[suhunan situmorang; batak news; pelukis pembela kaum buruh]

Dia seniman yang “tak ingin” kaya, anak seorang jenderal TNI-AD, tapi justru anti-militerisme.

Pelukis SEMSAR SIAHAANKakinya dipatahkan aparat militer ketika ikut demo membela Tempo yang ditutup rezim Soeharto. Kompas menulis “kesintingannya” tinggal di rumah kontrakan yang mirip rumah hantu. Saat kuliah di ITB, dia nekat membakar patung karya dosennya sendiri.

Artikel ini ditulis oleh Suhunan Situmorang, seorang advokat di kantor Nugroho Partnership Jakarta, pengarang novel, dan juga penikmat karya seni. Tulisan ini dikirimkan ke imelku bataknews [at] gmail [dot] com.

TANGANNYA BEGITU CEPAT menyendok makanan ke mulutnya. Tak terkesan lahap atau karena remasan lapar. Mungkin begitulah caranya makan, atau karena merasa sudah terlambat mengikuti hajatan sastrawan Sitor Situmorang yang berulangtahun ke-80 di sebuah ruang pameran TIM itu. Malam itu, 2 Oktober 2004, sambil makan, kami membincangkan banyak hal, terutama tema yang diusungnya dalam pameran karya-karya terbarunya di Galeri Nasional.

Ia belum berobah, tetap berselubung misteri. Sejak Juni 1994, kali pertama mengenal dalam sebuah diskusi gelap, kesanku pada lelaki separuh baya ini masih sama: dingin, angker, garang, pemarah, teguh bak batu karang, penuh misteri, walau hatinya tulus menjalani relasi sosial dan humanis. Bedanya, malam itu, kulihat wajahnya kusut-masai, rambutnya semakin memutih, dan… agak aneh: bola matanya kuning. Yang kutahu, mata seperti itu lazim terjadi pada pengidap penyakit kuning atau hepatitis. Namun, demi etika pergaulan, tak kutanyakan.

Bicaranya tetap lugas, dan lantak. Ia memintaku agar tak ikut merokok di ruangan berpendingin udara seadanya itu, seraya mengecam beberapa pengunjung yang tak mengacuhkan larangan merokok. “Itu merugikan kesehatan orang lain,” ujarnya tegas.

Selain menyinggung pameran karyanya yang meledek dan mengecam G-8 di Galeri Nasional, pertanyaan yang kusudorkan tak jauh dari alasan kepulangannya setelah berdiam di Kanada, 1999-2004. Pengakuannya, tak betah dan sebetulnya sudah lama muak mukim di negeri yang dingin itu, terutama disebabkan sikap rasis orang-orang kulit putih Kanada yang kelewatan pada imigran dari Asia dan Afrika. Saya kaget, tak menyangka separah itu—jika pengakuannya benar. Sebelumnya kubayangkan, ia hidup nyaman dan menemukan tempat yang tepat untuk membebaskan dirinya bereksperimen dengan status tamu terhormat The University of Victoria.

Ia memilih kembali ke negerinya, seperti apapun kondisinya; tanah air yang kelewat dicintainya namun sekian tahun dikejar-kejar intelijen dan tentara penguasa karena sikap kritis dan perlawanannya.

Semsar Siahaan, mungkin tak begitu akrab di telinga anda, seperti halnya orang Indonesia kebanyakan—apalagi di kalangan etnis Batak. Ia terkenal dan dikenal orang-orang dan kalangan tertentu saja, termasuk orang luar negeri pemerhati senirupa. Sebagai seniman, ia dipuji, dikagumi, sekaligus dibenci karena sikap keras, kritis, radikal, dan gairah berontaknya yang seakan tiada akhir. Terbilang naiflah bila mengaku penggiat atau pengamat senirupa (terutama lukis) di Indonesia bila tak tahu Semsar Siahaan berikut ulahnya.

