Toba Samosir Tapanuli

Jarar Siahaan Penulis Berita Batak

Gondang, Musik Pemuja Setan?

37 Komentar

sahat nainggolan[sahat m nainggolan; blog berita; mari lestarikan gondang]

Sejarah gondang dalam gereja HKBP.

Artikel ini ditulis oleh Sahat M Nainggolan dari Malaysia. Sahat biasa berkomentar di Blog Berita dengan memakai nama alias SMN atau Kairo.

SERING KITA MENDENGAR perkataan bahwa ‘Gondang ialah Musik Sipelebegu’. Arti ‘Sipelebegu’ sendiri ialah pemuja setan/roh (iblis) dan ‘hasipelebeguon’ adalah segala sesuatu, baik ritual, upacara yang berhubungan dengan sipelebeguon. Tetapi sebenarnya istilah ‘Sipelebegu’ sendiri tidak pernah disebutkan oleh orang batak kepada dirinya. Istilah itu dipopulerkan oleh para misionaris dan kolonial belanda merujuk kepada ritual agama tradisional dan upacara adat batak.

Mengapa istilah ‘sipelebegu’ ini ada? Kemungkinan karena masing-masing pihak punya ‘kepentingan’ khusus. Untuk para misionaris mereka menginginkan agar orang batak yang sudah kristen itu tidak lagi menjalankan ritual agama tradisional dan upacara adat batak yang berhubungan dengan dunia roh. Sedangkan kolonial Belanda menganggap dengan masih adanya ritual tradisional maka ikatan emosi, marga dan kesukuan dapat membuat mereka bersatu dan memberontak kepada pihak kolonial.

Sejak tahun 1864, Gereja Protestan Batak Toba, HKBP, telah bergulat (struggled) mengenai kebijakannya terhadap Adat, tortor dan Gondang sabangunan yg erat hubungannya dengan kehidupan tradisional batak toba. Pada masa itu Gereja melarang orang batak toba yang sudah kristen untuk mengikuti upacara ritual tradisional, tortor dan gondang. Sedangkan bagi orang batak toba sendiri hal tersebut sudah mendarah daging turun-temurun intergenerasi jauh sebelum para misionaris itu datang dan mengajarkan kekristenan di tanah batak. Hal ini menjadi dilema untuk HKBP yang beraliran lutheran dan mayoritas jemaatnya orang batak toba.

Fungsi musik gondang sendiri dalam kepercayaan agama tradisional dan upacara adat batak ialah sebagai salah satu elemen penting yang tidak dapat dipisahkan. Sama halnya dengan tortor dan gondang, keduanya berjalan seiringan dalam suatu upacara adat batak toba dan salah satunya tidak dapat dihilangkan. Dan agama tradisional batak menempatkan musik Gondang sebagai suatu media komunikasi antara manusia dan Tuhan pencipta.

Dalam perjalanannya HKBP yang pada masa itu masih dipimpin oleh Misionaris jerman Nommensen menyadari setelah mereka mempelajari dan mendalami aspek-aspek kehidupan orang batak dan mereka berkesimpulan bahwa mereka melihat tortor, gondang dan adat sangat susah dihilangkan dari kehidupan orang batak toba. Walaupun mereka sudah menjadi orang Kristen di sisi lain mereka masih juga ikut dalam ritual tradisional dan upacara adat. Maka pada tahun 1924, para Misionaris itu merumuskan lahirnya ‘Aturan Disiplin’ (order of discipline) atau dalam bahasa bataknya ‘Uhum Parhuriahon Siingoton ni angka Huria Kristen Batak).

Yaitu berisi aturan dasar atau batas-batas yang harus dipatuhi, dalam aturan disiplin itu orang batak toba yg kristen dilarang untuk mengikuti ritual tradisional dan upacara adat yang disinyalir berhubungan dengan dunia roh termasuk penyelenggaraan gondang yang bertentangan dengan iman kekristenan. Jika jemaat ada yang ingin melakukan atau mengikuti hal tersebut harus meminta ijin permisi dahulu dari sinode Gereja setempat. Jikalau ada jemaat yang ketahuan melanggar maka akan ada sanksi yang diberikan contohnya tidak diperkenankan untuk mengikuti perjamuan kudus atau dinon-aktifkan dari keanggotaan gereja.

