barry simorangkir[barry simorangkir; blog berita; artikel dari illinois, usa]

Cuma meneruskan marga?

Artikel ini kuterima di imelku, ditulis oleh Barry Simorangkir, lelaki asal Tarutung yang kini bekerja dan tinggal di Amerika Serikat. “Saya percaya jika blog lae bisa membantu membuka diskusi yang lebih luas mengenai budaya orang Batak yang satu ini,” kata Barry dalam suratnya.

ANAK LAKI-LAKI atau perempuan itu sama saja. Apa betul? Ungkapan ini sudah menjadi sesuatu hal klise yang sering didengar di kalangan keluarga muda. Biasanya pembicaraannya dimulai seperti ini, “Wah selamat ya sudah punya momongan.” Lalu, “Anaknya laki-laki atau perempuan?” Kalau kebetulan sudah tahu momongannya laki-laki maka jawabannya, “Wah hebat ya.” Tapi kalau perempuan maka jawabannya “Ah, laki-laki atau perempuan sama saja kok”. Tidak jarang komentar selanjutnya yang sering diucapkan, “Coba saja terus kok, nanti juga dapat yang laki-laki”. Memangnya pabrik boneka apa, disuruh produksi terus?!

Di kalangan orang Batak, mempunyai anak laki-laki itu jelas ada bedanya. Keinginan orang Batak untuk HARUS memiliki keturunan laki-laki, menurut pendapat saya sudah bukan pada tempatnya lagi. Dalam membesarkan anak (atau anak-anak) yang dilihat bukan hanya dari segi kuantitas namun yang paling penting adalah dari segi kualitas. Apakah kita mampu menghidupi dan membesarkan anak (atau anak-anak) yang dititipkan Tuhan kepada kita?

Bagi anda yang merasa tidak ada bedanya untuk memiliki anak laki-laki atau perempuan, saya salut, karena pandangan tersebut tidak termasuk dalam mayoritas.

Saya tidak meminta pembaca untuk mempunyai pandangan yang sama 100 percent dengan saya. Terus terang saya tidak ada masalah dengan orang tua yang mempunyai anak laki-laki. Atau dengan anak laki-laki itu sendiri. Saya sendiri bersaudara tiga, semuanya laki-laki. Bagi saya anak laki-laki atau perempuan itu tidak ada bedanya. Pernyataan yang sering membuat kuping saya panas adalah pernyataan orang-orang yang justru beranggapan kalau mempunyai anak laki-laki itu sebagai sesuatu yang “lebih” ketimbang mempunyai anak perempuan.

Berikut ini adalah beberapa contoh pengalaman yang saya dengar dari keluarga Batak dalam usahanya mendapatkan anak laki-laki. Ada keluarga muda yang sudah dikaruniai tiga anak-anak yang ternyata semuanya perempuan. Lalu sang suami meminta istrinya untuk bersiap-siap hamil lagi. Sang istri sebenarnya tidak ingin mengandung lagi, tapi karena tekanan dari keluarga sang suami untuk mencoba terus sampai mendapatkan laki-laki akhirnya dia mengalah juga.

Lagi cerita, ada pasangan yang sampai anak keenam terus mencoba, lalu lahirlah si “ucok” (bayi laki-laki). Karena sayangnya sang bapak sama si bontot ini maka yang lima lainnya menjadi dikesampingkan. Mereka seperti menjadi anak tiri dari bapaknya sendiri. Lalu saat si “ucok” berumur 3 tahun, sakitlah dia dan tak lama kemudian meninggal. Bagi sang bapak yang ditinggalkan, habislah sinar kebahagiaannya karena anaknya yang laki-laki sudah meninggal. Padahal anak-anaknya yang perempuan masih hidup. Sayangnya dia tidak bisa melihat itu. Betapa sedihnya.

Masih dengan cerita; Ada keluarga yang anak-anaknya banyak perempuan, dan satu laki-laki. Pada suatu hari, saudara dari sang bapak datang untuk meminta bagian harta. Katanya harta sang bapak seharusnya dibagi-bagi terhadap anak laki-laki dari satu ompung (kakek) ketimbang anak perempuannya sendiri. Dengan kata lain anaknya sebenarnya hanya satu, karena satu anak laki-lakinya.

Cerita lain; Ada suami yang ingin menceraikan istrinya karena anak-anak yang dilahirkannya adalah perempuan semua sehingga dia berniat menanam benih di tempat yang lain. (Kalau yang ini saya bisa mengambil kesimpulan jika tujuan sang suami hanya ingin bercabul saja.)

Bagi mereka yang telah mengenal saya secara pribadi, mereka dapat mengambil kesimpulan jika perbedaan itu tidak ada di keluarga kami. Satu hal yang kami selalu ajarkan kepada kedua putri kami adalah jika mereka tidak ada bedanya dengan laki-laki. Mereka mendapat kesempatan yang sama untuk berhasil di dunia. Sama derajatnya. Sama martabatnya. Sama harganya.

Kami selalu mengingatkan kepada mereka kalau mereka jangan pernah mau dibual-bualin oleh siapa saja hanya karena mereka perempuan. Tidak boleh sekalipun orang menganggap derajatmu rendah hanya karena kamu tidak sama dengan anak-anak lain disekitarmu. Kelahiran anak di suatu keluarga adalah suatu anugerah. Itu saja. Tidak ada yang lebih berkuasa dari Dia yang telah berbaik hati menitipkan kasihNya didalam suatu keluarga. Melihat anak-anak yang sehat sebenarnya sudah merupakan pemberian yang tidak ada habisnya untuk disyukuri.

