[viky sianipar; blog berita; opini seorang musisi profesional]
Mau panggil roh jahat? Tak usah pakai gondang, organ gereja pun bisa.
Viky Sianipar benar-benar marah. “Sering aku temukan gondang yang ‘berisi’, so what?” katanya.
Artikel ini adalah komentar yang ditulis Viky Sianipar, salah satu pemusik papan-atas Indonesia, menanggapi artikel sebelumnya di Blog Berita, Gondang musik pemuja setan? Viky adalah musisi muda Batak yang memerangahkan dunia musik Indonesia; musik Batak karyanya bisa menembus MTV. Gaya bermusiknya etnik-kontemporer. Dia lihai memainkan alat musik tradisional Batak dan Jawa. Dia mengawin-campurkan irama musik daerah dan musik masa kini. Viky juga tampil pada pentas musik dunia, Java Jazz Festival. Tiga minggu sebelum wafat, penyanyi legendaris Chrisye menyanyikan satu lagu pamungkas, berjudul Lirih, di studio; dan yang dipesankan mengaransemen lagu ini adalah Viky Sianipar.
SUDAH LAMA AKU tunggu topik ini. Salut buat lae Sahat yang memaparkan topik di atas dengan baik! Tambahan dari saya sebagai orang yang satu hari 12 jam di studio MUSIK bergelut dengan dunia FREQUENCY..
Teori frekuensi. Saya orang pertama yang pasang badan (sambil gosok parang)
kalo ada orang yang bilang musik Gondang musik setan… dasar orang-orang GUOBLOK!!! sok ngerti agama tanpa menghayatinya. mereka itu sama halnya dengan para pemuka agama di EROPA dulu yang mencekam orang yang menyatakan bumi itu Bulat. Setelah terbukti baru mereka bilang.. oh iya yaa.. ternyata bulat ya.. oh gitu toh!!
Tuhan selalu menciptakan semuanya sepasang. Kiri kanan, terang gelap, baik buruk, hitam putih, dua mata, dua telinga, dua kaki, dll dengan tujuan keseimbangan. Termasuk dua kehidupan: Natural dan Supranatural. Keduanyapun diciptakan Tuhan untuk saling melengkapi agar tercipta Balance. Harmony!
Saya heran kenapa gereja meng’haram’kan supranatural dan mengklaim itu dari iblis. Padahal tiap hari kita bicara tentang Roh Kudus. Itu aja sudah supranatural…
Kenapa musik gondang bisa menjadi media ke dunia supranatural? karena frequency dan ritmik yang dihasilkannya sudah diatur sedemikian rupa dapat melebihi frequency batas kemampuan kuping manusia (20hz – 20.000hz) bahkan menghasilkan frekuensi-frekuensi tertentu yang dapat menembus alam roh, sehingga lebih mudah dipakai sebagai media ke dunia roh.
Mau panggil roh Jahat? gak usah repot2 pake gondang, pake ORGAN GEREJA pun bisa kalo mau… asal kita tau kombinasi nada dan jenis sound apa di organ itu yang akan menghasilkan akumlasi frequency sehingga sampai terdengar ke alam roh.
semua itu bukan magic, hanya teori frequency advance dan metafisika. Sangat saintifik!
Memang Musik Gondang Sabangunan erat kaitannya dengan dunia roh, atau yang orang sering bilang Supranatural, tapi bukannya untuk MENYEMBAH roh jahat. Tujuan utama Leluhur kita menciptakan Musik Gondang Sabangunan itu sebagai media penghubung ROH ALLAH atau DEBATA MULAJADI NABOLON, atau BAPA DI SURGA atau TUHAN ALLAH. atau KUMBAYA, dsb.
Kuasa roh jahat pada gondang…. korek api bisa untuk nyalakan kompor untuk masak makanan, bisa juga untuk bakar orang hidup2, (tambah bensin dikit)
Begitu juga dengan musik Gondang. Mau panggil roh jahat? BISA. Mau menghibur orang untuk manortor supaya orang2 itu happy? Juga BISA.
Di dalam taganing ada roh? – untuk beberapa, YES!. Roh jahat? – untuk beberapa, YES!
Saya pemain taganing (walaupun bukan dalam konteks tradisional Gondang Sabangunan). Tidak jarang saya mendapatkan gondang yang “berisi”. So What? kita ini mahluk ciptaan TUHAN yang PALING sempurna. Kita yang paling berkuasa atas segala mahluk ciptaan-NYA. Jadi kenapa saya musti takut dengan roh yang ada di taganing tersebut.
