Toba Samosir Tapanuli

Jarar Siahaan Penulis Berita Batak

Biarkan Mereka Mendirikan Gerejanya

76 Komentar

[rikardo simamora; blog berita; tapi mereka membakar ulos]

Ada warga Balige yang menolak pembangunan gereja tertentu karena gereja itu mengharamkan adat Batak.

Artikel berbentuk liputan berita ini ditulis oleh Rikardo Simamora dan dikirimkan ke imelku, blogberita [at] gmail [dot] com. Rikardo adalah bekas wartawan yang kini bekerja sebagai PNS di Kantor Camat Balige, Kabupaten Toba Samosir, Sumut.

IBU BERPERAWAKAN SEDANG itu mengulangi lagi perkataannya. “ Kami sekeluarga tidak setuju dengan pendirian *** (sebuah sekte Gereja) di *** (satu Desa di Kecamatan Balige, Tobasa). Tapi itu pribadi kami (maksudnya pendapat pribadi, Pen). Masak mereka (penganut Gereja tsb) membakar ulos dan hanya mementingkan perpuluhan, sementara orang tuanya tidak diperhatikan. Ini terjadi pada anak dari keluarga kakakku sendiri,” tegas sang Ibu sambil tetap memegang cangkul yang sudah ditegakkannya.

Aku bersama rekan kerjaku yang ditugasi kantor meninjau lokasi pendirian gereja *** sejenak terkesima mendengar penuturan yang kontroversial ini. Ibu paroh baya melontarkan perkataannya itu kembali setelah aku menyebutkan bahwa Gereja tersebut sudah diakui oleh Pemerintah dan sudah ada 63 orang warga lingkungan tetangga lokasi yang menandatangi pernyataan tidak keberatan atas rencana pendiriannya.

Saat itu di sekitar lokasi hanya si Ibu yang sedang beraktivitas. Sendirian. Ia tengah membersihkan halaman rumahnya dari rumput-rumput dan tanaman pengganggu tanaman bunganya. Mukanya berkilat, berkeringat. Kami sesuai dengan tugas, meninjau lokasi pembangunan bangunan gereja dan mengecek surat pernyataan warga yang tidak keberatan. Sebelum ketemu ibu tadi, kami sudah bertemu dengan seorang bapak bermarga Rajagukguk yang ikut bersama 62 orang lainnya meneken surat pernyataan tidak keberatan pendirian gereja sepanjang tidak bertentangan dengan UU yang berlaku di Negara RI.

“Ya kita tidak keberatan untuk toleransi umat beragama,” kata Rajagukguk kepada kami. Ia pun membantu kami dengan menunjukkan arah lokasi pembangunan. Setiba di lokasi, kami tidak bertemu dengan warga yang bakal menjadi tetangga gereja yang akan dibangun. Setelah mengedarkan mata ke sekeliling, kami melihat sosok ibu yang sedang membersihkan halaman rumahnya dari rerumputan. Ia sibuk mengikis tanah dari rumput dengan cangkulnya. Rumahnya masih tergolong tetangga dan jaraknyapun terbilang dekat dari lokasi pembangunan gereja.

“Santabi Ito. (Ia memanggil kami dengan sebutan demikian setelah berkenalan) Kalian agama apa?” tanyanya menyelidik. Aku menduga , sang ibu mengira kami berdua adalah anggota jemaat gereja yang akan dibangun. Aku jawab dengan menyebutkan agama yang kuanut. Ia tampak lega mendengar jawabanku. “Nah, di gereja kalian khan ulos bisa dipakai di kebaktian. Apalagi pada upacara perkawinan. Itu diberkati lagi, botul do khan?” Aku mengangguk , tanda setuju. ”Betul, Inang,” jawabku.

“Itulah. Kalau untuk pendirian *** (Ia menyebut sejumlah Sekte Gereja) aku pribadi setuju. Tapi kalau gereja *** ini saya pribadi dan keluargaku tidak setuju 100 persen,” katanya lagi. Mukanya tampak lebih serius. Tak terbantahkan. Melihatnya, aku dan temanku tidak mau lagi memberikan penjelasan lanjutan. Karena pasti akan menjadi ajang debat kusir. Karena ia merasa penolakan itu adalah haknya secara serta merta dengan bekal memori perilaku anak dari kakaknya yang menurutnya menganut agama *** ini.

