<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Anak, Menurut Kahlil Gibran dan Budaya Batak</title>
	<atom:link href="http://bataknews.wordpress.com/2007/09/24/anak-menurut-kahlil-gibran-dan-budaya-batak/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bataknews.wordpress.com/2007/09/24/anak-menurut-kahlil-gibran-dan-budaya-batak/</link>
	<description>Artikelku yang lengkap dan liputan video terbaru lihat di www.blogberita.net</description>
	<lastBuildDate>Mon, 04 May 2009 02:36:13 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: Olanto</title>
		<link>http://bataknews.wordpress.com/2007/09/24/anak-menurut-kahlil-gibran-dan-budaya-batak/comment-page-1/#comment-4904</link>
		<dc:creator>Olanto</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 27 Sep 2007 05:30:38 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bataknews.wordpress.com/2007/09/24/anak-menurut-kahlil-gibran-dan-budaya-batak/#comment-4904</guid>
		<description>Parhorasan ma di hita saluhutna,
Sangat menarik tulisan dari lae Nainggolan,  pemikirannya menambah wawasan kita tentang hubungan antara orang tua dan anak khususnya, dan tentu juga akan terkait dengan hubungan kekerabatan yang diatur adat istiadat ( marnatua-tua / marsimatua / marhula-hula dan marhamaranggi ) pada umumnya.
Menurut lae Nainggolan hubungan orang tua dgn anak melalui beberapa fase yaitu : anak, sahabat (dongan) dan sekadar kerabat  (tondong). Apa tidak keliru lae?

karena ompung saya bilang fasenya adalah  anak (masa anak-anak belum dewasa-mungkin s/d usia 12 thn), anggi (masa pemuda/i) dan dongan. (setelah berkeluarga) dan merupakan bentuk komunikasi antara orang tua dengan anak-anaknya; intinya orang tua masih berhak mengatakan pada anaknya &quot;kamu tahu apa&quot; ( gumodang dope sira nahudai sian ho ) pada fase &quot;anak &quot;; sedang pada fase &quot;anggi&quot; orang tua (ortu) menjadi pendengar yang baik untuk memahami anaknya, sedang pada fase &quot;dongan&quot; terjadi dialog / komunikasi yang setara yang saling mengakui keberadaan masing-masing terutama tentunya para ortu. 

Tapi kenyataannya masih banyak ORTU menganggap anaknya masih anaknya yg dulu ( fase anak ), shg sering terjadi ORTU intervensi pada masalah intern keluarga anaknya, bahkan mau mengatur kehidupan anaknya ( tentu tidak semuanya ). Sebaliknya dengan generasi kita sekarang (khususnya keluarga muda) ada faham keluarga inti ( little family nucleu ) yang menyatakan orang tua ( termasuk simatua, tulang, amangtua/uda ) dan para tunggane  ( hula-hula ) dan hahanggi adalah pihak ketiga, atau setidaknya orangtua / mertua adalah inner circle, sedang yang lain adalah outer circle. 

Barangkali karena perbedaan titik pandang ini maka sering terjadi kesalahpahaman diantara suami-isteri karena pihak ortu masih menganggap anaknya itu masih dalam fase &quot;anak&quot; dan pihak anak menganggap ortu seperti yg ditulis ito Desy Hutabarat &quot; natua-tua i Debata na ni ida &quot; (menurut pendapatku ortu harus kita hormati dan dipatuhi, akan tetapi ortu juga manusia yang bisa keliru jadi kita tidak dapat patuh tanpa reserve).

Desy berpendapat bahwa wanita Batak berpikir untuk menikah karena biasanya mereka jadi milik orang lain, ini dapat dipahami karena adat istiadat Batak menganut faham garis keturunan bapak (patrilineal- patriachat), sehingga marga isteri menjadi marga suaminya. Menurut saya ada pemahaman yang keliru mengenai sinamot yang di analogikan menjadi tuhor ni boru ( percakapan sehari-hari disebut manjalo tuhor ni boru), padahal kalau kita ikuti acara marhusip / mangarangrang dan marhata sinamot maka pengertian  dari sinamot itu  (menurut pendapat saya ) adalah partisipasi biaya dari pihak paranak untuk membantu parboru dalam menyelenggarakan acara adat perkawinan itu ( bukan tuhor ni boru ) , buktinya rincian dari hepeng sinamot itu didistribusikan menjadi jambar (suhi ampang na opat, todoan dll) yang nanti dikembalikan lagi pada saat acara adat berupa ulos dan ikan ( dengke ).   
 
