[alvin nasution; blog berita; sepupuku muslim menikahi seorang nasrani]
Jika “wakil-wakil” Tuhan memaknai kafir menjadi sangat buruk, maka kebenaran itu adalah pahit. Karenanya aku setuju ketika Alvin menulis, “Jangan membenarkan maklumat, walau dari raja sekalipun.”
Artikel berisi cerita karya Kahlil Gibran ini ditulis oleh Alvin Nasution dan dikirimkan ke imelku, bataknews [at] gmail [dot] com. Alvin adalah seorang muslim, bekerja sebagai wartawan di Kota Siantar, Sumut, dan juga penulis cerpen.
LAMA AKU MERENUNG ketika membaca Siapa Berani Sebut Bunda Teresa adalah Kafir? Kata-kata kafir itu memang menjadi masalah; ketika kafir dialamatkan kepada mereka-mereka yang memang memeluk keyakinan di luar Islam.
Kafir. Kalimat itu kudengar ketika belajar ngaji di madrasah. Seingatku, guru agamaku bilang kafir adalah orang yang tidak sekeyakinan dengan aku (Islam). Tapi guru agamaku itu tidak bilang bahwa kafir harus dimusuhi, dibunuh, apalagi dimusnahkan dari muka bumi yang fana ini. Tidak!
Sejak kecil aku tinggal di komunitas non muslim alias dikelilingi teman-temanku yang Kristen. Aku masih ingat ketika di bangku sekolah dasar, nyaris tak pernah belajar matapelajaran agama Islam. Sebabnya, guru agama Islam di sekolahku tak tersedia. Jadi, ketika masuk matapelajaran agama, kami muslim yang jumlahnya 3 orang, menghabiskan waktu di luar lokal. Sedangkan yang Kristen belajar di lokal. Praktis, aku belajar agama di luar jam sekolah, di pengajian.
Tahun berganti tahun dan entah siapa yang mengajarkannya. Tapi kalimat kafir seperti menjadi preseden buruk di lingkungan agamaku, Islam. Kafir yang banyak dimaknai sangat buruk, (harus kukatakan) terutama bagi orang-orang yang sekeyakinan denganku. Makna kafir itu semakin meluas. Kurasa di sini akar dari semua permasalahan itu; kafir katanya halal darahnya. Kafir katanya akan kekal di neraka. Artinya, makna kafir meluas tanpa ada batasan yang dilakukan oleh manusia itu sendiri. Termasuk orang yang di luar Islam.
Aku memaknai kafir adalah mereka-mereka yang tak sekeyakinan dengan aku. Dan (maaf) aku tak ingin lagi memaknainya buruk. Jika hendak memaknainya buruk, maka aku harus punya alasan. Dan alasan itu (jujur) tidak pernah kutemukan. Tidak hanya kalimat kafir kiranya. Murtad.
Bagiku kalimat murtad menjadi satu kesatuan yang dimaknai sangat buruk. Serupa kafir. Aku punya sepupu perempuan yang dulu adalah pemeluk Islam fanatik. Shalatnya, setahuku, tiadalah pernah ditinggalkan. Prilakunya sangatlah santun. Serupa wajahnya yang cantik. Sepupuku ini memang sangatlah cantik. Dulu dia bekerja di salah satu bank. Karena kecantikan dan kemapanan kerjanya, banyak lelaki yang tergila-gila ingin mempersunting menjadi istri. Ada pengusaha, karyawan bank, polisi, tentara, dan entah dari kalangan mana lagi. Yang pasti lelaki-lelaki itu satu keyakinan dengan sepupuku.
Tapi, tak satupun lelaki yang kusebutkan di atas berhasil mempersunting sepupuku itu. Malah aku tak habis pikir, sepupuku itu menikah dengan seorang lelaki yang baru dikenal dan tidak sekeyakinan dengannya. Lelaki itu seorang Kristen. Singkatnya, walau tak direstui orangtua, sepupuku itu ‘kawin lari’. Dan setahuku, sampai sekarang orangtuanya tetap tak memberi restu. Bahkan, sepupuku itu dianggap sudah mati oleh orangtua dan saudara-saudara kandungnya.
