[dian sidauruk; batak news; kata ALLAH bukan cuma dalam islam, juga kristen]

Sama seperti keluarga Gus Dur, pembaca beragama Kristen ini pun menerapkan toleransi secara nyata dengan umat Islam — bukan cuma basa-basi di mulut.

Dian SidaurukBila umumnya umat beragama di Indonesia memaknai toleransi sebagai “jangan usil dan jangan mengganggu umat lain”, atau “agamamu untukmu, agamaku untukku”, maka Gus Dur termasuk istrinya mempraktikkan toleransi yang lebih tinggi dari itu. Dian Sidauruk, seorang lelaki Batak nasrani di Kuta, Bali, juga membuktikan toleransi secara nyata alias bukan cuma manis di bibir. Artikel Dian ini ditulis sebagai komentar menanggapi artikel Viky Sianipar sebelumnya, lalu kupindahkan ke halaman utama Blog Berita.

ASSALAMUALAIKUM wa’rahmatullahi wa’barokatu! Syalom!
Komentar/tanggapan untuk artikel “Viky Sianipar pun Disebut Domba Tersesat.”

Domba yang tersesat.
Lalu dia tinggalkan domba yang 99 itu. Malangkah gontai, bibirnya retas, giginya kering diterpa angin gunung penuh bisik menyeringai menumpuki duka laranya. Memar dipelipisnya semakin biru. Lambungnya perih. Lapar, dahaga dan teriknya panas menderanya. Lara yang kemarin belum juga sirna. Hari ini, dombanya satu tersesat. Laranya membukit. Berlari dia mencarinya, demi cintanya.

Andaikan aku domba yang tersesat itu, siapakah gembalaku? Andaikan aku salah satu di antara domba yang tidak tersesat itu, siapakah gembalaku.

Gembalaku yang baik. Engkau pasti tahu jawabannya. Akupun sepertinya sudah tahu jawabanmu: “Aku” Bila engkau menjawab “Aku dan Bukan Aku”, dua jawaban untuk dua pertanyaan, mengapa engkau mencari aku yang tersesat? Mengapa juga engkau menggembalakanku ketika aku tidak tersesat?

Saya bermukim di antara saudara-saudara yang non Kristen. Saya dan anggota keluarga saya ikut menghadiri selamatan yang diselenggarakan oleh tetangga yang muslim. Saya berkopiah, bersarung tak ubahnya tradisi berpakaian mereka. Saya bisu bila mereka melafalkan doa-doa mereka. Tetapi bisunya saya bukannya bisunya orang mati. Bibir saya terkatup tapi hati saya turut berdoa: “Ya Tuhan semoga kebahagiaan senantiasa berada di rumah ini”. Bila ada tetangga yang muslim meninggal kami ikut dalam kerumunan umat yang tahlilan itu. Lagi-lagi saya membisu laksana bisunya batu. Dalam membatunya bisuku, aku tak lupa berdoa: “Ya Tuhan, semoga Engkau bermurah hati kepada yang meninggal ini”

Saya menerima undangan pernikahan dari sahabat saya yang bukan kristen. Di surat undangan itu tertulis: “Mohon doa restu”. Saya berdoa untuk mereka: “Ya Tuhan, bila Engkau berkenan, berilah restu kepada mereka agar pernikahan mereka baik adanya”

Apa ruginya saya berada di antara mereka dan berdoa seperti itu? Rugi atau beruntungkah saya? Ini bukan bisnis. Ini permohonan kepada Tuhan. Saya tidak tahu apakah permohonan saya itu dikabulkan atau tidak. Yang pasti, saya turut bergembira bila ada kebahagiaan di rumah itu. Juga pasti, saya turut senang bila Tuhanku merestui pernikahan mereka.

