[toga nainggolan; blog berita; sadarlah engkau, wahai umat]
Inilah jawaban bagi pembaca muslim yang selama ini suka mengkafirkan orang non-muslim.
Artikel ini ditulis oleh Toga Nainggolan; seorang wartawan di Medan, seorang pemeluk Islam. Tulisan ini dikirimkan ke imelku, bataknews [at] gmail [dot] com.
JANGAN BERPRASANGKA BURUK dulu, bahwa aku sedang melecehkan Baginda junjunganku sendiri. Justru kisah inilah yang membuatku yakin, dia memang utusan Tuhan. Jika tidak, aku pasti akan menganggapnya manusia biasa saja, yang kebetulan berotak jenius; itu pun tak lebih hebat dari Einstein.
Tapi pesan tulisan ini bukan tentang bagaimana aku percaya kepada Nabi, who cares?, tetapi bahwa Islam memang mengakui pluralitas, dan tidak pantas bagi seorang muslim, atau siapapun, memvonis orang lain kafir, infidel, domba yang tersesat, apalagi calon penghuni neraka. Neraka dari Hongkong!
Muhammad SAW sedang duduk-duduk di rumahnya, saat Salman Alfarisi, sahabat dekatnya yang bukan dari etnis Arab, dan telah kenyang bongkar pasang agama dan cara memuja Tuhan sebelum akhirnya bertemu Rasulullah dan memeluk Islam, datang mendekat. Lelaki cerdas yang selalu bertanya tentang segala hal dalam pikirannya itu sedang galau. Apalagi kalau bukan dikepung sebuah tanya.
“Assalamu ‘alaikum, yaa Rasulullah”.
“Wa ‘alaikum salam”.
Tak banyak basa-basi, ia langsung bercerita tentang orang-orang nonmuslim, yang percaya kepada Tuhan dan melakukan pekerjaan yang baik, (amalan shalihah). Tapi itu tadi, mereka nonmuslim.
“Akan bagaimanakah nasib mereka kelak, ya Rasulullah?”
Rasulullah menjawab, “Mereka akan mati dalam keadaan tidak Islam, kafir, dan mereka akan menjadi penghuni neraka.”
Salman sungguh sedih mendengar jawaban itu. Terbayang di benaknya, bagaimana teduhnya wajah-wajah orang yang percaya dan menyembah Tuhan itu, kepatuhan mereka kepada Tuhan, dan kasih sayangnya kepada sesama. Setelah pamit, dia melangkah. Makin gundah, tapi tak kuasa membantah utusan Allah.
Di belakangnya, tubuh Rasulullah sedikit bergetar. Jibril, atau Gabriel, datang berkelebat, membawa kata-kata milik Sang Kebenaran Sejati. Firman Tuhan yang kemudian tercatat dalam Al-Qur’an, pada Surat Albaqarah (2:62) itu sungguh indah, meneduhkan hati.
“Sesungguhnya orang-orang yang percaya, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Shabiin*), siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian, dan berbuat baik, mereka akan menerima pahala dari Tuhan. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak pula mereka bersedih hati.”
Rasulullah memanggil Salman, menyampaikan firman Tuhan yang baru saja turun itu, dan mengimbuhinya sembari tersenyum lembut, “Ayat itu untuk teman-temanmu”.
Mengapa kisah turunnya (asbabun nuzul) ayat ini kubilang membuat aku percaya Muhammad SAW utusan Allah? Karena selaku manusia biasa, dia pun ternyata pernah “terjebak” pada cara berpikir yang cenderung eksklusif. Cara berpikir yang, sayangnya, justru banyak dipelihara saudara-saudara kita saat ini, di semua agama dan keyakinan.
Namun begitu datang kata kebenaran sejati dari Tuhan, tanpa harus merasa malu atau enggan, dia mencabut sendiri ungkapannya beberapa menit sebelumnya. Sekali lagi, kita tidak akan membahas itu. Tetapi pesan ayat ini jelas, yang paling dilihat Allah adalah dua hal: PERCAYA dan BERBUAT BAIK.
Hal ini ada dijelaskan di puluhan ayat Al-Qur’an, dan tertera pula di Alkitab, Mazmur (37:3). Seperti bersepakat dengan Shakespeare, Tuhan seolah membisikkan dengan penuh kasih sayang dan pengampunan, “What’s a name“. Apalah arti sebuah nama, label, karena Tuhan melihat ke dasar hati.
Seperti Muhammad SAW, Nabi Musa AS pun pernah mendapat teguran karena memvonis orang lain, seorang gembala yang ingin menunjukkan cinta kepada Tuhan dengan cara menyisir rambut dan mencabut uban-Nya, telah salah cara dalam menyembah Tuhan.
“Musa, engkau telah memisahkan hamba-Ku dari Aku. Aku telah anugerahkan kepada setiap manusia cara berdoa masing-masing; Aku telah berikan cara khusus kepada masing-masing untuk menunjukkan cinta. Aku tidak melihat pada ucapan lidah, tetapi Aku melihat ke dalam sanubari dan perasaan terdalam hati manusia. Aku melihat ke dalam hati manusia untuk melihat apakah ada kerendahhatian, walaupun ucapannya tidak menunjukkan demikian. Cukuplah sudah segala macam ungkapan dan metofora! Aku menginginkan hati yang membara dengan api cinta, hati yang membara.”
