Toba Samosir Tapanuli

Jarar Siahaan Penulis Berita Batak

Tragedi Cinta, 34 Tahun Lalu di Danau Toba

55 Komentar

[suhunan situmorang; blog berita; bagai romeo dan juliet]

Seorang pembunuh masuk penjara, lalu pacaran dengan putri kepala penjara, kemudian kabur dari penjara demi sang kekasih, dan akhirnya ditangkap aparat — tak jelas apakah dia mati dibunuh atau masih hidup. Hingga kini, setelah 34 tahun berselang, sang putri masih melajang dan selalu berharap lelaki pujaan hatinya itu akan muncul. Benar-benar cinta yang abadi.

Pangururan Kab SamosirArtikel berupa berita ini ditulis oleh Suhunan Situmorang — advokat pada Nugroho Partnership, Jakarta, juga penulis novel Sordam — yang kuterima di imelku, bataknews [at] gmail [dot] com.

MALAM ITU PARA lelaki dewasa, umumnya bermarga Situmorang dan Sitohang yang tergabung dalam paguyuban klan Sipitu Ama, hampir tak tidur. Semburat amarah dan ketegangan tergurat di wajah mereka. Pembicaraan tak putus-putus, asap rokok berkepul-kepul. Sejak pagi rumah kami dipenuhi orang, dijadikan semacam posko darurat. Sesekali tentara, polisi, sipir penjara, keluar-masuk. Sebuah kejadian mirip kisah Romeo dan Juliet menggemparkan warga kota mungil di tepi Danau Toba itu.

RS, seorang gadis SMA, dibawa kabur seorang pria. Sebetulnya tindakan semacam bukan hal yang harus mengundang kegemparan bagi masyarakat-adat Batak. Masalahnya, sang lelaki berstatus narapidana! Baru hitungan bulan ia huni lembaga pemasyarakatan (LP) Pangururan karena tindak pidana kelas berat: membunuh seorang kerabat semarganya, melukai dua lainnya, karena konflik perbatasan tanah (parbalohan).

Tak disangka, diam-diam RS menjalin asmara dengan BS, narapidana yang terbilang tampan dan tubuhnya mirip atlet tinju itu. Ayah RS yang kami panggil ompung (kakek), tak lain kepala LP (sekarang disingkat Kalapas). Rumah dinasnya berbatasan langsung dengan sisi barat LP yang cuma dibatasi pagar tinggi berlapis kawat duri peninggalan Belanda dan tanaman perdu.

Masih jelas kuingat wajah lelaki nekat itu. Manakala melintas di depan LP yang kebetulan satu jalan dengan rumahku, Jln. Kejaksaan, Tajur, acap ia berdiri di halaman depan LP, bertelanjang dada, berkeringat, usai kerja. Tapi ia tak seperti narapidana lainnya yang suka menyapa anak-anak Tajur agar diberi rokok, cabe, garam, gula, kopi, ubi, atau sisa makanan di rumah. Napi yang satu ini agak beda. Pendiam, terkesan angkuh, menjaga harga diri dengan cara tak meminta-minta, seolah ingin berkata bahwa dirinya bukan terpidana sembarangan. Warna kulitnya sawo matang, mulus, tak legam sebagaimana lazimnya petani. Bentuk mukanya pun tak seperti wajah Batak pedesaan kebanyakan. Andai bukan napi, pantaslah bila ia diidamkan kaum wanita.

Hampir semua napi (kecuali yang dianggap berbahaya) melakukan sosialisasi dengan penduduk setempat. Tenaga mereka digunakan pengusaha kedai makan dan orang-orang yang melakukan hajatan adat. Upah mereka dibagi dua, sebagian ke sipir penjara, sisanya ke kantong mereka. Selama bekerja di luar penjara, sipir tak perlu mengawasi; herannya, belum pernah terdengar ada napi kabur.

