[sri sw; blog berita; menyantap daging domba tersesat lezat]
Cerita perempuan Jawa-Batak, dosen IPB, merayakan Idul Fitri di USA.
Penulis artikel ini adalah Sri SW, seorang perempuan muslim berdarah Jawa [bapaknya] dan Batak [ibunya]. Suaminya orang Amerika. Anaknya dua; Amirah [10 tahun] dan Farhan [8 tahun]. Sri lahir dan melewatkan masa SD-nya di Pintu Pohan, Kabupaten Tobasa, Sumut.
Dia bekerja sebagai dosen kimia di IPB, dan kini sedang mengikuti program S-3 di Universitas of Hawaii, Amerika Serikat. Sri mulai menjadi pembaca aktif Blog Berita sejak sebulan silam.
“Ito Jarar, seperti dulu pernah aku ceritakan sedikit di kolom komentar, bapakku orang Jawa makanya namaku Jawa sekaleee, sementara emakku boru Marpaung. Dulu waktu mangadati, kami dapat marga Tambunan. Tapi apa pantas aku jadi boru Tambunan, martarombo pun aku tak tahu,” katanya padaku lewat imel, bataknews [at] gmail [dot] com.
LEBARAN PERTAMAKU DI Honolulu diwarnai sedikit ketegangan, karena belum lama berselang ada kejadian yang membuat seluruh ‘mata’ masyarakat di Hawaii tertuju pada kelompok minoritas beragama Islam. Peristiwa itu adalah runtuhnya the Twin Towers pada September 11 tahun 2001. Peristiwa 911 tersebut menimbulkan gelombang anti muslim di penjuru Amerika, tak terkecuali di Hawaii yang jaraknya cukup jauh dari Amerika daratan.
Satu-satunya mesjid di Hawaii mendapat beberapa surat ancaman akan diserang. Sehingga selama hampir setahun, mesjid dan jamaahnya diawasi secara langsung oleh pihak kepolisian kalau-kalau ancaman tersebut jadi kenyataan. Saat sholat Idul Fitri, minimal satu lusin polisi berjaga-jaga, ditambah liputan reporter dari beberapa stasiun TV. Betul-betul serasa hidup di bawah mikroskop saat itu.
Idul Fitri 1428 Hijriyah, tahun 2007 Masehi, dirayakan seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Bedanya, pihak mesjid sudah mulai “berani” menyelenggarakan sholat Ied tersebut di tempat yang sangat umum, di tepi pantai. Kawalan polisi sudah tidak ada lagi, reporter TV pun sudah tak berselera melaporkan kegiatan tersebut. Ternyata masyarakat muslim di Hawaii adem-ayem saja, tak pantas masuk berita.
Keputusan menyelenggarakan sholat Ied di pantai sepertinya juga ditujukan untuk mengenalkan masyarakat muslim kepada penduduk Hawaii pada umumnya. Tak kenal maka tak sayang, tak iye.
Hawaii memang gudangnya pantai-pantai yang elok, walaupun menurutku pantai di Indonesia masih jauh lebih indah. Hehe… Indonesia harus dibela dong. Nah, karena lokasi sholatnya yang sangat public tersebut, bisa dibayangkan aktifitas apa saja yang sedang berlangsung pada saat itu. Di pantai ngapain aja sih?
Yang jelas banyak yang berenang dan berselancar, ataupun berjemur di bawah terik matahari dengan harapan mendapat kulit yang coklat bak kulit orang Melayu yang sawo matang. Padahal di Indonesia, cantik itu identik dengan kulit yang putih… Oh, ditambah betis yang mbunting padi, halah… Ada juga yang melaksanakan pernikahannya di tepi pantai, suatu kegiatan yang sudah diwarnai rona bisnis.
Pemandangan yang sangat kontras memang terjadi pada hari itu. Di satu sisi, masyarakat muslim yang sedang merayakan lebaran mengenakan pakaian yang sangat tertutup, mesti banyak juga yang tidak memakai kerudung. Di sisi lain, para penikmat air dan matahari di pantai hanyalah memakai sejumput kain untuk menutupi wilayah “di sini” dan “di situ”. Bahkan sekitar dua puluh meter dari tempat sholat, terdapat sepasang muda-mudi dengan pakaian yang sangat minim sedang berjemur dan sekali-sekali saling berpagutan… alamak.