Namun di sela perbincangan kami, Ia menyempatkan menyapa sejumlah warga (kaum Ibu) yang hendak belanja ke pasar Balige ketika melintas di depan rumahnya. Dilanjutkannya argumen penolakannya. “Di Medan sana (Ia menyebut sebuah jalan yang termasuk daerah elit) berdiri rumah besar milik anak dari kakakku ini, tapi orang tuanya tidak pernah diperhatikannya. Mereka memang rata-rata adalah anak yang berhasil, bekerja dan berkecukupan materi. Tapi apa yang diberikan kepada natorasna?”

Ia meneruskan lagi. Kali ini kedua tangannya bertumpu kepada tali cangkulnya. Anak matanya mengikuti langkah temanku yang berjalan menjauh dari tempat kami bicara. “Padahal sepuluh perintah Allah, patik palimahon berisi pasangap ma natorasmu. Memang Tuhan itu tidak dapat kita lihat, tapi orang tua adalah Debata na ni ida. Tapi ini, jangankan sepersepuluh dari gajinya, jika ia pulang menjenguk orangtuanya (Ia menyebut sebuah kota didekat Tebing Tinggi,Sumut) barang sepuluh ribu perak pun tak pernah ia tinggalkan. Ah, kalo persepuluhan, cepat kali mereka memberikan kepada gerejanya. Maunya dibereshon jo dirina baru pe asa tu luar.”

Mendengar kalimat ibu yang terakhir ini, aku jadi berfikir. Keduanya (Ibu dan Anak dari Kakaknya) hanya masalah miskomunikasi. Salah komunikasi. Agama ya agama. A= Tidak, Gama = Kacau balau. Orang tua tetap orang tua kita. Kami melihat jam tangan, sudah pkl 10.45 WIB. Berarti sudah setengah jam kami “kuliah terbuka” mengenai hal yang seharusnya tak perlu dipertentangkan. Kami pun pamit dan melaporkannya kepada atasan di kantor. Janganlah kita mempertentangkan perbedaan yang ada di agama kita. [http://www.blogberita.com]

CATATAN BLOG BERITA:
Walau secara pribadi, sebagai orang Batak, aku tidak setuju dengan umat Kristen dari gereja tertentu yang membakar ulos dan meninggalkan adat Batak karena alasan imannya, tapi aku paling tidak setuju bila mereka dilarang membangun gereja mereka. Warga, terlebih pemerintah, tidak boleh melarang umat mana pun untuk mendirikan tempat beribadah hanya karena ajaran agama mereka tidak menerima adat setempat. Itulah ajaran yang mereka yakini, dan hormatilah itu; jangan paksakan mereka untuk menerima adat Batak sekalipun mereka orang Batak. Bila mereka memilih untuk mengorbankan adat leluhur demi agama, kita harus menghormatinya.

Bagiku pribadi, di planet bumi ini tidak ada kebenaran absolut, tidak ada agama absolut. Semua agama bisa benar, semua agama bisa salah, tergantung sudut pandang. Maka siapa pun, bahkan Menteri Agama, tidak punya hak menentukan “ini agama yang benar, itu agama yang salah”.
Mau jadi rasul?

Istilah Batak dalam artikel di atas:
Ulos = kain tenunan suku batak
Perpuluhan = uang persembahan anggota gereja
Santabi= permisi
Ito = sebutan untuk saudara/i
Botul do khan = benar (betul) ya khan
Inang= ibu
Natorasna = orang tua
Patik palimahon= titah Tuhan yang ke-lima (K.Protestan)
Pasangap ma natorasmu = hormatilah orang tuamu
Debata na ni ida = “Tuhan yang dapat dilihat”
Dibereshon jo dirina baru pe asa tu luar = diutamakan dulu keluarganya, baru orang lain.

