[batak news; time asia; bagian ketiga suharto inc.]

Pertamina pun dikuasai.

Time sampul Suharto Inc.Inilah terjemahan bagian ketiga berita majalah Time edisi Asia, 24 Mei 1999, berjudul Suharto Inc. Artikel ini diterjemahkan oleh Urgent-Translator Team atas kerja sama International NGO Forum on Indonesia Development [INFID], Solidaritas Perempuan, dan Indonesia Corruption Watch [ICW].

Minyak dan Tanah [3]

DALAM DASAWARSA PERTAMA masa kekuasaannya, Suharto melalui Ibnu Sutowo menjadikan Pertamina seakan-akan milik pribadinya. Ketika Ibnu Sutowo dipecat di tahun 1976, tidaklah jelas apa sebabnya, apakah karena salah mengelola perusahaan atau karena memiliki ambisi politik yang kelewat besar.

Saat ini, di usianya yang ke 84, Ibnu Sutowo menceritakan kepada TIME mengenai hal tersebut. Menurutnya, tahun 1976 Suharto menyuruhnya mendirikan perusahaan untuk mengangkut minyak mentah Indonesia ke Jepang. “Suharto bilang, saya ingin kamu menarik $ 10 sen untuk setiap barrel yang terjual oleh perusahaan baru itu.” Ibnu Sutowo ingat saat itu. “Ketika saya mengatakan tidak, ia kelihatannya kaget.”

Setelah Ibnu Sutowo dipecat, Pertamina melakukan ekspor dan impor minyak di pertengahan tahun 80-an melalui Perta Oil Marketing dan Permindo Oil Trading, dua perusahaan di mana Tommy dan Bambang memiki saham.

Menurut seorang pejabat senior di pemerintahan Habibie, dua perusahaan tersebut menerima komisi sekitar $ 30-35 sen per barrel. Di tahun fiskal pertama tahun 1997-1998, kedua perusahaan itu menjual rata-rata 500.000 barrel per hari, dengan komisi lebih dari $ 50 juta per tahun.

Menurut Subroto, mantan Menteri Pertambangan dan Energi: “Pertamina sebenarnya bisa mengekspor langsung. Dua perusahaan itu sebenarnya tidak dibutuhkan.”

Selanjutnya, seorang mantan mitra bisnis Tommy dan Bambang mengatakan bahwa ‘mark up’ tidak resmi dalam ekspor dan impor minyak telah memberikan dua perusahaan itu sekitar $ 200 juta per tahun selama tahun 1980-an ketika harga minyak bumi tinggi, dan sekitar separuhnya di tahun 1990an.

Keluarga Suharto juga mendapatkan kontrak-kontrak Pertamina untuk asuransi, keamanan, suplai makanan dan jasa-jasa lainnya –170 kontrak secara keseluruhan. Tahun lalu, ketika Suharto jatuh, Pertamina membatalkan banyak kontrak-kontrak tersebut dan mengumumkan bahwa Pertamina berhasil menghemat $ 99 juta per tahun karenanya. Seorang mantan mitra bisnis keluarga Suharto mengatakan: “Mereka memerah Pertamina seperti layaknya sapi.”

Salah satu penghasil uang utama bagi Suharto adalah PT. Nusantara Ampera Bakti, atau Nusamba, didirikan tahun 1981 oleh tiga yayasan Suharto dengan modal $ 1,5 juta bersama Bob Hasan dan Sigit Suharto [masing-masing memperoleh saham 10%].

Perusahaan ini menjadi jaringan besar dengan lebih dari 30 anak perusahaan di bidang keuangan, energi, pulp dan kertas, baja dan otomotif. Jantung Nusamba adalah saham sebesar 4,7 % pada Freeport Indonesia, sebuah perusahaan AS yang merupakan penambang emas terbesar di dunia dengan kegiatan di Papua Barat. Tahun 1992 tiga yayasan itu memindahkan 80% sahamnya ke Bob Hasan, meskipun tidak jelas berapa banyak yang ia bayar untuk itu.

Sampai kini, penyelidik dari pemerintah tidak pernah memeriksa keuangan Nusamba. OC Kaligis, ketua penasehat hukum Suharto mengatakan: “Bila ingin tahu tentang Nusamba, tanya Bob Hasan. Dalam penyelidikan Suharto, Jaksa Agung tidak pernah bertanya soal Nusamba.”

Keluarga Suharto mendapatkan uang tidak saja melalui kontrak-kontrak pemerintah, tetapi juga dari menyusahkan kehidupan orang Indonesia. Ketika Suharto ingin membangun peternakan sapi di Jawa Barat, ia merampas tanah lebih dari 751 ha yang dihuni oleh 5 desa.

Menurut pemerintah, ia membayar ganti rugi sebesar $ 5.243. Beberapa penduduk mengatakan, mereka tidak memperoleh ganti rugi apapun. Muhammad Hasanuddin, yang saat itu masih anak-anak, ingat ketika keluarganya kehilangan tanah mereka seluas dua hektar. “Kami melihat sapi gemuk-gemuk dijaga oleh serombongan penjaga berkuda, menginjak-injak ladang kami yang sudah hancur. Seluruh keluarga hanya bisa menangis.” Ayah Hasanuddin akhirnya menjadi tukang becak di Jakarta.

