[pandapotan siallagan; batak news; biar kamu sehat, say...]
Ini bukan anjuran dokter. Ini permintaan seorang kekasih pada pacarnya.
Artikel singkat yang romantis ini ditulis oleh Pandapotan MT Siallagan, wartawan harian Metro Siantar — koran terbesar di Kota Pematangsiantar, Sumut — yang juga seorang cerpenis. Judul aslinya adalah Wanitaku.
LEWAT RUANG SUNYI sebuah surat, kuceritakan padamu tentang batuk yang menggali-gali luka di lorong paruku. Yang sepi. Dan, surat mungil itu memuat banyak resah yang semestinya kudesahkan dengan igauan-igauan panjang.
Aku jadi tahu: kesedihan dan keriangan tak terlalu potensial meredam batuk, penyakit aneh yang hentakannya melumpuhkan jemariku, menjadikan jiwaku tak bisa bercerita banyak. Tapi, segala penyakit barangkali memang datang mencincang banyak hal, termasuk usia.
Tapi tahukah kamu, pada saat surat mungil itu kamu sahut dengan igauan panjang dan penuh dengan getaran sayang, aku ingin sekali meringkus tubuhmu dengan dadaku yang rapuh ini.
Dan, dugaanmu itu tepat benar. Batukku merajalela karena rokok dan kopi selalu menyerbu paruku pada malam-malam yang dingin. Pada malam-malam lengang yang senantiasa menyeret pikiranku ke ceruk waktu yang entah, hingga kadang-kadang tak terasa fajar telah mekar. Pada akhirnya, dugaanmu itu memanjang jadi doa-doa dan selalu menghubungkan degupku dengan bayangmu yang mendekat.
“Jangan terlalu setia pada rokok dan kopi, tapi temukanlah cinta pada setiap jalan yang tak akan pernah menyesaki nafasmu,” katamu menutup surat itu, dengan bahasa lembab. Menangiskah kamu menuliskan puisi kasih itu?
Sekarang, setiap kali batuk meronta-ronta dari lorong paruku yang sunyi, kamu seolah-olah baru usai mengembarai malam, terdampar di depan rumahku, lalu mengetuk pintu. Dan, sebuah kamar tak nyaman kubukakan untukmu. Kamar yang penuh dengan buku-buku berdebu, serakan kertas-kertas, puntung-puntung rokok, juga ampas kopi yang mengering di gelas-gelas.
“Apa-apaan ini?” tanyamu dengan suara beraroma neraka.
Maka, setiap kali batuk meronta-ronta dari lorong paruku yang sunyi, selalu kurasakan bahwa kamu sedang mengetuk pintu. Masuk untuk menyelamatkan aku dari kepedihan-kepedihan, dari kesedihan-kesedihan.
Kamu ajari aku menulis puisi tentang batuk, juga tentang pantun yang memahat-mahat kasihmu di dadaku. Supaya segala tentang kita jadi abadi, supaya aku selalu sampai padamu, lewat doa-doa. [www.blogberita.com]
CATATAN BLOG BERITA DOT COM:
Silakan bila ingin mengutip artikel dari blog ini, dengan syarat menyebut sumber. Bila dikutip untuk website, blog, atau milis, maka tuliskanlah sumbernya www.blogberita.com dan buatkan link ke artikel bersangkutan. Bila dikutip untuk koran, majalah, bulletin, radio, televisi, dll, maka tulislah/ sebutkanlah sumber kutipannya; www.blogberita.com.
Pandapotan Siallagan aktif menulis cerpen, puisi, esai, dan resensi buku di sejumlah koran terbitan Sumatera dan Jawa. Karyanya juga termuat dalam beberapa buku antologi. Antara lain Seikat Dongeng tentang Wanita (Yayasan Sagang Pekanbaru, 2004), Satu Abad Cerpen Riau (Yayasan Sagang Pekanbaru, 2004), Rembulan Tengah Hari (Dewan Kesenian Riau, 2004), Dian Sastro for President: The End of Trilogy (INSISTPres Jogyakarta, 2005), Tafsir Luka (Yayasan Sagang Pekanbaru, 2005), Rebana (Kumpulan Cerpen Terbaik Harian Analisa, 2006), Jalan Pulang (Yayasan Sagang Pekanbaru, 2006).
Sarjana pertanian dari Universitas Riau yang tinggal di Siantar ini juga pernah menjadi juara beberapa perlombaan menulis sajak dan cerpen di Riau.
