[viky sianipar; batak news; TUHAN adalah musisi paling hebat]

Karena ikut mengaransemen lagu Ramadan dan membiarkan bayinya didoakan secara Islam.

Viky Sianipar“Kafir-mengkafirkan” pun terjadi dalam agama Kristen, dalam bentuk berbeda. Istilahnya “domba yang hilang” atau “domba tersesat” — tidak persis sama dengan istilah kafir dalam agama Islam, tapi esensinya tak berbeda: menuduh seseorang telah meninggalkan Tuhan.

Artikel di bawah ini adalah gabungan dua komentar yang ditulis Viky Sianipar pada artikel-artikel sebelumnya di Blog Berita. Viky adalah [ehem! sebenarnya kalian sudah tahu] musisi muda Batak yang memerangahkan dunia musik kita. Ingat antara lain dua albumnya; Toba Dream dan Indonesian Beauty. Gaya bermusiknya adalah etnik-kontemporer. Sebab itu dia lihai memainkan alat musik tradisional Batak dan Jawa misalnya. Dia mengkawin-campurkan irama musik daerah dan musik masa kini. Horas Banyuwangi adalah salah satu tembang racikannya. Bubuy Bulan? Itu juga lahir dari tangannya. Viky pun manggung pada pentas musik dunia, Java Jazz Festival. Tiga minggu sebelum wafat, penyanyi legendaris Chrisye menyanyikan satu lagu pamungkas, berjudul Lirih, di studio; dan yang dipesankan mengaransemen lagu ini adalah Viky Sianipar. Sudah ah, baca saja sisi lain pribadi Viky: pemikirannya tentang beragama dan ber-Tuhan.

LAE JARAR, SALAM kenal. Sudah sering denger blog ini. Dan sering baca-baca, tapi baru kali ini nulis komen karena gemes. Namaku Viky. Putra Balige. Tapi lahir, grow up dan bertempat tinggal di Jakarta. Hehehe.

Salut buat tulisan lae di atas. Aku yakin kalo lae satu pandangan dengan aku. Karena aku pun senasib.

Aku sering dibilang “kafir” karena bukan Islam. Aku sering dibilang “domba yang hilang” sama orang Kristen yang “paling ngerti Kristen”. Karena aku suka main gondang, mengaransemen musik Ramadhan, suka mempelajari budaya tradisional Batak, pernah ikutan ngaji di mesjid sama ibu mertuaku [walaupun cuma ikut berdoa dengan caraku sendiri karena mereka berdoa menjalankan ritual “4 bulanan” kandungan istriku], dan kadang-kadang aku berdoa secara Kristen dengan menyebut Tuhan Mulajadi Nabolon. [Mulajadi Nabolon adalah sebutan bagi Tuhan dalam ajaran Parmalim, "agama pertama" orang Batak -- penjelasan Blog Berita].

Bingung aku melihat mereka. Kok ada ya orang yang memahami agamanya setengah-setengah. Sipanggaron pulak [sok-sokan pula]. :) Mereka terjebak dalam doktrin agama.

Mereka belum bisa melihat betapa besar kuasa Tuhan ini. Betapa kecil kita ini dihadapan-NYA. Masih banyak yang kita belum ketahui tentang rahasia alam/Tuhan. Eh, mereka malah “play God” dengan menyebut orang lain “kafir” atau “domba sesat”. Mending kalau sudah berbuat. Gak usahlah dipikirin. Kita doakan saja mereka semoga sehat-sehat selalu.

Assalamualaikum wrml hwbrkt! Syalom!
Indah kali rasanya dunia kalo semua orang bisa berfikir se-universal demikian. Tanpa terperangkap dokma-dokma Agama. Kalo menurut saya dari sudut pandang seni musik:

Harmony itu timbul karena ada perbedaan. Musik yang nyaman timbul dari berbagai macam instrumen yang berbeda karakternya, ditata kapan mereka berbunyi, ditata keras-lembutnya. Bahkan ada instrumen yang bunyi hanya sesekali dalam sebuah lagu (seperti timpani, cymbal, triangle, dll) tapi lagu itu terasa hambar kalau instrumen tersebut tidak ada. Bayangkan kalau dalam satu lagu hanya ada bass, atau hanya ada cymbal sepanjang lagu. Tidak akan timbul HARMONY.