Artikel Rikardo Simamora sebelumnya:

Silakan bila ingin mengutip artikel dari blog ini, dengan syarat menyebut sumber dan nama penulisnya. Bila dikutip untuk website, weblog, atau milis, maka tuliskanlah sumbernya http://www.blogberita.com dan buatkan link ke artikel bersangkutan. Bila dikutip untuk koran, majalah, bulletin, radio, televisi, dll, maka tulislah/sebutkanlah sumber kutipannya; http://www.blogberita.com. Bila kau ingin, tulislah artikelmu dan kirimkan via imel, blogberita [at] gmail [dot] com; sertakan juga fotomu.

About these ads

Penulis: Batak Toba

Demi Yesus, aku percaya Muhammad utusan Allah • Ikuti Twitter @ja_rar • Baca konten khas dan bernas di www.khas.co • Tahu nggak, menonton siaran Piala Dunia itu dosa loh menurut agama Islam. Baca di http://benar.org/do-sa

76 gagasan untuk “Biarkan Mereka Mendirikan Gerejanya

  1. he he he. Bingung deh.. Memang aku pernah menyaksikan bahwa seorang yang tua disiasiakan oleh anak2nya setelah perpindahan agamanya kesekte yang diributkan itu. Saya menghimbau kepada masyarakat batak agar lebih Dewasa cara berfikirnya menanggapi hal-hal ini. Khusus bagi mereka yang moderat tolonglah memberi komentar yang menunjukkan kelas Habatakonna, sangat miris bila kita seorang intelektual mengatakan “Mau dibakar ya bakar aja, kan hanya ulos toh”. Terlalu sporadis saya rasa.

    Saya tidak memperdebatkan boleh tidaknya ulos maupun perangkat adat lain menjadi assesoris menambah atau mengurangi keimanan kita. Namun saya minta kepada saudara yang pro sekte ini agar lebih berhati2, jangan terlalu vulgar, baiknya jangan merasa benar sendiri, juga sebaliknya buat yang kontra. Kita orang beragama adalah orang yang mampu mengendalikan emosi kita dengan rasa , dibandingkan rasional/pikiran kita. Buatlah lebih ke pendekatan emosional. bukankah kita dituntut menghormati semua orang.

    Buat mereka yg kontra dengan sekte ini marilah lebih bijaksana, hemat saya kehadiran sekte2 ini adalah buah dari keputus-asaan secara sosial. tidak dapat menyikapi perubahan dunia yang begitu cepat sehingga mengambil keputusan bahwa semuanya bergantung Tuhan, sekali lagi semuanya hanya Tuhan. bahkan bila perlu melupakan orang2 yang berjasa terhadabnya. Ayah Ibu, keluarga pokoknya semua.

    (Mereka bersatu hanya dengan komunitasnya. Ini kenyataan bukan mengada-ada, tanya hati nurani) Pendalaman Alkitab yang militan, yang belum menyinkronkan kondisi peradaban ini dengan rel-rel alkitab. TOO EXPOSED and SUICIDE Biarkanlah… yang terpenting Tuntunlah anak-anak anda, ajarlah lebih bijaksana menghadapi kenyataan dunia ini.

    Orang2 tua/ ahli adat harus menuntun/ mengajarkan/ membimbing para generasi batak ini. Karena hal seperti ini bukan terjadi kali ini saja, krisis dunia ditahun 70 juga pernah melahirkan sekte ini. Namun habis terkikis, krisis kali ini juga membangkitan saudara2 ini kembali. Bagi yang kontra…ingatlah Jika anda berkeyakinan bahwa Ulos itu tidak HARAM dilibatkan dalam seremonial beragama, maka yakinlah Tuhan tidak akan membiarkan itu terjadi.

    Buat kita semua “TUhan sedang menguji kita semua”, mari kita manajemen perbedaan ini. Janganlah sampai terjadi kerusuhan/ kebencian (seperti kasus HKBP dulu) Marilah cerdas dan bijaksana dalam hal ini, karena semakin kita mampu memanej keberagaman ini, menandasakan semakin cerdasnya kita dalam menyikapi Hidup ini.

