[dian sidauruk; batak news; komentar pembaca dari bali]
Kenapa aku bangga jadi Batak.
Artikel ini adalah sebuah komentar yang dituliskan pada salah satu artikel di Blog Berita, lalu kupindahkan ke halaman utama ini. Penulisnya ialah Dian Sidauruk, seorang lelaki Batak yang bekerja pada sebuah perusahaan asing di Kuta, Bali; sementara istrinya tinggal di Kediri dan anak-anaknya bersekolah di Kediri dan Malang. Karena tuntutan pekerjaan, ia telah pernah tinggal di banyak kota di Indonesia dan luar negeri, dan bergaul dengan orang-orang berlatar budaya berbeda, namun kebatakannya tak pernah lekang. Asyik sekali ketika Dian merinci ciri khas orang Batak, menurut pendapatnya. Dia menulis banyak istilah Batak lengkap dengan terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Ada beberapa kata yang sengaja dia terjemahkan “secara bebas” sehingga makna yang muncul menjadi unik dan lucu. Beberapa kali aku tersenyum. Nyesal kau nanti kalau tak membaca artikel ini.
ITO DESY HUTABARAT, terimakasih, saya senang membaca tulisanmu. Menggelitik, jenaka, tajam, menonjok jidat para Batak yang malu jadi orang Batak itu.
Molo maila jadi halak Batak, ganti hamuna/hanima inanta dohot amantai jadi halak Bolanda. (Kalau malu sebagai orang Batak ganti ibu dan bapakmu jadi orang Belanda).
Lae Situmorang, tolong hamu jolo tongoshon beberapa bungkus ‘biru’ Mandilai ito kita itu ya lae, mandok ‘blau’ pe ‘biru’. Hape bau buntak dope getek-getekna. (Walau ketiaknya masih kental beraroma lumpur sawah, Batak yang menterjemahkan blau menjadi biru ini sudah menganggap diri metropolitan).
Ito Desy dan teman-teman pembaca. Permisi, saya ‘nyombong’ dikit ya….
Masa perantauan saya telah 28 thn. Sekarang saya di Bali. Saya bermaksud kembali ke kampung halaman Simanindo, Samosir, dan bermukim di sana, sebab di sanalah saya dilahirkan. Tetapi karena hambatan ekonomi, maka perantauan saya akan tambah dan bertambah lama.
Selama 28 thn tsb saya telah berada di berbagai tempat dan kota di tanah air dan manca negara. Antara lain Jakarta, Malang, Surabaya, Balikpapan, Samarinda, Bontang, Berau, Kupang, Ujung Pandang, Soroako, Kediri, Tuban, Jombang, Tulungagung, Semarang, Pati, Kudus, Singapura, Perth, Thailand, Melbourne, Sydney, Bribane dan Canada, dan sekarang saya berada dan bekerja di Bali. Semua perjalanan ini karena tuntutan pekerjaan bukan maredang-edang (melancong).
Nangpe songoni, tangkas do pe ahu marhata Batak rodi na totok i. Di sude luat naung hu dalani i, torus-manorus do ahu mambanggahon habatakonhu. Ninghu tu halak na di si: “I am Batak and I am very proud of Batak.” (Saya Batak dan saya amat bangga sebagai Batak). Walau demikian lama dan banyak tempat yang saya tempati, Batak saya tak pernah luntur dan saya tetap fasih berbahasa Batak, bahkan bahasa Batak totok.
Ada beberapa hal yang membuat saya bangga sebagai Batak.
A. Garis keturunan yang tak ada duanya di dunia ini. Garis keturunan Batak sangat jelas dan mudah dipahami. Banyak orang/suku bangsa telah membuat garis keturunan tapi tak pernah sukses. Garis keturunan yang mereka buat hanya bertahan dalam beberapa generasi saja bahkan ada yang hanya bertahan satu generasi.
B. Di Indonesia (untuk sementara yang saya tahu) hanya ada beberapa suku bangsa yang mempunyai tulisan: 1. Aksara Batak di Sumatera Utara. 2. Tulisan Kawi di Jawa. 3. Aksara Bugis di Sulawesi Selatan. 4. Tulisan Lontar di Bali, Lombok, Sumba dan Sumbawa.