Aku adalah muslim. Dan aku kecewa dengan keputusan sepupuku menikah dengan seorang lelaki Kristen. Tapi lama kusadari, bukankah itu takdirnya; jodoh, maut, dan rezeki adalah kuasaNya. Aku adalah muslim. Tapi aku sadar masih belum menjalankan ajaran agamaku sebaik-baiknya seorang muslim. Jadi aku tidaklah sekenanya memaknai orang-orang yang di luar keyakinanku dengan makna yang buruk. Seperti kalimat kafir dan murtad. Bagiku itu hanyalah sebuah sebutan. Tidak pantas dimaknai buruk.
Khalil Gibran pernah menulis ‘Jhon Si Gila’ di bukunya berjudul ‘Kematian Sebuah Bangsa’. Jhon si Gila mempunyai seekor lembu jantan yang sangat gemuk. Lembu itu adalah satu-satunya harta keluarga si Jhon. Sependiriannya, Jhon si Gila sangat rajin membaca Injil Perjanjian Baru, yang ketika itu sangat dilarang oleh pendeta-pendeta di Lebanon Utara. Tapi dengan rahasia, di bawah cahaya bulan, atau berteman lampu teplok, Jhon si Gila selalu membacanya.
Ketika musim semi, Jhon melepas lembunya ke padang rumput agar bebas menguyah. Ia menyembunyikan Injil Perjanjian Baru-nya di balik jubahnya yang berfungsi mantel. Lalu dia beristirahat di sebuah dangau dekat Biara St Elija yang berdiri megah di atas sebuah bukit. Ketika lembu jantannya mulai merumput, Jhon membuka Injil Perjanjian Baru-nya dengan sangat hati-hati. Ia membayangkan kesedihan anak-anak Tuhan dan membayangkan keindahan kerajaan surga. Lama membaca Injil Pejanjian Baru-nya, seketika Jhon si Gila terkesiap. Ia tersadar bahwa ia telah kehilangan jejak lembu jantannya. Ia masukkan Injil Perjanjian Baru-nya ke balik jubah lalu ia mencari lembu jantannya kesemua jurusan. Tapi lembunya itu tidak juga ia ketemukan.
Secara kebetulan, ia melihat seorang lelaki berdiri di tengah kebun buah-buahan. Ia pun menanyakan apakah lelaki yang ternyata biarawan itu melihat lembu jantannya yang gemuk. “Ya aku melihatnya. Ikuti aku dan aku akan menujukkannya.” Jhon si Gila dan lelaki itu melangkah ke biara dan kemudian menemukan lembu jantannya diikat pada sebuah kandang. Di sekeliling lembu jantan itu berdiri beberapa rahib, dan di belakang lembu itu adalah seorang rahib memegang pentungan besar. Dan ketika lembu itu bergerak, rahib itu memukulkan pentungan ke lembu milik Jhon si Gila. Dalam keadaan kalut, Jhon si Gila berusaha melepaskan lembunya dari jeratan, tapi biarawan-biarawan itu memegang pundaknya dan mencegahnya. Malah, oleh biarawan-biawaran itu mengatakan Jhon si Gila sebagai pencuri lembu.
“Aku tidak melakukan apa-apa untuk perlakuan yang pantas bagi seorang penjahat,” jawab Jhon si Gila bagai seorang tawanan. Dan salah seorang pemimpin biarawan itu berkata, “Lembu jantanmu telah merusak dan menghancurkan kebun anggur kami. Kami tak akan menyerahkan lembu jantanmu sebelum kau mengganti rugi.”
Jhon memrotes, “Aku miskin dan tak punya uang. Lepaskan lembu jantanku dan aku berjanji demi kehormatanku tak akan membawanya kembali ke tanah ini.”
Pimpinan biarawan itu kembali berkata, “Tuhan menujuk kami untuk jadi pelindung di atas tanah suci kami St Elija. Dan itu akan kami jaga sekuat tenaga, karena tanah ini mulia, dan, bagai api, dia akan membakar apa saja yang memasukinya tanpa izin. Jika kau menolak mempertanggungjawabkannya maka kejahatanmu melawan Tuhan. Rumput yang dimakan lembumu niscahaya akan berbalik menjadi racun dan mematikannya.”
“Kumohon padamu, atas nama Yesus dan semua orang suci, untuk membiarkan diriku dan hewanku bebas. Berbaik hatilah padaku, karena aku miskin, dan peti biara dipenuhi dengan perak dan emas. Bermurah hatilah pada orangtuaku yang miskin dan uzur, yang hidupnya bergantung padaku. Tuhan akan mengampuni dirimu seandainya aku telah merugikanmu.”
