[sahat m nainggolan; blog berita; mari lestarikan gondang]
Sejarah gondang dalam gereja HKBP.
Artikel ini ditulis oleh Sahat M Nainggolan dari Malaysia. Sahat biasa berkomentar di Blog Berita dengan memakai nama alias SMN atau Kairo.
SERING KITA MENDENGAR perkataan bahwa ‘Gondang ialah Musik Sipelebegu’. Arti ‘Sipelebegu’ sendiri ialah pemuja setan/roh (iblis) dan ‘hasipelebeguon’ adalah segala sesuatu, baik ritual, upacara yang berhubungan dengan sipelebeguon. Tetapi sebenarnya istilah ‘Sipelebegu’ sendiri tidak pernah disebutkan oleh orang batak kepada dirinya. Istilah itu dipopulerkan oleh para misionaris dan kolonial belanda merujuk kepada ritual agama tradisional dan upacara adat batak.
Mengapa istilah ’sipelebegu’ ini ada? Kemungkinan karena masing-masing pihak punya ‘kepentingan’ khusus. Untuk para misionaris mereka menginginkan agar orang batak yang sudah kristen itu tidak lagi menjalankan ritual agama tradisional dan upacara adat batak yang berhubungan dengan dunia roh. Sedangkan kolonial Belanda menganggap dengan masih adanya ritual tradisional maka ikatan emosi, marga dan kesukuan dapat membuat mereka bersatu dan memberontak kepada pihak kolonial.
Sejak tahun 1864, Gereja Protestan Batak Toba, HKBP, telah bergulat (struggled) mengenai kebijakannya terhadap Adat, tortor dan Gondang sabangunan yg erat hubungannya dengan kehidupan tradisional batak toba. Pada masa itu Gereja melarang orang batak toba yang sudah kristen untuk mengikuti upacara ritual tradisional, tortor dan gondang. Sedangkan bagi orang batak toba sendiri hal tersebut sudah mendarah daging turun-temurun intergenerasi jauh sebelum para misionaris itu datang dan mengajarkan kekristenan di tanah batak. Hal ini menjadi dilema untuk HKBP yang beraliran lutheran dan mayoritas jemaatnya orang batak toba.
Fungsi musik gondang sendiri dalam kepercayaan agama tradisional dan upacara adat batak ialah sebagai salah satu elemen penting yang tidak dapat dipisahkan. Sama halnya dengan tortor dan gondang, keduanya berjalan seiringan dalam suatu upacara adat batak toba dan salah satunya tidak dapat dihilangkan. Dan agama tradisional batak menempatkan musik Gondang sebagai suatu media komunikasi antara manusia dan Tuhan pencipta.
Dalam perjalanannya HKBP yang pada masa itu masih dipimpin oleh Misionaris jerman Nommensen menyadari setelah mereka mempelajari dan mendalami aspek-aspek kehidupan orang batak dan mereka berkesimpulan bahwa mereka melihat tortor, gondang dan adat sangat susah dihilangkan dari kehidupan orang batak toba. Walaupun mereka sudah menjadi orang Kristen di sisi lain mereka masih juga ikut dalam ritual tradisional dan upacara adat. Maka pada tahun 1924, para Misionaris itu merumuskan lahirnya ‘Aturan Disiplin’ (order of discipline) atau dalam bahasa bataknya ‘Uhum Parhuriahon Siingoton ni angka Huria Kristen Batak).
Yaitu berisi aturan dasar atau batas-batas yang harus dipatuhi, dalam aturan disiplin itu orang batak toba yg kristen dilarang untuk mengikuti ritual tradisional dan upacara adat yang disinyalir berhubungan dengan dunia roh termasuk penyelenggaraan gondang yang bertentangan dengan iman kekristenan. Jika jemaat ada yang ingin melakukan atau mengikuti hal tersebut harus meminta ijin permisi dahulu dari sinode Gereja setempat. Jikalau ada jemaat yang ketahuan melanggar maka akan ada sanksi yang diberikan contohnya tidak diperkenankan untuk mengikuti perjamuan kudus atau dinon-aktifkan dari keanggotaan gereja.