Dan, dan yang ini, sekali lagi yang ini, simaklah: Kalau saya berdoa agar Tuhan bermurah hati kepada yang meninggal itu tentu maksud permohonan saya itu agar yang meninggal itu diperkenankan masuk surga. Kalau dia masuk surga maka saya nggak sempit-sempitanlah nanti di neraka.

Bukankah kau domba yang tersesat itu? Neraka, itulah tempatmu, katanya kepadaku.

Bila saya dalam posisi seperti yang saya sebut-sebut di atas, apakah saya tidak senang dan merasa dihargai bila saudara-saudara saya yang bukan kristen datang kepada kami, berdoa, bahu membahu, tertawa, menangis kita bersama. Oh pedih… pedih… peeeedih… oooooo….

Bila anda dalam posisi yang sama seperti yang saya sebut-sebut di atas, apakah jawabmu bila kutanya, bagaimana perasaanmu?

Di sekeliling mukim saya, hanya keluarga saya yang Katolik. Bila kami pergi menghadiri selamatan, tahlilan, pernikahan dll yang diselenggarakan oleh umat muslim, apakah kepergian kami itu kami maksudkan untuk mengambil hati mereka agar kami aman di lingkungan mereka? Tidak.

Saya dan anggota keluarga saya menghadiri hajatan-hajatan itu karena kami menafsirkan sebuah kalimat pendek: “Cintailah sesamamu seperti dirimu sendiri”. Kalimat pendek yang kami tafsirkan sesuai kemampuan pikiran kami, itulah yang membukakan kami jalan menemui mereka kemudian bersama mereka.

Apa yang kau kehendaki dilakukan orang lain terhadap engkau, lakukanlah itu kepada mereka. Bila engkau mau dihargai, dihormati dan dikunjungi maka lakukanlah hal-hal itu terlebih dahulu terhadap mereka.

Andai kata saya bukan Katolik, bukan Islam, bukan Hindu, bukan Parbaringin,bukan Yahudi, bukan sipele begu (sipele begu = penyembah hantu, mau minta nomor buntut) atau katakan saja saya tak beragama, bolehkah saya berbaur dan saling membantu dengan saudara-saudara yang beragama itu? Bila jawabmu boleh, mengapa kalau saya beragama Kristen lalu kau bilang bahwa saya domba tersesat karena berbaur atau membantu saudara yang muslim itu?

Saya tak bersedia menutup diriku dengan agamaku.

Mengapa agamamu mejauhkanmu dari yang lain? Mengapa engkau membuat agamamu menali dirimu? Mengapa agamamu kau peralat untuk membeda-bedakanmu?

Sedikit untuk JoeS: “Assalamu’alaikum wa’rahmatullahi wa’barokathu”.

Kalimat ini bagi saya adalah kalimat indah yang sering saya gunakan untuk menyapa saudara-saudara saya. Mengapa? Kawan, kalimat itu adalah bahasa Arab, bukan bahasa muslim. Di tanah Arab ada gereja. Menurut anda apakah Kristen di sana pakai “syalom-syaloman” di altar? Tahukah anda bahwa kata Allah itu berasal dari bahasa Arab?

Kata Allah sering digunakan oleh umat Katolik. Karena saya menggunakan kalimat Assalamu’alaikum itu maka banyak teman saya yang Kristen mengatakan bahwa saya Domba Yang Hilang. Hilang, bayangkan hilang, ditelan gelapnya kabut. Au ah, gelap.

Ini lebih kejam dari lencana Viky. Viky Domba Yang Tersesat (DYT). Saya Domba Yang Hilang (DYH). Saya senasib dengan saudara Kristen yang di tanah Arab. Kami sama-sama tidak boleh ke surga. Ini keputusan hakim yang menghakimi Viky dengan lencana DYT.

Saya adalah DYH. Siapakah gembalaku? Bila saya DYH atau DYT domba yang bagaimanakah dirimu?

Engkau mengolok Judas Iskariot tetapi engkau tak tahu bahwa dalam pengolokan itu engkau telah membuat dirimu jadi Judas Iskariot yang baru.

