[ridwan simanullang; blog berita; masih banyak lahan tidak produktif]

Rintislah sesuatu di kampung halaman.

Artikel ini adalah komentar yang ditulis Ridwan Simanullang menanggapi tulisan sebelumnya di Blog Berita, Bangunlah pendidikan, bukan makam. Ridwan tinggal bersama anak-istrinya di Jakarta, bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi.

MASA ANAK-ANAK dan remaja (sampai lulus SMA) yang saya jalani di Humbang kayaknya tidak merasakan adanya kaitan makam tersebut dengan rumah reot yang disebutkan.

Makam tersebut mungkin ada nilai positifnya. Setahu saya kalau di Humbang, makam secara umum masih memakai kuburan biasa (langsung ke tanah).

Mertua saya adalah orang Samosir (Lumban suhi-suhi) dan saya baru pernah satu kali ke pulau samosir dan memang saya melihat bahwa hampir semua keluarga di sana memiliki makam yang bertingkat dan permanen.

Menurut pemikiran saya bahwa hal tersebut punya latar belakang yang berbeda. Samosir, memang lebih baik memakai makam bertingkat dan permanen tersebut jika kita melihat luas lahan yang tersedia di sana. Bukankah makam tersebut dipakai banyak orang (kalau tidak bisa disebut puluhan).

Yang aku dengar, lubang terbawah adalah utk tempat pembusukan mayat dan jika sudah penuh namun ada kerabat yang meninggal (tentunya masih satu keluarga) maka lubang terbawah yang diisi oleh mayat yang sudah tinggal tulang belulang akan dipindah ke lubang di atasnya disatukan dengan tulang belulang yang sudah lebih dahulu ada di sana, demikian seterusnya sampai makam tersebut penuh.

Jadi, saya kira ini adalah pemikiran efisiensi lahan yang mungkin telah dipikirkan nenek moyang khususnya daerah Samosir yang boleh dibilang bahwa lahan tanah pertaniannya sangat terbatas. Coba bayangkan, jika makamnya bukan demikian, maka mungkin seperempat lahan di Samosir sudah menjadi kuburan.

Dan berbeda dengan Humbang, yang boleh dikatakan bahwa lahannya jauh lebih luas dari pulau Samosir maka bentuk makam yang lebih tepat saat ini adalah dengan system horinzontal (satu lubang satu mayat). Walaupun mungkin beberapa telah ada makam bentuk bertingkat dan permanen. Dan barangkali untuk waktu mendatang, makam bertingkat tersebut akan lebih tepat mengingat pertumbuhan penduduk dan lahan yang tetap.

Kembali ke makam dan rumah reot… Saya kira kita juga harus mengakui bahwa kemiskinan yang terjadi di Bona pasogit (dalam hal ini saya hanya bisa katakan untuk Humbang, karena saya lahir dan besar disana) juga disumbang oleh pola pikir yang ada di bona pasogit. Saya juga pernah punya pengalaman pribadi di mana ada anggapan masyarakat bahwa tanahnya terlalu tandus untuk bercocok tanam sebagai alasan untuk kemalasan bekerja.

Selama 3 tahun masa SMA, saya berusaha menggerakkan adik-adik, dan Tulang (yang seumuran denganku) dan yang akhirnya didukung penuh oleh ortuku untuk ‘mangarimba’ (bahasa indonesianya apa ya) sekitar 1 hektar lahan ‘tarulang’ yang dipenuhi ‘aramonting’ ,’arsam’, dan ‘hau silom’ untuk kemudian ditanami dengan kopi, cabe, dan sayur. Pekerjaan tersebut bukan dengan traktor tetapi benar-benar dengan ‘cangkul’.

Untuk tahun pertama memang sangat sedikit hasil bahkan tidak jarang banyak tanaman kopi, cabe atau sayur yang ‘kariting’. Pupuk pada saat itu cukup mahal disamping modal memang tidak ada, maka kami ‘mangarambas’ semak belukar untuk dijadikan pupuk dan ditambah dengan ‘taru-taru’ bercampur tahi babi yang dibawa dari perkampungan. Akhirnya… lahan tersebut menjadi subur dan saya dengar akhir-akhir ini sudah banyak teman kampung yang mengelola lahan ‘tarulang’nya dan bahkan saat ini lahan tersebut pun sudah dapat dipakai untuk menanam tomat.