Dengan iman saya (Kristiani) saya berdoa saja, minta sama Tuhan supaya roh itu pergi. Pergi tuh dia! Tapi kadang2 roh yang di dalam taganing ada juga yang baik kok. Malah bikin saya makin terlihat berwibawa sewaktu memainkannya. Saya ya berdoa lagi sama Tuhan mengucap syukur sudah mempertemukan saya dengan ‘dia’.
Jadi HAI orang-orang fanatik agama yang sok ngerti TUHAN: gak usah sibuk ngurusin kuasa roh yang ada di gondang, sedangkan kuasa roh jahat dalam hati anda tidak anda pikirkan! mau contoh? tuh… peristiwa HKBP tahun 90-an yang sampe BUNUH2an… itu baru kuasa SETAN!
Kesimpulan saya…, ALLAH itu MAHA BESAR. Kita manusia gak lebih besar dari debu di hadapannya. Masih banyak misteri alam ciptaan Tuhan ini yang belum diketahui manusia. Jadi janganlah kita Sok tau! seperti menghujat musik Gondang peninggalan leluhur yang sangaaaaaaaaat berharga itu. Melainkan lestarikanlah, supaya anak cucu kita masih bisa menikmatinya kelak. Horas! [www.blogberita.com]
CATATAN BLOG BERITA:
Silakan bila ingin mengutip artikel dari blog ini, dengan syarat menyebut sumber dan nama penulisnya. Bila dikutip untuk website, weblog, atau milis, maka tuliskanlah sumbernya www.blogberita.com dan buatkan link ke artikel bersangkutan. Bila dikutip untuk koran, majalah, bulletin, radio, televisi, dll, maka tulislah/ sebutkanlah sumber kutipannya; www.blogberita.com.
Bila kau ingin menulis artikel, kirimkan via imel, blogberita [at] gmail [dot] com; sertakan fotomu.
Artikel Viky Sianipar sebelumnya:


27 Oktober 2007 at 12:59 am
@Viky Sianipar
Berusaha menempatkan musik pada tempat dan fungsinya secara proporsional, sambil mengharapkan gereja HKBP tidak lagi diskriminatif terhadap jenis musik tertentu, itu namanya “mimpi kale yee”.
Kalau untuk perkara yang pertama sih , peluangnya lebih terbuka. Adakan referendum di kalangan orang batak-kristen saat ini juga, pasti, yang mengatakan gondang sabangunan asyik dan sekaligus sakral lebih banyak daripada yang menghujat gondang sabangunan sebagai musik pemuja setan. Perbandingannya bisa jadi 99,9 : 0,1.
Nah, yang 0,1 itu lae Viky, belum bisa diajak tukar pikiran di blog, lebih susah lagi untuk diajak diskusi berhadap-hadapan. Jangankan berdiskusi lae, yang meminta kebesaran hati menghargai pendapat berbeda, mendengarkan apa yang dikatakan orang lain aja mereka gak mampu.
Mereka memang dibentuk begitu lae, cuma mikirin satu perkara : bagaimana supaya suaranya didengar sampai barisan jemaat paling belakang. Taunya mereka cuma kotbah, kotbah dan kotbah; kapan saja, dimana saja dan sama siapa saja…kecuali terhadap praeses dan ephorus tentunya hehehe….
Jadi begitulah lae Viky, karena yang 0,1 itu bisanya cuma berkotbah…selebihnya patuh pada pimpinan; dan karena mereka malas belajar, malas mikir, gak pernah memfungsikan telinga dan hati nurani mereka; wajarlah kalau mereka “berkotbah” : gondang sabangunan itu musik pemuja setan.
Pilihan yang ada lae Viky cuma ini, bagaimana mencuri peluang dan nasib baik untuk meng-implant gondang ke nalar, telinga dan hati nurani yang 0,1 itu. Bagus lagi ditambahin lagu Nommensen-nya Tongam. Kali-kali aja mereka langsung manortor…dan kau lae, mainkanlah gondang husip-husip i…immaaaadaa…
27 Oktober 2007 at 4:08 am
Aku jadi teringat satu kisah, sekitar 7 tahun lalu, kala itu dengan rambut masih gimbal, mengenakan tuxedo, aku menabuh taganing (di Parapat kota asalku, disebut tagading) mengiringi choir NHKBP Manyar untuk pesta Jubileum 25 tahun HKBP Surabaya. Sebenarnya itu cuma ide iseng korps kami NHKBP yg saat itu memang dipenuhi para ‘pemberontak’. Mungkin, sekali dalam 25 tahun, itulah kali pertama taganing dimasukkan ke dalam seremoni HKBP. Rupanya, momen yg tak kurang dari 5 menit itu tetap berkesan di kepala para sintua. Kala itu kami ‘menggasak’ lagu Nabadia dgn aransemen apik, lengkap dgn seruling (sulim) dan kecapi (hasapi), kebetulan naposo bulung angkatanku kebanyakan BTL (Batak Tembak Langsung), banyak sekali yg bisa memainkan alat musik tradisional.
