[batak news; lampung post; kompas; pemberian tersangka koruptor]

TB Silalahi, pensiunan Letjen TNI, putra Balige yang kini jadi penasihat Presiden SBY, diperiksa kejaksaan.

Berita kasus ini ditulis media-media cetak dan disiarkan stasiun tivi nasional. Di bawah ini Blog Berita Dot Com antara lain mengutipnya dari harian Lampung Post dan Kompas.

KASUS KORUPSI ASABRI Rp410 miliar terus bergulir. Mantan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara yang kini menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), T.B. Silalahi, diperiksa terkait pemberian rumah senilai Rp2,7 miliar.

“Dia (T.B. Silalahi, red) sudah diperiksa. Dia datang ke Kejaksaan Agung. Apakah T.B. Silalahi juga menerima pemberian rumah dari Henry Leo, saya belum tahu persis,” kata Jaksa Agung Muda Bidang Pidana Khusus Kejaksaan Agung, Kemas Yahya Rahman, kepada Media Indonesia (grup Lampung Post) di Jakarta, Minggu (16/9). Yahya Rahman tidak menyebutkan tanggal pemeriksaan atas diri anggota Wantimpres itu.

Sementara itu, istri tersangka kasus Asuransi ABRI (Asabri) Henry Leo, Iyul Sulina, menegaskan suaminya selain memberi rumah kepada mantan KSAD R. Hartono juga memberi rumah kepada Silalahi. Hartono mengembalikan sertifikat rumah di kawasan Menteng kepada Kejaksaan Agung.

Pemberian rumah dari Henry kepada T.B. Silalahi terungkap dalam pemeriksaan rekening koran kredit Henry Leo di BNI 46 Cabang Kota wilayah 12 yang dilakukan Kejaksaan Agung.

Menurut Iyul, rumah yang diberikan Henry Leo kepada T.B. Silalahi bernilai Rp2,7 miliar. “Rumah itu dibeli Henry dari hair stylist Pieter Saerang. Rumah itu terletak di Jalan Pasir Putih, Ancol, Jakarta Utara,” kata Iyul, akhir pekan lalu.

Berdasar pada rekening koran milik Henry, ujar Iyul, ada sejumlah pengeluaran lain yang digunakan membeli sejumlah mobil mewah. “Cuma saya belum tahu, kepada siapa mobil-mobil itu diberikan.”

Khusus untuk pemberian rumah kepada Hartono, Iyul mengatakan baru dilakukan Henry setelah kerja sama dengan Dirut PT Asabri ketika itu, Mayjen (Purn.) Subarda, berjalan selama 11 bulan.

Iyul juga menjelaskan Henry mengenal Subarda bukan melalui Hartono. “Sebab itu, saya prihatin ketika mendengar ada yang menyebut pemberian itu berkaitan dengan kasus Asabri.”

Iyul bersedia membayar kerugian negara dalam kasus Asabri. Ia minta dilakukan audit untuk mengetahui kerugian negara secara pasti.

“Itu sesuai dengan akta kerja sama nomor 16 tanggal 2 Desember 1997. Akta itu menyebutkan soal penempatan uang Rp410 miliar, tapi di pasal berikutnya dikatakan nilai uang secara pasti hanya bisa ditentukan hasil audit dari auditor yang ditunjuk kedua pihak.”

Menurut dia, sejumlah rumah dan tanah telah disita untuk dijadikan jaminan. “Dan hingga sekarang, kami juga belum diberi tahu berapa nilai total aset yang disita sebagai jaminan. Tapi yang pasti, Henry sudah memberikan dana pengganti Rp150 miliar dari total Rp410 miliar.”

Dia juga menyoal gugatan praperadilan terhadap Kejaksaan Agung yang diajukan Tan Kian, pemilik Plaza Mutiara. Sebagaimana ketahui, Plaza Mutiara termasuk aset Henry Leo yang disita Kejaksaan Agung.