*) Sebagian ahli tafsir menerjemahkan Shabiin sebagai kaum yang tak punya agama yang jelas, namun percaya kepada Tuhan dan berbuat baik kepada manusia. Semacam agnostik barangkali. [www.blogberita.com]
CATATAN BLOG BERITA:
Dulu di blogku yang satu lagi pernah kutulis sebuah artikel untuk ibuku; justru setelah aku menjadi muslim, aku semakin tahu bahwa Kristen juga benar.
Seperti sering kuungkapkan di blog ini, aku tidak mau menelan bulat-bulat semua doktrin agamaku. Kusaring dulu mana yang baik kuterapkan dan mana yang tidak — berpatokan pada humanisme, toleransi, perdamaian, dan saling mengasihi sesama manusia.
Bila banyak muslim mengatakan bahwa yang disebut saudara adalah hanya sesama muslim sedangkan umat lain tidak layak dianggap saudara, maka aku bersikap berbeda. Aku mencintai dan menganggap semua ORANG BAIK adalah saudara, tak peduli apapun agamanya; Buddha, Hindu, Parmalim, Konghucu, Kejawen, Katolik, Protestan, Islam, dll. Bahkan yang tidak beragama sekalipun, asalkan dia bersikap baik dan penuh kasih terhadap sesama manusia, aku rela menjadikannya saudara. Sedangkan ORANG JAHAT seperti pembunuh, pemerkosa, teroris semisal Amrozi, perusak harta-benda orang seperti aktivis Forum Pembela Islam, dll tidak akan pernah kuanggap sebagai saudaraku — meskipun dia beragama Islam.
Aku berharap, kiranya artikel Toga ini bisa membukakan hati kita, khususnya umat Islam, untuk tidak lagi mengkafirkan umat lain. Sekarang kita umat muslim sedang menjalankan ibadah bulan Ramadan, dan ini adalah waktu yang tepat bagi kita untuk berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Setiap manusia harus berubah; berubah menjadi lebih baik. Bagi yang mau, alhamdulillah, puji Tuhan. Bagi yang tidak, aku tak bisa memaksa. Sebab, setiap kebaikan harus dilakukan dengan keikhlasan hati.
Silakan bila ingin mengutip artikel dari blog ini, dengan syarat menyebut sumber. Bila dikutip untuk website, blog, atau milis, maka tuliskanlah sumbernya www.blogberita.com dan buatkan link ke artikel bersangkutan. Bila dikutip untuk koran, majalah, bulletin, radio, televisi, dll, maka tulislah/ sebutkanlah sumber kutipannya; www.blogberita.com.
Artikel Toga Nainggolan sebelumnya:
- Anak, menurut Kahlil Gibran dan budaya Batak
- Haleluya, Allahu Akbar
- Dan Tuhan pun tersipu malu
- Hai orang-orang beragama, berhentilah melecehkan budaya kami
Artikel terkait:
- Gus Dur: Orang Kristen dan Yahudi bukan kafir
- Memaknai kafir lewat karya Kahlil Gibran
- Viky Sianipar pun disebut domba tersesat
- Justru setelah aku menjadi muslim, aku semakin tahu Kristen juga benar
- Siapa berani sebut Bunda Teresa adalah kafir?
- Istri Gus Dur salat magrib di aula gereja
- Cerita seorang nasrani mengikuti ritual Islam
- Muslim berziarah di makam nasrani















10 Oktober 2007 at 9:41 am
wah komentarnya hebat2 ,
Aku jadi ingat apa yang dikatakan guru ngajiku , bila pendapat didasari hanya akal pikiran saja timbulnya akan nafsu .
11 Oktober 2007 at 7:10 pm
Gile benar blog ini….nggak bisa sembarang masuk kesini hehehehe
pembaca & komentatornya yahud punya……. kritis2 semua…… cerdas2……. huebat de pokoknya…….. Tadinya sih aq ingin komen spt yg ditulis Mulawarman…… tapi nggak jadi de……. takuuuttttttt…… ‘ntar aq malah kalah berdebat lagi sm pembaca2 senior…….
Utk Bang Jafar, salut……., di blog ini membuka wacana yang demokrtis & pro humanisme (walau aq pribadi kurang setuju dgn pluralisme karena bagi aq yg paling benar adlaah agamaku = Islam….. )
Tapi itu hanya pendapat pribadi aq lah……. Bravo!!
11 Oktober 2007 at 7:19 pm
Maap Bang Jafar, ada yg terlupakan nih…… Aq senyum2 membaca komentar dari saudara han bi kwang yg ditujuka n untuk Mulawarman:
Kalau satu orang mendebat abang, dia lawan abang, kalau dua, tiga, atau empat orang mendebat abang, mereka itu bersekongkol melawan abang, tapi kalau hampir semua komunitas mendebat abang… tau dirilah bang…
Komentar Sdr Toga juga menggelitik:
Tetaplah hadir di antara kami, Mulawarman. Tulis saja, tak perlu dikau repot-repot membaca apapun.
