[viky sianipar; batak news; TUHAN adalah musisi paling hebat]
Karena ikut mengaransemen lagu Ramadan dan membiarkan bayinya didoakan secara Islam.
“Kafir-mengkafirkan” pun terjadi dalam agama Kristen, dalam bentuk berbeda. Istilahnya “domba yang hilang” atau “domba tersesat” — tidak persis sama dengan istilah kafir dalam agama Islam, tapi esensinya tak berbeda: menuduh seseorang telah meninggalkan Tuhan.
Artikel di bawah ini adalah gabungan dua komentar yang ditulis Viky Sianipar pada artikel-artikel sebelumnya di Blog Berita. Viky adalah [ehem! sebenarnya kalian sudah tahu] musisi muda Batak yang memerangahkan dunia musik kita. Ingat antara lain dua albumnya; Toba Dream dan Indonesian Beauty. Gaya bermusiknya adalah etnik-kontemporer. Sebab itu dia lihai memainkan alat musik tradisional Batak dan Jawa misalnya. Dia mengkawin-campurkan irama musik daerah dan musik masa kini. Horas Banyuwangi adalah salah satu tembang racikannya. Bubuy Bulan? Itu juga lahir dari tangannya. Viky pun manggung pada pentas musik dunia, Java Jazz Festival. Tiga minggu sebelum wafat, penyanyi legendaris Chrisye menyanyikan satu lagu pamungkas, berjudul Lirih, di studio; dan yang dipesankan mengaransemen lagu ini adalah Viky Sianipar. Sudah ah, baca saja sisi lain pribadi Viky: pemikirannya tentang beragama dan ber-Tuhan.
LAE JARAR, SALAM kenal. Sudah sering denger blog ini. Dan sering baca-baca, tapi baru kali ini nulis komen karena gemes. Namaku Viky. Putra Balige. Tapi lahir, grow up dan bertempat tinggal di Jakarta. Hehehe.
Salut buat tulisan lae di atas. Aku yakin kalo lae satu pandangan dengan aku. Karena aku pun senasib.
Aku sering dibilang “kafir” karena bukan Islam. Aku sering dibilang “domba yang hilang” sama orang Kristen yang “paling ngerti Kristen”. Karena aku suka main gondang, mengaransemen musik Ramadhan, suka mempelajari budaya tradisional Batak, pernah ikutan ngaji di mesjid sama ibu mertuaku [walaupun cuma ikut berdoa dengan caraku sendiri karena mereka berdoa menjalankan ritual “4 bulanan” kandungan istriku], dan kadang-kadang aku berdoa secara Kristen dengan menyebut Tuhan Mulajadi Nabolon. [Mulajadi Nabolon adalah sebutan bagi Tuhan dalam ajaran Parmalim, "agama pertama" orang Batak -- penjelasan Blog Berita].
Bingung aku melihat mereka. Kok ada ya orang yang memahami agamanya setengah-setengah. Sipanggaron pulak [sok-sokan pula].
Mereka terjebak dalam doktrin agama.
Mereka belum bisa melihat betapa besar kuasa Tuhan ini. Betapa kecil kita ini dihadapan-NYA. Masih banyak yang kita belum ketahui tentang rahasia alam/Tuhan. Eh, mereka malah “play God” dengan menyebut orang lain “kafir” atau “domba sesat”. Mending kalau sudah berbuat. Gak usahlah dipikirin. Kita doakan saja mereka semoga sehat-sehat selalu.
Assalamualaikum wrml hwbrkt! Syalom!
Indah kali rasanya dunia kalo semua orang bisa berfikir se-universal demikian. Tanpa terperangkap dokma-dokma Agama. Kalo menurut saya dari sudut pandang seni musik:
Harmony itu timbul karena ada perbedaan. Musik yang nyaman timbul dari berbagai macam instrumen yang berbeda karakternya, ditata kapan mereka berbunyi, ditata keras-lembutnya. Bahkan ada instrumen yang bunyi hanya sesekali dalam sebuah lagu (seperti timpani, cymbal, triangle, dll) tapi lagu itu terasa hambar kalau instrumen tersebut tidak ada. Bayangkan kalau dalam satu lagu hanya ada bass, atau hanya ada cymbal sepanjang lagu. Tidak akan timbul HARMONY.