Pada 10 May 1940, Pendeta K.Sirait diangkat menjadi Ephorus batak pertama, maka tampuk kepemimpinan Dewan Gereja HKBP dipercayakan kepada suku batak sendiri. Dan kemudian perlahan ‘Aturan Disiplin’ tersebut agak diperlonggar. Para Pimpinan Gereja yang orang batak itu menyadari bahwa gondang dan tortor semata-mata tidak dapat dihilangkan secara total dari kehidupan adat orang batak toba. Kemudian dewan gereja perlahan merevisi kembali aturan disiplin tersebut.
Bulan Juli 1968, di Pematang Siantar diadakan ‘Seminar Adat di HKBP’, pada acara Seminar itu hadir 8 pembicara yang membahas 7 topik penting yang berkaitan dengan pelaksanaan Adat, Ritual penguburan, Mangokkal Holi(reburied), Parjambaran (hak adat), Gondang, Aturan Warisan, Pembuatan Tugu dan ritual kelahiran anak. Dalam seminar tersebut M.L Siagian berpendapat bahwa dalam upacara adat penguburan jenasah orang yg sudah lanjut usia (saur Matua) diperbolehkan untuk memakai musik Gondang. Kenapa kita mesti takut memakai Gondang musik dengan alasan akan bangkitnya ‘hasipelebeguon’, atau kenapa melarang Gondang dalam merepresentasikan penghormaan dan rasa berkabung? atau Kapan kita bisa memberikan kesempatan kepada orang batak yg punya talenta untuk mengadaptasikan gondang dan tortor dalam acara kristen? (Mauly Purba: 2005).
Sedangkan B.A Simanjuntak berpendapat bahwa pemakaian gondang dan tortor bisa kita gunakan dalam ritual kristen, dan gondang tidak boleh dilupakan tetapi pelaksanaannya mesti dimonitor agar berjalan sesuai dengan iman kekristenan. Kemudian Simanjuntak menyarankan dalam upacara Saur matua misalnya agar urutan repertoir Gondang yang dipakai ialah Gondang Somba-somba, Gondang Bane-bane dan Gondang Hasahatan/Gondang Sitio-tio.
Lalu pembicara lainnya D.F Panjaitan juga setuju agar Gondang dan tortor tetap dipelihara oleh orang batak kristen. Dan dalam seminar itu juga dihasilkan beberapa revisi-revisi dari Aturan disiplin yang berhubungan dengan rituap upacara adat. Maka sejak itu penggunaan Gondang dan tortor (menari)dalam upacara adat Mangokkal holi, Saur matua dan lainnya diperbolehkan dan mereka juga merevisi aturan disiplin agar Inkulturasi penggunaan gondang dan tortor tidak bertentangan dgn Iman Kristen.
Dan pada prakteknya penggunaan gondang dan tortor dapat disinkronisasikan dengan acara kristen seperti yang belakangan ini saya lihat. Jadi Gondang bukanlah musik Sipelebegu, tetapi warisan seni musik yang perlu kita jaga agar tidak punah, dan Inkulturasi pemakaian gondang dan tortor pada Gereja batak toba menjadikannya semakin unik, dan tetap melestarikan aset kebudayaan leluhur/nenek moyang suku batak. [www.blogberita.com]
Silakan bila ingin mengutip artikel dari blog ini, dengan syarat menyebut sumber dan nama penulisnya. Bila dikutip untuk website, weblog, atau milis, maka tuliskanlah sumbernya www.blogberita.com dan buatkan link ke artikel bersangkutan. Bila dikutip untuk koran, majalah, bulletin, radio, televisi, dll, maka tulislah/ sebutkanlah sumber kutipannya; www.blogberita.com.
