Toba Samosir Tapanuli

Jarar Siahaan Penulis Berita Batak

Mengapa HKBP Sering Konflik

108 Komentar

[suhunan situmorang; blog berita; gereja sebaiknya jangan terlibat politik praktis]

Sumbang saran seorang jemaat untuk pemimpin HKBP.

Artikel berbentuk opini ini ditulis Suhunan Situmorang dari Jakarta ke imelku, blogberita [at] gmail [dot] com. Suhunan adalah jemaat gereja HKBP, bekerja sebagai advokat di kantor Nungroho Partnership. Ia juga novelis.

PULUHAN RIBU JEMAAT Gereja HKBP memadati Gelora Bung Karno Minggu 28 Oktober lalu. Presiden SBY ikut hadir di pesta Parolop-olopon 146 Tahun HKBP itu. (HKBP resmi berdiri pada tanggal 7 Oktober 1861, didirikan oleh badan zending RMG, dari Jerman). Wajah Ephorus DR Bonar Napitupulu—dari layar kaca raksasa stadion utama—nampak sumringah. Kehadiran RI 1 memang penting bagi pimpinan gereja suku terbesar di Asia Tenggara itu, apalagi jauh sebelumnya sudah diembuskan ke telinga jemaat.

Tujuan “pesta” itu (sengaja diberi tanda kutip karena pengertian “pesta” bagi HKBP lebih pada ‘perayaan’ atau ‘peringatan’), salah satunya, untuk merayakan 67 tahun pribumisasi kepengurusan gereja protestan etnis Batak Toba dari kekuasaan missionaris-zending Jerman. Di tengah gempita acara, sebuah pesan singkat dari kawan lama masuk ke ponselku. Isinya, lagi-lagi tentang kisruh yang terjadi di HKBP Jln. Riau, Bandung. SMS tersebut kian menggangguku mengikuti acara kebaktian karena buruknya kualitas pengeras suara, kurang syahdunya tahap-tahap liturgi, ditambah gerahnya cuaca—membuat orang-orang sibuk berkipas-kipas. Orang-orang yang duduk di sekitarku pun banyak yang menggerutu.

Panitia terkesan tak siap memang menggagas acara seakbar itu, juga seolah tak menghargai antusiasme puluhan ribu jemaat yang datang dari berbagai wilayah. Hajatan rohani itu terkesan minimalis disiapkan, hingga gagal mengkondisikan revitalisasi dunia kerohanian. Mungkin mereka sudah bekerja keras, tapi, tak sebanding dengan hasilnya. Mereka pun tak antisipasif atas “kedatangan tamu yang tak diundang”, yakni para naposo (pemuda-pemudi) yang ternyata amat banyak jumlahnya, yang datang bukan atas nama sebuah resort HKBP. Mereka kelaparan karena tak kebagian nasi kotak karena masing-masing gereja diinstruksikan menyediakan konsumsi untuk jemaat rombongan mereka saja.

Di teras dan halaman stadion, orang-orang hilir-mudik, mencari makanan-minuman, belanja kaset, VCD, buku; tak mengikuti kebaktian, tak mendengar khotbah, apalagi sambutan dan pidato. Banyak pula yang berpulangan bersama gerutuan. Menjelang sore, ribuan kendaraan terjebak kemacetan. Sekeliling Senayan tak bisa dilalui. Penumpang bus, metromini, mikrolet, angkot—yang tak ber-AC—milik jemaat atau carteran, gencar mengipas-ngipas badan. Wajah mereka kuyu dan letih. Di mobil-mobil pribadi, para penumpang tertidur kelelahan, para pengemudi hanya bisa pasrah. Di tengah kekesalan karena dera kemacetan, SMS kawan dari Bandung itu sekelebat melintas di pikiran. Seakan ahli sosiologi agama dan pakar teologia, pikiranku sibuk mengupas HKBP.

Sejak terbebas dari hegemoni missionaris-zending Jerman, HKBP sudah akrab dengan friksi dan konflik internal. Penyebabnya macam-macam. Salah satu konflik yang skalanya tergolong besar terjadi awal dekade 60-an, yang lalu melahirkan GKPI, diikuti HKI. Tahun 1993 terjadi lagi konflik besar, melahirkan ‘sinode godang’ yang dipaksakan berkat dukungan Pangdam Bukit Barisan untuk menggusur Ephorus DR SAE Nababan. Isunya, Nababan dinilai terlalu keras “mendidik” pendeta agar benar-benar menjadi pelayan firman sejati yang lalu menimbulkan ketersinggungan di sebagian pendeta.