Dari analogi itu saya coba bawa ke konsep ke-TUHAN-an. Menurut saya Tuhan itu MUSISI/SENIMAN paling TOP se-jagad, gak ada duanya. TUHAN menciptakan segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang sama satu pun. Saya yakin semua perbedaan itu dibuat-NYA untuk menciptakan harmony selayaknya musik.
Bayangkan bila semua pohon di dunia ini sama, hanya pohon kelapa; bayangkan bila semua orang mukanya, tingginya sama persis gak ada beda, gak ada laki dan perempuan; bayangkan bila terang terus sepanjang hari, atau gelap terus sepanjang tahun; bayangkan hanya ada satu suku di dunia ini. Iiih…, saya gak kebayang deh, dunia jadi gak colourfull.
Lalu saya bayangkan kalau cuma ada satu agama di dunia ini. Wah, pasti gak ada yang namanya toleransi. Mungkin dunia malah akan kaca. Karena menurut saya, toreransi beragama itu merupakan SENI dalam bermasyarakat yang akan menjadi indah kalau tercipta HARMONY.
Saya jadi teringat, di band saya ada beberapa orang beragama Islam, tapi kami beberapa kali perform di acara natal, pesparawi HKBP, KKR, dll. Mereka yang Islam nyantai aja tuh. Menurut mereka lagu rohani sama saja. Ujung-ujungnya buat Satu Tuhan juga. Beberapa kali kita juga main di acara halalbihalal yang membawakan lagu-lagu bertema Ramadhan. So what gitu loh!
Satu contoh lagi, pemain biola saya, Tengku Ryo (muslim yang taat), jadi lead instrument mengiringi pengantin di acara wedding-nya lae Charly Silaban, memainkan lagu “Tuhankulah Gembalaku” (Kidung Jemaat).
Jadi buat apa sih ribut-ribut membeda-bedakan agama. Nikmati ajalah seninya. Create Harmony! Peace! Wassalam! Haleluya! [www.blogberita.com]
Artikel terkait:
- Justru setelah aku menjadi muslim, aku makin tahu Kristen juga benar
- Siapa berani sebut Bunda Teresa adalah kafir?
- Istri Gus Dur salat magrib di aula gereja
- Muslim berziarah di makam nasrani
Silakan bila ingin mengutip artikel atau memakai foto dari blog ini, dengan syarat menyebut sumber. Bila dikutip untuk website, blog, atau milis, maka tuliskanlah sumbernya www.blogberita.com dan buatkan link ke artikel bersangkutan. Bila dikutip untuk koran, majalah, bulletin, radio, televisi, dll, maka tulislah/sebutkanlah sumber kutipannya; www.blogberita.com.


20 September 2007 at 7:02 am
loh, bukannya musik itu haram ya?
hehe..
*ngacir*
20 September 2007 at 7:03 am
Horas…….
Apapun agama yang kita anut, yang penting hati dan penyerahan diri kita secara tulus kepada Tuhan. Tuhan memberikan wahyuNYA kepada para Nabi dan pelaksanaan tata cara ibadahnya saja yang berbeda. Tapi inti dari semua ajaran agama sama saja. Tuhan tidak menciptakan perbedaan untuk saling memusuhi tapi justru perbedaan itu yang membuat dunia ini makin indah asal kita tahu menghormati perbedaan. Manusia hanya bisa menilai dan mencari kesalahan orang lain tapi apa ada yang mau mengakui kekurangan dan kesalahaan sendiri ? (Ada juga tapi jarang)
Biarkan orang menyebut kafir, domba tersesat atau sebutan apa saja tapi satu yang pasti Tuhan tidak pernah menyebut ciptaan NYA buruk. Biar hanya Tuhan yang tahu benar atau tidaknya diri kita.
Ito Vicky…. tetap berkarya… Jangan hiraukan orang-orang yang hanya bisa menilai dari negatif. Selama Tuhan masih memberi kita waktu untuk berkarya dan menggunakan semua ciptaanNYA yang luar biasa…
20 September 2007 at 7:44 am
Dari semua kata pembuka: Ass Wr. Wb, atau Syaloom (Salam) maknanya sama dengan: HORAS (kira kira: Tuhan memberkati, damailah, salam, sejahtera, bahagialah, sehat-sehat selalu,dll)….kata yang maknanya luar biasa, asli produk lokal batak punya.
Di rumah aku sangat membiasakan kata ini, bahkan di rumah mertuaku yang sering menyebutkan Syalom, dengan kukuh selalu kubuka dengan HORAS.