13 Oktober 2007 at 10:31 am
Ternyata IBLIS terbahak-bahak menyaksikan perdebatan ini. Siapa tahu kalau di surga ternyata dihuni oleh orang-orang tak beragama, dan neraka ????.
18 Oktober 2007 at 9:42 pm
Wah.. kalo bicara soal agama maka kajilah agama masing2 dengan sebenar-benarnya.
Jika memang agama yang kalian anut benar2 berasal dari Tuhan yang Satu tentu akan menemui ujung yang sama (tapi bukan agama yang telah dirubah2 atau dibuat2 sesuai kebutuhan).
Islam tidaklah kaku, keras atau semacamnya. Islam adalah lembut, kasih sayang, bahkan Islam adalah Rahmatan lil ‘alamin.
Namun demikian Islam tetap tegas pada prinsip2 akidahnya. Dimana bahwa agama yang paling benar dan harus diikuti oleh umat setelah kenabian Muhammad solallahu ‘alaihi wasallam adalah Islam. Dan selain Islam maka tidak akan di terima Allah subhanahu wata’ala.
Mau memeluk Islam yang di bawa Nabi Muhammad solallahu ‘alaihi wasallam (Insya Allah selamat), atau memilih Islam yang di bawa Nabi2 sebelumnya (yang segala syariat beragamanya telah dihapus dan diganti syariat yang dibawa Nabi Muhammad solallahu ‘alaihi wasallam) juga terserah.
Lakum dinukum waliadin (untukmu agamamu, untukku agamaku)
Mau tersesat atau tidak adalah suatu pilihan.
Ini kalau bicara masalah agama (keyakinan), bukan masalah moral kebajikan secara umum (budi pekerti), karena orang yang tak beragama pun banyak yang berbudi pekerti baik.
Dan agama adalah mengedepankan wahyu, bukan akal.
Gak usah diperdebatkan ngalor-ngidul, masuk neraka apa surga…. (nanti setelah mati dan ga bisa berdebat lagi, baru tahu pada masuk surga apa neraka)
Kalo ga percaya meskipun dijelaskan 1000 kali tetep ga percaya, tugas para Nabi pun hanya menyampaikan, mau ikut apa enggak urusan yang di kasih tahu kan..? Gitu aja kok repot… Belajarlah kembali merujuk pada Kitab2 yang otentik kebenarannya. Pasti akan menemui jalan yang sama… Peace…! Kalo mau mendebat tulisan ini, debat aja sendiri…heheheeee.. (no comment!).
19 Oktober 2007 at 8:43 pm
@heri
saya ingin mengomentari yang ini, benarkah tugas Nabi itu sekedar menyampaikan?
Kalo sepemahaman saya tugas Nabi itu adalah membuat para pengikutnya agar mengalami pengalaman yang sama dengannya. Jadi bukan menjadi pengikut kata katanya aja alias asal percaya, tapi percaya karena telah melihat buktinya (berdasarkan petunjuk Nabi) secara langsung.
Dan saya bukan mendebat, hanya meluruskan.
21 Oktober 2007 at 2:17 am
kalo menurut saya, agama Islam dan Kristen merupakan agama besar di dunia. 2 agama ini menjadi pengarus besar di dunia. kita sebagai manusia jangan deh saling menghakimi. kenapa gak damai aj. kita eratkan tangan sama-sama, bersaudara. toh Tuhan juga makin senang melihat kita rukun. Bener kan?
agama saya memang non-Muslim (janganlah kaget)
saya sependapat tentang ajaran Muslim, tidak kaku, keras atau semacamnya. Islam itu sangat baik dan bersahabat, Ini sangat saya akui secara pribadi. mengapa?
banyak saudara saya yang Islam, mereka baik, ramah dan tidak anti dengan agama lain. Mereka saling mengunjungi keluarga lain dan ziarah ke makam non-Islam. saya rasa hanya karena faktor diri sendiri dan pengaruh orang yang memang ingin memecahkan kita.
jadi jangan deh, saling membenarkan argumen tentang agama masing- masing.
seperti teman saya bilang “mungkin Nabi Muhammad dan Yesus tertawa di Surga melihat kita saling bertengkar”
THINK ABOUT IT!!!!!!!!
22 Oktober 2007 at 12:55 am
::tepuk tangan buat mulawarman…., membuat blog ini menjadi asyik…walaupun..hoh..hoh..capek aku membacanya…
Bang Toga, Bang Jarar, mak jang salut kali aku sama abng berdua ini bah…paten..paten kali (biar tepuk tangan buat abang berdua dihatiku saja, supaya kedengaran sampe ke arsyi..)
Memang mengherankan kerja Tuhan itu, kalimat jelaspun, seperti yang dikutip bang Toga, masih diperdebatkan, kenapa engga sungkan sama yang punya Kalimah ya…kan ngenyek Tuhan kali itu, apa engga sama dengan mengatakan sama Tuhan …”akh Tuhan, Engkau bicara engga jelas, jadi aku meragukan maksudmu…” bahh…, katanya beragama…, entah siapapun yang dipercayanya, kalau omonganpun tak dipercaya, apa lagi…,
katanya pengikut Rasulullah Muhammad SAW, tapi seperti apa yang disampaikan silih Danalingga ” saya ingin mengomentari yang ini, benarkah tugas Nabi itu sekedar menyampaikan?
