[toga nainggolan; blog berita; mulut mengeluarkan bau bunga]

Budaya Batak tidak menolak agama impor. Agama-agama modern itulah yang justru mengajak orang Batak meninggalkan budayanya.

Artikel ini adalah komentar yang ditulis oleh Toga Nainggolan menanggapi artikel sebelumnya di Blog Berita, Roh kudus pun termasuk supranatural, kok ributin gondang. Toga adalah lelaki Batak beragama Islam yang lebih “fanatik” pada budaya Batak ketimbang pada agamanya. Dia bekerja sebagai wartawan, tinggal di Medan bersama anak-istrinya. Aku kagum pada kemahirannya menulis topik agama dan cinta. Dia lihai menulis indah, tapi pada momen lain, dia pun bisa memaki-maki dan marah bila diperlukan; kami berdua pernah secara kompak melawan maniak-agama di blogku ini pada bulan pertama Blog Berita online.

ALHAMDULILLAHI RABBAL ‘ALAMIN, Haleluya Puji Tuhan, karena ada pembelaan militan dari seorang Viky Sianipar kepada gondang. Tanpa bermaksud membeda-bedakan, orang akan berpikir sebelas kali sebelum menentang opini dari seorang yang punya nama seperti beliau.

Keresahan ini juga yang dulu membuatku mengirim esai yang meledak-ledak ke blog ini, Hai Orang-orang yang Beragama, Berhentilah Melecehkan Budaya Kami.

Saya sudah memainkan gondang bersama orang tua saya, sejak tahun 1985 sampai awal 90-an ketika saya harus merantau untuk melanjutkan sekolah. Mulai dari gondang saur matua, sampai pesta meresmikan gereja. Peresmian gereja HKBP di Gunung Sitoli, saya lupa tahun persisnya, memakai gondang kami dari Manduamas, punya Datu Pulungan ayah saya, dan nyaris semua pemainnya muslim, kecuali seorang bermarga Simbolon pada doal. Dia katolik.

Semua instrumennya bisa saya mainkan kecuali sarune bolon, karena mentok saat mempelajari teknik marsiulak hosa, teknik untuk membuat siklus napas tak putus-putus. Apa kata Bapak saya, terhadap penolakan beberapa pihak, mengatasnamakan agama kepada gondang. “Mereka takut, karena gondang punya jalur lebih cepat kepada Yang Mahakuasa”.

Jadi Bang Viky, berkat Tuhan bagi orang seperti Anda, yang mau bersusah payah menyambungkan nada-nada musik modern, dengan nada-nada purba pada gondang sabangunan. Itu bukan kerja mudah. Saya pernah ditegur Bapak, karena bersusah payah menyetem kekencangan kulit pada taganing, biar persis tune-nya dengan sarune. “Jangan, justru di perbedaannya itu rahasianya!” cegahnya.

Soal teori frekuensi itu, menggelitik, dan tentunya perlu penelitian lebih lanjut. Persoalan pertama, jika itu memang frekuensi roh, mestinya semua orang yang mendengarnya bisa kemasukan. Nyatanya, sepanjang pengalaman saya, bukan saja kenyataan bahwa hanya orang Batak yang pernah siar-siaron gondang, tetapi juga selalu saja orang yang terkait dengan hasuhuton, atau si punya hajat di mana gondang dimainkan. Orang-orang yang berpotensi besar untuk “dimasuki” itu, bila dia wanita, akan disebut sebagai paniaran, dan bila dia pria, disebut dengan hasandaran.

Bila kesurupan itu benar-benar dari gondang, dan berisi roh baik, ada beberapa ciri yang tak bisa menipu. Parsarune, akan merasakan anak sarunenya tiba-tiba asin, sementara pemain lain, akan merasakan tangannya semakin ringan. Saya sudah mengalami ini.

