Toba Samosir Tapanuli

Jarar Siahaan Penulis Berita Batak

Anak, Menurut Kahlil Gibran dan Budaya Batak

10 Komentar

[toga nainggolan; batak news; jangan suka-sukamu pada anakmu]

Anak jadi sahabat, lalu cuma kerabat.

Toga NainggolanArtikel yang dikirim ke imelku, bataknews [at] gmail [dot] com, ini ditulis oleh Toga Nainggolan dari Medan. Toga adalah seorang Batak muslim, anak seorang datu alias “dukun” alias orang pintar [tidak pakai tanda kutip]. Ia cukup ngotot membela budaya Batak — bahkan agama sekalipun akan dilawannya bila hendak dijadikan alasan mengobok-obok budaya Batak.

Catatan: datu atau dukun di sini bukan seperti paranormal yang bisa kita lihat di iklan-iklan koran kuning maupun tayangan tivi. Pada era orang Batak zaman dulu, datu adalah orang-orang yang memiliki keahlian khusus, ilmu, kelebihan, dan kebijaksanaan yang diakui oleh masyarakat, sehingga datu diberi peran dan posisi terhormat dalam struktur sosial. Tapi di era Deddy Corbuzier ini kata datu telah tercitrakan sedemikian negatif.

Jadi, bapaknya laeku Toga adalah benar-benar orang pintar — kata orang pintar di sini tidak memakai tanda kutip, sebab kalau dibuat tanda kutip akan bermakna paranormal; sementara datu yang dimaksud adalah benar-benar orang yang pintar.

MEMBACA CERITA ZIARAH Gibran ke makam abangnya, hatiku seperti teriris. Tetapi kesedihan itu anggaplah seperti burung; ia boleh sesekali hinggap di kepala kita, tetapi jangan biarkan sampai membuat sarang dan beranakpinak di sana.

Jadi, ada baiknya hati yang mengharu biru ini, kita hibur dengan oleh-oleh falsafah Batak tentang anak, yang kudapat dari perbincangan beberapa tahun lalu, dengan dua orang Datu, yang salah satunya adalah orang tuaku sendiri, dan seorang bermarga Sintinjak di Humbahas. Keduanya kini sudah almarhum.

Banyak orang merujuk kepada Sang Nabi-nya Kahlil Gibran saat bicara tentang anak. Ungkapannya itu memang sungguh sekelas sabda Nabi, bahkan mungkin seperkasa ayat suci.

“Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu. Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri. Mereka terlahir melalui engkau, tapi bukan darimu. Meskipun mereka ada bersamamu, tapi mereka bukan milikmu. Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan pikiranmu karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri. Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh, bukan jiwa mereka. Karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok, yang tak pernah dapat engkau kunjungi meskipun dalam mimpi.” (Kahlil Gibran).

Tapi, tanpa pernah terangkum gempita sejarah, luput dari goresan pena para sastrawan, di Tanah Batak juga sudah ada falsafah yang tak kalah bijak bestarinya. Malah [maaf, ini mungkin terdengar seperti fanatik dan primordial], menurutku sedikit agak lebih rinci dan lengkap.

Dalam falsafah Batak, anak hanya bisa diperlakukan sebagai anak sejak dalam kandungan sampai beranjak remaja. Itulah saja waktu kita untuk “mengajari dan mendidik” mereka tentang yang baik dan yang buruk. Bisa disuruh atau agak “dimarahi” sesekali. Pokoknya, bagaimana layaknya anak diperlakukan orang tuanya. Setelah beranjak remaja, dia bukan lagi anak, tetapi sudah menjadi sahabat. Tak lagi bisa disuruh beli rokok, walau masih memungkinkan untuk dimintai tolong beli rokok.

Aku jadi ingat, saat mulai remaja, Bapak selalu menyapaku dengan kata-kata, Kedan atau Anggia. Keduanya merupakan panggilan persahabatan, yang padanan dalam bahasa Indonesianya, kira-kira “Sobat” dan “Adik Kecil”. Kalau si anak, eh, si sobat itu menolak, “orang tua” tadi tak boleh marah. Namanya minta tolong sama sahabat, ya dibujuk dong, atau diiming-imingi, “Nanti kembaliannya kau belikan permenlah. Tapi jangan rokok ya, Coi”.

Dalam mendidik pun, tak lagi laku komunikasi satu arah, tetapi sudah harus dalam bentuk diskusi. Alhamdulillah, Puji Tuhan, Bapak memang sungguh mempraktekkan filosofi itu kepada kami anak-anaknya. Dia mungkin sedang ingin menyemai nilai-nilai baik kepada kami, tetapi itu dilakukannya melalui dialog, bukan fatwa atau doktrinasi.