Kelihatannya tidak ada pihak yang merasa terganggu saat itu, tidak si Imam yang sedang memimpin sholat, tidak pula sejoli yang tetap sibuk dengan aktifitasnya sendiri. Bahkan saat sang Khatib menyampaikan khutbahnya, beberapa passerby berhenti untuk mendengarkan isi khutbah. Ada yang manggut-manggut, ada pula yang tersenyum sinis.
Apalagi saat sang Khatib menyatakan bahwa laki-laki yang baik di mata Allah adalah yang menghormati dan menyayangi istrinya. Hehe… yang kuingat cuma yang satu itu saja, yang lainnya sudah pernah kudengar jadi nggak terlalu disimak.
Perayaan Idul Fitri di pantai tersebut dilaksanakan sepanjang hari itu dari selesai sholat, sekitar jam 9 pagi, sampai jam 4 sore. Kegiatan yang paling utama adalah silaturahmi antar masyarakat muslim. Acara yang paling seru tentunya hak milik para anak-anak. Seharian mereka bisa bermain di beberapa bouncing house yang disediakan. Mereka juga mendapat hadiah berupa goodie bag yang isinya permen dan mainan kecil.

Selain itu, untuk melepaskan dahaga disediakan shave ice, es serut yang dibaluri sirup, serta minuman bersoda. Juga ada popcorn dan beberapa jenis makanan kecil lainnya. Tapi…. sigh… tetap tak semeriah di Indonesia. Di Hawaii tak ada kembang goyang, sasagon, kue bawang apalagi dodol dan lemang. Amang tahe, toktong do uttabo na di huta i (masih lebih enak yang di kampung).
Untuk makan siang disajikan domba masak tomat (bukan domba tersesat, lho)
yang dimakan dengan nasi dan salad. Tahun sebelumnya berupa ayam bakar dan sayur kari.
Tahun ini memang tidak semeriah tahun sebelumnya, entah kenapa. Apa karena kita sudah tidak diliput televisi lagi? Apa karena mobilitas masyarakat muslimnya terlalu tinggi, sehingga tahun ini mungkin penduduk muslim di tempat lain bertambah jumlahnya.
Kenangan berlebaran di negeri orang tetap akan selalu kuingat. Membuatku semakin menghargai betapa kuatnya kekeluargaan dan silaturahmi antar penduduk di tanah air. [www.blogberita.com]
CATATAN BLOG BERITA:
Foto di atas adalah gambar menu nasi plus daging domba masak tomat yang diceritakan Sri. Hm…, andai saja makanan selezat itu ada di mejaku saat ini.
Silakan bila ingin mengutip artikel dari blog ini, dengan syarat menyebut sumber dan nama penulisnya. Bila dikutip untuk website, blog, atau milis, maka tuliskanlah sumbernya www.blogberita.com dan buatkan link ke artikel bersangkutan. Bila dikutip untuk koran, majalah, bulletin, radio, televisi, dll, maka tulislah/ sebutkanlah sumber kutipannya; www.blogberita.com.
Untuk membaca artikel-artikel lain seputar Ramadan, klik banner kecil CERITA RAMADAN di sisi kiri bagian atas blog ini.
Bila engkau ingin berbagi cerita tentang perayaan Idul Fitri bersama keluargamu, kawan, pacar, teman sekantor, tulis dan kirim saja ke imelku, bataknews [at] gmail [dot] com. Bila kau mau, sertakan juga foto-fotomu yang penuh keceriaan bersama teman atau keluargamu. Tulis dan ceritakanlah dengan ringan; apa hal-hal menarik dan lucu yang dilakukan keponakanmu setelah sekian lama tak berjumpa, misalnya, atau ke mana saja engkau jalan-jalan selama Idul Fitri.