Pada 10 May 1940, Pendeta K.Sirait diangkat menjadi Ephorus batak pertama, maka tampuk kepemimpinan Dewan Gereja HKBP dipercayakan kepada suku batak sendiri. Dan kemudian perlahan ‘Aturan Disiplin’ tersebut agak diperlonggar. Para Pimpinan Gereja yang orang batak itu menyadari bahwa gondang dan tortor semata-mata tidak dapat dihilangkan secara total dari kehidupan adat orang batak toba. Kemudian dewan gereja perlahan merevisi kembali aturan disiplin tersebut.

Bulan Juli 1968, di Pematang Siantar diadakan ‘Seminar Adat di HKBP’, pada acara Seminar itu hadir 8 pembicara yang membahas 7 topik penting yang berkaitan dengan pelaksanaan Adat, Ritual penguburan, Mangokkal Holi(reburied), Parjambaran (hak adat), Gondang, Aturan Warisan, Pembuatan Tugu dan ritual kelahiran anak. Dalam seminar tersebut M.L Siagian berpendapat bahwa dalam upacara adat penguburan jenasah orang yg sudah lanjut usia (saur Matua) diperbolehkan untuk memakai musik Gondang. Kenapa kita mesti takut memakai Gondang musik dengan alasan akan bangkitnya ‘hasipelebeguon’, atau kenapa melarang Gondang dalam merepresentasikan penghormaan dan rasa berkabung? atau Kapan kita bisa memberikan kesempatan kepada orang batak yg punya talenta untuk mengadaptasikan gondang dan tortor dalam acara kristen? (Mauly Purba: 2005).

Sedangkan B.A Simanjuntak berpendapat bahwa pemakaian gondang dan tortor bisa kita gunakan dalam ritual kristen, dan gondang tidak boleh dilupakan tetapi pelaksanaannya mesti dimonitor agar berjalan sesuai dengan iman kekristenan. Kemudian Simanjuntak menyarankan dalam upacara Saur matua misalnya agar urutan repertoir Gondang yang dipakai ialah Gondang Somba-somba, Gondang Bane-bane dan Gondang Hasahatan/Gondang Sitio-tio.

Lalu pembicara lainnya D.F Panjaitan juga setuju agar Gondang dan tortor tetap dipelihara oleh orang batak kristen. Dan dalam seminar itu juga dihasilkan beberapa revisi-revisi dari Aturan disiplin yang berhubungan dengan rituap upacara adat. Maka sejak itu penggunaan Gondang dan tortor (menari)dalam upacara adat Mangokkal holi, Saur matua dan lainnya diperbolehkan dan mereka juga merevisi aturan disiplin agar Inkulturasi penggunaan gondang dan tortor tidak bertentangan dgn Iman Kristen.

Dan pada prakteknya penggunaan gondang dan tortor dapat disinkronisasikan dengan acara kristen seperti yang belakangan ini saya lihat. Jadi Gondang bukanlah musik Sipelebegu, tetapi warisan seni musik yang perlu kita jaga agar tidak punah, dan Inkulturasi pemakaian gondang dan tortor pada Gereja batak toba menjadikannya semakin unik, dan tetap melestarikan aset kebudayaan leluhur/nenek moyang suku batak. [http://www.blogberita.com]

Silakan bila ingin mengutip artikel dari blog ini, dengan syarat menyebut sumber dan nama penulisnya. Bila dikutip untuk website, weblog, atau milis, maka tuliskanlah sumbernya http://www.blogberita.com dan buatkan link ke artikel bersangkutan. Bila dikutip untuk koran, majalah, bulletin, radio, televisi, dll, maka tulislah/ sebutkanlah sumber kutipannya; http://www.blogberita.com.

