[farida simanjuntak; batak news; nasib gadis-gadis desa yang lugu]
Dirayu pria Nepal dengan emas palsu.
Kisah nyata ini ditulis oleh Farida Simanjuntak, seorang perempuan Batak asal Balige yang kini bekerja di Malaysia. Farida adalah perempuan yang tegas, mandiri, dan jago beladiri karate. Ia mengirimkan artikel ini ke imelku, bataknews [at] gmail [dot] com.
AKU BEKERJA SEBAGAI seorang counsellor di sebuah company tenaga kerja wanita (TKW) di Malaysia. Aku baru satu tahun bekerja di sini tapi sudah sangat banyak masalah TKW yang kuhadapi. Memang sudah jadi tugasku menyelesaikan masalah mereka.
Membawa berobat kalau sakit bahkan merawat yang gila sampai sehat dan bisa kembali ke negaranya, walau terkadang kalau sudah parah kan kami kirimkan ke Rumah Sakit Jiwa dan aku harus memonitor keadaannya. TKW di company ini berasal dari 3 negara. Indonesia, Cambodia dan Philipina. Company ini termasuk terbesar di Malaysia.
Dari sekian banyak kasus yang kuhadapi, hatiku paling miris melihat beberapa TKW Indonesia yang pulang tanpa uang tapi dengan bayi dalam kandungannya. Salah satu contoh yang kuambil adalah tentang seorang TKW yang berasal Nusa Tenggara Timur. Namanya aku singkat saja “Wel” karena aku tidak ingin membuka identitasnya.
Dia berumur 24 tahun. Dia sudah 3 tahun bekerja menjaga seorang nenek, dan hanya mereka berdua tinggal di satu rumah yang besar dan mewah. Keluarga majikan sangat baik dan menganggapnya seperti anak sendiri. Sampai suatu hari majikan mengantarnya kembali ke agency kami. Aku dipanggil untuk melihat apa yang telah terjadi antara majikan dan pembantunya. Ternyata Wel sudah hamil 5 minggu.
Majikan tahu hal ini karena tiba-tiba Wel pingsan dan nenek hanya bisa menunggunya sampai sadar (nenek sudah sangat tua, 85 tahun). Awalnya majikan pikir dia kurang sehat tapi setelah dibawa ke dokter, diketahui dia hamil 5 minggu. Majikan shock dan hampir tidak bisa percaya karena bagi mereka Wel sosok yang sopan dan pendiam. Nenek hanya bisa memeluknya dan menangis.
Wel lalu bercerita kalau dia ada kenal seorang lelaki Nepal dan hanya dalam waktu 2 bulan mereka sudah berhubungan intim. Lelaki itu memberinya berbagai perhiasan yang Wel pikir emas betulan, sebagi tanda kalau dia sangat mencintai Wel, tapi setelah kami cek, itu hanya imitasi yang sangat murah.
Saat kutanya rencana Wel dengan kandungannya, dia hanya menangis. Lelaki itu sudah menghilang. Wel lalu bercerita tentang jalan hidupnya. Sewaktu dia lahir ke dunia ini, ibunya meninggal karena pendarahan dan dukun beranak tidak hati-hati membantu proses kelahiran Wel. Saat dia masih berumur 2 tahun ayahnya meninggal dibunuh orang. Tinggallah nenek yang merawat Wel sampai besar.
Dia hanya sempat sekolah hingga kelas 3 SD. Umur 19 tahun dia sudah merantau ke Jakarta menjadi pembantu rumah tangga. Umur 21 tahun dia jadi TKW. Nasib baik pun mulai berpihak padanya. Dia mendapatkan majikan yang sangat baik dan menganggapnya seperti anak sendiri.
Wel merasa takut pulang ke NTT karena neneknya sudah dibawa pergi oleh keluarga yang selama ini tidak peduli dengannya. Wel tidak punya siapa-siapa lagi dan dia belum siap jadi seorang ibu tanpa suami. Wel tidak tahu harus pulang kemana, karena rumah almarhum orang tuanya sudah sangat lama tidak ada yang huni. Tidak ada pilihan, majikan mau Wel pulang ke Indonesia dan merawat calon bayinya.