Ketersinggungan itu dimanfaatkan elite politik dan beberapa penguasa Orde Baru beretnis Batak yang tak suka SAE Nababan karena dianggap tak kooperatif dengan kebijakan Soeharto dan disinyalir pula anti-Golkar. Implikasi dan dampak konflik tersebut membuat antarpendeta, antarjemaat, terlibat perseteruan hebat yang nyaris merontokkan makna agama, membuyarkan harmoni relasi sosial berdasarkan tatanan dan norma hubungan kekerabatan berdasarkan aturan ‘Dalihan Natolu’. Entah berapa pendeta, vikar, jemaat, yang tewas; entah berapa ratus pula yang cacat dan luka.

Di kalangan umat, konflik petinggi gereja itu menciptakan dua kubu yang ekstrim berseteru dan menebarkan bibit militansi. Yang satu pro SAE Nababan (kelompok Setia Sampai Akhir/SSA), satu lagi mengikuti Ephorus PWT Simanjuntak hasil sinode yang dilaksanakan di Hotel Tiara, Medan—yang oleh kelompok SSA dijuluki ‘Monjo’. Sisa konflik yang berkepanjangan dan berdarah-darah itulah yang sampai kini menyisa di beberapa gereja HKBP, termasuk HKBP Jln. Riau Bandung dan HKBP Pondok Bambu, Jakarta. Juga melahirkan sebuah HKBP sempalan di bilangan Cikini (pecahan Kernolong) yang liturgi dan teologinya mirip gereja kharismatik. Akibat konflik itu pula HKBP Pangururan terbelah dua. Kelompok anti-SSA membangun gereja mereka di tepi Danau Toba, bertetangga dengan satu-satunya masjid di Pangururan.

Ephorus dan sekjen pasca konflik (JR Hutauruk dan WTP Simarmata) mencoba melakukan rekonsiliasi. Jemaat yang terbelah, yang bertahun-tahun memilih berkebaktian secara terpisah, disatukan. Pendeta dan vikar yang berseberangan, dipadukan. Langkah islah ini tak mulus, mungkin karena karat perselisihan terlanjur menggerogoti hingga sumsum tulang HKBP, apalagi ketika Bonar Napitupulu terpilih jadi ephorus, yang disebut-sebut salah satu pentolan anti-SSA semasa konflik besar itu merebak.

Tapi belum lama ini konflik memang nyaris meledak di gereja HKBP berjemaat 5000-an, tempat biasa kuikuti kebaktian Minggu. Mayoritas jemaat dan majelis gereja mengusulkan agar Pdt. Daniel T.A Harahap (sebelumnya pernah melayani di situ) menggantikan Pdt. Binnen Silalahi yang tahun lalu meninggal dunia, sementara kantor pusat menetapkan calon lain, kebetulan bermarga Napitupulu (Pdt Patar S. Napitupulu). Kedua pendeta ini sebetulnya sama cerdas dan menariknya dijadikan teman diskusi, sama-sama alumni STT Jakarta dan keduanya berkawan baik. Tarik menarik antara kehendak kantor pusat dengan HKBP Jatiwaringin berlangsung alot dan cukup lama, empat bulanan. Untunglah bara selisih padam sendiri, Pdt. Patar S. Napitupulu pun diterima tanpa gejolak. Jika tidak, sulit dibayangkan akibatnya.

Konflik, seolah menjadi hal yang intrinsik dengan HKBP; antarmajelis, majelis dengan pendeta, majelis vs jemaat, pendeta vs majelis plus jemaat (macam yang kini terjadi di HKBP Kebayoran Lama), pendeta vs pengurus kantor pusat (ephorus), dan jemaat plus majelis melawan kantor pusat. Pemicu pertentangan sedikit saja yang bersifat teologis, selebihnya menyangkut manajemen administrasi keuangan, perebutan kuasa dan pengaruh, soal penempatan-pemindahan pendeta, dan gaya kepemimpinan pendeta.

Di antara para majelis gereja, apalagi yang merasa ‘sisuan bulu’ (pendiri gereja) tak selalu bisa menerima perlakuan egalitarian. Selalu ingin diistimewakan, dipentingkan, bila perlu berperan besar menentukan kebijakan gereja. Sebagian jemaat yang sering atau pernah menyumbang dana ke gereja pun maunya diistimewakan, bila perlu pendeta harus bisa diatur. Di sisi lain, kantor pusat seakan menjadikan semua gereja HKBP laksana anak cabang perusahaannya, menetapkan sendiri jumlah setoran tiap gereja ke kas Pearaja-Tarutung, yang sering menyulitkan majelis gereja. Padahal, ephorus, sekjen dan pengurus kantor pusat di Pearaja, tak banyak andil dalam mendirikan sebuah gereja, murni swadaya jemaat—termasuk pengurusan izin yang setengah mampus sulitnya. Orang-orang di kantor pusat lebih sering duduk tenang melihat pertumbuhan gereja, tetapi sesudah berhasil didirikan langsung dimasukkan dalam daftar aset kantor pusat HKBP. Mereka tak cukup berperan mendukung perjuangan dan pengorbanan jemaat.