BS belum dibolehkan mengikuti program pemasyarakatan-kembali, mungkin karena masih anyar dan kasusnya pidana kelas kakap. Ia jarang menyapa orang atau sekadar melempar senyum, dan sepertinya memendam amarah karena belum bisa menerima hukuman atas perbuatannya. (Masa itu, majelis hakim datang dari Balige, jadwal sidang tiap Rabu). Cerita orang-orang penjara, sesungguhnya ia “bukan pembunuh”, malah beruntung bisa memenangkan pertarungan berat sebelah melawan tiga lelaki dewasa—masih kerabatnya—yang tiba-tiba menghadang dirinya dengan parang di ladang ubi dan palawija orangtuanya. Kalau tak tangkas berkelahi, lehernyalah yang dipenggal. Sayangnya, saat itu dan hingga kini, belum ada pengacara praktek di Pangururan untuk membela dirinya agar tak dibui 15 tahun. KUHP memungkinkan peringanan hukuman bagi orang-orang yang (harus) membunuh demi membela diri.

Di balik sikap dingin BS, tak dinyana, ia lesatkan panah asmara ke dada RS. Entah bagaimana cara mereka berkomunikasi, dugaan orang-orang, dilakukan dari balik pagar kawat duri sisi kanan LP dan lewat surat-surat. Cinta mereka tumbuh lebat dalam hitungan bulan, apinya membara tak terpadamkan. Bila menunggu selesai masa hukuman, alangkah lamanya. Diam-diam mereka rancang pelarian, dan suatu subuh berhasil meloloskan diri. Cara pelarian BS simpang-siung. Ada yang bilang, RS mengambil anak kunci LP dari kantong ayahnya dan membuka sendiri gembok pagar LP dari luar. Sebagian mengatakan, RS menggunting kawat duri tebal, dicicil berhari-hari. Sebelah kiri halaman rumah RS berbatasan memang dengan pagar LP, tumbuh lebat berbagai tanaman. Seseorang bisa berondok melakukan kegiatan tanpa ketahuan.

Petugas dan puluhan pengisi penjara yang tak begitu besar itu tentulah geger. Lebih menggegerkan lagi setelah tahu, BS juga memboyong putri pak kalapas. Kesimpulan orang-orang, RS diguna-gunai BS. Ia kena sihir dorma sijunde, sejenis pelet pemikat wanita yang konon amat ampuh. Bagaimana mungkin anak pejabat LP (masa itu kalapas termasuk jabatan elit) mencintai napi pembunuh dan nekat membobol penjara bila tak dimejik?

Polisi, petugas LP, pegawai kejaksaan, panik. Di rumah kami, kaum Sipitu Ama, kebetulan ayahku ketuanya, heboh dan tegang. Mereka amat geram dan merasa dipermalukan BS. Ibuku menggelar tikar-tikar pandan untuk menampung puluhan tamu, di dapur kaum perempuan sibuk menyiapkan minuman dan makanan untuk banyak orang, tanpa diperintah.

Kebetulan komandan Puterpera (Koramil sekarang) masa itu bermarga Situmorang, dua polisi senior bermarga Situmorang dan Sitohang, dan camat Sinaga beristrikan boru Situmorang pula. Jadilah pertemuan mereka layaknya rapat Muspida. Sejak pagi hingga tengah malam rumah kami disesaki kerabat dan tetangga. Diam-diam hatiku senang. Ada keramaian, ada ketegangan, ada gunjingan yang mendebarkan, banyak makanan…

Menurut laporan kurir yang sengaja dikirim mengintip, BS dan RS ada di Huta Ginjang-Sagala, kampungnya BS, persis di pinggang Pusuk Buhit—gunung yang dikeramatkan dan dianggap suci, sumber mitos manusia Batak pemula. Tim pemburu dibentuk, persiapan penyergapan dimatangkan. Dua kendaraan sudah parkir di depan rumah, satu jip Willis milik dinas kehutanan, satu mobil bak terbuka milik tentara. Rencana penyerbuan dirancang sang komandan Puterpera, sekaligus pimpinan “pasukan” yang terdiri dari dua tentara, dua polisi, dua utusan marga; tak termasuk seorang “wartawan gadungan” pelajar kelas satu SMP bertubuh kecil yang sangat ingin tahu.