“Tambunan, bagaimana kalau kita beli satu set taganing, kita taruh di dalam gereja, mainkanlah pada seremonial khusus seperti gotilon, parheheon, dll”
Waktu terus berjalan, meskipun penuh pro-kontra, taganing itu berhasil direalisasikan sekitar tahun 2005 silam (5 tahun kemudian!!), bila awalnya taganing itu diproyeksikan untuk sebatas seremonial saja, berikutnya taganing kami sudah merambah zona ‘hot’, KEBAKTIAN! Aku berani berkata, HKBP Manyar Surabaya adalah HKBP paling gaul, karena menghargai alat musik tradisional para leluhurnya…aku masih sempat memainkannya beberapa kali, berbagi kegembiraan dan menumbuhkan iman…lalu habis…satu demi satu anggota ‘korps’ itu pergi entah kemana, mengikuti suratan takdir…
Masalah selanjutnya yg kulihat sekarang, adalah regenerasi. Kebanyakan naposo bulung belakangan lahir dan besar di kota ini, punya marga tapi aksen jawanya medok sekali, entah karena mereka menganggap uning-uningan kuno, atau identik dengan setan, atau tidak keren, kini set taganing itu teronggok lunglai di gudang, kali terakhir aku melihat perubahan itu..perangkat drum, electric guitar, keyboard, bass, masuk dgn sombongnya. Karena satu dan lain hal, aku tak lagi punya daya mengembalikan keperkasaan taganing di HKBP Manyar Surabaya, pengembaraan jiwa membawaku pada hal lain dan kehilangan gairah di HKBP…
27 Oktober 2007 at 7:25 am
@viky
komentar Anda “Perlu kesiapan jasmani dan rohani, waktu yang lama, dan talenta untuk mempelajarinya. Aku gak mempelajari itu, kawan. Cukup untuk kebutuhan “ngamen” aja lah. Yang jelas bisa mendengar frekuensi itu binatang, seperti Anjing, Kucing, dll.”
“Yang jelas bisa mendengar frekuensi itu binatang, seperti Anjing, Kucing, dll.”
Setahuku FREQUENCY yang bisa didengar anjing dan kucing masih dalam range simbol POSITIF.
Kalo alam roh ada pada frequency tsb, berarti bisa dong dibuat semacam ‘handphone’ utk komunikasi dengan alam roh. Ya…mirip dgn handphone sekarang (900, 1800, 1900 MHz) tetapi dengan ‘carrier’ memakai frequency ‘alam roh’ tersebut. Tapi, aku kurang yakin ‘alam roh’ ada pada range frequency pendengaran anjing dan kucing.
Naasing ma tahatai bah…Mauliate.
27 Oktober 2007 at 2:23 pm
@lae Holben ‘Kiss of the Dragon’,
Nauli….gabe..lae Holben,
Tung…tung..tung (intro taganing lae viky)…tokkultok…tokkulotok…tokultokk.
Aku senang membaca tulisan lae Holben ttg mangido gondang itu, bah. bagus untuk pencerahan.
@ lae Viky,
karena lae bisa memainkan taganing, suatu saat nanti bolehlah ajarin aku main taganing hehehehe
@lae Enrico,
wow, keren lae…sayang belakangan jadi hilang uning-uningan itu di HKBP surabaya.
Btw, saat aku mengikuti kebaktian gereja dengan diiringi musik band, memang terasa gembira. Tetapi kok lebih gembira lagi waktu aku mengikuti kebaktian yg ada kolaborasi uning-uningan dgn keyboard, mungkin karena musik tradisional itu ‘dekat di hati’ dan lebih menyentuh pikirku, atau hanya aku sendiri yg merasa begitu? lalu diam-diam aku perhatikan orang di depanku, di samping kiri-kananku..yg tua dan muda, ternyata raut wajah gembira dan gerakan tubuh mereka sama dgn apa yg kurasakan..malahan mereka lebih lepas memuji Tuhan dibandingkan hanya dgn organ saja dan tanpa kita sadari ucapan syukur dan pujian kepada Tuhan mengalir begitu saja.
Horas bangso batak!!