Dari analogi itu saya coba bawa ke konsep ke-TUHAN-an. Menurut saya Tuhan itu MUSISI/SENIMAN paling TOP se-jagad, gak ada duanya. TUHAN menciptakan segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang sama satu pun. Saya yakin semua perbedaan itu dibuat-NYA untuk menciptakan harmony selayaknya musik.

Bayangkan bila semua pohon di dunia ini sama, hanya pohon kelapa; bayangkan bila semua orang mukanya, tingginya sama persis gak ada beda, gak ada laki dan perempuan; bayangkan bila terang terus sepanjang hari, atau gelap terus sepanjang tahun; bayangkan hanya ada satu suku di dunia ini. Iiih…, saya gak kebayang deh, dunia jadi gak colourfull.

Lalu saya bayangkan kalau cuma ada satu agama di dunia ini. Wah, pasti gak ada yang namanya toleransi. Mungkin dunia malah akan kaca. Karena menurut saya, toreransi beragama itu merupakan SENI dalam bermasyarakat yang akan menjadi indah kalau tercipta HARMONY.

Saya jadi teringat, di band saya ada beberapa orang beragama Islam, tapi kami beberapa kali perform di acara natal, pesparawi HKBP, KKR, dll. Mereka yang Islam nyantai aja tuh. Menurut mereka lagu rohani sama saja. Ujung-ujungnya buat Satu Tuhan juga. Beberapa kali kita juga main di acara halalbihalal yang membawakan lagu-lagu bertema Ramadhan. So what gitu loh!

Satu contoh lagi, pemain biola saya, Tengku Ryo (muslim yang taat), jadi lead instrument mengiringi pengantin di acara wedding-nya lae Charly Silaban, memainkan lagu “Tuhankulah Gembalaku” (Kidung Jemaat).

Jadi buat apa sih ribut-ribut membeda-bedakan agama. Nikmati ajalah seninya. Create Harmony! Peace! Wassalam! Haleluya! [www.blogberita.com]

Artikel terkait:

Silakan bila ingin mengutip artikel atau memakai foto dari blog ini, dengan syarat menyebut sumber. Bila dikutip untuk website, blog, atau milis, maka tuliskanlah sumbernya www.blogberita.com dan buatkan link ke artikel bersangkutan. Bila dikutip untuk koran, majalah, bulletin, radio, televisi, dll, maka tulislah/sebutkanlah sumber kutipannya; www.blogberita.com.


  1. Septi

    @ JONGGARA
    SAYA TIDAK SETUJU ANDA MENULIS “TAI KUCING SEMUA PEMELUK AGAMA” KALAU ANDA MERASA SEPERTI TAI KUCING, YA ANDA SENDIRI DONG BEGITU, JANGAN BAWA-BAWA ORANG LAIN.

    ANDA TULIS, SIAPAPUN YANG MELINTSA DI BLOG INI, AGAMA TIDAK PANTAS DIPERDEBATKAN.” MEMANGNYA SIAPA YANG MEMPERDEBATKAN AGAMA DISINI??? JUSTRU YANG DI SOROTI PENULIS KOMENTAR ADALAH OKNUM PEMELUK AGAMA ITU KARENA SESUKA HATINYA MENGKAFIRKAN ORNG LAIN

    KEMUDIAN SAYA INGIN BERTANYA, ANDA NGOMONG, BERIBADAH JANGAN RITUAL SAJA. (MAKSUD ANDA HARUSNYA GIMANA? APAKAH ANDA SENDIRI SUDAH MELAKUKANNYA?)

    LALU, BERDEBAT JANGAN CUMA TEGANG URAT LEHER SAJA. (MAKSUD ANDA KALAU BERDEBAT HARUS GIMANA?) ITU AJAH….

    BATAK NEWS: pren, tolong lain kali menulis komentar jangan pakai huruf kapital semua.