17 Oktober 2007 at 1:36 am
ah… pengalaman yang sangat berkesan. apalagi cerita yang dituliskan ibu sri ini membawa pembaca seperti menonton televisi.
ibu dosen ini rupanya pernah tinggal di pintu pohan. Sungguh, pintu pohan itu sangat indah. berada di puncak, pepohonan lebat, cuaca dingin menusuk sum-sum, jalan menikung-nikung, ada air terjun harimau, dari atas bisa memandang toba pulp lestari. Wah, seru….
Nggak kebayang jika pengalaman ber-lebaran di hawaii terjadi di indonesia. Misalnya aja salat ied dilakukan di pantai parapat, sementara bule-bule berjemur-jemur dengan modal bikini doang. ada pula yang berpagutan. wah, bisa-bisa imamnya nggak konsen, trus bacaan-bacaan salatnya berantakan. gawatnya, semua jamaah cowok pakai kacamata reben biar bisa ngelirik ngeliruk. kwak..kwak..kwak… apa kata dunia!!!!!
Tapi, nuraniku sedih melihat kaum muslim di hawaii. setiap kejadian, semisal peledakan bom, pelakunya selalu diidentikkan dengan umat islam. padahal siapapun pelakunya itu adalah teroris. bukan islam, islam dan teroris adalah dua arti yang berlawanan. tapi kenapa dianggap teroris itu islam?
aku merenung. jihad seperti apakah yang diajarkan islam. apakah teriakan allahuakbar lalu meledakkan tubuhnya dan menyebabkan tercabutnya ribuan nyawa manusia disebut jihad? apakah osama bin laden sedang berjihad ketika membunuh mereka-mereka yang di luar islam. apakah jihad seperti itu yang diajarkan sang pencipta? akh… jihad tidak diajarkan membunuh orang-orang yang tak berdosa.
islam itu damai. tidak ditularkan dengan kekerasan. islam diajarkan dengan kerelaan seperti halnya dengan agama tuhan yang lain.
.
17 Oktober 2007 at 3:32 am
Kesan pertama saya seusai membaca artikel Ibu Sri adalah bahwa Ibu kita yang satu ini adalah seorang wanita Muslim yang moderat, bukan Muslim konservatif, atau Muslim fanatik (istilah Pak Jarar, maniak agama, ya?). Heheh….. Mungkin ada pengaruhnya juga karena Ibu Sri seperti ditulis dalam artikel tsb, lahir dan tumbuh di daerah Batak, yang setahu saya mayoritasnya adalah ummat Nasrani. Salut buat Ibu Sri, semoga semakin banyak orang Muslim seperti Ibu.
17 Oktober 2007 at 8:24 am
Ada ujar-ujar yang mengatakan, semakin lama seseorang berada di luar negeri , makan semakin tinggi pula jiwa nasionalisme nya……
Klop dengan cerita diatas,,,…Merdeka…Hidoep Indonesia….
Enak kali makanannya, tidak disentuh pun sudah kenyang duluan…heheheh
17 Oktober 2007 at 2:22 pm
Aku heran dengan keputusan pihak mesjid untuk melaksanakan sholat ied di pantai, apalagi dengan dalih untuk mengenalkan islam kepada masyarakat hawai. Apakah sholat ied merupakan suatu atraksi budaya sehingga perlu untuk ditonton? Dengan melaksanakan ibadah bukan pada tempatnya maka umat beragama itu sendiri telah melecehkan Tuhannya.
Mengenalkan agama kepada orang lain bukan dengan mempertontonkan peribadatan melainkan dengan tingkah laku yang baik kepada sesama sehingga bisa menjadi teladan.
17 Oktober 2007 at 2:33 pm
Jangankan sholat di pantai, saya tidak mengerti kebiasaan umat muslim yang berdoa di tempat umum bahkan ada seorang teman saya yang melakukannya di meja kerjanya. Membaca Al-quran (dengan suara agak keras) di food-court? Jangankan orang Amerika, saya saja sebagai umat Nasrani keheranan. Dengan melakukan sholat di pantai jangan harap simpati yang datang malah cacian yang anda terima.