Sekarang pertanyaan bagi mereka yang berpendapat kalau memiliki anak laki-laki berbeda dengan anak perempuan, “Apakah keuntungannya memiliki anak laki-laki?” Yang saya tahu pasti adalah kalau mempunyai anak laki-laki itu dapat meneruskan marganya kepada keturunan berikutnya.

Baiklah. Lalu apa lagi keuntungan memiliki anak laki-laki? Untuk menjadi dokter? Tidak juga. Ada banyak dokter yang perempuan. Untuk menjadi petani supaya dapat membantu di ladang sambil mencangkul? Tidak juga. Saya melihat justru banyak wanita yang turun di ladang saat saya berkunjung ke Tarutung. Untuk menjadi insinyur? Atau ahli komputer? Atau mungkin pengusaha? Semua profesi tersebut ada yang perempuan. Dan banyak pula. Nah, kalau begitu kenapa harus punya anak laki-laki? Mari diingat pertanyaan tersebut dan ikuti cerita saya di bawah ini.

Di awal tahun 2007 ini saya mendapat kesempatan untuk pulang ke Tarutung, tempat dimana ompung (kakek) saya dulu pernah ditugaskan di gereja di sana. Tujuan perjalanan ini adalah untuk memperkenalkan anak-anak saya terhadap keluarga serta kerabat dekat yang masih hidup. Terus terang, saya dan istri ingin melakukan ini semua demi untuk membahagiakan orang tua dari kedua belah pihak.

Dalam kunjungan ini kami ingin agar anak-anak dapat belajar tentang asal-usul dan sejarah Batak, dan melihat dari dekat tentang kehidupan di tanah leluhur untuk menambah wawasan mereka. Kalau diingat, sungguh suatu perjalanan yang panjang mengingat kami yang datang dari perantauan yang jauh.

Singkat cerita (karena memang banyak cerita yang kami alami saat dalam perjalanan kesana. Salah satunya yang ini), kami akhirnya tiba di Tarutung -kota indah yang tidak kalah daya tariknya dengan kota-kota lain yang pernah saya kunjungi di belahan dunia lain.

Setelah acara perkenalan di gereja selesai, kami sekeluarga diajak ke aula di samping gereja dimana pesta sudah menunggu. Selang beberapa jam, akhirnya tibalah pada acara mandok hata. Pada saat inilah satu persatu perwakilan dari keluarga dan unsur masyarakat memberikan kata sambutan dan sepatah dua kata (tidak tahu kenapa, mungkin karena pengaruh pesona memegang microphone, satu dua patah kata berujung menjadi 100 kata).

Setelah disimak, ternyata ada dua poin yang selalu diulang-ulang. Pertama: Ungkapan kebahagian mendapatkan kunjungan dari kami yang merantau ini. Dan kedua: Doa bagi istri saya dan saya sendiri untuk segera mendapatkan anak laki-laki alias si “ucok” agar supaya keluarga saya dapat menjadi lengkap.

Doa untuk mendapatkan apa?! Lho memangnya dua anak perempuan saya yang hadir saat itu tidak memberikan kebahagian terhadap istri saya dan saya sendiri? Jadi memiliki anak perempuan itu belum dianggap lengkap? Karena setengah nilainya? Dan hanya dapat menjadi lengkap setelah kehadiran si “ucok”?

Sebagai ungkapan rasa hormat, saya tidak berusaha untuk mengambil mic yang mereka pakai untuk memberikan kata sambutan tersebut. Saya hanya diam saja. Walaupun sebenarnya saya sudah mulai gerah karena “nyolot”. Di dalam hati saya bertanya, “Apakah orang-orang seperti ini yang ingin anak-anak perempuan saya banggakan?” Orang-orang yang berpikiran jika perempuan mempunyai harga yang kurang dari laki-laki?

Kembali kepada pertanyaan di atas tadi. Jadi apa gunanya mempunyai anak laki-laki? Menurut saya, jawabannya tidak ada. Karena pertanyaan demikian berasal dari orang-orang yang melihat anak itu sebagai suatu obyek (seperti benda). Seperti layaknya memamerkan apa yang seseorang miliki.

Di dunia yang penuh dengan slogan materialistik tidak mudah untuk membedakan karakter baik dari yang jahat, menarik nilai abadi dari nilai sesaat, namun bagi mereka yang masih berkeinginan untuk memiliki apa yang kata hati mereka bisikkan tidak pernah ada yang terlambat. Pertanyaannya sekarang adalah, “Apa yang patut dilakukan sekarang?”

Hargailah anak-anakmu, cintailah mereka dengan seksama, jangan campur-adukkan tradisi dengan kebenaran. Mulailah berpikiran tentang kualitas apa yang hendak diturunkan sebagai “legacy” terhadap anak-anak. Mulailah kita berpikir yang lebih maju dan bijaksana. Dan berjanji untuk melihat individu sebagai suatu keseluruhan dan bukan layaknya seperti benda.