Mulut orang yang kesurupan itu mengeluarkan bau bunga, biarpun baru saja beberapa menit lalu dia minum tuak. Ini penting, karena gaya orang mabuk dengan siar-siaron, kadang mirip: sama-sama limbung. Suaranya berubah, biasanya memberat dan serak.

Memang tidak selalu muncul ciri itu, karenanya ketika seseorang menunjukkan gejala kesurupan, datu di ulaon itu akan mengidentifikasi. Bila ruh lain yang tidak “berkepentingan”, si Datu akan memintanya pergi. Prime time untuk datangnya roh semacam ini, adalah lewat tengah malam, sampai menjelang pagi.

Dan ciri yang paling penting: dia selalu bicara tentang hal yang baik, perdamaian, persaudaraan, kasih sayang, hal-hal yang (katanya) juga dianjurkan agama. Belum pernah ada roh baik ini yang meminta pomparannya untuk menjauhi agama.

Bandingkan dengan agama, ajaran-ajaran impor itu, yang kadang begitu semangatnya meminta orang meninggalkan budaya.

Saya selalu berusaha berpikir logis, dan saya juga ingin sekali bisa beriman dengan sepenuhnya mengerti. Tetapi fenomena di seputar gondang ini, belum bisa saya jelaskan, meskipun pengalaman masa kecil dan remaja saya, sangat kental dengan hal semacam itu.

Inilah barangkali, yang dimaksud dengan mysterium tremendum et fascinosum, misteri yang menggetarkan dan memesona itu. Saya akhiri opini penuh rasa syukur ini, seperti esai saya dulu itu: Hati-hati! Merasa sudah memahami Tuhan adalah awal kesesatan, karena dia punya bisikan rahasia tersendiri kepada setiap hati, termasuk pangultong sarune atau pamalu tataganing. [www.blogberita.com]

Untuk membaca artikel-artikel Toga sebelumnya, klik banner kecil bertuliskan TOGA NAINGGOLAN di sisi kiri blog ini.

Artikel terkait:

Silakan bila ingin mengutip artikel dari blog ini, dengan syarat menyebut sumber dan nama penulisnya. Bila dikutip untuk website, weblog, atau milis, maka tuliskanlah sumbernya www.blogberita.com dan buatkan link ke artikel bersangkutan. Bila dikutip untuk koran, majalah, bulletin, radio, televisi, dll, maka tulislah/ sebutkanlah sumber kutipannya; www.blogberita.com.

Bila kau ingin menulis artikel, kirimkan via imel, blogberita [at] gmail [dot] com; sertakan fotomu.


  1. Desy Hutabarat

    @ Ito Toga Nainggolan
    Aku selalu membaca dan mengikuti tulisan ito
    tapi,tak berani aku coment,tinggi kali ilmunya bah,jago kali tak sanggup awak.
    tapi,kali ini makin kagum aku bah sama “trio” kalian bertiga
    Bang Viky,ito SMN dan ito Toga,eksis kali kalian yang mepertahankan budaya kita itu di tengah rongrongan produk impor yang kebanyakan dibawa orang-orang yang merasa kenal dan merasa dekat dengan Tuhan itu.entah tuhan yang mana yang mereka maksud,lain kurasa Tuhan itu sama Tuhanku bah makanya ga ngerti aku pola fikir orang itu bah.
    Horas

  2. Selain Sarune, Instrumen Gondang Sabangunan Relatif Mudah Kok Dipelajari

    Jadi bergairah pula rasanya bicara tentang gondang ini. Dia ternyata masih punya tempat di hati pomparan ni Si Raja Batak, paling tidak yang rajin berkunjung ke mari.

    Ini bukan bagi ilmu, merujuk ke istilah Lae Ganda, cuma sharing pengalaman yang tak seberapa. Karena aku sama sekali nihil soal teori musik, mohon maklum kalau penjelasannya jadi terasa marsamburetan. Apalagi sangat mungkin akan dibaca oleh musisi profesional, atau malah yang paham betul gondang, namun memilih diam. Tapi bukan Batak namanya kalo tak maju terus, ate?