HORAS
20 September 2007 at 9:20 am
Siapa seh yang suka ribut..??
(siap-siap ngasah golok….)
20 September 2007 at 9:20 am
Itulah Hidup kalau tak ada yang berbeda nanti tak bagus pula, jadi kalau ada bilang lae kafir atau domba sesat yang terbaik menurut aku hanya dinikmati saja, sambil berdoalah semoga yang bilang itu kembali kejalan yang benar dan dia segera menyadari kekeliruaannya , salam kenal lae semoga Anda lebih banyak lagi menciptakan HARMONY yang baru bagi bangsa ini.
Buat yang pernah dikafirkan atau didomba sesatkan, yakinilah agamamu seperti pemahamanmu, semoga kau bisa bertumbuh disana jadi mahluk yang berfungsi bagi mahluk lainnya.
Lae JJ , permisi ah numpang koment yah.
20 September 2007 at 10:21 am
OOT: Lae Sianipar, kapan bikin album lagi?
20 September 2007 at 10:39 am
…”toreransi beragama itu merupakan SENI dalam bermasyarakat yang akan menjadi indah kalau tercipta HARMONY.” —cool—
‘HARMONI dari semua bagian, dalam bentuk apapun, apabila dipasangkan bersama dalam PROPORSI dan hubungan yang tepat, sehingga tidak ada lagi yang dapat ditambahkan, dikurangi atau dirubah akan menghasilkan sebuah “GREAT SOCIETY” .
Sesuatu supaya menyenangkan harus HARMONIS, PROPORSIONAL, dan hubungan antara bagian bagian dari objek (yang berbeda) tersebut harus SEIMBANG.
20 September 2007 at 10:42 am
Dulu sekali saat masih aktif dlm pekabaran injil di gereja, saya sering ikut team penginjilan ke rumah2 teman yg katanya “domba tersesat”. Sampai dirumah mereka saya sering hanya cerita2 yg ga ada hubungannya sama sekali dgn penginjilan sambil mendengarkan keluh kesah dan mencoba melayani mereka dgn membantu menjawab segala kesulitan hidup yg mereka hadapi ataupun sekedar membantu carikan lowongan kerja.
Kenapa saya berbuat begitu? krn pendapat saya menjadikan diri kita sendiri sebagai contoh lebih baik daripada ajakan dan seribu kata cuap2 ttg keselamatan kalau mereka menerima Kristus (dgn kata lain mengkafirkan agama yg mereka anut saat itu).
20 September 2007 at 10:54 am
Terserah orang mau bilang apa, yang penting kalau kita merasa nyaman jalanin aja. Saya juga nyantai aja kok ikutan tahlilan, ikutan nglepas imam masjid naik haji dengan doa bersama di Masjid…
Jadi, lanjutin aja, yang penting bagaimana hati kita dan perbuatan kita… Kalau beragama hanya mengakibatkan terputusnya hubungan dengan orang lain, yaahhh… lebih baik nggak usah punya agama aja… Lebih bebas…
20 September 2007 at 11:45 am
Viky sianipar bukan domba yang tersesat tapi domba yang pintar main musik.
20 September 2007 at 11:47 am
BAH..horas lae vicky….
nga usah heran …memang sekarang dunia itu semakin kacau..seolah olah mereka yang paling benar.buat aku “kafir” ataw “domba yang tersesat” adalah perkataan “sia sia”.
teruslah berkarya ,berkarir,menjadi seniman yang bisa menjiwai,menghibur dan menjadi berakat bagi orang lain.Tuhan memberkatimu.
20 September 2007 at 12:01 pm
bang viky, aku suka sekali comment abang tentang harmony pada postingan bang jarar Istri Gusdur Sholat di Aula Gereja…
setuju bang!! jadi indah kalo berbeda dan jadi indah kalo semua melakukan sesuai waktu, tempat, dan porsinya…
mulut jadi indah kalo digunakan untuk bicara, tapi tidak indah kalo digunakan untuk memegang menggantikan tangan. Jadi semua sudah ada tempatnya, semua sudah ada tugasnya. Jangan dibolak/balik dan diputar2…
20 September 2007 at 12:49 pm
“Jadi buat apa sih ribut-ribut membeda-bedakan agama. Nikmati ajalah seninya. Create Harmony! Peace! Wassalam! Haleluya!”
Begitu kata Viky.