    Memang sangat miris bila budaya yang diagungkan bahkan bahasa batak diakui salah satu bahasa yang terindah di bagian fasifik harus hilang ditelan peradaban. Ulos yang menjadi corak budaya yang menandaskan betapa hebatnya peradaban nenek moyang batak, Tulisan bataknya, ritual adatnya. Kita bisa bandingkan dengan suku lain di tanah air ini bahkan dunia.

    Sangatlah menyenangkan bila Batak Maju dalam segala bidang, budaya yang tidak lekang namun tetap mengasihi sesama manusia karena kuatnya keimanan. Bukankan tujuan beragam agar kita hidup berdampingan? tanya hati Nurani..

    Terimakasih bang…. numpang komentar.. Iwan Nafry Simarmata di Banda Aceh

  2. Menurut saya memang tidak bisa kita melarang mereka mendirikan Gerejanya. Itu Hak mereka. Tapi kalo masalah membakar Ulos, mungkin ulos mereka memang ada begunya(setannya) jadi perlu dibakar hehehe. Tapi kalo alasan membakar ulos(dan tidak bisa margondang :D) karena itu dulu digunakan untuk memuja setan, saya ga setuju.
    Ada kawan bilang , kalo memang itu alasannya, kenapa ga anak gadisnya juga di bakar :D kan dulu anak gadis juga banyak di persembahkan untuk setan… Atau kok masih pake piso dirumah.. kan piso juga dulu banyak digunakan untuk membunuh/memotong persembahan untuk setan….
    Semua benda bisa kita gunakan untuk kemuliaan Tuhan atau untuk menyembah setan… Terserah kita mau digunakan utnuk apa…

  3. Ulos tetap ulos.
    Ya agama tetap agama.
    Gara2 ulos membuat agama terusik, sebaliknya gara2 agama ulos terusik.
    Maccam ate.

    Btw Bang Kardo, adong do dilehon uang pelicin memuluskan ijin pembangunan gereja ini?
    Hehehehe…

    Salam abangku.

  4. Sekali lagi, kita harus hargai hak mereka untuk membangun gereja. Tapi sebaliknya mereka (orang kristen maniak-bakar ulos) pun harus menghargai simbol-simbol budaya yang dihormati oleh masyarakat sekitar.

    Membakar ulos itu tindakan yang sangat bodoh. Cari perkara dan menantang. STUPID.

  5. Horas. Terima kasih atas komen anda semuanya. Salam kenal bagi yang belum kenal.
    @Dian Sidauruk(laki-laki)
    @Portunatas Tamba
    @Sahat.m.Ngln
    @Viky Sianipar
    @Sahat
    @Robert Manurung
    @Parbintan
    @Thung sin (gelleng)
    @Hezekia
    @myhuta
    @Sibarani
    @Ridwan Simanullang
    @verryjudo b
    @agaperos
    @suhunan situmorang
    @lohot simanjuntak
    @Am.Ivan Sipahutar (SHAH UTAR)
    @Iwan Nafry
    @Jekson Sinaga

    @Marudut R. Napitupulu
    Sampai saat ini yang namanya uang pelicin belum ada tuh. Cuman pihak kecamatan masih sebatas memberikan surat keterangan yang diperlukan jemaat Gereja itu yang akan diteruskan ke Departemen Agama setempat. (masih urusan birokrasi).
    Hupaboa pe molo masuk virus, eh bukan si uang pelicin ate .. He-he . Salam manis adek ku. (kamu ” si virus “bukan?)

  6. Maaf, tapi aku sedikit perlu jelaskan tentang budaya dan agama.
    Dalam hal ini ISLAM sangat diakui kebersihannya dalam beribadah. Sampai2 kalo mereka mau sholat pun harus mencuci tangan kaki bahkan telinganya. Perlu kita ketahui juga mengapa mereka melakukan itu?. Ini bukan ajaran agama, aku rasa (maaf kalo memang ada) di kitab suci pun tidak ada dikatakan harus melakukan hal2 yg diatas. Tapi ini adalah karena BUDAYA BANGSA ARAB(asal agama), Budaya/Kebiasaan orang ARAB memang harus bersih masuk rumah ataupun masuk rumah ibadah ini dikarenakan geografis/ tanah mereka yang penuh debu dan angin yg membawa debu itu melekat pada tubuh, jadi mereka pun gak mau sampai debu2/kotoran tsb masuk kerumah mereka. Risih gak kalo kita sedang sembahyang tapi telinga kita gatal karna debu yg melekat itu?.