Pihak keluarga laki-laki memposisikan keluarga isteri yaitu hula-hula (pemberi / sumber  isteri ) sebagai MATA NI ARI BINSAR (makanya isteri disebut PANIARAN - sumber cahaya/ sinar) yang harus dihormati (somba marhula-hula). Akan tetapi yang saya lihat dalam prakteknya adalah kita tidak konsisten menganggap isteri adalah boru ni raja i (paniaran), karena masih banyak terjadi keluarga dari pihak suami (apalagi mertua) menganggap  isteri dari anaknya atau isteri dari saudaranya adalah ORANG LUAR (jolma na ro ) shg. pihak mertua mempunyai standard ganda dalam menghadapi menantu perempuannya dan anak perempuannya sendiri. (padahal anak perempuannya sudah menjadi marga dari suaminya). Contoh lain kalau seorang anak berhasil / berprestasi sering disebut anak ni amangnya ( siapa dulu dong bapaknya ), tetapi kalau gagal kita katakan ai ise tahe inangna ?  Kita lupa dalam kebersamaannya anak itu lebih lama dengan ibunya, tentu ibunya ada juga kontribusi dalam mendidik anaknya. Songon i ma jolo sahat ni hata sian ahu; hata on hata tambaan Mauliate godang  Horas ma.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Parhorasan ma di hita saluhutna,<br />
Sangat menarik tulisan dari lae Nainggolan,  pemikirannya menambah wawasan kita tentang hubungan antara orang tua dan anak khususnya, dan tentu juga akan terkait dengan hubungan kekerabatan yang diatur adat istiadat ( marnatua-tua / marsimatua / marhula-hula dan marhamaranggi ) pada umumnya.<br />
Menurut lae Nainggolan hubungan orang tua dgn anak melalui beberapa fase yaitu : anak, sahabat (dongan) dan sekadar kerabat  (tondong). Apa tidak keliru lae?</p>
<p>karena ompung saya bilang fasenya adalah  anak (masa anak-anak belum dewasa-mungkin s/d usia 12 thn), anggi (masa pemuda/i) dan dongan. (setelah berkeluarga) dan merupakan bentuk komunikasi antara orang tua dengan anak-anaknya; intinya orang tua masih berhak mengatakan pada anaknya &#8220;kamu tahu apa&#8221; ( gumodang dope sira nahudai sian ho ) pada fase &#8220;anak &#8220;; sedang pada fase &#8220;anggi&#8221; orang tua (ortu) menjadi pendengar yang baik untuk memahami anaknya, sedang pada fase &#8220;dongan&#8221; terjadi dialog / komunikasi yang setara yang saling mengakui keberadaan masing-masing terutama tentunya para ortu. </p>
<p>Tapi kenyataannya masih banyak ORTU menganggap anaknya masih anaknya yg dulu ( fase anak ), shg sering terjadi ORTU intervensi pada masalah intern keluarga anaknya, bahkan mau mengatur kehidupan anaknya ( tentu tidak semuanya ). Sebaliknya dengan generasi kita sekarang (khususnya keluarga muda) ada faham keluarga inti ( little family nucleu ) yang menyatakan orang tua ( termasuk simatua, tulang, amangtua/uda ) dan para tunggane  ( hula-hula ) dan hahanggi adalah pihak ketiga, atau setidaknya orangtua / mertua adalah inner circle, sedang yang lain adalah outer circle. </p>
<p>Barangkali karena perbedaan titik pandang ini maka sering terjadi kesalahpahaman diantara suami-isteri karena pihak ortu masih menganggap anaknya itu masih dalam fase &#8220;anak&#8221; dan pihak anak menganggap ortu seperti yg ditulis ito Desy Hutabarat &#8221; natua-tua i Debata na ni ida &#8221; (menurut pendapatku ortu harus kita hormati dan dipatuhi, akan tetapi ortu juga manusia yang bisa keliru jadi kita tidak dapat patuh tanpa reserve).</p>
<p>Desy berpendapat bahwa wanita Batak berpikir untuk menikah karena biasanya mereka jadi milik orang lain, ini dapat dipahami karena adat istiadat Batak menganut faham garis keturunan bapak (patrilineal- patriachat), sehingga marga isteri menjadi marga suaminya. Menurut saya ada pemahaman yang keliru mengenai sinamot yang di analogikan menjadi tuhor ni boru ( percakapan sehari-hari disebut manjalo tuhor ni boru), padahal kalau kita ikuti acara marhusip / mangarangrang dan marhata sinamot maka pengertian  dari sinamot itu  (menurut pendapat saya ) adalah partisipasi biaya dari pihak paranak untuk membantu parboru dalam menyelenggarakan acara adat perkawinan itu ( bukan tuhor ni boru ) , buktinya rincian dari hepeng sinamot itu didistribusikan menjadi jambar (suhi ampang na opat, todoan dll) yang nanti dikembalikan lagi pada saat acara adat berupa ulos dan ikan ( dengke ).   </p>
<p>Pihak keluarga laki-laki memposisikan keluarga isteri yaitu hula-hula (pemberi / sumber  isteri ) sebagai MATA NI ARI BINSAR (makanya isteri disebut PANIARAN &#8211; sumber cahaya/ sinar) yang harus dihormati (somba marhula-hula). Akan tetapi yang saya lihat dalam prakteknya adalah kita tidak konsisten menganggap isteri adalah boru ni raja i (paniaran), karena masih banyak terjadi keluarga dari pihak suami (apalagi mertua) menganggap  isteri dari anaknya atau isteri dari saudaranya adalah ORANG LUAR (jolma na ro ) shg. pihak mertua mempunyai standard ganda dalam menghadapi menantu perempuannya dan anak perempuannya sendiri. (padahal anak perempuannya sudah menjadi marga dari suaminya). Contoh lain kalau seorang anak berhasil / berprestasi sering disebut anak ni amangnya ( siapa dulu dong bapaknya ), tetapi kalau gagal kita katakan ai ise tahe inangna ?  Kita lupa dalam kebersamaannya anak itu lebih lama dengan ibunya, tentu ibunya ada juga kontribusi dalam mendidik anaknya. Songon i ma jolo sahat ni hata sian ahu; hata on hata tambaan Mauliate godang  Horas ma.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: tonggo</title>
		<link>http://bataknews.wordpress.com/2007/09/24/anak-menurut-kahlil-gibran-dan-budaya-batak/comment-page-1/#comment-4713</link>
		<dc:creator>tonggo</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 25 Sep 2007 07:32:18 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bataknews.wordpress.com/2007/09/24/anak-menurut-kahlil-gibran-dan-budaya-batak/#comment-4713</guid>
		<description>&quot;Anak adalah titipan Tuhan. Jagalah!&quot;
Entahlah, pas atau tidak kalimatnya, pokoknya begitulah ukuran baik beberapa ajaran yang sering kita dengar, baik agama, ajaran moral (manapun), atau seperti filosofi yang sudah dijelaskan bang Toga Nainggolan dengan -- ibarat alunan musik -- syahdu (pas enggak yang kubilang itu?) Aku setuju dengan ide itu. Tapi, baguslah jika kita simak komentar lae kita: H Ht. Haean di atas. Masih dalam lingkup budaya. Katanya, secara teori sih bagus budaya Batak tentang filosofi hubungan anak dan orang tua. Masalahnya, mengapa masih ada  orang tua yang suka mengekang anaknya? Apalagi soal jodoh! 