Bila kau ingin menulis artikel, kirimkan via imel, blogberita [at] gmail [dot] com; sertakan fotomu bila engkau mau.

About these ads

Author: Batak Toba

Demi Yesus, aku percaya Muhammad utusan Allah • Ikuti Twitter @ja_rar • Baca konten khas dan bernas di www.khas.co • Tahu nggak, menonton siaran Piala Dunia itu dosa loh menurut agama Islam. Baca di http://benar.org/do-sa

37 thoughts on “Gondang, Musik Pemuja Setan?

  1. saya sebagai anak muda (ngakunya) yang lahir tidak di kota Medan tapi di kota yang mayoritas suku Melayu, sangat jarang mendengar Gondang Batak. Apalagi Gondang yang lengkap, biasanya hanya gendang satu sama suling satu saja. Sepengetahuan saya ada beberapa jenis alat musik yang lain. Tapi akhirnya saya tahu kenapa orang jarang memakai Gondang Batak karena biayanya mahal, lebih bagus sewa orgen tunggal murah meriah… hehehe. Kalau bisa sih biaya sewa Gondang jangan mahal2, jadi masih bisa didengar dan dilestarikan…

  2. Musik itu sesungguhnya netral. Tinggal tergantung mana yang cocok dengan suasana suatu acara atau kegiatan. Gak bisa aku membayangkan, sebuah upacara bendera, lagu Indonesia Raya diiringi gondang sabangunan. Gak pas. Tapi jangan-jangan aku beranggapan begitu karena sudah terlanjur aja, terbiasa mendengar Indonesia Raya berirama mars ?

    Gondang sabangunan punya arti dan fungsi yang sama dengan kebanyakan musik etnis di dunia, yaitu untuk upacara pemujaan atau keagamaan. Dua istilah ini hanya dibedakan oleh faktor legitimasi pemegang supremasi budaya.

    Musik untuk upacara pemujaan di seluruh dunia punya kesamaan : apakah berupa alat tabuh, tiup atau gesek, semuanya dimainkan secara ritmis, monoton dan diulang-ulang. Efeknya menenangkan dan “mengistirahatkan” pikiran , sehingga pendengarnya terbawa ke alam “hipnosa” dan kemudian transeden atau “kesurupan”.

    Metode purba tersebut sudah diadopsi oleh ilmu pengetahuan, terutama cabang ilmu jiwa terapan yaitu psiko-analisa dan pesiko-therapi. Di ruang-ruang klinik modern di seluruh dunia, sudah jadi kegiatan rutin terapi dengan hipnosa. Cara kerjanya mirip upacara keagamaan purba : mengkondisikan pasien ke situasi “kosong”, lewat pertanyaan yang diulang-ulang, bau-bauan tertentu dan musik semacam gondang sabangunan, angklung, dll.

    Jadi, tanpa ada unsur magis atau mistik, jelasnya tanpa ikut campur para begu, situasi transendental memang bisa dikondisikan. Artinya ini sesuatu yang logis dan ilmiah.

    Jadi, stigma atau cap jelek yang ditempelkan pada gondang sabangunan, ulos dan permalim. sama sekali bukan berdasarkan alasan yang bisa dipertanggung jawabkan. Itu politik hegemoni para pemegang supremasi budaya (misionaris kristen di masa lalu), untuk melenyapkan kekayan budaya lokal yang telah ditaklukkan, tapi gak mati-mati.

    Ah jadi massam tau kali nya aku, padahal bisa juga gak main taganing hehehe …

  3. Allah menciptakan manusia dilengkapi dengan akal budi yang membentuk budaya suatu suku atau bangsa . Allah juga menciptakan keaneka-ragaman ciptaanNya baik dari bentuk, talenta, pola hidup,bahasa, rupa dan lainnya yang justru menjadi rahasia keMaha-agunganNya.
    Jadi ngak ada yang salah dengan semua peralatan seni budaya, yang mungkin salah adalah penggunaannya.
    Biola, gitar, piano, kecapi, gendang dan lain-lain bisa digunakan untuk kebaikan ( termasuk memuji/ mengagungkan Allah) maupun kebejatan ( termasuk memuja setan ) tergantung niat dan pelaksanaannya.
    Jadi menurut pendapat saya tidak ada yang salah dengan gondang, manortor,ulos dan perangkat adat istiadat batak lainnya selama digunakan dengan niat untuk kebaikan dan kemuliaan Allah.
    Mauliate, horas..