29 Oktober 2007 at 2:27 pm
Ponakanku produk jakarta ini, baru masuk ITB dia. Awalnya tak menyukai/acuh pada musik etnik khususnya batak. Bulan lalu dia beli mp3 player itu, juga beli mp3 mandarin dan korea. Lalu iseng aku pasang lagu uning-uningan dan gondang via laptop..bah, langsung di sedotnya ffuang ke playernya. Mantap juga tulang uning2an dan gondang ini, enak ternyata dengarnya..katanya. Tapi dia gak suka tuh, lagu batak yang menjerit-jerit dan suara seperti kejepit. Ponakan satunya cewe, kuliah juga, malah merekam lagu2 batak jadul yang memang mantap dengan musik etnik. Walaupun dia susah melafalkan kata-kata batak yang “kromo inggil” tapi suka aja. Ke kamar mandi pun dibunyikan recordernya itu. Dan katanya, sering dipasang di kampusnya.
PR buat para lae dan suhu-suhu lagu dan musik batak. Ternyata, generasi muda batak sekarang khususnya yg produk kota besar, sebenarnya menyukai musik etnik khas batak..tetapi sebaiknya dikemas dengan menarik dan membuat merinding disko..seperti yang telah direlease lae Viky.
30 Oktober 2007 at 10:58 am
horasss semua
yang benar yang mana ya, taganing apa tagading ???? Mengenai ritme dan “pangurdot” (saya susah mencari padanan katanya karena dibilang goyangan juga kurang tepat) ni tortor sekarang sudah mulai lari dari asal. Banyak sekali yang manortor sudah menggoyang pantat (khususnya panortor wanita). Waktu dulu kami diajari oppung manortor, beliau sangat marah kalau kami manortor dengan menggoyangkan pantat. Pantang katanya, itu jadi merusak kesakralan gondang. Harus mangurdot (posisi kaki berjinjit dan tubuh bergerak naik turun dengan menaikturunkan telapak kaki tapi telapak kaki tersebut tidak boleh menyentuh tanah) dan irama yang diikuti adalah iramanya sarune. Saya sehih kalau melihat di acara pesta para tarian yang ditarikan para penari waktu menyambut hula-hula dan waktu menyampaikan ulos hela bukan lagi tarian batak yang sesungguhnya
Seharusnya bukan gandangnya aja yang kita lestarikan tetapi juga tortornya, horas.
30 Oktober 2007 at 11:02 am
maaf, ada yang salah,
(posisi kaki berjinjit dan tubuh bergerak naik turun dengan menaikturunkan telapak kaki tapi telapak kaki tersebut tidak boleh menyentuh tanah)
bukan telapak kaki tetapi tumit kaki
30 Oktober 2007 at 1:26 pm
Horas semua…
saya sangat setuju dengan Lae Vicky… sekarang ini banyak sekali orang terutama yang bergelar pendeta dan pengiinjil yang setiap hari minggu berkhotbah, tapi secara tiak langsung juga menghakimi, bahw Ulos itu ada roh jahat, gondang itu musik untuk memanggil roh nenek moyang, belum lagi gorga ( ukiran ) yang katanya itu klo diperhatikan baik2 gambar iblis yang
bertanduk….
Kepaonakan saya ada masuk agama kharismatik…. dulu dia sangat sopan dan baik , tapi setelah dia masuk gereja itu, dia udah mulai memperdebatkan segala sesuatu di ajaan dan budaya batak.
sampai dia bilang, klo mama saya meninggal gak perlu pake acara adat, lebih baik dilemparkan aja ke danau toba sana….( heran dan sunggu heran saya… siapa mereka yang mendoktrin dan keponakan saya sampai berani mengucapkan kalimat seperti itu…)
jadi perlu kita ketahui, mereka ini gak mau lagi ngikuti ke pesta batak,siapapun itu mau saudara kandung, mau orang tua…
di samosir sana terutama di pangururan mereka sudah ada yang menikah di hadiri kedua belah pihak, juga diundang tulang dan hula2, tapi gak ada acara adat. jadi baik pihak boru, anak, hula2 dan tulang sama sama duduk sambil makan makan indomie dan kerupuk,.. hehehe tapi ini nyata,… saya lihat langsung.
maf bila komentar ini menyinggung orang lain… tapi satu hal aku lebih tersinggung klo mereka menghakimi sesama dengan dalih itu kuasa setan.soalnya bapak dan mamak saya sangat selalau memakai ulos bila ke acara adat pesta batak.
mauliate
30 Oktober 2007 at 3:05 pm
molo naeng marsiajar gondang hamu ro hamu tu jabu ate. ai pargondang do poang bapak ku
asa lamu godang akka halak batak i iboto maen gondang
30 Oktober 2007 at 9:18 pm
@borue
ido? ise do goarmu ito/lae?
