[jarar siahaan; batak news; tempo; islam & kristen sama "baik dan buruk"]
Belasan tahun aku mengagumi wartawan-sastrawan idealis Goenawan Mohamad. Selama itu pula aku terus bertanya dalam hati; muslim seperti apakah dia sesungguhnya?
Kenapa tidak pernah terpublikasi dia memakai busana muslim atau mengikuti ritual Islam atau “sesekali berkhotbah” seperti halnya tokoh pers Surya Paloh atau budayawan Emha Ainun Nadjib? Kenapa figur besar seperti Goenawan tidak pernah menampakkan diri dalam balutan “baju dan pernak-pernik” Islam? Jawabannya telah kutemukan, dari tulisan Goenawan sendiri.
Bila engkau berlangganan majalah Tempo, mungkin engkau sudah membaca artikel berbentuk esai ini. Judulnya Makam. Kukutip seutuhnya dari majalah Tempo edisi 28 Mei 2007 pada rubrik tetap Catatan Pinggir. Ditulis oleh Goenawan Mohamad [66 tahun]; wartawan senior, pendiri Tempo, penyair, yang nama dan integritasnya dikenal kalangan pers dan sastra sejagat. Catatan Pinggir adalah kolom mingguan yang ditulis Goenawan sejak 1977 — sudah 30 tahun hingga sekarang. Catatan Pinggir pernah diterbitkan dalam empat buku dan diterjemahkan dalam berbagai bahasa dunia. Inilah artikel berjudul Makam itu.
BUMI BERKARANG KOTA Yerusalem praktis sebuah kuburan tua yang kini tak jelas batasnya. Beribu-ribu tahun lamanya penghuni kota ini, apa pun agamanya, mengebumikan jenazah keluarga mereka di tanah itu. Tak mengherankan bila juga di dekat apartemen milik Tova Bracha itu, di Talpiot Timur, terdapat sebuah makam kuno.
Tak tampak ada yang istimewa di situs itu—sampai ketika Discovery Channel menyiarkan sebuah film dokumenter yang menyentakkan dunia. Para pembuatnya, sutradara TV Israel yang terkenal, Simcha Jacobovici, dan sutradara film Titanic, James Cameron, menyatakan makam itu adalah makam keluarga Yesus. Bahkan sisa-sisa tubuh tokoh yang disembah sebagai Kristus, sang Penebus, itu sendiri mungkin diletakkan dalam salah satu dari 10 ossuarium yang ditemukan di dalam rongga di tanah berkarang itu.
Yesus, yang tubuhnya dimakamkan, yang berkeluarga, bahkan mungkin punya istri dan anak….
Saya menonton versi pendek The Lost Tomb of Jesus pekan lalu di Teater Utan Kayu bersama hadirin yang berjejal. Setelah itu, ceramah Ioanes Rakhmat, seorang pendeta yang juga baru menerbitkan bukunya, Yesus, Maria Magdalena, Yudas dan Makam Keluarga. Baik presentasinya maupun bukunya adalah paparan yang jernih dan sangat terpelajar—yang menunjukkan, seperti juga yang hendak dikemukakan film Jacobovici dan Cameron, bahwa bukan mustahil Yesus sebenarnya tak pernah diangkat langsung dengan seluruh tubuhnya ke surga di hari ia disalibkan di bukit Golgotha.
Dengan kata lain: apa yang dituturkan dalam Perjanjian Baru dan dengan versi yang berbeda dalam Quran bisa ”salah”.
Tapi apakah ”salah”, apakah ”benar”? Makam di Talpiot itu memang membuat kita berdebar-debar. Mungkin saja saya salah. Mungkin akhirnya tak akan ada suatu guncangan yang dramatis dalam ketaatan religius di abad ke-21 ini. Apabila 10 ossuarium itu akhirnya membuktikan bahwa keajaiban Tuhan tak terjadi di Golgotha dan sesudahnya—Yesus ternyata wafat sebagaimana manusia biasa, dengan tubuh yang dimakamkan di bumi—mungkin banyak orang akan kembali menemukan cara untuk terus tetap beriman. Seperti dikatakan Jacobovici, orang akan percaya pada yang ia ingin percayai.