C. Hanya dua suku bangsa di Indonesia yang menyebut dirinya bangsa: 1. Bangso Batak = Suku bangsa Batak di Sumatera Utara. 2. Bangsana Ugi = Bangsa Bugis = Suku bangsa Bugis di Sulawesi Selatan.
D. Di dunia ini, hanya Batak yang menganut budaya dan tradisi ‘Penguburan Kedua’ (Mangongkal Holi = Panangkokhon Saring-saring ni natoras tu tambak na timbo). Betapa hormatnya Batak terhadap natorasna (orangtua) hingga ada tugu untuk mereka.
E. Kecuali Batak, tak satupun suku bangsa di dunia ini yang menganut budaya dan tradisi yang mempersiapkan peti mati untuk orangtua yang sudah tua padahal mereka belum meninggal. Membuat peti mati tsb dari kayu hidup, ditebang, dibelah dan dilobangi menjadi peti mati. Peti mati ini disebut podom-podoman. Tak hanya ini, kuburannya pun sudah dipersiapkan yaitu Tambak Natimbo (Tugu = pemakaman persatuan semarga).
F. Logat Batak sangat khas. Tak bisa ditiru oleh suku bangsa lain. Kalau bicara sangat jelas dan volume suaranya besar. Kalau bilang ‘kau’ ya ‘kau’, bukan ‘kamu’. Kalau bilang ‘ditekan’ ya ‘dite’kan’, intonasinya ditekan pada suku kata kedua dari belakang, dan inilah yang benar menurut ilmu fonetik.
G. Mimik dan ekspressi Batak sangat jelas. Wajahnya menunjukkan bahwa dia marah atau senang. Bukan seperti suku bangsa lain yang tersenyum walau dalam keadaan marah. Hal macam ini diperlukan agar mitra bicara tidak salah prediksi. Batak mengatakan “ya” kalau dia setuju dan “tidak” kalau dia tidak setuju. Naim Shah (warga negara Amerika), Site Manager di sebuah perusahaan Multi National dalam suatu pertemuan informal dengan para pembantunya yang terdiri dari berbagai suku bangsa Indonesia mengatakan dengan gaya canda: “Sidauruk, Tambunan and all of you Bataks. I am very impressed of you. I know when you agree or disagree with me. It makes me easy to understand and more easier to communicate with you all, but not with Suryono, Julianto, Tukiran, etc. (Sidauruk, Tambunan dan saudara Batak yang lain. Saya sangat terkesan terhadap anda-anda sekalian. Dari ekspresi dan mimik saudara sekalian saya segera tahu bahwa saudara-saudara setuju atau tidak setuju terhadap gagasan dan petunjuk saya. Ekspressi dan mimik anda membuat saya lebih mudah memahami anda dan terutama saya lebih mudah berkomunikasi dengan anda-anda. Tetapi hal sama tak saya temukan pada yang lain misalnya Suryono, Julianto, Tukiran dan yang lainnya, saya bingung menghadapi mereka. Saya kira mereka sudah setuju tapi ternyata tidak. Itulah yang membuat projek kita ini terlambat).”
H. Adong dope? Tambai hamu ate (Kalau masih ada ciri khas Batak tolong ditambah).
Saya bangga bahkan amat bangga bahwa saya Batak. “Dian Sidauruk.” Demikan saya selalu memperkenalkan diri kepada teman-teman baru.
“Orang Medan ya?”
“Nggak, saya orang Batak, dari Samosir.”
“Lo, biasanya orang Batak tidak terlalu suka disebut Batak, tapi orang Medan.”
“Itu keliru, orang Medan ya orang Medan, orang Batak ya Batak. Orang Medan bisa saja Melayu, Deli, Jawa dan Batak dll. Tapi kalau Batak tidak mungkin jadi Melayu, Deli apalagi Jawa.”
“Tapanuli?”
“Bisa juga. Tapi agar jelas sebaiknya saya sebut saja Batak dari Samosir, bukan Tapanuli. Tapanuli ada tiga yaitu Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan dan Tapanuli Utara, tapi sekarang Tapanuli Utara sudah tinggal sejarah dan saya bukan orang Tapanuli. Saya Toba. Banyak orang Batak yang menyebut dirinya orang Tapanuli. Katanya kalau Batak terdengar kasar, kalau Tapanuli terdengar tidak kasar. Hahaha, kasar apanya? Juga mengiyakan kalau ada yang menyebutnya orang Medan, mungkin agar terdengar berbudaya maju. Maju apanya? Kalau orang Tapanuli ya Tapanuli, Toba ya Toba, tapi semuanya itu adalah orang Batak. Tidak ada suku bangsa Tapanuli, suku bangsa Toba, suku bangsa Simalungun dll. Tapanuli, Toba, Simalungun hanya menjelaskan geografis. Jadi menurut saya agar jelas saya bilang saya Batak.”