Di sisi lain, HKBP kian mendapat serangan dan hambatan dari luar, seperti penutupan paksa dan pembakaran gereja dari pihak yang tak setuju bangunan gereja berdiri di sekitar mereka, juga cercaan dari kalangan Kristen sendiri (kaum kharismatik) yang gencar menuduh HKBP menjalankan teologia sinkretisme dan “belum sungguh-sungguh Kristen”. Bahkan ada satu dua gereja kharismatik yang terang-terangan—dalam khotbah pendetanya—ingin mengosongkan gereja HKBP, membaptis ulang jemaat agar “lahir kembali”, supaya sungguh-sungguh menjadi Kristen—sesuai versi mereka.

Ephorus, sekjen, dan orang-orang di kantor pusat seolah tak menganggap masalah-masalah eksternal itu sebagai masalah yang perlu segera disikapi hingga tak tergerak melakukan tindakan advokasi atau setidaknya bantuan semangat kepada jemaat yang merasa tertindas menjalankan ibadah. Maka ketika sebuah gereja ditutup paksa, ketika izin tak dikeluarkan penguasa, tak terdengar tanggapan ephorus di media-massa. Ketika kaum aliran pemurnian Kristen yang fanatik itu kian gencar menyerang HKBP, petinggi gereja di kantor pusat tak coba menangkis dengan mengajukan argumentasi-argumentasi teologis yang mampu menenteramkan hati jemaat.

Bahkan hingga kini pimpinan dan pendeta HKBP masih gamang menentukan sikap: apakah akan toleran meresepsi adat-istiadat dan budaya jemaat yang disinkronkan dengan teologia Kristen aliran Lutheran yang jadi anutan HKBP, atau menolak tanpa pengecualian. Yang selama ini dilakukan adalah sikap ambigu, terkadang kompromi dan memberi permakluman, terkadang melarang—khususnya menyangkut musik tradisional gondang sabangunan yang dituduh kaum injili sebagai warisan penyembah hantu atau sipele begu; upacara kematian; ritual mangokhal holi (penggalian tulang-belulang orangtua dan leluhur untuk disatukan dalam sebuah ‘tambak napir’), dan; boleh tidaknya dilakukan ziarah ke makam leluhur-orangtua membawa rokok, sirih, atau buah. Sejauh ini para pemuncak HKBP belum membuat semacam “fatwa” menyangkut semua itu. Jemaat dibiarkan menafsir sendiri, menyimpulkan sendiri, sementara kaum yang sinistik kian gencar mengharamkan kebiasaan lama dan ritual adat-budaya dan aktif meretas pikiran umat dalam rangka de-HKBP-isasi.

Memang, HKBP masih terkurung dalam dilema. Bila ritual adat dan budaya secara tegas dilarang, dikhawatirkan akan menuai resistensi dari jemaat—yang dicemaskan akan mengurangi anggota, atau malah mengakibatkan munculnya gereja sempalan baru. Bila tetap berkompromi walau membuat koreksi di sana sini, cap sinkretisme dari kaum Kristen skriptualis dan juga sebagian pendeta HKBP yang anti adat-budaya, akan tetap menempel. Dan bila HKBP akhirnya ikut memusuhi adat-budaya Batak, pasti, sebagian besar jemaat akan mengatakan: HKBP tak usah lagi memakai identitas ‘Batak’ dan cukup disebut HKP (Huria Kristen Protestan) saja, karena ciri utama HKBP adalah kebatakannya, sementara dengan tetap menjadi Batak tak mungkin lepas dari adat-istiadat dan kebudayaan warisan leluhur (ompu sijolo-jolo tubu). Bahkan agar lebih lengkap, kata mereka yang keberatan itu nanti: buanglah marga dari diri tiap jemaat, majelis, pendeta, yang anti adat-budaya Batak itu. Sebab fungsi marga , selain identitas, juga penentu posisi, kedudukan, status, dalam tata hubungan kekerabatan masyarakat Batak.