Lelaki kelahiran Medan 11 Juni 1952 itu pernah menggemparkan kampusnya, Departemen Seni Rupa ITB, karena nekat membakar karya dosennya, Soenaryo, patung Citra Irian. Juga menggegerkan “warga” TIM karena pernah memanjat kubah planetarium malam menjelang pagi untuk memasang spanduk “manifesto politik berkeseniannya”, dan tanpa izin penguasa TIM, melukis mural anti-Soeharto dan anti-militerisme di tembok luar Teater Arena, yang kemudian dihancurkan (entah oleh siapa) berikut bangunan teater.

karya SEMSAR SIAHAAN; buruh (kiri) dan manubilis (kanan)

Sejak kuliah di Departemen Senirupa ITB, ia sudah memperlihatkan sikap kerasnya melawan rezim yang dibangun Soeharto, sekaligus menentang militerisme tanpa pernah merasa takut. Ironisnya, ayahnya sendiri seorang militer (AD) dengan pangkat perwira tinggi.

Ia aktif berdemo menentang Perang Teluk, 1991. Ketika pemerintahan Soeharto membreidel majalah Tempo, Editor, tabloid Detik, Juni 1994, ia termasuk yang garang berdemonstrasi di sepanjang Jalan Medan Merdeka Barat-Thamrin. Saya sendiri, saat itu, terbilang “pengecut” karena tak berani bergabung dengan pengunjuk rasa dan cukup menyaksikan dari halaman gedung Sarinah. Sepanjang usiaku, baru dua kali memang ikut berunjukrasa. Pertama, ketika mengecam pelaku ‘Bom Bali’ kedua di Bundaran HI bersama pemuda-pemudi Hindu Jakarta atas ajakan Ismed Hasan Putro, ketua Masyarakat Profesional Madani (MPM). Kedua, saat ‘Aliansi Mawar Putih’ menentang RUU Anti Pornografi atas ajakan Ayu Utami, itupun lebih banyak menikmati wajah-wajah cantik kaum perempuan peserta demonstrasi yang wara-wiri di dekat tugu Selamat Datang HI, lalu ngobrol sembari merokok dengan Presiden SBY Republik Mimpi, Butet K.

Harga yang harus “dibayar” Semsar untuk perlawanan atas pembreidelan majalah Tempo itu cukup mahal: aparat militer mematahkan salah satu kakinya, dan sejak itulah ia agak pincang bila melangkah.

Lewat karya dan suaranya, Semsar adalah oposan abadi bagi rezim Orde Baru. Bahkan, sesudah Soeharto lengser pun, ia tetap diuber orang-orang misterius—membuat ia harus melarikan diri ke Kanada berkat bantuan teman dan pengagum karyanya di luar negeri, melalui jalur Singapura.

Sebagai orang awam di dunia senirupa, saya tak punya kapasitas membicarakan karya-karyanya, yang menurut penilaianku yang cuma penikmat, jauh dari kesan indah. Tetapi siapapun, bila tak subjektif dan apriori pada Semsar, akan mengakui lukisan, sketsa, instalasi, karya lelaki penyendiri yang hampir semua karyanya bertemakan kemarahan, pemberontakan, perlawanan, ledekan, ironi dan tragedi, itu adalah karya-karya yang tak hanya kuat memberi gambaran atas tema yang dilukis atau diguratnya termasuk aksentuasi warna pilihannya, juga, yang tak kalah penting: jujur mengungkapkan negative capability, isi hati dan pikirannya.

Semsar memang bukan pelukis “biasa”. Ia juga kritikus sosial yang tak bisa mendiamkan karut-marutnya realitas sosial yang dilihat matanya dalam keseharian. Ia marah melihat totalitariannya pemerintah Orde Baru yang seenak perut menginak-injak HAM, geram menyaksikan kemiskinan penduduk yang semakin mengerikan akibat ketidakbecusan penguasa mengelola aset dan keuangan negara sementara di sisi lain praktik-praktik KKN semakin memakmurkan keluarga pejabat dan pengusaha kroninya. Berang atas perlakuan-perlakuan diskriminatif penegak hukum, penindasan terhadap buruh, dan mengecam kecenderungan masyarakat yang kian egois, materialistis, konsumtif, dan snobis. Sikap galak dan kritisnya itu membuat dirinya memainkan posisi ganda di dunia senirupa Indonesia: seniman sekaligus kritisi sosial.