Pukul dua pagi, pasukan bergegas. Aku, yang sengaja lek-lekan seraya melawan kantuk berat, meloncat ke bak belakang mobil pick-up dan langsung tiarap agar tak ketahuan. Rombongan bergerak, jip Willis di depan. Udara sungguh dingin, membuat tubuhku menggigil sembari meringkuk membelakangi kabin pick-up. Jalan sunyi dan gelap yang dilewati rombongan melewati kanal Tano Ponggol buatan Belanda yang memisahkan Samosir dengan Sumatera, lalu belok kanan menuju Aek Rangat—sebuah lokasi wisata pemandian air panas alami di kaki Pusuk Buhit, di atas danau.

Lewat Aek Rangat, kendaraan menanjaki jalan berbatu, berlobang-lobang, berkelok-kelok, sebelum berhenti di atas desa Tulas. Huta Ginjang masih ratusan meter di atas, mendekati puncak Pusuk Buhit. Gelap gulita di sekeliling, bulan tak muncul, bintang diselubungi awan, suara-suara jangkrik dan serangga malam mengusik keheningan. “Komandan pasukan” memberi pengarahan sebelum bergerak menanjaki jalan setapak sembari membawa senjata laras panjang, pistol, parang, kayu pemukul dan tali.

Saat itulah muncul penyesalan dalam hatiku, kenapa memaksakan diri ikut. Ada rasa takut bila sendirian di mobil, selain tak tahan menahan dinginnya udara. Bila menyerah, pastilah didamprat amanguda, sang komandan tentara; manusia galak nan tegas namun berhati baik. (Ia layaknya ayah kedua bagi kami anak-anak ayah). Akhirnya kuputuskan mengikuti mereka dari belakang, diam-diam, mendaki tanpa penerangan.

Ternyata rumah BS lumayan jauh dari tempat kami berhenti. Napasku sudah ngos-ngosan, semak belukar yang dibasahi embun pagi sungguh menyebalkan—dingin menusuk bila kena kulit. Tiba di sebuah perkampungan yang hanya diisi sedikit rumah, senter dimatikan, kepala rombongan memberi pengarahan. Tubuh mereka bagai hantu-hantu yang berkerumun. Rumah BS langsung mereka kurung, dan…brak! Pintu rumah kayu yang ringkih itu mereka dobrak bertubi-tubi. Aku heran sekaligus takjub, semudah itu mereka dobrak pintu rumah BS. Dasar serdadu!

“Angkat tangan! Jangan bergerak! Jangan ada yang melawan, mana BS dan RS?”

Terjadi kegaduhan. Penghuni rumah yang ternyata beberapa keluarga, berteriak-teriak. Kaum perempuan dan anak-anak sontak bertangisan. Orangtua dan saudara-saudara BS rupanya melakukan perlawanan. Di luar rumah, seorang polisi meletuskan senjata. Dor! Dor! Dor! Jantungku berdebar kencang, kakiku gemetar, perasaanku kacau-balau. Kegaduhan berlanjut, kaum perempuan kian menjerit ditingkahi bentakan tentara dan polisi. Aku panik di semak-semak, takut kena peluru nyasar, cemas dipatuk ular.

“Biarkan aku di sini Bapaku, rajaku…!” teriak RS sambil meraung, “Ampun…kumohon Amanguda, jangan pisahkan kami!”

Gaduh!

“Diam…! Tutup mulutmu! Bikin malu!”

“Ampun Ito, jangan pisahkan kami! Jangan pukuli mereka, Bapa! Mereka tidak salah…”

“Diam…! Bikin malu!”

“Aku sangat mencintainya, Amanguda…! Kami saling mencintai, Bapa…!”

“Tutup mulutmu! Bawa dia ke jip!”

RS diseret keluar rumah, BS bersama orangtua dan dua abangnya digelandang. Aku bergegas menuruni perbukitan, beberapa kali tergelincir, lenganku luka gores.

Salah seorang amanguda kaget melihat badanku rebah di bak mobil. Mulutku gagap menjelaskan, lalu disuruh pindah ke kabin depan. BS bersama ayah dan dua saudaranya diletakkan di bak mobil, tangan mereka diikat, diawasi tentara dan polisi. RS susah-payah dibawa ke jip, tubuhnya diseret menuruni jalan setapak sambil histeris.