Di luar persoalan-persoalan di atas, jemaat, vikar (sintua), bahkan pendeta, diam-diam atau terang-terang, sudah pula sering mengkritik pola kepemimpinan dan sikap ephorus-ephorus HKBP selama ini, yang dinilai mirip pimpinan ormas biasa (bukan keagamaan). Pengkritik tak setuju bila ephorus terlalu intim dengan politisi, parpol, calon pejabat atau pejabat; juga bila secara terang-terangan menunjukkan dukungan pada penguasa atau calon penguasa tertentu. Pun menyesalkan sikap ephorus atau sekjen yang sering otoriter dan kurang arif membuat aturan dan keputusan, macam pemindahtugasan seorang pendeta tanpa menghiraukan aspirasi mayoritas jemaat, dan pola penyelesaian masalah yang diterapkan dalam upaya penyatuan kembali jemaat yang terpecah karena konflik 1993—macam kasus HKBP Jln. Riau, Bandung, dan Pondok Bambu, Jakarta itu.

Sepertinya, para elit gereja yang berkedudukan di kantor pusat beranggapan hanya lewat tindakan tegaslah yang bisa menyelesaikan persoalan internal gereja. Mereka lupa bukan mengurus ormas biasa, bukan pula pimpinan barisan tentara. Mestinya, untuk menyelesaikan persoalan internal gereja, apalagi warisan kasus SAE Nababan vs PWT Simanjuntak, yang dikedepankan adalah pendekatan persuasif yang menuntut kearifan dan kesabaran. Semua itu hanya bisa dilakukan bila kandungan spiritualisme begitu intens dalam diri para pemimpin gereja, terutama ephorus.

Sementara itu, sependapat atau tidak, dalam sejarahnya, ikhwal kedalaman spiritualisme ini tak begitu menonjol di kalangan HKBP. Mungkin disebabkan teologi anutannya lebih menekankan rasionalisme beragama berdasarkan ajaran reformasi gereja yang ditawarkan Martin Luther 1516-1521, yang terkenal dengan penentangan atas indulgensia. Teologia anutan HKBP memang lebih mementingkan pengakuan iman terhadap Trinitas dan pemahaman atas Firman Tuhan (Sola Scriptura), dengan mengandalkan khotbah (bukan penekanan ritus ibadah). Dogma gereja bisa disampaikan secara ringan, cair, dan tidak harus pendeta yang menyampaikan. “Liberalisme” memuji dan mendengar Firman Tuhan ini membuat ibadah HKBP jadi terkesan datar, monoton, kurang greget—membuat yang tak puas beralih ke gereja-gereja protestan yang menawarkan ke-dalam-an, macam gereja Pantekosta, Bethel dan gereja-gereja kharismatik lainnya.

Kritik yang kian sering ditujukan pada pendeta-pendeta HKBP, salah satunya adalah soal ketidak-khusyukan ibadah itu, yang dituduh sebagai akar masalah kemiskinan spiritualisme. Memang sulit dihindari kesan yang tak sedap didengar ini: bagi pimpinan, pendeta, penggiat dan jemaat HKBP, seakan yang terutama adalah eksistensi sebuah gereja, kehadiran, partisipasi jemaat, keberlangsungan aktivitas seremonial, dan pembangunan fisik gereja.

Tak bisa disalahkan. Cobalah cermati perikop penuntun khotbah tahunan buatan kantor pusat dan muatan khotbah kebanyakan pendeta, jarang menekankan kefanaan hidup, kesementaraan pemilikan materi, ketidakabadian kuasa dan jabatan, yang bisa dijadikan umat semacam pengingat: bahwa kehidupan di bumi ini hanya terminal persinggahan, yang paling utama adalah iman dan perbuatan baik, hingga tak perlu berambisi macam-macam bila untuk merengkuhnya harus menghalalkan segala cara (termasuk menempuh cara jahat). Bahwa ukuran kesalehan tak terletak di seberapa aktif diikutinya kebaktian Minggu, sermon, kebaktian wijk, paduan suara, kegiatan lain, dan seberapa banyak disisihkan penghasilannya pada gereja. Bahwa gereja tak perlu dibangun besar, ber-AC, bila donasi jemaat berasal dari uang yang sumbernya diduga bermasalah, dan bila dengan pemberian itu ada imbalan yang diharapkan dari gereja.