Ia setuju seniman tak harus hidup merana dan berhak meraih taraf hidup yang layak melalui karya-karyanya. Namun, dikecamnya seniman-seniman yang semata-mata berkarya karena pesanan galeri atau kurator yang ia sebut toko dan makelar lukisan; yang meredam luap emosi jiwa dan kecamuk pikiran demi memenuhi selera pasar dan pesanan kurator/galeri. Disindirnya para pelukis berharga super-mahal, salah seorang di antaranya sahabatku, perempuan Yogja bernama Erica, pelukis bergaya “kekanak-kanakan” yang harga lukisannya berkisar puluhan juta hingga ratus juta.

Semsar menilai pelukis-pelukis yang diperebutkan pemilik galeri-galeri seni di wilayah Kemang itu sebagai korban budaya ketamakan dan kerakusan yang disemburkan sistem kapitalisme dengan cara mematikan nurani; yang berkarya tanpa jiwa, tanpa ruang kebebasan mengaktualkan diri.

“Apakah kapitalisme selalu salah?” tanyaku ketika itu sekaligus menyikapi tema pamerannya di Galeri Nasional yang mengkritik para pemimpin dan industriawan negara-negara G-8, “Dan, adakah sistem yang lebih baik di luar kapitalisme?”

Semsar tak langsung menjawab. Mungkin pertanyaan semacam itu terlalu sering ia terima dan sudah pula berulang-ulang memberi sikap—sehingga menimbulkan kejenuhan. Sebagai seniman, bukan akademisi ideologi atau teoritisi ilmu ekonomi, ia lebih suka bila kritik dan pandangannya dibaca lewat karya-karya lukis, sketsa dan instalasinya yang sudah tegas bercerita; tak lagi menelurkan interpretasi dan penjelasan-penjelasan verbal. Dari simbolisme potongan-potongan pizza berukuran besar yang ia tampilkan dalam salah satu karya instalasinya di pameran terakhirnya itu, tak sulit memang mengaitkannya dengan hegemoni negara-negara berekonomi kuat yang tergabung dalam G-8 terhadap negara-negara berekonomi lemah dan terbelakang.

Dalam bahasa gamblang, ia mau mengingatkan siapa saja: penjajahan negara-negara berekonomi adidaya semakin mengakar, mencengkeram, ganas, yang sepatutnya dicemaskan dan diwaspadai—tak hanya menikmati budaya-budaya konsumtif dan materialistis yang tanpa disadari telah merasuki diri, membuat kecanduan dan ketergantungan pada apapun produk mereka, dan tak begitu saja dipukau pesona globalisasi, yang menelan mentah-mentah kultur dan “nilai-nilai baru” yang disuguhkan.

Semsar memang tak pernah lelah dan bosan memperjuangkan keadilan dalam berbagai spektrum dan kasus, selain terus mengingatkan agar harga diri tak diabaikan. Sikap keras dan nonkompromistisnya itu acap dikaitkan dengan darah dan turunan “genetikanya”, manusia Batak yang hidup dan dididik dengan kultur militer. Entahlah apakah ada kaitannya, Semsar sendiri tak murni berdarah Batak, sebab perempuan yang melahirkannya berdarah India. Lagipula, ia tak seperti turunan serdadu pada umumnya yang doyan membawa-bawa pistol ayah dan bangga atas pangkat dan kuasa orangtua.

Yang membuat saya heran dan sampai kini tetap bertanya-tanya, mengapa ia memilih jalan yang sepi itu—seniman pemberontak, galak, anti kemapanan, penyendiri, menjauhkan diri dari hampir semua atribut kenikmatan jasmaniah—sementara latarbelakangnya, sebetulnya, berasal dari kelas menengah, kalau tak orang kaya. Bayangkan, masa kecil dan remajanya—karena tugas ayahnya—terlewatkan di Beograd, Yugoslavia, Perancis, San Fransisco; tempat-tempat di mana ia mulai belajar seni lukis dan sketsa. Maka ketika mulai kuliah di ITB (1977), sebetulnya ia sudah memiliki pengetahuan dan kemampuan yang lebih dari cukup sebagai seniman.