“Demi keadilan dan kepastian hukum serta pengembalian uang negara, tindakan Kejaksaan Agung menyita Plaza Mutiara sudah layak. Sebab, dalam proses penjualan Plaza Mutiara seharga 26 juta dolar AS, Henry sudah membayar 23 juta dolar AS kepada Tan Kian, yang 13 juta dolar AS di antaranya ada yang berasal dari dana prajurit,” katanya.

Sementara itu, Direktur Penyidik Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Muhammad Salim mengaku tidak ingat persis apakah memang ada pemberian rumah kepada Silalahi. “Saya harus membaca berita acara pemeriksaan dahulu,” katanya. Soal mobil mewah, Salim mengaku belum mengetahuinya.

Sementara itu ketika hal ini dikonfirmasikan oleh harian Kompas, TB Silalahi membantah dengan tegas. “Saya hanya pernah menerima rumah dinas militer dari kesatuan saya ketika masih aktif sebagai militer. Jadi saya tidak pernah terima rumah dari siapa pun,” kata TB saat ditanya Kompas via telepon, Selasa.

Sebelum menutup teleponnya, TB Silalahi sempat “menitip pesan” kepada wartawan Kompas yang mewawancarainya. “Wartawan harus menulis berdasarkan fakta, ya! Apalagi dengan koranmu ini. Saya kenal dengan pemimpin redaksimu,” kata TB. [www.blogberita.com]

CATATAN BLOG BERITA DOT COM:

Bah, bah, bah, apa maksudnya itu, Pak TB? Memangnya kalau kenal dengan pemred kenapa? Jangan ngomong begitu dong sama wartawan. Kalau kabar itu tak benar, tuntutlah Iyul Sulina, istri tersangka koruptor Asabri; karena dialah yang mengatakan bahwa suaminya dulu memberikan rumah senilai Rp 2,7 miliar kepada TB Silalahi.

Oh ya, Pak TB, uang segitu banyak bisa lho dipakai membikin ratusan rumah untuk dibagikan kepada orang miskin di Balige. Sebagai perbandingan, rumah sederhana yang kini kutempati di Balige kubangun dulu cuma dengan uang kontan Rp 15 juta, plus minta seng, broti, dan papan bekas dari sana-sini. Pak TB nggak ada niat bersedekah ke kampung, Tobasa? Tak usah sama aku, masih banyak warga Tobasa yang jauh lebih susah hidupnya.

Tentang wawancara Kompas tadi, aku pernah mengalami hal seperti itu. Sekitar 10 tahun lalu, ketika aku baru mulai bekerja sebagai wartawan, ada seorang camat “mengancamku” dengan kalimat: “Tulis yang bagus-bagus ya, aku kenal baik dengan redakturmu.” He-he-he…, mental pejabat Orde Baru. Pak TB masih bermental Orba nggak, nih?

Artikel lain terkait TB Silalahi:


  1. sahat m. manullang

    @ marudut pasaraibu

    Satu hal, saya sangat respek sama orang yang berani berkomentar dengan menggunakan indentitas asli, atau mereka yang berkomentar dengan nama samaran, tapi bisa di cari identitas aslinya, baik itu di blog lain ataupun tulisan,Seperti ompu matasopiak, joes,

    saya percaya anda menggunakan identitas asli, tapi lebih hebat lagi kalau identitas asli itu dibarengi dengan keberanian untuk mempertanggung jawabkan komentar..

    kalau misalnya batak news keberatan dengan komentar saya,alamat dan nomor telpon akan segera saya kirim ka

  2. sahat m. manullang

    lau memang di perlukan..

    Sekarang, saya menantang anda untuk mempertanggung jawabkan komentar anda, kebetulan ompu matasopiak sudah menawarkan untuk mempertemukan anda secara langsung..