Oh ya, seperti biasanya, kuucapkan selamat menikmati hari libur di akhir pekan. Teguklah kopimu, isaplah rokokmu, tentu saja kalau kau tak peduli pada larangan kekasih atau istrimu.
[www.jararsiahaan.com]


8 Oktober 2007 at 12:25 am
hehehe…nampaknya ini tempat kongkow untuk para perokok bersekongkol. Lima puluh tahun lagi, mungkin, kongkow para heavy smoker massam ini bisa dikategorikan subversif. Bersyukurlah itu masih lamaaa, zadi tenang-tenang azza bro…
Merokok itu bagus untuk kontemplasi. Untuk sadar dan mengaku, bahwa nafsu memang lebih perkasa daripada akal sehat. Tak usah kau bassa ensiklopedi yang tebal-tebal, kita taulah dengan sendirinya : merokok itu tidak baik untuk kesehatan, badan dan dompet. Tau, sadar, tapi tetap dilakukan. Itulah kelebihan para perokok.
Di kota besar massam jakarta, gedung-gedung ber-AC dan angkutan umum ber-AC massam busway, itulah musuh besar perokok. Musuh besar yang tak sanggup kau lawan, sebesar apapun nyalimu. Disinilah para perokok berat massam aku ini dilumpuhkan secara total. Menyerah tanpa syarat. Pokoknya gawat daruratlah kalo sampai 3-4 jam di tempat penyiksaan massam itu…
Lepas dari soal politik dan penilaian integritas orangnya, Sumitro Djojohadikusumo (alm) adalah idolaku untuk perkara merokok. Biar badan ceking, mantan menteri ekonomi rezim soeharto ini tetap saja massam mesin uap. Tidak pandang tempat dan suasana, selagi masih bermandi keringat di lapangan tenis sekalipun, sobat karibnya wartawan kawakan Mochtar Lubis (alm) ini tetap saja ngebul-ngebul. Dia boleh-boleh saja dijuluki begawan ekonomi, tapi kalo sudah urusan rokok, ilmu ekonominya ga kepake…
Dari hasil survei paling iseng yang pernah dilakukan di bumi ini, ternyata dari semua jenis kegiatan yang sering dilakukan orang untuk mengisi kekosongan saat bengong, ketika jemu menunggu; merokoklah kegiatan paling anggun. Bandingkan sendirilah, mana lebih bagus merokok daripada megang-megang mussung, ngupil kata orang jakarta, atau ngorek kuping, atau lebih jelek lagi ngutak-ngutak HP padahal tak ada yang dicari; malah lebih sinting lagi ngirim SMS buat diri sendiri…
Maka dari itu, saudara-saudaraku para perokok, kita mungkin perlu bikin
organisasi internasional massam PBB, demi melindungi eksistensi perokok yang kini terancam kepunahan di seluruh muka bumi. Mari kita awali dengan seruan : wahai perokok sedunia, bersatulah! hehehe…
17 Oktober 2007 at 11:24 pm
@ R Manurung
Rokok itu bagus untuk kontemplasi. Masih adakah yang perlu dipertanyakan?
25 Oktober 2007 at 6:38 pm
Pokoknya jangan merokok lagi, terutama abangku yg satu ini Bang Panda, soalnya aku msh pengen liat dia hidup 1000 tahun lagi. OK bang cocok kau rasa????
5 November 2007 at 7:22 pm
@Pandapotan MT SIallagan
Teruskan merokok sebelum apinya membakar bibir hehehe……..
(sekadar ngasih tau : R Manurung dan Robert Manurung itu oknumnya sama!)
5 November 2007 at 11:48 pm
@ ndank
Siapakah dirimu. ‘Bang Panda’ hanya ditahu orang-orang yang dekat denganku. ok?
5 November 2007 at 11:49 pm
@ R Manurung
ok. kuikuti saranmu. aku merokok terusssss. hehehe
6 November 2007 at 9:11 am
@ Lae R. Manurung
Kalau ngerokoknya udah nyampe bibir, dan panas eh.. hangat, udah lain ceritanya itu lae. Hehehehehehehehe
@ Ndank
Eh lae… jangan kau larang2 orang ngerokok, kalau semuanya hidup sampe seribu tahun lagi karena ga ngerokok, bah bisa bahaya itu…Ga kebayang padatnya dunia ini dalam imaji kayak gitu…hehehehe lagi.
Peace Bro..
6 November 2007 at 7:05 pm
@ Marudut. salah memang Ndank ini. perokok berat justru kadang lebih panjang umurnya.