Kalo sepemahaman saya tugas Nabi itu adalah membuat para pengikutnya agar mengalami pengalaman yang sama dengannya. Jadi bukan menjadi pengikut kata katanya aja alias asal percaya, tapi percaya karena telah melihat buktinya (berdasarkan petunjuk Nabi) secara langsung”…kalo nabi cuma nyampein kata-kata, kekmanalah orang faham, padahal kalau cuma kenal kata-kata itukan baru kenal dengan kumpulan huruf…
jadi kalau boleh dimestikan, Rasul itu ikutan, kayak orang sholat berimamlah…tiap gerakan iman diikuti…,
Nah kan yang Bang Toga tulis, keqmana keluasan jiwa Rasulullah, beberapa menit saja dia menyampaikan yang salah, dan mendapatkan ungkapannya salah, dengan kebesaran jiwanya meralat dengan mulut Beliau sendiri…
siapapun, jika terfahamkan pada kita seluas apa kitab suci itu, maka siapapun takkan sanggup menjangkau kebenarannya, tiap-tiap kita hanya diberi bagian-bagian, dan ada pada diri kita sendiri yang Allah kumpulkan pada hati kita, yang difahamkannya beruntung…tapi itupun karena kemurahan Tuhan, bukan kehebatan yang faham,
jadi jika berdiskusi, bukalah hatimu, agar terbuka kitabmu, bacalah dengan Nama Tuhanmu..semoga kita faham….aaamiiin
Bang Jarar, thanks berat dan mohon maaf sudah nyampah….
JARAR SIAHAAN:
22 Oktober 2007 at 1:41 pm
assalamualaikum wr wb
untuk artikel ini
saya ingin menyampaikan rasa tidak setuju saya
karena sebagai pemeluk islam
anda tidak konsisten dengan 2 kalimah syahadah
yang menjadikan anda muslim
wassalamualaikum wr wb
25 Oktober 2007 at 5:49 pm
Menolak Pluralisme
Oktober 2nd, 2007 pada 5:49 am (Renungan Islami)
menolak pluralisme
Oleh: M. Shiddiq al-Jawi
Istilah Pluralisme (agama) sebenarnya mengandung 2 (dua) hal sekaligus, Pertama, deskripsi realitas bahwa di sana ada keanekaragaman agama. Kedua, perspektif atau pendirian filosofis tertentu menyikapi realitas keanekaragaman agama yang ada.
Hal itu misalnya dapat ditelaah dalam penjelasan Josh McDowell mengenai definisi pluralisme. Menurut McDowell, ada dua macam pluralisme; Pertama, pluralisme tradisional (Social Pluralism) yang kini disebut “negative tolerance”. Pluralisme ini didefinisikan sebagai “respecting others beliefs and practices without sharing them” (menghormati keimanan dan praktik ibadah pihak lain tanpa ikut serta [sharing] bersama mereka). Kedua, pluralisme baru (Religious Pluralism) disebut dengan “positive tolerance” yang menyatakan bahwa “every single individual’s beliefs, values, lifestyle, and truth claims are equal” (setiap keimanan, nilai, gaya hidup dan klaim kebenaran dari setiap individu, adalah sama (equal) (http://www.ananswer.org/mac/answeringpluralism.html, diakses 11/06/05).
Dari pengertian pluralisme agama McDowell di atas, jelas bahwa yang dia sampaikan bukan sekedar fakta, tapi sudah menyangkut opini, yaitu suatu sikap atau pandangan filosofis tertentu dalam menilai fakta. Pendirian filosofis itu nampak dari penilaian, bahwa semua keimanan, nilai, gaya hidup dan klaim kebenaran, adalah sama/setara (equal).
Maka dari itu, adalah suatu penyesatan atau disinformasi yang disengaja, kalau dikatakan bahwa pluralisme adalah hukum Tuhan atau sunnatullah. Benar, bahwa adanya keanekaragaman realitas, itu sunnatullah. Tapi perspektif atau pendirian filosofis tertentu menyikapi realitas plural itu, jelas bukan sunnatullah yang bersifat universal, melainkan suatu pendapat yang unique dan mengandung nilai atau pandangan hidup tertentu (value-bound).
Sebagai jalan keluar dan upaya klarifikasi, sebaiknya digunakan dua istilah, yaitu pluralitas, yang menunjuk pada fakta adanya kemajemukan, dan pluralisme, yang menunjuk pada opini atau perspektif tertentu dalam memandang realitas plural yang ada.