Bila kau ingin menulis artikel, kirimkan via imel, blogberita [at] gmail [dot] com; sertakan fotomu bila engkau mau.


25 Oktober 2007 at 3:36 pm
Dan gondang, tortor, ulos dan jenis budaya lain hendaknya mendapat tempat pada masyarakat batak kristen. Mengapa? Di Injil ada tertulis kira-kira begini: “Bila engkau diterima di suatu rumah, tinggallah di rumah itu sampai engkau meningggalkan rumah itu”. Arti kalimat ini menurut swaya: “Bila engkau diterima pada suatu tempat, daerah atau sejenis itu, maka ikuti dan hormatilah adat istiadat, tatacara maupun hal lain yang berlaku di tempat di mana kau berada”. Kristen datang ke Tanah Batak dan diterima di sana. Konsekuensinya, Kristen harus menerima budaya Batak sebab sudah tertulis di Injil. Tidak menerima budaya tsb. berarti tidak Injili.
Saya pernah tinggal di Kupang selama 6 bulan. Di sana umat Kristen boleh kawin resmi tanpa pemberkatan nikah dari gereja. “Pelanggaran” itu bisa berlangsung sampai pasangan itu beranak cucu bahkan ada yang tak pernah mendapat pemberkatan nikah dari gereja sampai ajal menjemput mereka. Kalau hal semacam itu diberangus oleh gereja maka gereja tak begitu laku alias tak direken di sana.
25 Oktober 2007 at 4:26 pm
saya rasa wajar aja ada yg berprangsaka demikian, itu bentuk progress iman sesorang thd kepercayaannya, namun menurut pendapat saya pandangan gondang merupakan bentuk pemujaan Setan, terlalu sempit untuk di bawa ke permasalahan iman kepercayaan, ketahuilah bahwa iman yg kita percaya juga punya kuasa untuk mengusir kuasa kuasa jahat yg ada pada gondang tersebut, dan ini kembali kepada pribadi pribadi yg menpercayai ada tidak ada nya kuasa setan di Godang tsb.
@Dian Sidauruk (laki-laki)
saya rasa anda terlalu prematur dalam 6 bulan sudah bisa menyimpulkan :
“Kalau hal semacam itu diberangus oleh gereja maka gereja tak begitu laku alias tak direken di sana.”
25 Oktober 2007 at 4:57 pm
Setuju tdk setuju, mau atau tdk mau kita harus mengakui bahwa goddang dan tortor itu dahulu digunakan sebagai sarana ritual untuk hal2 yg berbau roh, terutama pemujaan terhadap roh2 nenek moyang. Walupun demikian kita tdk usah alergi terhadap yg namanya tortor, goddang maupun adat. Yg perlu kita lakukan adalah mensinkronkan adat,goddang dan tortor itu dgn ajaran agama. Kalau dulu itu digunakan untuk memuja roh alangkah baiknya kalau sekarang digunakan untuk memuji Tuhan. Kita harus menyadari cepat atau lambat segala sesuatunya pasti akan berevolusi dan mungkin suatu saat goddang, tortor dan adat Batak itu sendiri akan punah.
25 Oktober 2007 at 5:15 pm
Wah, saya baru ngeh setelah baca info ini.
25 Oktober 2007 at 5:20 pm
Saya sangat setuju kalau gondang [musik tradisional batak], bukanlah musik sipelebegu. Gondang adalah salah satu dari kekayaan seni budaya batak. Alangkah indahnya kalau musik tradisional kita ini selalu dipadukan dengan musik modern dalam pelaksanaan ritual-ritual gereja Batak.
Di daerah Bantul, Yogyakarta, kalau saya tidak salah ingat, gereja Katholik Ganjuran & Gereja Katholik Kota Baru, sangat kental dengan budaya Jawanya. Dalam setiap ritual gereja, gamelan tidak pernah ketinggalan sebagai salah satu instrument yang dipergunakan. Jadi, dari setiap khasana seni budaya tidak ada yang salah untuk dipakai sebagai bagian dari ritual gereja. Semua itu sudah jelas untuk memuliakan Tuhan yang hidup, dan bukan tuhan yang mati.