Nah, yang paling membuat aku kagum, dalam falsafah Batak, posisi sebagai seorang sahabat itu pun tidak berlangsung lama. Begitu si “anak” menikah, mangoli untuk anak lelaki, dan muli untuk anak perempuan, mereka sudah menjadi “sekadar” kerabat. Itulah mengapa prosesi pernikahan dalam adat Batak mendapat keistimewaan, sama dengan prosesi kematian. Keduanya merupakan perpindahan posisi yang sangat penting.

Bayangkan, dari seorang sahabat menjadi sekadar kerabat. Namanya kerabat, orang tua tadi tak lagi boleh ikut campur apa yang terjadi di rumah tangga anak, eh, kerabatnya itu; kecuali dimintai campur tangan oleh kedua belah pihak. Jelas tak salah dong, membantu urusan rumah tangga kerabat, sekali lagi, kalau atas permintaan atau izin mereka.

Falsafah tentang anak tadi, kelihatannya sederhana, tetapi sesungguhnya merupakan jawaban aktual atas problematika hubungan anak-orang tua hingga saat ini. Kita melihat, bagaimana orang tua memperlakukan anaknya yang sudah beranjak remaja persis seperti balita, menjejalkan ajaran tentang “kebaikan” dengan cara monolog, bahkan pakai acara marah-marah segala. Belum lagi cerita Simatua (mertua) yang selalu ikut campur urusan keluarga menantunya. Andai mereka mau memungut mutiara yang tercecer dari keluhuran nilai-nilai Batak itu, kekacauan-kekacauan itu mungkin bisa dicegah, atau paling tidak dikurangi.

Sekadar catatan tambahan, filosofi ini hanya ditujukan buat para orang tua. Adat Batak memerintahkan seorang anak memperlakukan kedua orangtuanya sebagai Debata Hasurungan, atau “Tuhan Eksklusif” sepanjang hayat kita dan mereka.

Mudah-mudahan ada manfaatnya. Horas Ma di Hita Saluhutna. [http://www.blogberita.com]

Artikel Toga Nainggolan sebelumnya:

Tulisanku di blog Toga:

Artikel terkait:

Silakan bila ingin mengutip artikel dari blog ini, dengan syarat menyebut sumber. Bila dikutip untuk website, blog, atau milis, maka tuliskanlah sumbernya http://www.blogberita.com dan buatkan link ke artikel bersangkutan. Bila dikutip untuk koran, majalah, bulletin, radio, televisi, dll, maka tulislah/ sebutkanlah sumber kutipannya; http://www.blogberita.com.

About these ads

Penulis: Batak Toba

Demi Yesus, aku percaya Muhammad utusan Allah • Ikuti Twitter @ja_rar • Baca konten khas dan bernas di www.khas.co • Tahu nggak, menonton siaran Piala Dunia itu dosa loh menurut agama Islam. Baca di http://benar.org/do-sa

10 gagasan untuk “Anak, Menurut Kahlil Gibran dan Budaya Batak

  1. Saya baru tahu tentang hal ini, luar biasa.
    Benar-benar menghargai satu sama lain, sekalipun anak sendiri namun tidak ada pemaksaan kehendak oleh orang tua.

    Sebagai orang jawa (tanpa bermaksud rasis), hal ini merupakan sesuatu yang cukup berbeda dengan yang saya terima. Well, mungkin saya harus keliling dunia, mencari saripati ajaran2 yang mulia..

  2. Panggilan kesayangan Bapak untuk untuk aku dan kakakku adalah Inang atau Ito, kalau mama biasa panggil Boru. Untuk adek-adekku laki-laki panggilan Amang atau Ito. Aku sangat senang dengan semua panggilan sayang itu, daripada mereka memanggil namaku. Karena dengan sebutan itu, aku tahu betapa besar kasih sayang mama dan bapak. Mereka juga selalu bilang, dang adong hamoraan na umarga di hami dibanding hamu angka gellenghu (Tidak ada harta paling berharga selain anak-anakku). Makanya saat adikku meninggal mama dan bapak seperti kehilangan seluruh semangat hidupnya. Mereka selalu bilang, tak ada hal yang lebih menyakitkan dibanding saat mereka menyadari bahwa satu anaknya sudah “pergi”.

