[jarar siahaan; batak news; ziarah menjelang ramadan]
Dua hari lalu, sehari sebelum 1 Ramadan, aku, istriku, dan anakku Gibran berziarah ke sejumlah makam keluarga kami. Yang kami ziarahi bukan cuma makam keluarga yang muslim, tapi juga nasrani.

Yang muslim antara lain mertuaku laki-laki; keponakan kami, Bulan, yang meninggal dalam kecelakaan lalu-lintas ketika mudik lebaran dari Palembang ke Balige; dan anak pertama kami, Adil Tumpal Nagok, yang meninggal tahun 2000. Sedangkan yang nasrani antara lain kakek dan nenek, orangtua bapakku. Sebenarnya masih ada beberapa lagi makam keluarga yang hendak kami kunjungi, tapi tidak sempat mengingat Nadya masih sakit di rumah.Di makam keluarga yang muslim, aku dan istriku membaca surat Yasin dan Al Fatihah. Selama ziarah, Gibran banyak berkomentar dan bertanya. Misalnya ketika di makam Bulan, Gibran ngomong begini: “Ayah, Bulan ini baik. Kawanku dia itu. Dia mati ditabrak mobil. Sekarang sudah dikubur dia. Nggak bisa lagi dia keluar.”
Aku senyum-senyum, karena setahuku Gibran tak sempat mengingat wajah Bulan. Waktu keponakanku itu meninggal, dan kami menghadiri pemakamannya, usia Gibran baru 1,5 tahun. Tapi entahlah, namanya juga anak-anak.
Ketika kami berada di makam Adil — inilah pertama sekali Gibran melihat makam abangnya itu — Gibran berkata, “Kok kecil kali kuburannya, Ayah. Bikinlah yang besar, biar senang dia.”
Gibran juga bertanya seperti apakah abangnya itu dan mengapa dia mati. Aku dan istriku bergantian menjelaskan padanya.
Kuterangkan: “Abangmu ini mati karena sakit. Matinya di rumah sakit. Dokter pasang selang ke hidung dan mulutnya. Jarum suntik dipasang ke tangannya. Dia nggak bisa makan, nggak bisa minum, nggak bisa berak, jadinya lewat selang. Sebelum mati napasnya tersengal-sengal, putus-putus napasnya. Aku marah sama perawat karena dokter nggak datang, padahal sudah 30 menit dipanggil. Katanya dokter lagi pulang makan ke rumahnya. Saat itulah keluar darah segar dari hidung abangmu. Darahnya banyak. Aku pegang piring, kutampung darah itu, darahnya terus keluar.”
“Oppung [nenek dan kakek] dan kawan-kawanku wartawan berdiri di sampingku. Mereka juga menangis melihat abangmu. Tapi dia nggak nangis. Hampir penuh piring yang kupegang, darahnya terus keluar. Terakhir dia buka matanya sedikit. Kami berdua bertatapan sebentar. Sesudah itu, dia tutup mata. Dokter datang. Dokter bilang dia sudah mati. Aku menangis meraung-raung. Kuat sekali suaraku. Kutinju tabung oksigen; sakit tanganku, karena itu besi. Tak sadar lagi aku, kupukul juga kaki oppung borumu [mertua perempuanku]. Kawan-kawanku wartawan memegangiku ….”
“Kenapa mati dia?” tanya Gibran lagi.
“Ya karena sakit. Kalau nggak bernapas lagi, itu namanya mati. Makanya dikuburkan ke dalam tanah.”
“Nanti juga ayah mati?”
“Iya. Semua kita mati nanti. Bunda juga akan mati, ayah juga, Gibran juga, oppung juga, semua orang yang hidup akan mati. Tapi kita nggak tahu kapan. Makanya baik-baiklah, nggak boleh jahat sama orang.”
“Kalau dikubur, dimakan cacing?”
“Iya, dimakan cacing.”
Saat menceritakan itu pada Gibran, kulihat istriku cuma duduk terdiam di sisi makam. Matanya agak berair. Aku tahu dia mengenangnya.
Aku pun tak bisa melupakan kepergian anakku itu. Kepergian yang membuatku sadar: bahwa anak-anakku bukanlah milikku.
Saat bergegas meninggalkan makam, istriku berkata pada Gibran, “Bang, jangan lihat ke belakang.”
“Kenapa, N-da?”
“Pantang. Biar abangmu nggak ngikut kau.”