Saya merasa bahwa saya masih kurang keras berteriak membanggakan habatakonku sementara yang lain, yang baru dua tahun di Jakarta, merasa bahwa dia masih kurang pelan berbisik agar tak ketahuan habatakonna.
“Sebenarnya ito, lae, tulang, anggi, abang, dia do bonsirna asa maila hamuna/hanima jadi halak Batak?” (Sebenarnya, mengapa kalian malu jadi orang Batak?)
“Ah ito, ndang tardok. Songon ondo ito umbahen sipata manang jot-jot maila iba mangakui iba ito halak Batak” (Agak tak enak menjelaskan mengapa saya sering malu mengakui bahwa saya orang Batak).
“Iya ito, dok ma” (Nggak apa-apa ito, bilang aja).”
“Ai godang baoani halak hita passopet dan panjambret. Ndang marimbar baoa manang ina godang parjuji jala ditangkup polisi. Parmitu jala tuakon dungi marendei di dalani dohot di huta nangpe naung robot borngin. Gabe sisurak do hita Batak alani i. Maila iba ito (Banyak lelaki Batak pencopet dan penjambret. Baik laki-laki maupun wanita banyak judi dan ditangkap polisi. Peminum dan mabuk-mabukan dan setelah mabuk (kadang tidak mabuk pun) mereka bernyanyi di jalan-jalan, di terminal dan di tempat mereka mukim pada waktu yang tidak tepat misalnya warga sudah pada jam tidur malam).”
“Jala nunga pagodanghu halak hita i padalan-dalanhon hepeng. (Juga saya malu karena sudah terlalu banyak Batak jadi rentenir di mana-mana).”
“Jadi ido hape ito asa maila hamuna/hanima? (O…, jadi karena itu malu ya ito). Ndang nitiala ito hamuna/hanima maila. Ndang holan hamuna/hanima ito na maila. Ahu pe maila do ito, maila situtu (Saya tidak bisa mempersalahkan ito setelah mendengar alasan itu. Bukan ito saja yang malu, sayapun malu bahkan malu sekali).”
Bangga, sebab ada yang dibanggakan. Malu sebab kita masih punya rasa malu dan ada yang membuat kita malu. Bersyukurlah karena masih punya rasa malu. Apa yang terjadi bila rasa malu kita telah punah? Rasa malu mengaku diri sebagai orang Batak mungkin bisa dipahami sebagai kritik membangun agar hal-hal yang tidak berkenan di hati masyarakat umum secara perlahan dapat hilang dari sikap-sikap Batak. Agar tak ada Batak yang malu mengakui dirinya Batak maka marilah kita semua Batak berusaha bahu membahu saling memberitahu, saling mendengarkan, saling menasehati dan terutama mengimplementasikan nasehat itu.
Bangga, malu, senang, sedih pastilah ada alasannya. Menghakimi seseorang tanpa alasan nampaknya kurang adil. Unang maila hita unang ma marparange na so domu tu rohani dongan natorop (Supaya kita tidak malu sebagai Batak maka hendaknya perasaan masyarakat umum tak risih karena perangai kita).
Bah, aku mulai merasa diri pintar menasehati, hehehe, biasalah, pintar menasehati orang lain tapi bodoh dalam berperangai. Hita do bonsirni hailaan ni ito kita itu (Kita yang bikin kemaluan ito kita itu).
Ehem, apa ya bahasa Indonesianya “hailaan”? Kemaluan, kan?
Hahaha…, alusi hamuna ito boru Nambela (bukan boru Sinambela) sungkun-sungkun hon. Mangantusima hamuna/hanima ito nunga leleng ahu mangaranto, ndang diboto ahu be hata Batak i. (Maklumlah, sudah lama aku merantau, jadi nggak ngerti lagi bahasa Batak.)