Pimpinan biarawan marah. “Miskin atau kaya, biara tak dapat memaafkan utang-utangmu; tiga dinar akan membebaskan lembu jantanmu. Jhon berdalih, “saya tidak punya satu kepingpun; kasihanilah seorang pengembala miskin, bapa.”
“Kalau begitu kamu harus menjual sebagian dari milikmu dan membawa tiga dinar. Karena lebih baik memasuki kerajaan surga tanpa harta benda daripada membawa kemarahan St Elija padamu dan masuk neraka.”
Setelah hening sejenak, wajah Jhon menjadi terang dan matanya bersinar seolah-olah takut dan watak budak meninggalkan hatinya. “Apakah si miskin yang lemah harus menjual harta miliknya yang menyedihkan, sumber roti hidupnya, demi menambah kekayaan biara? Apakah adil si miskin ditindas menjadi miskin agar St Elija memaafkan kesalahan-kesalahan lembu jantannya yang tak berdosa?”
Pimpinan biarawan itu mengangkat matanya ke langit dan melagukannya. “Itu tertulis dalam kitab Tuhan bahwa dia yang memiliki banyak akan memberi banyak, dan dia yang tak punya akan dikutip.” Ketika Jhon mendengar kata-kata itu, ia menjadi sangat marah, dan seperti seorang serdadu yang menarik pedangnya di hadapan musuh, ia mengambil Perjanjian Baru dari balik jubahnya dan berteriak, “Bagaimana mungkin kau memutarbalikkan ajaran-ajaran kristus, kau munafik! Dan begitulah kau menyelewengkan pusaka hidup yang sangat suci demi menyembunyikan kejahatan-kejahatanmu. Musuh bagimu jika manusia datang lagi dan menghancurkan biaramu dan melempar puing-puingnya ke dalam lembah, dan membakar tempat keramat dan altar-altarmu menjadi debu. Kau dikotori oleh dosamu sendiri dengan menghukum diriku karena mendekati tanahmu, yang dibayar olehku dan leluhurku.”
Jhon menarik nafas dalam-dalam lalu merendahkan suaranya dengan perlahan. “Kalian banyak dan aku sendirian. Kalian dapat melakukan apapun padaku. Apa yang kalian ingini; serigala memangsa anak domba di kegelapan malam, tapi noda-noda darah tetap tinggal di atas bebatuan di lembah hingga fajar tiba, dan matahari menyingkapkan kejahatan itu kepada semua orang.”
Ada kekuatan magis dan perkataan Jhon, tapi pimpinan biarawan memerintahkan biarawan sambil berkata, “Ikat penjahat ini dan ambil Alkitab itu darinya dan seret dia ke dalam sel yang gelap, karena dia yang menghina wakil-wakil Tuhan yang suci takkan pernah mengampuni di atas bumi ini, ataupun keabadian.”
Para biarawan itu menyergap Jhon dan membawanya terbelenggu ke dalam sebuh gereja sempit dan menyekapnya. “Ikat penjahat ini dan ambil alkitab itu darinya dan seret dia ke dalam sel yang gelap, karena dia yang telah menghina wakil-wakil Tuhan yang suci.”
Jhon berdiri dengan bangga dan memandang melalui celah jendela tepian lembah ngarai disinari matahari. Dia merasa seolah kenikmatan spiritual menggetarkan jiwanya dan suatu kesentosaan manis menguasai hatinya. Mereka memang memenjarakan badannya, tapi jiwanya berlayar dengan bebas bersama angin sepoi di antara bukit-bukit kecil dan padang rumput. Cintanya kepada Yesus tak akan pernah berubah.
Bukankah Socrates dengan bangga mengorbankan tubuhnya? Orangtua Jhon telah diberitahu tentang pemenjaraan akibat lembu jantan itu. Ibunya yang renta membungkuk datang ke biara dengan tongkat berat. Pimpinan biarawan mengangkat kepalanya dengan takzim ke arah langit dan berkata, “Kami akan mengampuni putramu karena kegilaannya.” Setelah memandang dengan mata sedih, wanita tua itu mengambil sebuah bokor perak dari pinggangnya dan menyerahkannya kepada kepala biarawan. “Inilah milikku yang sangat berharga, diberikan kepadaku sebagai hadiah penebus atas dosa putraku.”