  7. Nah, bagaimana pula cerita seorang Nabi besar yang meninggal dan dikuburkan di tanah asing, sebelum meninggal dia berpesan agar tulang belulangnya sajalah yang dibongkar dan dibawa dan dikuburkan/ditanam kembali ke tanah kelahirannya. Apakah dia salah dan Tuhan marah? Tidak bukan!. Tapi aku gak menganggap sejarah ini jadi latar belakang orang batak ‘mangokkal holi’. Ini pun aku sebut hanyalah kebiasaan/budaya dijaman nabi tsb dikampungnya agar menjadi semacam bukti perjuangan hidupnya baik dan berguna bagi masyarakatnya.
    Nah intinya BUDAYA itu adalah hasil pola pikir manusia. Manusia bisa berpikir karena anugerah Tuhan. Jadi jangan anggap sejarah budaya itu semuanya berasal dari Iblis!. Iblis hanya punya satu satunya budaya ntuk merusak pikiran manusia. Iblis gak senang kalo Budaya yang kita hasilkan membuat kita merasa hidup nyaman dan damai. Masakan kita malah lebih melestarikan budaya Iblis!. Heheheee. Tujuan BUDAYA MANUSIA adalah menciptakan hidup yang lebih baik. Tujuan Budaya Iblis hanya satu… kata Iblis: ” Mari temani aku di Neraka kelak”. Siapa mau?.

  8. @horas lae Ricardo
    Untuku agamaku dan untukmu agamamu! Gereja itu ada di dalam hati mu dan sekeliling mu dan bukan di sebuah ruangan yang dibatasi dinding atau tembok. Cuma itu yang bisa kusampaikan mengomentari tulisan lae!
    Salam sama keluarga laeku! Udah berapa anak lae sekarang? Kalo ada waktu, aku mau main-main ke Balige. Horas!!!!

  9. Mereka bilang: kalau mau dibakar biar saja, kan milik sendiri… …
    Menyedihkan, Membakar karya seni yang begitu indah … …
    TOLOL … … …

  10. Ratusan tahun yang lalu, sebelum tekstil dikenal Bangso Batak mereka telah pintar memintal benang menjadi ulos, itulah harta yang terindah yang dihasilkan karya tangan serang ibu, setelah menenunnya selama 30 hari, bahkan lebih bila menginginkan karya seni yang lebih indah. Sangat mahal nilainya.
    Ketika putrinya menikah, diberikanlah, diulosi ma attong boru hasian i.
    Begitu juga tulang, mereka sayang sama berenya (ponakan), diberikanlah karya mereka yang terindah ulos, pada saat itu belum ada rupiah. Mereka memberi ulos pada orang orang yang mereka kasihi, mereka cintai. Ulos diberikan karena kasih.

    Sekarang, sebagian orang Batak ini yang merasa pintar, mereka membakarnya, kenapa harus dibakar? Terhadap benda mati itupun anda begitu bengisnya, apalagi terhadap orang lain yang tidak anda kenal?
    Atau yang beda iman? Anda mendapat dokrin yang aneh … benar benar aneh …

  11. Tidak tahan rasanya untuk tidak ninggalin sedikit Comment :
    Siapapun anda kalau sudah baca Alkitab terutama kitab Injil dengan teliti, ada tertulis, bahwa akan muncul nabi2 palsu, Jadi berhati2lah …
    Sebab sampai saat ini, Saya Percaya kepada Alkitab tidak bersalah (telah terbukti lebih dari 2000 Tahun).
    Jadikan ini memang bukti bahwa kita masing2 harus hati2 dalam menerima ajaran-ajaran, kalau kita pakai Alkitab sebagai dasar untuk itu maka kita akan tahu mana yang benar2 dari Tuhan dan mana yang ajaran Sesat.

    untuk itu ajakan saya kepada semua orang kristen pembaca bataknews :
    mari kita baca alkitab setiap hari. kita telah diberi Akal budi untuk memahaminya, dan kalau perlu ikut kelompok kecil/PA agar lebih tepat dan jelas dalam memahami.