Bukan mengatakan bahwa saya termasuk pelopornya, tapi yang saya mau bilang adalah bahwa masih banyak pola pikir yang menghambat di kampungku sana. Cukup banyak petani yang berdiskusi tentang tata cara kelola negara, perang nuklir, kursi menteri, dll, dll.

Dan jangan kaget, sebenarnya saat ini pun sangat banyak lahan kosong yang dibiarkan terlantar di bona pasogit sana (dalam hal ini saya hanya berani bicara Humbang). Adakah yang berminat untuk mengubah pola pikir-pola pikir yang lain yang mungkin menghambat kemajuan tersebut.

Eh… rumah reot… lupa lagi. Percayalah… Anda bantu pun pemilik rumah reot tersebut untuk membangun rumahnya menjadi gedung permanen, kemiskinan tidak akan hilang dari Bona Pasogit selama kemalasan masih ada dan pola pikir belum memungkinkan untuk maju.

Kita boleh dengan sangat bangga sebagai orang Batak, namun kita juga harus tetap mau belajar kepada orang lain. Janganlah seperti orang bilang “Namalo maol mangajari, Naoto maol siajaran”. Orangnya pintar tapi tak mau membagi ilmunya, orang bodoh tetapi tidak mau untuk belajar.

Oh ya satu lagi, saking susahnya mengubah pola pikir ini. Kalau tidak salah, saya pernah dengar bahwa pak TB pernah menyarankan agar rumah-rumah yang ada di tepian danau di pulau Samosir agar diubah posisinya menjadi menghadap pantai (saya sendiri sewaktu ke pulau Samosir memang melihat banyak rumah yang membelakangi pantai danau toba). Mungkin pak TB pasti ada alasan untuk mengusulkan tersebut. Kenyataannya, sudah berapa banyak yang rumah yang menghadap pantai?

Jadi, usul saya adalah mungkin rekan-rekan bisa membantu bagaimana caranya mengubah pola pikir (pola pikir pola pikir yang tidak membuat kemajuan) para ‘tondong’ kita yang masih tinggal di Bona Pasogit (ah..yang tidak tinggal di Bona Pasogit pun mungkin banyak juga) dengan cara tidak menggurui mereka. Bantuan finansial bukan satu-satunya solusi walaupun bantuan finansial memang tetap dibutuhkan.

Barangkali sudah saatnya para jurnalis memberitakan orang-orang di Bona Pasogit (bukan perantau, karena pemberitaan untuk perantau sudah banyak kayaknya) yang punya karya mendobrak, memelopori, kemajuan di daerahnya masing-masing. Mungkin sudah saatnya pemerintah meng-apresiasi mereka dengan penghargaan setingkat ‘kalpataru’ sehingga makin banyak orang lain (di bona pasogit) yang terinspirasi menjadi pionir-pionir di daerahnya masing-masing.

Kayak Lae Jarar yang punya blog ini pun mestinya sudah harus diapresiasi untuk kategori ‘Blogger yang berdomisili di Bona pasogit’. Karena apa, Lae ini termasuk orang yang berkarya dan pionir dalam bidangnya di Bona Pasogit melalui media internet dalam bentuk blog.

Hatai hata tambaan dan mohon maaf jika tidak mewakili pengalaman para Netters yang lahir dan sempat menghabiskan masa remaja di Bona Pasogit. Komentar tersebut hanya bersifat pemikiran dan pengalaman pribadi saja. [www.blogberita.com]

Silakan bila ingin mengutip artikel dari blog ini, dengan syarat menyebut sumber dan nama penulisnya. Bila dikutip untuk website, blog, atau milis, maka tuliskanlah sumbernya www.blogberita.com dan buatkan link ke artikel bersangkutan. Bila dikutip untuk koran, majalah, bulletin, radio, televisi, dll, maka tulislah/ sebutkanlah sumber kutipannya; www.blogberita.com.