Semoga melalui tulisan ini ajakan saya bagi halak (orang) Batak untuk bisa merubah pola berpikir yang picik, dan membuang jauh-jauh dari tradisi orang Batak. Anak laki-laki atau perempuan adalah SAMA. [www.blogberita.com]

CATATAN BLOG BERITA:
Silakan bila ingin mengutip artikel dari blog ini, dengan syarat menyebut sumber dan nama penulisnya. Bila dikutip untuk website, weblog, atau milis, maka tuliskanlah sumbernya www.blogberita.com dan buatkan link ke artikel bersangkutan. Bila dikutip untuk koran, majalah, bulletin, radio, televisi, dll, maka tulislah/ sebutkanlah sumber kutipannya; www.blogberita.com.

Bila kau ingin menulis artikel, kirimkan via imel, blogberita [at] gmail [dot] com; sertakan fotomu.

Artikel Barry Simorangkir sebelumnya:


  1. Rudi Manurung

    Molo uppasa ni Batak mandok “Tubuan ma laklak nang sikkoru di dolok ni purba tua, tubuan anak dohot boru dongan mu saur matua” manang na Hata na mandok ” Sai gabe ma ho maranak nang marboru”. Kalau kita dengar kedua kalimat di atas itu adalah doa dari kerabat atau juga keluarga yang menginginkan kita bisa mendapatkan itu. Nah, sekarang apakah kita juga tidak bisa berumur panjang dengan anak perempuan saja? Apakah dengan punya anak laki saja keluarga kita dikatakan na gabe?

    Untuk masa ini banyak kita lihat umur orangtua makin pendek umur karena ulah anak laki-laki. Kalau jujur saya katakan bahwa saya sangat setuju dengan pandangan lae. Kita hanya perlu menunjukkan bagaimana kita menanggungjawabi basa-basa/karunia yang kita peroleh dari Tuhan Ima dakdanak nadi palumehon ni Tuhan tu hita, dang didok bawa manang boru-boru. Horasma lae…. sian ahu Rudi Manurung par Siattar

  2. SMN

    Memang betul batak memakai sistem patrilineal, tetapi pada ‘partuturan’ posisi-posisi penting ialah ada pada garis perempuan/ibu(matrilineal), contoh: Tulang, Bona Tulang, Tulang Rorobot, Bona ni Ari. Semua posisi ini vital dalam partuturan batak-toba dan semua ialah mengacu kepada pihak perempuan. ada hubungannya gak yah,,? jadi perempuan juga sama pentingnya dlm patrilineal batak toba.

  3. ridwan simanullang

    “Tubuan ma laklak nang sikkoru di dolok ni purba tua, tubuan anak dohot boru dongan mu saur matua”
    dan
    ” Sai gabe ma ho maranak nang marboru”

    Sama yang seperti Lae utarakan, menurut saya pernyataan tersebut adalah doa atau pengharapan atas sebuah kesempurnaan dalam konteks adat batak. Doa adalah tetap doa dan kenyataan memiliki anak (‘anak dohot boru’ atau ‘anak’ saja, atau ‘boru’ saja, atau tidak ‘margelleng’ sama sekali) adalah kuasa Tuhan.

    ‘dongan mu saur matua’ (sebagai teman dan bukan musuh sampai ’saur matua’). Dan itulah pengharapan agar anak mereka menjadi anak yang bisa menjadi teman (bukan malah menjadi musuh) sampai ’saur matua’.

    Sejauh yang saya pahami bahwa umur panjang tidak sama dengan ’saur matua’ walaupun ’saur matua’ sudah mencakup umur panjang. Umur panjang juga bisa bahkan dengan tanpa anak sama sekali.

    Hatai hata tambaan…Mauliate.

  4. ridwan simanullang

    @bento1980

    Ada yg bilang begini kalo gak salah ya: Anak(laki laki) do na mamboan jea/arsak, Boru(anak perempuan) do na mamboan roha.
    aduh,… kira2 gini kali maksudku; kalo udah tua biasanya orangtua kita lebih memilih tinggal di tempat borunya(anaknya perempuan) dibanding tinggal di tempat anaknya(laki2).

    Aku juga pernah dengar bahasa batak di atas (ini masuk kategori ‘umpama’ atau ‘umpasa’ ya ?) dengan maksud yang sama di atas, tetapi kalimat secara benarnya saya belum tahu. (kayaknya hrs dicari dulu, ada yg bisa bantu?). Tapi rasa-rasanya tidak mungkin sejahat yang dipersepsikan oleh Lae bento1980 arti dari ‘jea’ tersebut, pasti ada sesuatu di balik mana atau latar belakang munculnya ‘jea’ tersebut.

    “kalo udah tua biasanya orangtua kita lebih memilih tinggal di tempat borunya(anaknya perempuan) dibanding tinggal di tempat anaknya(laki2).”
    Kenyataan ini memang sangat wajar kalau dilihat dari segi adat batak. Hubungan antara mertua laki-laki dengan ‘parumaen’ adalah sesuatu yang sangat khusus dlm adat batak, agak sungkan rasanya jika si mertua laki-laki bersama dengan ‘parumaen’nya jika tidak didampingi oleh anaknya (suami ‘parumaen’nya).