Sepanjang jalan pulang yang penuh kabut, kami membisu. RS tetap berteriak-teriak dan berusaha meloncat dari jip yang melaju perlahan. Sesekali kulirik ke belakang lewat kaca dinding kabin belakang. Hidung dan bibir BS, juga ayah dan saudaranya, agaknya berlumur darah.

Aneh…, diam-diam muncul keinginanku membebaskan mereka. Andai dapat, ingin kubantu mereka melarikan diri, berlari dan berlari untuk mendaki perbukitan tinggi yang mengitari lembah Sianjurmulamula, lalu bersembunyi di hutan Laepondom. Kusesalkan kebodohan BS dan RS yang tak memilih kabur dengan menumpang bus jurusan Sidikalang atau Doloksanggul-Tarutung. Sungguh pelarian yang tanggung-tanggung.

Menjelang kedatangan matahari, kami tiba di Pangururan. Para “tawanan” itu langsung dijebloskan ke ruang tahanan polisi, sementara RS dibawa ke rumahku. Ia dikurung di kamar tengah. Bergantian kaum ibu dan bapak menemuinya, memberi nasehat, juga memarahinya karena telah menorehkan aib di wajah orangtua dan klan Sipitu Ama.

RS tak mau dengar, menutup telinga sambil menjerit, meratap, meraung, minta dikembalikan pada kekasihnya. Acap tubuhnya berguling-guling sambil meraung dan meronta. Masih kuingat kata-kata seram yang sering diucapkannya bersama ratap yang menyayat-nyayat kalbu: ”Walau pisau tajam sudah kalian siapkan untuk membunuhku, aku akan tetap memilih BS…!” Terkadang: “Ooo..Among, inong, inanguda, amanguda, ito, eda, lebih baiklah kalian bunuh diriku daripada berpisah dengan BS…! Dialah lelaki satu-satunya yang kucintai dan mencintaiku di bumi ini..” Dan, ketika ayahku coba membujuk agar ia tenang, ia menangis seraya mengiba-iba: “Among yang baik, Bapaku…, Ito-ku nalagu…, kasihanilah kami. Restuilah hubungan kami, Ito…”

“Sadar kau R***, dia itu mengguna-gunaimu!” kata yang satu, “Dia itu pembunuh!”

“Berdoa kau ito supaya kekuatan setan yang dipakai BS memikat dirimu dilepaskan Tuhan!” ujar yang satu lagi.

“Aku tidak diguna-gunai…!” teriak RS histeris dengan mata membelalak, “Aku sadar melakukannya! Aku sangat mencintainya!”

Jeritan namboru-ku itu sungguh menyayat hati. Jujur, airmataku menetes, dan… muncul rasa benci pada ayahku dan semua kerabat Sipitu Ama, walau pernah tertangkap mataku, ayahku menyeka airmatanya dengan punggung tangannya. Menurutku, mereka amat kejam memisahkan RS dan BS—dan dihajar pula bersama ayah dan kedua saudaranya.

Tatkala malam sudah larut dan orang-orang yang ditugaskan jaga sudah berlelapan, raung tangis RS yang terus memanggil BS, Tuhan, bahkan… hantu-hantu, membuat bulu tubuh merinding. Suasana semakin mencekam ketika anjing-anjing kampung melolong bersahutan di kejauhan.

Rapat marga akhirnya memutuskan, RS dipindahkan ke Jakarta—ke rumah kakaknya yang sudah menikah. Lusanya, pagi-pagi, ia dipaksa naik kapal kayu bermotor menuju Tigaras, lalu dengan bus ‘Laut Tawar’ dibawa ke Medan via Siantar. Ia berteriak-teriak memanggil-manggil kekasihnya yang masih ditahan di kantor polisi. Orang-orang Pangururan mengaku, sering mendengar jeritan BS, ayah dan kedua saudaranya, yang kesakitan karena disiksa petugas. Dua minggu kemudian, BS dipindahkan ke LP lain, kabarnya ke LP Sibolga. Ayah dan kedua saudaranya dilepas setelah beberapa hari ditahan dan diinterogasi.