31 Oktober 2007 at 12:52 am
@Ito Sorta.
Sekadar bagi pengalaman Ito. Taganing apa tagading, sama-sama benar, tergantung daerah. Tapi untuk Toba, taganing sepertinya lebih umum.
Tak akan ada padanan bahasa Indonesia untuk urdot. Gerakan tubuh dalam urdot, hanya vertikal, atas bawah. Tak hanya bokong, bagian tubuh yang lain pun tak boleh bergerak bolak-balik ke samping. Kalo posisi berdirinya miring ke samping, tak apa-apa, kadang emang begitu kalo panortornya udah “tinggi”.
)
irama yang diikuti adalah iramanya sarune. Semua instrumen gondang bergerak untuk irama atau ritme yang sama kok. Mungkin maksudnya sesuai melodi atau logu pada sarune. Wah, itu sih udah panortor kelas tinggi, yang tentunya hapal melodi-melodi sarune dan tanganing, yang sangat beragam itu.
Tapi memang ada kebiasaan, panortor belum akan bergerak, sebelum sarune berbunyi. Soalnya, ada parsarune yang baru akan mangultong sarunenya, setelah seluruh instrumen lain dimainkan pada ritme yang kompak dan tepat. Satu saja instrumen itu lari dari ritme yang sedang dimainkan, parsarune akan sangat tersiksa. Bagaimana tidak, dia ingin bilang, tapi mulutnya sedang mengulum anak sarune. Melirik-liriklah dia.
31 Oktober 2007 at 12:47 pm
horas laeku / hula hula i .
Gondang dikatakan musik pemuja setan ??? komentar itu sering kudengar. Jangankan gondang, pendeta dilanggatan pun bisa panggil setan …
Mau bukti. yang mengatakan ulos, gorga atau apaupun itu terkait dengan prosesi adat adalah sirik hukumnya ya itu SETANNYA. Luar biasa identitas dirinya dikatakan pemuja setan.
Saat ini banyak sekali kelompok yang mau dan berniat menghilangkan identitas diri kita sebagai BANGSO BATAK. Sialnya pemikiran seperti itu datang dari kaum kita sendiri yang sudah dicekoki dengan pemikiran kapitalis.
Kita tak sadar bahwa ratusan tahun lalu, identitas diri bangsa kita ini di rubah oleh kolonial yang membonceng para penyebar agama. Jawa dirubah dengan budaya hindu dan islamnya, sebagian besar bangsa Batak dirusak dengan budaya kristen dan katoliknya.
Penyebaran agama dahulunya adalah kompetisi kaum kapiltalis yang berlomba lomba mengembangkan budaya mereka dan bertujuan merusak identitas bangsa lain dengan dogma mereka miliki.
Yang tinggal sama kita apa? Budaya kita nyaris hilang tak berbekas.
Islam itu budayanya bangsa arab , kristen dan katolik itu budayanya bangsa eropa dan amerika, budha dan kong fu tse nya itu budaya bangsa china , hindu itu budaya bangsa india , shinto budaya bangsa jepang. Dan yang mau aku katakan, hingga kini mereka bertahan dengan identitas diri mereka dan akhirnya menjadi bangsa yang besar.
Jadi aku mau katakan, masuknya budaya asing ratusan tahun lalu adalah kecelakaan sejarah. SEBAGAI BANGSO BATAK agama kita adalah budaya BATAK.
Buat Lae Vicky maju terus, mari kita “jajah” bangsa lain dengan musik gondang batak.
HORAS
31 Oktober 2007 at 1:25 pm
Horas Appara Vicky…. Pertama melihat VCD lae di simpang terminal amplas di Medan, langsung kusambar…. Ini dia musik yang kucari-cari. Mantap kali dan ok punya….Tentang pikiran-pikiran yang seperti di blog ini, memang sudah menjadi tugas tambahan bagi Appara untuk memberi pencerahan.
Kita memang sedang mengingkari “habatakon” kita sendiri. Gereja Batak tak ada musik Batak… pesta Batak (kawin, meninggal, dsb) nihil uning2an orisinil. “Iman memimpin pikiran” , demikianlah hendaknya “Gereja memimpin kebudayaan”. Persoalannya, pemimpin gereja telah dilibas politik dan uang sehingga lupa memikirkan implementasi iman pada adat kebudayaan….raja-raja adat pun telah ambil jalan pintas… sehingga tak pusing dia menyanyikan “oooo burunggg nyanyikanlah…” saat mengulosi borunya. Kudengar Appara mengarrasement lagu ramadhan…baguslah itu…, tapi bahen jo attong arrasement lagu-lagu buku ende i, dohot koor Gereja Batak….Ok…selamt berjuang ma ate…Kunantikan perwujudan iman Appara Vikky di jalur musik….memimpin musik Batak demi kemuliaaNYA…Horas….