Pimpinan biarawan itu mengambil bokor dan menempatkannya di dalam kotaknya, lalu ia memandang ibu Jhon yang telah uzur, mencium tangannya seraya mengucapkan terimakasih. Dan syukur kepadanya, dan berkata, “Musuh bagimu orangtua yang penuh dosa ini! Kamu memutarbalikkan perkataan kitab suci dan menyebabkan anak itu memakan yang tidak enak dan orangtuanya hanya melihat saja; kini pergilah perempuan baik, dan berdoalah kepada Tuhan untuk putramu yang gila dan mohonlah padaNya untuk menyembuhkan pikirannya.”
Jhon meninggalkan penjara itu, dan berjalan dengan tenang di sisi ibunya, yang menunggang lembu di depannya. Ketika mereka tiba di gubuknya yang kumuh, ia menggiring hewan itu ke dalam kubangan dan duduk dengan tenang di dekat jendela, merenungkan matahari terbenam. Dalam sejenak ia mendengar ayahnya berbisik pada ibunya, sambil berkata, “Sara, telah berulang kali kukatakan padamu bahwa Jhon sudah gila tapi kau tak percaya. Kini kau akan setuju setelah apa yang kau lihat, karena pendeta kepala telah berkata padamu hari ini kata-kata yang pernah aku bicarakan pada tahun-tahun yang lewat.” Jhon terus memandang ke arah cakrawala yang jauh, melihat matahari terbenam. Kini ia bukan hanya si John, tapi Jhon si Gila.
Yang bisa kupetik adalah, kebenaran itu pahit. Mereka sebagai wakil-wakil Tuhan malah mendurhakakan Tuhan. Jhon yang berpikir waras telah dibaptis menjadi seorang yang gila. Serupa kalimat kafir. Jika wakil-wakil Tuhan memaknai kafir menjadi sangat buruk, maka kebenaran itu adalah pahit. Jangan membenarkan maklumat, walau dari raja sekalipun. Semoga pembahasan yang dangkal ini bisa menenangkanku. [www.blogberita.com]
Artikel Alvin Nasution sebelumnya:
- Brum…, brum…, ada udang di balik becak siantar
- Pria bertubuh kecil yang ditakuti preman
- Jipank dan ganja
- Tentang kasus SBY dan calon Gubernur Sumut
Artikel terkait:
- Gus Dur: Orang Kristen dan Yahudi bukan kafir
- Viky Sianipar pun disebut domba tersesat
- Justru setelah aku menjadi muslim, aku makin tahu Kristen juga benar
- Siapa berani sebut Bunda Teresa adalah kafir?
- Istri Gus Dur salat magrib di aula gereja
- Cerita seorang nasrani mengikuti ritual Islam
- Muslim berziarah di makam nasrani
Silakan bila ingin mengutip artikel dari blog ini, dengan syarat menyebut sumber. Bila dikutip untuk website, blog, atau milis, maka tuliskanlah sumbernya www.blogberita.com dan buatkan link ke artikel bersangkutan. Bila dikutip untuk koran, majalah, bulletin, radio, televisi, dll, maka tulislah/ sebutkanlah sumber kutipannya; www.blogberita.com.


28 September 2007 at 8:00 am
hahaha…jadi kuingat teman kerja istriku di riau, namanya Jhon Piala. Agak mirip kisahnya. Nasib si Jhon-Jhon lah (asal kata: Johannes).
Menarik sekali tulisanmu lae. Menggelitik dan bermakna. Dipungkasi kalimat: “Jangan membenarkan maklumat, walau dari raja sekalipun”. Kejadian di atas terjadi sebelum munculnya gerakan pembaruan (protestan – kembali ke ajaran injil) calvinis, martin luther, dll. Kebenaran yang diputar-balikkan, dan pelaku kebenaran yang malah dianggap aneh dan gila. Menghasilkan makna kafir bagi pelaku yang melakukan ajaran yang semestinya.
Hakekat ajaran agama ada di kitab suci itu sendiri, bukan apa yang di doktrinkan oleh petinggi-petinggi agama atau yang menyatakan dirinya ahli kitab.
28 September 2007 at 12:59 pm
“Singkatnya, walau tak direstui orangtua, sepupuku itu ‘kawin lari’. Dan setahuku, sampai sekarang orangtuanya tetap tak memberi restu. Bahkan, sepupuku itu dianggap sudah mati oleh orangtua dan saudara-saudara kandungnya.”