17 Oktober 2007 at 3:09 pm
@marudut p-1000.
komentar anda mencerminkan anda memang tidak paham kenapa salat ied di indonesia sering dilakukan di lapangan terbuka. bukan karena tak ada masjid lho. jika pun ada, pasti tak mampu membendung jumlah jamaah yang membludak.
nah, di hawaii, mungkin saja tak ada tanah lapang jadi salatnya dibuat di lapangan terbuka. dan pantai juga adalah tempat terbuka.
saranku anda harus banyak membuka diri…
17 Oktober 2007 at 3:22 pm
Sebelumnya, Bung Jarar, selamat hari Raya Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan bathin…
Tulisan Ibu Sri bagus. Saya mengenal beliau. Dan kebetulan saya juga hadir di shalat Idul Fitri di tepi pantai Ala Moana itu.
Kalau yang saya pahami, shalat di pantai Ala Moana dilakukan karena jumlah umat Islam di Hawaii semakin banyak. Ini kali ketiga, kalau tidak salah, shalat Idul Fitri dilakukan di padang rumput Ala Moana. Sebelumnya shalat Idul Fitri digelar di sebuah lapangan di kawasan perbukitan Manoa, tidak jauh dari satu-satunya masjid di Hawaii.
Tetapi, ya itu tadi, karena jumlah penduduk Islam–baik yang menetap di Hawaii, maupun yang singgah karena berbagai termasuk kuliah seperti saya–semakin banyak, maka pihak masjid mencari tempat lain.
Sepintas yang paling cocok ya memang di pantai Ala Moana itu. Lapangannya luas, dan tempatnya gampang diakses.
Jadi mungkin bukan untuk show up. Hehehe. Apalagi, masih setahu saya, untuk bisa menggelar acara keagamaan seperti itu izinnya luar biasa ketat.
Begitu Bung Jarar. Oh ya satu lagi, dunia ini memang sempit ya. Bagaimana Bung Jarar bisa kenal baik dengan Bu Sri? Bu Sri, kalau Ibu membaca komentar saya ini, perlu diketahui, Bung Jarar ini teman baik saya. Teramat baik, bahkan. Pejuang tangguh…
Segitu dulu. Mejuah-juah!
JARAR SIAHAAN: selamat idul fitri juga laeku. maaf lahir batin. aku kenal ibu sri sekitar sebulan silam lewat blog ini. dia bercerita, bahkan sering dengan kata-kata lucu, bahwa dia adalah pejabat [peranakan jawa-batak] yang pernah tinggal di kampungku, tobasa. aku bangga blogku dibaca oleh perempuan berpendidikan tinggi seperti ibu sri. kupikir orang seperti dia tak sudi membaca blog ecek-ecek ini.
wah, karena lae sudah memujiku, maka aku pun tak bisa menahan diri untuk tidak “memperkenalkan” lae. aku memakai tanda petik karena sebenarnya orang-orang sudah mengenal lae. orang yang gemar membaca berita politik terpanas dari senayan dan istana presiden, yang berlangganan koran politik terbaik di indonesia saat ini, harian rakyat merdeka, pasti kenal nama teguh santosa.
kawan-kawanku, pembaca blog berita, teguh adalah salah satu sahabat terbaikku yang pertama kukenal sekitar tahun 2000. dia pemimpin redaksi rakyat merdeka online dan koran rakyat merdeka. siapa yang tidak kenal teguh; wartawan berhati baja yang pernah disidang dan dijebloskan ke penjara karena memberitakan kasus karikatur nabi muhammad. dan yang membuatku paling terkesan adalah ketika maret-april lalu aku mengkritik aliansi jurnalis independen [aji], ternyata teguh memberiku dukungan semangat padahal dia sendiri adalah pengurus aji.
teguh adalah orang yang sangat menghormati ibunya di atas pekerjaannya. dia bahkan tak peduli ketika “diancam” akan dipecat dari korannya ketika dia “bolos kerja” selama sebulan untuk menemani ibunya yang tengah sakit. teguh adalah salah satu wartawan jakarta yang berteman dekat dengan politisi sekaliber akbar tandjung dan putra-putri bung karno, tapi dia tetap memberitakan bahkan memuat kartun akbar tandjung yang dipelesetkan menjadi si tukang bohong pinokio itu [ralat: kartun akbar bertelanjang dada mandi darah]. ah…, kawanku, terlalu banyak kisahmu dan kisah koranmu yang menarik untuk kutulis. belum lupa kan dengan janjimu padaku?