Hahaha…, amang oi inang ilana i ahu. Nantoari dope baoan mangaranto pintor hallang do marhata Batak (Astaga naga, baru kemarin dia merantau dan perantaunnya pun baru sampai Kisaran dan di sanapun marhauma do (membajak sawah) sudah kaku dia berbahasa Batak). Pajago-jagohon (sok maju). Bursikma ho, tu sadai ho, ke satu itu kau! (Nggak baik kau, jangan ke sini!)
Tapi kalau ada Batak, lahir di Panguruan, magodang di Panguruan, marsingkola SD dohot SMP di Pangururan, begitu SMA di Medan lantas menyebut ‘blau’ jadi ‘biru’, ya ampun, yang begini inilah yang perlu diharat hurumnai (digigit pipinya; digigit berbeda dengan dicium). Kalau ada Batak yang malu berbahasa Batak sesama Batak, baik dia sudah fasih berbahasa selain bahasa Batak apalagi tidak, alias marbatu-batu (bahasa Indonesianya masih terbata-bata, tersendat-sendat), yang begini ini juga perlu digotil pinggolnai (dicubit kupingnya).
Inilah beberapa hal di samping masih begitu banyak alasan lain yang menyebabkan Batak bangga jadi Batak dan malu jadi Batak.
Songoni ma jolo na boi hupatupa di ombas on (Demikian intermesso ini, semoga dimaklumi). Horas tondi madingin, pir tondi matogu. (Selamatlah arwah dingin, keras arwah kuat.)
Napuran tano-tano, rangging marsiranggongan. Dagingta padao-dao, tondina be marsigomgoman. Ima tutu… (Kapur tanah-tanah, saling rangkul-merangkul. Badan kita jauh-jauh, arwah kita saling menjamin. Iyalah….)
Sahat-sahatni solu sai sahat tu bontean. Leleng hita mangolu jala dapotan hagabeon. (Sampai-sampai sampan selalu sampai ke pelabuhan. Lama kita hidup dan mendapat kemakmuran). Salam saya dari Bali. [www.blogberita.com]
Artikel Dian Sidauruk sebelumnya:
Artikel terkait:
- Cintaku ditolak karena aku Batak dan cuma sopir
- Batak begini, Minang begitu, Jawa pun begitu
- Ketika Tiurma jadi Tamara, Barita jadi Barbara
Silakan bila ingin mengutip artikel dari blog ini, dengan syarat menyebut sumber. Bila dikutip untuk website, blog, atau milis, maka tuliskanlah sumbernya www.blogberita.com dan buatkan link ke artikel bersangkutan. Bila dikutip untuk koran, majalah, bulletin, radio, televisi, dll, maka tulislah/sebutkanlah sumber kutipannya; www.blogberita.com.


27 September 2007 at 6:01 am
BAh tarlambat aku fuang baca artikelnya lae “sidauruk” horas lae..!!!
Aku juga punya serrita menarik Perjalananku bisa dikatakan pahompu ni lae sidauruk ini bah (cucu penulis) kenapa kau bilang siahaan begitu???, aku juga seorang perantau dari kelahiran huta-huta nabuni (desa kecil),setelah selesai kuliah dari Medan Perjalananku (Jakarta, Solo, Jogja, Manado, Semarang, Makassar, Palembang dan kembali lagi ke Semarang) cuman dalam 3 tahun lho dan bukan juga melancong….kok kau bilang Menarik serritamu kata tulang Suhunan pulak???
Setelah aku mulai jenuh dengan pekerjaan lamaku aku mulai mencoba beralih dengan perusahaan lain”Molo adong nadumenggan boasa daong ido kan??”(kalau udah ada yang lebih baik why not???), ini kisah di semarang Jawa tengah disaat aku ada panggilan dari perusahaan malaysia aku terlibat dalam peserta psikotes yang ternyata lulus masuk ke tes wawancara berikutnya, dan didalam test wawancara tersebut aku merasa tidak diterima karena bahasa inggrisku marpasir-pasir karena test wawancara tersebut fakke bahasa inggris fuang bah!!wah…tamatlah harapanku bekerja di perusahaan ini..makiku dalam hati
Tapi ada penyelamat yang merupakan suatu sejarah yang tidak bisa musnahkan dalam kehidupan pribadi..kenapa???disitulah aku loak kali bah nama aja yang kucantumkan kok ga ada margaku??…SiPolan S. kebetulan personalia managernya tersebut iseng nanya, kepanjangan S itu apa???Siahaan..!..bah orang bataknya kau rupanya,..