“Mana bisa dia ikut. Dia kan sudah dikubur.”
“Ayolah.”
Yang dikatakan istriku adalah kelaziman di kalangan orangtua Batak di kampung bila usai berziarah.
Akhirnya memang Gibran tak menoleh lagi. Tapi dia sempat melambaikan tangan. “Aku pulang ya, Bang, kau sini aja.” [www.jararsiahaan.com]
Artikel yang pernah kutulis untuk anakku Adil:
CATATAN BLOG BERITA:
Silakan bila ingin mengutip artikel dari blog ini, dengan syarat menyebut sumber. Bila dikutip untuk website, blog, atau milis, maka tuliskanlah sumbernya www.blogberita.com dan buatkan link ke artikel bersangkutan. Bila dikutip untuk koran, majalah, bulletin, radio, televisi, dll, maka tulislah/sebutkanlah sumber kutipannya; www.blogberita.com.
Bila pembaca memiliki kisah-kisah pribadi yang berkaitan dengan puasa dan lebaran, silakan kirimkan ke imelku, bataknews [at] gmail [dot] com, akan kutampilkan di halaman utama blog ini. Silakan juga bila engkau menyertakan foto dirimu, dan harap jelaskan sedikit identitasmu — seperti nama, pekerjaan, tempat tinggal, dan data lain yang menurutmu perlu. Artikelmu boleh berupa opini, renungan atau pergumulan batin, maupun peristiwa. Tapi artikel yang membandingkan ajaran Islam dengan agama lain tidak bisa kuterima.
Untuk semua pembaca muslim kuucapkan selamat menunaikan ibadah puasa. Mohon maaf lahir dan batin. [www.blogberita.com]


19 September 2007 at 1:58 am
Boru apa si Bulan lae? Koq macamnya kenal aku nama itu…
BATAK NEWS: boru hutagaol. anaknya laeku kandung, ito istriku. dia meninggal dalam usia masih kanak-kanak, kalau tak lupa, kelas 5 sd.
19 September 2007 at 3:49 am
Oh, kupikir adik kelasku dulu di SMP 2 Balige, yg kebetulan bernama Bulan, dan muslim juga…cantik anaknya, putih….mungkin sepantaran si Judi, atau diatasnya….
@anjeng
Ya namanya juga hewan, ngomongnya ya gitu…
24 September 2007 at 12:36 am
Kang Jarar…
– anak Kang Jarar si ucok Gibran cakep
– dilihat dari tarikan mata dan bibir waktu ketawa
anak Kang Jarar akan jadi orang yg amat sangat
humanis…kalah kau Kang he..he..he
JARAR SIAHAAN: amin. semoga. kalau aku? aku sih hancur-lebur.
wajahku tak humanis, tapi bengis.
29 September 2007 at 10:38 pm
@ Lae Jarar
Salam kenal dari saya ( apala inangudahu boru Siahaan sian Balata do ).
Terharu dan sedih membaca kisah perpisahan dengan anak buhabaju tersayang (manigati lungun parungkar sidangolon), tapi saya salut, karena dalam kesedihannya lae masih dapat membagi hikmah kepada orang yang mengalami hal serupa. Saya kutip : aku pribadi memang “suka” dengan cerita-cerita tentang kematian — supaya aku “makin takut” untuk berbuat kejahatan selama hidupku.
Barangkali kalau orang bertahan hidup lama sekaratnya ( pernah lihat sampai dipukul dgn. daun kelor; ada juga samapi marpangir ) mungkin karena masih ada kewajibannya yang belum diselesaikan atau ada utang yang belum dilunasi; jadi bukan takut mati tapi belum rela mati. Agak mirip-miriplah dengan kesaksian dari ito Dermi ttg. pernyataan bapanya.
Dari diarinya saya tahu rupanya gelarnya dulu JJ ya ? ( jogal-jogal atau jugul-jugul ), kalau saya dulu di masa anak-anak di Bona ni Pasogit mendapat gelar TB (tuan bendel – karena aku akan terus bertanya apabila jawaban yg kudapat tidak memuaskan).
Komentar dari saya, tidak usah risau kalau tidak berwajah humanis seperti tulang naposo Gibran, mana yang dipilih berwajah Pendeta / Ustadz tapi hati Preman atau berwajah Preman tapi hati Pendeta / Ustadz. – just kidding.
Botima lae Selamat berpuasa Horas ma.
JARAR SIAHAAN:
terima kasih, lae. salam kenal.