Aku bilang, masih banyak orang Batak belum sampai pada pemahaman itu. Sebab masih dikekang oleh banyak faktor (termasuk adat-istiadat) yang sifatnya materialistis! Bagaimana mungkin seorang ibu tidak mengatakan bahwa anak yang dilahirkannya bukanlah anaknya. Apalagi anaknya seperti Desy, lulusan IPB, cantik, humoris, paradat, wanita karir lagi. Di adat Batak, pasti sinamotnya akan mahal. 

Ini masih berandai-andai, jika saya adalah ibu Desy, apakah akan dengan mudahnya saya katakan Desy tidaklah anakku? Dalam tradisi Batak, NEHI, kata orang India. Bahasa Bataknya, “Tusadai maho. Ngapala loja au pasikkolahon gellengki. Dokkononku ndang anakku i. Lak gabe soadong be sinamot ni? Bah! Aha namasa di portibi on nuaeng!” 

Lho. Tapi Gibran bilang, anakku bukan anakku? Na massam mana do nantulang? Ini masih kontradiktif. Jika anakku bukan anakku, maka ia anak siapa? Gibran bilang, “Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri. Mereka terlahir melalui engkau, tapi bukan darimu.” Tapi apakah justru karena “kerinduan akan dirinya” itu maka lahirlah kegilaan seperti yang dikisahkan Eka Kurniawan di cepernnya &quot;Penafsir Kebahagiaan&quot; (Kompas Minggu, 17/09/07)? Entahlah. Apakah Gibran sudah benar? 

