Toba Samosir Tapanuli

Jarar Siahaan Penulis Berita Batak

Untuk Apa Berpuasa?

30 Komentar

[jarar siahaan; blog berita; bukan cuma "menyucikan" diri]

Berpuasa bukan sekadar memuji dan “ambil hati” sama Tuhan.

Beberapa hari terakhir aku rajin jalan-jalan ke sejumlah blog milik muslim. Karena sedang bulan Ramadan, wajar, mereka pun menulis artikel menyangkut puasa, sama seperti kulakukan di blog ini. Pendapat mereka, juga komentator, bermacam-macam soal apa itu puasa.

Ada yang bilang puasa adalah ibadah untuk Tuhan, karena Dia memerintahkan begitu, dan disertakan sejumlah ayat kitab suci yang menguatkan opininya. Ada juga yang mengatakan puasa adalah untuk melatih diri menahan hawa-nafsu; menahan lapar, haus, seks, mencuri, korupsi, menyakiti orang lain, dll. Ada juga yang berharap bahwa dengan puasa maka dosa-dosanya akan terampuni dan dia bisa menjadi fitri alias fitrah alias “suci” kembali.

Sementara di luar blog, satu hal yang bisa dipastikan adalah bahwa sekarang para penceramah di masjid-masjid akan selalu mengkhotbahkan pesan, “Ini bulan suci, Ramadan mubarak, bulan penuh berkah, di mana kita bisa mendapatkan pahala lebih banyak dibanding bulan-bulan yang lain….” Dan pesan itu akan diikuti pembicaraan soal surga dan neraka. Biasalah, orang-orang selalu gemar meraih “tiket” masuk surga, ya salah satunya dengan berpuasa itu.

Tentu saja tidak ada yang salah dengan pendapat mereka. Semuanya benar, sesuai sudut pandang si penulis dan doktrin agama yang dia pakai untuk memahami puasa. Namun aku memaknai puasa secara berbeda. Berpuasa bagiku berarti melatih diri untuk LEBIH MENCINTAI sesama manusia; istriku, anakku, familiku, tetanggaku, kawan-kawanku, dan orang lain. Berpuasa bagiku bukan semata-mata bikin Tuhan senang supaya kemudian Dia mengampuni dosaku — walaupun bila benar Tuhan mengampuni dosaku, aku akan tetap mengucap syukur. Di blog kawan, Toga, aku pernah menulis komentar bahwa berpuasa bagiku adalah ikut merasakan kesusahan orang lain dan membantu mereka; kukutipkan di bawah ini.

tahun pertama-kedua berpuasa aku ikut-ikutan doktrin bahwa pahalaku akan lebih banyak dan dosaku akan dikorting. sekarang aku tak lagi memikirkan pahala dan diskon-diskonan itu. karena sekhusyuk apapun aku berpuasa dalam sebulan, toh 11 bulan lainnya aku tetap melakukan dosa. aku “tidak ingin” mendapat kemudahan vip dari staf TUHAN bahwa dosa-dosaku yang 11 bulan akan diampuni cuma karena beribadah dalam sebulan.

tapi ada satu hal yang selalu kuperoleh setiap berpuasa: kesadaran bahwa aku belum semiskin orang lain, belum selapar orang lain, belum sesakit orang lain, belum semenderita orang lain.

pada akhirnya puasa meninggalkan catatan untukku: miskin itu susah, susah itu lapar, lapar itu sakit, sakit itu menderita — maka jangan cuma berkata “kasihan ya” bila bertemu dengan orang miskin dan orang sakit.

Begitulah puasa yang kumaknai. Puasa adalah salah satu ajaran Islam yang paling kusukai, karena puasa mengajariku untuk selalu menjadi manusia yang patuh pada nurani — bukan menuruti doktrin kafir-mengkafirkan ala sejumlah komentator blog ini, jihad ala teroris Osama, mati syahid ala Amrozi, poligami ala AA Gym, dll.

Dengan berpuasa, seharusnya kita umat muslim tidak lagi cuma berkata kasihan pada si miskin yang kelaparan atau menderita sakit, tapi memberinya sebungkus nasi atau sejumlah uang untuk berobat. Dan apabila kita tidak bisa membantu sekadar sebungkus nasi, seharusnya kita memberitahu ke mana dia bisa mendapatkan bantuan, atau kita sampaikan pada orang lain untuk membantunya.