    Yang kupahami, tingkat kesulitan mempelajari instrumen dalam gondang sabangunan ada empat. Di kategori mudah: ada hesek serta tiga ogung: masing-masing oloan, ihutan, dan panggora. Modalnya “cuma” bisa disiplin menjaga ritme. Oloan ditabuh bergantian dengan ihutan, panggora ditabuh bersamaan dengan keduanya, sedangkan hesek “dihajar” dengan frekuensi dua kali lipatnya. Begitu santainya ogung oloan dan ihutan itu, hingga kadang hanya dimainkan satu orang.

    Di kategori agak sulit ada doal, ogung dengan diameter paling kecil. Bila ogung lain mengeluarkan efek sustain, betulnya istilah itu? pokoknya getar suara yang berkepanjanganlah, doal justru dibekap, sehingga terdengar seperti ketukan pendek.

    Dua kali pukulan hesek, “disahuti” sekali patukan doal, tapi tidak berbarengan ya, bersahutan sehingga ada efek sinkopsis yang unik. Pokoknya doal melahirkan bunyi seperti yang di musik rege itulah. Amang tahe, bohama naoto-oto patoranghon. Pature hamu Raja Nami, molo adong nahumattus. (Terjemahannya: Mohon maaf lahir dan batin).

    Mengapa lebih sulit dari hesek? Karena ketukannya berada di “seberang” itu, rentan tercecer atau malah offside keduluan ini alat. Belum lagi sangat melelahkan, karena dia satu-satunya pemain yang diwajibkan berdiri, dan ini dia masalah utamanya!, pandoali harus menggotong sendiri ogungnya. Curang kan? Ogung lain digantung. Makanya, jatahnya biasanya lain ini pemain.

    Dua kategori di atas, tak perlu hapal melodi-melodi gondang. Cukup punya gambaran tentang tempo masing-masing reportoar gondang aja. Itu pun tak perlu kali, ikuti aja partaganing.

    Berikutnya, kategori sulit Berderetlah taganing. Pemegang alat ini juga sekaligus jadi dirigen orkestra gondang sabangunan, karena selain dibunyikan pertama kali, dia juga memberi tempo untuk diikuti pemain lain. Lima buah taganing ini, seperti sarune, menghadirkan nada pentatonik do sampe sol. Kebalikan dengan piano, makin ke kiri, nadanya malah makin tinggi.

    Jelas pemainnya harus hapal lagu. Di instumen ini, talenta sudah mulai signifikan andilnya. Memainkan taganing, kita seperti menjadi drumer dan keyboardis atau pianis sekaligus. Dia perkusi, tetapi juga melodik. Begitulah pokoknya. Unang pala etong hamu nungnga piga hali hudok “pokoknya” da. (Terjemahan: pokoknya Anda ngerti kan?)

    Jadi, orang yang sedikit bisa main drum dan bisa main piano walau cuma dari C=do, akan punya modal berharga untuk mulai menguasainya. Tenang, di taganing tak ada tuts hitam yang sering dipencet meleset itu. :) ) Sampai di sinilah “petualanganku” mempelajari gondang sabangunan. Ibarat di Karate, gantung di sabuk coklat.

    Dan pemegang sabuk hitam kita, di kategori sangat sulit sambutlah parsarune bolon. Selain latihan dan talenta, Anda butuh satu hal lagi untuk bisa memainkannya: keberuntungan! Tidak seperti alat musik tiup lain, seperti apa namanya yang diultong-ultong si Kenny G, berenya Jarar Siahaan itu, sarune ditiup dengan napas bersinambungan. Pipi menggelembung menyimpan stok udara, yang dilepas berbarengan dengan ditariknya udara dari hidung. Aku selalu sedih kalo ingat muka Bapak yang kemerahan ketika memainkannya. Inilah ruh gondang itu, inilah syair yang diperdengarkan ke Penguasa Langit. Dia seperti solis bersuara tenor, dan “di belakangnya” instumen lain seperti koor yang memberi harmoni.