  2. jonggara

    @septi
    kamu bisa aja tidak setuju ‘ tai kucing semua pemeluk agama’. itu hakmu. aku tak bilang penulis blog ini mempersoalkan agama. aku hanya mempertegas agar debat tidak lari dari obyeknya; oknum yang mengkaburkan agama.
    sep, sesungguhnya apakah kau tau makna kafir itu? jika tau tolong jelaskan padaku….
    nah, ’soal berdebat jangan cuma tegang urat leher’. aku bisa berdebat tidak tegang urat leher. apakah kau bisa?

  3. @ Lae Jarar

    kukatakan picik, bukan berarti aku bermaksud mengatakan tak ada toleransi. justru dalam toleransi sekalipun, mungkin seseorang masih bisa picik. dalam kultur pop, atau mass culture kita kontemporer, moralitas pun bisa dijual. SCTV menayangkan acara Toloooong, misalnya, adalah dalam rangka jualan. tanpa kesampingkan saja rating atau kue iklan yang masuk sebagai penyeling acara itu, tapi menurutku itu tetap jualan. jualan moral. komodifikasi (bukan modifikasi) moral. ada upaya kapitalisme mengkomoditikan moral di sana sebagai sebuah produk. jadi jualan yang kumaksud di sini adalah dalam tataran seperti itu. bahwa aku tak suka diskursus soal agama lewat multimedia, karena sadar atau tidak, kita sebenarnya sedang terjebak dalam provokasi IT, juga simulasi interaksi sosial yang kemudian kita bangun. lalu orang-orang bergabung, ikutan, atau tak sadar larut. padahal orang-orang yang lebih bertanggungjawab soal itu, seperti sintua, vorhanger, pendeta, ustad, kiai, mungkin ‘terasing’ dari akses atau komunitas atau simulasi sosial yang kita idealkan ini. ini yang kumaksud tak adil, picik dan jualan, yang belum tentu esensial dan subtansial.

    nah, soal sudut pandang pembaca, itu juga yang kumaksud picik. tentu tak semua pembaca blog ini semoderat, seuniversal dan sedemokratis kita. kalau satu orang saja kemudian tersulut, lalu membangun komunitas yang mengarah pada doktrin pembencian, tidakkah itu buah kepicikan kita. idealisasi pemahaman kita yang universal, laeku, tak sesungguhnya bisa beroperasi secara tepat dalam model-model interaksi seperti ini. idealisasi, tentu saja lewat komentar-komentar dan perdebatan kita di sini, sesunguhnya hanya subtitusi realitas dan simulasi sosial yang juga masih memerlukan diskusi dan telaah panjang. bukankah perdebatan soal psikologi massa dan provokasi IT tak kunjung tuntas? Itu yang kumaksud laeku. tapi mantaplah. aku akan selalu mendebatmu, biar makin hidup dialektika kita. aku bangga padamu. terus terang, kenapa tak dari dulu, sewaktu masih satu atap, kita saling berinteraksi. hidup jarar. hehe

    JARAR SIAHAAN: hidup pandapotan! soal “atap” kita dulu, kau pasti pahamlah suasana di sana. untunglah aku segera keluar, maka tinggallah sekarang kau, alvin, dame sebagai orang “sinting” di sana. :) dame tahu benar keras kepalaku.

    kapan-kapan kuberi padamu link beberapa blog, situs, dan milis internet yang membicarakan agama dengan sangat vulgar dan kasar. di sana pihak nasrani dan muslim saling menghujat bahkan memaki-maki nabi. mereka memperdebatkan ayat dalam alkitab dan ayat dalam alquran. benar-benar panas, dan pemilik blog tidak menyensor komentar sama sekali, dibiarkan apa adanya. apa tujuannya? jualan! supaya hits pengunjung tinggi. dan uang! karena situs itu memasang iklan ad-sense dari google dan lainnya, yang memang akan dibayar makin mahal bila makin banyak hits. blog jenis inilah yang lebih tepat pada kata “jualan” yang kausebutkan. juga termasuk tivi yang sengaja bikin acara “provokatif” demi iklan. blogku? sama sekali tidak jualan. kalau aku jualan atau gila hits tinggi, pasti kuloloskan komentar-komentar yang menyulut tadi.