Di mimbar masjid, seorang ustad sedang berceramah dengan bersemangat, tulis Toga: “Kaum muslimin dan muslimat, alangkah ruginya mereka yang tidak memperbanyak ibadah di bulan istimewa ini. Mengapa? Karena di bulan ini, Allah SWT melipatgandakan pahala segala amal ibadah. Ini waktunya meraih pahala sebanyak-banyaknya, sebagai modal kita kelak untuk masuk surga.” Kembali lagi; doktrin surga-neraka, hal yang paling ditentang penyair muslim yang saleh, Jalaluddin Rumi, yang hidup di tahun 1200-an.

Kupingku sudah kututup rapat-rapat untuk doktrin para pengkhotbah di tivi, radio, atau suratkabar bahwa dengan berpuasa maka dosa-dosaku akan diampuni dan akan lebih mudah bagiku masuk surga. Bila kubiarkan diriku sering mendengar doktrin seperti itu, maka tidak mustahil tindakanku sehari-hari akan terpengaruh bahwa masuk surga dan menghilangkan dosa adalah begitu mudah.

Banyak orang dari berbagai latar agama sering mengatakan bahwa “agama adalah urusan pribadiku dengan Tuhan” atau “agamamu untukmu, agamaku untukku.” Betul memang. Tapi prinsip itu bisa disalahpahami atau melenceng menjadi “agama hanyalah semata-mata urusan manusia dengan Tuhan.”

Agama memang antara lain berisi ajaran bagaimana kita, manusia, memuji dan memuliakan Tuhan, salah satunya dengan doa-doa dan ritual. Namun agama juga mengajarkan bagaimana kita mencintai dan membantu sesama manusia. Ajaran kedua inilah yang lebih sedikit dimunculkan dalam khotbah-khotbah, dan sebaliknya ajaran pertama lebih kerap terdengar. Maka kemudian banyak umat beragama yang memaknai agama sebagai “cuma urusannya dengan Tuhan.”

Aku masih ingat satu ajaran bagus dalam Kristen. Bahwa bila kita memberikan satu pakaian kita kepada orang yang tidak memiliki pakaian, maka kita telah melakukannya untuk memuliakan Tuhan; dan bila kita memberikan nasi kepada orang yang kelaparan, maka kita juga telah melakukannya untuk memuliakan Tuhan.

Kurang-lebih begitulah makna puasa bagiku. Agar aku berbagi dengan sesamaku, walau sedikit yang aku bisa. Agar aku membantu sesamaku, walau tak seberapa yang aku mampu. Dan aku bersyukur telah melakukannya sejak lama, ketika aku masih lajang dan nasrani, sebelum aku menjadi muslim, belasan tahun sebelum aku bikin blog ini, dan juga hingga saat ini — kisah-kisahnya akan kutulis dalam artikel terpisah.

Ajaran dalam Alkitab itu memang hanya untaian kata-kata sederhana. Tapi sesungguhnya ia bisa menjadi doktrin yang berlaku universal. Maka sebenarnya mengasihi dan membantu sesama manusia adalah juga memuji dan memuliakan Tuhan. Aku selalu percaya hal itu.

Dua foto ilustrasi artikel di atas adalah jepretan wartawan foto terkenal, Kevin Carter. Gambar kedua adalah foto seorang bocah perempuan korban bencana kelaparan di Sudan. Di belakang anak itu terlihat seekor burung pemakan bangkai, yang menurut media, sedang menunggui bocah itu hingga tewas untuk … disantap. :cry:

Kevin meraih Pulitzer, penghargaan tertinggi bagi wartawan Amerika Serikat, atas karya foto itu. Tapi tidak lama setelahnya dia ditemukan tewas bunuh diri. Dalam surat yang dia tinggalkan tertulis bahwa dia merasa bersalah, berdosa, dan depresi setelah melihat terus-menerus foto tersebut.

Aku tak tahu apa agama yang dianut Kevin, atau jangan-jangan dia tidak beragama seperti banyak warga bule di Amerika sana. Tapi aku yakin bahwa Kevin sangat memahami apa itu cinta yang diajarkan dalam agama-agama. Bila Kevin merasa berdosa telah memotret dan “membiarkan” gadis malang itu — padahal memang itulah tugasnya sebagai wartawan, agar dunia tahu terjadi kelaparan — maka aku masih ragu apakah banyak orang bernurani seperti Kevin di Indonesia yang katanya taat beragama ini.

