[blog berita; majalah time; suharto inc. bagian keempat]
Ketika masih kecil, bila anak-anak Soeharto berkunjung ke rumah Oom Liem, konon mereka diberi uang jajan 1.000 dollar.
Inilah terjemahan bagian keempat berita majalah Time edisi Asia, 24 Mei 1999, berjudul Suharto Inc. Artikel ini diterjemahkan oleh Urgent-Translator Team atas kerja sama International NGO Forum on Indonesia Development [INFID], Solidaritas Perempuan, dan Indonesia Corruption Watch [ICW].
Anak-anak Keberuntungan [4]
SELAMA BERTAHUN-TAHUN, korupsi di Indonesia adalah semacam bentuk pemberian komisi dari pembelian, yang umum dijumpai di negara-negara berkembang. Ada dua faktor yang menyebabkan Indonesia agak berbeda dari yang lainnya.
Pertama, posisi Indonesia sebagai bintang panggung baru dalam keajaiban ekonomi Asia, yang membawa aliran dana yang mengalir ke sektor bisnis dan real estate. Bank Dunia memperkirakan bahwa antara tahun 1988 sampai tahun 1996, Indonesia telah menerima lebih dari $ 130 milyar dari investasi asing. Ini semua hanya mungkin di bawah pengaruh Barat, yang telah mendukung Suharto selama 30 tahun, kata Carel Mohn, juru bicara Transparansi Internasional, sebuah organisasi non-pemerintah (ornop) yang berbasis di Berlin.
Faktor kedua, adalah anak-anak Suharto. Keenam anak-anak tersebut masuk ke dalam bisnis, panggilan hati yang telah ada semenjak usia dini mereka. Saya ingat ketika kami masih remaja, saya dan Bambang dan teman-temannya datang kerumah Oom Liem, kata seorang teman kecil anak Suharto yang kedua. Oom Liem akan selalu memberi kami sepaket uang yang dibungkus kertas koran. Paket itu, katanya, berisi cek senilai sekitar $ 1.000 atau lebih.
Wati Abdulgani, seorang pengusaha perempuan yang juga berhubungan dengan perusahaan keluarga Suharto di tahun 1980-an mengatakan: “Anak-anak ini mengamati apa saja yang diberikan oleh Oom-nya tersebut, dan kemudian mereka berpikir, Bagaimana dengan kami nanti bila kami sudah besar, apakah bisa seperti dia?”
Sigit, anak yang tertua, secara jelas dipaksa oleh ibunya untuk masuk ke bisnis. Peran ibunya sebagai orang di belakang layar membuatnya terkenal dengan sebutan “Madam Tien Percent”.
Seorang teman Ibu Tien pernah berbicara dengannya pada saat pemerintah sedang membangun bandara internasional Soekarno-Hatta. “Ia bilang pada saya, saya ingin Sigit belajar tentang bisnis,” katanya. Saya katakan sebaiknya Sigit menyelesaikan dulu universitasnya. Jawab ibunya, “Jangan, jangan, Sigit tidak bisa berpikir jelas.”
Dua narasumber yang bekerja untuk proyek bandara tersebut berkata bahwa ketika kedua terminal bandara telah selesai di tahun 1984, sebanyak $78,2 juta harus diserahkan ke Sigit dalam bentuk mark-up yang kelihatannya akan seperti biaya berjalan. Sigit kemudian beranjak ke bisnis yang lebih besar lagi.
Di tahun 1988, Departemen Sosial menetapkan adanya karcis SDSB (Sumbangan Dana Sosial Berhadiah), yang dipegang oleh perusahaannya. SDSB tersebut dapat terus beroperasi sampai kemudian terpaksa harus dihapus karena protes anti-judi dari kalangan Islam di tahun 1993. Pola judi tersebut membuat Sigit dan perusahaannya mendapat jutaan dollar setiap minggunya, kata Christianto Wibisono dari PDBI (Pusat Data Bisnis Indonesia), yang telah mengumpulkan berbagai informasi diseputar bisnis dan perusahaan-perusahaan yang terkait dengan Suharto semenjak tahun 1980.