“Jangan menghakimi sesamamu sebab penghakimanmu itu akan digunakan untuk menghakimi engkau oleh orang lain dan oleh (Tuhan)? Ampunilah mereka, sebab mereka tak tahu apa yang mereka lakukan.”

Si tukang salib itu membela Allah. Agar mereka mempunyai bukti pemebelaan dan agar dilihat khalayak ramai bahwa mereka membela Allah dan agar terlihat gagah perkasa maka yang tak bersalah disalibkan. Siapakah yang engkau bela? Dirimu? Tuhan Allahmu? Semoga engkau tak menjadi salah satu di antara kami dengan penghakimanmu itu.

Bunda Theresia dan Paus Paulus Johannes II didoakan oleh banyak umat manusia yang tak hanya Katolik. Tidakkah engkau terharu melihat itu? Cinta tak datang dari mulut tapi dari hati. Dia terlihat dari perbuatan. Sembah sujud kepada Tuhan Allah tidak diukur dari mulut tetapi dari perbuatan, hati dan penerimaan akan sesama.

Banyak orang merasa dirinya telah berada di pelukan Tuhan Allah oleh karena tak bergaul dengan orang yang bukan seagamanya. Banyak orang (Batak) merasa telah menjadi kekasih Tuhan Allah karena tak ikut margondang, manortor, mangulosi dll. Benarkah engkau telah menjadi salah satu dari yang dikasihi Tuhan Allah karena hal-hal di atas dan karena mengamini prinsipmu sendiri?

Aku, siapakah aku ini menjadi hakim bagimu? Siapa yang melantik aku menjadi hakim bagimu? Alusi au, aluuuuuusiiii au (jawablah aku, jawablah). Salam saya dari Bali. [www.blogberita.com]

CATATAN BLOG BERITA:

Tentu saja akan banyak orang nasrani menyebut lae Dian Sidauruk sebagai tersesat karena ia terlibat dalam acara-acara orang Islam. Sama halnya, seperti banyak beredar di blog dan milis-milis selama ini, Gus Dur pun sering disebut telah musyrik karena “terlalu dekat” dengan orang non-muslim, juga karena Gus Dur mengatakan orang Kristen dan Yahudi bukan kafir.

Bila Natal dan Tahun Baru tiba, aku, istriku, dan anak-anakku selalu [dengan sengaja, dengan keinginan sendiri, bukan karena diajak] pergi ke gereja dan kampung beberapa famili untuk menonton ritual Natal. Istriku pun suka mendengar lagu-lagu rohani Kristen, apalagi dibawakan dalam koor yang harmoni suaranya begitu indah.

Seperti suatu malam dua tahun lalu, istriku sendiri, yang sudah muslim sejak kecil, mengajakku ke desa tempat tinggal saudara iparku karena di sana berlangsung perayaan Natal desa. Malah istriku tanpa rasa malu sungkan langsung duduk di kursi paling depan. Bila pas acara berdoa, istriku dan aku tentu saja tidak ikut melipat tangan. Saat acara makan, kami pun ikut makan, lauknya ikan mas naniarsik.

Anakku Gibran kubiarkan bermain-main dengan anak-anak nasrani yang dengan riangnya berpakaian semarak ala Natal. Ketika Gibran penasaran dengan kalung salib milik kawannya, dan dia merengek untuk memakainya, kubiarkan saja. Apa komentar familiku muslim? Sama dengan apa yang sekarang sedang muncul di benakmu; aku pun disebut telah tersesat, musyrik, kafir, bla-bla-bla. Apa peduliku? God knows, not you. Tuhan Maha-tahu. Allah SWT yang lebih mengetahui luar dalam diriku, istriku, dan anakku.

