[jarar siahaan; batak news; legislatif disebut dprd latteung]
Aksi demo di depan kantor Bupati Tobasa di Balige masih berlangsung hingga Blog Berita DotCom meninggalkan lokasi pukul 6.30 malam ini.
Sekitar lima ratus warga dan beberapa PNS mulai berkumpul di lapangan bola Raja Sisingamangaraja XII Balige pukul 9 pagi. Dari sana mereka bergerak menuju kantor DPRD. Beberapa jam berorasi dan meminta anggota DPRD turun, mereka pun beralih ke depan gedung kantor bupati. Massa “memaksa” sembilan orang anggota DPRD yang ada di gedung Dewan untuk ikut bersama mereka ke depan kantor bupati untuk menemui Bupati Monang Sitorus.
Dalam kondisi sakit setelah kecelakaan mobil, Ketua DPRD Tumpal Sitorus mengikuti kehendak massa. Ia tampak berjalan perlahan-lahan. Setelah tiba di depan kantor bupati, pengunjuk rasa berorasi tanpa tedeng aling-aling; mereka mempermalukan Bupati, DPRD dan Kapolres Tobasa AKBP Alisman Nainggolan. Kapolres hadir di lapangan bersama sekitar seratus polisi, sementara Bupati Monang Sitorus, Wakil Bupati Mindo Siagian, dan Sekda Liberty Pasaribu tidak berada di kantor.
Pancasila Sibarani, seorang aktivis LSM, berorasi dengan “menelanjangi” para pejabat daerah dan wakil rakyat. “Selesai tahun 2009, akka latteung on kaluar do sian Tobasa,” katanya lewat pengeras suara. Latteung dimaksudkan untuk menghina para pejabat pemkab.
“Ini juga, polisi di Tobasa, membela-bela Bupati. Lihat sajalah, Kapolres dan Bupati itu ibaratnya sudah marhallet [pacaran]. Kapolres lindungi eksekutif. Tidak ada Kapolres mengusut kasus korupsi di Tobasa. Saya bertanggung jawab mengatakan ini. Saya siap ditangkap!” kata Pancasila Sibarani.
Dua lapis pasukan polisi berjaga-jaga agar massa tidak menerobos masuk ke dalam gedung kantor bupati. Lapis terdepan adalah polisi tanpa senjata memegang tali-tambang yang panjang. Di belakangnya petugas yang diperlengkapi tameng dan tongkat pemukul. Dua mobil pemadam milik pemkab juga siaga di sisi kiri dan kanan gedung.
Petugas polisi ini pun “dikompori” oleh Pancasila. Dari jarak satu-dua meter, dia berorasi lantang di hadapan hidung para polisi itu. “Ini lagi, polisi, kalian kira kami takut sama kalian? Kecil kalian itu! Tentara Belanda saja kami lawan. Belanda! Rakyat yang mengusirnya.”
Sekarang giliran para anggota DPRD, yang sabar berdiri berhadapan dengan pengunjuk rasa, kena semprit. Sambil menunjuk-nunjuk ke arah Dewan, Pancasila berkata, “Kalian Dewan pun sama saja. DPRD latteung kalian itu! Senang kalian kalau ada kasus korupsi begini, kalau ada demo, biar ada uang masuk kalian. Penjilat kalian itu! Nanti kalau ganti bupati, ganti lagi jilatan kalian!” Massa pun selalu menyambut orasi Pancasila dengan yel-yel.
Berulang kali mendapat “tembakan langsung”, akhirnya Ketua DPRD Tumpal Sitorus tak bisa menahan emosi. Lewat mik, dia berujar, “Kalau kalian membawa kami ke sini cuma untuk dihina, biar kami kembali ke kantor. Kami ke sini karena tadi kalian ingin menyampaikan aspirasi soal kasus korupsi.”