    Atau saya pun sudah mengundang anda untuk bertemu, mungkin untuk beradu argumen atau apa sajalah, tapi masalahnya masih agak lama saya pulang ke indonesia sekitar akhir november…tapi kalau memang benar urgent dan saya percaya anda memang berniat untuk mempertanggung jawabkan komentar anda, saya akan pulang lebih cepat

    kalau tidak, sudahlah berhentilah berkomentar tentang masalah yang anda tidak mengerti. Saya percaya blog ini blog yang bertanggung jawab, sebaiknya di komentari oleh orang-orang yang bertanggung jawab pula

  3. Lae Jarar… please… aku mau numpang komentar (Kalau boleh, lho..)
    pernah aku ngobrol ngobrol nggak resmi dengan salah satu tokoh dari sumatera utara di kabinet, beliau banyak bercerita tentang sepak terjang TB dan sudi silalahi di blora center sebagai TS nya SBY. Menteri tersebut bercerita bagaimana link nya TB dan Sudi Silalahi di Yayasan ekapaksi (eks pengelola harta kekayaan TNI), dari sana ada hubungannya dengan Tommy Winata, dan dari sana juga hubungannya dengan dana kampanye SBY, dan dari sana juga ada hubungannya dengan dunia preman, ada juga hubungannya dengan gerakan anti premanisme dan judi ala Sutanto, yang ternyata hanya gombal untuk melindungi tokoh tokoh tertentu…..

    dari obrolan itu, (maaf kalau nggak saya ceritakan secara fulgar) saya jadi nggak sreg dengan “ketokohan” oppung TB ini… Jadi, kenapa kita kalau orang batak selalu membabi buta membela yang nggak benar hanya karena kebatakannya???? kenapa kita harus mati matian membela dia hanya karena ketua panitia Natal??? ternyata hanya kelihatannya bersih, isinya tulang belulang…. he…. he….

    JARAR SIAHAAN: sejujurnya aku muak melihat komentarmu ini, pren. beberapa bulan lalu kau menulis sejumlah komentar bahwa kau muak membaca artikel-artikelku. kaubilang aku cuma mencari sensasi. kaubilang tulisan-tulisanku selama ini tak laku, sehingga kau merasa muak. supaya kau ingat, baca di sini dan di sini.

    dan saat itu kujawab agar kau jangan lagi membaca blog ini bila memang muak — memang begitulah seharusnya bila kita muak dan tak suka dengan sebuah blog; kita harus berhenti membacanya. tapi melihatmu nongol malam ini, kupastikan bahwa kau masih tetap juga membaca batak news selama ini. dan…, akhirnya kau pun tak tahan untuk ikut berkomentar. apakah sekarang kau tidak merasa malu pada dirimu sendiri? — sampai kau berkata, “please….”

    aku orang yang senang diajak berdebat. silakan mengkritik artikelku kalau menurutmu salah, tapi jangan seperti gayamu dulu berkomentar yang cuma karena iri. kalau tak suka dengan sebuah artikel, katakan saja tidak setuju, tapi sertakan argumentasi — bukan karena sentimen pribadi, apalagi karena merasa iri. bahkan aku siap dicaci bila ada tulisanku yang keliru, tapi jangan asal memaki, sertakanlah argumentasi. sebab kalau isinya cuma makian, itu tak ubahnya karena sentimen pribadi.

    aku orang yang keras, bahkan terkadang kupikir otakku seakan terbuat dari batu. tapi aku bukan pendendam. sikapku boleh keras, prinsipku boleh sekeras batu, tapi nuraniku sangat lembut dan mudah trenyuh. semoga kau paham, pren. bila kau sudah menyadarinya, baguslah, dan sikapmu dulu kumaafkan. tapi bila kau tetap merasa bebal dan benar dengan komentarmu dulu, maka teruslah begitu; dan kau sedang mempermalukan dirimu sendiri di depan publik pembaca blog ini.