Suatu hari Gibran bermain di rumah seorang famili nasrani saat mereka makan siang dengan lauk daging babi. Sepulang dari sana, dia pun bertanya, “Ayah, kenapa kita nggak bisa makan babi?” Kuterangkanlah sesuai ajaran Islam. Lalu ada seorang kawan muslim yang kebetulan mendengarkan percakapanku dengan Gibran, lalu dia bilang sama anakku: “Ibang, lain kali nggak boleh ya main ke rumah orang Kristen.” Bah, bah, aku langsung marah. Aku tak mau anakku didoktrin seperti itu, karena bisa mempengaruhinya setelah dewasa nanti. Maka saat itu juga kuluruskan pada Gibran, “Boleh nak, tak apa-apa, asal kau tidak ikut makan daging babi.”

Jadi aku dan istriku telah bersikap, juga mengajari anak-anakku, untuk membuktikan toleransi itu secara nyata dalam kehidupan bertetangga dan bermasyarakat. Toleransi bagi kami bukan sekadar basa-basi di mulut.

Dan kami akan selamanya mempertahankan sikap ini, biar pun banyak muslim di Balige, termasuk mertuaku sendiri, tidak setuju dengan kami. Sekali lagi, kami tidak peduli, karena Tuhan Maha-melihat. Maka untuk lae Viky Sianipar, teruslah dengan prinsip lae; jangan pedulikan para maniak-agama itu.

Silakan bila ingin mengutip artikel dari blog ini, dengan syarat menyebut sumber. Bila dikutip untuk website, blog, atau milis, maka tuliskanlah sumbernya www.blogberita.com dan buatkan link ke artikel bersangkutan. Bila dikutip untuk koran, majalah, bulletin, radio, televisi, dll, maka tulislah/sebutkanlah sumber kutipannya; www.blogberita.com.

Artikel terkait:


  1. irulahadi

    no, comment.

  2. vizon

    sebetulnya, toleransi telah lama dijalankan oleh masyarakat awam secara ikhlas. buktinya, di hari lebaran kemarin, tidak sedikit masyarakat non muslim yang ikutan syawalan. acara maaf memaafkan berlangsung secara khidmat dan terasa aura ikhlasnya.
    saya sangat memimpikan hidup berdampingan, tanpa ada sekat dan curiga yang disebabkan oleh agama…
    http://surauinyiak.wordpress.com/2007/10/18/syawalan/

  3. IRVAN

    oooo…plisss…maaf saudaraku…masalah iman/keyakinan ga bisa di tolerir…toleransi antar umat beragama saya sangat setuju sekali dan tentu sangat mendambakan itu semua…tapi tidak menyentuh hal yang satu “iman/keyakinan”…saya muslim dan anda nasrani,tentunya sudah beda banget…saya hargai anda sebagai seorang kristiani…tapi tolong anda juga hargai umat muslim dengan ga usah mengusik hal2 yang menyangkut keimanan…saya yakin kita udah tahu bagaimana caranya saling ngehargai yang sewajarnya,ok!!!banyak temen2 saya yang nasrani sama seperti anda dan kami bisa bergaul tanpa harus saling mengusik keyakinan…”dan itu bisa”!!!…tolong ga usah memprovokasi…saya tegaskan “Bergaul,bersosialisasi sewajarnya saja,biar ga usah ada yang terusik&tersinggung yang akhirnya ada perpecahan” saling instropeksi aza…dan ga usah bicara surga dan neraka…apa anda dengan keyakinan anda yakin masuk surga atau neraka…???saya pribadi sampai saat ini masih tetap berdoa dan berdoa supaya masuk golongan yang ditempatin di surga…jadi hanya Alloh Tuhan saya yang tahu saya bakal masuk surga atau neraka…begitupun juga anda… banyak hal2x yang sebenarnya ga usah kita diributin,cukup kita yakini saja keyakinan kita masing2x…dan ga usah saling menjelek-jelekan…saya yakin anda orang yang mengerti dan saya yakin anda bisa mengerti maksud saya