Di sana digambarkan hubungan ayah dan anak yang agak gila. Surealis! Ampun. Yang gila adalah, apakah maksud Eka dengan kisahnya yang menggambarkan bagaimana seorang anak yang tidak lagi “mengenal” ayahnya. Dan seorang anak yang tidak lagi “mengenal” anaknya. Sehingga pada waktu yang berlainan dan tidak mengetahui satu sama lain, tidur dengan wanita yang sama. Gila! Mengapa bisa? “Kerinduan akan diri” yang kebablasan. 

Apakah definisi “anakku bukanlah anakku” begitu dalamnya sehingga dengan mudahnya orangtua melepasakan anaknya, seperti yang sudah menjadi budaya di Barat? Di sisi lain ada baiknya. Tapi, cerpen Eka? Sudahlah.

Soal ini, aku hanya punya prinsip. Jika ditanya siapa saudaraku (karena saya belum punya anak), maka saya akan jawab, saudarakau adalah orang-orang yang mengasihi aku sebagaimana aku memberi cinta pada mereka. Jadi, seadainya Anda adalah kakak (abang kandung) saya, tapi tidak pernah menganggap saya sebagai adik (tanpa kasih sayang), maka Anda adalah bukan abang saya. Begitu juga hubungan antara orangtua dan anak. Adilkan? KASIH itu memang harus ADIL.

&lt;strong&gt;BATAK NEWS:&lt;/strong&gt; seperti komentarmu, aku pun cenderung berpikir bahwa salah satu faktor &quot;penghambat&quot; pernikahan di kalangan batak selama ini adalah masalah uang sinamot.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Anak adalah titipan Tuhan. Jagalah!&#8221;<br />
Entahlah, pas atau tidak kalimatnya, pokoknya begitulah ukuran baik beberapa ajaran yang sering kita dengar, baik agama, ajaran moral (manapun), atau seperti filosofi yang sudah dijelaskan bang Toga Nainggolan dengan &#8212; ibarat alunan musik &#8212; syahdu (pas enggak yang kubilang itu?) Aku setuju dengan ide itu. Tapi, baguslah jika kita simak komentar lae kita: H Ht. Haean di atas. Masih dalam lingkup budaya. Katanya, secara teori sih bagus budaya Batak tentang filosofi hubungan anak dan orang tua. Masalahnya, mengapa masih ada  orang tua yang suka mengekang anaknya? Apalagi soal jodoh! </p>
<p>Aku bilang, masih banyak orang Batak belum sampai pada pemahaman itu. Sebab masih dikekang oleh banyak faktor (termasuk adat-istiadat) yang sifatnya materialistis! Bagaimana mungkin seorang ibu tidak mengatakan bahwa anak yang dilahirkannya bukanlah anaknya. Apalagi anaknya seperti Desy, lulusan IPB, cantik, humoris, paradat, wanita karir lagi. Di adat Batak, pasti sinamotnya akan mahal. </p>
<p>Ini masih berandai-andai, jika saya adalah ibu Desy, apakah akan dengan mudahnya saya katakan Desy tidaklah anakku? Dalam tradisi Batak, NEHI, kata orang India. Bahasa Bataknya, “Tusadai maho. Ngapala loja au pasikkolahon gellengki. Dokkononku ndang anakku i. Lak gabe soadong be sinamot ni? Bah! Aha namasa di portibi on nuaeng!” </p>
<p>Lho. Tapi Gibran bilang, anakku bukan anakku? Na massam mana do nantulang? Ini masih kontradiktif. Jika anakku bukan anakku, maka ia anak siapa? Gibran bilang, “Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri. Mereka terlahir melalui engkau, tapi bukan darimu.” Tapi apakah justru karena “kerinduan akan dirinya” itu maka lahirlah kegilaan seperti yang dikisahkan Eka Kurniawan di cepernnya &#8220;Penafsir Kebahagiaan&#8221; (Kompas Minggu, 17/09/07)? Entahlah. Apakah Gibran sudah benar? </p>
<p>Di sana digambarkan hubungan ayah dan anak yang agak gila. Surealis! Ampun. Yang gila adalah, apakah maksud Eka dengan kisahnya yang menggambarkan bagaimana seorang anak yang tidak lagi “mengenal” ayahnya. Dan seorang anak yang tidak lagi “mengenal” anaknya. Sehingga pada waktu yang berlainan dan tidak mengetahui satu sama lain, tidur dengan wanita yang sama. Gila! Mengapa bisa? “Kerinduan akan diri” yang kebablasan. </p>
<p>Apakah definisi “anakku bukanlah anakku” begitu dalamnya sehingga dengan mudahnya orangtua melepasakan anaknya, seperti yang sudah menjadi budaya di Barat? Di sisi lain ada baiknya. Tapi, cerpen Eka? Sudahlah.</p>
<p>Soal ini, aku hanya punya prinsip. Jika ditanya siapa saudaraku (karena saya belum punya anak), maka saya akan jawab, saudarakau adalah orang-orang yang mengasihi aku sebagaimana aku memberi cinta pada mereka. Jadi, seadainya Anda adalah kakak (abang kandung) saya, tapi tidak pernah menganggap saya sebagai adik (tanpa kasih sayang), maka Anda adalah bukan abang saya. Begitu juga hubungan antara orangtua dan anak. Adilkan? KASIH itu memang harus ADIL.</p>
<p><strong>BATAK NEWS:</strong> seperti komentarmu, aku pun cenderung berpikir bahwa salah satu faktor &#8220;penghambat&#8221; pernikahan di kalangan batak selama ini adalah masalah uang sinamot.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: SMN</title>
		<link>http://bataknews.wordpress.com/2007/09/24/anak-menurut-kahlil-gibran-dan-budaya-batak/comment-page-1/#comment-4676</link>
		<dc:creator>SMN</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 Sep 2007 17:14:20 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bataknews.wordpress.com/2007/09/24/anak-menurut-kahlil-gibran-dan-budaya-batak/#comment-4676</guid>
		<description>Memang terkadang masih ada banyak orangtua yg memaksakan kehendaknya ke si anak. Gara-gara gak lulus si Bapak masuk tentara, anaknya di doktrin supaya jadi tentara. Gak kesampaian bapaknya dulu masuk sekolah Hukum, anaknya diojog-ojog masuk sekolah hukum. hehehehe. Kadang karena tak enak hati diikuti juga kemauan orangtua, karena tak sampai hati membuat kecewa, akhirnya si anak sendiri yg dilema, padahal tidak suka akhirnya ditahankan.