Selama Wel tinggal bersamaku, hampir tiap malam dia kudapati menangis dan tidak tidur. Aku hanya bisa memeluknya dan mencoba membuatnya tabah. Ini memang kesalahannya, tapi aku juga bisa memahami karena selama ini dia haus kasih sayang. Saat ada seseorang yang sangat pandai menjerat hatinya, dia tidak menggunakan logikanya lagi.
Masih banyak Wel yang lain kembali ke agency ini membawa calon bayinya pulang ke Indonesia. Mereka hanya korban dari sebuah nafsu dan biasanya berasal dari keluarga yang tidak harmonis. Yang kadang membuatku sangat muak kalau ternyata lelakinya adalah orang Indonesia. Mengapa sangat tega menjerumuskan sesama bangsanya? Apakah setelah di negeri orang adat budaya dan rasa sebangsa sudah hilang?
Kadang kalau lelakinya punya nomor telepon, aku akan mencoba menelepon dan minta pertanggungjawabannya. Tapi tak ada satu pun yang mau, malah ada yang bilang perempuannya tidak lebih dari seorang pelacur. Betul-betul lelaki tidak bermoral dan mungkin sudah lupa kalau diapun terlahir dari rahim seorang wanita.
Berbagai rencana dari TKW yang pulang dalam keadaan hamil sudah pernah mereka utarakan padaku. Kalau yang sudah punya suami akan pulang ke daerah lain dan menunggu sampai melahirkan atau hitungan finish contract 2 tahun baru kembali ke rumah. Kalau yang masih lajang atau janda biasanya lebih berani pulang ke kampung halaman dan siap menanggung resikonya. Tapi ada saja yang berniat mengugurkan kandungannya.
Mendengar hal ini, aku balik bertanya apa kesalahan calon bayi itu sehingga dia yang harus menanggung kesalahan orang-orang yang membuatnya tercipta. Sangat tidak adil. Mungkin orang berpikir, mudah bagiku untuk mengatakan hal ini karena bukan aku yang merasakannya. Tapi semua orang juga tahu, kalau sudah siap berhubungan intim berarti harus siap juga dengan resikonya bakal punya calon bayi.
Sejauh ini memang kalau ada TKW yang hamil masih bisa menerima nasehatku, tapi tidak tahulah sesampainya di tanah air mungkin dia tetap menggugurkan kandungannya. Memang banyak majikan yang jahat terhadap pembantunya tapi ternyata banyak juga sesama kita bangsa Indonesia yang tega merusak sesamanya orang Indonesia.
Rasa peduli dan saling menghormati sudah makin pudar. Sayangnya semua ini terjadi karena kepolosan para TKW yang nota bene berasal dari desa-desa kecil dan kurang berpendidikan. Hanya diiming-imingi sedikit hadiah sudah terbuai dan menyerahkan uang, juga harga diri. Takut untuk mengatakan tidak karena si lelaki sudah sangat pandai mengikat dirinya.
Ada juga yang mencoba minta pertanggungjawaban si laki-laki tapi apa yang dia terima? Makian dan tamparan, karena si laki-laki tidak bersedia tanggung jawab. Akhirnya si TKW hanya bisa pasrah. Kalau kami coba cek telepon dan alamat ternyata lelaki itu sudah pindah. Kalau kami tawarkan buat pengaduan ke polisi, TKW sudah takut duluan dan tidak mau.
Semoga tidak akan ada lagi Wel lain yang jadi korban penipuan laki-laki tidak bertanggung jawab. [www.blogberita.com]
CATATAN BLOG BERITA DOT COM:
Silakan bila ingin mengutip artikel atau memakai foto dari blog ini, dengan syarat menyebut sumber. Bila dikutip untuk website, blog, atau milis, maka tuliskanlah sumbernya www.blogberita.com dan buatkan link ke artikel bersangkutan. Bila dikutip untuk koran, majalah, bulletin, radio, televisi, dll, maka tulislah/sebutkanlah sumber kutipannya; www.blogberita.com.