31 Oktober 2007 at 11:02 pm
@andi siahaan
“…sebagian besar bangsa Batak dirusak dengan budaya kristen dan katoliknya”
Kalo menurutku tidak begitu lae.
Dalam hal Kristen.
Nomensen menyebarkan ajaran Kristiani, kita musti bersyukur, tanpa dia orang batak MUNGKIN (looh..) gak akan kenal Kristus Juru Slamat. Nomenssen dalam mengajarpun masuk melalui budaya. Buktinya dia diterima dan diizinkan oleh Sisingamangaraja XI pada pertengahan abad ke-19. Berarti Sisingamangaraja XI melihat ajaran Nomenssen dan Ugamo Parmalim (yang diaanut S.XI itu) TIDAKlah bertentangan. TAPIIIII…, bagaimanapun, Nomenssen juga harus mendapat perlindungan dari pemerintah di rura silindung pada saat itu yaitu The Bloody DUTCH. Halak Bolanda. Just in case ada apa2. Belanda mengizinkan tapi melarang adanya ritual budaya batak dalam gereja karena takut akan membangkitkan nasionalisme. karena belanda bermaksud memecah belahkan Tanah air, supaya gampang mendudukinya. Yang diinginkannya adalah simply hasil bumi Indonesia. Memang pukimak juga Belanda itu… Nah penerus Nomenssen itu lah, gak tau siapa, yang menelan bulat2 ajaran Kristen yang dibawa Nomenssen tanpa melihat ada “titipan” politik didalamnya, sehingga budaya Batak dibilang sipele begu. Budaya Setan! pukimaaak… (sori, anak medan, chooy)
Dalam hal Katolik.
Kalo Katolik kaya nya asik2 aja tuh. Malah di huta, Gereja katolik satu-satunya gereja yang ada gorga Bataknya dan menggunakan Gondang untuk pengiring Missanya. Bahkan ada Gereja Katolik yang mau nyiapin tempat untuk menyimpan dan merawat barang-barang bersejarah milik leluhur Bangso Batak. Karena Uskupnya tau sekali Budaya Batak dan ajaran Katolik tidak bertentangan.
” “jajah” bangsa lain dengan Gondang Batak”.. hahaha lucu juga tuh.
@Saor Silitonga
)
Wah, kalo beli di terminal amplas, bajakan dong tuh.. waduh makan apa aku ini nanti.. hahaha. becanda appara..(tapi sambil genggam hujur
eniweii, mauliate bah atas dukungannya.. it means a lot!
Buku Ende? blum tertarik tuh. kalo gak salah itu kan karya halak eropa juga, yang dialih bahasakan jadi bahasa Batak. Kalo ada lagu rohani karya halak kita asli, aku mau
1 November 2007 at 1:19 am
@ andi siahaan
Aku tertarik dengan comment Lae:
“Dan yang mau aku katakan, hingga kini mereka bertahan dengan identitas diri mereka dan akhirnya menjadi bangsa yang besar.”
Sementara sebahagian halak hita, malah bangga bila dia bisa menanggalkan habatakon itu.
1 November 2007 at 6:12 pm
@Viky Sianipar
@andi siahaan
Maantaaap. Ini soal yang jarang dibahas halak kita : penolakan HKBP terhadap sebagian unsur budaya batak dan peranan Nommensen dibalik “politik pemusnahan budaya” itu.
Biar akurat, kita tengok dulu sejarah gereja keseluruhan.
Katolik dari sononya memang sinkretis, mengawinkan seremoni keagamaan dengan tradisi budaya lokal. Di Papua Nugini, gambar bayi Yesus pada kartu natal rambutnya keriwil-keriwil, kulitnya keling. Di Jawa pastor memakai wayang untuk kotbah. Di Tapanuli gereja katolik pake gorga. Wajar saja, karena katolik dari sononya memang sinkretis, mirip NU kalo di Islam.
Apakah katolik lebih ramah atau bersahabat dengan budaya batak ? Silakan kau simpulkan sendirilah.
Protestan sendiri tadinya bagian gereja katolik, tapi “berontak”, karena katolik menyeleweng dari ajaran Yesus. Bukan hanya praktek sinkretismenya sudah terlalu jauh “selingkuh” dengan agama-agama Eropa purba, tapi katolik sendiri sudah melakukan “makar” terhadap Tuhan, dengan menjual surat pengakuan dosa.