Melihat berbagai persoalan yang kerap menimpa HKBP dan berulang-ulang, juga dengan mencermati perbuatan dan perilaku sebagian jemaat yang tak terpuji, mungkin sudah saatnya petinggi HKBP merevisi atau memperbarui dogma dan liturgi peribadatan, dengan memberi aksentuasi yang lebih intens pada esensi ajaran Kristus dan Firman Tuhan—selain keimanan—yakni: kesederhanaan, kesabaran, ketulusan, kerendah-hatian, kejujuran, kesudian mengasihi siapa saja (termasuk yang memposisikan diri sebagai musuh), yang untuk itu perlu dibongkar dan dienyahkan segala sifat dan perilaku negatif macam kebencian, egoisme, keangkuhan. Bahwa kehendak Kristus ialah agar setiap orang yang percaya bisa menjadi terang (memberi pencerahan dan kebajikan pada siapa saja) dan garam (bermakna bagi siapa saja), yang dilakukan tanpa reserve, tulus, sebagai wujud ketaatan. Bahwa menjadi pengikut Kristus dituntut pula totalitas sikap terbuka pada siapa saja, sedia bertoleransi, suka bersahabat, menghormati perbedaan (khususnya iman) dan menghargai seluruh ciptaan Tuhan—termasuk kebudayaan dan lingkungan hidup.

Untuk mengentalkan nilai-nilai spiritualisme itu seyogiyanyalah ephorus rajin menulis risalah-risalah hasil pemikiran dan permenungan teologisnya, yang secara rutin disebarkan pada pendeta, sintua, aktivis gereja dan jemaat. Sepatutnya pula ephorus mendudukkan jabatan dan dirinya semata-mata sebagai pemimpin spiritual, resi, bukan tokoh organisasi sekuler yang bisa terang-terangan, misalnya, memperlihatkan dukungan pada politisi, pengusaha, calon pejabat atau pejabat. Ephorus harus pula bisa bersikap imparsial dalam urusan perebutan kekuasaan (dari jabatan presiden, menteri, gubernur, bupati, camat, hingga kepala desa), sebab di antara jemaat pasti ada yang berseberangan dengan pihak yang didukungnya.

Ia juga dituntut menjadi bapak umat yang berwibawa, berkharisma, yang meneduhkan bagi siapa saja (bahkan terhadap mereka yang menentang kebijakannya), yang tak mudah menghukum pendeta hanya karena perbedaan visi; tetapi berani memperlihatkan sikap kritis untuk menyikapi persoalan-persoalan aktual di negaranya, seperti korupsi, disparitas pendapatan warga yang kian mengerikan, rusaknya lingkungan hidup, degradasi moral akibat perkembangan zaman, pelanggaran HAM, dan sebagainya. Mestinya pula ia proaktif meyakinkan warga non-Kristen bahwa kehadiran gereja—apalagi HKBP yang rada eksklusif karena berciri kesukuan itu—tak usah disikapi dengan kekhawatiran yang berlebihan sebagai upaya Kristenisasi, dan di sisi lain memperlihatkan empati pada penganut aliran kepercayaan hingga berani menegur keras pendeta dan jemaat yang menghalangi pembangunan rumah ibadah macam yang dialami kaum Parmalim di Medan belum lama ini.

Sungguh, menjadi ephorus itu amatlah berat. Ia manusia biasa namun harus mampu berpikir, berperilaku, berbuat, melewati ke-biasa-an. Kendati bukan wakil Tuhan dan bukan pula asisten Kristus, sikap, perilaku dan perbuatannya harus bisa menjadi acuan dan panutan pendeta, majelis, aktivis gereja dan jemaat.

Semua itu bisa dimilikinya bila nilai-nilai spiritualisme begitu kental dalam dirinya, yang niscaya akan mampu mengikhtiarkan reduksi atas potensi konflik internal maupun eksternal. Akan bisa pula menarik jarak dari tawaran-tawaran yang bersifat kenikmatan duniawi, karena ia lebih suka berdoa, berkontempelasi, berdialog dengan Sang Khalik, Allah pencipta alam semesta beriktu seluruh isinya, Alfa dan Omega. Aura keteduhan, kedamaian, pemaafan, senantiasa pula akan memancar dari dirinya, hingga tiap perkataan, keputusan, atau kebijakan yang dibuatnya, tak semata-mata berasal dari rahim otoritasnya sebagai pimpinan tertinggi gereja. [http://www.blogberita.com]

About these ads

Author: Batak Toba

Demi Yesus, aku percaya Muhammad utusan Allah • Ikuti Twitter @ja_rar • Baca konten khas dan bernas di www.khas.co • Tahu nggak, menonton siaran Piala Dunia itu dosa loh menurut agama Islam. Baca di http://benar.org/do-sa