Semsar tak tamat dari kuliah senirupanya di ITB, mungkin karena sudah terlanjur dianggap “monster” yang menakutkan almamaternya, selain ketakbutuhannya pada selembar kertas diploma. Tetapi lewat gebrakannya pada sebuah bianneale TIM-IKJ tahun 80-an, ia semakin tegas menampakkan dirinya: bukan sekadar seniman pemberontak yang ekstrim menyalurkan sikap—terutama ketika pameran seni instalasinya itu ia gali halaman belakang TIM laksana liang kubur untuk manusia raksasa yang merindingkan bulu-bulu tubuh, dan…, seusainya, membakar karya-karyanya, membuat penikmat dan pengamat senirupa terperanjat dan sulit percaya.

Baginya, hakekat sebuah karya adalah ketika akhirnya dimusnahkan dengan cara dibakar supaya jadi abu. Kelihatannya, pengaruh Hindu dan India sangat kental dalam dirinya, termasuk kesukaannya pada musik India, termasuk album-album Beatles dan beberapa personilnya yang melahirkan karya musik dengan mengadopsi unsur musik dan instrumen India.

Ketika karya-karyanya ia musnahkan, saya termasuk yang kesusahan memahami jalan pikirannya, dan karenanya hanya bisa bergurau pada seorang kawan dekat, Iskandar Siahaan, yang sempat dekat dengan Semsar (mungkin karena faktor semarga), bahwa “Siahaan memang banyak yang rittik (sinting).” Edan!

Harian Kompas sendiri pernah mengulas kenyentrikan Siahaan yang satu ini secara panjang-lebar. Diceritakan, betapa seorang ibu pemilik rumah sederhana yang disewa Semsar di wilayah Cinere, senantiasa heran dan bertanya-tanya menyangkut lelaki misterius penyewa rumahnya. Rumput liar yang tumbuh di halaman rumah dibiarkan mengilalang hingga hampir menutupi bangunan rumah, pintu dan jendela jarang dibuka, dan penghuninya amat jarang melongok matahari.

Kelangsungan rumahtangganya (ia menikah dengan perempuan non-Batak, beda keyakinan tetapi disebut-sebut Semsar sudah mengkonversi keyakinannya) yang kandas di tengah jalan dan kehidupan (atau sikap?) keberagamaannya yang “aneh” dan cenderung agnostic, seolah melengkapi kemisteriusannya. Tetapi, dengan seluruh keanehan dan “kegilaannya” yang tak terkesan dibuat-buat atau dipaksakan itu, membuat dirinya menjadi ikon atau simbol perlawanan dan pemberontakan yang dikagumi kaum muda anti-kemapanan; menggoda penggiat dan pengamat senirupa dan pemerhati isu HAM dari manca negara (terutama Eropa, Amerika, Kanada, Australia), terus menguntit aktivitas dan karyanya.

Mungkin, Semsar-lah seniman pluralistik (istilah kritisi senirupa) Indonesia yang paling banyak diulas media-media senirupa Eropa, Amerika, Kanada, Australia, Jepang. Barangkali pula, selain Pram, Sitor, Goenawan Mohamad, dialah “orang-orang aneh” milik bangsa ini yang karya dan figurnya tak habis-habis dikaji pengamat seni-budaya-sastra lokal maupun luar.

Saya tak akan memaparkan apa-apa saja karya Semsar di tulisan sederhana ini. Bila anda tertarik menelusuri lebih jauh “ke-diri-an” dan karya-karyanya, mudah dicari dengan mengklik Google atau Yahoo. Salah satunya, Semsar’s Gallery, asal foto-foto wajah dan lukisan Semsar “dipinjam” untuk tulisan ini.

Saya merasa beruntung sempat mengenal dan beberapakali berbincang dengan lelaki misterius ini—walau tak hangat, tetap berjarak, dan, sebagaimana penilaian kawan-kawan lain, takkan bisa dirangkul oleh siapapun, termasuk katanya keluarga dekatnya sendiri, apalagi menjadikannya semacam alter-ego. Ia mengaku tak punya HP dan hanya mau dihubungi lewat email.