    sementara aku menulis isu-isu agama di batak news dari perspektif dan dengan gaya berbeda. orang tidak akan “tersulut” berlebihan membaca blogku. kalaupun ada, pasti kuhapus, karena itulah setiap komentar kumoderasi lebih dulu. kubongkar sedikit rahasia untukmu, sejak dulu banyak komentar yang ingin “memancing” masuk ke blog ini tapi kuhapus, termasuk komentar yang mempromosikan agama. bahkan sering kawan muslim menyanjung-nyanjung islam sebagai agama paling hebat dan membuat argumentasinya sembari mengutip ayat kitab, tapi komentar itu kutolak. bayangkan, aku seorang muslim tapi aku tidak membiarkan promosi agamaku di sini. semoga kau makin paham apa misi yang kuemban dengan artikel-artikel agama di sini. teruslah menulis dan berkarya, kawanku, demi kemanusiaan.

  4. @ Septi :
    kapsloknya rusak ya mas? :D

  5. Nina

    maaf agak OOT dikit, aku memang suka sama abang ini.
    Bang Viky, aku sangat suka dengan lagu Pisau Surit mu. Maklum aku orang karo yang nggak pinter2 ngomong karo. Jadi setiap dengar lagu itu, aku merinding. Apalagi suka dengar suara kak Mega. Benar-benar perpaduan yang mantap.

    Kembali lagi nih soal perbedaan, setuju dengan kata bang Viky, nggak mantaplah kalau semua sama. Aku membayangkan gimana ya kalau semua orang di dunia ini wajahnya mirip Jonggara atau bang Jarar ya?
    Kan aneh, atau semua orang beragama satu? Kan kita nggak punya pilihan untuk berjalan sesuai dengan keinginan kita.

    Tuhan sendiri telah menciptakan dunia dengan segala perbedaan, mulai fisik, sifat dan agama. So? ngapain kita memikirkan perbedaan. Terus soal cara beribadat seseorang dalam agama apapun kan kembali soal hubungan si hamba dan Tuhan.

    nb : bang dan bang Dapot berdebat aja terus. Aku suka. Karena yang kalian debatkan bermutu.

    JARAR SIAHAAN: bah, sudah pintar kau sekarang jadi kompor, ya. elpiji pulak itu. :D

    gantianlah, nina, jangan aku vs dapot terus. bisa makin kerempeng aku nanti, apalagi puasa pulak. babak-belur aku nanti. sesekali kaulah dulu berdebat sama alvin, dll. ayolah, pancing dulu sebuah topik. atau, kau nyanyi sajalah dulu, tulis liriknya, atau nulis puisi.

  6. Ompu Matasopiak

    Mungkin Viky Sianipar ’shock’ dgn goyangan seperti itu, atau ketika suatu ketika dia malah dituduh ‘merusak keaslian musik Batak’. Karena Viky Sianipar sendiri dibesarkan dalam ‘peradaban tinggi’, serta sudah melihat banyak hal (misalnya, ketika Viky, kalau tidak salah, pernah hidup di US), dan pasti heran dgn tuduhan-tuduhan ‘kampungan’ macam itu. Adapun yg mem-vonis Viky sebagai domba tersesat, cuma fanatik-fanatik ndeso yg sama sekali tidak mengerti apa yg diucapkannya sendiri. Musik itu universal, Budjana yg beragama Hindu pun sangat bangga dan serius menggarap tembang-tembang bernafaskan Islam dalam grup GIGI.

    Aku jadi teringat, kisah beberapa tahun lalu di Bandung, saat itu aku meminjam gitar temanku si A, yg sangat fanatik dgn persekutuan doanya. Seperti biasa, aku menyanyikan 2-3 tembang Batak dgn santai, ketika tiba-tiba si A datang dan menegurku, “maaf, gitar itu hanya dipakai untuk memuji Tuhan, tidak untuk lagu-lagu duniawi, tolong kembalikan”.

    Aku langsung terdiam, juga malu karena kejadian itu disaksikan banyak orang, aku langsung membeku selayaknya terpidana mati yg tak lagi punya pembelaan, tak sepatah katapun yg bisa kuucapkan, maksudku, itu memang gitar kepunyaan dia, dan dia berhak memintanya dariku dgn alasan apapun, kendatipun alasan yg kudengar kali ini sangat konyol! Mungkin orang-orang seperti si A inilah yg sudah menghakimi Viky dgn sebutan ‘domba yg tersesat’. Dalam kalangan internal saja dia sudah se-begitu fanatiknya, bagaimana dia bisa mengembangkan toleransi dgn pemeluk agama lain?