Hingga sekarang, kadar cinta RS pada BS tak susut-susut. Cinta yang melekat di hatinya ternyata bukan akibat guna-guna atau manipulasi dorma sijunde—yang katanya mudah pudar itu. Terbukti, hingga menjelang masa pensiunnya di sebuah kantor instansi pemerintah, ia tetap melajang, hidup bersama pembantu di rumahnya yang bersahaja di wilayah Jakarta Timur. Gairahnya selalu meluap manakala BS disinggung, wajahnya akan berbinar beriring senyum walau melankolis menuturkan kisah cintanya yang tragis itu. Saat bercerita, ia seolah gadis yang beranjak dewasa dan baru merasakan dahsyatnya getar asmara, dan BS masih lelaki tampan yang usianya belum 20 tahun.

Tak pernah diketahuinya di mana BS berada; juga tak tahu, masih hidup ataukah sudah mati. Tapi ia seolah yakin, suatu saat, BS akan datang menjemput dirinya untuk melanjutkan jalinan cinta yang dipenggal paksa 34 tahun lampau. [http://www.blogberita.com]

SUHUNAN SITUMORANG (Jakarta)CATATAN SUHUNAN SITUMORANG:
Kisah cinta R*** boru Situmorang (RS) yang kami sapa namboru karena derajat hubungan kekerabatan, tak saja langka, juga memedihkan jiwa. Pengalamannya menguak lagi di benak setelah bertemu seorang polisi bermarga Situmorang di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat, Senin pekan lalu. Setelah martarombo atau mengusut hubungan kekerabatan—hal yang “wajib hukumnya” bagi orang Batak—ternyata ia sepupu RS. Sambil menunggu sidang perkara merek dagang klien kantor, kami membincangkan RS dengan nada simpati dan prihatin. Bila ada keluarga dekat RS atau B*** Sagala (BS) membaca kisah ini, tak ada maksud mengeksploitasinya, semata-mata untuk membagi kisah dua insan pada pembaca blog ini—semoga berfaedah bagi dunia batin. Silakan beri koreksi bila ada hal yang dianggap tak akurat.

Foto di awal artikel ini adalah gambar kota kecil Pangururan, ibukota Kabupaten Samosir, yang terletak di tengah Danau Toba. Foto dijepret oleh Jogi Situmorang, anak Suhunan, pada Desember 2006.

Artikel terkait:

  • Untuk membaca artikel-artikel Suhunan sebelumnya, klik foto berteks ARTIKEL SUHUNAN di sisi kiri atas blog ini.
  • Artikel terbaru dalam diaryku klik di sini.

Silakan bila ingin mengutip artikel dari blog ini, dengan syarat menyebut sumber. Bila dikutip untuk website, blog, atau milis, maka tuliskanlah sumbernya http://www.blogberita.com dan buatkan link ke artikel bersangkutan. Bila dikutip untuk koran, majalah, bulletin, radio, televisi, dll, maka tulislah/ sebutkanlah sumber kutipannya; http://www.blogberita.com.

About these ads

Author: Batak Toba

Demi Yesus, aku percaya Muhammad utusan Allah • Ikuti Twitter @ja_rar • Baca konten khas dan bernas di www.khas.co • Tahu nggak, menonton siaran Piala Dunia itu dosa loh menurut agama Islam. Baca di http://benar.org/do-sa

55 thoughts on “Tragedi Cinta, 34 Tahun Lalu di Danau Toba

  1. Tragis juga cerita namboru kita itu ampara, tolonglah sampaikan salam & gbu

  2. BS pulanglah………
    jangan biarkan orang banyak menunggumu……
    RS perjuangkan cintamu……

  3. Ngeri kali bang… gak brani aku membayangkannya… Kalo bang Tongam baca ini, pasti langsung bikin lagu… :)

  4. @suhunan
    Bang, kalau novelnya jadi, nanti saya mau organize launchingnya di Batam atau Bintan. Kalau bisa kita taja dengan latar musik batak dan lomba lawak batak. Dengan emce Desy boru Barat.

  5. @Par Bintan

    Akhirnya kata Sinaga ini kepada boru barat itu:

    “Jadi ido tutu ito. Mauliate ma di tikki ni ito manjalo hami. Sonari nungga boi mulak ma jo hami ateh”. (Jadi betul ito. Terimakasihlah atas waktu ito menerima kami. Jadi sekarang kami mohon diri mau pulang ya.”