    Dia tidak sekadar instrumen tiup pentatonik, karena tiap nadanya ada karakter, belum lagi kalo parsarune sekelas maestro dari Narumontak itu, Lae Robert: Sumpah! Dengan teknik tutup lubang yang unik, sarunenya bisa terdengar seperti melolong. Sangat mistis, bahkan bagi kuping seorang atheis. Syaratnya, bukan atheis tuli ya.

    Selain instrumen pokok itu, ada juga instumen lain yang tidak selalu ada: gordang dan oltik. Sejenis taganing juga, tetapi gordang diameternya sangat besar, untuk memberi efek bass, dan oltik justru taganing paling kecil, untuk menguatkan efek doal dan hesek sekaligus.

    Sepengetahuanku, gondang di seputaran Tao Toba, sifatnya lebih melodik, sementara yang arah ke Humbang, di mana kami berada, lebih ke ritmik. Di inti Toba, dalam gondang bertempo cepat pun partaganing akan tetap merambah semua taganingnya, sementara kalau di arah Humbang, dia akan fokus pada taganing paling besar, dan disebutlah dia odap.

    *****

    Sadar aku, kalo cuma lewat tuturan seperti ini, seorang etnomusikolog pun tak kan bisa menghadirkan gambaran yang utuh tentang gondang, apalagi aku yang japa-japa membaca not angka, konon lagi not balok.

    Tapi seudik apapun penuturanku ini, kuharap bisa jadi pengantar yang bersahaja, sehingga ketika Anda akhirnya menyaksikan atau bahkan memainkan istrumen yang harus kita banggakan itu, Anda sudah punya sedikit kerangka.

    Aku sendiri punya impian untuk memboyong satu set gondang sabangunan di kampung itu ke Medan. Toh di sana pun tak terpakai. Masalahnya, kalo kubawa ke Medan, di mana kutarok?

    Taulah, soponta (rumah kita) masih cenderung bernuansa RSSSSSSSSSSSSS (Rumah Sangat Sederhana Sekali Segitu Sederhananya Sehingga Selalu Saja Sulit Senggama Secara Santai dan Sempurna). Mohon maaf kalo S-nya salah hitung.

    Kalo nanti Debata Mulajadi Nabolon memberi berkat rezeki, hingga bisa kusediakan ruang, katakanlah semacam studio untuk itu, aku berjanji akan kupersilakan siapapun yang berminat untuk belajar dan memainkannya. Mau yang pengikut Kristus, umat Muhammad, pemuja Dewata, atau yang terinspirasi Buddha, apapun, termasuk atheis, akan kusambut. Syaratnya cuma satu: dia rindu dengan keluhuran budayanya.

    Bah! nungnga songon na paganjanghu hatorangan ni Laenta on, atik naung mangula do raru di tolonanna bo.

    Ipe Amang pargual pargonsi, amani marhulane, na malo martataganing na pande marsarune, parindahan nasuksuk parloppan natabo, nialap manogot, tinaruhon botari, indang dope hudok, nungga dibotoho. Bahen Damang ma gondang mula-mula, asa marmula sude parhorasan jala parsaulian, di hita sude ganup, pomparan ni si Raja Batak, tarlumobi tu amanta hasuhuton Si Raja Bataknews. Agak kurang nyambung ya? :)

    Nungnga rade hami di son, angka pomparan na masihol tu tading-tadingan ni Ompunta si Parjolo tubu. Ipe, Mula-mulahon Damang ma, sotung sala gabe Mulanya Biasa Saja.