    Makanya, walau sudah dewasa tapi kalau salah satu dari kami sakit, bapak selalu memeluk kami. Tak peduli, orang sering bilang, “tokka, anak boru dihaol among na” (Pamali/tak baik anak gadis dipeluk bapaknya). Tapi bapak melakukan hal itu, karena sampai sekarang dia trauma dan paling takut anaknya sakit. Menurutnya, itu seperti sebuah kegagalan, dia tidak berhasil menyelamatkan jiwa adikku. Aku jadi semakin merindukan mereka, apalagi saat ini mama sudah mulai gencar menyuruh salah satu borunya Muli (menikah). Hal yang belum bisa kulakukan untuk kedua orang tuaku karena aku takut tidak akan bisa 100% lagi jadi boru mereka…
    Aku sadar ini kedengaran egois dan tak masuk akal, tapi saat seorang anak perempuan batak menikah, berarti sebagian besar hidupnya sudah milik keluarga suaminya… Jadi ingat lagu batak, “Anakhon ki Do Hamoraon Di Au” (Anakku adalah kekayaanku)

  3. Bukan karena kedudukan si penulis artikel ini sangat istimewa bagiku–seperti halnya Nainggolan lain–karena dua kali “hula-hula”. Tapi sejak ‘kenal’, pikiran dan untaian kata-katanya sudah membuatku terpesona, salah satunya ini:

    “Tetapi kesedihan itu anggaplah seperti burung; ia boleh sesekali hinggap di kepala kita, tetapi jangan biarkan sampai membuat sarang dan beranakpinak di sana.”

    Sekarang giliranku yang bertanya: dari mana dan pada siapakah dulu lae Toga belajar menulis?

  4. Secara teori sih bagus memang budaya Batak mengajarkan falsafah tentang hubungan anak dan orang tua. Masalahnya adalah, dalam prakteknya justru banyak orang tua yang mengekang anaknya, bahkan hingga anaknya sudah dewasa. Misalnya banyak orang tua Batak yang memaksakan/ menjodoh-jodohkan anaknya. Bukan rahasisa umum lagi, orang tua sering meminta anaknya menikah dengan sesama orang Batak, bahkan ditentukan marga/boru apa (katanya paling cocok sama “pariban”).

  5. entahlah. tapi ada yg baru di tampilan blog ini.
    sejak kapan ya..
    siapa fotografernya?
    bagus bah!!!

    BATAK NEWS: ah, kau itu. :) tak seberapalah jepretan kamera sakuku itu dibanding nikon d40-mu. eh, teringatnya kamera slr, sudah lama sekali aku tak megang kamera montok kayak punyamu. sedikitnya sudah empat tahun, sejak nikon fm2 kujual dulu untuk biaya persalinan gibran. sekarang aku cuma pakai kamera poket ke mana-mana. hiks, :( jadi kangen slr. soal foto banner itu, kuambil sekitar dua tahun lalu, gambar oppung penjual ulos di pasar balige. kalau tak salah pernah kukirim ke metro tapanuli atau harian global.

  6. Banyak sekali orang tua yang sulit mengamalkan kata-kata Kahlil Gibran dalam kehidupan dan pola didik mereka terhadap anak.
    dan anak-anak banyak yang menanggapi dengan berbagai reaksi, marah, menerima saja, berontak dan sebagainya.
    Bapakku, termasuk orang yang “sulit” mengamalkan kata-kata itu dalam pola didiknya terhadap kamu, dan aku sangat bisa maklumi itu, sebagai rasa sayangnya yang besar sekali terhadap kami, karena aku tidak punya abang, jadi bapakku berfungsi sebagai bapak dan abang yang harus bisa melindungi anak-anaknya, apalagi anak perempuannya.

    Tapi, sepertinya belakangan ini, pola fikir bapakku, sudah mulai mengalami “pencerahan”, dia sudah menyebutku “boru hasian”
    Aku orang yang menganut, natua-tua i Debata na ni ida (orang tua itu, Tuhan yang bisa kita lihat)
    Nah, perubahan dari sahabat menjadi kerabat itu, yang membuat orang Batak (terutama perempuan), yang berfikir menikah, karena biasanya mereka nanti akan menjadi milik orang lain.

  7. Memang terkadang masih ada banyak orangtua yg memaksakan kehendaknya ke si anak. Gara-gara gak lulus si Bapak masuk tentara, anaknya di doktrin supaya jadi tentara. Gak kesampaian bapaknya dulu masuk sekolah Hukum, anaknya diojog-ojog masuk sekolah hukum. hehehehe. Kadang karena tak enak hati diikuti juga kemauan orangtua, karena tak sampai hati membuat kecewa, akhirnya si anak sendiri yg dilema, padahal tidak suka akhirnya ditahankan.