  4. ‘Gondang’, ‘Tortor’ dan ‘Ulos’ adalah bagian dari budaya Batak.

    Selama budaya tersebut digunakan ‘bukan untuk menghujat’ kebesaran dan kemuliaan Tuhan, maka menurutku….SILAHKAN !

    ‘bukan untuk menghujat’ bisa juga berarti menyenangkan hati manusia (mungkin dalam bentuk musik), tetapi bukan digunakan untuk ‘mamele hau na bolon’ (animisme ?), ‘mamele sumangot ni ompung’, ‘mamele par ulu balangan’.

    Aku jadi teringat ‘hau na bolon’ yang masih berdiri kokoh dikampungku sana (2 masih berdiri dan 1 yang paling besar, diameter sampai sekitar 6 meter, sudah roboh karena membusuk sebelum tahun 1990) walaupun tidak di’pele’ lagi. Berdasarkan cerita rakyat, bahwa ritual untuk menanam ‘hau na bolon’ tersebut pada jaman dahulu adalah dengan kurban manusia.

    Manusia yang dipersiapkan untuk menjadi kurban tersebut adalah anak gadis (boru-boru) yang sudah sejak kecil dibesarkan dan semasa hidupnya (sebelum dikurbankan) selalu dimanja dan dituruti permintaannya. ‘Boru-boru’ tersebut bukan merupakan anak dari keluarga yang membesarkan tetapi diperlakukan sama dan satu rumah dengan anak-anak mereka.

    Tidak ada yang mengetahui bahwa ‘boru-boru’ tersebut dipersiapkan untuk kurban selain dari para tetua yang bertugas untuk menyiapkan penanaman ‘hau’ tersebut.

    Tibalah saatnya, pada malam yang gelap gulita, orang-orang yang ditugaskan akan mengambil ‘boru-boru’ tersebut dari tempat tidurnya untuk selanjutnya disembelih dan di ‘bolgang’ sebelum dikubur sebagai kurban bersamaan dengan penanaman ‘hau’ tersebut. (tidak tahu juga, apakah mungkin dimakan sebagian).

    Katanya, ada juga suatu kejadian di mana rahasia persiapan tersebut telah diketahui ‘boru-boru’ yang dipersiapkan sehingga dia selalu waswas dan mengatur suatu siasat. Pada saat malam yang ditentukan tiba, ternyata si’boru-boru’ tersebut telah berhasil membujuk ‘boru ni parjabu’ agar bertukar tempat tidur sehingga yang menjadi kurban adalah ‘boru ni parjabu’ tersebut. Dan katanya lagi nih, keturunan keluarga tersebut dikutuk sampai beberapa keturunan tidak punya ‘boru’.

    Ya…itu memang hanya cerita rakyat yang saya sendiri pun tidak tahu kebenarannya.

    Yang mau saya utarakan adalah mungkin juga pada jaman dahulu tidak semua orang Batak memeluk agama Parmalim, namun ada juga sebagian ‘sipelebegu’ dengan ritual-ritualnya yang juga memakai budaya Batak (di samping Parmalim pun mungkin memakai budaya Batak juga).

    Kalau boleh saya katakan, bukan ‘Gondang’, ‘Tortor’ dan ‘Ulos’nya yang salah, tetapi orang yang menggunakannya. Apa salahnya ‘Gondang’, ‘Tortor’ dan ‘Ulos’nya kalau digunakan bukan untuk ‘mamele begu’, tetapi digunakan ‘bukan untuk menghujat’ kebesaran dan kemuliaan Tuhan.