Syaloom.
25 Oktober 2007 at 6:03 pm
@JoeGoel.
Saya pernah tinggal 6 bln. di sana. Selama 6 bln. itu saya bersosialisasi dengan berbagai bentuk, kondisi atau keadaan masyarakat setempat. Dari sosialisasi itu saya memperoleh banyak informasi, pengetahuan dan pengalaman. Selama 6 bln. itu pula rumah penduduk di sana sering menjadi rumah saya (walau saya diberi fasilitas oleh perusahaan). Di sana bukan suatu yang tak lazim kawin tanpa pemberkatan dari gereja. Mereka sudah tinggal serumah, ada yang belum punya anak, ada yang sudah punya anak dua atau tiga orang dan ada pula yang sudah bercucu.
Dua di antara mereka yang sudah bercucu itu, 1 keluarga tinggal di Soe, Kab. Timur Tengah Selatan, NTT dan 1 keluarga lain tinggal di Tenau, Kotamadya Kupang. Sedikitnya itulah yang sudah bercucu yang saya temani makan singkong sambil ngobrol sabtu atau minggu dan bersama saya ke gereja. Mereka menjelaskan kepada saya bahwa mereka belum menikah secara gereja padahal mereka tahu bahwa hal itu bertentangan dengan aturan gereja bahkan oleh pastor dan pendeta hal itu diketahui tetapi tak menjadi penghalang menerimakan komuni (hosti) bagi mereka.
Kata mereka: “Kalau adat atau tatacara seperti itu dilarang oleh gereja maka gereja akan kosong sebab kebanyakan penduduk di sini begitu”
Saya tak mengatakan bahwa keadaan itu berlangsung ketika saya berada di sana selama 6 bln dan lalu saya simpulkan bahwa yang 6 bln itu mejadi “statistik” mereka.
Semua itu adalah fakta dan fakta itu menurut sekelompok orang adalah amoral dan menurut sekelompok orang lain tak melanggar moral alias itu adat mereka.
25 Oktober 2007 at 8:20 pm
Herannya, instrumen musik piano, organ, trumpet, biola, yang nota-bene produk orang asing itu, tak dicurigai membawa roh setan atau kuasa gelap, ya? Siapa tahu dulu semua alat musik tersebut semata-mata dibuat bukan untuk memuja Tuhan. Tapi karena dorongan “sense of music” dalam diri seseorang, atau utk mewujudkan gelora ritual dan budaya masyarakat di mana alat-alat musik tersebut diciptakan. Siapa tahu pula kalau ternyata justru Tuhan-lah yang menyuruh manusia membuat semua alat-alat musik itu, termasuk instrumen gondang sabangunan yang terdiri dari jejeran kendang/perkusi, sarune/terompet, dan ogung/gong itu?
Sayangnya, kian banyak saja manusia yang beragama sekarang ini yang begitu mudah dan dengan arogan menuduh sesuatu sebagai karya setan, bertentangan dengan firman Tuhan; juga menuduh orang-orang yang tak sealiran dengan cara ibadahnya sebagai orang sesat, tak mengenal Tuhan. O…makhluk-makhluk yang memahami agama secara sempit, betapa lelahnya mencurigai apa saja yang menurut kalian bertentangan dengan ajaran agama.
Sekadar contoh, dua minggu lalu di gereja tempatku biasa berkebaktian Minggu, seorang pengkhotbah wanita (bibelvrow dari kantor pusat HKBP) bilang begini: “Di zaman bangso Batak masih dikuasai kegelapan atau sebelum agama Kristen mulai dianut masyarakat, nama-nama anak yang baru lahir banyak yang berbau si pele begu. Misalnya, Marsillam, Ronggur, dll. Tetapi sesudah Kristen masuk, nama-nama orang Batak tidak lagi si pele begu. Contohnya Johanes, Matius, Jakobus, Jeremia, dll.”