Terlepas dari itu, wacana pluralisme agama yang marak dewasa ini memang patut dikritisi secara cermat. Sebab di samping ada kerancuan pengertian seperti dijelaskan di atas (dalam pluralisme itu terkandung deskripsi fakta dan pendirian filosofis sekaligus), juga ada beberapa hal lain yang patut untuk dikritisi. Setidaknya ada 4 (empat) poin kritik terhadap pluralisme agama:
Pertama, aspek normatif. Secara normatif, yaitu dari kacamata Aqidah Islamiyah, pluralisme agama bertentangan secara total dengan Aqidah Islamiyah. Sebab pluralisme agama menyatakan bahwa semua agama adalah benar. Jadi, Islam benar, Kristen benar, Yahudi benar, dan semua agama apa pun juga adalah sama-sama benar. Ini menurut Pluralisme. Adapun menurut Islam, hanya Islam yang benar (Qs. Ali-Imran [3]: 19), agama selain Islam adalah tidak benar dan tidak diterima oleh Allah SWT (Qs. Ali-Imran [3]: 85).
Biasanya para penganjur pluralisme berdalil dengan Qs. al-Baqarah [2]: 62 dan Qs. al-Mâ’idah [5]: 69. Dalam Qs. al-Baqarah [2]: 62 Allah berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang Yahudi, Nashrani, dan Shabiin, barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir dan mengerjakan amal saleh, maka bagi mereka pahala dari Tuhan mereka dan tidak ada rasa takut atas mereka dan mereka tidak pula bersedih hati.” (Qs. al-Baqarah [2]: 62).
Ayat itu oleh kaum pluralis-inklusif, dipahami sebagai pembenaran agama selain Islam, yaitu Yahudi, Kristen, dan Shabiin. Jadi, Islam, Yahudi, Kristen, Shabiin sama-sama benarnya.
Pemahaman seperti itu salah, karena dua alasan. Pertama, pemahaman itu mengabaikan ayat-ayat lain yang menjelaskan kekafiran golongan Yahudi dan Nasrani, misalnya ayat dalam Qs. al-Bayyinah [98] atau Qs. al-Mâ’idah [5]: 72-75. Jadi, pemahaman kaum pluralis itu didasarkan pada metode penafsiran yang mengucilkan satu ayat, lalu ayat itu dipenjara dalam satu kotak sempit (bernama pluralisme), sementara ayat-ayat lain diabaikan begitu saja. Kedua, orang Yahudi, Kristen, dan Shabiin yang selamat, maksudnya adalah mereka yang beriman dan menjalankan amal saleh secara benar sebelum datangnya Muhammad Saw. Bukan setelah diutusnya Muhammad Saw (orang Kristen dan Yahudi sekarang). Sababun Nuzul ayat ini sebagaimana diriwayatkan al-Wahidi dan as-Suyuthi, adalah adanya pertanyaan dari sahabat bernama Salman al-Farisi ra kepada Nabi Saw tentang nasib kawan-kawannya dulu (Kristen) sebelum dia masuk Islam. Nabi menjawab, “Mereka di neraka.” Lalu turunlah ayat di atas yang menerangkan nasib baik mereka kelak di Hari Kiamat (Lihat kitab Lubabun Nuqul, As-Suyuthi, dan Asbabun Nuzul, Al-Wahidi).
Kedua, aspek orisinalitas. Asal-usul paham pluralisme bukanlah dari umat Islam, tapi dari orang-orang Barat, yang mengalami trauma konflik dan perang antara Katolik dan Protestan, juga Ortodok. Misalnya pada 1527, di Paris terjadi peristiwa yang disebut The St Bartholomeus Day’s Massacre. Pada suatu malam di tahun itu, sebanyak 10.000 jiwa orang Protestan dibantai oleh orang Katolik. Peristiwa mengerikan semacam inlah yang lalu mengilhami revisi teologi Katolik dalam Konsili Vatikan II (1962-1965). Semula diyakini bahwa extra ecclesiam nulla salus (outside the church no salvation), tak ada keselamatan di luar gereja. Lalu diubah, bahwa kebenaran dan keselamatan itu bisa saja ada di luar gereja (di luar agama Katolik/Protestan). Jadi, paham pluralisme agama ini tidak memiliki akar sosio historis yang genuine dalam sejarah dan tradisi Islam, tapi diimpor dari setting sosio historis kaum Kristen di Eropa dan AS.
Ketiga, aspek inkonsistensi gereja. Andaikata hasil Konsili Vatikan II diamalkan secara konsisten, tentunya gereja harus menganggap agama Islam juga benar, tidak hanya agama Kristen saja yang benar. Tapi, fakta menunjukkan bahwa gereja tidak konsisten. Buktinya, gereja terus saja melakukan kristenisasi yang menurut mereka guna menyelamatkan domba-domba yang sesat (baca: umat Islam) yang belum pernah mendengar kabar gembira dari Tuhan Yesus. Kalau agama Islam benar, mengapa kritenisasi terus saja berlangsung? Ini artinya, pihak Kristen sendiri tidak konsisten dalam menjalankan keputusan Konsili Vatikan II tersebut.