    Viky Sianipar, tetaplah berkarya, kami mendukungmu, bahkan kalau album Ramadhan-mu sudah dirilis, aku akan jadi orang pertama yg membelinya!

  7. SMN

    Aku setuju bahwa toleransi dalam beragama itu harus dilakukan terus-menerus, jangan fanatik berlebihan, perbedaan pasti ada tetapi bukan berarti harus dipermasalahkan. Pelangi, karena perbedaan warnanya jadi indah kita lihat, kalau saja hanya 1 warna, maka pelangi tidak seindah yg sekarang kita lihat. Kalau saja warnanya bertumpang-tindih karena salah satu warna ingin dominan, nggak indah lagi. horas!

  8. Charlie M. Sianipar

    Horas Anggia,

    Betul. Harmony itu sangat penting.
    Dalam musik, dalam keluarga, dalam bisnis, dalam kehidupan sosial.
    Dalam segala hal, harmony itu indah.
    Ada yang tidak setuju dengan H A R M O N Y?

  9. def_fan

    music is my religion, my soulmate, and my life…

  10. Jekson Sinaga

    Benar .. saya sangat setuju sekali, perbedaan itulah yang menimbulkan harmony. Tadi pagi saat berangkat kerja, muncul dalam pikiran saya, benarkah Tuhan itu maha adil?

    Jika Tuhannya Kristen Maha Adil, lalu kenapa dia menciptakan si A di tengah-tengah keluarga suku yang agama Kristen masih belum sampai kesana? Lalu menciptakan si B ditengah-tengah keluarga Kristen yang dari kecil pasti mendapat ajaran agama Kristen? Jika Tuhannya Islam Maha Adil, kenapa ada orang tercipta ditengah\tengah keluarga yang tidak mengenal ajaran Islam? Lalu dimanakah ke Maha Adilan Tuhan itu? Bagai mana adil jika seorang diciptakan ditengah keluarga yg dari kecil mengajari dia Agama, dan yang lain di ciptakan ditengah keluarga yg mungkin sampai matinya tidak akan mengenal agama? Atau jangan-jangan dia tidak berkuasa untuk menciptakan semua manusia sama? ah jadi dimana ke Maha Kuasaan-Nya?

    Pikiran ini semakin meyakinkanku bahwa Tuhan menciptakan kita berbeda untuk menciptakan Harmony yang indah. Biarlah kita menjalankan bagian yang harus kita lakukan, walau hanya sekali-sekali berbunyi tapi ikut menimbulkan harmony yang indah.

  11. @ Ompu…
    Huhuhu…saya nangis beneran ini..

    Huhuhu…
    Tuhan, saya cuma punya 1 gitar…
    Saya pakai buat nyanyi lagu jasmani dan lagu rohani…
    Boleh kan??!!

  12. Viky.. aku suka musik hasil karyamu… terutama Piso Surit… tetap berkarya ya!
    Masalah domba sesat atau apa pun itu… bodo amat lah… dia akan di hakimi sesuai cara dia menghakimi orang lain…
    GBU!

  13. icat marbun

    JARAR SIAHAAN: siapa yang jualan? apakah engkau pikir aku cari uang dengan menulis isu-isu agama di blog ini? apakah kau pikir blog ini blog bisnis atau blog ber-ad-sense yang mendapat pemasukan iklan lewat hits pengunjung? tidak, pren, batak news bukan blog seperti itu.

    semoga bang JJ tetap pada jalanya.. :D

    I like this blog, HORAS !!