    (Terjemahan: anggaplah itu semacam mantra untuk mengurangi potensi efek negatif ruh-ruh jahat yang mungkin akan mencemarkan kemurnian gondang. Payah kali soalnya menerjemahkannya, tetapi intinya bentuk apresiasi terhadap para pemain musik tradisional ini.) Horas… horas… horas!

  3. @Ganda Situmorang

    hehehe Bagus juga cerita lae. Brilian! Berarti hati tulus kita menyelamatkan Budaya Batak akan sia2 kalau cara yang kita lakukan salah. Begitu kan? Aku suka ide itu…:D

    Cinta monyet kalau kita menanam kembali pohon pinus yang ditebang dengan ekaliptus?
    Cinta monyet kalau kita membangun Tugu kuburan Ompung dengan dana puluhan juta sementara, jabu ni amangtua dohot tulang di huta reot sudah mau rubuh?
    Cinta monyet kalau kita menyarankan pak BUPATI dan pejabat PEMDA memperbanyak puskesmas di wilayahnya daripada menyalahgunakan dana pembangunan untuk ditransper ke rekeningnya?

    Atau menurut lae apa lagi?

  4. @Desy Hutabarat

    “..sama “trio” kalian bertiga Bang Viky,ito SMN dan ito Toga..”
    hahaha. Namanya trio pargonsi kali ya… aku suara 2 kalo gitu :D
    btw, unang dang ro ho ari Sabtuon da.. marende do si Tongam disan. Bagus2 jolo bahen joget-joget i… :)

  5. Charlie M. Sianipar

    @ Damang Pardoal Pargonsi (Toga Nainggolan & Viky Sianipar)

    Akhir bulan depan kami, dongan sahuta, kurang lebih 125kk akan mengadakan pertemuan. Dengan senang hati saya terima tugas sebagai seksi acara, kami pilih GONDANG. Kami akan manortor …

    Sudah beberapa hari ini, setiap pagi memutar kaset GONDANG Sahata Saoloan vol.9 (diproduksi akhir 70-an) pimpinan alm. Hasan Pardede dan gooling juga mencari informasi yang lebih lengkap.

    Saya belajar meminta GONDANG ke Batara Guru Humundul,
    belajar meminta GONDANG apa yang akan dimainkan.
    Saya ingin dimainkan:
    - Gondang Satahi Saoloan
    - Gondang Saudara
    - Gondang Olop-Olop

    Amang Partarias Namalo, alu aluhon damang maon tu situan natorop

  6. Sahat, M.N

    @lae viky,
    yah begitulah lae, kadang masih suka dengar rock juga untuk selingan :D
    sisa-sisa perjuangan..hehehehe.

    @ito desy,
    lae Suhunan, lae Charly Sianipar, dan teman2 yg lain juga fans berat uning-uningan. Masih banyak lagi :D

  7. Robert Manurung

    Mirip cerita ito Farida Simanjuntak mengenai ompung-ompung yang kontan manortor kalau dengar gondang, ompungku boru pun begitu. Suara ogung terdengar dari jarak satu kilometer pun dia sontak manortor. Langsung dicampakkan cangkulnya kalau dia sedang kerja di sawah atau ladang.

    Latar belakang ompungku (boru Sirait) ini memang sangat lekat dengan gondang. Lahir di tengah-tengah komunitas parmalim di Saitnihuta, ayahnya seorang datu bolon, sejak kecil sampai gadis “kurikulum pendidikannya” adalah marhobas (mengurus rumah), martonun (bertenun), mangandung (seni meratap), manortor (menari khas batak) dan martonggo (berdoa sesuai ajaran parmalim). Lima M itulah hal terpenting yang dinilai pria masa itu di Saitnihuta, disamping jumlah anak tangga rumah orang tuanya, sebelum memutuskan apakah akan meminang si gadis atau pindah ke lain hati.