    Lalu bagaimana dengan mertua perempuan dengan ‘parumaen’nya? Hal ini pun masih sering menjadi pertanyaan dalam hatiku, mungkin juga seperti ulasan pendeta yang aku dengarkan pada saat menghadiri acara ‘martumpol’ hari sabtu 27-10-07 kemarin, yaitu ada semacam ‘cinta’ segitiga antara ibu, ‘anak’ dan ‘parumaen’. ‘Baoa na nahinaholongan ni inongna alai na ingkon nampuna ni pardijabuna, naso marroha ina, naso nirajaan ni pardijabuna’. Saya sendiri (baoa) yang sudah menikah merasakan sangat pusing dalam memberikan ‘holong’ di satu sisi dengan ibu yang sangat kumuliakan dan di sisi lain dengan istri yang sangat aku sayangi. Aku tidak tahu, apakah para netters ‘baoa’ yang sudah menikah, khususnya orang ‘batak’ (bukan ‘batak dalle’), pada blog ini merasakannya? Gimana gitu lho…, susah diungkapkan dengan kata-kata.

    Sedangkan hubungan bapak/ibu dengan ‘hela’ dan ‘boru’nya adalah sesuatu yang tidak sama dengan hubungan di atas. Atau para ‘ito’ netters yang sudah menikah, khususnya orang batak, barangkali bisa berbagi cerita.

    Mungkin itulah yang mendasari kenapa orang tua batak lebih senang di rumah borunya.
    Hatai hata tambaan…Mauliate.

  5. @ Bang Suhunan

    Aku sedikit mau memberikan sedikit pengetahuanku mengomentari pendapat abang: “Tapi, bila ia Muslim, tak bisa menggunakan sistem legitime portie sebagaimana diatur B.W itu; bila tak mau sistem hukum adat, hukum pewarisan Islam-lah yg dipakai.” Tak ada niatku untuk mendebatkannya, tapi hanyalah sebatas berbagi pandangan saja!

    Bang Suhunan, setahuku sesungguhnya dalam prinsip pembagian warisan dalam hukum Islam, prinsip utamanya adalah KEADILAN dan KESEPAKATAN. Sementara itu, pembagian waris menentukan lelaki mendapatkankan warisan 2 kali lebih besar dari perempuan (yang sering didengang-dengungkan sebagai hukum syara’) merupakan sebuah exit (conflict resolution) jika terjadi konflik di antara keluarga. Sayangnya, saat ini terkesan pembagian warisan lelaki dapat 2 dan perempuan dapat 1 itulah yang paling sering didengung-dengungkan, bukannya: KEADILAN DAN KESEPAKATAN, yang tentunya akan mengarah pada sistem legitime portie ..

  6. Ridwan Simanullang

    @RObert Manurung

    “Ambillah contoh rumpun marga Nai Rasaon (dilafalkan Narasaon) yang menurunkan Manurung, Sitorus, Sirait, Butar-butar. Ada juga rumpun marga Nai Sundaton, Nai Ambaton….”

    Saya juga bukan orang yang tahu banyak tentang adat batak (’ramba naposo na so tubuan lata’), tetapi selalu mencoba belajar untuk memahaminya. Di samping belajar banyak hal tentang dunia luar sudahkah ‘dunia’ku sendiri (’habatahon’) kupelajari dan sudahkah kuhargai nilai-nilai luhur yang ada di sana?. Pernyataan lae di atas juga mengusik keingintahuanku. Saya coba ’search’ di internet tentang tarombo maka hasil dari yang saya pahami adalah Tuan Sori mangaraja memiliki 3 istri : Naiambaton (Siboru Anting Malela), Nairasaon (Siboru Biding Laut), dan Naisuanon(Siboru Sanggul Haomasan).

    Artinya ‘boru’ dimasukkan dalam silsilah suaminya bukan silsilah orangtua (bapaknya) sendiri.

    Saya juga masih penasaran dengan pernyataan yang mengatakan “kenapa anak perempuan tidak ikut ditulis dlm silsilah keluarga Batak”. Berarti sebenarnya pada awalnya bukan tidak dituliskan tetapi memang dimasukkan dalam marga suaminya dan memang justru karena sering (bahkan sangat sangat banyak) tidak selalu dituliskan dalam marga suaminya, mungkin yang menyebabkan seringnya perselisihan dalam satu marga.

    Lalu kenapa ‘boru’ tidak dimasukkan dalam silsilah marga bapaknya. Di samping ‘boru’ sudah diakomodasi dalam marga suaminya maka seperti yang pernah saya sampaikan sebelumnya (dalam komentar terdahulu) bahwa saya tidak bisa bayangkan seperti apa jadinya silsilah tersebut.
    Katakanlah kita setuju untuk tetap memasukkan ‘boru’ kita dalam silsilah marga kita, lalu pertanyaan berikutnya (kalau mau tetap secara konsisten) apakah cucu dari ‘boru’ kita (yang sudah marga lain) bukan pemilik hak dalam silsilah tersebut, terus bagaimana dengan cicit (yang mungkin sudah dengan marga lain lagi). Terus kita katakan ya cukuplah sampai ‘boru’ sedangkan cucu dan cicit dari ‘boru’ tidak usah lagi.

    Sebagai ilustrasi, katakanlah Siamong Simanullang punya satu ‘anak’ (Baoa Simanullang) dan satu ‘boru’ (Borua Simanullang). terus ‘anak’ dan ‘boru’ masing-masing punya keturunan. ‘Boru’ (Borua Simanullang) menikah sama marga sihombing (Hela Sihombing) dan memiliki ‘anak’ (CuBa Sihombing) dan ‘boru’ (CuBor sihombing). Kemudian Cubor Sihombing (’boru’) menikah dengan marga CuHel Simbolon dan memiliki ‘anak’(CiBa Simbolon) dan ‘boru’ (CiBor Simbolon), dst..,dst.. Runyam…runyam…silsilah marga apaan tuh jadinya.