Selang seminggu dapat panggilan lagi ke perusahaan tersebut dan dinyatakan masuk ke test berikutnya dan akhirnya bekerja walau tidak bertahan sampai sekarang, setelah aku bekerja aku mendengar serrita dari HRD tersebut aku itu diterima karena “Halak batak” terus aku bertanya emang kenapa dengan orang Batak Pak??dia langsung menjawab dengan penuh nafsu membara
- “Karena Orang Batak itu bertanggung jawab dalam pekerjaan”
- “Karena Orang Batak itu berani menghadapi tantangan”
- “Karena Orang batak itu..bla…bla…bla…dengan pujian yang luar biasa
Bah dalam pengalaman yang terjadi aku sendiri itu merasa bangga menjadi orang batak dan langsung mencari situs2 yang berbau Batak hingga ketemu sama BATAKNEWS…
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai kebudayaannya.
Horas
28 September 2007 at 4:40 pm
Bah… Horas ma di hita saluhut na (Wah… Horas, Selamat sore bagi hadarin semuanya)
Hari ini aku pertama kali ketemu blog ini, secara ga sengaja nyari teman teman masa kecil di kampung (kutacane, adong par kutacane dison puang??) lewat google search …
songon mata mata bah sombu uas di tingki manjaha situs on (seperti mata air, hilang sudah dahaga membaca situs ini)
Horas
28 September 2007 at 9:25 pm
@ ganda situmorang
horas. alumni Unri do tahe hamu?
14 Oktober 2007 at 9:17 pm
Horas juga buat Tuan Rumah dan semua Blogger,
Saya juga bangga sebagai Halak hita(Batak).
@bee: saya terkenang sewaktu di Surabaya, kalau Orang Madura itu sedang minum Tuak mereka itu selalu menawarkan dgn hati sanubari kepada saya supaya ikut minum.
@mr.lekig : pada umumnya mulai dari kecil/anak-2 kita Batak sdh diajari ber sopan santun.
@Kasman Sirait:kemungkinan besar Debata itu berasal dari Sangsekerta(Dewata).Tetapi kalau saya memanggil dlm Bahasa Batak(Ompung Simulajadi Nabolon) Uli ni hata Batak i ate !
Group kami: par Rura Silindung,Silimbat,Lumban Lobu,Tutktuk, Sipirok,Janjimauli,Unte Mungkur, Muara,Onan Hasang, Par-Itohan,Dolok sanggul,Parbubupea. Apakah itu di KJRI Hamburg,Frankfurt sampai ke Munich.Kami selalu menyanyikan:”O Tano Batak”! Kami selalu memakai Bhs Batak. Kalau kami/kita tdk memakai Bahasa Ibu, siapa lagi ??? Disatu waktu Budaya kita itu akan lenyap/hilang.Hai generasi Muda, selamat kan lah Budaya kita itu !!! Masih ada waktu dan belum terlambat.
Godang tabe/Horas jala gabe!
15 Oktober 2007 at 6:49 pm
Horas ampara Dian Sidauruk,tung mansai uli jala denggan do tulisan munai bah…
Alai huhut nai didia hamu tinggal di Bali jala didia asal muna di simanindo?
Alana sarupa do hita ampara,alai ahu par Sinuan Raut Bosi. Ise ma horong muna di Simanindo na tinggal diluat i nuaeng?
Mauliate.
Tolong jo kirim hamu email dan buku atau artikel tulisan munai ate, tu alamat berikut:
TB:Pharos Media
Jl.Setia Budi No.466A
Tj.Sari -Medan
Tel:061-8220590
Fax:061-8363229
HP:081361622199
085276554795
Email:Pharos_media@yahoo.co.id
Mauliate godang.
16 Oktober 2007 at 1:48 pm
Horas tu Ito Dian dan Maruhum,
Alangkah kecilnya dunia sehingga kita bisa ketemu di blognya bang Jarar ini. Mansai las roha boi pajumpang dohot angka Sidauruk di son. Molo au Sidauruk sian Sinuan, Simanindo tepatnya dari huta Saitbuttu berbatasan dengan Lumban niulahan sebelah kiri apabila mengahadap danau, Lumban sada, Malau dan Binanga. Coba cek di oom google ketik yunita sidauruk pasti deh riwayatku terpampang disono ha…ha…ha…ge er sikit boleh dong:)
Sekarang posisi di Jakarta, anak dua, suami satu.