Yang kemudian akan tertinggal bagi mereka yang tak mau berhenti berpikir adalah ulangan perdebatan klasik: mungkinkah mukjizat yang begitu dahsyat—tubuh manusia masuk ke surga, yang selama ini dilukiskan sebagai bagian dari dunia roh—bisa terjadi dan Tuhan bisa mengalahkan hukum alam, juga hukum alam yang dikehendaki-Nya? Sejauh manakah beda dan jarak antara Tuhan dan sejarah?
Betapa tak gampang untuk dijawab. Kehidupan Yesus memang mengundang ketakjuban dan skeptisisme. Dalam Yesus, Maria Magdalena, Yudas, Ioanes Rakhmat mencoba menjelaskan dimensi ke-tuhan-an Yesus dan ke-insaniah-annya, dari kata-kata Paulus: ada pembedaan di antara ”Allah” Sang Bapa dan ”Tuhan” sebagai sebutan Yesus. Ada kontinuitas dan diskontinuitas antara kedua ”entitas” itu. Dalam diskontinuitas, dengan sendirinya ”Yesus sejarah” akan didekati sebagai sosok dalam ruang dan waktu.
Itulah sebabnya, sejak abad ke-18 di Eropa, ketika Zaman Pencerahan mulai membuka jalan seluas-luasnya bagi rasio— persisnya sejak Hermann Samuel Reimarus (1694-1768)—para penelaah mencoba menjelaskan ”Yesus sejarah” itu dengan bersemangat. Reimarus, misalnya, melihat pada diri Yesus dari Nazareth seorang revolusioner yang menjanjikan datangnya Messiah, yang karena kegagalannya menyebabkan para pengikutnya mencuri tubuhnya sehabis disalibkan, dan dari sini kisah kebangkitan kembali mulai—juga kelanjutan hidup sebuah agama baru.
Reimarus hanyalah pemula. Dan tak semua yang berbicara tentang ”Yesus sejarah” berkehendak menggugat iman. Bahkan seperti disebutkan dalam karya Albert Schweitzer yang terkenal, Von Reimarus zu Wrede (dalam versi Inggris: The Quest of the Historical Jesus), para pakar theologi Kristen mencoba mendekati kesejarahan Yesus dalam usaha mereka menjawab apa yang jadi kecenderungan zaman, ketika mukjizat tak dapat lagi diterima sebagai mukjizat, melainkan sebagai gejala alamiah.
Pleidoi itu bisa dimengerti, dan bukan mustahil. ”Kekristenan sendiri,” tulis Ioanes Rakhmat, ”sebenarnya mengakui bahwa Yesus itu seorang manusia juga.” Dari dasar ini rasionalisme abad ke-19 melahirkan pemikir dan theolog yang, seperti Schleiermacher, seorang penerus Kant, berusaha keras dengan nalar membela agama Kristen dari para pengecamnya.
Tapi tak berarti ”Yesus sejarah” memadai. Schweitzer mengungkapkan hal ini dengan mengingatkan akan keimanan Paulus, seseorang yang, berbeda dengan rasul-rasul lain, tak pernah bertemu dengan Yesus sendiri. Kita mengalami apa yang dialami Paulus, tulis Schweitzer, ”ketika kita datang lebih dekat ke Yesus sejarah… bahkan sudah mengulurkan tangan untuk menariknya ke dalam zaman kita, kita harus menyerah dan mengakui kegagalan kita.” Ia mengingatkan pesan Paulus yang paradoksal: mengenal Kristus dalam daging sebenarnya tak mengenalnya lagi.
Jarak atau dalam kata Ioanes Rakhmat ”diskontinuitas” itu agaknya harus ditekankan kembali. Di abad ke-20, sehabis Perang Dunia I, Karl Barth adalah suara yang menegaskan ini. Tuhan dan manusia berbeda secara radikal. Manusia tak akan mengetahui-Nya. Manusia hanya bisa menunggu, dalam agama, datangnya wahyu.