    “Freely you received, freely give.” (Matthew 10:8)

  12. setuju dengan lae rikardo…
    kita harus mau memisahkan hal personal (kepercayaan terhadap Yang Kuasa) dengan urusan bermasyarakat.
    Kalau Kau seorang kristen, kata bapakku ” salib itu membentuk sudut 90 derajat” . Urusan dengan Tuhan( vertikal ) tidak boleh membentuk sudut selain 90 derajat terhadap urusan bermasyarakat(horizontal) . artinya tidak ada sangkut pautnya..

    Lain hal kalo misalkan “mereka” membakar gereja, merusak tugu2 di kampung itu,melakukan sweeping terhadap pemakai ulos ,.. perlu ditindak secara hukum manusia,, jangan pake hukum bukan manusia.

    Tapi kalo mereka sebatas cuap2 anti ulos/adat/hkbp.. ya silakan aja..

  13. komen sedikit….

    Marilah kita mempelajari sejarah lahirnya ULOS..apa fungsinya di budaya batak??sebelum anda2 membakarnya..jangan karna punya iman yang besar terhadap TUHAN anda2 lupa hal2 kecil…seperti ulos

    menurutku yang membakar ulos adalah jemaat yang sesat!!!jemaat yang perlu di didik lagi mengenai ke-Batak-an.

    bodoh kali kalian mencari budaya batak di Al-Kitab manalah mungkin wahai jemaat yang anti adat Batak!!!klo gak ditemukan kalian bilang lah adat batak itu haram gak adanya di Al-Kitab..jadilah haram kalian bilang
    bodoh lah kalian wahai jemaat sesat…Al-Kitab itu mengenai sejarag bangsa Jahudi bukan sejarah bangsa Batak.

    Dugaan saya adalah ulos yang dibakar dikarenakan doktrin dan dogma2 yg berlebihan disalahartikan dan disalahgunakan jolma2 napeokon (manusia dodol). Boleh saja Orang Batak itu kalian anggap gak bertuhan ato jolma na godang dosa ale naporlu siingoton unang pake hamu marga muna i…molo songoni do.
    klo nama kalian Parlin Simatupang…jadi Parlin aja jgn digunain Simatupangnya itu bagian dari adat batak. (ini hanya nama kiasan saja maaf klo ada tersinggung)…darah dan hati saya panas

    salam
    horas..

  14. hati2 banyak sekali sekarang jolma napeokon(manusia mengaku rasul tp sesat)!!!itu dah dipesan Jesus Kristus

    pergilah engkau jolma napeokon!!!

  15. @Charlie M. Sianipar

    “Mereka bilang: kalau mau dibakar biar saja, kan milik sendiri… …
    Menyedihkan, Membakar karya seni yang begitu indah … …
    TOLOL … … …”

    Yang TOLOL ini siapa? Yang “Mereka” atau yang “Membakar”?
    Atau dua-duanya sama-sama TOLOL.

    Aku termasuk dalam kelompok “Mereka”, tapi menurutku lebih TOLOL lagi kalau harus membenci yang “Membakar” itu. Memang ulos itu seharga manusia?. Ya..itu adalah pilihanku yang terbaik dan terpaksa di antara pilihan buruk yang harus kupilih. Selama yang di bakar itu hanya ulos mereka, ya silahkan saja.