Horas,
19 Oktober 2007 at 1:26 pm
@ Pandapotan MT Siallagan
Horas bah, pilit saotik alana sarupa do alumni universitass alai sian IPB do (masuk ‘97 dipasuda ehh di wisuda ‘02 jadi pas fuang jatah 5 taon sabass na di kampus i)
Alai nang pe songoni salam kenal majolo di hamu.
24 Oktober 2007 at 3:51 pm
@ Ito Dian
Terlambat aku fuang membaca artikel ito ini.
Ketemu lagi aku daba ito sama oknum Marga Sinambela itu eh boru Nambela itu.
Kufikir, tak mau aku menghakiminya, kutanya baik-baik, “Boasa dang olo haroa kakak marhata batak?” (kenapa rupanya kakak ga mau berbicara dalam bahasa Batak?)
Dia jawab,”yang malunya aku dek, karena batak itu kan identik dengan pencopet, penjambret dan pengganda uang”
Hualusi ma attong “so adong nian diantara natolu i rumang ta ”
(kan tampang kita ga masuk kriteria ketiga itu)
Udah ga bisa dialusi lagi bah………
25 Oktober 2007 at 9:45 am
Kadang2 banyak dari orang2 kita yg kurang mantap pola pikirnya, ntah apa yg di malukan klo di kenal jadi orang batak.
Justru awak bangga di sebut orang batak, ada jati diri awak yg tulen. Ai bangso Japan dang maila mamakke baju daerah manang marbahasa japan di tano ni halak, alai anggo hita holan margeser saotik tu bariba ni laut gabe mago ma habatakon na (bangsa jepang aja gag malu pakai baju daerah atau berbahasa jepang di daerah orang lain, beda dengan kita yg cuma pindah satu pulau udah langsung kehilangan kebatakannya).
Gimana kita mau maju, ciri khas kita aja udah mulai kita hilangkan, seharusnya ciri khas itu wajib di pertahankan supaya kita bisa memiliki jati diri yang kuat dan jadi bangsa yang maju.
Aku rasa orang2 yang kehilangan jati diri adalah orang yang benar2 goblok dan kolot. Matte ma hamu sude na maila gabe halak batak i. Tu lombang an hamu mangalumpati (mati aja kalian semua yg malu jadi orang batak, loncat aja kau ke jurang) Lakkiap wkawkakwkawk
25 Oktober 2007 at 11:33 am
@Ito Desy Hutabarat.
Yah…ito, pastilah ada alasan mengapa kita bangga dan mengapa kita malu. Kalau lebih banyak orang Batak yang berperilaku terpuji, saya kira tak satupun orang Batak yang malu memberitahu dirinya Batak, tetapi kalau yang terjadi adalah sebaliknya, pastilah banyak orang Batak malu jadi orang Batak. Agar tidak malu marilah kita saling menghimbau agar gaya hidup yang seperti ito sebut di atas dapat terkurangi dan semakin hari semakin berkurang.
30 Oktober 2007 at 9:44 am
Horas ma dihita saluhutna.
Horas lae Sidauruk, ahu marga Lumban Tobing, magodang dohot marsikkola di Tarutung. Mansai taruli huhilala manjaha angka siringkot-ringkot nasinuratmuna, suang songoni nasinurat ni angka dongan na asing; sombu siholhu. Ima taringot tusi.
Somalna do peamna ( alah bisa karena biasa ) apa sudah benar terjemahannya ya ? tolong koreksinya.
Adalah menggelikan bila ada kawan kita malu menjadi orang Batak, karena identitas Bataknya itu suatu waktu pasti muncul tanpa disadari ( tampak aslinya ). Biasanya dari logat, aksen bicaranya all. tidak bisa membedakan “e ” benar dan lemah. Ada kawan saya yang fasih berbahasa Sunda tapi dari bicaranya kita terus tahu dia orang Batak. Jadi sangat menggelikan bila seorang kawan Batak berbahasa Indonesia mengucapkan ” kan ” menjadi ” ken ” dengan ” e ” lemah. Dimana identitas habatahonna ?