Rekannya, JMP Sitorus, lebih emosional. “Hei, jangan jadi provokator kau!” katanya kepada Pancasila. “Enak saja bilang DPRD latteung!” Dan tiba-tiba dari arah massa terlempar satu kemasan air mineral berisi ke arah JMP. Suasana makin panas; antara massa dengan DPRD. Tapi orator lain, seorang PNS, Kristian Manurung, berhasil membuat keadaan kembali tenang. Orasi pun tetap berlangsung, dan akhirnya DPRD dan massa bisa berkomunikasi dengan baik.
“Ido, molo songon on, baru pe goar na wakil rakyat [bagus, harus beginilah anggota Dewan]. Harus tegas dan berani bicara benar,” kata Pancasila Sibarani. Tampaknya dia sengaja memancing para wakil rakyat agar ikut-ikutan “galak”, dan memang berhasil.
Ketua DPRD Tumpal Sitorus dengan blak-blakan menantang massa untuk menunjukkan siapa oknum Dewan yang menerima suap dalam kasus korupsi Rp 3 miliar dengan tersangka Bupati Monang Sitorus. “Siapa orangnya? Sebutkan. Biar saya yang duluan mengadukannya ke polisi. Jadi jangan kalian asal tuduh dan sama-ratakan semua anggota Dewan. Kami yang berdiri di sini masih punya hati nurani. Kami berpihak pada rakyat,” katanya.
Yang dimaksudkan Tumpal adalah gagalnya dua kali sidang paripurna Dewan membentuk pansus kasus korupsi Rp 3 miliar. Waktu itu diberitakan di dua-tiga koran bahwa umumnya oknum anggota DPRD, LSM, wartawan, dan yang disebut sebagai tokoh masyarakat di Balige diduga telah mendapat sogok berupa proyek dari Pemkab Tobasa agar tidak lagi meributkan kasus yang melibatkan Bupati Monang itu. Dalam demo sebelumnya massa pun pernah menyebut sejumlah anggota DPRD menerima suap masing-masing Rp10 juta agar meneken surat mosi-tak-percaya yang menuntut Tumpal dicopot dari jabatannya.
Wakil Ketua DPRD Baktiar Tampubolon menambahkan, “Kami bukan cuma diam di kantor. Kami sudah ke Mabes Polri dan mempertanyakan kasus korupsi Rp 3 miliar ke Waka Polri, Komjen Makbul Padmanegara, dan dia sudah meneruskannya ke Polda. Waktu itu Saudara Ketua Dewan memaksakan diri untuk ikut, dalam kondisi sakit, kami papah dia masuk ke pesawat dan mobil.” Wakil Ketua DPRD lainnya, Firman Pasaribu, tampak menganggukkan kepala.
Hingga menjelang pukul 4 sore, karena Bupati belum juga muncul, massa bermaksud menyegel kantor bupati. Tapi Kapolres Alisman Nainggolan dengan tegas mengatakan polisi akan mencegahnya. “Gedung ini adalah asset negara, jadi saya pertaruhkan jabatan untuk mengamankannya. Lagipula, kalau kalian tutup kantor ini, bagaimana nanti rakyat lain yang ingin berurusan ke sini. Saya tidak tahu demo ini untuk kepentingan siapa, silakanlah berkaca sendiri,” ujar Kapolres kepada massa.
Kemudian lapis pertama barikade polisi, yang tadi memegang tali-tambang, bergerak ke samping dan mengambil tameng dan tongkat kayu. Polisi siap-siap menghadang massa. “Ayo! Majuuu …!” teriak pentolan-pentolan demo. Puluhan orang warga di baris depan mendorong petugas bertameng. Namun para juru teriak dan pemimpin demo, tentu saja, tidak ikut ambil peran mendorong petugas; mereka cuma berkoar-koar.
Beberapa kali massa dan polisi saling dorong, tapi tidak berarti apa-apa. Polisi tetap kokoh dan tidak berhasil dipaksa mundur selangkah pun. Demonstran juga terkesan tidak akur, sebagian besar malah cuma duduk-duduk dan menonton. Selama dorong-mendorong, tidak ada yang terluka.
