[luhut m simanjuntak; blog berita; kami hendak diperkosa waria]
Maafkan bapak ya amang.
Bukan, bukan karena dia minum tuak setiap malam; dia juga bukan pemabuk. Dari dulu dia memang terkenal sebagai wartawan yang wajib menenggak tuak bila sedang bekerja di kantornya. Tuak dibeli dari lapo, dalam botol, dan dibawanya ke kantor. Namanya Luhut Simanjuntak, kini bekerja sebagai pemimpin redaksi koran harian Sinar Keadilan terbitan Pematangsiantar, Sumut.
“Ini cuma curahan hatiku untuk kedua anakku, sekaligus mengurangi bebanku. Ampara juga pernah mengalaminya kan?” kata Luhut Simanjuntak padaku via imel, blogberita [at] gmail [dot] com. Yang dia maksudkan ialah beban batin harus berpisah dari anak-istrinya karena tuntutan pekerjaan sebagai wartawan. Dan memang aku pernah mengalaminya sekitar tujuh tahun silam, ketika aku bekerja sebagai redaktur di sebuah harian milik Jawa Pos Grup di Medan.
Sebelum memimpin koran Sinar Keadilan, yang baru terbit sekitar satu bulan terakhir, Luhut pernah memimpin sebuah harian di Medan. Dan sebelumnya lagi, dia merintis sebuah koran harian di Kota Siantar dan berhasil; koran itu bertahan sampai sekarang dan menjadi koran besar di kota tersebut.
Banyak kenangan yang tak bisa kulupakan dari pertemanan dengan Luhut. Bagiku dia adalah sahabat sejati; dia tidak meninggalkan kawan ketika kawannya susah. Tapi sebaliknya, dia sering ditinggalkan kawannya. Aku pun mengalami yang seperti itu beberapa kali.
Salah satu memori indah bersama Luhut ialah tatkala kami melakukan liputan esek-esek alias liputan malam di Balige sekitar tahun 1999. Kami bertiga waktu itu, bersama wartawan semedia, Rikardo. Setelah minum bir di sebuah lapo, kami mengikuti dua orang waria ke rumah mereka. Kami ingin menggali lebih banyak kisah hidup si waria. Ini liputan menarik, karena belum pernah dalam sejarahnya Balige kedatangan PSK waria. Di rumah kontrakan si waria, kami ngobrol, dan tentu saja kami banyak bertanya.
Yang satu terus menggandeng tangan dan bersikap manja pada Luhut. Yang satu lagi mendekati Rikardo. Sementara aku, syukurlah, dalam kondisi lapan-anam alias aman terkendali. Mungkin karena aku kerempeng, sehingga kedua waria itu tak berselera melihatku.
Sementara Luhut dan Rikardo berbadan cukup montok.
Singkat cerita, baru beberapa menit di sana, kami bertiga menyadari akan terjadi “goyangan dahsyat” kalau kami tidak segera kabur dari rumah panggung itu. Rupa-rupanya kedua waria itu mengira kami benar-benar ingin “main”. Sementara yang satu memijat punggung Rikardo, “pasangan” Luhut langsung menuju pintu dapur dan … sret! Tanpa malu-malu dia membuka celana dalamnya, lalu cebok dengan segayung air. “Aduh bang, udah berapa hari ini aku nggak ‘ngisap’. Nggak tahan lagi, nih bang,” kata si waria.
“Bah, ngasega be hita. Nadirimpu ibana do huroha naeng ‘allanghononku’ ihur nai [gawat, dia pikir aku mau sodomi dia],”
kata Luhut setengah berbisik padaku, lalu kami berdua mulai mengatur posisi untuk kabur.
Sementara dari kamar yang pintunya terbuka, terlihat Rikardo santai-santai saja ketika diurut punggungnya. Kemudian “pasangannya” itu berujar, “Bang, sudahlah ya. Aku dah kepengen ‘ngisap’. Nggak dibayar pun nggak apa-apa, ini sudah jadi kebutuhan, yang penting aku bisa ‘ngisap’.”
Alamak! Rikardo sadar diri, lalu sontak berdiri. Aku dan Luhut pun ikut kabur. “Bang! Kok pergi sih!” teriak kedua waria itu ketika kami menuruni tangga rumah. Tentu saja, kami bertiga tidak mau diperkosa oleh waria.