108 thoughts on “Mengapa HKBP Sering Konflik

  1. Saya berpendapat, ini adalah bagian kecil dari sejarah peradaban manusia, berantem, damai, perang lagi, damai, perang lagi, dari satu suku ke suku yg lain, antar negara, antar kelompok, antar kerajaan, antar ..dst.dst. (holan nabarbadai sian si Abel dohot si Kain, marporang torus, dungi mardame, dungi marporang muse sahat tu saonari).
    HKBP (bukan Negara), maksud saya, orang Batak pada umumnya pintar-pintar semua dan tidak mau kalah, (“holan namalo do sude, masibaen nabinotona”) sehingga masalah dimulai dari “personal”?! (SAYA KURANG TAHU), akibatnya “Hosom Teal Late (HOTEL)” tumbuh subur, menjadi bibit perang.
    Hebatnya, semua jemaat tetap kebaktian apalagi para Pendeta dan Penetua (Sintua), memanggil nama Tuhan Yesus Raja Damai (Huria i torus do marminggu, manjou goar ni Tuhanta i). haruar gareja, porang muse, bah puang, he he he…
    Saya pernah diceritakan orang tua saya tentang sebuah buku (saya lupa nama bukunya) yang isinya mengisahkan Perang Laut antara Portugis dan Belanda. Lalu, Nahkoda Belanda bersama pasukannya berdoa, isinya demikian “Ya Tuhan Yesus, saya yakin, orang Portugis di sana pun berdoa kepadamu, maka permintaanku Tuhan, siapa yang lebih kuat dan benar diantara kami, itulah yang menang dan biarkan kami berperang”.
    Biarlah HKBP bekerja didalam damai, (Sai anggiat ma mardame HKBP, unang ala ni porang, alai molo “marsigulut angka na marsigulut” lot ma nasida marsigulut, dame ma taulahon). Mauliate
    NB. Mauliate Laengku JJ, mansai denggan do bloq mu on, sai gabe Partungkoan ni halak hita ma on diangka nauli nadenggan. Horas, Horas, Horas

  2. Bagai mana dengan klaim dari buku Tuanko Rao tentang tanggal kelahiran nya HKBP?

  3. Capek ya membicarakan HKBP, nggak ada habisnya! Na pajongjong huria do manang na pajongjong Menara Babel hita on? Soalnya semua orang tidak lagi berbicara dalam bahasa yang sama “KASIH”, tapi “hosom”, “late”, “elat” dan yang jelek lainnya. Padahal, konon reference book-nya sama ya. Koq bisa???

    Anyway, daripada berpanjang-panjang dalam kebingungan, ada kisah yang bagus untuk direnungkan tentang seorang pendeta Batak yang melakukan tugas akhirnya di pedalaman Papua. Bagaimana kesederhanaan itu justru memberi kekuatan ekstra dan pengharapan baru baginya.

    Selengkapnya sila klik http://mulaharahap.wordpress.com/penulis-tamu/

  4. Horas semuanya, khususnya yang mengatasnamakan Naposo Bandung.

    Ephorus Emeritus J. Hutauruk pada masanya memberikan opsi untuk solusi HKBP Bandung, Bersatu, Mekar, Bergilir. Apa yang ditempuh Ephorus DR. Bonar Napitupulu dengan menerbitkan SK Pemersatuan juga sudah merupakan bagian dari opsi yang pernah dibuat, tapi kenyataan di lapangan ada friksi merupakan konsekuensi dari putusan yang diambil.
    Menurut hemat saya setiap putusan yang diambil oleh kantor pusat adalah berdasarkan data yang ada di lapangan, tapi yang menjadi masalah adalah apabila terjadi penyampaian data yang kurang atau pura-pura akurat di lapangan. Dan juga apabila putusan telah diterbitkan via SK, seharusnya ada evaluasi atau ,feedback’ akibat dari SK tersebut. Kemungkinan SK disalahgunakan juga perlu diwaspadai dan menurut hemat saya telah terjadi penyalahgunaan SK Ephorus tersebut.