Aku tertawa kecut. Apakah agar kelihatan ‘orang beriman’ maka setiap nama orang harus diambil dari nama-nama yang ada di kitab suci?
Siapa bilang nama-nama seperti Marsillam, Ronggur, berbau kuasa setan? Apakah ada korelasi nama dengan keimanan seseorang? Ada-ada saja yang menggelikan dari manusia-manusia yang merasa dirinya paling paham agama dewasa ini.
Kenapa tak sekalian saja disuruh agar semua penganut agama itu memakai busana seperti busana orang-orang Timur Tengah–asal-mula turunnya agama tersebut–di zaman dulu; memakan makanan yang biasa mereka makan; berbicara seperti bahasa yang mereka gunakan; berbudaya seperti budaya mereka, dan berkendaraan seperti kendaraan mereka dulu: keledai dan unta! hehehe….
25 Oktober 2007 at 8:39 pm
Baiknya agama memang harus membaur dulu dengan adat istiadat masyarakat setempat, baru “perlahan” di jelaskan melalui tindakan dan perbuatan para pemeluk agama tersebut bahwa agama tersebut lebih baik daripada sistem yang udah di jalankan oleh masyarakat sejak lama. Kita gag boleh langsung memaksakan dan mendoktrin suatau ajaran tsb ke dalam perilaku masyarakat yang udah menjadi tradisi dari dulu ke dulu. Kalau seperti itu biasanya agama akan segera di usir dari kehidupan masyarakat tersebut.
Harus perlahan. Biar lah masyarakat yang menilainya baik atau enggak, tentunya melalui tindakan2 positif dari para pengabar ajaran agama tersebut.
Agama juga harus bisa berjalan beriringan dengan adat istiadat. Seperti kristen yang beriringan dengan adat Yahudi maupun islam yang beriringan dengan tata cara dan adat istiadat masyarakat Arab. Kalau dengan Yahudi atau Arab aja bisa kenapa dengan Batak tidak bisa, pastinya ada beberapa hal negatif yang perlahan kita hilangkan dan ada hal positif yang perlahan kita kembangkan agar lebih memajukan utk kita bersama
25 Oktober 2007 at 8:43 pm
Gondang Batak merupakan salah satu kekayaan orang batak. jadi sudah sepatutnya kita lestarikan dan hargai. Orang mau menilai gondang sebagai musik pemuja setan, terserah mereka. Yang penting, gondang bukan untuk memuja setan, tapi sebagai pencerminan kebudayaan kita. Memang, saya sendiri berpendapat gondang mempunyai misteri karena setiap mendengar bunyi gondang serasa sebagian dari jiwa ikut terbuai dalam aluan suaranya. Dan bisa mempermainkan emosi.
Sekarang ini sudah jarang sekali terdengar suara gondang bahkan di kampung-kampung sekali pun. Dan ada kerinduan tersendiri dalam diri saya untuk mendengar alunannya yang mendayu-dayu.
Semoga, kita sebagai Bangso Batak bisa melestarikan gondang..
Horas..
25 Oktober 2007 at 10:17 pm
Saya berpendapat jka pemakaian gondang dan tortor sebagai bentuk pelestarian aset kebudayaan leluhur/nenek moyang suku batak.
Menyatukan suatu kebudayaan dengan agama kadang sering menimbulkan salah paham atau bahkan perselisihan. Oleh sebab itu keterbukaan dan kematangan dalam hal kedua-duanya (baik iman maupun pengetahuan tentang budaya yang bersangkutan) harus dapat mengimbangi.
26 Oktober 2007 at 12:11 am
Seharusnya memang kebudayaan setempat dapat disinkronisasikan dengan agama, seperti kebanyakan penyebaran agama di Indonesia ada juga seni dan budaya setempat dipakai menjadi jalan untuk mengenalkan agama, seperti contohnya: Wayang, Ketoprak, dll. Malahan lebih menarik dan seruu.