Cuma itu mungkin dulu, jaman sekarang orangtua lebih banyak yg terbuka pemikirannya. Banyak jg yg menyadari, apa yg dia kehendaki tidak selalu dapat dipaksakan kpd sang anak. Mudah2an begitu, tidak menjadikan sang bapak Diktator di rumah. :) :D</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Memang terkadang masih ada banyak orangtua yg memaksakan kehendaknya ke si anak. Gara-gara gak lulus si Bapak masuk tentara, anaknya di doktrin supaya jadi tentara. Gak kesampaian bapaknya dulu masuk sekolah Hukum, anaknya diojog-ojog masuk sekolah hukum. hehehehe. Kadang karena tak enak hati diikuti juga kemauan orangtua, karena tak sampai hati membuat kecewa, akhirnya si anak sendiri yg dilema, padahal tidak suka akhirnya ditahankan.</p>
<p>Cuma itu mungkin dulu, jaman sekarang orangtua lebih banyak yg terbuka pemikirannya. Banyak jg yg menyadari, apa yg dia kehendaki tidak selalu dapat dipaksakan kpd sang anak. Mudah2an begitu, tidak menjadikan sang bapak Diktator di rumah. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: dorsia</title>
		<link>http://bataknews.wordpress.com/2007/09/24/anak-menurut-kahlil-gibran-dan-budaya-batak/comment-page-1/#comment-4662</link>
		<dc:creator>dorsia</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 Sep 2007 10:14:36 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bataknews.wordpress.com/2007/09/24/anak-menurut-kahlil-gibran-dan-budaya-batak/#comment-4662</guid>
		<description>oh,yah?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>oh,yah?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Desy Hutabarat</title>
		<link>http://bataknews.wordpress.com/2007/09/24/anak-menurut-kahlil-gibran-dan-budaya-batak/comment-page-1/#comment-4647</link>
		<dc:creator>Desy Hutabarat</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 Sep 2007 04:28:22 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bataknews.wordpress.com/2007/09/24/anak-menurut-kahlil-gibran-dan-budaya-batak/#comment-4647</guid>
		<description>Banyak sekali orang tua yang sulit mengamalkan kata-kata Kahlil Gibran dalam kehidupan dan pola didik mereka terhadap anak.
dan anak-anak banyak yang menanggapi dengan berbagai reaksi, marah, menerima saja, berontak dan sebagainya.
Bapakku, termasuk orang yang &quot;sulit&quot; mengamalkan kata-kata itu dalam pola didiknya terhadap kamu, dan aku sangat bisa maklumi itu, sebagai rasa sayangnya yang besar sekali terhadap kami, karena aku tidak punya abang, jadi bapakku berfungsi sebagai bapak dan abang yang harus bisa melindungi anak-anaknya, apalagi anak perempuannya.

