[dian sidauruk; blog berita; gugah batak]
Matahari, Bulan, Bintang dan Awan, kepadamu kutitip pesan…
Artikel berbentuk prosa ini ditulis oleh Dian Sidauruk, seorang lelaki Batak yang bekerja dan tinggal di Pulau Dewata, Bali. Ia bekerja di bidang yang tidak terkait dengan budaya, tidak terkait dengan sastra, tidak terkait dengan tulis-menulis, tapi Dian peduli pada kebatakan lewat menulis.
Prosa ini, katanya padaku lewat imel, blogberita [at] gmail [dot] com, ditulis pada tahun 1995 ketika dia bekerja di suatu pertambangan batubara milik Australia-British di Kalimantan Timur. Judulnya: Gugah Batak.
Ada beberapa bagian yang, “Sengaja tak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia agar tak menyimpang dari ‘roh’-nya dan agar mereka yang membaca (waktu itu) berusaha menginterpretasikannya menurut nafas kebatakan mereka,” kata Dian.
GERIMIS SUBUH BERHENTI. Pagi yang temaram, tak sedingin pagi kemarin.
Dari Timur Mentari menyapa: “Horas, horas, horas”, sambil tersenyum dikibas-kibaskannya tiga kali ulosnya.
“O Tano Batak, haholonganhu, mansai masiholdo ahu tu ho…,” demikian senandung riangnya menapaki cakrawala menuju Barat.
“Horas, horas, horas.” Tiga kali kata itu ditaburkannya lagi kepadaku.
Penat berjalan menapaki Timut Barat membuat raganya layu. Dia rebah tertidur di pangkuan ibu pertiwi.
Dalam tidurnya sesekali dia meniup seruling: “Molo dung binsar Mataniari, laho panapuhon hauma i. Denggan do ngolu siganup ari… O, Tano Batak… Andigan…”
Di punggung gunung, Bulan tersenyum menimpali senandungnya: “Bulan i, bulan i, bulan i… pardomuanni simalolong…. Boha bahenon dai inang, bagian i ingkon jaloon… Andiganpe boi ahu pajumpang, dohot dainang sipangintubu, dohot damang parsinuan…”
Tak kalah riangnya, sambil menari berkedip menggoda, Bintang-bintang memetik kecapi: “Bintang narumiris…. Borupe riris….
Dan, Awan pun membentangkan sayap, penuh tingkah meniup serunai: “Ombun nasumorop… Anakpe torop….”
Matahari, Bulan, Bintang dan Awan, kepadamu kutitip pesan:
Panggil mereka dan sampaikan: “Bonapasogit mangandung, mulakma ho, pature hutam.”
*) Bonapasogit mangandung, mulakma ho, pature hutam: Kampung halaman nenek-moyangmu menangis pilu, pulanglah, perhatikan mereka. [www.blogberita.com]
CATATAN BLOG BERITA:
Aku belum akan menjawab bila ada yang bertanya seputar lomba menulis tersebut, supaya tidak bocor lomba itu seperti apa. Tapi yang pasti, lomba tersebut terkait dengan artikel Dian Sidauruk di atas.
Untuk membaca artikel-artikel Dian Sidauruk sebelumnya klik banner kecil bertuliskan DIAN SIDAURUK di sisi kiri weblog ini.
Silakan bila ingin mengutip artikel dari blog ini, dengan syarat menyebut sumber dan nama penulisnya. Bila dikutip untuk website, weblog, atau milis, maka tuliskanlah sumbernya www.blogberita.com dan buatkan link ke artikel bersangkutan. Bila dikutip untuk koran, majalah, bulletin, radio, televisi, dll, maka tulislah/ sebutkanlah sumber kutipannya; www.blogberita.com. Bila kau ingin menulis artikel, kirimkan via imel, blogberita [at] gmail [dot] com; sertakan fotomu bila engkau mau.


24 Oktober 2007 at 3:25 pm
ya, artikel bang Sidauruk sudah menggambarkan materi lomba menulis itu.
24 Oktober 2007 at 3:44 pm
“Bintang narumiris…. Borupe riris….
“Ombun nasumorop… Anakpe torop….”
Ompung kita sijolo jolo tubu (leluhur) memang sudah merencanakan itu.
Anaknya ada dimana mana, borunya ada dimana mana.
Dari Matio hingga ke Makao, dari Palipi hingga ke Papua.
Lae Dian Sidauruk mengutipnya juga:
“O Tano Batak, haholonganhu, mansai masiholdo ahu tu ho…,”
“Bonapasogit mangandung, mulakma ho, pature hutam.”
Semoga sikap ini bukan hanya ada dalam otak kita yang lahir dan memiliki ikan emosional dengan huta (kampung). Semoga kerinduan ini ada juga pada setiap pomparan (keturunan) senior kita yang puluhan tahun sudah berada di perantaun, anak anak mereka banyak yang marhillong hillong (sukses). Juga untuk anak anak kita yang sedang tumbuh.
Untuk pulang, hidup disana mungkin sulit, tapi untuk berbuat, pature huta itu sikap yang mulia, “Tapature ma huta ta” kata Tongam Sirait dalam lagunya TAPATURE
24 Oktober 2007 at 10:36 pm
ga ngerti bahasa batak neh bang, gimana dong? aku pengen banget ikut lombanya..
tapi wah, aku mendukung lomba menulis essay ini, ayoo, bangun kebudayaan batak,
JARAR SIAHAAN:
wah, kasihan kawanku si andre. bisa saja kau ikut, karena memakai bahasa indonesia kok. tunggulah pengumuman selanjutnya.
25 Oktober 2007 at 12:44 am
S.Dis menciptakan lagu ‘O Tano Batak’, liriknya begitu menggugah, dalam menyentuh ke dasar hati, cerita kecintaaannya kepada tanah batak, kerinduannya yang senantiasa ada di hati, tak lekang, rasa yang sama juga dimiliki oleh insan-insan yang ‘marmudar’ batak, selaksa kenangan di tanah kelahiran yang selalu membuat kita tersenyum dan kadang bersedih mengingatnya.
Aku tahu kau takkan lupa, tak ada tempat yang selalu membuatmu untuk kembali, jauh kau pergi sampai ke ujung bumi, kau selalu merinduinya di hati, banyak negeri kau lewati, ke tanah batak kau akan kembali.
O tano batak………kapan anakmu akan kembali?.