Keempat, aspek politis. Secara politis, wacana pluralisme agama dilancarkan di tengah dominasi kapitalisme yang Kristen, atas Dunia Islam. Maka dari itu, arah atau sasaran pluralisme patut dicurigai dan dipertanyakan, kalau pluralisme tujuannya adalah untuk menumbuhkan hidup berdampingan secara damai (peacefull co-existence), toleransi, dan hormat menghormati antar umat beragama. Menurut Amnesti Internasional, AS adalah pelanggar HAM terbesar di dunia. Sejak Maret 2003 ketika AS menginvasi Irak, sudah 100.000 jiwa umat Islam yang dibunuh oleh AS. Jadi, pertanyaannya, mengapa bukan AS yang menjadi sasaran penyebaran paham pluralisme? Mengapa umat Islam yang justru dipaksa bertoleransi terhadap arogansi AS? Bukankah AS yang sangat intoleran kepada bangsa dan umat lain, khususnya umat Islam? Bukankah tentara AS di Guantonamo (Kuba) yang membuang al-Qur’an ke dalam WC? Mengapa umat Islam yang justru dipaksa ramah, tersenyum, dan toleran kepada AS, padahal justru umat Islamlah yang menjadi korban hegemoni AS yang biadab, kejam, brutal, sadis, dan tak berperikemanusiaan?
Dari keempat gugatan terhadap pluralisme di atas, kiranya dapat dipetik suatu kesimpulan yang berharga, bahwa ide pluralisme agama wajib ditolak. Sebab ide tersebut bertentangan secara normatif dengan Aqidah Islam, tidak orisinal alias palsu karena tumbuh dalam setting sosio historis Barat, diimplementasikan secara inkonsisten, dan membahayakan umat Islam secara politis, karena akan membius umat agar tidak sadar telah diinjak-injak oleh hegemoni AS.
Tujuan akhir dari konsep pluralisme agama sangat mudah dibaca, yaitu agar umat Islam hancur Aqidahnya, sehingga hegemoni kapitalisme yang kafir atas Dunia Islam semakin paripurna dan total. Karena Barat sangat memahami, bahwa Aqidah Islam adalah rahasia atau kunci vitalitas dan kebangkitan umat Islam. Maka kalau tidak segera dihancurkan, umat Islam akan bisa menjadi potensi ancaman serius untuk hegemoni Barat di masa datang. Maka sebelum umat Islam bangkit, Aqidah Islam dalam dada mereka harus dihancurkan dan dimusnahkan, agar umat Islam takluk dan tunduk patuh sepenuh-penuhnya kepada kaum penjajah kafir. Itulah tujuan sebenarnya dari wacana pluralisme agama ini, tidak ada yang lain. [ ]
26 Oktober 2007 at 12:08 pm
Waduh bang. Benar sekali kau ini.
Menurut orang jawa agama adalah “ageman” (baju). Jadi agama juga merupakan hasil rekayasa manusia jaman dahulu seperti orang membuat baju. Buktinya, agama itu ditulis, diketik dan dicetak oleh manusia (ada unsur bisnis juga). Sehingga pastilah banyak sekali penyimpangan (entah pas nulisnya ngantuk atau saat itu lagi lampu padam). Jadi saya kira kita tidak perlu berangagapan paling benar n paling suci dengan hanya membaca kitab suci, dan “Menganggap tanaman disebelah kurang bagus daripada punyaku”.
Aneh juga kalau Tuhan juga menganggap orang non muslim kafir, knapa kok Tuhan masih menciptakan banyak sekali rupa manusia sampai sekarang.
Coba dech simak ayat-ayat dari sang nabi john lenon. Bagaimana jika semua orang meninggalkan “agemannya” dan berbuat baik saja maka dunia akan damai, aman, jauh dari bencana.
Imagine there’s no heaven
It’s easy if you try
No hell below us
Above us only sky
Imagine all the people
Living for today…
Imagine there’s no countries
It isn’t hard to do
Nothing to kill or die for
And no religion too
Imagine all the people
Living life in peace…
You may say I’m a dreamer
But I’m not the only one
I hope someday you’ll join us
And the world will be as one
Imagine no possessions
I wonder if you can
No need for greed or hunger
A brotherhood of man
Imagine all the people
Sharing all the world…
You may say I’m a dreamer
But I’m not the only one
I hope someday you’ll join us
And the world will live as one
26 Oktober 2007 at 9:41 pm
Untuk Hafizd, saya rasa anda jangan berlebihan deh……
coba anda sebagai umat yang non muslim, enak ga di katakan kafir?
berbuat apa dibilang kafir, ini itu kafir. kalo begitu kenapa Tuhan masih aja ngasih kesempatan orang non muslim buat berdoa sama melakukan hal- hal lainnya???
asal anda tahu saja, dalam kitab suci TIDAK pernah tertulis adanya penghakiman terhadap agama lain. tidak pernah ada tertulis bahwa umat selain non Kristen adalah kafir dan semacamnya. kami hanya diajari untuk melakukan apa yang pernah dilakukan Tuhan kami
saya merasa sekarang sudah tidak terdengan lagi lagu :
teman mari kita terbuka dengan orang yang berbeda pendapat……
teman mari kita terbuka dengan orang yang berbeda agama……
dan seterusnya……….
maka dari itu, masyarakat saling tidak menghargai perbedaan agama
saya hanya salut dengan partai Nahdatur Ulama (NU) (maaf kalau salah tulis) dan umat muslim lainnya yang menerima kami……….
mereka masih mau menghargai agama kami
26 Oktober 2007 at 10:47 pm
::sonnie, engga perlu berkecil hati, dengan keadaan-keadaan itu, memang Tuhan membangun dari perbedaan, dan dari perbedaan ini bisa terjadi :
- saling kesepahaman
- dapat menerima meski tak sefaham
- tidak dapat menerima ketidaksefahaman
sebenarnya jika ditilik, keadaan sekarang, jauh…jauh lebih baik, lihatlah dari yang menulis disini, berapa persen yang datatng, dari yang menolak kesefahaman…biarkan-biarkan siapapun datang, apakah berteriak lantang, menunjukkan kebenarannya.