    (Pasti Par Bintan terbengong pada saat Sinaga itu selesai mengucapkan ‘hata’ tsb)

    KWA…KWA… KWAK….KWA…KWA… KWAK….
    :d :p (:| >:) :o

  6. Sungguh terlalu bah . . . , abang benar – banar JagO [ hebat ] untuk merampungkan ceritanya, toho do halak hita na malo
    SeLaMaT dA bang, sukses selalu ya’
    God Bless all n Horas ma tu sude

  7. Boleh kan punya pendapat yang agak berbeda?
    Perbedaan pendapat mestinya bukan menjadikan permusuhan.

    Kata kuncinya adalah mencintai tidak mesti memiliki dan ‘Life is Beautiful’.

    Secara umum, memang perlakuan yang memisahkan dua insan yang saling mencintai adalah sangat menyakitkan. Tetapi yang menjadi bahan pikiran buat saya adalah bahwa ito RS telah menyiksa dirinya dengan penantian yang sia-sia dan selalu meratapi masa lalu.

    Hidup adalah karunia Tuhan. ‘Life is Beautiful’ (seperti judul sebuah film yang saya kagumi). Dunia ini tidak akan pernah memiliki keadilan dan kebesaran hati diperlukan untuk menjalaninya tanpa ikut terjerumus atas ketidakadilan. Keteguhan hati dan cinta yang mendalam adalah prinsip yang agung, namun kita harus menyadari bahwa realita hidup harus bisa diterima dengan berbesar hati. Hari esok mestinya tidak harus disia-siakan untuk selalu merenungi masa lalu.

    Kisah di atas pun mungkin masih ada perbedaan dengan kisah ‘Juliet dan Romeo’ dan ‘Titanic’. Juliet dan Romeo adalah cinta di antara keturunan dua keluarga yang musuh bebuyutan dan dalam Titanic bahwa si nenek, yang menceritakan kisah Titanic, menikah nggak ya?

    Mungkin akan lain ceritanya, jika ito RS setelah beberapa tahun dalam penantian tanpa harapan kemudian dengan berbesar hati menerima realita hidup dan akhirnya menikah dengan laki-laki lain, memiliki kebahagiaan dengan suami, anak dan cucu.

    Alangkah indahnya kisah cinta tersebut, pada saat si nenek (ito RS) bercerita kepada cucunya dan mungkin menjadi sumber inspirasi buat keturunannya untuk selalu menghargai dan mencintai kehidupan dan tidak menyiksa diri atas kegagalan-kegagalan yang dialami dalam hidup.
    “Akan banyak kekecewaan dan kegagalan yang akan kau hadapi dalam hidupmu cucuku, ya kegagalan cinta, kegagalan cita-cita, kegagalan usaha, dll dll. Namun satu yang harus cucuku ingat bahwa hidup adalah karunia Tuhan yang tidak boleh disia-siakan dengan hanya meratapi masa lalu”. Bangkitlah dan hari esok penuh dengan kebahagiaan. Life is Beautiful.

    Sekali lagi, mohon maaf atas perbedaan pandangan tersebut dan bukan bermaksud menyudutkan ito RS atau menyangkal kisah yang diceritakan oleh Amang SS.

    Horas, mauliate

  8. @ridwan simanullang

    bengong, malu dan dongkol.

    akhirnya ada anggota polisi yang mendatangi boru barat itu. Dengan gaya pendekatan yang mirip buser (buru sergap) dalam tempo kurang dari tiga bulan boru Barat dan polisi itu sudah menikah di gereja.

  9. @ ridwan simanullang

    Selain Life is Beautiful ada beberapa judul film yang berceritakan tentang cinta, keluarga dan penderitaan hidup dengan setting suasana awal perang dunia kedua di eropa.

    Mengenai pandangan lae, memang lain orang lain pula pandangannya tentang cinta. Namboru saya ini mungkin yang dibilang parroha sada (orang yang tidak mau berubah prinsip).