    Tapi cobalah susun sebuah silsilah sebuah marga batak di mana ‘boru’(family name) dari istri selalu dicantumkan berdampingan dengan suaminya, contoh “Op. Anu Simanullang + boru Sijabat”, dst..,dst…maka akan jelas bahwa silsilah itu adalah milik marga Simanullang di mana keturunannya secara utuh mengetahui marga dari …. ‘tulang’, ‘bona tulang’, ‘bona ni ari’, dst..dst (lagi-lagi..apa saja dan bagaimana ya urutannya).

    Kalau masih tetap juga tidak mau berterima…ya sudah hilangkan saja margamu sehingga silsilahmu bukan lagi silsilah marga batak tetapi murni hanya susunan ‘pinompar’ saja atau silsilah marga ‘gado-gado’ atau barangkali silsilah marga ‘batak dalle’ (ya..hitung-hitung melahirkan suku baru di Indonesia, ‘Batak Dalle’ ). Ya…itu hanya usul saja karena semuanya terserah kepada diri kita masing-masing saja.

    Kalau disuruh masuk ke golongan mana, maka saya lebih condong kepada pernyataan yang diberikan oleh Marudut R. Napitupulu dalam komentarnya pada artikel “Mengapa Banyak Orang Batak Ngotot Punya Anak Lelaki” yaitu
    Laki-laki dan perempuan itu tidak sama.
    Tapi laki-laki dan perempuan itu punya hak yang sama.
    Derajat yang sama.. kesempatan yang sama untuk mencinta da dicinta dll.
    Hatai hata tambaan…Mauliate.

  7. bento1980

    @.ridwan simanullang

    Maaf Lae, aku gak begitu mengerti arti sepenuhnya kata “jea” itu.
    Tapi kok sering kudengar banyak ompung2 bilang jea.
    jea itu bermakna jahat ya? tolong aku diajari.

    Banyak cerita, bahkan aku langsung bertanya sama ompung2/bahkan ompungku sendiri , kenapa opung senang tinggal dirumah kami? Padahal rumah Tulang kan lebih enak. (Kutanya ini pada opung doli dan opung boru, ortunya mamak aku). Jawab opungku: Aku gak tahu lagi kapan udah makan atau belum, kapan udah buang air/terlanjur buang air. Kalo tulangmu atau parumaenku kurang perhatikan, bahkan mereka gak mau, malu, atau merasa jijik ‘membersihkan’ aku. Tapi kalo boruku ini, mamakmu samalah kita diperhatikannya karna aku merasa anak kecil kembali sama kek kau, jadi benar2 diperhatikannya lah kebutuhan dan kelemahan kita yang dianggap masih anak balita, termasuk aku yg dianggapnya juga kembali kek anak anak.

    Ada juga tetangga, Oppung ini Tinggal ditempat anaknya, entah kenapa mereka gak pernah akur, bahkan isteri anaknya ini pusiiing liat mereka, parumaennya ompung ini sudah berusaha baik semaksimalnya buat mertuanya senang, tapi jarang ada kecocokan antara suami dan mertuanya ini. Tapi karna opung ini gak ada borunya, mau kemana dia?. Nah, jadi seringlah opung ini nginap semalam dua malam dirumah2 orang orang yg berboru sama dengan marga anaknya, gimana jelasinnya ya…?. misalnya gini kali ya, Suami opung ini marga Tobing, anaknya tobing juga pastinya, trus dikampung kami dicari2 opung inilah rumah yg beristrikan boru tobing ntuk nginap/tinggal 1-2 hari. Sampai anak dan cucu ompung ini sering menjemput pulang kerumah mereka. Maaf ya lae, ito jadi merepotkan kalian mamakku ini.

    Tapi karna yg bilang hula hula jadi jawabnya, gak apa apa kok lae, biasa do natua tua songon i, kapanpun bisanya inang ini kemari tapi ya beginilah keadaan kami lae. (Salud aku tata krama atau basa basi orang batak ini bah) Begitulah kata2 keluarga ini kalo menjemput opung ini dari rumah orang. Entah apa masalah keduanya gak tau siapa yg salah, tapi kalo opung ini marah langsung dibilangnya ‘Jea’ sama anaknya ini. Padahal anaknya ini bukan jahat sama mamaknya, hanya karna sering minum2nya anaknya ini, hanya karna juga anaknya sering bilang; mak, unang ma ulaon na asing2 dison, holan patenangma dirim, marsahit ho annon, molo hami nadua reppot do karejo, jalo haha nanaeng nipangido ho huleon pe. “unang pailahon ahu omak dihuta on”. kata anaknya sering sama opung ini.

    Jadi aku penasaran kali lah sama teori dan praktek ilmu sosiologi orang batak ini bah, tolong ajari hamu ahu da amang inang na burju.
    Soalnya bukan dari segi adat, bahasa dan tarombonya saja yg mau kupelajari, tapi yg penting peradaban nya itu adalah sebuah etika ilmu sosial bermasyarakat. Mauliate….