Tapi, sepertinya belakangan ini, pola fikir bapakku, sudah mulai mengalami &quot;pencerahan&quot;, dia sudah menyebutku &quot;boru hasian&quot;
Aku orang yang menganut, natua-tua i Debata na ni ida (orang tua itu, Tuhan yang bisa kita lihat)
Nah, perubahan dari sahabat menjadi kerabat itu, yang membuat orang Batak (terutama perempuan), yang berfikir menikah, karena biasanya mereka nanti akan menjadi milik orang lain.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak sekali orang tua yang sulit mengamalkan kata-kata Kahlil Gibran dalam kehidupan dan pola didik mereka terhadap anak.<br />
dan anak-anak banyak yang menanggapi dengan berbagai reaksi, marah, menerima saja, berontak dan sebagainya.<br />
Bapakku, termasuk orang yang &#8220;sulit&#8221; mengamalkan kata-kata itu dalam pola didiknya terhadap kamu, dan aku sangat bisa maklumi itu, sebagai rasa sayangnya yang besar sekali terhadap kami, karena aku tidak punya abang, jadi bapakku berfungsi sebagai bapak dan abang yang harus bisa melindungi anak-anaknya, apalagi anak perempuannya.</p>
<p>Tapi, sepertinya belakangan ini, pola fikir bapakku, sudah mulai mengalami &#8220;pencerahan&#8221;, dia sudah menyebutku &#8220;boru hasian&#8221;<br />
Aku orang yang menganut, natua-tua i Debata na ni ida (orang tua itu, Tuhan yang bisa kita lihat)<br />
Nah, perubahan dari sahabat menjadi kerabat itu, yang membuat orang Batak (terutama perempuan), yang berfikir menikah, karena biasanya mereka nanti akan menjadi milik orang lain.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: jonggara</title>
		<link>http://bataknews.wordpress.com/2007/09/24/anak-menurut-kahlil-gibran-dan-budaya-batak/comment-page-1/#comment-4644</link>
		<dc:creator>jonggara</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 Sep 2007 03:45:53 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bataknews.wordpress.com/2007/09/24/anak-menurut-kahlil-gibran-dan-budaya-batak/#comment-4644</guid>
		<description>entahlah. tapi ada yg baru di tampilan blog ini. 
sejak kapan ya.. 
siapa fotografernya?
bagus bah!!!