Beberapa saat kemudian massa berehat sembari duduk. Momen itu dipergunakan polisi untuk menyantap nasi bungkus di lapangan rumput di samping kantor bupati. Massa sendiri belum makan. Mereka tampaknya kurang persiapan, dan sepertinya tidak ada sponsor yang membiayai mereka. Seorang PNS yang ikut demo, ME Sihotang, berembuk dengan kawan-kawannya. Tak lama, ia menelepon seseorang. “Sekitar 400 atau 500 bungkuslah,” kata ME. Tapi sampai menjelang pukul 6 sore, nasi bungkus yang dipesan belum juga datang.
Saat polisi asyik makan, tiba-tiba Kristian Manurung berteriak, “Kita rakyat di sini kelaparan, sementara saya baru dapat informasi bahwa Bupati Monang Sitorus sedang makan enak-enak di Kecamatan Uluan bersama Karang Taruna. Ayo bergerak!”
Mungkin karena sudah letih dan lapar, massa cuma duduk terbengong. Eh, malah pasukan polisi, yang lagi asyik makan di samping kantor bupati, tiba-tiba berhamburan kembali ke posisi semula. Mereka kira benar-benar massa mau menerobos masuk.
Lalu sebagian massa berjalan menuju rumah dinas bupati yang berjarak sekitar 300 meter dari kantor bupati. Melihat itu beberapa petugas Satpol PP berlari sambil memegang rotan-pemukul ke depan pintu rumah bupati. “Siapkan dulu makanan bagi kami! Ada anggaran di APBD untuk rakyat. Kami lapar. Kami mau makan,” kata Kristian, PNS yang vokal itu. Karena tak ada penghuni di rumah dinas, mereka kembali ke depan kantor bupati.
Barulah menjelang matahari terbenam, nasi bungkus pun tiba, tapi jumlahnya tak banyak. Mereka pun makan di halaman kantor bupati. Beberapa orang nekat membawa dua dandang; untuk memasak nasi dan air minum. Dengan kayu bakar, mereka menanak beras di kompleks kantor bupati.
Hingga blog ini meninggalkan lokasi demo pukul 6.30 malam, sebagian massa masih tetap bertahan di sana. Tapi sebagian lagi, yang berasal dari luar Kecamatan Balige, telah pulang. Pengunjuk rasa berencana tidak akan meninggalkan kantor bupati, dan bermalam di sana, sebelum Bupati Monang bersedia menjawab mereka secara langsung. Massa kecewa karena sudah lima kali berunjuk rasa dalam bulan Agustus ini tapi tidak satu kali pun Bupati menerima mereka.
Tentu mudah mencari penyebabnya. “Berani karena benar, takut karena salah,” bunyi orasi demonstran. [www.blogberita.com]
CATATAN BLOG BERITA DOT COM:
Bila tidak terlalu kecapekan nanti, dan juga bila aku belum insaf untuk “kembali ke jalan yang benar”, aku masih akan turun meliput ke lapangan malam ini dan menuliskan perkembangan demo.
Silakan bila ingin mengutip artikel dari blog ini, dengan syarat menyebut sumber. Bila dikutip untuk website, blog, atau milis, maka tuliskanlah sumbernya www.blogberita.com dan buatkan link ke artikel bersangkutan. Bila dikutip untuk koran, majalah, bulletin, radio, televisi, dll, maka tulislah/sebutkanlah sumber kutipannya; www.blogberita.com.
Berita sebelumnya terkait kasus ini:
- PNS Tobasa mengamuk dalam rapat di DPRD
- Massa pro-Bupati demo
- PNS demo Bupati Tobasa, pemborong sibuk
- Polda diminta tangkap Bupati dan Sekda, maksud lo?
- Perwira Polda Sumut dituduh terima Rp500 juta pada kasus korupsi di Tobasa
- PNS menggundul kepalanya karena Bupati jadi tersangka
- Bupati Monang Sitorus resmi tersangka korupsi
- Cuma urusan pagar, Bupati Tobasa temui Kejati
-
1
Ping balik on Feb 29th, 2008 at 4:12 pm
[...] demo terakhir bersama lima ratusan warga, di hadapan anggota DPRD dia mengungkap sejumlah kasus dugaan korupsi [...]