    Cuma itu mungkin dulu, jaman sekarang orangtua lebih banyak yg terbuka pemikirannya. Banyak jg yg menyadari, apa yg dia kehendaki tidak selalu dapat dipaksakan kpd sang anak. Mudah2an begitu, tidak menjadikan sang bapak Diktator di rumah. :) :D

  8. “Anak adalah titipan Tuhan. Jagalah!”
    Entahlah, pas atau tidak kalimatnya, pokoknya begitulah ukuran baik beberapa ajaran yang sering kita dengar, baik agama, ajaran moral (manapun), atau seperti filosofi yang sudah dijelaskan bang Toga Nainggolan dengan — ibarat alunan musik — syahdu (pas enggak yang kubilang itu?) Aku setuju dengan ide itu. Tapi, baguslah jika kita simak komentar lae kita: H Ht. Haean di atas. Masih dalam lingkup budaya. Katanya, secara teori sih bagus budaya Batak tentang filosofi hubungan anak dan orang tua. Masalahnya, mengapa masih ada orang tua yang suka mengekang anaknya? Apalagi soal jodoh!

    Aku bilang, masih banyak orang Batak belum sampai pada pemahaman itu. Sebab masih dikekang oleh banyak faktor (termasuk adat-istiadat) yang sifatnya materialistis! Bagaimana mungkin seorang ibu tidak mengatakan bahwa anak yang dilahirkannya bukanlah anaknya. Apalagi anaknya seperti Desy, lulusan IPB, cantik, humoris, paradat, wanita karir lagi. Di adat Batak, pasti sinamotnya akan mahal.

    Ini masih berandai-andai, jika saya adalah ibu Desy, apakah akan dengan mudahnya saya katakan Desy tidaklah anakku? Dalam tradisi Batak, NEHI, kata orang India. Bahasa Bataknya, “Tusadai maho. Ngapala loja au pasikkolahon gellengki. Dokkononku ndang anakku i. Lak gabe soadong be sinamot ni? Bah! Aha namasa di portibi on nuaeng!”

    Lho. Tapi Gibran bilang, anakku bukan anakku? Na massam mana do nantulang? Ini masih kontradiktif. Jika anakku bukan anakku, maka ia anak siapa? Gibran bilang, “Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri. Mereka terlahir melalui engkau, tapi bukan darimu.” Tapi apakah justru karena “kerinduan akan dirinya” itu maka lahirlah kegilaan seperti yang dikisahkan Eka Kurniawan di cepernnya “Penafsir Kebahagiaan” (Kompas Minggu, 17/09/07)? Entahlah. Apakah Gibran sudah benar?

    Di sana digambarkan hubungan ayah dan anak yang agak gila. Surealis! Ampun. Yang gila adalah, apakah maksud Eka dengan kisahnya yang menggambarkan bagaimana seorang anak yang tidak lagi “mengenal” ayahnya. Dan seorang anak yang tidak lagi “mengenal” anaknya. Sehingga pada waktu yang berlainan dan tidak mengetahui satu sama lain, tidur dengan wanita yang sama. Gila! Mengapa bisa? “Kerinduan akan diri” yang kebablasan.

    Apakah definisi “anakku bukanlah anakku” begitu dalamnya sehingga dengan mudahnya orangtua melepasakan anaknya, seperti yang sudah menjadi budaya di Barat? Di sisi lain ada baiknya. Tapi, cerpen Eka? Sudahlah.

    Soal ini, aku hanya punya prinsip. Jika ditanya siapa saudaraku (karena saya belum punya anak), maka saya akan jawab, saudarakau adalah orang-orang yang mengasihi aku sebagaimana aku memberi cinta pada mereka. Jadi, seadainya Anda adalah kakak (abang kandung) saya, tapi tidak pernah menganggap saya sebagai adik (tanpa kasih sayang), maka Anda adalah bukan abang saya. Begitu juga hubungan antara orangtua dan anak. Adilkan? KASIH itu memang harus ADIL.

    BATAK NEWS: seperti komentarmu, aku pun cenderung berpikir bahwa salah satu faktor “penghambat” pernikahan di kalangan batak selama ini adalah masalah uang sinamot.