Bagaimanapun juga terlepas dari ‘agama’, musik Gondang ialah seni warisan leluhur batak yg harus tetap dipertahankan. Gondang menjadi satu ‘marker’ kebudayaan batak dan aku menurutku seni musik etnik Gondang menjadi salah satu aset bangsa kita. Harusnya, malahan pemerintah daerah Tapanuli mengagendakan seni musik Gondang sebagai aset yang harus dilestarikan, misalnya memasukan mata pelajaran Gondang dalam mata pelajaran kesenian(seni musik). Jika Gondang punah, maka bangsa batak dan Indonesia kehilangan salah satu seni musik warisannya. mauliate.
26 Oktober 2007 at 12:15 am
Salam kenal tulang Sahat Nainggolan. Kupanggil tulang karena mamaku boru Nainggolan.
Tulisan tulang SMN berhasil memetakan secara holistik isu lama yang masih terus aktual ini. Tapi karena situasinya sudah jauh berbeda, dimana pengaruh HKBP terhadap kehidupan sosial masyarakat batak kristen sudah menciut, kurasa aktualitas isu ini tinggal hanya bersifat wacana.
Pendapatku, pada hakikatnya musik itu bersifat netral, termasuk ogung. Bisa dipakai buat apa saja asalkan jenis musiknya pas dengan semangat dan karakter kegiatan atau acaranya. Agak susah ngebayangin menyanyikan Indonesia Raya dala upacara bendera dengan iringan gondang hehehe…
Seperti semua musik tradisionil di dunia yang digunakan sebagai instrumen upacara transedental, ogung memiliki ciri : ritmis dan monoton. Hampir semua etnis di seluruh dunia memiliki musik seperti ogung, umumnya berupa alat musik tabuh dan tiup.
Irama yang ritmis dan monoton pada ogung fungsinya sama dengan membaca mantera-mantera, menimbulkan efek menenangkan dan bahkan mengistirahatkan pikiran — sehingga orang yang mendengarkannya terbawa ke alam “hipnosa” dan lanjutannya transedental atau kesurupan. “Metode” purba ini ternyata 100 % ilmiah, dalam arti jiwa manusia memang bisa dikondisikan untuk mengalami trans, tanpa unsur mistik atau magic sama sekali. Ini “makanan” ahli psiko-therapi.
So, apakah gondang musik pemuja setan ? Dulu mungkin ya, tapi sekarang… kaum okultis lebih senang yang hingar-bingar macam Sepultura atau metallica. Ini patut disayangkan, sebab kalau para “pemuja setan” atau okultis diseluruh dunia menyukai gondang, gak usah pusing-pusing lagi kita sampai mau bikin Propinsi Tapanuli segala , kita ubah saja fungsi mesin penggiling padi yang ada di Bonapasogit jadi usaha rekeman, lalu ekspor kaset, CD dan DVD gondang ke seluruh dunia hehehe…
26 Oktober 2007 at 3:54 am
Gondang Batak is the best, Apalagi uning uningan biarpun kata orang mengandung magis. Itu kan kata orang. Kataku sih tidak.. Yang penting enjoy aja..
26 Oktober 2007 at 6:37 am
@ Ito Dian Sidauruk (laki-laki)
@ Ito JoeGoel
Saya bekerja di sebuah agency untuk penyaluran tenaga kerja di Kuala Lumpur. TKW yang ada di company ini berasala dari 3 negara yaitu Indonesia, Philipina dan Cambodia. Dari Indonesia sebagian besar berasal dari Nusa Tenggara Timur, yang meli[uti Kupang, Atambua, Sumba Barat dan Flores. Daerah-daerah tersebut memang seperti yang ito Dian ceritakan. Hidup dalam perkawinan yang belum atau tidak pernah sama sekali diberkati di gereja. Karena bagi mereka biaya nikah sangat mahal.