Berikut adalah artikel Luhut yang berisi curahan hatinya pada kedua anaknya. Selamat membaca, dan selamat berakhir pekan.
“PAK, KAPAN KITA pindah ke Siantar!? Baik-baik ya Pak! Bapak cepat pulang! Jangan lama-lama di Siantar! Kami rindu!”
Kalimat itu terus terngiang-ngiang di telingaku hingga detik itu. Masih jelas terbayang di benakku, ketika aku mengantar kedua anakku [lihat foto] pulang bersama ibunya ke Medan dengan naik bus Intra Patas AC dari Terminal Sukadame, Pematangsiantar, usai liburan Lebaran kemarin.
Mata tajam milik kedua anak lelakiku, seketika kuyu ketika aku turun dari bus, usai mencari tempat duduk mereka sesuai nomor tempat duduk yang tertera di tiket. Sorot mata keduanya seolah ingin menangis. Saya paksakan tersenyum sambil melambaikan tangan di antara kerumunan penumpang mudik yang menunggu giliran mendapatkan tiket. Aku juga ingin menangis seperti kedua anakku yang baru berusia 3 dan 5 tahun itu. Tapi mereka tak perlu tahu. Biarlah mereka berpikir, bapaknya seorang lelaki yang tegar, walaupun kenyataannya tak lebih tegar dari keduanya.
“Baik-baik ya Amang! Jaga mamak baik-baik. Jangan nakal di bus! Nanti mamaknya capek!” seruku di antara kerumunan calon penumpang bus. Semua mata memandang ke arahku. Seolah-olah jarak antara Medan-Siantar sangat jauh. Sepertinya aku ingin memberangkatkan kedua anakku ke negeri yang sangat jauh. Tapi saat itu aku tak perduli!
Betul! Jarak itu memang tak terlalu jauh. Siantar-Medan bisa ditempuh dalam perjalanan satu hari dengan naik bus. Waktunya tak lebih dari 2,5 jam. Tapi jujur, bukan jarak yang memisahkan, tapi kasih sayang yang harus terputus oleh aspal jalanan yang panjangnya cuma sejengkal. Kehangatan kasih seorang bapak yang tak bisa lagi aku hidangkan setiap hari. Keceriaan kedua anakku juga tak bisa lagi kutonton setiap hari. Jarak dan waktu memang kejam! Tanggungjawab kepada pekerjaan juga membuat bapak tak bisa—minimal sekali seminggu mengunjungi kalian di Tanah Deli.
Perlahan tapi pasti, bus mulai bergerak maju. Mataku melekat terus memandang kedua anakku yang tetap melambaikan tangan mungilnya dari balik kaca bus berbodi besar itu. Tanganku pun melambai mengucapkan selamat jalan bagi mereka. “Baik-baik ya Amang!” teriakku sekali lagi.
Sepi seketika saat bus itu berbelok di tikungan jalan menuju ke Kota Medan. Hingar-bingar terminal dengan segala tetek-bengeknya tak lagi mampu mengimbangi rasa sepi dan sunyi itu. Sepertinya aku hanya sendirian di anatara jubelan para pemudik. Mungkinkah kedua anakku punya perasaan seperti yang aku alami? Entah!
Segera kuengkol kereta tuaku. Tak mau berlama-lama-lama di terminal sumpek itu. Aku ingin segera meluncur ke kantor ‘tuk sekedar melupakan perpisahan sementara yang baru saja terjadi. Aku ingin menenggelamkan diri dalam kesibukan pekerjaan sehari-hari. “Tidak! Toh aku bisa mengunjungi mereka kapan saja!” gumamku dalam hati untuk sekedar menenangkan perasaanku yang nyaris larut dalam suasana haru-biru itu.
Ini cuma sekelumit kisah sedih, menurut aku, ketika jarak dan waktu harus memutuskan untaian kasih sayang seorang bapak dengan anaknya. Walau itu untuk sementara waktu. Yang pasti, aku tak tahu kapan untaian itu bisa tersambung kembali dengan seutuhnya. Memang teknologi komunikasi yang canggih saat ini memungkinkan aku bisa berkomunikasi dengan mereka setiap saat, tapi itu ada batasnya. Pulsa!