Tapi jika jarak antara Tuhan dan manusia begitu mutlak, bila antara keduanya tak ada dialektika, hanya mungkin ada ”diastatasis”, bagaimana Ia bisa menggerakkan hati kita, bagaimana pula kita memahami-Nya? Bukankah akan lebih mudah bila kita bayangkan seorang manusia, yang kesakitan dan mati sebagai manusia, karena ia tahu betapa dekatnya Tuhan dengan kita yang fana?
Terus terang, saya tak berani menjawab.
AKU SUDAH MEMBACA keempat buku kumpulan Catatan Pinggir Goenawan Mohamad yang berisi ribuan artikel, dan setengahnya sangat sulit kupahami. Goenawan adalah penganut Islam, tapi ia bersikap netral terhadap semua agama. Ia sudah sangat sering mengapresiasi kebaikan ajaran Kristen, Buddha, Hindu, Islam, dll; sama seringnya dia juga menulis kebajikan tokoh bernama Yesus, Bunda Maria, Sidharta Gautama, Muhammad, dll.
Sebagai wartawan yang kukagumi sejak dulu — selain Mochtar Lubis — Goenawan menurutku adalah seorang muslim yang mengakui bahwa “semua agama baik dan benar”. Frasa dalam tanda kutip adalah penilaianku terhadap agama-agama.
Tapi selama ini aku hanya bisa menduga, tidak bisa memastikan, karena aku cuma mengenal Goenawan lewat tulisan-tulisannya. Satu esai Goenawan baru-baru inilah, pada Catatan Pinggir edisi 23 Juli 2007, berjudul Murtad, yang membuatku makin yakin bahwa dia memang seperti yang kuduga selama ini. Berikut adalah kutipan dua alinea artikel tersebut.
Memang harus saya katakan, saya seorang Muslim karena orang tua saya. Tapi saya sebenarnya bebas untuk tak mengikuti garis itu—sebagaimana orang-orang Arab dulu bebas untuk tak mengikuti kepercayaan nenek moyang mereka dan memutuskan untuk mengikuti Rasul Tuhan, dengan risiko dimusuhi keluarga sendiri dan masyarakat sekitarnya.
Memang harus saya katakan, saya memilih tetap dalam agama saya sekarang bukan karena saya anggap agama itu paling bagus. Saya tak berpindah ke agama lain karena saya tahu dalam agama saya ada kebaikan seperti dalam agama lain, dan dalam agama lain ada keburukan yang ada dalam agama saya.
Perhatikanlah kata-kata Goenawan itu. “Bukan karena saya anggap agama itu [Islam] paling bagus” dan bahwa — setelah “kukonversi” — “ada kebaikan dalam agama lain, bukan cuma dalam Islam” dan “ada keburukan dalam agama Islam, bukan cuma dalam agama lain”. Aku setuju dengan ini sejak dulu. Sebab itulah aku selalu menulis di blog ini bahwa aku bukan pemuja agama tapi pemuja Tuhan.
Aku juga pernah menulis untuk ibuku: justru setelah aku menjadi muslim, aku makin tahu bahwa Kristen juga benar.
Tak usah kaget; karena aku tidak mau berpikiran “normal” seperti orang kebanyakan. [www.blogberita.com]
Artikel lain:


5 Oktober 2007 at 4:25 pm
@mulawarman
Kalau mau atheis ya silakan saja, yang penting gimana budi pekertimu.
8 Oktober 2007 at 7:29 pm
@mulawarman
ngapain kamu ngajak-ngajak kami jadi atheis? loe mau atheis atau tidak bukan urusan kami….
setidaknya kami bebas mengemukakan apapun pendapat di blog ini…..sepanjang itu tidak menghujat agama tertentu….