Foto Kevin Carter itu, seorang bocah ditunggui burung pemakan bangkai, adalah gambar yang kujadikan wallpaper laptopku. Pertama kali kulihat di majalah Foto Media yang kulanggani sekitar 10 tahun silam, dan seorang pembaca blog Batak News bernama Romasta mengirimkannya “kembali” ke imelku, bataknews [at] gmail [dot] com.

Sedangkan foto yang satu lagi adalah seorang bocah laki-laki yang tidak sanggup lagi menahan lapar sehingga dia nekat menjilati tahi dari pantat sapi. :cry: [http://www.blogberita.com]

CATATAN BLOG BERITA:
Silakan bila ingin mengutip artikel dari blog ini, dengan syarat menyebut sumber. Bila dikutip untuk website, blog, atau milis, maka tuliskanlah sumbernya http://www.blogberita.com dan buatkan link ke artikel bersangkutan. Bila dikutip untuk koran, majalah, bulletin, radio, televisi, dll, maka tulislah/ sebutkanlah sumber kutipannya; http://www.blogberita.com.

Artikel terkait:

Bila engkau punya kisah atau opini seputar ibadah puasa dan Idul Fitri, silakan kirimkan ke imelku, bataknews [at] gmail [dot] com. Atau bila engkau punya pengalaman pribadi membantu sesama, tuliskan saja dan kirim ke imelku. Perbuatan-perbuatan baik, kebajikan itu, harus kita ungkapkan, agar bisa dijadikan cermin bagi orang lain dan syukur-syukur mereka tergerak melakukan hal yang sama. Kita tidak cukup hanya menuliskan kutipan kitab agama dan teori-teori ilmu pengetahuan.

About these ads

Author: Batak Toba

Demi Yesus, aku percaya Muhammad utusan Allah • Ikuti Twitter @ja_rar • Baca konten khas dan bernas di www.khas.co • Tahu nggak, menonton siaran Piala Dunia itu dosa loh menurut agama Islam. Baca di http://benar.org/do-sa

30 thoughts on “Untuk Apa Berpuasa?

  1. Salam kenal…fotonya bagus…

  2. Artikel ini menyuruh kita bertindak segera…
    melengkapi puasa kita dengan zakat..
    Bukankah zakat diperuntukkan untuk si fakir dan dhuafa? Tak seberapa hanya 2.5 persen dari penghasilan kita. Masih bisa yang lainnya… ? tambahkanlah dengan infak dan shodaqoh. Ini tentu tidak hanya kesalehan kita ke pada Tuhan juga menjadi kesalehan sosial.
    Lihat sekeliling kita, siapapun tidak mesti sefaham, sesuku, bahkan tidak mesti seagama dengan kita, serahkanlah zakat kita kepada mereka yang membutuhkan.
    Akankah kita dapat berbahagia berlebaran sementara tetangga/sekeliling kita menangisi kelaparannya?

    salam

  3. Seringkali jika kita mengalami kesusahan baik itu karena materi, pekerjaan dan yang lain kita langsung berputus asa dan lupa mengucap terima kasih malah kadang-kadang menghakimi Sang Pencipta….
    Jarang sekali kita mensyukuri apa yang ada dalam diri kita, selalu ingin lebih dan lebih, tiada rasa puas yang cukup.
    Melihat pic diatas, mudah2an kita bisa bercermin dan intropeksi diri, penderitaan kita tidak sebanding dengan keadaannya….

    Moment Bulan Puasa ini bisa kita jadikan waktu untuk merenung dan intropeksi diri dan terlebih Bersyukur atas apapun yang ada di kita

    Selamat menunaikan ibadah puasa ya bang….. salam buat keluarga

  4. masya allah sungguh – sungguh pernyataan yang membuat hati ini semakin terbuka bahwa saya masih belum bersungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah agama.

    Mohon ijin untuk nambah referensi di blog gulung-ku

    JARAR SIAHAAN: silakan juga isikan sedikit data blogmu di TAUTAN BLOG batak news, agar kubuatkan tautanmu.

  5. Beberapa hari yang lalu, saya menonton berita di Bali TV, tentang kegiatan HUT Mahatma Gandhi di Denpasar. Kita semua tahu bahwa sekolah itu dan juga Mahatma Gandhi adalah beraliran Hindu, tetapi, tahukah kita kegiatan HUT itu diisi dengan apa?

    Ya, Buka Puasa Bersama, mengundang umat muslim untuk buka puasa bersama-sama pada acara itu. Begitulah toleransi dan penghargaan terhadap antar umat beragama yang baik, saling menghormati.