Jangan-jangan justru kita sendiri yang meributkannya. Taklah seburuk itu. Aku 8 tahun di tanah Melayu, Riau, juga pernah ke Banda Aceh, dua daerah yang didiami umat moslem majority.
Yang kalian ributkan ini sebetulnya ‘kebangetan’, pengalamanku sangat indah dalam bergaul dengan banyak puak dan tamadun kebudayaan itu. Kupikir hal itu sangat mudah terselesaikan dengan cara kita bersikap. Fakta bahwa ada yang seperti itu, memang tak bisa dipungkiri. Taruhlah benar Viky dibilang tersesat karena mengaransemen lagu Ramadan, biarkan saja.
Dengan cara meributkannya, apalagi mendiskusikannya di wadah multimedia begini, kita justru terperangkap dalam kepicikan itu. Bung Viky, kita hidup di masyarakat seni yang universal dan egaliter. Tak usahlah ‘cengeng’ dengan serangan-serangan primordial seperti itu. Puji Semua Agama! Hidup Tuhan.
JARAR SIAHAAN: mendiskusikan masalah ini di blog justru kita picik? ah, makin bingung aku melihatmu, kawan. masalah-masalah begini harus dibicarakan, harus diungkapkan, supaya orang tahu bahwa itu tidak baik dalam kehidupan sosial.
ataukah engkau sedang ingin berkata bahwa kita — wartawan, bloger, penulis, sastrawan, dll — diam saja dan tidak usah menulis masalah-masalah yang mengganggu toleransi umat selama ini? apakah engkau kira toleransi akan lahir hanya dengan diam, berdoa, dan merenung? tidak, kawan. justru semakin kita diam, maka orang lain akan menganggap bahwa itu [kafir-mengkafirkan] adalah tidak salah.
dalam contoh sepele, apakah engkau akan berdiam diri bila kau melihat seorang anak kecil memaki-maki kawannya? bila kau memilih diam dan tidak menegur si anak, maka engkau telah gagal menjadi makhluk sosial. tapi kalau kau benar-benar seorang humanis dan pencinta kebajikan, engkau akan menegur anak itu, bahkan bila penting mencubit tangannya bila dia anakmu. dan kurang lebih seperti itulah yang disajikan dalam blog ini.
kalau saja aku seorang guru agama, maka aku akan berdiskusi dengan muridku soal toleransi. kalau saja aku seorang kepala desa atau camat, aku akan bikin rapat menjelang ramadan/natal dan mengumpulkan wargaku yang berbeda agama. kalau aku presiden atau menteri agama, maka aku akan bikin statemen di media supaya warga berhenti kafir-mengkafirkan dan hidup rukun. kalau aku redaktur sepertimu, aku akan minta reporterku membuat liputan atau artikel khusus soal ini. nah, karena aku bloger dan pembaca di sini adalah komentator, maka kami membuka diskusi seputar isu ini. itu kau sebut sebagai terperangkap dalam kepicikan? diskusi ini mengajarkan toleransi, kawan; apakah kau tidak bisa menangkap pesan itu?
dan aku tidak setuju bila engkau menyebut viky “cengeng”. dia bercerita di blog ini bukan karena cengeng, tapi dia berbagi pengalaman supaya orang lain tidak melakukan hal yang sama. aku punya saran padamu, kawan, cobalah lebih “membumikan” alam-pikiran terlebih dulu sebelum menulis komentar — jangan biarkan pikiran itu “tinggi di awang-awang”. kalau tak paham juga, ya sudah. selamat berkomentar kembali.
20 September 2007 at 1:02 pm
Berbicara agama memang tdk pernah ada habis2nya, selalu ada pro & kontra. Sebenarnya agama itu tujuannya adalah untuk memperkenalkan kpd semua manusia artinya kedamaian, cinta kasih, dan indahnya suatu perbedaan. Manusia menyembah Tuhan dgn cara yg berbeda itulah salah satu yg ditunjukkan oleh agama itu. Nasrani menganggap agamanya yg paling benar, Muslim menganggap agamanya yg paling benar demikain juga agama2 yg lain adalah sesuatu yg harus dihormati karena itu sangat wajar dan memang seharusnya demikian. Suatu hal yg tdk boleh kita lakukan adalah fanatisme terhadap agama itu sendiri. Di agama apa pun fanatisme agama itu pasti ada, dan hal2 seperti inilah yg seharusnya kita eliminasi.