17 Oktober 2007 at 3:55 pm
Maha Suci Engkau Ya Allah. Sucikan hati kami …
Semoga Allah menerima ibadah orang-orang yang selalu mensucikan hati.
Lakukanlah ibadah di tempat yang suci.
Allah akan tetap menunjukkan kebesarannya walaupun ummatnya beribadah di tempat yang tersembunyi.
Hablum minannas (hubungan dengan sesama manusia) yang perlu dijaga dan tunjukkan bahwa Islam bukan ancaman, bahwa Islam mengajarkan kebaikan.
Biarkan Allah yang akan menunjukkan siapakah yang telah melakukan Ancaman (terorisme) itu?
Sebaiknya hindari Ibadah di tempat umum.
17 Oktober 2007 at 5:41 pm
Hehehe, ampun. Berat betul ini. Langsung ditagih janjiku. Bung Jarar, tentulah aku ingat janjiku itu. Tapi apalah dayaku hari-hari ini… Pokoknya, pasti akan kupenuhi janji itu.
Sebelum lupa, memang, visual (terutama kartun) menjadi salah satu kekuatan Rakyat Merdeka. Kasus terakhir yang berkaitan dengan kartun di Rakyat Merdeka terjadi tahun lalu. Dipicu oleh aksi Australia memberi perlindungan kepada para pencari suaka politik dari Papua, yang berbuntut pada “perang kartun” dengan sebuah koran di Australia.
Hmm, ini kalau dilanjutkan bisa jadi panjang nih… Entar aja ya… Biar yang baca komentar ini penasaran dulu…
Kemunculan keduaku dalam rubrik komentar ini untuk meluruskan beberapa hal yang disampaikan Bung Jarar di atas. Jadi maaf, kalau OOT sama tema tulisan Ibu Sri.
Karikatur Akbar Tandjung yang dimuat di Rakyat Merdeka tahun 2002 lalu bukan yang “hidung Pinokio”. Kalau yang itu dimuat Majalah Tempo, dan aman-aman saja. Yang dibuat oleh Rakyat Merdeka adalah karikatur Akbar Tandjung “mandi darah”. Pemimpin Redaksi Rakyat Merdeka ketika itu, Karim Paputungan yang menjadi terdakwa, dan divonis penjara lima bulan dengan percobaan sepuluh bulan. Jadi, tidak masuk sel.
Lain hal, aku juga bukan pengurus AJI. Apalah arti awak ini kan… Dan, kini aku pun bukan pimred Rakyat Merdeka Online (www.myrmnews.com). Sudah diserahkan ke teman lain, sebelum aku berangkat meninggalkan tanah air…
Dengan Ibu Sri pun aku baru sempat ngobrol sedikit. Dua minggu lalu, di sela kunjungan Dubes RI dan Konjen RI ke Hawaii, Ibu Sri sempat menyampaikan persoalan keimigrasian kepadaku. Yah, sebagai ketua Persatuan Mahasiswa Indonesia di AS (Permias) Hawaii aku mesti menampungnya.
Ternyata, alamak, Ibu Sri ini orang kita juga. Ibu Sri, kalau Anda membaca komentar saya ini, saya lahir dan besar di Medan. Tarigan adalah nama belakang saya. Hanya saja, jarang dipakai. Dan kini, kawan-kawan mahasiswa Indonesia di Hawaii mengenal saya dengan nama Teguh Timur. Nah, Timur sebetulnya adalah nama anak laki-laki saya, yang baru setahun lewat usianya.
Bung Jarar, hari Sabtu yang akan datang ini, warga Indonesia di Hawaii akan berkumpul, lagi-lagi, di Ala Moana, tidak jauh dari lokasi shalat Idul Fitri kemarin. Ini momen penting bagi warga Indonesia–apapun agamanya dan latar belakangnya–untuk bertemu dengan sesama warga Indonesia.