    Hatai hata tambaan…

  5. @bilok
    Beda harganya gak jauh2 amat kok… dengan kau sewa uning2an gak bikin kau jatuh miskin kan?

    Menyisihkan uang sedikit tapi telah berbuat besar terhadap budaya Batak.

  6. dan kalau boleh semua instrument kebudayaan batak ini dipatent kan ,ulos,uning-unigan,ataupun lagu,maupun rumah adat nya,entar keburu dipatentkan negara lain,sontoh malaysia,jadi sia-sia usaha sijolo-jolo tubu

  7. Para malaikat di surga, bernyanyi dengan memainkan berbagai alat musik. Kira-kira gondang dan sarunenya dipakai ??

    Gondang merupakan pendukung tortor. Aneh kalau manortor pake musik gamelan. Manortor, dikategorikan memuja setan jika tujuannya memang memuja setan dan memanggil roh jahat. Tergantung hati, pikiran dan tujuan tortor itu untuk apa dan siapa.

    Sisi lain, CMIIW, saya pernah baca, ada gerakan-gerakan tertentu dalam khasanah tortor tua yang sepenuhnya ditujukan untuk pemujaan setan atau roh. Demikian halnya gerakan atau teknik dalam tenaga dalam yang diadopsi dari gerakan pamungkas ritual pemuja setan. Ada juga unsur mengirim energi ke objek tertentu yang merupakan jurus-jurus maut setan dan wajib dilakoni (baca: buku the sister light, kalau gak salah tokohnya mantan ratu kelompok Brotherhood).

  8. @lae Sidauruk.
    ‘Gondang, tortor, ulos dan jenis budaya lain hendaknya mendapat tempat pada masyarakat batak kristen’. >> Betul lae…batak kristen harusnya tetap memelihara budaya batak untuk hal yg positif.

    @lae JoeGoeL
    ‘ketahuilah bahwa iman yg kita percaya juga punya kuasa untuk mengusir kuasa kuasa jahat’. Setuju dgn pendapat lae, iman kita punya power :D.

    @lae Rim Navit,
    ‘gondang dan tortor itu dahulu digunakan sebagai sarana ritual untuk hal2 yg berbau roh,walupun demikian kita tdk usah alergi terhadap yg namanya tortor, gondang maupun adat’ >> Mungkin mereka alergi atau tidak kuat/tahan dengar gondang lae..terus takut dianggap kristen murtad. :D

    @lae Panurat22,
    ‘Saya sangat setuju kalau gondang [musik tradisional batak], bukanlah musik sipelebegu, Alangkah indahnya kalau musik tradisional kita ini selalu dipadukan dengan musik modern dalam pelaksanaan ritual-ritual gereja Batak’ >> Mantap lae..Tradisional dan modern dipadukan utk kemuliaan Tuhan.

    @lae Suhunan,
    ‘Apakah agar kelihatan ‘orang beriman’ maka setiap nama orang harus diambil dari nama-nama yang ada di kitab suci?’. >> Apa inang bibelvrouw itu tidak tahu, si paulus, si yohanes, si jeremia banyak mendekam di komdak, salemba dan cipinang..nama tidak selalu menjadi jaminan, dang i lae.

    @lae Lohot juntak,
    ‘saya berpendapat gondang ini harus lah dilestarikan karena merupakan bagian dari budaya itu sendiri’ >> Betul lae, Gondang sabangunan = batak, batak tanpa gondang-seperti sayur kurang garam :D

    @lae 2on
    Agama juga harus bisa berjalan beriringan dengan adat istiadat. Seperti kristen yang beriringan dengan adat Yahudi maupun islam yang beriringan dengan tata cara dan adat istiadat masyarakat Arab >> benar dan sama halnya dengan Kekristenan harus bisa menjembatani masyarakat dan adat.