  8. Robert Manurung

    @Ridwan Simanullang
    Terima kasih lae untuk tanggapan yang serius soal silsilah ini. Patokan berpikirnya, kurasa, memang tidak mungkin mengkompromikan antara keteraturan garis keturunan dan memberi kesempatan yang adil bagi pria-wanita menjadi penerus marga. Harus pilih salah satu. Aku pilih yang satu, bukan yang salah hehehe…

  9. @ Ridwan Simanullang

    Sekadar info, tarombo/silsilah marga Naninggolan Lbn. Tungkup edisi ketiga (cet. 2007), sudah ikut dimasukkan nama-nama anak/cucu/cicit/dst berjenis kelamin perempuan. Sebisanya diusahakan lengkap, bahkan tim penyusun sampai beberapa kali turun ke Sumut utk mendata dan membuat verifikasi. Bukunya memang jadi tebal, selain besar dan lebar.

  10. Sibarani

    Ada juga pemeo di sebagian kalangan halak kita: “boru hangoluan, anak hamatean”. Arti kiasannya, sepanjang hidup tinggal di rumah boru, saat meninggal harus disemayamkan di rumah anaknya. Dari pengamatan pribadi, ada benarnya juga. Mungkin dengan alasan-alasan yang sudah diuraikan oleh dongan-dongan di atas.

    Buat saya sendiri, anak perempuan dan lelaki sama berharganya, karena keduanya adalah titipan Tuhan yang paling berharga dalam hidup saya. Tapi untuk urusan tarombo, saya pikir kita harus mengacu pada konvensi yang berlaku, bahwa anak lelaki yang menjadi penerus marga, sedangkan anak perempuan akan ikut tarombo marga suaminya (dengan catatan dia menikah dengan halak hita). So no matter what, both will be included in the ’system’. Sebenarnya fair juga kan?

  11. Ridwan Simanullang

    @Suhunan Situmorang

    “sudah ikut dimasukkan nama-nama anak/cucu/cicit/dst berjenis kelamin perempuan”

    Yang menjadi pertanyaannya adalah apakah keturunan ‘boru’-nya (semua ’sundut’) yang sudah menikah dengan marga lain ikut dimasukkan? Jika demikian, itu berarti Silsilah Marga akan memiliki cabang silsilah marga lain bahkan bisa jadi menjadikan seluruh marga batak (yang dinikahi ‘boru’ Naninggolan, setelah Naninggolan Lbn. Tungkup) akan masuk didalamnya saking dimasukkan semuanya. Apakah itu masih bisa disebut ‘tarombo’ marga? kalau ‘pinompar’ Naninggolan Lbn. Tungkup, mungkin ya.

    Kalau boleh saya memprediksi, mungkin yang dimasukkan adalah hanya semua ‘boru’ ( satu ’sundut’) dari ayahnya (marga Naninggolan). Jika demikian halnya, ‘boru’ belum memiliki POSISI yang SAMA dengan ‘anak’ dalam ‘Tarombo’ yang sedang disusun tersebut karena semua keturunan ‘anak’ (’sude sundut’) dimasukkan sedangkan keturunan ‘boru’ tidak dimasukkan semua (hanya satu ’sundut’) tetapi hanya si’boru’ tersebut (dan mungkin + suaminya dan marganya).

    Menurut saya, kalau pun ‘boru’ harus diakomodasi dalam ‘tarombo’ batak maka hal yang paling memungkinkan adalah seperti opsi kedua di atas (hanya satu ’sundut’). Dan itu mungkin yang paling maksimal yang bisa dilakukan agar ‘boru’ diakomodasi dalam silsilah (disamping tetap dimasukkan dalam marga suaminya) sehingga tidak merusak makna dari ‘Tarombo’ itu sendiri dan dengan posisi tersebut pun kita belum bisa mengatakan bahwa ‘anak’ dan ‘boru’ punya hak yang SAMA dalam satu ‘Tarombo’ marga batak.

    Note : Saya belum pernah dengar ‘Naninggolan’, apakah salah ketik atau memang demikian halnya.

    Hatai hata tambaan…Mauliate.

  12. ganda situmorang

    @Forum
    Hata tambaan sian ahu bah.

    Segala sesuatu pasti ada penyebabnya, ada latar belakangnya.

    Saya memandang dari sudut sejarah sosial ekonomi pada masa-masa awal kehidupan bangsa Batak. Dengan latar belakang dan kondisi geografis wilayah Toba dan Samosir, dahulu kala Bangsa Batak hidup dalam Luat/Huta/Banjar, satu Huta biasanya merupakan satu rumpun marga. Huta ini biasanya di kelilingi pagar pertahanan, seperti pohon bambu, atau huta itu terletak di dataran puncak bukit. Karena bangsa Batak pada masa itu masih barbar, memiliki kebiasaan berperang, invasi, antar Huta. Huta yang menang dalam perang akan menjadikan huta yang dikalahkan sebagai budak/hatoban. Bangsa Batak pada masa ini sangat sedikit pengetahuannya mengenai bercocok tanam/mangula, kebanyakan masih berburu Haili, Ursa dan Musang, Herek dan binatang lainnya, serta mencari buah dan umbi-umbian.

    Pada masa selanjutnya, Huta berkembang dan makin besar, muncul Huta-Huta baru, mulai pintar bercocok tanam/mangula, beternak/marmahan. dan mulai terjadi perkawinan antar Marga/Huta yang berbeda.

    Kalau saya coba bayangkan, pantas dan patutlah orang tua najolo sangat ngotot mempunyai anak laki-laki, tenaganya jelas lebih kuat untuk berperang menjaga Huta, Berburu buah dan binatang liar, bercocok tanam dan marmahan.