Saya ini beberapa kali berkesempatan jalan-jalan ke luar negeri dalam ranka tugas jurnalistik. Dan setahu saya, warga Indonesia di semua negara yang pernah saya kunjungi, selalu akrab, saling bergaul tanpa memandang suku agama ras dan golongan. Persis seperti gambaran masyarakat Indonesia di buku-buku pelajaran waktu kita SD dulu. Tentulah ada saja yang namanya kerut dalam relasi antar-manusia. Tetapi kerut-kerut itu tak seberapa dibanding persaudaraan yang mewujud di antara warga Indonesia di luar negeri.
Sejauh ini, gambaran yang saya tangkap tentang warga Indonesia di Hawaii, pun persis sama dengan gambaran warga Indonesia di negara-negara lain.
Memang, kita ini kadang-kadang aneh. Dengan teman sekampung di Medan ribut. Tetapi begitu bertemu di Bandung zaman kuliah, eh, jadi akrab lagi…
Saya pribadi berharap nilai kekeluargaan dan sikap tenggang rasa di antara kita, sesawa warga Indonesia di manapun berada, apalagi di tanah air, dapat terjalin abadi. Sungguh.
JARAR SIAHAAN: benar, lae, aku minta maaf. yang kumaksud adalah kasus kartun akbar mandi darah. aku salah tadi menulis kartun pinokio; teringat tempo. pencipta kartun mandi darah itu pun sempat berbincang dengan aku di kantor lae di jakarta waktu itu. kalau tak salah, dia orang manado, kan? soal aji, lae terlalu merendahkan diri.
oke lae, aku pun tak ingin lae memaksakan diri menjawab imelku yang dulu. aku tahu lae lagi sibuk dengan kuliah di sana. kutunggu saja kapan waktu lae yang senggang. sukses untukmu, laeku.
17 Oktober 2007 at 6:04 pm
Sepertinya sulit untuk sholat Ied di Honolulu. Mirip – mirip dengan beribadah dengan cara Muslim di Negeri yang mayoritasnya non-muslim seperti Amerika atau Jepang.
17 Oktober 2007 at 10:50 pm
Keputusan menyelenggarakan sholat Ied di pantai sepertinya juga ditujukan untuk mengenalkan masyarakat muslim kepada penduduk Hawaii pada umumnya. Tak kenal maka tak sayang, tak iye.
waduhhh….masyarakat hawai kn udah kenal agama islam, mw kenalkan apa lg ni……….???????????????????????????
18 Oktober 2007 at 4:33 am
pernah ngerasain solat ied di tengah laut?? diatas rig tepatnya di helideck.. itu sangat menyedihkan, jauh dari mana2, ga ada keluarga, ga ada siapa2..
solat bukan untuk dibanggakan, kalo cuma akhirnya jadi ajang pameran doang, hilang sudah maksud baik manusia. Yang penting niatnya..
18 Oktober 2007 at 1:11 pm
Hmmm…solat Ied di pantai????
wah gak konsen nih liat bikini seliweran
btw, lae Jarar, Minal Aidin Wal Faidzin, Selamat Iedul Fitri, Mohon Maaf lahir dan Batin.
JARAR SIAHAAN: maaf lahir batin juga, lae.
18 Oktober 2007 at 2:47 pm
Terimakasih untuk rekan-rekan yang mengomentari tulisanku. Tentunya yang paling utama adalah ucapan terimakasihku kepada Ito Jarar yang sudah memungkinkan aku untuk mencoba-coba jadi “wartawan amatiran” eh salah..wartawan gadungan…
@Ito Alvin, aku pernah menghadiri satu pengajian dimana penceramahnya mengatakan bahwa dilarang bagi orang yang ingin berjihad untuk sengaja membiarkan dirinya terbunuh di medan jihad, konon pula orang-orang yang sengaja meledakkan tubuhnya. Orang yang berjihad harus siap mati tapi tidak mencari kematian. Jadi pendapat pribadiku mengatakan bahwa itu bukan jihad, kalau aku salah dalam mengambil kesimpulan seperti ini, maka aku siap menerima resikonya.