Anak keduanya, Bambang, mendirikan Group Bimantara di tahun 1981 bersama dengan dua teman bekas anggota kelompok band rock-nya. Mereka dibimbing masuk ke bisnis oleh Oom Liem. Dari tahun 1967 sampai tahun 1998, Bulog (Badan Urusan Logistik) mengimpor dan mendistribusikan bahan-bahan pokok, seperti terigu, gula, kacang, dan beras melalui perusahaan-perusahaan yang terkait dengan Suharto, termasuk enam diantaranya milik Liem.
Sesuai permintaan Bambang, Liem memberikan sebagian bisnis kepadanya. Dari perdagangan gula saja, Bambang mendapat keuntungan sebesar $ 70 juta setahunnya, hanya untuk menstempel dokumen. Sistem itu berjalan dengan begitu baiknya, sehingga setiap anak yang mau masuk ke bisnis diberi sebagian-sebagian dari bisnis tersebut.
Praktek tersebut terus berjalan sampai tahun 1998. Dari tahun 1997 sampai 1998, Liem mendapat kontrak dari Bulog untuk mengimpor sekitar 2 juta ton beras yang bernilai $ 657 juta. Sebagai bagian dari kontrak itu, disebutkan bahwa anak terkecil Suharto, Siti Hutami Endang Adiningsih (Mamiek) mengimpor 300.000 ton beras yang bernilai $ 90,3 juta.
Selama 18 tahun terakhir, lewat adanya keinginan pemerintah untuk menstabilkan harga beras, anak-anak Suharto telah berhubungan dengan Bulog untuk menghasilkan sekitar $ 3 milyar sampai $ 5 milyar bagi mereka sendiri, demikian menurut seorang bekas pejabat pemerintah.
Anak tertua, Tutut, tumbuh menjadi ratu lebah dari klan Suharto. Basis kerajaan bisnisnya adalah Group Citra Lamtoro Gung. Bisnis besar pertamanya adalah membangun dan mengoperasikan jalan tol. Proyek jalan tol-nya yang pertama dimenangkannya tahun 1987, setelah pemerintah mengalahkan dua pesaing tender lainnya. Pembiayaannya berasal dari dua bank pemerintah, sebuah perusahaan semen milik pemerintah, dan yayasan milik Suharto.
Ketika Presiden Bank Bumi Daya menolak permintaan Tutut akan pinjaman-bebas-bunga, ia langsung dipecat. Di pertengahan tahun 1990, jalan tol-nya menghasilkan $ 210.000 per-hari. Di tahun 1995 , konsesi sistem jalan tol yang dipunyainya, bisnis yang paling menguntungkan di Indonesia, diperpanjang sampai tahun 2004. Kata Teddy Kharsadi, Direktur corporate-affair perusahaan jalan-tol PT Citra Marga Nusaphala, “Perpanjangan ini merupakan konsekuensi yang wajar dari investasi kami.”
Kerajaan bisnis Tutut meliputi juga telekomunikasi, perbankan, perkebunan,penggilingan tepung terigu, konstruksi, kehutanan, serta penyulingan dan perdagangan gula. Para pengusaha asing tidak bisa lain selain menjadikan keluarga Suharto sebagai partner-nya, bila mereka hendak ber-bisnis di Indonesia, dan Tutut akan selalu berada di deretan pertama di dalam daftar.
“Banyak perusahaan multinasional besar menginginkan adanya koneksi yang kuat, dan hal ini tentu saja berguna bagi mereka”, kata Graeme Robertson, seorang Australia kelahiran Indonesia, yang perusahaannya, Group Swabara, bergerak di pertambangan emas dan batubara. Pada puncak kekuasaan Tutut, investor yang berkeinginan untuk menemuinya, harus membayar terlebih dahulu uang sebesar $ 50.000 sebagai “jasa konsultasi” kepadanya.
Di awal tahun 1990-an, Indonesia mulai memperhatikan saran bagi dijalankannya ekonomi berorientasi pasar dengan menswastakan perusahaan-perusahaan negara. Keluarga Suharto adalah penerima manfaat terbesar. Suharto meniadakan monopoli negara dalam telekomunikasi di tahun 1993, dengan memberikan lisensi pengoperasian sambungan langsung internasional dan jaringan telpon bergerak digital yang pertama di Indonesia kepada perusahaan Bambang, PT Satelit Palapa Indonesia (Satelindo).