30 Agustus 2007 at 10:23 pm
Ito Jarar yang baik, aku sangat mengenalmu, juga mengenal istrimu Denny. Aku termasuk yang prihatin dengan lambannya aparat hukum untuk menuntaskan kasus korpsi Bupati Tobasa ini, dan aku tahu Ito adalah salahsatu dari segelintir wartawan di Balige yang masih bisa mampu bersikap idealisme.
Kalau boleh kusarankan, Itoku jangan lagi terllau ngotot menulis kasus-kasus korupsi di Tobasa, karena kita tahu dari dulu berita-berita korupsi justru dimanfaaatkan oleh oknum aparat hukum sebagai sumber penghasilannya. Jangan terlalu mamaksakan dirimu Ito, jangan lagi Ito lalaikan keluarga, anak-istri Ito seperti dahulu. Jangan tersinggung ya Ito, baruseminggu yang lalu aku berbicara dengan istri Ito, Denny.
Jangan lagi Ito korbankan diri sendiri, waktu untuk keluarga, hanya karena berita-berita seperti ini. Selamanya Tobasa akan rusak begini, penuh dengan orang-orang korupsi, karena tidak banyak yang perduli. Pegang ucapanku Ito, sampai kapanpun Tobasa akan begini.
Hanya inilah yang ingin kusampaikan kepada Ito, sejjujurnya, karena rasa sayangku pada keluarga Ito. Jangan mau menjadi korban lagi, Itoku, please……
JARAR SIAHAAN: ito, iya, aku juga mengenalmu; kulihat alamat imelmu. entah karena aku cuma letih atau karena memang sudah terlalu lama jenuh dengan keadaan ini, komentarmu membuatku “terguncang”. sungguh, kata-katamu menusuk ke sanubariku. menamparku keras.
ito, terima kasih perhatianmu. itu sangat berarti bagiku. aku berjanji, aku tidak akan lagi melalaikan anak-istriku demi mengurusi koruptor-koruptor bodat ini. aku janji. aku janji pada diriku sendiri.
jadi teringat aku semua masa laluku yang kelam itu. air mata yang sering menetes ketika aku redaktur di medan dan tak sanggup menghidupi istriku dengan gaji yang kecil.
semua…, semua…, ada saksi yang mengetahui detailnya; kak nisa pardede, bekas korlipku yang kini entah di mana, tempatku curhat dan juga berteriak. tiba-tiba terkenang ketika aku memaki-maki diriku sendiri sambil menjerit pilu di hadapan kak nisa.
kuceritakan padanya betapa tersiksanya batinku menumpang di tempat kos adik-adikku — melda, jan, dan judi — ketika mereka masih kuliah. sering aku menangis sesenggukan dalam kamar, dan tak sanggup keluar, setiap mendengar judi dan jan mengeluh pada kakak mereka, melda, “kok cuma ikan teri dan supermi terus, kak.” lalu melda menjawab, “cuma itulah kesanggupan uang yang dikirim bapak dari balige.”
aku pun pernah ingin bunuh diri ketika suatu pagi kudengar adikku berkata, “kak, belanjalah dulu kau ke warung, tidak bisa lagi kumakan ikan teri ini, sudah basi!” oh TUHAN-ku…, sakitnya kurasakan saat itu. perih. mencabik-cabik hatiku. kubenamkan wajahku ke bantal agar isak-tangisku tak terdengar oleh mereka.
betapa tololnya abang seperti aku ini, tak pintar mencari uang. tak pernah bisa membantu sekadar membeli ikan atau sayur buat kami berempat, karena untuk biaya makan istriku di balige pun gajiku tak cukup.
untukmu adikku — melda, jan, judi — baru kali ini aku berterus-terang setelah kupendam selama hampir tujuh tahun. mungkin selama ini kalian pikir aku tak peduli pada kalian. aku sangat peduli, tapi saat itu aku sedang sok idealis pada profesiku.
dek, maafkan aku. maafkan aku yang tak tahu malu mengurangi jatah nasi dan ikan teri kalian untuk kubawa setiap sore, dalam kantong plastik, sebagai makan malamku di kantor.
adik-adikku, air mataku menetes kini …. deras. seakan tiada henti.