Kejadian yang sama persis terjadi pada ‘inang uda’ku. Bapaku abang beradik ada 3 laki-laki dan 3 perempuan. Nah, yang mengalami kejadian yang persis sama dengan hal di atas adalah ‘Inang Uda’ yaitu istri ‘Bapa Uda’ yang bungsu.
‘Bapa Uda’ku adalah (tentunya) bermarga Simanullang dan ‘Inang Uda’ku adalah boru Nababan.
Sebelum menikah, ‘inang uda’ku boru Nababan ini adalah seorang muslim (walaupun sebenarnya, oppung dolinya (bapaknya bapak inang udaku ini) masih kristen. Mereka menjadi muslim setelah bapaknya (aku panggil oppung-lah) menikah dengan boru sihite (ibunya inang udaku) yang muslim).
Pada saat mau menikah, mereka (Bapa Uda dan Inang Uda) tersebut menjadi seperti buronan yang dicari-cari oleh pihak keluarga Nababan yang muslim dan akhirnya ditemukan di rumah famili keluarga Simanullang di Sidikalang. Mereka kemudian dibawa ke Doloksanggul dan dijebloskan ke tahanan kantor polres doloksanggul untuk diinterogasi karena pengaduan pihak Nababan adalah bahwa Bapa Uda telah membawa putrinya dengan paksa untuk dinikahkan. Mereka diinterogasi dan kadang dibujuk selama 3 hari agar mereka (Bapa Uda dan Inang Uda) tidak meneruskan pernikahan tersebut. Namun, Bapa Uda dan khususnya Inang Uda sangat teguh pendiriannya menyatakan bahwa disamping dia akan menikah karena cinta dan bukan karena dipaksa dan juga akan pindah agama dari islam menjadi kristen. Hal ini semakin membuat berang pihak keluarga Nababan yang muslim (karena dongan tubu mereka (abang adik bapaknya inang udaku semua masih beragama kristen, makanya kusebut Nababan yang muslim).
Akhirnya, Bapa Uda dan Inang Udaku menikah tanpa restu dari orang tua dan saudara-saudara “inang uda’ku. Dan bahkan persis seperti yang ditulis oleh Alvin di atas, ‘inang uda’ku telah mereka anggap mati.
Sampai hari ini pun, Bapa Uda dan Inang Uda’ku belum ‘mangadati’ karena pihak Nababan yang muslim tidak mau menerima (sungguh tragis, mereka mengganggap putrinya, itonya sudah mati tetapi mereka pun tidak membolehkan pihak Nababan yang kristen untuk menerima ‘adat’ atas ‘pangadation’ bapa uda dan inang uda).
Segala usaha telah kami (pihak Simanullang) untuk mendekati pihak Nababan yang muslim tetapi hasilnya hanya sia-sia dan saya sendiri pun pernah ikut langsung untuk membujuk Tulang (itonya inang udaku) yang tinggal di daerah Cimahi-Bandung agar mau menerima kembali inang udaku sebagai saudaranya dan tentunya untuk bersedia atau memberikan ijin kepada dongan tubunya untuk menerima ‘pangadation’ bapa uda dan inang udaku.
Pada saat ke Cimahi-Bandung, rombongan kami juga sengaja membawa ‘berenya’ (anak sulung bapa uda/inang udaku, yang saat ini telah mungkin sudah berumur 24 tahun, yang tahun lalu telah lulus dari PNJ jurusan Telekomunikasi dan telah bekerja di Balikpapan) agar luluh hati Tulang i. Ternyata, hatinya tetap kokoh walau telah melihat ‘bere’nya yang telah ‘doli-doli’ yang telah 23 tahun belum pernah diajaknya bersendagurau bahkan gobrol sekali pun. (Amang tahe tabe ni na marbere ate…)
Yang paling menyedihkan buatku adalah penyataan Tulang tersebut kepada kami yaitu “Dang diloas agamaku ahu manganhon indahan ni i (Agamaku melarang aku untuk memakan nasinya)” karena menurut penjelasan Tulang tersebut adalah jika Tulang menerima ‘garar adat’ dari ‘pangadation’ bapa uda/inang udaku maka hal itu sama saja dengan memakan nasi kami (Simanullang) yang bukan islam ini.