Jadi ceritanya sudah pernah ke Pintupohan nih? Oh ya ada pesan sponsor dari suamiku, katanya bukan hanya bule-bule yang pake bikini, orang Jepang juga banyak yang pake..haha…jangan diambil hati ya Ito, walaupun suamiku bisa berbahasa Indonesia, tapi masih belum terlalu bisa menangkap tulisan yang margoit-goit.
@Ito Firmansjah, hehe…sebagai muslim moderat, cocoknya saya masuk partai mana ya? Sorry OOT.
@Ito Architect di Singapore, enak kali puang kalo bisa kenyang hanya dengan melihat makanan. Bagi-bagi dong ilmunya biar dietku lancar..hahaha…buka rahasia deh.
@Ito Marudut, penjelasan dari Ito Alvin dan Teguhtimur sudah menjawab keheranan Ito. Saya yakin tidak ada niat dari pimpinan mesjid di Hawaii untuk mempertontonkan dirinya dan atribut agamanya. Mesjid di Hawaii kebetulan cukup kecil untuk menampung seluruh jamaah, makanya perlu dilaksanakan di lapangan. Pemilihan pantai di Ala Moana saya yakin adalah alternatif terakhir yang harus mereka ambil, karena penentuan hari H-nya is coming at a very short notice.
@Ito Ronsen, sama saya juga keheranan melihat orang seperti yang Ito tuliskan. Tapi pengalaman saya di Amerika justru sebaliknya loh, yang suka preaching dan berdoa keras-keras di tempat umum itu justru umat Nasrani, sampai bawa-bawa pamflet loh. Sayangnya aku nggak berani ngambil fotonya, takut digaruk. Oh ya, alhamdulillahnya selama pelaksanaan sholat di lapangan, belum ada yang mencaci kami. Yang ada malah beberapa peselancar yang mendatangi tenda kami untuk bertanya-tanya tentang siapa kami dan apa Islam. Bayangkan, Imam mesjid kami yang bersorban ngobrol-ngobrol dengan peselancar yang bertelanjang dada.
@Ibu Syamsiah, saya cenderung setuju dengan pendapat Ibu untuk beribadah di tempat yang private. Ibadah di tempat umum seharusnya memang hanya dilakukan bila tempat yang ada tidak bisa menampung seluruh jamaah.
@Ito Mihael, yah begitulah. Sama saja barangkali dengan kesulitan umat Nasrani beribadah di Arab Saudi.
@Ito/Eda?? Dolfis, paragraf tersebut merupakan pendapat saya pribadi (lihat kata “sepertinya”). Berdasarkan majalah Time beberapa waktu lalu, Islam merupakan agama yang perkembangannya sangat pesat di Amerika tetapi juga merupakan agama yang sangat tidak dipahami tepatnya the most misunderstood. Informasi tentang Islam hanya mereka peroleh dari koran-koran nasional dimana artikel-artikelnya tidak menempatkan Islam pada proporsi yang benar (umumnya berat sebelah). Saya juga berkesimpulan bahwa penduduk Hawaii tidak aware bahwa ada masyarakat Muslim di lingkungannya. Ini merupakan kesimpulan saya setelah berteman dengan masyarakat lokal Hawaii, setiap kali saya bilang saya muslim, kening mereka berkerut seolah-olah bertanya “are you from another planet?” atau wajah mereka jadi blank (maoto?).
@Akhirnya….Mas Teguh, wah baru tau nih kalo mas ternyata halak kita. Aku panggil Mas saja ya, udah kadung. Aku tuh SKSD aja sama Ito Jarar…hehe..ternyata diresponse. Baru tau ya Mas kalau dunia ini sempit? Just kidding. Padahal aku nulis ke Bataknews itu disertai perasaan yang sangat yakin bahwa tidak akan ada yang kenal dengan aku, ealah…salah euy. Aku bisa merasa yakin seperti itu karena menurut suamiku aku termasuk makhluk a-sosial…tau kan maksudku. Coba, si Mas udah berapa lama di Hawaii tapi baru kenal aku sekitar beberapa minggu yang lalu. Berarti dunia kita nggak sempit-sempit amat ya. Oh ya sampai ketemu hari Sabtu nanti.