    Dari fakta yang saya lihat di lapangan, bias/penyimpangan yang terjadi dilapangan setelah SK diberlakukan, saya coba tuliskan sebagai berikut:
    1. Penutupan Gerbang Gereja
    Dari butir-butir yang ada di SK tidak ada instruksi Ephorus untuk menggembok gereja.
    2. Seleksi Jemaat yang Boleh Memasuki Gereja
    Jelas mengenai hal ini tidak tertulis di SK, siapa yang boleh dan tidakboleh memasuki Gereja. dalam hal ini ada sintua yang mengumandangkan siapa yang tunduk pada SK pimpinan boleh memasuki gereja (ahh…sebelum SK Ephorus yang ‘memenangkan’ sepihak terbit beberapa sintua termasuk sintua yang selalu berdiri setiap minggu untuk mengadakan fit and proper test bagi jemaat yang boleh memasuki gereja, pernah ‘memaki’ ephorus DR. Bonar Napitupulu saat seminar diselenggarakan di hotel Yehezkiel Jl. suci Bandung untuk Ama Distrik Jabartengdiy)
    3. Pinjam Tangan Kekuasaan
    sudah beberapa minggu saya saksikan ‘private security’ berdiri di depan gerbang gereja untuk menghempang jemaat yang belum bersedia mengikuti SK.
    4. Preman
    Ahh…mudah-mudahan beberapa preman (non jemaat) yang berkeliaran di halaman dalam gedung gereja juga sudah menerima SK Ephorus.
    5. Ada Dua (2) Jesus di HKBP Bandung
    Setelah SK Ephorus di HKBP bandung terbit, saya melihat seolah-olah ada 2 Jesus di HKBP Bandung. Jesus yang satu lahir di Betlehem dan Jesus yang satu lagi lahir di Pearaja Tarutung.

    Pada dasarnya apalah arti ‘Persatuan’ atau ‘Perdamaian’ sudah tidak ada diantara pihak yang bertikai. Bukankah Allah itu Kasih? Tapi fakta yang ada di lapangan yang ada hanya kasih uang ke aparat, kasih uang ke ‘private security’ kasih uang ke ‘oknum kantor ***’, kasih uang ke ‘preman’ dan yang terakhir…kasihan deh loe…he..he..he…

    Horas ma ate

  5. HKBP… gereja yang aku ikuti sejak dari kecil, bahkan melayani di gereja ini… Gereja yang selalu saja penuh dengan konflik yang tak ada habisnya… SSA-Monjo dan yang lain-lain…Yang seharusnya boleh dikoreksi adalah :
    1. Letakkan lagi dogma yang benar, yang boleh terbuka akan perubahan, dan satu lagi kita berdiri BUKAN DIATAS DOGMA, melainkan diatas Nama Yesus!
    2. Pendeta-pendeta HKBP hendaknya benar2 mengetahui tentang kehidupan sekarang, jujur rata2 khotbah pendeta HKBP adalah masih yang indah-indah dan menjemukan, tidak menyentuh kehidupan realistik, firman Tuhan bagaikan pedang bermata dua, so tidak perlu merasa takut klo ada yang tersinggung, memang itu firman Tuhan!
    3. Entah benar atau tidak, saya mendengar kalau Ompu Ephorus kita adalah “Penjaga Gawang Konservatif dan Tradisional HKBP” yang seolah-olah memang tidak bisa menerima pembaharuan Gereja. Dan satu lagi, mengenai orang-orang pusat, satu fakta yang sangat miris, bagaimana orang pusat berkeliling ke gereja HKBP yang ‘pendapatannya lebih’ dimintai untuk menyumbang untuk membelikan 2 mobil dinas, satu selevel camry untuk acara2 formal dan range rover atau ford escape untuk acara2 ke daerah2 pelosok! ini sungguh jelas pemerasan! Orang pusat haruslah benar-benar melihat ke jemaat2 apa kesusahannya mereka! bukan hanya memungut sekian persen pelean ke 2 untuk ke pusat!
    4. Majelis di daerah seharusnya lebih terbuka kepada jemaat, mengerti apa mau jemaat, dan berusaha memperhatikan jemaat. Bukan saat mereka menyumbang banyak untuk lelang,baru diperhatikan!
    5. Gereja HKBP memang berkonflik, tetapi maaf kata… orang yang menyebabkan kita pecah sudah lagi bukan pemerintah dan mungkin maaf sudah almarhum, mengapa kita masih berkeras untuk berkonflik? Kenapa kita harus menggunakan rasional dibandingkan Kasih Yesus yang luar biasa bagi kita bagi gereja kita?Sekali lagi, letakkan kasih Yesus untuk persekutuan kita!!!
    6. Reformasi di HKBP harus dilakukan segera! Praeses2 yang ada sekarang rata2 tidak mempunyai capability yang menggembirakan bagi pelayananNya. Ephorus dan Sekjen harus benar2 melihat dan adakan evaluation kepada Praeses! dan serahkan surat evaluasi kepada Majelis Distrik supaya mereka tahu penilaian!
    7. Dasar bagi penerimaan pendeta HKBP! Jangan menerima orang yang sudah tidak ada tujuan hidup, bukan orang yang dititipkan orang tua karena bodoh, atau na bandalan, atau preman!!!!
    8. Praktek untuk mendapatkan Tahbisan Pendeta diperpanjang hingga 5 tahun, sehingga capen benar2 tahu apa arti pelayanan.
    9. Transparansi dalam keuangan. Ini juga masalah yang benar2 terjadi di HKBP. Supaya jemaat tahu kemana uang yang masuk itu….
    10. Semoga kasih Yesus dan namaNya yang paling diutamakan dalam persekutuan kita