Kupelototi kembali layar monitor komputerku. Namun hati dan pikiranku tak bisa fokus. Perpisahan itu terulang kembali. Dua tahun—tepatnya tahun 2002-2004—mereka pernah aku tinggalkan untuk bekerja di kota yang sama. Saat itu mereka belum mengenalku sebagai bapaknya. Jadi tak terlalu menjadi persoalan.
Tapi sekarang? Situasi itu jelas berbeda. Kedua putraku sudah mengenalku sebagai bapak atau ayahnya. Bahkan ketika aku bersama mereka, sosokku sebagai seorang bapak sering mereka banggakan. Tak jarang sosokku menjadi senjata utama bagi keduanya untuk menakuti-nakuti saat mereka terlibat pertengkaran dengan teman sebayanya. Tentunya temannya juga tak mau kalah dengan membanggakan bapaknya masing-masing. Aku hanya bisa tersenyum bila membayangkan kejadian itu. Aku terbayang masa kecilku dulu. Aku juga sering melakukannya.
Anakku! Tulisan ini aku buat untuk sekedar melepaskan bebanku karena tak bisa melihat dan mendampingi kalian berdua tumbuh tanpa didampingi seorang lelaki yang disebut ayah atau bapak. Jika kalian berpikir bapakmu seorang pria yang egois karena tega meninggalkan kalian demi sebuah idealisme yang masih aku pertahankan hingga saat ini, boleh jadi kalian benar.
Bukan tak banyak perusahaan pers yang mau menerima bapak mu bergabung ke perusahaannya dengan gaji lumayan di Kota Medan. Tapi aku tak mampu. Aku tak ingin larut dan memberikan contoh buruk kepada kalian soal keteguhan sesorang memegang sebuah prinsip hidup. Terkadang bapak mu ini tak tahu sampai kapan prinsip itu bisa aku pegang dengan teguh. Terlalu banyak godaan.
Di sini! Di Kota Siantar yang berhawa sejuk ini, bapak mencoba mempertahankan prinsip itu, walaupun kalian harus menjadi korban. Tapi kita masih beruntung dibandingkan orang lain. Jika kelak kalian berdua sudah mengerti apa arti hidup dan kehidupan sebagai seorang bapak, kalian mungkin bisa memahami jalan pikiranku dan tidak menyalahkanku.
Sebuah kapal raksasa di dunia pers Indonesia dan jabatan tinggi, rela bapak tinggalkan ketika petinggi-petinggi di sana tak menghormati prinsip dan menghargai pengorbananku merintis, mengembangkan dan membesarkan grup mereka hingga terkenal saat ini. Bapak bukan mau berhitung jasa dan berharap sebuah imbalan. Banyak yang mengganggap bapakmu ini tak lebih dari orang bodoh! Sok idealis! Sok moralis! Sok pintar dan segala sebutan miring lainnya!
Biarkan mereka berpandangan seperti itu. Itu hak mereka dan wajib kita hormati. Bahkan mamak kalian juga pernah menuduh seperti itu. Tapi biarkan. Doakan bapakmu mampu bertahan dan mengulang sukses di kota ini. Walau gaji kecil, tapi aku bahagia mengirimkan penghasilanku kepada kalian setiap bulannya. Kutahu itu tak cukup. Tapi Bapak punya kekebasan menjalankan prinsip di perusahaan yang sekarang. Itulah yang aku cari. Tuhan itu maha adil dan kalian punya rezeki masing-masing. Jangan pernah menakar sesuatu dengan ukuran uang. Itu relatif!
Carilah sesuatu yang memberimu sebuah kebahagiaan rohani dan bukan kebahagiaan jasmani. Selamat bobo dan mimpi indah. Doakan bapakmu yang bodoh ini agar tetap sehat jasmani dan rohani. Maafkan bapak ya Amang! Mmuuuaaaccchhh….Cup… cup… cup… Ajinomoto!
Disini kukirimkan sebuah puisi favoritku yang bapak kutip dari http://dunhill20.wordpress.com.