Demikian pun, ketika beberapa bulan setelah perbincangan di hajatan Sitor itu kuterima kabar duka melalui SMS seorang kawan di Bali, “Semsar Shn mninggl dnia di Bali krn srngan jntng, jnzhnya akn dibw ke Jkt”, selain terkejut, perasaanku amat sedih—seraya membayangkan bola matanya yang menguning itu. SMS tersebut lalu kuteruskan pada Grace Siregar di Tobelo-Halmahera Utara, Agus Budyanto (pelukis cat air yang sedang naik daun), Tumpley Siahaan dan teman-teman seniman hotel Hilton, dan yang lain-lain.

Sesaat saya terdiam, lalu menggumam: “Sekali, tetapi berarti…”

Ia meninggal dunia di RSUD Tabanan, 23 Februari 2005, jam 1 Wita, tatkala melihat-lihat tukang bangunan mengerjakan studio sekaligus huniannya. Dusun Kesambi, Jatiluwih, Panebei-Tabanan, ia putuskan huniannya terakhir sekalian tempat berkarya—tanah nan bidang, yang pengakuannya pada saya, pemberian kawan dekatnya.

Jenazahnya sempat disemayamkan di Galeri Cipta TIM sebelum dikuburkan esoknya di pekuburan Menteng Pulo. Saya tak ikut mengantarnya, tetapi manakala melewati Jalan Casablanca yang membelah komplek makam yang kian dikepung bangunan apartemen itu, sesekali terbayang: seorang seniman besar negeri ini, pemberontak untuk keadilan dan kemanusiaan yang kesepian, rebah di situ. [www.blogberita.com]

SUHUNAN SITUMORANG (Jakarta)CATATAN BLOG BERITA: Foto diri Semsar Siahaan di atas adalah jepretan Suzanne Von Borsody di Bali pada 1987; dua karya lukisan Semsar berjudul Buruh [kiri] dan Manubilis [kanan] — diambil dari Semsar’s Gallery. Manubilis adalah singkatannya untuk menyebut “manusia-binatang-iblis”. Jadi teringat, aku pernah menulis artikel di blog ini berjudul Manusia binatang berhati iblis pemuja agama.

Artikel Suhunan Situmorang sebelumnya:

Silakan bila ingin mengutip artikel dari blog ini, dengan syarat menyebut sumber. Bila dikutip untuk website, blog, atau milis, maka tuliskanlah sumbernya www.blogberita.com dan buatkan link ke artikel bersangkutan. Bila dikutip untuk koran, majalah, bulletin, radio, televisi, dll, maka tulislah/ sebutkanlah sumber kutipannya; www.blogberita.com.


  1. Windu

    Ada 3 hal yang ingin saya sampaikan setelah membaca artikel yang menarik dan bagus ini,
    1. Semsar Siahaan mungkin bisa dikatakan sebagai tipe seniman yang jumlahnya sangat sedikit di Indonesia (atau jangan-jangan hanya dua atau tiga orang), dia bisa kita samakan dalam dunia musik seperti Iwan Fals yang karyanya terkenal dengan kritik sosial dan kritik terhadap pemerintah yang korupsi dan otoriter.
    2. Di zaman sekarang ini saya pikirakan sulit menemukan seniman (dalam bidang seni manapun) yang mampu berkarya seperti Semsar Siahaan yang tidak berorientasi uang, melainkan orientasi kepuasan batinnya. Pada umumnya seniman membuat karya atas pesanan ataupun untuk dijual mahal-mahal dalam lelang hingga puluhan juta satu karya. (Maaf, ini namanya “seniman matre”. Kalau begitu masyarakat Indonsia tidak akan mampu menikmati karya seni karena harganya selangit, hanya konglomerat dan pejabat lah yang mampu).
    3. sekaligus pesan kepada para seniman di Indonesia, buatlah karya seni yang murah terjangkau kantong masyarakat umum.
    Terimakasih.