Fanatisme agama selalu membuat orang buta, dan kadang kadang orang yg fanatisme agama bertindak seolah2 hanya dia & kelompoknya saja manusia di dunia ini. Mereka tdk mau menghormati perbedaan dan suka memaksakan kehendak. Memang sungguh sgt disayangkan di zaman sekarang ini masih banyak manusia yg dpt terbelenggu oleh doktrin agama, padahal kalau kita lihat background pendidikan mereka tinggi2 bahkan ada yg bergelar frofessor & doctor. Saya jadi bertanya, mana dunia ini lebih aman dgn agama atau tanpa agama?
Mungkin kalau agama tdk ada konflik poso tdk perlu terjadi, demikian juga bom Bali, Hotel Marriot, dll. Dgn mengatasnamakan agama orang menghalalkan pembunuhan dan darah. Memang sugguh tragis.
20 September 2007 at 1:08 pm
ya itulah susahnya kalau beberapa orang sudah merasa menjadi Tuhan itu sendiri, merasa memiliki hak untuk menyebut sesuatu atau seseorang itu kafir …
20 September 2007 at 3:06 pm
@ Lae Jarar
toleransi tidak sama dengan jualan. hehe
‘cengeng’ yang kumaksud, orang setop viky ‘curhat’ soal-soal tanggapan primordial padanya. intinya, komentar-komentar ini tak hanya mengajarkan toleransi, tapi juga memicu konflik. hehe
JARAR SIAHAAN: siapa yang jualan? apakah engkau pikir aku cari uang dengan menulis isu-isu agama di blog ini? apakah kau pikir blog ini blog bisnis atau blog ber-ad-sense yang mendapat pemasukan iklan lewat hits pengunjung? tidak, pren, batak news bukan blog seperti itu. bahkan, jangankan iklan, pembaca sepertimu pun misalnya tak lagi mau mengunjungi blog ini — karena tak suka aku menulis agama — aku tak peduli kok.
dan ini sejak dulu, sebelum kau mulai ikut membaca blog ini, sudah sering kutulis pada artikel-artikelku.
aku lagi-lagi bingung melihatmu. sekarang malah kau akui bahwa isu yang diangkat lewat artikel viky ini bisa juga mengajarkan toleransi, padahal sebelumnya kau bilang sebuah kepicikan. lihatlah kalimatmu, “… komentar ini tak hanya mengajarkan toleransi, tapi juga memicu konflik.” kenapa kau malah sudah mengakui bahwa topik ini bisa juga mengajarkan toleransi? kenapa kau tidak konsisten dengan ucapanmu? padahal baru berselang menit atau jam, kau sudah menelan kembali air liur yang telah kau buang. ah, pandapotan…, pandapotan…, jangan begitulah.
bagiku pribadi; seorang sastrawan yang baik, seorang wartawan yang baik, seorang bloger yang baik, seorang lelaki yang baik, haruslah konsisten dengan tulisannya.
soal kaubilang, “… juga memicu konflik,” itu tergantung sudut pandang pembacanya. setiap tulisan sejenis ini memang bisa memicu konflik. jangankan di blog ini, artikel-artikel agama di majalah sekaliber tempo pun bisa memicu konflik. satu contoh saja, ketika tahun lalu tempo menulis guru agama muslim yang mengajarkan salat memakai bahasa indonesia, banyak orang ribut, ormas islam protes, dan menuding itu ajaran sesat, bahkan mui turun tangan — tapi tentu saja hanya beberapa surat pembaca yang muat di majalah tempo, tidak seperti di blog ini yang bisa menampung hingga ratusan komentar.
kau berkata, cengeng yang kaumaksud adalah karena orang ngetop seperti viky curhat soal kafir-mengkafirkan. silakan saja menyebut viky cengeng. tapi aku menilai viky seorang manusia yang apa adanya, orang yang menjadi dirinya sendiri, orang yang tidak “tinggi hati” [karena seleb lantas tidak layak bicara hal-hal sepele begini?], orang yang mau mengungkap kegelisahan hatinya tanpa basa-basi. dan aku pribadi lebih suka orang-orang seperti viki ketimbang orang yang cuma berkutat dengan topik-topik yang tidak langsung menyentuh masalah humanisme, masalah sehari-hari kaum beragama, realitas sosial masyarakat indonesia, dll.
oh ya, kau belum jawab beberapa pertanyaanku sebelumnya. antara lain, apakah engkau akan diam bila kau melihat seorang anak kecil memaki-maki temannya? dan apakah menurutmu toleransi bisa lahir hanya dengan diam, berdoa, dan merenung? — sehingga kau tak setuju isu-isu ini dimunculkan di blog.