Banyak cerita sama. Di tahun 1996 sebuah perusahaan milik Tommy merampas tanah penduduk desa di Bali seluas 650 hektar untuk resort. Perusahaan itu sebenarnya hanya memperoleh ijin untuk 130 ha, yang kemudian diperluas secara ilegal, demikian menurut Sonny Qodri, ketua LBH Bali.

Penduduk yang menolak untuk menandatangani perjanjian menjual tanah, diintimidasi, dipukuli dan sering direndam dalam air sebatas leher. Dua dari mereka dibawa ke pengadilan dan dipenjara 6 bulan. Sekarang tak ada yang tertinggal dari proyek itu: resesi datang ketika buldozer akan bekerja.

Hasan Basri Durin, Ketua BPN dan Menteri Agraria, mengatakan bahwa keluarga Suharto bisa dikatakan tidak membayar untuk tanah-tanah yang mereka inginkan — nilai yang dibayar hanya 6% dari nilai pasar sebenarnya, dan pemilik tanah biasanya berubah pikiran dan bersedia menjual tanah setelah kedatangan tentara.

“Kadang-kadang mereka tidak membayar satu sen pun,” kata Hasan. “Namun semuanya legal karena mereka [keluarga Suharto] memiliki dokumen.” Hanya separuh petani Indonesia yang memiliki sertifikat tanah, sehingga sulit bagi mereka untuk membuktikan kepemilikannya — dan lebih sulit lagi untuk membuktikan terjadinya intimidasi. Hasilnya, hanya sedikit yang mengajukan gugatan. — BERSAMBUNG. [www.blogberita.com]

Artikel Suharto Inc. sebelumnya:


  1. Farida Simanjuntak

    Dari masalah cengkeh dulu pun Tommy rampas hak rakyat. Tidak heran lagi kalau keluarga Cendana sangat senang merampas milik rakyat. Mereka tetap merasa penguasa yang bisa buat sesuka hati. Sampai tanah pun harus dirampas. Kita lihat saja, apakah hukum di negara ini mampu mengembalikan semua hasil rampasan keluarga cendana ?
    Jangan hanya mampu menghukum orang yang mencuri ayam atau penjahat kelas teri. Sekarang bukan saatnya lagi pemerintah berkoar-koar tentang kejahatan keluarga cendana tapi melakukan tindakan yang memang harus dilakukan demi tegaknya keadilan.

  2. Marudut p-1000

    Untunglah suharto bukan orang batak, kalau senadainya dia orang batak pasti banyak keluarga batak yang akan kehilangan tanahnya.

    Baru-baru ini halimah, istrinya bambang tri, mengancam akan menuntut harta gono-gini sebesar 26 triliun (tolong dikoreksi kalau salah). Itu berarti setengah dari jumlah kekayaan keluarga bambang. Berapa lagi milik tutut, sigit,mamik dan terakhir tomy?

    Sebagai perbandingan : angggaran pendapatan belanja nasional (apbn) sekarang ini kurang lebih 600 triliun. Kalau keluarga bambang saja punya 52 (26 X 2) triliun dan diasumsikan keluarga lainnya juga punya jumlah yang sama, berarti total kekayaan mereka adalah 260 triliun (52 X 5). Jumlah tersebut sama dengan 43,3 % apbn. Belum lagi antek-antenya, termasuk orang-orang yang diwawancarai majalah times di atas.

    Hmmm…sangking banyaknya kurasa merekapun sudah tidak ingat lagi dimana saja hartanya itu. Proses pemiskinan rakyat terjadi secara sistematis sehingga tidak bisa terjangkau hukum yang berlaku (karena dia juga yang buat).

    Ah…. sudahlah, biar Tuhan saja yang hukum.

  3. anton saragih

    @Marudut p-1000
    lae,,itu uang semua ya,,?? ga campur daun..?
    buju buneng dah,,,klo beli kerupuk jange( maaf,ga ada d kamus bhs indonesia) bisa penuh planet ini. lahir di RS mana seh anak2nya suharto itu,,? biar aku suruh istriku melahirkan disana juga,siapa tau aza ,,,ahhh,,tpi itu khan uang yg tak jelas asal usulnya,amit-amit,,,!! jgn sampe dah anakku begitu. mending ikut bapaknya aza “makan daki,minum keringat”.
    bang jj…! masih ada kolak pisang ga,,??

    JJ SIAHAAN: tiap hari aku makan kolak pisang saat berbuka. makanya, datanglah ke balige. :)

  4. Andra

    Ya ampun…gila oi..harta segitu banyaknya, aku mau dong di cipratin dikit buat bisa beli beras! Yang aku heran, apa mereka masih bisa tidur dan mimpi enak sedangkan rakyat indonesia (sodara sendiri) pada kelaparan dan tidur suka digigit jingklong. Ampun….masih ada ternyata orang yg segitu jahatnya di dunia ini..kalah hitler lo…busyet!Kalau ntar si opa mampus..weleh2…anak2nya musti kabur tuh…wah bakalan bisa rame dong..aciiikk..ribut lagi deh seperti masalahnya si bambang ama si siapa sih namanya..mayangsari..hehehe.