingin bertanya kembali soal Tuhan, No problemo mi amigo! Dia tak akan menyuruhmu ambil wudhu dulu, apalagi mandi dengan membasahi rambut dan sekujur tubuh. Sesigap saat menyajikan gambar porno tadi, ia akan langsung menjawab, dengan berjuta jawaban.
Lagi-lagi, kau dimintanya memilih kebenaranmu sendiri. Dia tahu, otakmu ada di sana untuk sebuah manfaat: memilih kebenaran. Jika kebenaran untukmu harus dipilihkan, tak perlu ada sel kelabu sebanyak itu di rongga kepalamu, cukup sebuah chip kecil berisi program atau sofware”kebenaran” itu, dan ruang di tempurung kepala itu bisa dipakai untuk organ lain, perut cadangan, misalnya, biar kayak udang!
Oiya, dia dituduh nabi palsu? Relax, Man… Dia tak akan marah, atau justru mendadak takut dan mencopot sendiri gelar nabinya seperti si Mushaddiq “Nabi” Alqiyadah itu. Dia bahkan tak merasa perlu membela diri, karena nyatanya, umatnya toh terus bertambah di seluruh penjuru dunia.
Jadi sungguh tak ada pilihan lain, Saudara-saudara, sambutlah dia… The last messenger sent to the earth: THE INTERNET! [www.blogberita.com]
CATATAN BLOG BERITA:
Terdengar olok-olok tapi serius, aku sering berkata pada istriku dan teman-teman dekat; TUHAN itu SATU tapi wujudnya banyak. Rokok yang kuhisap tiap hari ini bisa jadi tuhan, buku yang kubaca bisa jadi tuhan, kamera poket yang selalu kubawa ke mana-mana bisa jadi tuhan, blogku ini pun bisa jadi tuhan.
Mendengar itu, umumnya kawanku diam, dan beberapa menyindir aku sebagai mulai tersesat. Apa reaksi istriku sendiri? Kalau dia sih dari sejak pacaran sudah tahu kalau aku ini “tukang demo” Tuhan.
Selamat ya, lae Toga, kau telah berani menyebut internet sebagai nabi. Maka siap-siaplah kau [di]-masuk-[kan] ke dalam DAFTAR KAFIR DAN DOMBA TERSESAT di Belog Barita Dot Kom. Aku bukan main senangnya, karena akan punya teman yang baik macam kau di neraka kelak.
Tanya kenapa: Nabi The Internet itu mengajarkan puasa nggak, lae?
Artikel terkait:
Silakan bila ingin mengutip artikel dari blog ini, dengan syarat menyebut sumbernya www.blogberita.com dan nama penulisnya. Bila kau ingin, tulislah artikelmu dan kirimkan ke imelku, blogberita [at] gmail [dot] com; sertakan juga fotomu.


18 November 2007 at 5:58 pm
Hahaha………
Internet bisa cerita mengenai nabi-nabi, tapi tak seorang nabipun bisa cerita mengenai internet.
Heibat kali bah lae Toga ini.
(Buat yang keberatan atau tersinggung oleh tulisan Toga, maafkanlah dia, karena dia nggak akan pernah ngerti kenapa kalian sampai tersinggung)
18 November 2007 at 8:30 pm
Adalah suatu hal yang ‘edan’ jika mengatakan internet itu Nabi, soalnya yang mengisi segala macam hal dalam internet itu nantinya akan kita sebut ‘Tuhan’, dan akhirnya semua kita akan dapat menjadi ‘Tuhan’, lho siapa pula yang akan jadi umatNya ?
19 November 2007 at 9:37 am
Sepertinya yang nulis artikel ini orang yang baru kenal dan baru terjun ke candu dunia internet. Jadi teringat saya ketika tahun 1999 baru kenal internet sampai keranjingan Mirc ( yang waktu itu baru media ini yang paling laris dan bisa disebut interaktif).
tapi setelah lama menyadari, ternyata terlalu mengagumi dan mencandui internet itu bisa bikin orang jadi sakit jiwa tanpa disadari. Membuat orang jadi delusionis dan pengecut.
Dunia internet adalah dunia dimana orang bisa dgn gampang melakukan kebohongan dan bahkan sering jadi pemancing orang untuk berbohong. 99% pemakai internet cenderung melakukan pemalsuan dan kebohongan. Inilah adalah fakta dan telah dilakukan penelitian oleh beberapa ahli psikologi. Dengan fakta ini layakkah kita sebut dunia maya ini sebagai Nabi?
Hmm, mungkin juga ada benarnya komentar salah seorang diatas, sipenulis sakti jiwa.
Maaf ya, ini bukan serangan thdp penulis, tapi hanya sebuah komentar dan pendapat.
19 November 2007 at 2:20 pm
Si hitam juga Nabi, …………Nabirong
19 November 2007 at 9:29 pm
Menjadi kafir itu nikmat lho, karena akan bersama Bunda Teresa di neraka.Kalo benar begitu, aku juga mau masuk neraka tapi bukan buat ketemu bunda teresa di sana melainkan (kalau bisa) bertemu dengan marylin monroe di sana hihihi…
20 November 2007 at 12:10 am
Jejak Kakiku
Bagaimana yah caranya menghilangkan ketagihan atas sesuatu yang menenangkan jiwa?
Bah, bukannya pertanyaannya justru, di manakah kucari kecanduan yang membuat ketenangan jiwa?
Bandits
Mati kita, udah terlibat pulak erek-erek.