  9. Parhorasan ma di hita saluhutna,
    Sangat menarik tulisan dari lae Nainggolan, pemikirannya menambah wawasan kita tentang hubungan antara orang tua dan anak khususnya, dan tentu juga akan terkait dengan hubungan kekerabatan yang diatur adat istiadat ( marnatua-tua / marsimatua / marhula-hula dan marhamaranggi ) pada umumnya.
    Menurut lae Nainggolan hubungan orang tua dgn anak melalui beberapa fase yaitu : anak, sahabat (dongan) dan sekadar kerabat (tondong). Apa tidak keliru lae?

    karena ompung saya bilang fasenya adalah anak (masa anak-anak belum dewasa-mungkin s/d usia 12 thn), anggi (masa pemuda/i) dan dongan. (setelah berkeluarga) dan merupakan bentuk komunikasi antara orang tua dengan anak-anaknya; intinya orang tua masih berhak mengatakan pada anaknya “kamu tahu apa” ( gumodang dope sira nahudai sian ho ) pada fase “anak “; sedang pada fase “anggi” orang tua (ortu) menjadi pendengar yang baik untuk memahami anaknya, sedang pada fase “dongan” terjadi dialog / komunikasi yang setara yang saling mengakui keberadaan masing-masing terutama tentunya para ortu.

    Tapi kenyataannya masih banyak ORTU menganggap anaknya masih anaknya yg dulu ( fase anak ), shg sering terjadi ORTU intervensi pada masalah intern keluarga anaknya, bahkan mau mengatur kehidupan anaknya ( tentu tidak semuanya ). Sebaliknya dengan generasi kita sekarang (khususnya keluarga muda) ada faham keluarga inti ( little family nucleu ) yang menyatakan orang tua ( termasuk simatua, tulang, amangtua/uda ) dan para tunggane ( hula-hula ) dan hahanggi adalah pihak ketiga, atau setidaknya orangtua / mertua adalah inner circle, sedang yang lain adalah outer circle.

    Barangkali karena perbedaan titik pandang ini maka sering terjadi kesalahpahaman diantara suami-isteri karena pihak ortu masih menganggap anaknya itu masih dalam fase “anak” dan pihak anak menganggap ortu seperti yg ditulis ito Desy Hutabarat ” natua-tua i Debata na ni ida ” (menurut pendapatku ortu harus kita hormati dan dipatuhi, akan tetapi ortu juga manusia yang bisa keliru jadi kita tidak dapat patuh tanpa reserve).

    Desy berpendapat bahwa wanita Batak berpikir untuk menikah karena biasanya mereka jadi milik orang lain, ini dapat dipahami karena adat istiadat Batak menganut faham garis keturunan bapak (patrilineal- patriachat), sehingga marga isteri menjadi marga suaminya. Menurut saya ada pemahaman yang keliru mengenai sinamot yang di analogikan menjadi tuhor ni boru ( percakapan sehari-hari disebut manjalo tuhor ni boru), padahal kalau kita ikuti acara marhusip / mangarangrang dan marhata sinamot maka pengertian dari sinamot itu (menurut pendapat saya ) adalah partisipasi biaya dari pihak paranak untuk membantu parboru dalam menyelenggarakan acara adat perkawinan itu ( bukan tuhor ni boru ) , buktinya rincian dari hepeng sinamot itu didistribusikan menjadi jambar (suhi ampang na opat, todoan dll) yang nanti dikembalikan lagi pada saat acara adat berupa ulos dan ikan ( dengke ).

    Pihak keluarga laki-laki memposisikan keluarga isteri yaitu hula-hula (pemberi / sumber isteri ) sebagai MATA NI ARI BINSAR (makanya isteri disebut PANIARAN – sumber cahaya/ sinar) yang harus dihormati (somba marhula-hula). Akan tetapi yang saya lihat dalam prakteknya adalah kita tidak konsisten menganggap isteri adalah boru ni raja i (paniaran), karena masih banyak terjadi keluarga dari pihak suami (apalagi mertua) menganggap isteri dari anaknya atau isteri dari saudaranya adalah ORANG LUAR (jolma na ro ) shg. pihak mertua mempunyai standard ganda dalam menghadapi menantu perempuannya dan anak perempuannya sendiri. (padahal anak perempuannya sudah menjadi marga dari suaminya). Contoh lain kalau seorang anak berhasil / berprestasi sering disebut anak ni amangnya ( siapa dulu dong bapaknya ), tetapi kalau gagal kita katakan ai ise tahe inangna ? Kita lupa dalam kebersamaannya anak itu lebih lama dengan ibunya, tentu ibunya ada juga kontribusi dalam mendidik anaknya. Songon i ma jolo sahat ni hata sian ahu; hata on hata tambaan Mauliate godang Horas ma.