Artikel terkait:


  1. 2on

    Seperti kata orang tua dulu, mulailah dari diri sendiri dan biarkanlah orang lain yang melihatnya dan melakukannya dengan kehendaknya sendiri.
    Seperti bang jarar ini yg udah memulai dari diri sendiri dulu dan memperlihatkan kepada orang lain sebuah integritas, barulah orang lain akan mengikuti langkahnya.
    Tidak ada contoh yang lebih baik untuk di beritakan kepada orang lain kecuali contoh dari diri sendiri.

    Udah banyak kisah sukses perantau kami dengar tapi udah banyak juga kata2 perantau yang bilang, “Aha ma na di lului ho di si, nga gabe songon katak di bawah tempurung ho, merantaulah kau ke sini biar sukses”, lantas setelah sukses apa kontribusi utk daerahnya ini? General nya adalah “NO ACTION JUST TALK” atau justru lebih memprovokasi masyarakat muda batak dengan kata-kata “Merautaulah kau supaya sukses”

    Bukankah itu yg telah menjadi pola pikir masyarakat kita batak selama bertahun-tahun? Bukan hanya masyarakat di daerah tapi justru kebanyakan dari masyarakat perantau. Jadi masih ada pola2 pemikiran yang agak kuno yang terselip di antara kemajuan berpikir para batak perantau. Bagaimana kita bisa mengubahnya? Jawabnya “Hanya dari diri sendiri”

    Terlalu banyak orang2 batak yang sangat pintar dan cerdas tapi terlalu banyak pula kepintaran itu di gunakan untuk memajukan daerah orang lain. Jika kita berani mengancungi jempol orang2 yg mau tinggal di daerahnya untuk memulai membangun daerahnya maka dari situlah kita bisa mulai berharap untuk kemajuan daerah batak. Tapi jika kebanyakan kita hanya memandang sebelah mata orang yg mau tinggal, maka percayalah daerah batak akan maju tapi dengan kecepatan dan akurasi dari seekor keong.

  2. @2on

    setubuh….eh setuju…banyak koq halak hita yang sudah sukses di kota-kota besar dan jadi orang penting malah…tetapi kenyataan nya banyak dari mereka tidak mau melihat kebelakang ( bona pasogit) untuk memajukan samosir…

  3. HAE77

    Benar sekali tanggapan saudara 2on, memang kalau dilihat banyak orang BONA PASOGIT Yang sudah berhasil diparantauan tetapi Kenyataan perkataan ” MARSIPATURE HUTANA BE ” Hanya diaminkan beberapa orang saja .

    Contoh nya Danau Toba ; saya sangat sedih melihat keadaaan nya skarang. padahal kalaulah ada para perantau yang sudah berhasil mau mengembang kan daerah ini sungguh akan menjadi tempat pariwisata mancanegara yang sangat menguntungkan dan meningkatkan pendapatan daerah TOBASA .

    Saya sering mempromosikan daerah danau toba kepada rekan rekan kerja saya yang datang dari Jepang, Singapore ,China , India Dan Belanda yg kebetulan datang ke Batam dalam urusan kerja ( dimanapun waktunya saya akan memperkenalkan Keindahan Danau Toba Pada Mereka ) . Pada Tahun 2001 saya membawa empat warga India (male ) berkunjung melihat keindahan Danau Toba. ( Bang JJ Saya punya cerita lucu di balige, waktu bawa mereka ) Cerita nya kan… Mobil yng dicarter dari Medan sudah keliling dari Brastagi, Tomok, Prapat terus kami langsung ke Balige tapi waktu sampai dibalige ditengah jalan mereka sesak pipis dan saya bingung mau dibawa kemana langsung lah aku turun , aku ketok lah rumah salah satu warga dengan berlagak oon akupun berkata ” Amang boi do manupang tu pudi satokin ? nunga tarsosak dongan kon..sambut yg punya rumah oohh boi inang…aku langsung perintahkan temanku pergi ke belakang .. tapi hanya sebentar ..dia langsung balik sambil menunjuk kan muka yg blooonnn ,bingung trus.. aku tanya Why ..? what happen with you..?
    Langsung dia bilang emmounggggggg trus akupun tanya lagi what..? what..? dia katakn lagi emmoungggggg ech.. ternyata ada babi yang mengejar dia saudara….he he ha ha
    dia tak jadi pipis karna dikejar babi….he he.. masuk ma muse kosing nai..( masuk lagi kencing nya tak jadi keluar ).