5 September 2007 at 10:19 am
5 September 2007 at 1:03 pm
Sulit, sulit. Kalau mau mengadu dan menyeret pelaku orang malaysia yang bekerja di Malaysia, seharusnya pihak malaysia akan tegas membantah kabar itu. Apalagi kalau yang melapor adalah orang kecil…
5 September 2007 at 5:17 pm
Yang sabarlah kau ito memberikan masukan2 bagi saudara2 kita itu ya. Bagus sekali kau share pengalamanmu melalui blog ini, di samping kami dapat info kiranya ito juga bisa mendapatkan curahan hati.
God Bless You.
6 September 2007 at 4:30 am
Ya, mau kek mana lagi, dimana-mana laki-laki adalah buaya, dan perempuan adalah lubang buaya…
Perempuan materialistis paling gampang dimangsa playboy (ini penelitian lho)
6 September 2007 at 4:31 pm
Horas semua pembaca setia batak nius ini.
Kerja di Malaysia ?? Apakah masih menjadi impian para TKI kita ? Aku tak ingat lagi sudah berapa kasus yang terekspose ke media-media mengenai kekerasan terhadap TKI sampai yang paling terakhir kekerasan terhadap Donald sang wasit karate. Coba anda bayangkan, kalau semuanya di expose ke koran ??? (korannya pasti ngga laku,). Apakah TKI jera untuk menginjakkan kaki ke Malaysia dengan adanya kejadian ini ?? , jawab saya cendrung : TIDAK !!.Malah semakin banyak, itu yang ilegal saja, dan yang aku liat langsung antri berbaris di custom Stulang Laut sana, setiap minggunya.
Seoalah-olah mereka tak ambil pusing dengan apa yang akan mereka hadapi kelak setelah malaysia, yang penting buat mereka sepertinya adalah bisa mengumpul ringgit sebanyak-banyaknya dan mengirimnya ke kampung.Tak bisa disangkal, TKI banyak yang berhasil setelah bekerja di Malaysia, umumnya menjadi pedagang(tapi jarang di liput media) dan itu tadi – juga lumayan banyak yang pulang membawa derita pisik and psikologis setelah mengalami kekerasan oleh majikannya.Disatu sisi ini DILEMA, TKI sebagai penghasil devisa terbesar disektor non migas pemerintah sulit untuk mengambil tindakan spontan & tegas terhadap kasus-kasus kekerasan ini, dan disisi lain para “new comer TKI” masih banyak juga yang antri ingin bekerja di Malaysia.
Pertanyaanku : Siapa yang lebih membutuhkan TKI ini ?
(sorry tak bisa kujawab).Contoh ilustrasi aja: ” Di kota B*** PJTKI tumbuh bagaikan jamur di musim hujan, usaha ini sangat menjanjikan fulus yang banyak (katanya), kwalitas SDM nya ? nanti dulu – yang penting lolos dulu segala persyaratan kirim-serah terima TKI – jadilah uang, mesin uang ?/tak tau aku. Lae Jarar sering bilang bahwa UANG tidak segala-galanya, dan saya setuju dengan statement itu, tapi Uang bisa membutakan hati nurani setiap orang, apalagi sudah mata hepengon (mata duitan). Jadi menurut aku persoalan TKI ini bagaikan benang kusut dan lingkaran setan yang ngga ujung pangkalnya. Kekerasan, pemerkosaan, pelecehan, terhadap TKI tidak pernah terselesaikan dari tahun ke tahun, dari kasus ke kasis, lebih tenggelam begitu saja. Ayo para pembaca batak nius, coba kita keluarkan ide-ide : Siapa,apa,dimana,bagaimana untuk meminimalisir kekerasan terhadap TKI, di forum batak nius ini (permisi ya lae Jarar). Lae Jarar mungkin bisa membantu untuk untuk mengakomodir dan mengajukannya ke pemerintah c.q Depnaker. Gimana Lae Jarar ?? OK nya ini.
JARAR SIAHAAN: batak news baru sebatas media ecek-ecek. mana mau pemerintah membaca blog ini, lae. pejabat pemerintah kita itu pada umumnya bebal. sudah terlalu sering media-media besar seperti kompas, tempo, atau metro tv mengulas masalah begini, tapi pemerintah terlihat belum terlalu serius menanganinya.