  2. Farida Simanjuntak

    Sungguh seorang “pemberontak” sejati yang tidak mau takluk pada kemunafikan penguasa. Saya sering berpikir, mengapa orang yang perjuangannya murni untuk orang-orang kecil dan berani menelanjangi kebobrokan di negara kita hanya berumur pendek ?

    Bagi saya, justru inilah pengorbanan yang sebenarnya. Demi perjuangannya, tak ada waktu untuk memikirkan diri sendiri. Sekarang seorang Semsar Siahaan sudah mempunyai tempat damai bersama Penciptanya. Apakah akan lahir lagi semsar-Semsar yang lain ??????

  3. jujur saja, tadinya aku mau tukar hape. Padahal hapeku sudah 2. Setelah membaca artikelnya bang Tumorang ini, tak jadilah kau membeli hape yang baru. Padahal aku sudah berusaha tak matre………tapi lihatlah, Seniman besar sekelas Semsar Siahaan, sudah mendunia, hape pun tak (mau) punya. Bending dengan dengan aku, baru kerja dibengkel jelek kayak gini maunya sudah macam-macam. TV layar datar sebesar meja tenis (kayak pegawai kantor pajak itu), hape odel terbaru yang main lipat itu (kayak anggota DPR pulak). Nah sekarang paling tidak kisah hidup Bang Siahaan ini bisa menjadi cermin bagi saya untuk hidup apa adanya. Menjadi diri sendiri. Agak-agak meleleh (air) mataku. Tertunduk aku, betul koq. Tak mengarang-ngarang lah. Nah terbukti kan, orang Batak bukan hanya kerja di Kantor Pajak! Apa kubilang bang………

    BLOG BERITA: :D botul, botul. jawab lae kita suparno ini, lae suhunan.

  4. Bonatua 766hi

    wah tokoh begini ni favourite guwe, expressive, nyentrik dan memperjuangkan hati nurani, t’kadang hasil bukan jadi tujuan utama melainkan cara penyampaiannya, jujur saja saya baru dengar tokoh kita yang satu ini, thanks for laeku…jahara berkat anda saya menjadi punya tokoh idola sekelas soe hoek “Gie”, karena bagiku perjuangan mereka2 lebih nyata ketimbang ribuan pahlawan nasional yang dikubur di makam pahlawan ataupun pahlawan revolusi yang nama2nya tertulis di jalan2 protokol di jakarta.

    Untuk mengenang kepergianmu Semsar Siahaan izinkan daku menitip pesan:
    Lihatlah hai orang2 tempoe dulu yang mengaku pahlawan kemerdekaan temasuk kamu yang masih hidup sampai sekarang( suharto1, suharto2, suharto3 …dst), menurutku kalian hanya kebetulan saja dilahirkan pada saat zaman kemerdekaan dan ikut berjuang namun setelah itu kamu meminta imbalan dengan alasan ikut berperang, juga dengan alasan kemerdekan yang engkau perjuangkan engkau membenarkan diri atas penjajahan bagi kami manusia2 yang hidup setelah kemerdekaan, dan anehnya tanpa budaya malu imperialisme baru yang engkau ciptakan tak lupa kau jatahkan ke keturunanmu sampai sekarang, bullshits tu kemerdekaan…..

    bulshits tu kepahlawnana kenyataannya orang2 seperti kami tetap merasa penjajahan, merasakan ketidakadilan, kemelaratan. Dengan selembar surat sertifikat kepahlawanan kalian paksakan birokrasi yang tak berperasaan dan tak jarang kalian selipkan tulisan atas nama agama dan kebenaran, beajarlah arti kepahlawanan dari mendiang semsar siahaan… berjuang tanpa berharap untuk dikenang, tanpa takut tekanan tekanan birokrasi yang engkau suguhkan, apalah arti sebuah kaki yang pincang dibandingkn pemikiran bebas yang terkekang, apalh arti nyawa yang melayang dibandingkan karya-karyanya yang tetap hidup dan dikenang….

  5. Architect_singapore

    Maaf.. saya mau mananyakan kebenaran kabar berita, apakah benar saudara Kristian Manurung, pelaku demo ke kantor bupati Tobasa beberapa waktu lalu ‘diculik’?. Mohon konfirmasi atas kebenaran kabar berita diatas. Thanks buat pengasuh blog news .