Tak selalu cinta datang dengan diawali kesejukan, banyak yang berhasil menemukan kesejukan setelah dipertengkarkan bahkan dengan amat dahsyat.
Apa yang harus merisaukan seseorang yang yakin, dengan kebenaran yang disandingkan Tuhan dengannya, kalau masih kita perdebatkan, cek ulang, berarti berapa % kadar keyakinan kita pada apa yang kita yakini.
Api menyala diciptakan tuhan, untuk keragaman keperluan, dengan api akan ada cahaya yang menerangim dengan api pula akan masak dan nikmatlah makanan yang kita santap, dengan penuh keyakinan, bahwa masakan ini sudah dimasak dengan benar dan dengannya hilanglah matilah virus yang menempel.
Demikian juga kesejukan, yang jika cerita syurga juga bentuk hakikatnya adalah kesejukan.
::Khafidz, jika kamu dapat menerima pendapat M. Shiddiq al-Jawi, semestinya kamu juga dapat menerima pendapat orang lain, mengapa kukatakan seperti ini, sebab kadangkala kita sebenarnya tidak mengenal asal-usul orang tersebut, siapa, bagaimana dan apa saja alasan pendapatnya, bilaman dia membuat keputusan pembeberan pendapatnya itu, dan mengapa dia beralasan demikian, jika demikian keadaanmu, mengapa tak dicoba juga untuk menerima pandangan yang lainnya.
alasan terterimanya suatu pendapat sebenarnya ada peda bersedianya/ ridhanya elemen halus/ perangkat lunak yang ada pada diri kita atas pendapat itu, demikian juga sebaliknya alasan penolakan, sebab tak berterimanya.
ambillah titik benar dari tiap sesuatu, jangan pula sia-siakan titik salahnya, sebab semua itu sangat diperlukan, tidak ada titik benar ataupun titik salah selain Tuhan lah yang mendatangkannya, akan mengembil pelajaran bagi orang-orang yang memiliki pengetahuan.
Damai di bumi, damai di hati…Peace….
27 Oktober 2007 at 11:15 am
Mohon maaf sebelumnya..
Membaca artikel diatas membuat tangan saya menjadi “gatal” untuk ikut memberikan sedikit pemikiran saya seperti saudara-saudara saya yang lain.
Menurut saya semua Agama itu tidak sama karena saya yakin bahwa Agama yang saya anut adalah yang paling benar, namun bukan berarti saya harus benci dengan agama yang berseberangan dengan agama saya dan saya tidak mau menganggap “kafir” Agama lain. Semua orang berhak untuk meyakini dan menjalankan Agamanya masing-masing, bukankah di UUD kita ada (kalau tidak salah UUD Pasal 29 ayat 2).
Coba kita renungkan bersama Manusia, Agama, Hewan, Budaya atau apapun semua yang ada di dunia ini saya yakin semua Agama mengakui bahwa Tuhanlah yang menciptakannya. Misal saja anda membuat suatu barang yang sangat istimewa lalu ada seseorang merusaknya tentu anda akan sangat marah, tentu Tuhan juga akan kecewa jika barang ciptaanNya.
Menanggapi perbuatan yang dilakukan oleh saudara-saudara saya yang lain saya merasa sedih dan kecewa, karena dengan menganggap diri mereka suci mereka merasa berhak untuk menghakimi saudaranya sendiri, bukankah kita semua ini manusia yang pastinya mempunyai dosa. lucu rasanya jika seseorang yang berdosa menghakimi orang lain dengan alasan orang lain tersebut berbuat dosa. Lebih parah lagi dengan alasan membela Tuhan mereka membinasakan makhluk ciptaan Tuhan sendiri, Tuhan Maha Kuat, Tuhan Maha Perkasa, Tuhan Maha Hebat jauh daripada “Superman” Dia dapat dengan mudah mengalahkan musuh-musuhnya, yang saya ingin tanyakan apakah saudara-saudara saya ini tidak yakin dengan Kehebatan Tuhan yang Maha Dashyat itu sehingga harus membela Tuhan untuk membinasakan sesama kita yang mereka anggap berdosa. Tuhan punya cara sendiri untuk menghakimi orang berdosa , bukankah kita yakin akan adanya Surga dan Neraka…
Untuk apa pusing memikirkan Agama orang lain toh kita percaya dengan menjalankan ajaran Agama yang kita anut kita bisa masuk Surga…
27 Oktober 2007 at 5:49 pm
@Hafizd
bang saya mau sedikit komen tentang bbrp poin yang anda katakan
1.tentang point pertama saya tidak dapat mengomentari karena saya bukanlah seorang muslim dan anda membahas dari sisi ayat quran.
yang saya mau komen adalah tentang point ke 2-4
2.anda mengatakan bahwa orisinilitasnya pluralisme berasal dari kekristenan…..saya dapat mengatakan itu benar2 salah…
pluralisme berasal dari setiap lubuk hati manusia yang ada dari awal sampai sekarang……
mengapa saya mengatakan begitu??
coba anda tanyakan kepada banyak orang disini apakah mereka mengetahui peristiwa The St Bartholomeus Day’s Massacre???tidak banyak yang tau….
apakah peristiwa itu yang memicu faham pluralisme???tidak….pluralisme sudah ada sebelumnya.