Aku Ada Untukmu
Hadiah terbaik bagiku,
Bukan gantungan bintang di langit rajutanku.
Bukan juga menariknya anggur merahmu,
Diantara sajian intan di tempat tak berbayang.
Berlarilah kelautan cintaku…
Dekat sebuah kayu bersilang disana,
Dekat di atas rumput yang memerah,
Di rendaman jerami di jengkalku.
Sudah… aku sudah merangkainya untukmu,
Sudah juga menangis untukmu.
Diamlah dekatku… karena kau tenang disini…
Bijaklah disaat kebodohan menjadi kegembiraanmu,
Inilah saatnya tepat, sebab malam tak bertanda,
Juga siangnya tak berpamit.
Berjalanlah terus… bukannya sendiri,
Kasihku memegangmu…
Sampai untaian terakhir di pinggiran waktu,
… aku ada untukmu [www.blogberita.com]
Bila kau ingin menulis artikel, kirimkan via imel, blogberita [at] gmail [dot] com; sertakan fotomu. Artikelmu boleh berupa ulasan soal berita aktual di media, cerpen, opini dengan topik apapun, maupun kisah pribadi seperti cerita Luhut di atas. Aku akan memuat bila engkau sertakan fotomu bersama istri/suami, anak-anak, orangtua, atau pacarmu. Kalau foto dengan selingkuhan? Boleh juga, tapi risiko ditanggung sendiri.
Silakan bila ingin mengutip artikel dari blog ini, dengan syarat menyebut sumber dan nama penulisnya. Bila dikutip untuk website, weblog, atau milis, maka tuliskanlah sumbernya www.blogberita.com dan buatkan link ke artikel bersangkutan. Bila dikutip untuk koran, majalah, bulletin, radio, televisi, dll, maka tulislah/ sebutkanlah sumber kutipannya; www.blogberita.com.


29 Oktober 2007 at 9:37 pm
@gargajilangit
Hahahaha…, lucu, lucu bangggget. Kena batunya rombongan lae, ngomongin waria dengan bhs Batak ternyata warianya orang Batak. Bisa kubayangkan keterkejutan orang lae di angkot itu. Anak-istriku sampai heran dan bertanya: “Kok ketawa-ketawa sendiri sih, pak?” Saat menulis komen ini pun jemariku masih gemetar krn geli membayangkan situasi saat itu. Untung nggak jadi kawan lae itu ditantang berantam, kuyakin akan kalah. Tenaga mereka lebih kuat katanya kalau berantam. (Mungkin krn dipengaruhi kemarahan mereka atas keadaan diri mereka yg mendua itu). Makanya lae, kalau ketemu atau didekati waria, biasanya kuusahakan bersikap sopan tapi sok angker. Sebab, kalau kita ketawain bisa tersinggung, diramah-ramahin bisa salah sangka pula. Digalakin? Bisa lebih galak dia!
Tapi, terlepas dari keanehan mereka hingga kita merasa lucu, sering kubayangkan pergumulan batin dan pikiran mereka, derita mereka, dan bagaimana bila mereka tua, tak bisa kerja, tak ada sanak-saudara yg mau menerima. Segelintir saja kan waria yg bernasib baik kayak Dorce, lae? Ah tahe, portibi namangilas on…
Trims blogberita krn aku bisa ketawa-ketiwi setelah membaca komen/tulisan yg mampu membuatku tertawa dan senyam-senyum.
30 Oktober 2007 at 12:40 pm
@ Lae JJ
Hahahahahaa… Kisah yang sangat lucu, dan aku gak kebayang gimana kalo aku yang alami… Awalnya mau wawancara, malah jadi “sursar”… Sungguh pengalaman menarik bagi para jurnalis…
@ Lae Luhut Simanjuntak
Aku sangat merasakan kesedihan lae waktu perpisahan di terminal Sukadame itu dengan kedua buah hati lae. Pesis seperti lae, akupun sering menahan air mata ketika akan meninggalkan sepasang anakku di Medan. Kalau dari jarak, mungkin lae masih lebih enak. Aku bisa ketemu dengan kedua buah hatiku cuma sekali setahun, lae. Anak2 dan ibunya di Medan, sementara aku di Jakarta. Tapi, jarak tidak penting. Bagaimana keharuan kasih sayang kita itu harus berpisah dengan anak-anak serta ibunya, itulah yang kadang bikin “maribak ate-ate” ini.