    Bang JJ Banyak juga nya babi di balige itu yah….( garang pula babi nya sampai di kejar temanku yang india itu .. mungkin karna sama hitam nya ha ha)

    Jadi begitulah…. Bahagia kali nya aku kalau Danau Toba itu di pugar kembali.., buka hanya orang india nanti kubawa… perdana menteri S’porepun kubawa he he…

    Jadi Ale akka dongan beta ma hita ” Marsipature Hutana Be….

    Syalooom…./wassalam
    Salam damai sejahtra…..

  4. This blog is just like a magic. Something just disappear in the twinkling of an eye and gone. I don’t like magic and so I should say good bye and may god bless and be with u from now till your dooms day.

    BLOG BERITA: tak ngerti aku apa maksud anda. kalau anda mau berhenti membaca blog ini, silakan. aku tidak pernah memaksa orang membaca blogku. good bye juga….

  5. I got u man, I am sure now that u don’t really understand what the meaning of what I said. Let me tel you that I really, really, really want to build a positive thinking to all Batak People in many aspects of life including religion, that’s why I’ve tried to write my opinion on it by hoping at least one of the Batak can be brought to the positive thinking as I said but when I wrote my comment, u just erased it from this blog without any information from you to me ‘couse u also know my e-mail address to say something if u don’t like it to be known by others. I spent energy on that, man…. so u have your right but I also have my right (dang lomo-lomo)

    I got u man, “may god bless and be with u from now till your dooms day” lapatanna “sai dipasupasu Tuhan ma ho jala diramoti saonari tu saleleng ni ngolum” tapi walaupun dibenak laeku bermaksud memberi kutukan padaku tetapi aku sudah menerima berkat tanpa sadar dari laeku. Mauliate.

    BLOG BERITA: sungguh aku tak paham apa yang anda maksud. tolonglah berbahasa indonesia, karena aku tidak terlalu mahir berbahasa planet lain. anda bilang aku menghapus komentar anda? komentar yang mana? pada artikel mana komen itu anda tulis?

    inilah data pada halaman admin blogku. pembaca bernama maridup hutauruk mulai bergabung di blog ini menulis komentar adalah pada dua hari terakhir. sejauh ini, anda sudah menulis enam komentar. yaitu pada artikel BANGUNLAH PENDIDIKAN, BUKAN MAKAM, artikel UNTUNG ADA KPK, artikel PERSETAN DENGAN LOGIKA AGAMAMU, dan tiga lagi pada artikel PINTAR TAPI TAK MAU MENGAJARI…. dan keenam komentar itu [termasuk komen anda di bawah komen yang ini] kuloloskan, tanpa kuhapus dan tidak kusensor sedikit pun, karena memang isinya positif dan tidak menyinggung sara.

    jadi komen mana yang anda sebut kuhapus itu? tak ngerti aku apa maksudmu, pren. maaf, santabi jolo, namarangan-angan do hamu sambil manurat komen di blog on?

    biar anda tahu, aku tidak pernah menghapus komentar kecuali, misalnya, yang menghujat agama-agama atau menyinggung sentimen kesukuan. dan itupun, selama ini bila ada komen yang menghujat agama, maka bagian yang menghujat itu saja yang kuhapus dengan tanda ***, sedangkan bagian lain yang tidak bermasalah tetap kuloloskan.

    anda bilang aku bermaksud memberi kutukan padamu? bah, bah, kapan pulak aku begitu? tolong sebutkan kapan aku berkata begitu padamu. justru andalah yang menulis sebelumnya, “may god bless and be with u from now till your dooms day.” kalimat inikah yang anda maksud sebagai kutukan? bila begitu, maka andalah yang berusaha mengutukku. dagaaa…, ngeri nai jo puang. so adong salahku tu amanta hutauruk on, hape gabe songoni didok tu ahu.

    terus-terang, ini pengalamanku paling menggelikan menghadapi komentator; seperti berhadapan dengan orang yang stress, ngomongnya ngelantur tak jelas. masak aku dituduh menghapus komentarnya padahal semua komentarnya kuloloskan. masak aku dituduh ingin mengutuknya padahal tak secuil pun aku pernah begitu. agoi amang tahe…, ada-ada saja. :D

  6. kemarin ada judul ‘persetan dengan logika agamamu’ disitu banyak komentar yang kurang beradab, jadi aku coba mengomentari dengan maksud agar sesuatu yang kurang difahami tidak dihembuskan dengan suara kebencian.