Anda tau Jalaludin Rumi???dia seorang muslim dengan paham pluralisme….tahun berapa dia hidup???dia lahir tahun 1207
3.Anda mengatakan itu adalah inkonsistensi gereja.
Gereja mana???anda dapat tanyakan semua agama kristen yang diluar katholik….apakah mereka mengakui Paus sebagai kepala gereja mereka???apakah mereka bisa menerima keputusan yang dikeluarkan aliran yang lain??
ini sama saja anda mengatakan bahwa hari lebaran oleh NU adalah besok sedangkan ada umat islam yang merayakannya hari ini dan anda mengatakan bahwa umat islam tidak konsisten…..
sebelum anda mengatakan lebih jauh tentang gereja,sebaiknya anda membaca lebih banyak tentang kekristenan dan sejarahnya tidak usah mendalaminya dulu cukup sejarahnya,dan ada aliran apa saja.
Satu lagi contoh…Quran mengatakan setiap orang yang beragama islam haram memakan daging babi….maka pada kenyataannya banyak orang islam yang saat ini tetap makan babi.Apakah ini suatu inkonsistensi islam???saya rasa tidak…
4.Bung pluralisme bukan dimulai dari sewaktu dari adanya perang di irak…tapi jauh sebelum itu.bahkan sebelum masa jalaludin rumi…
Dan perlu anda tau…Saat ini islam adalah agama yang paling berkembang pesat di amerika.
Dan pluralisme agama bukan hanya ditujukan kepada islam….tetapi kristen,budha,hindu dan semua aliran yang ada di muka bumi.
Dari yang saya tangkap saat ini anda tampaknya sangat TAKUT kalau islam menghilang di muka bumi sehingga anda mempolitisirnya tanpa dasar2 yang kuat dari seluruh pihak……Bung Hafizd,Islam adalah agama besar dan mempunyai nilai2 kebenaran dan nilai2 agung yang lain pula.Yang saya percaya bahwa selama ada kebenaran yang terkandung didalamnya…tidak akan ada agama yang musnah…..
karena Kebenaran adalah milik TUHAN…..Dan tidak ada yang dapat melawan Tuhan karena dia maha kuasa dan saya yakin anda pun yakin kalau Tuhan maha kuasa
27 Oktober 2007 at 6:09 pm
Buat Zal,
emang bener kata anda, jika kita lakukan seperti yang kita yakini, Tuhan juga akan mau menerima kita, dengan berbagai perbedaan. yang dilihat-Nya adalah sikap dan tindakan kita di bumi. toh seua agama juga mengajarkan perilaku yang baik terhadap sesamanya. yang penting ingat selalu 10 perintah Allah yang dipegang oleh agama Islam dan Kristen.
yang bermasalah malah yang menghakimi sesamanya sendiri karena sebuah keyakinannya. Betul ga??
buat yang lain (yang masih cekcok masalah keyakinan siapa yang paling bener), periksa dulu hati sendiri, apakah sudah mengasihi dan mengabdi sepenuhnya kepada Tuhanmu, bagaimana perilakumu, sifatmu, dan lainnya. kalau belum jangan hanya menyuarakan hal- hal yang tidak diketahui dan isu yang aneh. HIDUP KEBERSAMAAN!!!!
28 Oktober 2007 at 12:11 am
::sonnie, ini hasil copy paste dari commentmu
“yang dilihat-Nya adalah sikap dan tindakan kita ”
mungkin lebih mendekati “yang dilihat Tuhan, adalah apa yang dibalik dada itu,” Muhammad SAW, menggambarkannya sebagai gerak hati, sebab pada sikap dan tindakan bisa jadi masih ada kebohongan, berselaput nafsu…peace
30 Oktober 2007 at 1:13 pm
kalo saya cuma mau blang, pertama saya baca JUDUL diatas, saya sudah
merasa JUDUL nya terlalu hiperbola
cuma itu aja
trims
BLOG BERITA: sebuah judul disebut hiperbola bila terkesan berlebih-lebihan dan jauh melenceng dari isi artikel. sedangkan judul di atas justru tepat, persis, menggambarkan isi artikel. karena memang isinya adalah soal teguran TUHAN pada nabi. cuma itu saja?
8 Nopember 2007 at 5:06 pm
Salut aku bang baca artikel mu.berkuduk bulu kudukku.
baru kali ini aku baca azbabun nuzul dari ayat tersebut. apakah selama ini disembunyikan oleh orang-orang yang merasa berotoritas terhadap agama.