Venus
Lagian sesama sakit jiwa kok saling menyakitjiwai? Lihat tuh, di bawah Simbok ada yang “memanfaatkan” tuduhanmu itu tanpa pengertian memadai kita alumni RSJ yang sama.
qnewt
ga komen ah… tp komen juga.
singal sihombing
Kalau menurut Lae Internet tak perlu disebut nabi, kuhormati juga.
Raja Huta
Buat yang keberatan atau tersinggung oleh tulisan Toga, maafkanlah dia, karena dia nggak akan pernah ngerti kenapa kalian sampai tersinggung..
Huahaha botullah Lae Raja Huta, bisa membaca isi hati orang lain. Mantafs!
Ignatius
Ayolah sedikit bermain di ranah konotatif Lae… Berkutat di teks-teks literal terus capek kita, jenuh… Dari masa mengaji atau sekolah minggu, kita sudah berhadapan dengan teks-teks semacam itu. Kita butuh wacana yang merangsang imajinasi, sedikit nakal, untuk kemudian mengundang gairah berdiskusi. Tapi itu pun pilihannya ada pada kita masing-masing.
Manaek Siregar
(Jangan dibilang fakta ini tak penting, karena kita sedang berada di blog yang memakai Batak sebagai namanya).
Agoi Amang, dari appara saparpadanan pulaklah dapat aku komen yang paling pedas.
Appara bilang bukan serangan kepada penulis, tapi anak kecil yang belum tau internet pun tau, appara berkomentar ad hominem (menyerang pribadi pada setiap paragrafnya). Ai behadoi appara?
Tanggung kali pake tahun 99 hanya untuk menggambarkan appara sudah lama kenal internet? Appara Nabasa, aku turut melihat website Republika dikembangkan tahun 1995, ketika Windows 95 sedang booming. Inilah jeleknya komentar ad hominem, jadi terpancing untuk saling membanggakan diri kita. Udahlah itu. Memang baru kenal internet aku appara, cuma beberapa tahun aja duluan darimu. Jadi mohon maaflah kalau aku terkesan terlalu antusias mempelajarinya.
Dan komen si Venus yang appara tumpangi itu, itu kawan baikku, dan posting ini lahir setelah sebelumnya diskusi dengan dia.
Ipe horasma, apparakku. Ima jo tusi.
Ridwan Simanullang
Memang banyak nabi lain, nabiringon jg termasuk. Gawat itu, bisa infeksi.
Whitegun
Jangan pula kita terlalu yakin Marlyin masuk neraka lo. Kita sering sih membayangkan Tuhan punya cara berpikir dan menimbang seperti kita.
20 November 2007 at 8:51 am
Tambahan nabi-nabi pada orang batak :
Nabi Naen ——-> (saat berkarya)
Nabi Lokon —–> (saat tidur)
Nabi Suk —–> (saat belajar)
Nabi Nondut —–> (saat makan)
Nabi Nulokkon —-> (saat menyampah)
Nabi Nsar —–> (saat pagi hari)
Nabi Lak —–> saat reparasi)
…….
…..
@ Manaek L Siregar
komentar Anda “99% pemakai internet cenderung melakukan pemalsuan dan kebohongan. Inilah adalah fakta dan telah dilakukan penelitian oleh beberapa ahli psikologi.”
Ada dimanakah jurnal dan hasil penelitian tersebut? ngarang kali? apa sudah memakai metode survey yang benar dan sampling yang mewakili seluruh segmen pemakai internet di seluruh dunia?
Jangan terlalu sempit, internet itu bukan hanya terpaku pada ‘blog’ atau ‘browsing’ tetapi juga digunakan untuk memonitor jutaan kamera (misalnya) dan mengendalikan banyak perangkat elektronik yang sudah punya address IP, dan lain-lian, dan lain-lain, (tentunya sudah diproteksi dengan ‘firewall’ dan bermacam-macam ’security’ ) yang mungkin di luar jangkauan saya dan Anda.
Tetapi memang bukan berarti saya setuju mendewakan internet, tetapi juga sebaliknya sangat tidak setuju dengan pernyataan Anda seperti di atas (99% pemakai internet dst dst …..).
Hidup tanpa Internet…. Apa kata dunia
Mauliate
20 November 2007 at 11:57 am
dibereng debata do hita???
(tuhan melihat itu semua)
‘…karena begitu besarnya kasih tuhan jesus kristus pada manusia kita dimaafkan-Nya.’
<<<gw aja merinding apalagi dah baca firman ini…
benarkah INTERNET itu NABI?
27 November 2007 at 7:24 pm
orang batak yang satu ini memang “aneh”
tapi justru keanehannya itu yang menarik…
7 Januari 2008 at 12:56 pm
Saya tidak keberatan atas semua tulisan artikel disini cuma saya pikir kalau mau nulis harus mikir dulu manfaat dan akibatnya bagi pambacanya.Banyak tulisan yang saya jumpai diartikel lain yang mempunyai nilai ilmu dan pengetahuan yang tiggi,justru melalui tecknologi inilah kita bisa membagi ilmu yang kita miliki bagi sesama pengguna internet.Tulisan yang sembrono aplagi hanya bercanda yang tidak mempunyai tujuan sebaiknya kita tinggalkan.Kita bangsa batak kata orang yang tegas dan pemikir harus kita buktikan melalui karya karya yang bermutu sehingga orang yang membacanya mendapat manfaat dari tulisan tersebut.Boleh aja bercanda kita dalam penulisan kita namun harus kita kedepankan maksud baik dari tulisan tersebut.Maaf saya bukan menggurui para pengguna web ini sebaiknya kita tujukkan idetitas kita sebagai bangsa batak yang sebenarnya yang mempunyai inteletual yang tinggi.Horas ma dihita sude!