    @ito Farida,
    Sekarang ini sudah jarang sekali terdengar suara gondang bahkan di kampung-kampung sekali pun. Dan ada kerinduan tersendiri dalam diri saya untuk mendengar alunannya yang mendayu-dayu >> akkkh, kemarin aku ajak ito ke Ultah HKBP disini tak mau, padahal ada uning-uningan, tombus ku rasa bah..sayang ito tak bisa ikut nonton. nanti ku kirim lah MP3 uning2an dan lagu Pop. :D

    @lae Barry,
    kebudayaan dengan agama kadang sering menimbulkan salah paham atau bahkan perselisihan.>> memang harusnya ada titik temu antara keduanya tanpa tarik otot lae, win-win solution.

    @amangboru Rebert Manroe,
    Irama yang ritmis dan monoton pada ogung fungsinya sama dengan membaca mantera-mantera, menimbulkan efek menenangkan dan bahkan mengistirahatkan pikiran — sehingga orang yang mendengarkannya terbawa ke alam “hipnosa” dan lanjutannya transedental atau kesurupan. “Metode” purba ini ternyata 100 % ilmiah, >> aku terpikir uning-uningan/instrumen musik batak dipakai sebagai ‘Musik terapi’, belum pernah dilakukan penelitian mendalam ttg ini, lae viky….mungkin lae tertarik utk hal ini?. karena kalau komposisinya pas, bisa jadi obat mujarab loh :D

    @lae Ivan Vadaosky Holsominov aka Shah Uttar.
    Aha do agamam saonari amang ?(Apa agamu sekarang , nak ?) So tung gabe masuk hamu tu agama situtung ulos i ! >> Molo hindu situtung jolma, molo situtung ulos on..ugamo baru do on lae? :D

    @ito Dessy ‘West-village’
    Kita juga kan tidak ingin gondang ini “putus” sampe generasi kita saja?Saya pribadi, sampe anak cucu saya nanti, masih bisa melihat dan mendengar gondang ini.Karena buat saya, ini salah satu warisan budaya yang wonderful banget. >> bener ito, generasi yg akan datang 20-30thn lagi perlu tahu apa sih Gondang, lalu mereka tanya ito nanti: Mom, katanya dulu ompungku m’ninggal digondangin yah mom ? apa sih maksudnya? hehehe. :D

    @lae Jekson, Azer, Billok, Marwin, dan lainnya.
    Mauliate…Lestarikan dan Cintailah gondang batak!

    @lae Viky,
    Kenyataannya memang masih cukup mahal bayar gondang drpd Keyboard tunggal lae (untuk keluarga yg menengah) dan mungkin ini jg dilema..di satu sisi kita mau memasyarakatkan gondang, tapi harganya jg tidak murah apalagi di kota2 besar, dgn alasan budget, maka pilihan jatuh kpd Keyboard tunggal. serba salah.

    Mauliate & horas jala tiurma akka pansarian..

  9. @SMN
    Jadi tambah tinggi rasanya aku dipanggil amang boru. Manggil lae lah kita ya biar egeliter.

    Bah bah, ada lagi rupanya. Lae nulis margaku : Manroe. Terima kasih lae sudah mempopulerkan kembali slank manurung tahun 60-an itu.

  10. Ai ido lae Robert, adong donganku tikki sikkola najolo, sai Manroe…lae Manroe ni gorahon, gabe tarboan ma. Alai adong do trend ‘shorcut’ taringot tu marga on di pasaran(lapo)..Hehehehe.. songon Sianipar-anipar, Situmorang-tumorang, Panggabean-gabe, Nainggolan-nenggol, Silaban-laban, Simanjuntak-juntak, Lumbangaol-gaol…dohot akka na asing :D