    Kupakai bahasa planet itu supaya tak begitu banyak yang faham ttg kesalahan fahaman kita, maksudnya supaya jangan jadi debat kusir didepan umum, siapa tahu ada lupa langsung di tampilkan, jadi untuk safety saja, bukan memplanetkan diri karena dari bahasa planet banyak kali ilmu yang bisa didapat karena ilmu yg ada di laklak sudah dibakar bangsaku.

    Aku sedang mencari ilmu di blog mu, mengkaji mengenai Habatako dan sewaktu searching “batak” maka aku temukan bataknews dan itulah u. kebetulan yang aku tahu cyberspace milik semua dan anda kebetulan mengundang untuk beri komentar jadi aku kasi komentarlah.

    Ok sudahlah, naeng manuhor sigaret jolo ahu sian jolo jabu muna on. Horas ma ate. Be cool

    BLOG BERITA: betul-betul bingung aku membaca komentar-komentar anda dari tadi. jadi begini sajalah, karena tadi anda sudah pamit dari blog ini dan berkata good bye, maka sebaiknya anda tepatilah kata-kata anda itu.

  7. OK, lae. nga huantusi be. Unang pola mamuncul hamu debat ta on ate mauliate ma. Forgive me if I make mistaken in my words.HORAS

  8. haha. lae jarar, mungkin inilah saatnya bagimu berperan sebagai psikolog. hadapilah kedanta si maridup on.

    JARAR SIAHAAN: :D tak sanggup aku, puang. jadi ikut-ikutan gila aku nanti kayak kawanku si garoga di balige.

  9. 2on

    @Maridup

    huhehehhee, kayaknya Lae Maridup lagi tenggen mgkn. Silahkan beri penjelasan dengan mengikutsertakan bukti-bukti yang mengkaitkan ke dalam masalah lae biar public bisa tahu dan jelas akar masalahnya.

    Dari komentar ini kok jadi lucu ya: “Kupakai bahasa planet itu supaya tak begitu banyak yang faham ttg kesalahan fahaman kita, maksudnya supaya jangan jadi debat kusir didepan umum”

    Kalau lae ingin orang lain tidak perlu paham dengan permasalahan lae dan tidak ingin ini jadi debat kusir, silahkan JAPRI aja lae, yg lae kiranya kami bodok2 dalam bahasa planet jadi kami gag akan ngerti dengan bahasa planet lae itu? :) Ah sepele kali lah dirimu terhadap public di blog ini lae.

    Dari isi komentar lae dah tahu kami klo lae agak mabuk :) memberikan komentar yang lari dari jalurnya. Mempelesetkan bahasa tidak pada tempatnya, yang akhirnya akan menjatuhkan dengan haccit huehueueuheu

    Selamat Bertenggen Ria -lah Lae :D Atau silahkan masuk ke Bagian Kedai Tuak, jadi orang bisa menganggapnya hanya lawak-lawak Semata :P

  10. gelleng

    Untuk aku orang yg bodoh ini,walaupun pake bahasa planet saudara Maridup,akan kusukka sukka buka kamus supaya aku lebih jelas mengerti maksud saudara ini. kenyataannya saudara ini yg menganggap pengkoment di blog ini orang bodoh,salah kamar kau laekku,aku sendiri tersinggung dengan cara anda yg mengatakan,pake bahasa planet supaya tidak jadi debat kurir.Siapa perduli kepintaran anda kalau anda sendiri menganggap orang lain tidak perlu mengetahui apa maksud anda.Gabe loakon iba di baen.

    JARAR SIAHAAN: betullah yang kau bilang itu, lae gelleng. aku pun jadi loakon [merasa bodoh] membaca komentar-komentarnya.