  14. Tariiiiiingot au…
    Taringot au au uju tinggal di huta
    Taringot au… tua angka dongan magodangi…

    Itu sajalah komentarku… Enaknya main gitar sambil nyanyi memang ini… Mainkan dulu gitar kita itu Bang Viky, biar nyanyi aku… Tambu tuak i Bang Jarar…

    JARAR SIAHAAN: bah, puang, jadi lain kutengok tonggo kali ini, agak sendu, melankolis. ada apa tonggo? lagi berbunga-bungakah hatimu baru ketemu kekasih? okelah, tambu tuaknya. hajaaarrrr! :D

  15. Monang Naipospos

    Selama musik masih ada yang mendengar, mainkan terus. Soal siapa yang meminta tetap layani, soal untung rugi material tergantung masing-masing. Musik harus jalan, suara hujan, kokok ayam, tangisan bayi bagiku adalah melodi, adalah irama musik kehidupan. Soal Vicy mengaransir musik Ramadhan adalah professi. Irwansah Harahap (yang Islam) pernah mengakui menata musik Arbab, saya tau Irwansah tidak dapat serangan, tetapi kenapa dengan nasib Viky?

    Jangan ragu Viky, gondang Batak juga akan kita dokumentasikan dan kita publikasikan dari Sibarbar Losung hingga Ujung Dunia, banyak yang bertentangan dengan gondang maka siap siaplah dapat serangan kedua.
    -
    Purpar Pande Dorpi mantat Tu Dimposna, Sip Parmihim-mihim mantat Tu Hotokna. Leluhur kami mengatakan begitu dan saya pedomani saja. Bila memasang dinding papan selau ribut, hasil akhirnya rapi. Orang penghianat, pecundang selalu diam menjalankan rencananya, resikonya adalah kacau. Debat dapat menghasilkan pemikiran jernih, tapi hindarilah emosi. Berkaryalah biar dunia mendengar dan merasakan.

  16. jaya

    tertarik dengan diskusi bog ini. memperbincangkan harmony kehidupan yang tidak bakalan ada habisnya. saya sangat setuju bahwa dunia dan hidup ini penuh warna dan perlu disadari BAHWA SEMUANYA TIDAK ADA YANG SALAH. ingat, lalu Tuhan melihat semua yang diciptakanya itu baik.
    jadi tergantung bagaimana seseorang memandang. kalau pikirnnya hanya punya warna lima dan ortodoks sulit untuk terima perubahan dan perbedaan ya…. dia akan bilang warna ke enam dan seterusnya salah.
    setuju atau tidak, semua hal dalam kehidupan ini saling melengkapi dan selalu punya dua sisi. seandainya tidak ada hitam, manusia tidak akan tau bilang putih. seandainya tidak ada terang mata tidak akan pernah melihat gelap. syukur ada orang yang berwajah pas-pasan supaya yang wajahnya lumayan, diakatakan god looking. sangat bagus ada orang yang gemuk, overwight, obesitas supaya orang tau bilang langsing itu indah.
    tergantung bagaimana manusia mengkombinasikan semuany supaya menjadi suatu harmony yang indah.
    bagaikan musik; terkadang mayor, terkadang bunyi gelap dari minor, terkadang falset terkadang fortessississimo (sangat kuat) dan terkadang pianississimo (sangat pelan). semua dikombinasikan jadi indah.
    bahkan Tuhan menyatakan dan memperkenalkan dirinya melalui semua yang ada ini semua hal yang dia ciptakan.

    namun dalam hidup perlu prinsip. bagaikan ya dan tidak. perlu suatu kepastian, jangan abu-abu. sama seperti keyakinan. kurang baik jika melayani dua tuan, bisa pusing dang stress, karena belum tentu yang dikatakan kedua tuan tersebut sama.
    saya bukan mau bilang pilihlah ini atau agama yang itu.

    yakini apa keyakinanmu, ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.
    dalam proses menguji inilah proses belajar, boleh belajar agama kristen, agama islam, agama sinkritis atau yang lain namun bukan berarti kita menjadi pemeluknya. saya setuju dengan apa yang dikatakan diatas, justru dengan masuk islam saya semakin tahu kebenaran kristen. artinya dengan melihat sesuatu dari sisi yang berbeda kita boleh llihat keindahan atau kebenarannya

    harmonisasikan keseharianmu jadi ibadahmu.
    toh segala sesuatu akan terlihat pada akhirnya. kamu kafir ato domba binal ato domba sesat. ato kamu malah jadi gembala
    selamat beribadah.