  11. Horassssssssss
    satabi (permisi) opung, tulang, uda, abang, amang boru, ito, sude (semua) fans bataknews
    Menurut hemat saya, bahwa musik tradisional itu adalah asal muasal musik modern, dan Arta gading itu gak sependapat saya kalo dikatakan sebagai musik pemuja setan, tergantung pribadi kita sekarang alat musik itu kita gunakan dimana, bawa kemana(kita mainkan Untuk Apa) karena dalam Kitab suci (Alkitab) dituliskan Pujilah Dia, dengan Tarian, musik, dan nyanyian. Padahal alat musik waktu itu adalah: Rebana, Gendang (gondang), kecapi (hasapi), seruling, dan lain lain. Jadi kita gak boleh langsung untuk mendikte apa yang kita lihat, kita harus telusuri dulu asal muasalnya. Coba kita tengok kebelakang Arta gading udah ada sebelum Agama turun ke Tanah batak, Jadi waktu itu Orang Batak belum mengenal Siapa Penciptanya “mereka hanya Percaya kepada Mula jadi Nabolon.” (maaf aku gak tau terjemahannya dalam bahasa Indonesia) jadi mereka memuji dengan menggunakan Arta Gading sebagai alat musiknya, karena mereka belum mengenal gitar listrik seperti yang digunakan Lae Viki Sianipar untuk menciptakan Lagu :lol:
    Dan kita lihat jaman sekarang setelah Orang Batak mengenal Agama, di Gereja aja kadang-kadang sudah menggunakan alat musik tradisional untuk memuji Tuhan (maaf bagi yang bukan Agama Kristen), Akhir kata “pinungka ni naparjolo si padengganon ni Parpudi” (apa yang dilakukan orang pertama diperbaiki penerusnya agar lebih sempurna).

  12. @ SMN
    Shorcut untuk Napitupulu Napit heheehe
    Pernah aku bikkin Na70 eh malah di baca ‘NAJO’ hehehhe..
    sei na adong do..
    Kalau SMN N nya apa lae?

  13. horas lae Napit, iya bah jadi ingat kawanku..hehehe.
    N-Nenggol lae, hape dang saut alani offside i :D

  14. molo muli au ikkon digondangi do bah

  15. @borueee, horas boru sai saut ma pangidoan mi !Jadilah permintaanmu !
    kalau aku mendengar Uning-uningan/instrumen Batak,seolah-olah mengalirlah musik itu di Darah saya.Bulu saya rasanya berdiri. Secara langsung aku jadi mangurdot. Ahh tahe uli/jala tabo begeon Uning-uning an i.

  16. horas…

    salut buat bang viky,bang sagat dan pemerhati alat musik batak.
    alat jenis apapun yg digunain buat musik tergantung manusia yg menggunainnya…gondang itu hanya sebuah alat,mau diperdebatin ato gak terserah kamu deh (slogan2 di sinetron)?dia tetap alat jua.berarti manusia nya yg mesti diperhatiin
    klo pun ada yg bilang gondang,alat musik pemuja setan? gw gak setuju banget,nah..dah jelas kan siapa setannya….sssssssssst (dlm hati aja)
    (setuju dgn pendapat bang Ridwan S)

    bah..bah..naso tarsurat do hape nian di Al-Kitab akka gondang,hasapi,tor-tor,ulos..gabe na hera manggertak do halakki tu halak batak,gabe sepele do halakki tu adat ni batak on ima akka kristen na pilit2 (kristen yg mengutamakan sangat firman dlm al-kitab),sebenarnya sich tugas orang2 batak mulai memberi penjelasan ttg itu.

    kristen dengan kultur eropa bertanding melawan nilai2 budaya ‘halak hita’ saksikan segera di stadion2 kampung masing2..don’t miss it,pertanyaannya adalah siapakah penonton ganteng imut truz makan permen mentos yg duduk plg belakang berjaket ijo di stadion balige itu??buruan anda bisa kaya…………..>>

    lu pening di mentos aja…………:) kaleee

    horas
    salam holong

  17. horas ito,tulang, amangboru
    saya mah gampang aja! di dokkon musik setan inna,holan hatana di. ala naso boi do dinikmati halaki ( gak ada jiwa seni kallee. ..)
    embass hon hamu, tarik….. mas.
    bravo halak kita. . jayalah musik batax (gondang, uning-uninga and so on. .. .)