Lalu, kami mencoba mencari jalan keluar dengan alternatif lain. Dalam rombongan kami juga sengaja mengajak seorang marga Nababan (‘dongan tubu’ mereka yang sudah ‘oppung martinohon’). Tulang Nababan (yang kami ajak) ini adalah seorang muslim (yang toleran menurutku) dan istrinya dahulu sebelum menikah dengannya adalah seorang kristen). Tulang Nababan (yang ikut kami) menawarkan agar, Tulang (yang di Cmahi-Bandung) memberikan ijin atau merelakan agar ‘dongan tubu’nya yang di kampung yaitu Nababan yang kristen bisa menerima ‘garar adat’ atas ‘pangadation’ dari bapa uda/inang udaku. Namun, Tulang (Cimahi Bandung) juga tidak memberi ijin bahkan kelihatan agak mengancam dengan nada-nada yang kurang enak didengar.
Akhirnya, dengan tanpa hasil rombongan kami kembali ke Jakarta dan menyampaikan ketidaksetujuan Tulang di Cimahi kepada keluarga di Doloksanggul.
Saya tidak tahu, mungkin akhir tahun ini, bapa uda/inang uda sudah bertekad untuk ‘manggarar adat’ kepada ‘hula-hula’ Nababan dan telah membujuk dengan sangat agar ‘hula-hula’ Nababan yang kristen terbuka dan mau mengambil resiko jika seandainya pihak Nababan yang muslim tetap tidak mau menerima ‘pangadation’ tersebut. Aku pun (kadang menjadi dengan agak emosi sedikit) mengatakan kepada adikku (anak sulung bapa uda/inang uda), ” Nungga mai, nungga paloja hu hita na laho manomba angka Tulang i sampe 23 taon puang umurmu anggia, botima i, direncanahon ma pesta manggarar adat i, baen undangan tu angka Tulang Nababan molo dang ro angka Tulang Nababan i (muslim) ba ndang dosanta be i, dielek ma asa olo angka Tulang Nababan (kristen) dongan tubuna manjalo” (sudahlah, buat saja rencana adat dan undang Tulang (yang muslim) dan jika mereka tetap tidak datang maka hal itu bukan lagi dosa kita, dan bujuklah agar Tulang Nababan (kristen) mau menerima.
Kepada para blogger, Mohon doa restunya agar rencana tersebut berjalan dengan damai dan dibukakan pintu hati dari semua pihak yang terlibat terutama pintu hati pihak Tulang Nababan (muslim).
Kenapa ya, banyak (tidak semua ya) aku lihat bahwa orang batak yang pindah dari kristen ke islam menjadi lebih fanatik keislamannya dari orang muslim yang sudah islam sejak lahir.
Lae Jarar, tentunya bukan orang yang masuk kategori tersebut
SALUT…..
28 September 2007 at 4:44 pm
Oleh karena itu janganlah kita menghakimi orang lain, karena bisa saja kebenaran justru ada di dalam orang lain tersebut.
Seperti halnya si Jhon Gila. Kebenaran justru ada pada si gila ini.
28 September 2007 at 5:26 pm
-keluh- inilah yg kutakutkan jika nanti aku menikah dg pacarku yg katolik. aku akan didakwa zina seumur hidup dan dijauhi keluargaku.
-tersenyum- but, the hell….kun fayakun, yg terjadi terjadilah, que sera sera, hehehe
28 September 2007 at 5:48 pm
“Jangan membenarkan maklumat, walau dari raja sekalipun.”
Kalimat diatas sangat tepat. Sebaiknya kita mempelajari agama atau apa pun itu langsung dari sumbernya. Sehingga kita tau yang mana yang benar dan yang mana yang salah. Dengan demikian kita tidak gampang dihasut atau diadu domba oleh orang lain hanya karena sesuatu yang belum benar2 kita pahami.
Semoga dengan pembelajaran langsung dari sumbernya tsb kita semua lebih dewasa dalam bersikap dan lebih bijak dalam mengambil keputusan. Dan tidak ada lagi pengerahan massa hanya karena pemahaman dangkal.