    BLOG BERITA: memang dia kabarnya tidak pulang ke rumah. soal diculik atau bagaimana, belum pasti. sumber yang lae kutip adalah berdasarkan siaran pers humas pemkab tobasa yang dibagi-bagikan kepada wartawan hari minggu kemarin. bila waktuku sudah longgar, aku akan ke lapangan meliput kasus ini.

  6. Sebetulnya saya juga ingin menjadi seniman. Tetapi belum bisa saya seberani itu. :(

  7. muh andre raberta

    satu lagi kawan pergi…perjuangan, dan kerja2 kemanusiannya tak kan pernah lekang, sekitar 1 bulan yang lewat salah satu Kawan aktivis gerakan (alm) Boy Yandrafika juga meninggal dunia, sakitnya yang dideritanya selama bertahun-tahun, nyaris tak membuat suaranya melemah ketika diskusi, makian dan kepedihan hatinya menyaksikan petani-petani yang di caplok tanhnya, dikejar-kejar mulai dari satpol PP hingga TNI dalam aksi2 pembanguna kesadaran kelas tertindas. menjadi agenda rutinya

    fitnahan, keterasingan dan perjuangannya dalam melawan kediktatoran penguasa, semakin dilengkapi ketika ada seorang perempuan Kuat dari kalangan akhwat(ini kontras dia terkenal sebagai aktifis kiri progresif, sedangkan istrinya dari kalangan akhwat) cinta menyatukan ke duanya dan memebentuk sebuah keluarga. semakin hari sakitnya semakin parah, dan akhirnya dia pergi, aku waktu mendapat kabar itu hanya tertegun..menelan ludah satu kawanku pergi

    sekarang mungkin dia telah bebas..bebas dari sakitnya, bebas dari belenggu penindasan yang dideranya, himpitan kemsikinan, dan sebagainya, dan sebaginya. “kemerdekaannya yang telah diberikannya kepada segenap pengorganisiran rakjat,” membuatnya tidak hire\au pada kesehatannya.. selamat jalan boy, selamat jalan Semsar.. walau aku baru tahu padamu hari ini, kau bagian dari perjuangan melawan penjajah ekonomi saat ini.. bangkitlah semua kawan-kawan muda….!!!!

  8. SMN

    Salut utk lae Semsar Siahaan,
    Terkadang memang orang yg idealis itu cenderung radikal pemikirannya. :D apa itu betul? tidak perduli apa kata orang, masa bodo, asalkan apa yg ada dalam benaknya dapat dimuntahkan, kalau bhs betawinya: ‘terserah lu mau bilang dan nilai gue seperti apa, yang penting inilah gue’. Kepuasan batin lebih menggugahnya untuk tetap eksis berkarya, daripada hal yg lain, bukan macam aku ini mau idealis tp masih takut hidup susah, mungkin tidak bisa dibilang cukup idealis. :D . Terkadang memang susah mengikuti jalan pikiran orang yg gigih dgn keidealisannya, yah mungkin benar kata pepatah: ‘rambut boleh sama hitam, hati dan pikiran manusia tidak selalu sama”.

    “If the human mind were simple enough to understand, we’d be too simple to understand it.”

  9. grace siregar

    horas ito suhunan, ito jarar dll,

    4 kali saya bertemu dan ngobrol2 dengan semsar siahaan. terakhir ngobrolnya di galeri nasional, sebelum berangkat ke tobelo, maluku utara. apa yang diceritakan oleh ito suhunan memanglah betul. semsar siahaan adalah seorang icon perupa batak yang memberontak tanpa takut-takut terhadap ketidakpedulian dan keterpurukan manusia, terutama kepada ketidakadilan rakyat kecil dari bangsanya sendiri. dia bilang padaku saat itu: berkaryalah mengikuti hati nuranimu, jangan sampai kau “terbeli” grace siregar!”