  4. hati orang benar

    \Tuan architec Singapore apa sich salahnya kalau kita lihat-lihat aja. Nggak usah benyak komentar. tong kosong nyaring bunyinya. Toh…. orang jahat akan di hukum dan orang baik akan tetap akan lepas dari jebakan, dan menurut saya T.B Silalahi adalah hanya korban jebakan “jadi bertobatlah kembali kepada jalan yang benar “

  5. Lae Jarar dan Lae Bergman ini sama-sama luar biasa. Kalau yang pertama karena bisa memaafkan, yang kedua, ah, tak enak pulak aku bilangnya.

  6. sahat m. manullang

    tulisan ke dua sudah ada di blog ini,
    bergman silitonga : apa yang anda cari sebenarnya, pengumuman pernah ngobrol dekat dengan anggota kabinet? gitu ya kira-kira …dengan pak Bungaran saragih , begitu kira-kira dari alur ceritamu( menteri pertanian di waktu yang anda sebutkan)

    kalau boleh menyarankan, jangan terlalu banyak ngobrol dengan para menteri, karena kalau terlalu banyak ngobrol dengan para menteri dari kubu yang berbeda dengan pendapat yang berbeda, jadinya anda akan plin-plan

  7. Silakan anda percaya apa tidak…. dunia tidak sempit… orang kecil seperti sayapun bisa ngobrol dengan dengan siapapun……. Jangan bagaikan katak dalam sumur…. mending katak dalam tempurung (kalau bingung, silakan cari sendiri artinya…)
    orang yang hanya bisa ngomong lewat blog rasanya sama bagaikan katak dalam sumur, dia tahu bahwa di dunia luar sana masih ada dunia lain, tapi nggak bisa menggapainya……. mending jadi katak dalam tempurung, memang nggak tahu apa apa (jarar pasti makin bingung)…….

    Bung sahat, sumatera utara itu bukan hanya batak, di kabinet banyak orang sumatera utara, coba kembali refresh pengetahuan anda…………
    Bung jarar…. pendendam banget sih……. aya.. aya… wae…

    JARAR SIAHAAN: betul katamu, aku bingung membaca komentarmu. pembaca yang lain saja menanggapi, kalau ada yang paham.

    dan mulai sekarang aku tidak lagi menanggapi komentarmu, karena masih banyak komentar pembaca lain yang bermutu dan perlu kutanggapi — itu pun kalau aku lagi berbaik hati meloloskan komentarmu. kalau aku lagi tak syur, komentarmu akan kuhapus. sekian saja. inilah tanggapanku yang terakhir untukmu. selamat menjadi katak dalam tempurung.

  8. @Bergman Silitonga

    Lae, sejak dulu, aku menyimpan beberapa istilah Batak yg awalnya kupikir diciptakan cuma buat guyonan (lucu-lucuan). Kalau mendengar istilah-istilah itu, aku tak pernah membayangkan wajah-wajah tertentu.

    Istilah-istilah yg kumaksud adalah PARBADA MUNCUNG, Si GANJANG DILA, dan JAGIRING.

    Kini, aku sangat berterima kasih karena mengenalmu lewat blog ini, rasa penasaranku bertahun-tahun terjawab sudah, karena akhirnya aku menemukan seseorang yg cocok menyandang 3 sebutan tadi. Kalau boleh aku meminta fotomu lae, biar kupajang di tiap kata Parbada Muncung, Si Ganjang Dila, dan Jagiring dalam kamus besar bahasa Batak yg sedang kukerjakan secara manual sejak 1997.

    *Aku memang benar-benar menyusun kamus bahasa Batak, karena berhubungan dgn pekerjaanku menulis lagu*

    BATAK NEWS: jadi senyum-senyum aku.

  9. Bonatua 766hi

    Lae jarar yg terhormat,

    Saya bangga jadi Batak karena sifat batak adalah “mengatakan apa yg ada isi dihatinya”, dan izinkan saya mengaplikasikannya disini:

    1. Menurut saya takkala kita menulis (baik itu dikomputer ataupun media lain) maka seketika itu emosionalnya keluar bersama tulisan itu, emosi yg selama ini dimiliki seseorang yg jarang diketahui dimiliki si penulis itu sendiri.
    2. Blog adalah wadah pribadi seorang pemilik Blog yg memiliki otoritas penuh terhadap blognya tentunya setelah perusahaan penyedia blog.