  6. hkbp ribut terus…karena belum back to the bible…gak spt pada pertama kali pelayanannya….sori aku lebih melihat sekarang namanya pendeta sebagai lapangan pekerjaan bukan pelayanan…konsep itu aja udah rusak di hkbp. yang pasti juga menurut ku sih….adat kita ada diatas alkitab…artinya…alkitab yg kudu bisa nyesuain dgn adat. terbukti sekonfliknya hkbp kalo ketemu di arisan tetep aja haha…hihi…(akrab, tdk bermusuhan) tp begitu ketemu di gereja saling menghujat…(how poor we are?) coba deh para pdt di hkbp seluruhnya berdoa bareng2…puasa bareng2….tanya sama Tuhan…”Tuhan apa yang harus kami lakukan agar kami tidak terus menerus dilanda konflik, pulihkan gerejaMU, karena kami tidak ingin mempermalukan Engkau, kami ingin kembali menyembah Engkau dengan cara yang KAU ingini” nanti pasti dijawab, asal dengan hati yang sungguh2 yah. terus belajar untuk hormati gereja lain, baik itu katholik, pentakosta, methodist, kharismatik, karena biarpun/andai kita benar…bukan hak kita juga untuk menghakimi mereka. ingat back to the bible…not theologi! why karena theologi itu ciptaan manusia, thelogi gak bisa dpakai sbagai standar alkitab, mau tau rahasia alkitab…berdoa minta hikmat Tuhan scr sungguh2 pasti nanti Tuhan terangin sendiri. terus kalo Tuhan sudah singkapin rahasianya…ajari kami orang batak dengan tegas, kalo kata Tuhan tidak bilang tidak, kalo iya bilang iya, jangan kebanyakan suam2 kukunya.

  7. KASUS KONFLIK HKBP
    BURUH PAKAR BINA HARMONI
    ————————————————-
    1
    Ada 3 Fakroe Konflik: Aktor 1 Pentagonis, Aktor 2 Antagonis, Aktroe 3 Tritagonis.
    2
    Aksi 1 direaksi Aktor 2 sebagai lawan, dan Aktor 3 Aktor Pelaku syntheser, konvergenbsi, assimilator, harmoni berdua karena insentip Aktor 3 Tritagonis.
    3
    Dalam Hidup manusia dyanamis kritis sering konflik juga bisa maksimal konvergensi, tapi Tatanan IT SS Ilmiah Teknologfi Sekular Sajkral dari Manusia itu, hendaknya TBB Tepat Baik Benar Model Etika Implementasi Messsias Juruselamat Jesus Kristus.
    4
    Mari usahakan Model Pakar IT SSS ikuzti pamrih etika firman Tuhan moedel Jesus Kristus, yaitu yang sejkular sudah bisa sakral, ppenih cintakasih Tuhan dalam hubungan semua orang dan dengan alam semsta.
    .
    NDH
    Turut Pencerah

  8. Mohon Ulang Ralat Sekedar !
    ————————–
    NDH
    5 Januari 2008 at 3:44 pm

    KASUS KONFLIK HKBP
    BUTUH PAKAR BINA HARMONI
    ———————————————-
    1
    Ada 3 Faktor (Aktoe) Konflik:
    Aktor 1 Pentagonis, Aktor 2 Antagonis, Aktor 3 Tritagonis.
    2
    Aksi Aktor 1 direaksi Aktor 2 sebagai lawan jadi konflik, dan Aktor 3 Aktor Pelaku syntheser, konvergenbsi, assimilator, harmonisasi berdua karena insentip Aktor 3 Tritagonis.
    3
    Dalam Hidup manusia dyanamis kritis sering (misal Batak) konflik juga bisa diusahakan maksimal konvergensi, tapi Tatanan IT SS Ilmiah Teknologfi Sekular Sakral dari Manusia itu, hendaknya TBB Tepat Baik Benar Model Etika Implementasi Messsias Juruselamat Jesus Kristus, bagi Kristen.
    4
    Mari pamrih etika firman Tuhan model Jesus Kristus, yaitu yang sekular sudah bisa sakral, cintakasih Tuhan dalam hubungan semua orang dan dengan alam semesta.
    .
    NDH
    Turut Pencerah