  11. HAE77

    Bahhh…
    Kenapa Abang si Maridup itu….. ito JJ
    Tak ada angin .., tak ada badai… kok dia langsung main tubruk aja..
    Dan dia pikir cuma dia pula yg mengerti bahasa planet…
    Bahhh… bah….
    Sombong kali dia kutengok….

    Tapi sudah lah…ito JJ. ” LET IT BE…. Kata orang planet ha ha
    Tak usah di pikirin lah..yang penting dia sudah minta maaf.
    (“Forgive me if I make mistaken in my words.HORAS”)

    May God Bless us forever……..

    JJ SIAHAAN: :D

  12. ridwan simanullang

    Atau barangkali Lae Hutauruk membuat satu ‘comment’, kemudian ’submit’, lalu karena satu dan lain hal sebenarnya proses ’submit’ belum ‘completely finished’ tapi keburu sudah ‘close application’ dikomputernya. (bahasa bataknya apa ya..ndang botul-botul tolpus dope alai dipardalanan dope hape alani sanggotil nai gabe disundati patolpushon). Mungkin lho… ‘just assumption’ ( ido ra ?)

  13. Dian Sidauruk (laki-laki)

    Kepada Lae Jarar, ampara Siallagan dohot saudara 2on.

    Maksud pak Marhidup Lumbanuruk pakai bahasa planet agar kita-kita ini tidak tahu apa yang mereka perdebatkan.
    Secara umum bahasa planet yang digunakan oleh Marhidup Lumbanuruk mirip bahasa Inggris. Apa memang bahasa Inggris? Sepertinya ya, tapi vocabularies nya kok….. terminalology.

    Saya tak percaya kalau itu tulisan pak Marhidup Lumbanuruk, soalnya, saya kenal beliau, sekarang di Jakarta, hendak jadi master, S2 maksud saya. Ah…..mungkin 2on benar, pak Marhidup Lumbanuruk lagi tenggen. Jangan terlalu banyak minum enau, nanti enauan kau, lebih terminalology daripada tuakon.

    Di kampung kami, tuak dan enau sering disebut bagot. Kalau mau minum bagot silahkan itu hakmu tapi hati-hati, permisi dulu dari Si Bagot ni Pohan ya… agar bagotnya dikasih kau isap.

    Coba simak petikan ini: “This blog is just like a magic. Something just disappear in the twinkling of an eye and gone. I don’t like magic and so I should say good bye and may god bless and be with u from now till your dooms day.

    1. Sisi yang mana yang MAGIC?

    2. GONE kurang serasi dipadukan dengan IN THE TWINKLING OF AN EYE. IN THE TWINKLING OF AN EYE dan GONE adalah 2 kata – dan susunan kata-kata – yang senafas dalam konteks ini sehingga kalau dipadukan terlihat AYN HODOB. AYN HODOB adalah bahasa baru di planet. Tapi bahasa planet baru ini hanya pura-pura sok planet padahal saya tahu maksudnya: BODOH NYA.

    3. Menurut tata bahasa Inggris kata MAGIC di dalam kalimat ‘I don’t like magic’ harus didahului oleh definite article ‘the’ sebagaimana kata MAGIC dalam kalimat ‘This blog is just like a magic’. ‘a’ adalah indefinite article yang mendahului MAGIC.

    4. Kata AND di antara MAGIC dan SO tidak menggambarkan kecermatan menggunakan conjunction. AND dan SO dalam konteks ini selevel, sama-sama conjunction.

    5. GOD BLESS AND BE WITH U? Maksudnya apa? Apa sengaja ‘AND BE WITH’ ditambah agar lebih planet?

    6. GOD BLESS adalah bahasa ‘berkat’, tak pantas dipadukan dengan ‘DOOMS DAY’ yang dalam konteks ini adalah bahasa ‘laknat’.

    7. Menulis doomsday bukan ‘DOOMS DAY’ sebagaimana bahasa planet yang digunakan oleh pak Marhidup Lumbanuruk.

    A MILD….agar hidup lebih Marhidup. Is this Bahasa planet?