Mereka sangat takut dengan adat dan leluhur. Makanya mereka lebih berani maengucapkan : ” Sumpah demi Tuhan ” dari pada harus mengucapkan ” Sumpah demi Nenek Moyang “.
Bagi mereka adat istiada adalah segalanya. Saya sering mendengar hal ini karena sehari-hari saya tinggal dengan mereka dan tiap hari ada saja TKW dari NTT yang tinggal di tempat saya. Jadi kami sering bertukar cerita tentang kebudayaan.
To bang JJ : Maaf OOT dikit… hanya mau berbagi cerita saja.
26 Oktober 2007 at 7:42 am
sebenarnya saya lebih suka membaca dari pada menulis,kalau menulis hasil nya lebih parah dari resep dokter(oot), saya berpendapat gondang ini harus lah dilestarikan karena merupakan bagian dari budaya itu sendiri,dan budaya itu lah yang membedakan manusia dengan hewan, dan kalau hanya untuk memuja sesuatu, itu tergantung dari niat kita.terima kasihku untuk orang orang tetap melestarikan nya
mauliate abang jj-horas
26 Oktober 2007 at 7:51 am
Saya sendiri tidak tahu,siapa sebenarnya yang pertama menghembuskan statement ini.Bagi saya pribadi hal ini merupakan suatu propaganda untuk menyesatkan bangso Batak,dan bila perlu membumi hanguskan seluruh adat istiadatnya,sehingga akan menjadi suatu suku yg tidak punya jati diri.Dulu sewaktu masa kecilku di kampung sana,pada saat suatu gereja akan melakukan pembangunan,suatu cara untuk menggalang dana adalah mengadakan suatu gondang, hingga tiga hari tiga malam,penyelenggara akan mengundang seluruh gereja yg ada disekitarnya,hingga kesuatu daerah yg sudah jauh dari tempat dimana acara diadakan.suatu cara yang positif dimana semua lapisan masyarakat akan turut ambil bagian disana.Nanti di akhir bulan ini,seluruh rakyat amrik akan berpesta halloween,bagiku acara ini adalah suatu yg bertentangan dengan ajaran kitab suci yg saya tau,tetapi siapa yg bisa menghapuskan ini? bisa marah seluruh rakyat,karena bagi mereka acara ini adalah suatu kesenangan,dimana mereka akan mengenakan costum yg aneh aneh dan berjalan dari pintu ke pintu untuk meminta gula gula,dan itu sudah merupakan tradisi turun temurun.Mari kita lestarikan budaya kita tanpa harus menghubung hubungkan dengan sebuah ajaran,yg mana kita sendiri belum tentu paham arti margondang itu,bagi leluhur kita ratusan tahun yg lalu.peaceeeeeeee.
26 Oktober 2007 at 7:55 am
Yang saya tahu segala jenis alat musik ada karena Tuhan mengijinkannya untuk ada. Tinggal tergantung pemakainya, digunakan untuk memuja Setan atau Tuhan.
26 Oktober 2007 at 8:18 am
Saya sangat tidak setuju kalau Gondang , Ulos dan Adat disebut perangkat untuk memuja roh, dan saya juga tidak setuju kalau disebut tanah batak dalam kegelapan sampai datangnya missionaris, karena nenek moyang orang batak telah memiliki ilmu yang tinggi sebelum kedatangan mereka.
Kalau disebut tidak sesuai dengan pemahaman mereka antara adat dan agama yang boleh – boleh saja, tetapi tak perlulah kurasa memberangus adat yang telah ditinggalkan oleh nenek moyang kita itu, justeru harus dilestarikan dan sepantasnya gondang juga bisa dibawa masuk kegereja sebagai musik pengiring lagu pada saat ibadah .