20 September 2007 at 3:31 pm
Menarik sekali membaca artikel dan berbagai komen serta tanggapan dari bang jarar. Tapi jangan galak-galak lah bang, takut pula para calon komentator nanti, hehehe. Buat semua yang sudah menjadi maha menghakimi aku cuma mau bilang, jangan sok jadi Tuhan lah, Tuhan cuma satu. Satu saja mungkin sudah terlalu banyak, buktinya pembahasan di berbagai forum ga ada habisnya. Aku baru liat blog-blog dengan pemikiran seperti ini, sangat menarik. Adakah yang bisa bantu kasih tau blog-blog yang membahas pernikahan beda agama?
JARAR SIAHAAN: itu gaya pribadiku, kawan. ceplas-ceplos, blak-blakan, galak… aku tidak mau munafik dan berpura-pura lemah-lembut. aku ingin menjadi diriku sendiri. wajar saja kau kaget karena baru bergabung di sini. cobalah lihat komentar-komentar dan artikelku pada arsip bulan sebelumnya, kau akan lihat caraku menulis yang lebih galak lagi.
20 September 2007 at 4:10 pm
untukmu agamamu dan untukku agamaku. jalankan agamamu maka kujalankan agamaku. kawan atau siapapun yang melintas dari blog ini, agama itu tak pernah salah. bagiku agama tak pantas diperbebatkan. yang pantas didebat: ketika agama itu dijalankan dengan melenceng dari maknanya.
jika ada kemudian menyebut lae viky (aku pernah bertemu lae di parapat, wawancara tentang album baru lae bersama lae tongam: pembukaan turnamen sepakbola) domba tersesat atau kafir, maka jangan salahkan agama orang yang menyebutkan lae sebagai domba tersesat atau kafir. cukup salahkan orangnya. karena agama itu indah dan tidak salah.
maaf: tai kucing kita semua pemeluk agama. karena kita menjalankan perintah agama masih sebatas ritual saja. shalat hanya sekedar berwudhu, ruku’, sujud dan berdoa. atau ke gereja mengenakan pakain cantik, perhiasan mewah, atau ingin dikatakan rajin ibadah. tapi pernahkan ibadah yang kita lakukan tak lain hanya untuk berkomunikasi dengan Tuhan?
beribadah jangan cuma ritual saja. berdebat jangan cuma tegang urat leher saja.
20 September 2007 at 4:12 pm
Nikmati ajalah “seni”nya. Create Harmony! Peace! Wassalam! Haleluya!.
Saya suka pernyataan penulis di atas. Kehidupan ini memang harus dinikmati sesuai kodratinya, tanpa harus membuat “huru-hara” sehingga menimbulkan antipati terhadap sesama. Saya tambahkan tanda kutip pada kata “seni”, agar semakin mempertegas bahwa kehidupan ini sesungguhnya seni itu sendiri. Penuh warna-warni hingga menciptakan keindahan. Karya seni tidak lahir dari dunia antaberantah, tapi dari kehidupan itu sendiri. Setahu saya, sebuah karya seni terdiri dari “perbedaan” unsur di dalamnya. Dengan begitu, maka lahirlah satu karya seni yang indah. Film tidak akan ada apa-apanya, atau tidak akan disebut satu karya sinematografi kalau unsur musik, seni rupa, teater, estetika, dan unsur sastra tidak terangkum di dalamnya. Begitu juga seni-seni lainnya. Kalau begitu, dengan perbedaan-perbedaan ini sudah seharusnya kita bisa menciptakan kehidupan yang harmonis.
Biarkanlah orang lain menyebut kita apa saja. Seperti kata pepatah; Anjing menggongong, kafilah berlalu. – Yang pasti bagaimana kita mengenal Tuhan yang hidup itu secara pribadi. Lalu, bertanyalah pada diri sendiri; “Sudah kebaikan apa sih yang telah aku perbuat dalam hidup ini?” – Horas!
20 September 2007 at 4:23 pm
wkekekekeke mantap kali bahh
seorang viki masuk ke sini
kaset nya awak koleksi . emang top markotop juragan viki