    Kalau saya sih setuju sama lae. Seperti motto Kodam Bukit Barisan “Patah tumbuh hilang berganti”. Tapi bukan motto Kodam Siliwangi “esa hilang dua terbilang”. Poligami jadinya….

  10. @ Bachtiar dot stmr
    Salammu akan kusampaikan, appara. GBU.

    @Prado
    Jangan-jangan BS itu sudah…., akh semoga belum.

    @Viky Sianipar

    Kau saja yg bikin lagunya, Vik, liriknya buatan JJ Siahaan–ahli percintaan juga kawan itu, di masa remajanya banyak surat-surat cinta ia layangkan ke berbagai gadis remaja di Balige.

    @ Par Bintan
    Wah, ide yang mantap kali itu, anggi naburju. Sekalian melihat pantai Bintan yg cantik itu. Akan kuusahakan agar naskahnya selesai. Terimakasih atas tawaranmu.

    @ Noni rumahole
    Mauliate da…

    @ Ridwan Manullang

    Boleh kali pun lae, kita berbeda penilaian. Sebenarnya dalam percakapan kami dengan sepupunya yg polisi itu pun ada pikiran seperti yg lae utarakan: kenapa ya tak diupayakannya melupakan masa lalu dng si BS itu lalu memulai kehidupan yg baru dengan mengalihkan cinta ke lelaki lain, misalnya. Tapi, rupanya, begitulah lae. Kelihatannya RS lebih “senang” mengabadikan cinta di hatinya itu, meskipun pahit tapi memberi “kenikmatan” bagi dirinya. Mungkin pula krn ia tak yakin akan bisa merasakan getar yg sama dari pria lain, atau sebetulnya mengharapkan namun tak datang-datang, sementara tak terasa, usianya kian tua.

  11. @ Ridwan Simanullang
    Pendapat lae ada benarnya, bahwa kita tidak boleh meratapi masa lalu dan hidup dalam bayangan masa lalu hingga menyebabkan penderitaan pada diri sendiri.
    Tapi kalo yang aku tanggkap dari cerita diatas, ito RS cukup bahagia dengan keadaannya saat ini.Terbukti saat disinggung mengenai BS langsung tersenyum. Berarti dia tidak meratapi masa lalunya yang pahit dan hidup didalam kepahitan itu.
    Seandainyapun RS menikah, tapi bukan atas kehendaknya(misalkan karena didesak keluarga atau karena malu dianggap ga laku) belum tentu juga dia bahagia.
    Hidup itu memang indah lae, tinggal bagaimana kita menikmatinya. Dan salah satu cara menikmatinya mungkin seperti yang ito RS tunjukkan, tetap menunggu sang pujaan hatinya dengan tersenyum dan penuh cinta….

  12. Horas bang JJ Siahaan aku agak lupa lupa ingat ,tolong bang ingatkan aku soalnya aku ini sudah mulai PIKUN…

    Aku jadi kaget dan agak tersanjung atas tanggapan abang Suhunan dan abang JJ Siahaan.Kembali aku teringat akan masa-masa kuliah 20 th yang lalu
    Kalaulah waktu bisa diulang ,rasanya aku ingin mengulang lagi .Aaku lagi sentimentil …niiihhhh yaaa minimal aku punya cerita untuk anak-anakku dan mereka membaca tanggapan dari seniorku.
    Terima kasih atas tanggapannya yang membuatku kembali semangat untuk membaca hal-hal yang sudah lama kutinggalkan.

  13. Ago amang andaikan au salah satu dari pasangan i ,hudabuhon mana diriku sian uludarat na disamosir i sahat tu tao toba i marguling-guling .
    Songoni haccit ma diae halaki akka namarsihaholongan i ,alai ala ngamarUgamo hita mudah2an gabe pelajaran ma dihita saritoni Amanguda SS i bah,Maju trus yah uda SS………kami msh tgu karya2 uda yang lain……..

    annon molo jadi novelnya au tusi martiga-tiga hon uda setiap onan dihita an manang di Batam ,bintan hami padua dohot uda par BIntan martiga-tiga Novel sahat tujabu jabu diantar hami kwakwakwa………….

  14. Maha dahsyat cinta ……………
    cinta sejati tidak akan pernah mati……………

  15. dison do au hasian didia do ho