7 September 2007 at 10:22 am
Komentarku… Kasihan memang si “Wel” itu… Tapi, salah dia sendiri kenapa percaya saja sama si pria Nepal itu, sampai rela memberikan “bagian berharga” dari hidupnya. Seharusnya, dia lebih bersyukur telah menemukan majikan yang begitu baik (kebalikan yang selama ini kita lihat diberita-berita tivi). Namun, cemmana pulalah ini. “Wel” sendiri tak punya pendidikan. Hanya monek (modal nekad) doang hijrah ke negeri orang. Maka, sudah seharusnya pemerintah kita sekarang ini lebih memberhatikan SDM TKI yang mau dikirim. Apa masih punya kepedulian enggak sih, ya, pemerintah soal SDM ini?
Buat bereku, Farida… Selalulah berhati-hati di negeri orang, pintar membawa diri dan bijak dalam memberi konsultasi bagi para TKI kita yang bermasalah di sana. Karena bere juga termasuk seperti mereka, sama-sama TKI, walau beda status. Jangan lupa berdoa dan minta bimbingan Tuhan. Eh, jingarmu itu juga lebih diredam, ya, bere. Bagus untuk sharing-mu via blog ini untuk lebih memberi gambaran tentang bangsa kita di negeri jiran yang makin belagu itu… Gbu.
12 September 2007 at 12:14 am
Assalamualaikum dan selamat sejahtera,
Apakah benar orang Malaysia itu jahat, berlagu dan segala yang bobrok itu perbuatan Malaysia.
Mengapa tidak pernah dipersoalkan dan diperjuangkan perbuatan calo, PJTKI atas perbuatannya terhadap calon-calon TKI
Saya orang Malaysia dan pernah kuliah di UI – Antropologi 91, saya pernah tinggal di Desa Salam Kanci di Magelang – saya lihat sendiri kekayaan dan kesenangan hidup warganya kerana menjadi PATI di Malaysia, desanya membangun kerana ada dana dari warganya yang bekerja di Malaysia – tapi tidak pernah disebut pun kebaikan yang pernah dilakukan oleh Malaysia – di Aceh, Yogyakarta, Nias….
Dari berpuluh dan mungkin beratus blogger hanya bercerita keburukan Malaysia dan warganya dan saya saya pertanyakan semula apakan sumbangan anda terhadap TKW atau TKI – jangan jagoan kritik doang
Bagaimana orang Malaysia mau memperlakukan TKI sama level kalau orang Indonesia sendiri memandang hina mereka – adakah pembantu rumah di Indonesia bisa duduk makan semeja dengan majikan atau duduk atas sofa nonton TV dengan majikan – ini agak lebih baik di Malaysia – lihat Di Mac Donald Sarinah Jakarta, majikan makan ayam goreng enak, baby sitter nya gendong anak – kalian pernah nampak di Malaysia begini,
Terlalu banyak sebenarnya pengalaman saya di Jakarta apalagi di UI – mungkin masih ada Balsam, Gazebo, Cafe UI – siapa yang makan di Balsam, siapa yang nongkrong di Gazebo dan siapa yang nogkrong di Cafe – anak-anak daerah yang miskin enggak mungkin mau nongkrong di cafe – diskriminasi sesama bangsa itu gimana apa enggak perlu pembelaan
Satu lagi yang saya ingat – lagu beca kok nongkrong di laut
Marah maki hamun bukan cara menyelesaikan masalah, berdiskusilah secara orang bijak pandai takutnya marah dan maki hamun itu terkena diri sendiri – lihat artikel di atas contoh yang paling tepat – seringnya majikan Malaysia yang dituduh menghamililah, tau-taunya orang sendiri dan orang Nepal lagi – cari jalan gimana bisa didik calon TKW/TKI jadi kelas satu
22 September 2007 at 11:31 pm
iyah memang bener tu Zulfa, mereka hanya tau menyalak kepada tangan yang memberi mereka makan
3 November 2007 at 10:22 pm
kak. enak juga tentang pengalaman kakak.
ak sangat senang waktu mebaca kk.kirim dong kak
cerita pengalaman yg lain ya?thank U
6 November 2007 at 11:40 pm
jaga diri donk jangan mpek hamil