&lt;strong&gt;BATAK NEWS:&lt;/strong&gt; ah, kau itu. :) tak seberapalah jepretan kamera sakuku itu dibanding nikon d40-mu. eh, teringatnya kamera slr, sudah lama sekali aku tak megang kamera montok kayak punyamu. sedikitnya sudah empat tahun, sejak nikon fm2 kujual dulu untuk biaya persalinan gibran. sekarang aku cuma pakai kamera poket ke mana-mana. hiks, :( jadi kangen slr. soal foto banner itu, kuambil sekitar dua tahun lalu, gambar oppung penjual ulos di pasar balige. kalau tak salah pernah kukirim ke metro tapanuli atau harian global.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>entahlah. tapi ada yg baru di tampilan blog ini.<br />
sejak kapan ya..<br />
siapa fotografernya?<br />
bagus bah!!!</p>
<p><strong>BATAK NEWS:</strong> ah, kau itu. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  tak seberapalah jepretan kamera sakuku itu dibanding nikon d40-mu. eh, teringatnya kamera slr, sudah lama sekali aku tak megang kamera montok kayak punyamu. sedikitnya sudah empat tahun, sejak nikon fm2 kujual dulu untuk biaya persalinan gibran. sekarang aku cuma pakai kamera poket ke mana-mana. hiks, <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' />  jadi kangen slr. soal foto banner itu, kuambil sekitar dua tahun lalu, gambar oppung penjual ulos di pasar balige. kalau tak salah pernah kukirim ke metro tapanuli atau harian global.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: H Ht.haean</title>
		<link>http://bataknews.wordpress.com/2007/09/24/anak-menurut-kahlil-gibran-dan-budaya-batak/comment-page-1/#comment-4639</link>
		<dc:creator>H Ht.haean</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 Sep 2007 02:24:57 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bataknews.wordpress.com/2007/09/24/anak-menurut-kahlil-gibran-dan-budaya-batak/#comment-4639</guid>
		<description>Secara teori sih bagus memang budaya Batak mengajarkan falsafah tentang hubungan anak dan orang tua. Masalahnya adalah, dalam prakteknya justru banyak orang tua yang mengekang anaknya, bahkan hingga anaknya sudah dewasa. Misalnya banyak orang tua Batak yang memaksakan/ menjodoh-jodohkan anaknya. Bukan rahasisa umum lagi, orang tua sering meminta anaknya menikah dengan sesama orang Batak, bahkan ditentukan marga/boru apa (katanya paling cocok sama &quot;pariban&quot;).</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Secara teori sih bagus memang budaya Batak mengajarkan falsafah tentang hubungan anak dan orang tua. Masalahnya adalah, dalam prakteknya justru banyak orang tua yang mengekang anaknya, bahkan hingga anaknya sudah dewasa. Misalnya banyak orang tua Batak yang memaksakan/ menjodoh-jodohkan anaknya. Bukan rahasisa umum lagi, orang tua sering meminta anaknya menikah dengan sesama orang Batak, bahkan ditentukan marga/boru apa (katanya paling cocok sama &#8220;pariban&#8221;).</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: suhunan situmorang</title>
		<link>http://bataknews.wordpress.com/2007/09/24/anak-menurut-kahlil-gibran-dan-budaya-batak/comment-page-1/#comment-4638</link>
		<dc:creator>suhunan situmorang</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 Sep 2007 02:08:52 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bataknews.wordpress.com/2007/09/24/anak-menurut-kahlil-gibran-dan-budaya-batak/#comment-4638</guid>
		<description>Bukan karena kedudukan si penulis artikel ini sangat istimewa bagiku--seperti halnya Nainggolan lain--karena dua kali &quot;hula-hula&quot;. Tapi sejak &#039;kenal&#039;, pikiran dan untaian kata-katanya sudah membuatku terpesona, salah satunya ini: 

&quot;Tetapi kesedihan itu anggaplah seperti burung; ia boleh sesekali hinggap di kepala kita, tetapi jangan biarkan sampai membuat sarang dan beranakpinak di sana.&quot;

Sekarang giliranku yang bertanya: dari mana dan pada siapakah dulu lae Toga belajar menulis?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bukan karena kedudukan si penulis artikel ini sangat istimewa bagiku&#8211;seperti halnya Nainggolan lain&#8211;karena dua kali &#8220;hula-hula&#8221;. Tapi sejak &#8216;kenal&#8217;, pikiran dan untaian kata-katanya sudah membuatku terpesona, salah satunya ini: </p>
<p>&#8220;Tetapi kesedihan itu anggaplah seperti burung; ia boleh sesekali hinggap di kepala kita, tetapi jangan biarkan sampai membuat sarang dan beranakpinak di sana.&#8221;</p>
<p>Sekarang giliranku yang bertanya: dari mana dan pada siapakah dulu lae Toga belajar menulis?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Farida Simanjuntak</title>
		<link>http://bataknews.wordpress.com/2007/09/24/anak-menurut-kahlil-gibran-dan-budaya-batak/comment-page-1/#comment-4636</link>
		<dc:creator>Farida Simanjuntak</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 23 Sep 2007 23:49:58 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bataknews.wordpress.com/2007/09/24/anak-menurut-kahlil-gibran-dan-budaya-batak/#comment-4636</guid>
		<description>Panggilan kesayangan Bapak untuk untuk aku dan kakakku adalah Inang atau Ito, kalau mama biasa panggil Boru. Untuk adek-adekku laki-laki panggilan Amang atau Ito. Aku sangat senang dengan semua panggilan sayang itu, daripada mereka memanggil namaku. Karena dengan sebutan itu, aku tahu betapa besar kasih sayang mama dan bapak. Mereka juga selalu bilang, dang adong hamoraan na umarga di hami dibanding hamu angka gellenghu (Tidak ada harta paling berharga selain anak-anakku). Makanya saat adikku meninggal mama dan bapak seperti kehilangan seluruh semangat hidupnya. Mereka selalu bilang, tak ada hal yang lebih menyakitkan dibanding saat mereka menyadari bahwa satu anaknya sudah &quot;pergi&quot;. 