Walaupun kedua anakku sudah terbilang besar, yang perempuan SMA dan yang laki-laki SMP, tapi tetap saja waktu perpisahan itu selalu mengundang kesedihan yang dalam.
Kadang aku juga bingung. Sudah umum diketahui bahwa lelaki Batak terkesan keras (mungkin sangar), teguh, dan ulet. Namun kalau sudah dihadapkan pada persoalan seperti ini, semua kesangaran (ke-macho-an) itu terbang entah ke mana? – Itulah naluri seorang ayah.
Mungkin orang akan bilang; kenapa gak bawa anak-bini ikut sekalian? Bagi aku lae, ada pertimbangan-pertimbangan tersendiri kenapa aku tidak membawa mereka serta. Jadi, samanya kita lae. Yang penting, tanggung jawab sebagai ayah itu jangan sampai kita lupakan. Anggiat ma angka anak ta i sude gabe anak na hasea tu joloan ni ari (semoga semua anak kita itu menjadi anak yang sukses dikemudian hari).
Salam “sependeritaan”, lae.
30 Oktober 2007 at 1:20 pm
Horas,
Istirahat :
Jam istirahat ini; ku baca dulu Batak news : Daga-daga..? (ya, ampun..?) ; akhirnya sampe juga ke daerah-daerah yang enak dibicarakan; dibahas tanpa tedeng aling : ditempat kos, tempat arisan dll. Oncop ! ; ini adalah perkataan yang sering saya dengar; saat kumpul dengan dongan sapartinaonan (teman sependeritaan) Batak men di Jakarta ini; saat menimba ilmu. Kumpul-kumpul dengan rekan-rekan Batak men; main kartu sampe 2 hari 2 malam.
Ok, dari mana saya harus mulai ; dari yang enak-enak atau yang menggugah?. Suka-sukalah; meminjam istilah kata Penguasa Blog ini.
(boleh, ya, Gibran .)
Anak-anak yang ditinggalkan :
Inilah saat yang menyedihkan. Tatkala meninggalkan anak-anak demi untuk masa depan mereka ; demi kehidupan mereka yang layak; lebih maju dari orang-tuanya. Saya sangat salut dengan bang luhut ini; mencari uang dari idealisme yang tinggi; walaupun nilainya kecil dibandingkan dengan yang lain, tetapi terkekang, Ini sangat besar artinya demi masa depan anak-anak.
Saya pernah ke Batam tahun 1999 demi untuk anak-anak di Jakarta; tatkala krisis menerpa bumi pertiwi. Demikianlah semangat Halak Batak (Batak men) benar-benar berjuang ; tu di pe laho (kemana aja,) pergi untuk masa depan anak-anak. Tetaplah bang Luhut : semangat, berjuang dengan idealisme yang tinggi demi untuk anak-anak. Bereng ma foto nai disi do rohami. (lihatlah fotonya; taro diatas meja kerja, disitulah hatimu berada) . Berdoalah setiap saat ; demi untuk anak-anak. Karena mereka adalah tunas Bangsa) ima jo tu si (inilah dulu; kepada anak-anak). Saonnari tu (sekarang ke ):
Oncop! :
Dunia maya, dunia keterbukaan : Kita bisa berselancar di free forn sex, dll yang khusus berbau yang sedap-sedap dan ngeri (tapi ingat kuota dan tagihan rekening tlp) disajikan cuplikan-cuplikan oncop-oncopan, gratis! dan kalo mau lengkap oncop-oncopnya, harus bayar !.Bagaimana kita mau melarang anak-anak untuk tidak mengetahui semua ini.Mereka sekarang lebih pintar untuk membukanya, walaupun sudah di lock. Sebagai pencerahan; kita tetap beritahukan kepada mereka apa dampak yang timbul dan dicerahkan batinnya dengan siraman rohani; berdoa, agar mereka tidak terjerumus kepada hal-hal yang negatif.