@Khusus buat Ito Jarar, halah…justru menurutku yang berpendidikan itu adalah orang-orang seperti Ito Jarar yang mau memanfaatkan akal fikirannya untuk bertanya dan berargumentasi. Aku sih masih belum bisa dibilang sebagai orang yang berpendidikan, soalnya semua ilmuku masih sebatas ikut kata text book. Nantilah di dunia nyata, kalau aku memang mampu mengaplikasikan ilmu yang aku cari untuk kemaslahatan diri sendiri dan orang banyak, maka boleh lah aku dikategorikan sebagai orang yang berpendidikan. Satu lagi, kok Ito Jarar ikut-ikutan sih manggil aku “Ibu”?
JARAR SIAHAAN: iya ya…, kok manggil ibu pulak aku. padahal biasanya aku menyapa ito. maafkanlah diriku, tak kusadari itu. mulai sekarang aku panggil ito kembali.
oh ya, salam kenal buat lae di rumah.
18 Oktober 2007 at 8:35 pm
@Ronsen
bah ngeri kali komentar mu
)
)
memuji Tuhan di mana aja boleh
terserah dia donk
awak jg nasrani nya tapi jangan radikal kale lae berpikir mu
iya ga lae jarar sihh ahan
18 Oktober 2007 at 9:10 pm
@jaultop
anda tidak mengenal saya, saya bukan maniak agama. kebetulan saja saya punya teman maniak agama. setiap hari kerja di pasang musik pake pengajian winamp di kantor dengan volume keras. terus kadang-kadang suka menegur wanita kalo sedang berbicara. dan di otaknya seorang wanita penyiar radio itu akan membuat dosa buat laki-laki yang mendengar. dan anehnya teman-teman muslim lainnya tidak ada yang menergur. sedangkan saya langsung membentak dia kalo berani ngomong seperti itu kepada wanita.
18 Oktober 2007 at 11:31 pm
@Ronsen
itu semua hahaha
yah oke lah
aku pun malas berdebat kalo masalah agama ini
tak suka aku
xxxx
19 Oktober 2007 at 11:36 am
Walupun sudah berlalu beberapa hari , Saya ucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1428 H kepada Lae Jarar dan Keluarga dan kepada seluruh rekan2 yng merayakannya.
Selanjutnya saya hanya ingin mengajak semua utk selalu menghargai setiap perbedaan tanpa harus memaksakan keinginan, INGAT !!! Kalau Tuhan mau dan berkehendak ” Kun Faya Kun” dengan satu kalimat saja semua makhluk yang ada dimuka planet ini bisa jadi sama, tetapi kita diciptakan berbeda beda seperti halnya Dia menciptakan Siang dan Malam, Gelap dan Terang . Hitam dan Putih dlsbg, tetapi saya yakin Dia ciptakan seperti itu untuk saling melengkapi dalam mencapai kesempurnaan bukan untuk memisahkan yng satu dengan yang lain untuk mencapai kehancuran.
JARAR SIAHAAN: terima kasih, lae.
20 Oktober 2007 at 3:21 am
Mengingat cerita Lebaran(idul fitri) kemarin disini tempat aku mangombak(bekerja) sekarang, kok sepi kali…tak ada ku dengar suara takbir, macam bkn mau lebaran saja pikirku. Apa mungkin lebih banyak yg mudik, tapi pasti ada suka dan duka merayakan hari besar di negeri orang, ada saja kurang ’sreg’ nya, sudah pasti lebih senang dan gembira berhari-raya di kampung sendiri. Dekat sanak saudara dan ada makanan2 kesukaan kita…sikaatt
20 Oktober 2007 at 1:03 pm
@Ronsen
Kalau di kantormu begitu, bilang sana, jangan di sini. Ini dibaca banyak orang.