    Mengacu pada point 1 diatas izinkan saya meminta ‘biarkan caci makian itu disampaikan exp: seperti yg disampaikan @Bergman Silitonga’ mungkin perlu juga lae garis bawahi atau menambah catatan atau menginisialkan makian itu seperi Ba**, An**** dll, dengan begitu kita para penggemar blog lae bisa ngeliat tingkat emosional seseorang, tak ada yg salah, semuanya itu hanya “cara mengungkapkan saja” dan menurut saya itu adalah kreatifitas seni ungkapan isi hati dalam bertutur kata (bandingkan dengan lagu2 seperti eminem sering pakai kata Fuck, lagu Baon berjudul “I said the K**t**, iwan fals : Lonteku), bandingkan seniman lain seperti seniman puisi Sitor, ws rendra, Semsar dll.

    Saya yakin dan percaya bahwa tiap2 dari kita punya kepuasan tersendiri pada saat emosi dilepaskan melalui tulisan ntah itu pendapat, tangisan, jeritan, protes, kritik bahkan yang paling berat yaitu caci maki, biarkan rasa pahit itu keluar, biarkan blog ini jadi obat bagi orang yg harus memaki sebagai ekspresi emosinya. Toh kita semua sudah dewasa menyikapi segala hal dan yg terpenting kita bersedia menerima resiko apa yg kita tuliskan.

    Anyway, it’s all your decision: the rule of the rules in this blog (according to point 2), no democracy, live it or take it

    Peace………

    JARAR SIAHAAN: betul memang penjelasan lae. caci-maki adalah juga termasuk ekspresi, sama halnya bila kita menangis. jadi komentar lae benar. dan komentar lae sahat simanullang sebelumnya juga benar. tapi biarlah mulai sekarang aku memilih mengaburkan total kata makian menjadi tanda ***.

    sekadar curhat, dua bulan terakhir ini aku cukup kewalahan memoderasi komentar, jumlahnya perhari rata-rata 60 komentar. dari angka 60 itu setidaknya 5 sampai 10 komentar harus kuhapus karena isinya sampah. misalnya cuma berisi kata makian tanpa argumentasi, berisi link-link porno dan situs yang menghujat agama, dll. aku harus membaca satu persatu ke-60 komentar itu, mengedit kata-kata vulgar/makian, baru kemudian mengonlinekannya. belum lagi 2 sampai 3 imel perhari yang harus kujawab, juga mengurus blogku yang satu lagi. semua itu memang kebahagiaan untukku, karena berarti blog ini disukai.

    tapi karena keterbatasan waktuku, mulai sekarang aku akan semakin jarang menanggapi komentar. kecuali komentar yang sangat urgen untuk kujawab. kusebut waktuku main internet terbatas karena aku mengurangi jam onlineku. ada alasan-alasan pribadi yang tidak akan kuungkapkan di sini. terima kasih saran lae.

  10. marudut

    Oiii.. lae Silitonga, jangan asal ngomong seenak perutmu kau. Enggak tahu kau apa yang arti sebuah blog, apalagi sekelas bataknews ini.
    Jangan massam2 kau Lae!

    Kalau berbeda wajar2 saja disini. Tapi jangan mengejek orang kau.. Kau bilang pula laengku yang ganteng ini “makin bingung” belum pernah kuliat laeku ini bingung, bahkan aku yang bingung liat Lae Jarar ini, setiap hari memberikan warna baru bagi orang2 seperti aku ini.
    Maccam udah dekat kali kau rupanya sama Menteri2 itu. Ga tahu kau segila apa penggemar blog ini, pecinta blog ini, ah kau…

    Kusarankan sama kau Lae, jangan kek gitu lagi kau. Kalau di Lapo kian kau, enggak bertanggungjawab aku apa yg terjadi sama kau bah! Masih mending kau didiam2i sama pelanggan/parmitu yang lain. Kalau diantuk kau! Dijanggola nai malvinas, tau rasalah kau.