Aku jadi teringat pada thn 2003 yang lalu pada saat aku, istri dan anak pulang kekampung dan bertemu dengan mertua yang pertama kali ditanyakan :
Aha do agamam saonari amang ?(Apa agamu sekarang , nak ?) So tung gabe masuk hamu tu agama situtung ulos i ! (Jangan sampai masuk kalian ke agama yang membakar ulos itu !)
Saya juga kadang bertanya dalam hati kenapa, bangsoku ini lebih suka memakai kebudayaan eropa daripada kebudayaan bangsoku sendiri ,mereka lebih suka marjas dari pada pakai ulos, lebih suka organ tunggal daripada ongung sabangunan kepana yah ?
@ Amang Suhunan
Geok huhilala manjaha (Geli kurasa membaca) pendapat seorang pengkhotbah wanita (bibelvrow dari kantor pusat HKBP) bilang begini: “Di zaman bangso Batak masih dikuasai kegelapan atau sebelum agama Kristen mulai dianut masyarakat, nama-nama anak yang baru lahir banyak yang berbau si pele begu. Misalnya, Marsillam, Ronggur, dll.
Ah, bagaimana cara berpikir mereka yah amang ?
OOT :Saya sedang mengharapkan kehadiran anak dalam keluargaku, kalau Tuhan kelak memberi anak laki-laki padaku akan kuberi dia nama “Marsillam Sihabinsaran”
@ Lae JJ ,
Numpang yah sebenarnya ini pesan buat lae Merdi Sihombing, saya mau memohon lae Merdi Sihombing (sang designer halak hita) agar mau mendisain kain ulos mesa menjadi baju, kalau ulos tenunan mungkin agak susah dan pasarannya terbatas karena mahal laiknya seperti baju batik di palau jawa ini, mungkin ini sebuah cara kita untuk mendekatkan ulos kita kepada kita, minimal dimulai dari motif ulos jadi baju dengan harapan kita bangso batak makin cinta akan adat budayanya.
Horas , mauliate.
26 Oktober 2007 at 9:05 am
Saya lebih setuju, kalo antara budaya dan agama itu tidak dicampur adukkan.
Ga usah pake gondang,pake media lain pun kita bisa kog memuja setan, itu balik ke pribadi masing-masing aja lah.
Kalau saja, kita tetap melestarikan budaya kita itu, khususnya gondang ini, berapa banyak pengrajin gondang yang bisa tetap hidup?Kita juga kan tidak ingin gondang ini “putus” sampe generasi kita saja?Saya pribadi, sampe anak cucu saya nanti, masih bisa melihat dan mendengar gondang ini.Karena buat saya, ini salah satu warisan budaya yang wonderful banget.
Coba deh lebih kita cermati lirik-lirik dan musik-musik yang produk import yang kita dengar itu, apakah itu semua sepenuhnya “lurus”?Kenapa sih, kita malah sibuk mengkritiki lokal kita sendiri?Menjajah budaya sendiri kali yah ini namanya.
Untung ada gondang, jadi makin banyak dan makin berwarna deh musik yang saya tau dan saya dengar.Dan saya sangat bangga sebagai salah satu generasi Batak yang memiliki dan mencintai budaya Batak ini, khususnya gondang ini.
Horas
@ Ito SMN
Makasi yah ito Sahat atas ulasannya yang aku rasa hebat banget.
Makasi juga atas kirimannya, udah berdendang habis-habisan aku bah, dengan suaraku yang fils ini.He he he he
26 Oktober 2007 at 9:58 am
@Rim Marluat Napitupulu
Setubuh lae…eh setuju, dahulu kala sebelum agama masuk ke bonapasogit memang gondang dilakukan pada saat-saat pemanggilan roh-roh leluhur, baik itu pemanggilan untuk kesembuhan penyakit atau yang lain-lain
menurut saya…tergantung individu nya aja memandang gondang itu sebagai apa, karena kan di gereja-gereja sekarang banyak koq musik gondang dibuat sebagai pengiring acara
tor-tor ho hamu amang…..tor-tor hon hamu….