  16. Am. Ivan Sipahutar (shah Utar )

    Dang songoni lae…
    Saya sendiri sangat Prihatin kenapa sampe-sampe ada ajaran agama yang membakar ulos,
    Apa hubungannya ulos dengan Agama? Tujuan kita mungkin sama tapi mungkin sudut pandang yang digunakan beda lae, perlu kita amati apa ada tujuan yang tersembunyi dengan adanya aksi pembakaran-pembakaran ulos itu. Batak punya Dalihan Na Tolu, setiap marga batak mempunyai punguan marga masing-masing dan Paguyuban dari punguan marga-marga itu. Seperti Punguan Toba Humaliang, ISENABASA , Bonapasongit dll. belum terdengar tanggapan, saran dan tindakan dari punguan-punguan marga batak tsb. Apa sih sebenarnya visi dan missi punguan marga tsb? Apa hanya untuk kepentingan politik, lahan- proyek dll dari ketua, pengurus dan konco-konconya saja . seperti yang saya lihat di tano parserahan tempat tinggal saat ini.

    Karena TKP nya di Balige Tobasa, tindakan pembakaran ulos ini sebuah sensasi yang sangat besar, bisa-bisa penyulut terjadinya perang saudara batak sama batak. Tetapi saya sangat yakin dan percaya bangsa Batak sudah sangat maju dalam berfikir dan tidak akan ter-provokasi oleh orang –orang yang tidak senang melihat tano batak damai dan aman. Kasihan de loe yang tidak senang dengan Toba
    Jika ulos-ulos itu benar-benar dibakar dan ada saksi-saksinya, apakah sudah ada tanggapan dan tindakan dari Pemkab Tobasa. Jika tidak ada..! jangan-jangan pemkab beranggapan ulos sudah bukan sebagai budaya dan bukan peradaban batak.

    Disini ditulis, hanya seorang Inang (ibu ) dan kelurganya yang berkeberatan , 62 orang setuju dan meneken pembangunan gereja sekte…., tapi apakah yang ke 62 orang itu juga setuju dengan pembakaran ulos itu? Tidak dipaparkan disini. Mohon penjelasan dari penulis.
    Mauliate…

  17. @ Ridwan Simanullang
    Yang TOLOL itu pembakar ulos.
    Membakar karya seni yang begitu indah … …TOLOL … … …
    Saya membenci orang yang membakar karya seni.
    Ulos saya anggap karya seni yang begitu indah dan mahal.

  18. Kenapa ya..menurut aku ne terjadi karena salah tafsir alkitab.sblum baca alkitab minta petunjuk Bapa trus baca semua ayat jangan ada yan tertinggal.
    hu..aku hanya bisa berdoa supaya umat kristen hanya memiliki stu gereja..dengan peminpinnya Yesus

  19. Kalo ndak salah yg diperdebatkan aliran ini adalah mengenai makna ulos.

    Saya jadi teringat ketika saya mangadati sekitar 6 th y.l. di Sidikalang, Sumatera Utara. Saat Tulang kandung saya (parhangir sonari di HKBP Tarutung) mangappehon ulos, sebelum ber-’uppasa’, Beliau bilang begini : “Songonondo bere, nang pe so jadi ho tu paribanmu bukan berarti moru holong ni rohakku tu hamu nadua. Ia ulos on, dang sian on pasu-pasu, alai sian Tuhan Jesus do. Aut boi ulos on mangkorhon pasu-pasu, boi do hutuhor di ho ulos godangna sakapal Kelud”.
    Jadi gabe margak-argak ma sude akka natorop.

    Memang saya kira ndak ada org Batak di atas dunia ini yg menganggap ulos sebagai suber berkat. Jadi, ngapain mesti dibakar?

    Mohon maaf jika ada yg kurang berkenan.
    Horas jala gabe.

  20. Sonari gatti topik ma jolo ate, …:)

    Tanpa bermaksud promosi,
    Boha do pendapat muna be tu akka ianakkon ni Toga Sihombing Boru-bere Se Provinsi NTB na manortor saat acara Tutup Buka Taon?

    Kami semua happy-happy aja manenteng ulos Batak, … no problemo.
    Semuanya kami merasa diberkati oleh Tuhan Yesus, bukan diberkati ulos.

    “kurang lebih dan lebih kurang mohon diperbanyak maaf”

    Godang maulaite
    Horas jala gabe,
    a.n: Ketua,

    Sabar Nababan, ST., MT
    Calon doktor energi di AIT (www.ait.ac.th)
    Merasa diberkati Tuhan Yesus, bukan ulos.