    Ternyata ompungku boru Sirait ini dapat jodoh orang jauh, bukan orang sembarangan pula, Raja Huta Manurung dari desa Dolok Nagodang, Porsea. Menurut penuturan orang tuaku, ompungku Raja Huta itu “pangobati” (tabib) segala macam bisul, borok dan kanker. Konon namanya termashur sampai di Samosir, karena berhasil mengobati banyak orang di daerah itu.

    Nah, setelah menikah dan tinggal di Dolok Nagodang, ompungku kemudian dibaptis menjadi kristen, di gereja HKBP Lumban Nabolon. Ini salah satu gereja HKBP tertua, lebih dari 100 tahun. Di gereja inilah ompungku mendapat anugerah yang sangat ajaib : yang tadinya buta huruf tiba-tiba bisa membaca.

    Setelah menjadi kristen, ompungku tak mau lagi melakukan 3 dari 5 M tadi, yaitu mangandung, manortor dan martonggo. Tapi respon spontannya terhadap gondang ternyata tidak berkurang sedikit pun.

    Ompung sangat aktif di gereja (Parari kamis) dan menjadi jemaat yang taat. Berbeda dengan penduduk kampung itu yang cenderung sinkretis, ompungku boru Sirait ini HKBP banget, artinya menolak tegas unsur-unsur tradisi dan budaya batak yang bertentangan dengan doktrin HKBP — terutama gondang dan hal-hal berkaitan dengan mistik.

    Aku ingat betul saat aku kecil, Ompungku ini sangat keras mewajibkan kami cucu-cucunya berdoa sebelum makan dan sebelum tidur. Hampir semua cucunya benci sama dia, apalagi kalau pas bulan tula (purnama) semua anak-anak kampung pasti marmeam (bermain) — biasanya matulpe (bermain petak umpet), sedangkan kami cucu-cucunya harus membaca alkitab dan berdoa bergantian.

    Sering kami bersekongkol untuk mempersingkat doa masing-masing, karena sudah gak tahan mendengar teriakan riang gembira kawan-kawan sedang martulpe di halaman. Tapi bukan berarti kami boleh langsung loncat ke halaman dan ikut bermain. Ompung selalu memperpanjang doa penutupnya, sehingga saat ibadah rutin itu selesai kegiatan marmeam pun sudah berakhir. Teman-teman kami sudah masuk ke rumah masing-masing. Wah geram banget rasanya.

    Pokoknya , ompung kami itu tidak kenal kata kompromi kalau sudah menyangkut kewajiban agama. Dia sendiri memang sangat konsekwen. Sepanjang hidupnya dia selalu meliburkan diri pada hari Sabtu, agar bisa fokus mempersiapkan segala sesuatu untuk keperluannya ke gereja hari Minggu. Dan tak pernah dia bekerja pada hari Minggu, seumur hidupnya.

    Namun, seperti aku katakan tadi, ompungku ini tetap masih luar biasa responsif terhadap gondang. Karena menyadari itu, ompung selalu berusaha menjauh dari semua pesta adat apapun yang diramaikan
    dengan gondang.

    Jadi praktis selama 80 tahun setelah menikah, ompungku ini tak pernah menghadiri pesta yang ada gondangnya, Dia gak peduli protes dan sakit hati sanak-saudara. Ompungku yang luar biasa ini meninggal pada tahun 1990 dalam usia 98 tahun.

  8. Marudut R. Napitupulu

    @ Lae Manurung

    Cerita lae ini bikin aku jadi masihol sama ompungku. Ompungku boru Panjaitan yang sattik itu. Mauliate Lae

  9. ganda situmorang

    @Lae Toga
    Mauliate godang lae atas sharing nya.
    Maju terus …

    NB. Baru saja test email, nyampe ga lae?

    @Lae Viky

    Cinta monyet kalau kita menanam kembali pohon pinus yang ditebang dengan ekaliptus?

    ===> Kesalahan manajemen pengelolaan Sumber Daya Alam/ Sumber Daya Hutan. Usaha memulihkan kembali fungsi hutan pinus dengan menanami kembali (Reboisasi/Rehabilitasi Lahan) species baru namanya ekaliptus.