    Kalau saya bayangkan, jelaslah juga, mengapa orang tua Batak dahulu dan sampai sekarang sangat ngotot anak laki-lakinya marboru ni Tulang. Sehingga kalau marboru ni Tulang, dalam Dalihan Na Tolu harta warisan pihak paranak dan parboru tidak jatuh ke Huta/Marga yang lain. Dan hubungan kekerabatan, sekali lagi dalam Dalihan Na Tolu tetap terjaga dan sambung menyambung.

    Untuk masa sekarang, Google Era… Ai Kenapa orang Batak ngotot punya punya anak lelaki?

    Mari kita bertanya kepada diri sendiri.

    Horas

  13. Hmm ini adalah issue (kalo menurut saya Lhooo ) amat sangat penting di garis line nomor satu jika semua saya buat list untuk saya sendiri, hal2 kesukuan dalam batak yang saya selaku generasi tahun 80 – an sudah nggak relevan,,apa lagi kalo dilihat dari agama GAK BANGET karena lelaki dan perempuan untuk saling melengkapi.

    Justifikasi ” tidak ada ada anak laki-nya” itukan justifikasi manusia, bukan Tuhan. Jika ada manusia yang menjustifikasi demikian, berarti menjustifikasi TUHAN juga toh selaku pencipta manusia ???? malulah ama malaikat….

    Justru waktu saya pulang kampung kemaren,,,saya melihat kalau wanita suku batak adalah mamak2 yang hebat…dia cari hangoluan juga seperti suaminya (dagangla…bertani la..dll), tapi dia harus menyiapkan makanan juga untuk di rumah ama di ladangnya (tapi suaminya tinggal mangan;- ini yg saya liat lho….) dia harus mengurus suami dan anaknya, (tapi suaminya diladeni istrinya..ini yang saya liat lagi lhoo…) kalau bisa bangun tidur di depan muka sudah ada kopi panas + rokok! (menurut saya lhooo…) Walaupun di rantau juga kadangkala saya masih melihat begitu,,Tapi…kalau saya selaku anak muda yang siap berglobalisasi,,,hanya bisa berpendapat seraplah kebudayaan yang akan mendukung kehidupan di muka bumi ini agar seimbang antara sesama manusia dan juda secara vertikal kepada yang punya bumi ini. BALANCING.

    Saya hanya punya satu adik laki2 di bawah saya persis,,,tapi karena kita lahir di rantau …gak pernah kami semua dibedakan,,,sama haknya..tapi kalau tanggung jawab karena saya panggoaran bobotnya lebih berat daripada adik2kuw…tanggung jawabnya dalam artian yah harus beri contoh yang baik..

    Jadi bersyukurlah atas jenis kelamin anak yang di berikan Tuhan kpd kita (benar2 authority DIA lho,,,mutlak!) Lebih bersyukur lagi jika komplit…
    kalau hanya punya anak laki semua atau perempuan yah Bersyukur juga daripada gak dikasih keturunan??????

  14. @Ganda Situmorang

    “Karena bangsa Batak pada masa itu masih barbar,…..”

    Lae Yakin? Tahun berapa? definisi barbar menurut lae apa ni…?? Apakah peradaban belum tinggi, bringas dan kerjanya perang melulu, kanibal?

    Karena yang kutahu Si Raja Batak (leluhur kita semua, orang Batak pertama yang masuk ke daerah Danau Toba tepatnya di kaki pusuk Buhit) datang ke Sianjurmula-mula tahun 1029 Maehi setelah Kerajaannya (kerajaan Aru) runtuh diserang Rayendra Cola III. Beliau adalah seorang yang telah memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi baik spritual maupun materiil. Dialah yang menyusun kepercayaannya itu baik akan ilmu ketuhanan dan ilmu alam semesta dan menurunkannya kepada keturunannya sampai sekarang ini. (mencakup ilmu ketuhanan, perbintangan, art, filosofi, ketatanegaraan, sosial, politik, dll) Mungkin orang Batak adalah salah satu suku yang peradabannya paling tinggi di Dunia pada masa itu. Kalau “dulu” yang lae maksud sbelum abad ke 11, yang ada di Danau Toba dan sekitarnya itu bukan orang Batak.

    Jadi kalau boleh janganlah pakai kata2 “barbar”. Sensitif kali itu.. mauliate

  15. ganda situmorang

    @Viky Sianipar

    Owh begitu…, baiklah lae, saya tidak akan memakai kata “barbar.”

    Sejarah itu lae ibaratnya seperti dua sisi dari sekeping koin. Lemparkan satu koin, sisi yang diatas adalah yang kelihatan, dominan.

    Iya kan…?

    terus.. kalau ternyata pandangan saya di atas tidak tepat, tidak sesuai dengan detail literatur yang lae ketahui.

    Tolonglah dulu jelaskan lae, lebih lengkap dan lebih detail, atau lae kasih tau literaturnya biar saya cari dan pelajari dulu.

    Jadi kira-kira menurut lae
    Kenapa orang Batak ngotot punya anak laki-laki?

    Mauliate godang

  16. Ridwan Simanullang

    Kalau melihat bekas-bekas tembok tanah dan bambunya (‘parik ni huta’), (masih bisa ditemukan, yang saya tahu dan lihat sendiri, di daerah lingtong nihuta atau sihite doloksanggul, di simanindo samosir juga ada saya lihat) dan berdasarkan cerita rakyat bahwa memang perang antar huta/marga pada zaman dulu sangat sering terjadi.