Terlalu panjang untuk dibeberkan disini sejarah gelap gereja katolik, terlalu memilukan untuk diuraikan bagaimana ribuan perempuan lugu dibantai di Eropa, dengan tuduhan perempuan penyihir. Bayangkan, gereja ketika itu punya tentara sendiri dan pasukan khusus untuk menghabisi apa yang disebut musuh-musuh gereja. INQUISITOR namanya.
Singkatnya, ini sejarah yang sudah basi, Martin Luther yang kelewat “enek” kemudian nekad membangkang. Pastor Jerman itu menempelkan di pintu gerejanya pamflet protes terhadap paus. Lahirlah protestan, dibuatlah doktrin baru gereja yang berambisi menjalankan ajaran Yesus secara murni, dengan menitikberatkan pada Injil. Artinya, unsur-unsur tradisi budaya Eropa purba, termasuk menyembah patung-patung, dihapuskan dari ritual ibadah.
Protestan dari sononya memang penentang sinkretisme, mirip-miriplah dengan Muhammadiyah di kalangan Islam di Indonesia. Wajarlah kalau Nommensen dari awal sudah membuat pagar, supaya unsur-unsur tradisi budaya batak yang bertentangan atau tidak sejalan dengan doktrin Protestan dicegah masuk ke lingkungan HKBP.
Harap kita maklumi, ini terutama buat lae Viky, gorga waktu itu bukan sekadar corak ornamen rumah batak seperti dihayati banyak orang batak sekarang ini. Gondang juga bukan sekadar musik. Gorga dan godang adalah bagian dari ritual agama lama batak, mungkin hampir sama maknanya dengan salib bagi kalangan kristen. Misalkan saat ini orang batak kristen “diparmalimkan” seluruhnya, apakah parmalim akan membiarkan pengikutnya memasang salib di rumah ibadah ?
Dalam setiap pergantian “penguasa” di bidang apa saja dan dimana saja di kolong langit ini, penguasa baru selalu mensterilkan “daerah” yang baru dikuasainya dari idiom atau ikon yang berkaitan dengan “ideologi” penguasa lama. Namun biasanya setelah penguasa baru mapan dan pede, dia akan mentolerir sebagian idiom atau ikon “penguasa lama” yang terlanjur dicintai banyak orang.
Itulah yang terjadi pada gondang dan gorga sekarang ini. Diam-diam HKBP membiarkan jemaatnya memainkan gondang, manortor dan menghiasi rumah masing-masing dengan gorga. Makanya sabar pren, nantinya gorga dan godang niscaya diterima di gereja HKBP, karena dua idiom atau ikon agama lama batak itu sudah tinggal sekadar ornamen dan musik yang unik. Sudah gak ada rohnya.
Mengenai Nommensen, salah besar kalau sampai ada anggapan dia punya kekuasaan mutlak untuk menentukan mau seperti apa HKBP. Nomemmensen membangun HKBP sesuai doktrin protestan Eropa dan semua problematik kristenisasi di Tapanuli selalu dia konsultasikan dengan atasan-atasannya di Eropa. Baca biografinya dong.
Aku mengagumi Nommensen bukan karena dia menyebarkan agama kristen di Tano Batak. Aku mengagumi orang Jerman dengan latar belakang udik ini, karena kecintaannya pada Bangso Batak dan karya-karya besarnya yang telah membebaskan Bangso Batak dari kultur “bunuh diri” yang sangat akut. Perang antarmarga, perang antarkampung, perbudakan dan praktik pemasungan telah menyebabkan pertumbuhan penduduk negatif. Dampaknya tenaga kerja untuk pertanian tidak mencukupi dan tidak ada situasi tenang untuk bertani sehingga Bangso Batak selalu terancam bahaya kelaparan. Untunglah Nommensen datang!
1 November 2007 at 8:54 pm
Santabai ma di hamu sian iba nabaru mandohoti, paloas hamu ma jo iba dohot. Las situtu roha manjaha angka tulisan dohot pendapat na adong di blog on, mauliate ma di hamu Lae Siahaan namamangke keahlian muna mambahen blog on gabe boi pajumpang angka pendapat na berbeda, ujung na dapot kesepakatan entah sepakat karena sudah ada titik temu manang sepakat dalam perbedaan, jauh lebih bagus daripada masi ogapan songon na biasa terjadi.