  17. Waduh.. aku gak nyangka bang Jarar jadi nulis topik ini.. Ngeri kali kau bang… :) jadi malu aku ini… hehehe

    Terus terang aku sudah keluar masuk berbagai macam blog batak, tapi baru di Batak News ini aku tertarik untuk “jump in” mengikutinya. Walaupun aku belum kenal bang Jarar itu siapa.. tapi dari tulisan2nya, gak tau kenapa, yakin kali aku kalo beliau ini punya pandangan yang sama denganku… sama gilanya :)

    @ Lae Pandapotan & Bang Jarar
    Seru kali perdebatanmu itu.. tingkat tinggi ilmu kalian bah.. gak sampe otakku.. hehehe.

    Terus terang, dulu (awal2 waktu mulai nekat masuk ke musik Batak, jaman baru kluar album pertama, Toba Dream1) aku memang “cengeng”. Gimana gak syok lah, dicekam media2 Batak, natua-tuai, pemuka adat dll. Sampai aku nyaris mau balik lagi ke musik POP (popular). Tapi berkat dukungan sekeliling, keluarga, kawan2, orang tua, dan bahkan leluhur-leluhurku (yang kuyakini), skarang aku sudah gak peduli dengan ocehan semua itu. Sebodo teing! EGPACC (Emang Gua Pikirin Ah Ciuhh..Cuihh hehehe).

    @smua temen2 di BatakNews: Salam Kenal.. Tks buat supportnya.

    Seperti kata Ito Frida dan Ompu Matasopiak, aku gak akan jawab julukan2 negatif itu dengan kata2, tapi dengan KARYA. Horas!

    JARAR SIAHAAN: janganlah panggil aku abang dan beliau. tak kuat imanku. tak sanggup jantungku. :D lagian umur kita beda tipis saja. kalau dipanggil abang, aku takut jadi kayak abanganda-abanganda di medan yang merasa senior itu. oke ya, lae? kalau masih panggil abang, kuhapus nanti komentar lae. :D

  18. aku lagi dengar….ta pasada ma rohatta tu hadengganon i…ooo ale bangso Batak……..tapature ma hutatta. lalu diselingi dengan suara seruling khas parmahan. hidup imaji Bona Pasogit di kepalaku.

    @lae viky, tahu ga lae kalo Tigor Situmorang ’sirik’ sama lae. hehe. aku berkali-kali ketemu dia di Pematangsiantar dan dia banyak ngoceh tentang musik batak, yang katanya harus mengikuti zaman, kontemporer. aransemen modern. dia juga seide dengan lae, ‘menduniakan’ musik Batak, memodernkan lagu Batak, tanpa harus menghilangkan kekayaan musik tradisi itu. tapi, agak usillah dulu aku, ada apa antara lae dengan Tigor Situmorang itu. agak kurang sedap ya? hehe.

    Oya, dengan Mega Sihombing juga aku ketemu, dan ngobrol sesaat. ingatkan dulu dia bah, agak sombong kutengok sikit. hehe.

    mari kita duniakan musik Batak. cara berpikirku sederhana saja. Ada Blues yang berangkat dari musik tradisi, tapi bisa mendunia. musik batak juga bisa toh? kita lupakan sajalah era Joel Simorangkir dan Charles Simbolon. hehe. Viky adalah pencetus avant-garde musik Batak itu. horasssss!

  19. Salam mas Vicky, lagu2 dan aransemenmu bagus dan unik. Kutunggu karyamu yg baru!

  20. Aku beruntung bisa ketemu langsung sama yang namanya Viky Sianipar. Dan disela pembicaraan yang resmi kamrin malam di markasnya, aku sempatkan singgung sedikit soal blog ini. Disinggungnya pulak soal parmalim itu. Hehehehe…Salam hormatku buatmu Lae kandung !.

    Seperti kata Lae Jarar kepadamu dan kubilang tadi malam waktu kita ketemu, janganlah aku dipanggil Amangboru hanya karena kunikahi Boru Sianipar :-D .

    Kepengen kali pun aku dan teman-teman yang lain ngeliat Lae memBatakkan Natal kami itu. Cuman, apa daya budgetnya terbatas