    Memang betul, Si Raja Batak dan kerajaannya mungkin telah memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi baik spritual maupun materiil. Tetapi apa ya…merata ke seluruh rakyat bangsa Batak pada saat itu?

    “Kalau “dulu” yang lae maksud sbelum abad ke 11, yang ada di Danau Toba dan sekitarnya itu bukan orang Batak”

    lalu disebut orang apa?
    karena dikampungku doloksanggul aku tidak temukan ORANG PRIBUMI-nya.

    Atau memang belum ada orang yang ada di Danau Toba dan sekitarnya pada saat tsb? ‘Angka herek dope’ :)

    Hatai hata sungkun sungkun …Mauliate

  17. Ridwan Simanullang

    @yusnita
    cuplikan komentar “tapi dia harus menyiapkan makanan juga untuk di rumah ama di ladangnya (tapi suaminya tinggal mangan”)

    Dalam adat batak, yang saya tahu, seorang bapak (ama) pantang mengambil makanan langsung dari ‘hudon’, pada saat makan bersama keluarganya, karena ‘kekuasaan itu’ sudah menjadi miliknya para ibu (‘ina’), makanya disebut ‘parsonduk bolon’.

    Aku masih sempat mengalami masa-masa ‘haleon’ (paceklik ?) di mana hanya ibu (mamaku) yang punya kekuasaan untuk membagikan nasi yang ada di ‘hudon’ kepada anggota keluarga (termasuk untuk bapakku).
    Pada saat nasi sudah yang terakhir tersisa di ‘hudon’, maka sebagai pertanda bahwa nasi sudah habis, sendok akan ditekan agar keras ke ‘hudon’ sehingga berbunyi lebih keras (karena gesekan) bersamaan dengan menyendok nasi terakhir tersebut. Tujuannya adalah agar semua anggota keluarga sudah mengetahui bahwa nasi sudah habis dan tidak ada lagi yang minta nambah. (untuk menghindari ada yang minta nambah tetapi nasi sudah habis).

    Memang untuk masa sekarang dengan nasi yang berkelimpahan, sudah tidak masanya lagi jika hal tersebut masih dipertahankan oleh seorang bapak (‘ama’). Bahkan mungkin ibu (‘ina’) sudah tidak layak disebut sebagai ‘parsonduk bolon’ lagi, tetapi sudah menjadi ‘parsonduk otik’ dan hanya untuk diri sendiri (karena anggota keluarganya sudah ‘diet’, alias menolak ’sonduk bolon’ dari ibunya dengan cara ’sonduk otik’ masing-masing dengan diri sendiri :) )

    Tapi jangan salah, bisa jadi (mungkin lho…bukan pasti) keluarga yang Anda lihat (di bona pasogit sana) mungkin belum termasuk dalam kelompok orang yang berkelimpahan dengan nasi, sehingga mereka masih tetap mengingat tradisi tersebut, di mana ‘parsonduk bolon’ adalah hak mutlak seorang ibu (‘ina’) demi keadilan dalam pembagian jatah anggota keluarga.

    Berbahagialah ‘anak ni bangso i’ yang tidak pernah lagi mengalami ‘masa ni haleon’.

    Hatai hata tambaan…

  18. Robert Manurung

    @Viky Sianipar
    @Ganda Situmorang

    Soal istilah barbar, aku juga gak setuju. Tak ada sejarahnya orang batak berperang semata-mata untuk berperang, massam pasukan Khu Bilai Khan atau Viking. Kalau yang ini memang barbar.

    Orang batak berperang mempertahankan diri, ini bermakna ganda, pertama mempertahankan diri dari serangan musuh, atau invasi untuk mencari lahan lebih subur demi survival.

    Tapi perang antarmarga dan antarkampung memang fakta historis di tengah Bangso Batak. Benteng pertahanan (parik) seperti dituturkan lae Situmorang masih gampang ditemukan sekarang ini di desa-desa di Bonapasogit. Di gerbang desa biasanya ada pengawal mistik berupa sebatang pohon hariara (beringin) dan bintatar (apa bahasa Indonesianya?), kemudian sekeliling kampung ditanami rumpun bambu rapat sekali.

    Baca legenda marga-marga, menantu dengan mertua pun ada yang berhadap-hadapan di medan perang.

    Tanyakan pada orang-orang tua, bisa jadi kampungmu yang sekarang bukan kampung asalmu, tapi awalnya tempat eksodus kemudian menetap.
    Tanyakan pula kenapa kampung tertentu dihuni lebih dari satu marga.

    Ambil contoh desa bernama Lumban Nainggolan, Silamosik di dekat Porsea. Penduduknya bermarga Nainggolan Parhusip, eksodus dari desa bernama sama di Samosir. Kawasan itu tadinya milik marga Sitorus, tapi kemudian dikuasai Nainggolan lewat perang, diplomasi dan perkawinan politik (Nainggolan menikahi putri Sitorus).

    Sejarah batak masih menyimpan banyak misteri. Kalau catatan yang kita punya berbeda atau simpang siur, sabarlah. Bagus kita lanjutkan sharing supaya catatannya bertambah.

    Hatai hata sitambaan. Horas.

  19. Tamba Sihombing

    Mengenai sejarah Batak, kita bisa mencoba membaca Buku TUANKO RAO yang lagi rame di pajang di Toko Buku Gramedia.