Didunia maya ini, juga, banyak mengumbar cerita-cerita yang membuat tar-ujung; sampe keubun-ubun (horny) kalo kita ikutin;plototin terus. Biasanya tahun 80-an, oleh Nick Carter membuat novel-novel ini menjadi laris manis. Dan biasanya; yang baca, langsung membuka lembaran-lembaran yang sodap-sodap (enak-enak).
Tulisan yang mencerahkan dan edukatif :
Buatlah cerita-cerita yang menjadi berita :”Tulisan yang mencerahkan dan edukatif. Tulisan yang mampu memberi semangat membangun bangsa dan nasionalisme”, ucap Mohammad Nuh; Menteri Komunikasi dan Informatika saat mencanangkan 27 Oktober 2007 hari Blogger Nasional. Saya kutip dari Harian Kompas, hari ini, 30 Oktober 2007 halaman 32.
Kesimpulan :
1.Pertahankan cerita menjadi berita yang mencerahkan; mampu menggugah si pembaca menjadi suatu pengalaman berharga yang edukatif untuk masa depan yang cemerlang
2.Menjadi blog yang santun;halus baen. (sedikit sopan) dan bernas; atau untuk kata-kata yang sodap-sodap di buat titik…………;biar si pembaca mengarungi jiwa si penulis.
3.Saya perhatikan dari penulis dan pembaca setia Blog Bataknews ini; khususnya yang beri komentar, banyak yang ahli dibidangnya masing-masing. Untuk saran: agar dibentuk aja Komunitas Lestarikan Suku Batak atau apalah namanya. Kalau diperkenankan, akan saya coba untuk kutak-katik berikut dengan orang-orangnya dan apa yang akan dicapai; berita harus menjadi nyata.
Horas ma tu hita sudena. Mauliate.
BLOG BERITA: aku mendukung usulan lae yang nomor 3, yaitu lewat publikasi di blog ini. cuma itulah kemampuanku, lae.
30 Oktober 2007 at 8:54 pm
Lae luhut simanjuntak!!! sisakan dulu setengah tuak itu untukku. Sampai mau jatuh air liurku melihat pandorgukni lae. Hehehe…
31 Oktober 2007 at 11:57 am
terharu au lae manjaha kisah ni lae i…he..he
percaya lah lae walaupun mereka jauh dari lae, tapi mereke akan tumbuh sebagai anak yang kuat dan bisa seperti yang kita inginkan..
horassss lae…
31 Oktober 2007 at 2:39 pm
Benar kata orang bijak :
“Orang tua adalah sepasang mahkota seorang anak, dan anak adalah kebanggaan terbesar bagi orang tua”.
2 November 2007 at 9:56 am
Saya terharu membaca curahan hati Anda, rela meninggalkan anak demi sebuah idealisme. Sebagai sesama wartawan, sepertinya kita punya kisah hidup yang sama. Kita sama-sama punya 2 anak. Bedanya, anak saya sudah selesai kuliahnya semua, sedang anak Anda masih balita.
Bagi kita, idealisme wartawan memang harus tetap terjaga di tengah badai industrialisasi pers di Indonesia. Wartawan-wartawan yang masih mempunyai sedikit idealisme tersingkir, tinggallah ”TUKANG TULIS” berita yang dengan bangga membawa kartu pers sebuah penerbit raksasa.
Idealisme seorang wartawan, memang harus ada yang menjaga, meski hanya segelintir orang seperti Anda. Uang memang perlu, tapi bukan segala-galanya. Kalau Anda pernah nonton film India ”KABHI KUSHI KABHI GAM” ada ungkapan begini; ”SETIAP ORANG PUNYA KESEMPATAN YANG SAMA UNTUK MENDAPAT UANG, TAPI TIDAK SEMUA ORANG MEMPUNYAI KESEMPATAN UNTUK MENDAPAT KEHORMATAN”
Santoso/Pemimpin Redaksi Tabloid Wisata, Malang, Jawa Timur.
6 November 2007 at 5:51 pm
lae, salut dengan prinsip yang lae jalani sebagai seorang jurnalis yang masih pegang idealisme. waktu akan menjawab semua keteguhan yang sempat dicampakkan oleh ‘kapal raksasa itu’..horas!!!!!!!