    Seorang temanku berkomentar, “begitulah kita menghargai mereka(muslim), entah apalagi alasan si Amrozi meledakkan bom di Kuta… dasar nggak tahu diri”

    Salam damai Bang..

    JARAR SIAHAAN: kig, kau adalah salah satu kawan terbaikku sejak awal blog ini kubuat. kau tahu apa yang paling kukagumi dari kawan-kawan umat hindu bali? karena kalian tidak pernah membalas perbuatan amrozi cs. karena kalian tidak murka kepada kami muslim. karena kalian, hindu, sangat damai. andai saja lebih banyak bloger sepertimu, kig…

  6. andai …
    apa yg dilakukan selama bulan puasa adalah cerminan kelakuan mereka pada bulan2 laen di luar bulan puasa !
    ibarat kuliah, bulan puasa adalah sebuah jenjang untuk naek ke level berikutnya … bukan malah dijadikan awal dari sebuah perkuliahan.
    bila lulus, mereka akan memasuki tahapan berikut … bila gagal, mengulang lagi dari semester awal …

    tidakkah itu seiring dg “doktrin” hari ini lebih baik dari hari kemarin … ?

    dan satu lagi …
    adakah yg menyadari …
    ternyata, “belanja” yg dikeluarkan selama bulan puasa (di luar infaq, sedekah, atau apalah namanya) lebih banyak dibanding bulan biasa lainnya !
    makanan yg tadinya tak pernah ada di bulan biasa, lantas terhidang selama bulan puasa. yg tadinya tak biasa dg makanan pembuka, tiba2 rajin menyiapkan menu berbuka … doch … ! puasa ya apa kemaruk ?

  7. selalu ada hikmah yang terpendam di balik semua seruan dan tuntunan-Nya yah ^ ^

  8. maaf, hari ini aNE kembali tak kuasa untuk berpuasa … !
    sebab, ada yg mentraktir makan di sebuah hotel berbintang dengan menu lengkap. sungguh, tak banyak teman yg “terbuka” hatinya untuk mentraktir makan “sehebat” itu … toh puasa hari ini bisa diganti pada hari yg laen.

    note: tak baek menolak rejeki … ?

  9. jalan menuju surga itu penuh derita dan sengsara keduniawian…terlihat jelas dari dua gambar di atas…

    JESUS juga pernah mengatakan itu pada murid-Nya…tinggalkanlah harta dan kekayaanmu,keluargamu,dan rumahmu..namun ada juga murid-Nya yg masih mau menguburkan ayahnya yg meninggal dll…sebuah pengorbanan tersirat dr kalimat di atas…

    dengan melihat perkembangan gereja di Indonesia saya sedih mengapa jemaat berlomba2 kebaktian di gereja yg menawarkan kebahagiaan,keasyikan,ada musik plus jumpa teman2..dll semua hal2 bersifat instan dan pingin hidup gak mau susah…ditawarin bertubi2 kepada jemaat.dan kita juga heran…jika kalau tiba2 ada anggota jemaat ketika melihat sesuatu bersifat menyedihkan dan keprihatinan..langsung ya dah kita pasrag aja…kita berdoa aja moga Tuhan memberkati mereka.sungguh…gw mengaku dan jujur Tuhan Jesus Kristus mengapa hidup-Nya menderita dan sengsara selama hidupnya??karena Dia melawan keduniawian
    dan gw juga gak percaya klo ada gambar Jesus berwajah gemuk..sehat walafiat secara fisik seperti foto2 di pajang d rumah ku..gw termenung lama (long long time)..ternyata gw sadar gw gak yakin!!Jesus is the best….

    JALAN MENUJU SURGAWI PENUH DERITA DAN KESENGSARAN…

    PILIH MANA JALAN LURUS (SEPERTI NYANYI ANAK2 GEREJA KERETA API)..ATO JALAN BERLIKU KE SURGAWI BERSAMA JESUS KRISTUS??

    salam holong…
    salam sitta…
    horas…

  10. turi-turi an:
    pait do aek ni bulung botik da inang…ale songon dia bahenon ido obat ni sahit…songoni dung na marulaon tu patik ni debata i.
    (gak enak rasanya air daun kates/pepaya tuk ngobati sakit gitu juga dengan menjalankan perintah Allah)

    poda ni amang pandita HKBP Ressort ***** (di Medan)