    Cinta monyet kalau kita membangun Tugu kuburan Ompung dengan dana puluhan juta sementara, jabu ni amangtua dohot tulang di huta reot sudah mau rubuh?

    ===>Fenomena ini perlu dilihat, dicermati dan ditelaah secara hati-hati, satu persatu dan holistik. Setahu saya blog ini sudah memposting artikel dengan topik serupa.

    Cinta monyet kalau kita menyarankan pak BUPATI dan pejabat PEMDA memperbanyak puskesmas di wilayahnya daripada menyalahgunakan dana pembangunan untuk ditransper ke rekeningnya?

    ===>Kontrol sosial. Teman-teman wartawan sangat fasih mengenai hal yang satu ini, iya kan?

    Atau menurut lae apalagi?

    Salam

  10. Desy Hutabarat

    @ Bang Pikki
    Datang pun aku bang yah.Sudah sampe kubatalkan keberangkatanku ke Kalimantan,soalnya kata tulang Charlie,aku juga ga bisa tak datang bah.Aku juga masihol melihat Tulang Sunan berjoget.
    Tapi bang,kalo joget2 kami,jangan kau matikan AC itu bah,jadi panas kali nanti.
    Sudah pulang blom pangurupimu itu?Kalo blom,jangan lupa kau mandikan dulu si Mathew dan Mantasha itu,trus kau makan dulu daun singkong dan tauco mu itu.Jangan lupa kau nanti semangat margondang yah bang.
    Horas

  11. jahoras nainggolan

    agama itu adalah untuk mempersatukan bukan untuk saling membenci,yang benar aja bah,yang penting mari kita saling berloma untuk kebaikan ,kita tunjukkan identitas agama kita masing masing berlomba meagungkan nama TUHAN yang walaupun cara kita berbeda dan jalan menuju kesana berbeda juga, yang jelas TUHAN itu ada satu( ESA).Kalau Kristen atau saya memuji TUHAN didalam nama YESUS KRISTUS ya karena iman saya yang menyatakanNya,Jadi jangan membenci aku kalau saya mencintai istitrku,kan tidak masuk akal kalau kita membenci orang karena keyakinan,kok dipaksa kita untuk tidak percaya sama yang kita yakini,kan begitu maksudnya kalau kita membenci karena agamanya berbeda.Adakah TUHAN selain yang disembah orang kristen jawabnya tidak ada,kalau rasul dan nabi ya ada itu aja bedanya.kata orang bijak banyak jalan ke Roma.Maksud kita semua sama untuk mencapai cita cita kita menurut ajaran agama kita masing masing.Kalua saya membanggakan agama kristen itu wajar karena imanku disana ,asalkan saya tidak menjelekkan agama lain.Kalau saya katakan tidak ada jala n menuju sorga hidup yang kekal ,itu lagi lagi iman saya yang berkata.Anda pasti mengklaim begitu. untuk agama anda.Kalau tidak begitu kita tidak akan pernah mencapai tujuan kita masing masing.kalau saya bilang agam a kristen itu,khusus dan unuik karena ada alasanya.Pertama DIA dikandung tanpa perbuatan manusia,dan DIA lahir khusus menyelamatkan manusia dari dosa semua manusia didunia,termasuk anda ,lagi lagi FirmanNya yang berkata begitu,bayangkan rela disalib sampai mati dan dikubur,yang memastikan bahwa membawa keselamatan adalah kebangkitanNYa dari antara orang mati yaitu YESUS KRISTUS.Kalu ada TUHAN dua ,tiga atau lebih pasti ada kitadak cocokan. ya sudalah percalah TUHAN tetap satu itu ajalah kamu ingat dan tetap damaiiiiiiiiiii

  12. johan

    berdamailah….bersatulah….
    perbedaan tuh indah