    JARAR SIAHAAN: ah…, senangnya hatiku sekarang. untunglah lae muncul mengulas kemampuan berbahasa inggris lae maridup. aku pun jadi makin paham orang seperti apa dia. terima kasih, lae. dan tolong bantu aku menjaga blog ini bila ada lagi komentator berbahasa planet lain; jangan sampai aku dimaki-maki nanti, bah, tak ngerti pulak aku maksudnya lalu kuloloskan. :D

  14. alna65

    itu memang sudah sifat orang batak kalau berdekatan akan bersinggungan, sebaliknay kalau jauh..ada rasa rindu sedarah, sekampung, semarga, dll.

    keep this live..hilang satu tumbuh seribu.

    Cape deh.

  15. Charlie M. Sianipar

    Bila saya baca tulisan Lae Ridwan Simanullang, saya melihat sesuatu.
    Harus ada pemberdayaan lokal. Pemberdayaan Lahan dan kemampuan penduduknya, pekerjaan yang tidak mudah. Siapa yang bisa mengajari mereka dan apakah mereka mau diajari? Apa yang Lae lakukan dalam ‘mangarimba’ sangat positif. Upaya upaya seperti ini akan memberi sesuatu/paradigma yang baik buat penduduk sekitarnya.

  16. architect_singapore

    @…..bahwa pak TB pernah menyarankan agar rumah-rumah yang ada di tepian danau di pulau Samosir agar diubah posisinya menjadi menghadap pantai (saya sendiri sewaktu ke pulau Samosir memang melihat banyak rumah yang membelakangi pantai danau toba). ……..

    Alasannya sederhana kok…beliau tersinspirasi oleh konsep hotel resort yang bagian muka semua menghadap ke laut.. heheheh
    Itu semata-mata hanya untuk mendapatkan view (pemandangan) yang bagus… Malah lebih baik kalo bagian muka rumah itu di buat menghadap ke laut dan kedarat ….Sepanjang pintu yang menhadap ke laut dan ke darat tidak terletak dalam satu garis lurus.

    Saya juga menyarankan kepada anda yang pengen bangun rumah atau yang sudah punya rumah….pintu muka dan pintu belakang rumah anda jangan terletak dalam satu garis lurus…bukan karena fengshui tapi emang tidak bagus terhadap penghawan (aliran udara) ruang….

    Konsep bagian muka menghadap ke laut/ke danau sangat di gemari oleh seluruh arsitek dan pengembang hotel resort di seluruh dunia, karena vista nya sangat menarik.

    Jadi saya pikir itu lah yang menjadi alasan mengapa Mr. TB Silalahi melontarkan ide tersebut.

    Thanks….

  17. ridwan simanullang

    @architect_singapore
    apa mungkin juga ya, jika rumah membelakangi pantai, maka pantai danaunya menjadi tempat ’start jongkok’ terutama di pagi hari. (saya pun menyaksikan langsung peristiwa ’start jongkok’ tersebut pada saat berkunjung ke kampung mertua, habis tidak ada ruang kecil ehh…kamar kecil. masih nggak ya?). Begitu indah diciptakan Maha Pencipta dan merupakan aset pariwisata yang sangat berharga namun hanya difungsikan sebagai tempat ’start jongkok’ yang tidak utk perlombaan lari. Marisuang nai ate…

  18. Singal Sihombing

    Mungkin sangat banyak hal yang (paling) sederhana yang (kita?) lupakan dan abaikan, meskipun mudah mengerjakannya asal mau saja. salah satu contohnya, ya… kommentarnya HAE77 itu tadi. “godang do naung taparsiajari angka nadenggan dohot nauli, sian nametmet sahat tu namagodang”. Kita sudah menerima pelajaran tentang hal-hal yang baik selama ini, tapi… apa kenyataanya. “Lae Jarar, santabi di ho lae, on do pe ahu masuk tu partungkoan on, jala mansai denggan do hubereng jala tamba parbinotoanku”. Lae Jarar, saya baru masuk ke bloq ini (searching) dan sangat bermanfaat bagiku, tambah ilmuku. Kita harus Sabar, Lembut dan Rendah hati. dan hormati sesama. Maju terus lae Jarar.