28 September 2007 at 6:22 pm
@ Alvin nasution
Tulisan yang sangat menarik lae, kalau ga salah anda adalah orang porsea, dan sering main bola di bukit cinta, lulusan sma pedal, tinggal di siantar. sekalian memperkenalkan diri pada anda dan juga kawan lurah di blog ini saya orang porsea, di masaku suka main bola di bukit cinta, lulusan sma pedal dan menetap di p. siantar
Saat ini saya tinggal di sebuah bangunan dengan kurang lebih 100 apartment( istilah di sini, yang sebenarnya adalah kos-kosan)
Saya satu kos an berdua dengan teman seorang dari bogor (sunda) dosen ipb seorang muslim yang taat dan fanatik, dan saya sendiri seorang kristen, di bangunan ini orang indonesia hanya kami berdua.
Suatu ketika teman saya ini mengeluh, karena dia selalu sendirian berangkat ke mesjid, meskipun di bangunan ini sangat banyak yang muslim, baik itu dari arab, algeria, maroc. Dia juga mengeluhkan bahwa orang – orang muslim di sini sudah sangat terpengaruh dengan gaya hidup orang setempat.
Trus saya jawab, apa bedanya dengan saya yang setiap hari minggu berangkat sendiri ke gereja meskipun di tempat ini orang kristen sangat banyak..
Si akang menjawab….gawat! dunia sudah mau kiamat?
Saya menjawab itu dengan kejadian yang terjadi beberapa bulan yang silam, waktu itu saya menarik uang terakhir saya bulan itu dari atm, sekitar 120 Ero, hilang di metro waktu perjalanan pulang.Uang terakhir bulan itu, artinya satu minggu akan di lewati tanpa uang,belum lagi kartu, dan juga foto mantan pacar saya yang tinggal itu satu-satunya
2 hari berikutnya, sebuah surat pos tanpa identitas pengirim berisi dompet saya utuh dengan isinya…markir di kotak pos saya
Mereka orang yang di tuduh malas beribadah, oleh orang tertentu di tuduh kafir, dengan budaya mereka yang selalu kita anggap negatif….mereka adalah orang yang akan dengan sigap membantu mengangkat tas kalau kita di lihat kerepotan, menghentikan mobilnya kalau ada mobil yang mogok butuh bantuan….
28 September 2007 at 6:39 pm
mereka adalah masyarakat dengan tingkat korupsi yang sangat rendah, masyarakat yang dengan suka rela merogoh kantungnya bila ada musibah di satu sudut dunia ini.masyarakat yang rela penghasilannya di potong pajak yang sangat tinggi, supaya anak-anak petani, buruh dapat sekolah dengan layak, orang-orang miskin dapat pengobatan gratis. para pelajar di subsidi untuk apartemant, pemotongan biaya transfort, jaminan kesehatan tanpa limit, termasuk untuk saya dan si akang tadi serta ratusan pelajar indonesia yang tidak pernah tau berterimakasih karena tidak pernah belajar untuk memahaminya…
mereka adalah orang-orang yang malas beribadah itu, ketika di satu kesempatan seorang teman, penduduk setempat saya tanyakan kenapa gereja sudah pada kosong, apakah itu sebuah penomena…jawabnya, begini kawan, camkan baik_baik, gereja sudah kosong, tapi ajaran yang keluar dari sana sudah menyatu dengan masyarakat sebaga
28 September 2007 at 6:48 pm
gaya hidup, begitu pula ketika teman algeria saya yang sangat toleran saya tanyakan, jawabnya fanatik ke dalam, toleran ke luar.penjelasannya hendaklah kita melakukan hal-hal baik yang di ajarkan agama namun memahami bahwa kita hidup di dunia yang sangat berwarna…ini warnaku, hitam, kamu, ya hitam juga…itu lah penjelasan yang bisa saya jelaskan dalam sebuah diskusi dengan teman saya…setuju ya pasti tidak…tidak masalah…yang pasti saya percaya bahwa tidak ada fenomena sekarang ini yang bisa di jadikan toklak ukur kapan datangnya kiamaat, apakah itu perang, bencana, orang malas beribadah,, ya ;;kiamat biarlah hanya Dia Sang Pencipta yang mengetahuinya
28 September 2007 at 7:32 pm
Setuju dengan lae JoeS.
-bukan apa yang di doktrinkan oleh petinggi-petinggi agama atau yang menyatakan dirinya ahli kitab-
“Diskusi tentang ‘who’ Jesus sepertinya sudah cukup banyak dilakukan, sedangkan ‘what’ Jesus ajarkan menurut hemat saya masih kurang mendapatkan porsinya.” Ratmoko F.A (my boss)
Indahnya perbedaan yang dibungkus dengan kasih.