Makanya, walau sudah dewasa tapi kalau salah satu dari kami sakit, bapak selalu memeluk kami. Tak peduli, orang sering bilang, &quot;tokka, anak boru dihaol among na&quot; (Pamali/tak baik anak gadis dipeluk bapaknya). Tapi bapak melakukan hal itu, karena sampai sekarang dia trauma dan paling takut anaknya sakit. Menurutnya, itu seperti sebuah kegagalan, dia tidak berhasil menyelamatkan jiwa adikku.  Aku jadi semakin merindukan mereka, apalagi saat ini mama sudah mulai gencar menyuruh salah satu borunya Muli (menikah). Hal yang belum bisa kulakukan untuk kedua orang tuaku karena aku takut tidak akan bisa 100% lagi jadi boru mereka... 
Aku sadar ini kedengaran egois dan tak masuk akal, tapi saat seorang anak perempuan batak menikah, berarti sebagian besar hidupnya sudah milik keluarga suaminya... Jadi ingat lagu batak, &quot;Anakhon ki Do Hamoraon Di Au&quot; (Anakku adalah kekayaanku)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Panggilan kesayangan Bapak untuk untuk aku dan kakakku adalah Inang atau Ito, kalau mama biasa panggil Boru. Untuk adek-adekku laki-laki panggilan Amang atau Ito. Aku sangat senang dengan semua panggilan sayang itu, daripada mereka memanggil namaku. Karena dengan sebutan itu, aku tahu betapa besar kasih sayang mama dan bapak. Mereka juga selalu bilang, dang adong hamoraan na umarga di hami dibanding hamu angka gellenghu (Tidak ada harta paling berharga selain anak-anakku). Makanya saat adikku meninggal mama dan bapak seperti kehilangan seluruh semangat hidupnya. Mereka selalu bilang, tak ada hal yang lebih menyakitkan dibanding saat mereka menyadari bahwa satu anaknya sudah &#8220;pergi&#8221;. </p>
<p>Makanya, walau sudah dewasa tapi kalau salah satu dari kami sakit, bapak selalu memeluk kami. Tak peduli, orang sering bilang, &#8220;tokka, anak boru dihaol among na&#8221; (Pamali/tak baik anak gadis dipeluk bapaknya). Tapi bapak melakukan hal itu, karena sampai sekarang dia trauma dan paling takut anaknya sakit. Menurutnya, itu seperti sebuah kegagalan, dia tidak berhasil menyelamatkan jiwa adikku.  Aku jadi semakin merindukan mereka, apalagi saat ini mama sudah mulai gencar menyuruh salah satu borunya Muli (menikah). Hal yang belum bisa kulakukan untuk kedua orang tuaku karena aku takut tidak akan bisa 100% lagi jadi boru mereka&#8230;<br />
Aku sadar ini kedengaran egois dan tak masuk akal, tapi saat seorang anak perempuan batak menikah, berarti sebagian besar hidupnya sudah milik keluarga suaminya&#8230; Jadi ingat lagu batak, &#8220;Anakhon ki Do Hamoraon Di Au&#8221; (Anakku adalah kekayaanku)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Yeni Setiawan</title>
		<link>http://bataknews.wordpress.com/2007/09/24/anak-menurut-kahlil-gibran-dan-budaya-batak/comment-page-1/#comment-4633</link>
		<dc:creator>Yeni Setiawan</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 23 Sep 2007 19:57:36 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bataknews.wordpress.com/2007/09/24/anak-menurut-kahlil-gibran-dan-budaya-batak/#comment-4633</guid>
		<description>Saya baru tahu tentang hal ini, luar biasa. 
Benar-benar menghargai satu sama lain, sekalipun anak sendiri namun tidak ada pemaksaan kehendak oleh orang tua.

Sebagai orang jawa (tanpa bermaksud rasis), hal ini merupakan sesuatu yang cukup berbeda dengan yang saya terima. Well, mungkin saya harus keliling dunia, mencari saripati ajaran2 yang mulia..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya baru tahu tentang hal ini, luar biasa.<br />
Benar-benar menghargai satu sama lain, sekalipun anak sendiri namun tidak ada pemaksaan kehendak oleh orang tua.</p>
<p>Sebagai orang jawa (tanpa bermaksud rasis), hal ini merupakan sesuatu yang cukup berbeda dengan yang saya terima. Well, mungkin saya harus keliling dunia, mencari saripati ajaran2 yang mulia..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