    aku agak terkejut pada saat dia bilang bahwa dia mengenalku melalui tulisan-tulisanku yang aku kirimkan di website indonesian contemporary art, javafred, yang didukung oleh astri wright dkk. sampai saat ini pun, aku tidak pernah lupa ucapannya yang terakhir di galeri nasional itu. rasa sepi itu bisa terpancar dari matanya yang benar kuning, kesepian yang merupakan pilihan hidupnya terhadap pengembaraannya dalam berkarya. ada kehilangan yang sangat sontak ketika ito suhunan mengirimkan sms kematian semsar siahan, saat aku berada di tobelo, maluku utara. sms itupun aku kirimkan kepada teman-teman perupa yang lainnya.

    semsar siahaan adalah salah satu sosok perupa yang membuatku berkarya terus, kapan pun dan dimana pun! Love & Peace, Grace Siregar

  10. bener bener….sekali tapi berarti! saya nangis… :( zaman sekarang, hampr mustahil menemukan orang yang bisa konsisten!

  11. Pernah Semsar selalu mengumpulkan biji buah mangga yang selesai dimakannya dan dimasukkan kedalam kantong plastik. Saya bertanya, “buat apa Sem?” Ia mengatakan akan menanamnya jika melihat lahan yang kosong atau melemparnya ke lahan tersebut, milik siapa saja, dan siapa tahu biji tersebut akan tumbuh. Lebih bermanfaat, ujarnya, daripada menanam pohon akasia.

    Mungkin ada diantara biji-biji mangga tersebut yang kini telah tumbuh tinggi, tanpa Semsar harus tahu.

  12. @ Suparno
    Ealah…, si Mas yang satu ini memang suka merendah. Lha buktinya, HP-nya loro tapi ngaku kerja cuma di bengkel welek. Sing welek iku bengkelnya, Mas. Duite akeh…he-he-he. Ojo mleleh tho Mas airmatane, aku dadi ikut-ikutan sedih…Yo wis Mas, tuku wae tivi sing layare lueebharrr….itu! Ojo ditunda-tunda! Nanti ajak aku nonton bareng yo, Mas.

    @yati
    Sudah sElEsai tangismU itu kan ito, Eh, Embak? MEmang bEtUl kali yang kaU bilang itU. Zzzaman sEkarang, sUlit kali mEmang sUpaya tEtap konsistEn! Aku pUn sEring tak konsistEn! PErjuangankU sEring sEtEngah-sEtengah, apalagi kalok dUitkU sUdah tipIs. HEbat ya si SEmsar itU…

    @ Thamrin

    Nah…, benar itu Mas. Aku lupa mengaitkannya ke kecintaannya pada tanaman/pohon itu, khususnya yg bisa menghasilkan buah utk dimakan manusia dan hewan. Mana pernah kita pikirkan itu sebelumnya, ya kan, Mas? Jangan-jangan, rumput dan ilalang di depan rumahnya itu sengaja tak dipotong-potong biar bumi ini tetap hijau, segar, tak peduli indah atau tak indah ditatap mata. Siapa tahu pula konsep atau defenisi ‘indah’ dan ‘keindahan’ bagi dirinya, berbeda dng yg kita pahami selama ini. Memang, “aneh” kalilah kawan yg satu ini.

  13. Semsar itu Tan Malaka dan Che Guevara dengan versi berbeda. Mungkin Semsar lebih intovert, atau selfish ? Yang pelik buat aku memilih antara tokoh yang ditulis dan penulisnya, mana lebih interesting ? Penulisnya! Semsar hanya alter ego buat Suhunan, untuk mengekspresikan pemberontakan yang tak berani ia lakukan, kesunyian hati yang malu ia tuturkan. Sok teu neh aku, lae. Salam kenal.

  14. Ha-ha-ha…, zadi tertawa sekaligus malu aku setelah membassa komentarnya lae Manurung ini, bah. Dipretelinya aku fuang…

    Sungguh lae, aku memang kagum sama almarhum Semsar, walau seperti kata Mas Mihael “D.B.” Ellinsworth, “gak bisa seberani itu.”

    Salam kenal juga, lae.

  15. Sibarani

    @Thamrin
    ‘Filosofi mangga’ itu begitu menyentak. Seperti itulah harusnya kita hidup, ya. Tanpa pamrih!