Btw ada yang tahu ga persamaan yang justru jadi alasan 2 insan tidak bisa menyatu? Apalah itu?
28 September 2007 at 8:28 pm
horas lae nasty..lama tak munsul kw fuang laee,,!! aq tau dulu kw hidup d lingkungan yg mayoritas kristen. gmn toleransi kita d kampung,,? mnurut lae hebat sekali bukan,,?? begitu indahnya jalinan persahabatan antar kedua pemeluk agama tersebut. menyatu dalam adat,pergaulan dan kehidupan sehari-hari.
apalagi mendekati lebaran spt saat ini,,takbiran selalu ramai,,natal dan tahun baru juga begitu,,indah memang saat seperti itu.
zadi teringat aq laee,,habis main bola d bukit,,teh botol cokro,,,eh sosro
selalu jadi pembuka yg begitu segar.
@sahat m.manullang
salam kenal laee..!! disini juga porsea.
@mandor bataknius
tunggu artikel ku,,!
BATAK NEWS: paten. kutunggu, pren. kalau tak keberatan, kirim juga fotomu, ya, biar kumuat pada artikelmu nanti.
29 September 2007 at 11:27 am
@sahat m. manullang
@anton saragih
horas bah. ada juga alumni sma pedal (pedalaman) yang nangkring di blog ini. kupikir cuma aku bah. selamat datang lae Manullang di blog ini (permisi mas jarar).
bagiku, blog ini adalah guru. banyak hal yang bisa kupelajari di sini, karena memang orang-orangnya selalu berpikir kritis.
untuk lae anton saragih. ah.. lae selalu mengingatkanku tentang sepakbola itu. aku kan dulu striker tunggal di porsea. walau badanku kurus aku menjadi andalan club terbesar di porsea, ‘Santosa’. Bahkan, aku satu-satunya striker milik Harimau Tapanuli yang paling subur. cewek-cewek banyak yang tergila-gila terutama kalau aku latihan di balige. (kwak..kwak..kwak).
sesekali pulanglah ke porsea lae. liat dulu bonapasogit kita itu. sudah banyak yang berubah lae.
untuk lae sahat m. manullang, horas bah. tapi lae tinggal di mana sekarang. sesekali kasih kabarlah ke aku. biar kita buat reuni di blog ini. tapi, lae stambuk berapa?
sukses untuk lae. salam sama kedan-kedan. horas
29 September 2007 at 5:28 pm
@ batak news
atur nuhun, permisi sebentar untuk nostalgia…
@ anton saragih
salam kenal juga laeku…wah porsea memang hebat ya..tiga marga di sini semua pendatang, manullang (bakkara), nasution (tapsel), saragih(simalungun), potret indonesia minilah ya meskipun porsea bukan kota, saya juga sangat setuju sama lae bagaimana hebatnya kerukunan umat beragama di sana, lae tau juga kan bagaimana berbaurnya saudara kita yang dari etnis cina, semuanya ber bahasa batak…horas batak
@ alvin nasution
horas lae, saya alumni sma pedal tahun 91, pemain himnas club tahun 89-91, gagal dulu waktu ikut tes harimau tapanuli yang saat itu di latih oleh jairo mathos (lupa saya nulisnya) yang dari brazil itu, saat ini saya coba belajar menulis lagi ya ..sama sajalah belajar dari blog ini , dulu sekitar tahun 92-93 saya suka menulis cerpen di harian ***tapi sekarang kemampuan nulis udah hilang sama sekali,,,
dulu salah satu cerpen ku yang muncul di harian itu berjudul ” cinta di tolak dukun.. eh pena bertindak” sekarang copynya lagi kuminta di cari kawan di arsip ku di p. siantar..ya intinya aku mau mencoba menulis lagi, mudah-mudahan nanti bisa belajar sama lae dan juga teman kita penguasa blog ini,,,
Sekarang saya tinggal di marseille, francis, saya ini pns pemberontak sudah lima tahun off, tapi nanti harus pulang juga juga ke siantar, soalnya pelarian kan ada batasnya juga. saya akan menemuai lurah blog ini di balige bulan desember ini, mudah2an bisa juga nanti ketemu lae di siantar , horas
BATAK NEWS: jangan jauh kali larinya, lae. payah nanti menpan kejar ke sana.