    Lae Jarar yang sabar ya Laengku. Biasanya kalau Lae udah men’diam’ sama orang udah dalam itu. Jangan Lae! Masih panjang misi kita.

    Btw tentang Amang TB ini, saya salut dengan penyajian lae. Cover bothside! Independen dan Obejctive, lae berikan ruang perdebatan yang berujung pada pemahaman. Berarti kali untukku. Mauliate Lae!!! Gimana puasanya? Udah ikutnya Gibran puasa?

    JARAR SIAHAAN: terima kasih dukunganmu, lae. gibran sok-sokan mau puasa. “ayah, aku ikut berbuka,” katanya sore hari, padahal siangnya makan juga dia. belum mampu dia puasa, lae, tapi kuceritakan padanya untuk apa berpuasa. katanya, di sekolah tk, mereka puasa 1 jam. selama 1 jam itu gurunya melarang mereka jajan dan minum.

  11. Dyana

    Salam hangat,

    Sebaiknya kita melihat sisi positif dan Hal yang baik Yang telah dilakukan oleh P’TB silalahi .

    Thanks

  12. sahat m. manullang

    @ bergman silitonga

    betul…betul itu, aku pun bingung…

    informasi dan pengetahuan berada di dua wilayah yang berbeda.pertama informasi itu terbuka, bisa di kritik semisal: informasimu kurang valid, itu tidak betul, tau dari mana ,,,,kedua pengetahuan sifatnya tertutup, itu rahasia bagi masing-masing orang pemiliknya dan wilayah terlarang buat orang lain untuk mengomentarinya, jadi karna kau katakan saya refres pengetahuan saya, maka kujawab… itu bukan urusanmu

    @ ompu matasopiak

    ketawa aku lae membaca istilah jagiring itu, teringat 10 tahun lalu di balige, saya punya teman berusia 4 tahun bertengkar dengan kawannya.jagiling !! katanya..jadi saya mau tanya sama lae, sebenarnya apa sih artinya itu? kurang lebih saya bisa memahami karena teman kita di atas sudah lae jadikan jadi contoh, mungkin yang saya maksud adalah arti harfiahnya,, horas

  13. Gallardo Finn Alonso

    JAGIIIRINGGG !!! ( bunyi sesuai Ejaan Bahasa Batak yang disempurnakan )
    JAGEEEREENGG !! ( bunyi yang paling pas, mungkin pengaruh Jamrud)

    asal kata jagiring :
    dahulu kala di Kota Balige ( 1960-1970 )……hiduplah seorang pria yang ternyata kurang waras, kotor, jahil, dan beringasan…….tak ada satu orangpun yang menyukainya ( bahkan sesama kawannya yang gila ) karena kawan-kawannya yang gila merasa malu punya kawan segila dia….” berlebihan !!! bikin malu kita saja !!! ” demikianlah kawannya bermarga Pardede berkata sambil menggerutu ( belakangan diketahui ternyata si Pardede ini merasa cemburu karena pamornya turun ), tak satupun orang yang mengingat marga pria tersebut karena namanya jauh lebih terkenal……………………….yakni : J A G I R I N G…..dan sejak saat itu nama itu melegenda sampai hari ini, karena jika perasaan sedang kesal kepada seseorang kata itu sering dijeritkan….

    Kadang aku berpikir……..mungkin aku tidak akan terkenal karena prestasi, kegantengan, kekayaan, dan istri yang cantik, kenapa tidak menggunakan jalur si Jagiring saja ?

    arti kata : mari kita sepakati, jadi ompu matasopiak jangan gunakan dulu kata-kata ini..hehheheheh

    JAGIRING……istirahatlah dengan damai, mungkin anda tidak pernah berpikir jadi seorang LEGEND….tapi ini faktanya….