Pada saat yang sama perusahaan negara PT Telkom menyerahkan basis pelanggannya kepada Satelindo, ketika Satelindo meluncurkan satelitnya sendiri, yang ketiga di Indonesia, lewat bantuan hutang sebesar $ 120 juta dari Bank Export-Import Amerika.
Majalah Time telah meneliti bahwa pemerintah telah memberikan lisensi dan basis pelanggan Telkom kepada Satelindo tanpa tender atau pembayaran. Dengan bantuan cuma-cuma pemerintah inilah, Bambang mengontrol perusahaannya, yang menurut harga pasar bernilai $ 2,3 milyar di tahun 1995. Ketika perusahaan Deutsche Telekom Jerman membeli 25% saham Satelindo, mereka membayar sebesar $ 586 juta. Bambang juga menerima saham utama sebesar $ 90 juta sebagai jasa fasilitasi dari Deutsche Telekom sebagai bagian dari penjualan tersebut. — BERSAMBUNG. [www.blogberita.com]
Artikel Suharto Inc. sebelumnya:


25 September 2007 at 8:19 am
Lae Jarar,
Yg akan menarik adalah, bagaimana kalau lae mengangkat tulisan seputar kematian ibu Tien yg terkesan tiba-tiba dan ditutup-tutupi…
JARAR SIAHAAN: aku tidak tega, lae.
25 September 2007 at 1:18 pm
Banyak kali. Itu duit semua ya bang?
25 September 2007 at 3:04 pm
horas lae jarar..
tolonglah cerita sedikit tentang kematian ibu tien..yang terkesan di tutup2i… biar kami sedikit taulah..hehehehehe..
banyak tuh yang minta seoperti itu..ok lae..
kami tunggulah..biar seru…
JARAR SIAHAAN: horas, lae. sebenarnya berita ini sudah sering ditulis dalam bentuk “buku saku” yang dijual di kaki lima. di internet juga banyak beredar kisahnya. tapi aku tidak tega memuat kisah itu di sini.
25 September 2007 at 5:29 pm
aku inget..dulu waktu sma pernah dapat SDSB sekali…tembus 2 nomor ..
60 ribu perak…potong uang terima kasih buat agen 5000 perak… . Teman satu kampung nodong 5 orang…aku kasih 20000, buat beli mi goreng emak ama bapak ku..habis 10000. Terus abangku tau aku dapat SDSB ditagih 10000 ribu beli rokok jie sam su & minum tuak. Modal beli togel 5000 perak.
Sisa buatku cuman Ro 10.000 doank…..
Aku jadi mikir..untungnya sedikit doang dan selanjutnya aku nggak pernah beli SDSB lagi dahhhh….
28 September 2007 at 9:22 pm
bang……..aku punya majalah itu bang……waktu itu kubeli dari agen di Medan harganya Rp 50.000,- padahal gajiku waktu itu Rp 225.000,- saking kepinginnya lah aku membacanya….aku memang anti kali sama tokoh satu ini. Maklumlah…..kami sekampung betul-betul tertindas dengan ulah rejim ini. Listrikpun tak boleh masuk. jalan tak diaspas. Padalah jalan kerumahku hanya 3 km dari jalan kabubaten. maklumlah..waktu itu tak pernah menang golkar di kampungku…Bapakku sampek diisukan PKI, minta SKBB pun aku susah sekali….dipanggil bapakku untuk teken supaya pemilu berikutnya menang golkar.
Ah…memang Suharto ini……….tak tau lagi aku menamakannya..tak ada kata yang cocok lagi
29 November 2007 at 12:15 pm
bagaimana kunci atau rumus untuk dapat memenangkan sdsb dari singapura yang saat ini operasi di dili
29 November 2007 at 12:19 pm
aku dari dili ingin mencari joint untuk segera memenankan penjualan sdsb dari negara singapore pada bulan desember 2007 , tapi gima caranya untuk medapatkannya tolong berikan rumus atau rahasinya ok ku tunggu jawabannya