Menurut pendapatku, sangat sederhana aja, menanggapi pro kontra tentang alat musik termasuk gondang, ulos dan instrumen lain dalam adat batak, yang diciptakan oleh orang lain untuk mencapai tujuannya dan tujuannya itu akan mengarah kepada berhasil kalau semakin sengit perdebatan i, karena akan ada yang menjadi bimbang dan ragu dan menjadi menjauhi gondang, ulos, dan intrument-instrument adat, alana terutama generasi-generasi na hurang kuat dasar dan pemahamanna tentang habatakon secara keseluruhan (memang dang sude) alai ido, sada pe dapot naung ragu dohot bimbang nga merasa berhasil nasida. alai boha ma bahenon molo so adong penjelasan yang mencerahkan sian na so setuju, annon muncul pula pemahaman baru yang meng-ya-kan pendapat penghasut yang berpikir terlalu sempit itu.
Pendapat dohot sikaphu nasederhanai ondo tu nasida: “Anda ngomong apa pun sampai berbusa-busa silakan, aku ngak ngaruh dengan pendapatmu”. Segala sesuatunya baik adat batak, termasuk seluruh alat musik baik tradisional maupun modern itu hanyalah alat untuk membantu mencapai tujuan apakah mau memanggil begu dohot sibolis dan memujanya atau untuk Memuliakan Tuhan atau hanya sekedar pasombu lungun, ya ini juga bisa digunakan kok jadi obat pasombu sihol dohot pamalum lungun. Yang salah dan berdosa adalah manusia bukan alat, alat tidak pernah bisa dituntut memberikan tanggung jawab, alat hanya akan bekerja sesuai dengan system dan program yang diberikan kepadanya, tapi manusia bisa berpikir dan bertindak, dan menghasut, tergantung apa peran dan tujuan yang hendak dicapai. Sorry, saotik gabe agak bias sian judul, alana lagi hangat do huroa on nuaeng, gondang, sipelebegu adat, ulos dohot habatahon.
Tapi manusia (sebagian mungkin ate) juga kita akui sangat lemah dan rapuh, terkadang situasinya seolah jadi terbalik manusia jadi berperan sebagai alat dan bisa diperalat dan alat bersifat seolah bisa berpikir bahwa manusia itu juga dongganna alat jadi boi diparalat mencapai tujuan. Sudenai bersumber dari manusia itu sendiri yang merasa telah paling beriman seolah telah dikasih surat tugas dari Tuhan, untuk menghakimi dan mnejelek-jelekkan hasil ciptaan ni omputta si jolo-jolo tubui, naung terproses ratusan tahun sian naso tumanda huruf dohot nada sampe menjadi instrument yang terbukti mengagumkan dunia karena dimainkan oleh para ahli dan pakarnya seniman songon lae Viky, Lae Toga, Lae Suhunan, Lae Nainggolan dohot angka na asing termasuk angka panortor dohot painondur alai terkadang digaori angka panggunturi. Mauliate.
2 November 2007 at 6:24 pm
Menyambung komentarku sebelumnya, salah satu bukti nyata akulturasi katolik dan budaya dapat dilihat pada gereja akulturasi batak karo ini :
Atau klik disini.
Thx for somebody, “RumahBolon” for the pic..
20 November 2007 at 9:46 am
Yang belum disadari oleh penulis dan kebanyakan para komentator adalah ini: UNTUK MEMPELAJARI ALAM SUPRA-NATURAL ADA DUA JALUR!
JALUR PERTAMA adalah jalur di LUAR Kristus, jalur yang sudah dijalani oleh orang-orang sebelum mengenal Kristus (termasuk yang di Tanah Batak, sebelum Injil dibawa ke sana);
JALUR KEDUA adalah jalur di DALAM Kristus, sementara Yesus Kristus adalah PENGUASA Supranatural dan Natural, sekaligus! Jalur yang ke-2 ini hanya mungkin ditempuh oleh orang-orang yang sudah benar-benar bersenyawa dengan Yesus Kristus, sesuai kehendakNya, dicatat di dalam Yohanes 15:1-5!
Orang-orang ini bukan sekedar beragama Kristen atau sekedar rajin ke gereja. Orang-orang ini berpenampilan: Hidupku berpusatkan Yesus Kristus, Rajaku. Orang-orang ini mentaati Raja mereka, sampai kepada perintah Yesus yang menuntut banyak pengorbananpun akan dilakukannya.
JALUR Ke-2 inilah yang membawa orang yang menelusurinya semakin dalam kepada kehidupan di dalam Yesus Kristus, bukan kepada penghayatan lainnya (budaya, sastra sekuler, dsb.). Ke dalam TERANG Kristus.
Saudara-saudara yang mau aman belajar dan bertindak di dalam alam supranatural, harus menempuh jalan ke-2, sebab yang lainnya akan berujung kepada KEGELAPAN.
Salam dalam kasih Yesus.