8 Oktober 2007 at 10:03 pm
kalo jadi muslim jadilah muslim yg baik dan sempurna dan hargailah dan hormati keyakinan orang lain . Allah yang menilai kita akhirnya penilaian manusia kan hanya sebatas kemampuan.agama kan tidak hanya ritual aja yang penting aplikasi di kehidupan.salut ama mas goen terus berkiprh mas untuk pencerahan bangsa kita yg sedang dalam kegelapan.maju terus bang jarar.salam
9 Oktober 2007 at 11:22 am
semua ada benarnya dan semua ada salahnya……
Bahkan kalau Yesus tidak pernah naik ke surga sekalipun.saya akan tetap mengikuti dia….karena yang saya lihat adalah karya dan cinta Yesus yang menyentuh dan mengubah dunia….Karena yang hendak saya ikuti adalah karya nyata cintaNya….jalan yang ditunjukakanNya untuk mencintai Tuhan dan sesama….
Bang jarar..menurut saya Yesus adalah pendiri agama cinta…..hanya saja sekarang pengikutnya yang aneh2 kelakuannya…padahal yang paling gampang cuma mencontoh Yesus…..Memberikan cinta kepada sesama sampai titik darah penghabisan di kayu salib…..
Saya tidak pusing Dia adalah Allah atau bukan…tetapi Dia adalah contoh dari cinta dan kasih bagi saya.
Tampaknya domba tersesat bertambah satu lagi…
10 Oktober 2007 at 8:51 am
Bicara soal agama tak habis – habis nya, agama adalah suatu wadah dimana lebih mendekatkan kita kepda Sang pencipta. yang terpenting adalah KASIH… TAK USAH MULUK – MULUK.
Rendah Hati……./ Kalau membahas ini.. itu….dsbg. tah habis – habis nanti tulang…he he.
Sering nya diriku mengikuti blog ini, tapi baru kali ini aku berkomentar….
karena runyam kali kutengok….( banyak kali pendapat ). lebih baik membahas yang lain ajalah…..
16 November 2007 at 11:39 pm
Horas, …
Masalah agama sangat sensitif. Jadi, sebelumnya saya mohon maaf jika ada kata2 saya yg kurang berkenan bagi Sdr/i pemeluk agama lain.
Menurut saya, kebenaran sebuah agama tidak cukup dibuktikan dengan sains dan riset, karena ini adalah masalah iman.
Walaupun saya Kristen sejak lahir, namun saya bukan hanya ikut-ikutan sama orang tua. Saya bukan kristen yang saleh, dalam artian belum mampu setiap minggu ke gereja untuk kebaktian. Baca alkitab juga kadang-kadang. Berdoa ndak bisa di hadapan orang banyak, namun hanya berdoa dalam hati.
Saya juga telah banyak membaca tulisan/perdebatan dalam buku atau blog atau media yg lain, tentang kontroversi ayat-ayat dalam Alkitab. Saya tidak berani membantah karena saya memang bukan sarjana theologi.
Namun yg terpenting bagi saya adalah bahwa saya merasa Tuhan Yesus ‘bekerja’ dalam kehidupan saya. Oleh karena itu, apa lagi yang saya risaukan dan khwatirkan? Toh derajat sains dan ilmu pengetahuan masih jauh di bawah ‘ilmu’nya Tuhan.
Ini saya nyatakan bahwa kita masing masing bebas dengan pilihan masing-masing, termasuk yang ‘golput’ sekali pun, tanpa bermaksud ‘meremehkan’ pilihan orang lain tersebut.
Demikian kommen saya. Terimakasih atas kesempatannya.
Horas,
Sabar Nababan
http://www.pangaratto.multily.com
1 Desember 2007 at 9:16 am
Ibu dan ayah patut di cintai.
Ibu kepada ibu dan ayah kita patut dikasihi oleh ibu dan ayah kita.
Ibu kepada ibu ibu dan ayah ayah, ibu dan ayah kita patut di kasihi oleh ibu ibu dan ayah ayah ibu ayah kita.
Habis PENCIPTA kepada sakalian yang diatas siapakah yang patut mengasihinya?