Salah satu kebanggaanku adalah membatakkan pardijabu – ibu dari anakku; ( sebenarnya dia batak tapi bahasa batakna marpasir-pasir songon halak jau marhata Batak, suaranya halus lagi, maklum dibesarkan dilingkungan non Batak.) Tempo 2 tahun ketemu sama simatua boru, beliau bertanya ” ai aha do dibahen hamu Tobing umbahen na muba si ****( nama isteri saya ), nga songon na leleng ibana berengon magodang di huta. ( Apa yang kamu buat Tobing, sepertinya si ****** banyak berubah, seperti sudah lama dibesarkan di kampung. )
Cerita yang lain, dalam suatu rapat kerja nasional dari perusahaan tempat saya bekerja, pada saat istirahat, ketemu dengan dongan Batak ( ada yg baru kenal, ada satu alumni dlsb ), biasa kalau orang Batak sdh ketemu terus bikin partungkoan, marpungu. ( barangkali ini salah satu sisi kekurangan kita sbg. orang Batak dirantau ). Kami berbicara dalam bahasa Batak, maklumlah naeng patagashon sihol laho marpollung ( melepaskan rindu untuk berbicara dlm bahasa Batak ) kan aneh rasanya bicara dengan kawan Batak dalam bahasa bukan Batak. Terus ada kawan ( bukan halak Batak ) berkomentar:
” Lho, biasanya kalau orang Batak kumpul lebih dari 2 orang akan bikin paduan suara ( koor ), ini mau bikin makar ya ? ” Lantas saya jawab ( dengan versi Jawa tapi logat Batak ) ” Itulah lah kau, baru sekali kami kumpul kau sudah keberatan, sedangkan kalian kumpul aku tidak pernah keberatan “. Kami sama-sama ketawa, sama-sama mengerti karena kawanku itu adalah orang Jawa yang dibesarkan di Medan. Apa maksud nya versi Jawa logat Batak ? Karena dalam versi Batak logat Batak ucapan saya menjadi : ” Apanya kau, baru sekali aku berbahasa Batak kau sudah keberatan, kalau kau seringnya kudengar berbahasa Jawa aku tidak keberatan “.
Songoni ma jolo sahat ni hatanghu, hataon hata tambaan, ditambai angka dongan. Horas.
31 Oktober 2007 at 11:40 am
@alonta, eh sala tulisnya aku, yang benar kan olanto!
Horas lae Tobing. Alangkah senangnya bila kita bisa berbagi berita walau hanya lewat blog ini. Terimakasih sebesar-besarnya kepada lae kita Jarar Siahaan yang telah sungguh-sungguh berusaha membuat dan mengelola blog. Inilah salahsatu tempat kita bertemu dan saling berbagi.
Terimakasih atas masukan lae lewat komentar ini, membuat saya semakin merasa bahwa hampir tak mungkin kita bisa menyembunyikan kebatakan kita, dan sebenarnya, mengapa kita menyembunyikannya? Menurut analisa dan pengalaman saya, logat Batak adalah logat paling khas dan paling saya sukai bukan karena saya batak tapi karena jelas dan bervolume besar (bongor). Dengarlah logat Batak nya si Tigor di acara “PARA SUAMI TAKUT ISTRI” di TV. Saya senang mendengarnya dan membuat saya lebih bangga lagi sebagai Batak. Siapa yang tak bangga jadi Batak? Yang tak bangga jadi Batak adalah yang tak mengerti tentang Batak dan banyak Batak tak mengerti apa dan siapa Batak. Ok lae Tobing, salam hangat saya dari Bali.
28 November 2007 at 7:40 am
Halo….salam kenal bwt semua ya…
saya desmon dari janjimauli sipirok…
aq mo cari orang sipirok…n yang tau desa janjimauli….
kalo ad kirim ke email aq ya…sibodak@yahoo.com
28 November 2007 at 7:45 am
tolong hamu au bah..di hamu angka naung sukses….
nga bosan be pengangguran on….
au S-1 pertanian…molo dong naeng membutuhkan tenaga kerja…
siap….baen hamu boa-boa tu hami (sibodak@yahoo.com)angka pengangguran on…
mauliate…
HORAS..