30 Agustus 2007 at 10:32 pm
Wah rame juga aksi demo ini, Pak Bupati nggak berani nemuin pendemo, sudah kalah malu duluan mungkin. Sebelum diadakan penggantian bupati atau pengusutan lebih lanjut dengan menonaktifkan bupati, sepertinya demo masih akan terus berlanjut. Apalagi kalau bupati gak berani menampakan mukanya, makin panas dan kesal lah rakyat itu.
Gimana nanti kalau Pak Monang Sitorus itu udah nggak jadi bupati yah? Mau dikemanakan mukanya itu, bekas bupati korupsi, koruptor, jumpa sama saudara juga malu hati bukan tidak mungkin di omongin antar keluarga atau di arisan marga. Tapi udah gelap mata dia karena uang miliaran itu, atau nanti dia pindah ke kota yg tidak banyak mengenal dia. sedikit operasi plastik supaya agak samar. hahahaha.
DPRD latteung, hahahaha, jelas tersungging dia, bukan mudah untuk masuk jadi anggota dewan dan pastinya penuh perjuangan. Dibilang pula anggota dewan latteung, terus naik amper panasnya, marsigogor(mendidih). Semoga jaya selalu Tobasa!! Horas!!
31 Agustus 2007 at 12:46 am
Ai gabe lungun huhilala manjaha reply lae Jarar on, gabe niingot iba nahinan susah. O”tahe namangoluon, porsukni sitaononki Ompung. (Jadi ikut aku sedih membaca reply lae Jarar, jadi teringat waktu dulu susah. Mengapa hidupku susah begini Oppung).
Alai pos ma roham laeku, basa do Tuhanni, sahat tu sadarion berlaku tu lae, au dohot tu hita sude. Parsitamiangan hita, asa anggiat ma sai dilehon Tuhan dalan nadenggan, sai tiur akka patsarianta, sehat jala horas. (Tetapi percayalah lae, Maha pengasih-Tuhan itu, sampai sekarang berlaku untuk lae, aku dan kita semua. Saling mendoakan, agar diberikan Jalan yg terbaik untuk hari yg akan datang). Horas tu lae dohot keluarga, songonni tu hami.
JARAR SIAHAAN: amin. terima kasih, lae.
31 Agustus 2007 at 9:55 am
Bang Jarar, sakit hatiku saat membaca halaman ini. Air mataku tidak bisa kutahan. Entah kenapa perasaanku sangat hancur membaca berita dan melihat gambar ini. Benar-benar ga bisa kutahan untuk tidak sesegukan. Dimana Balige kita yang damai dulu ? Dimana budaya saling menghormati dan menolong dulu ? Kalau bisa memilih, lebih baik Balige tetap jadi kecamatan kecil tapi tetap damai dan tidak ada aksi menjijikan seperti ini.
Aku masih ingat waktu kecil dulu, sudah lewat maghrib tapi bapak camat bersama 3 anggotanya masih keliling kompleks untuk sekedar menanyakan keadaan masyarakatnya. Aku yang sedang bermain digendong dan dinasehati supaya masuk rumah untuk belajar karena hari sudah mulai malam. Kenangan itu tak pernah kulupakan.
Sekarang, bupati masih peduli rakyat ? Tidak !!! Kalau memang dia peduli, dia akan dengan jantan menghadapi masyarakatnya dan berusaha mengembalikan ketentraman masyarakat. Apa gunanya rakyat memilih para wakilnya kalau hanya mau membuat saling bermusuhan ? Para provokator, baik dari pihak bupati maupun pihak anti bupati, berhentilah menjadi HANTU !!! Jangan permainkan emosi rakyat.
Berilah istri dan anakmu rejeki yang halal, supaya jadi berkat bagi mereka. Kalian tidak takut Tuhan dan calon penghuni neraka. Kalian hanya orang-orang munafik yang sebenarnya pengecut luar biasa, berani hanya di belakang dan menggunakan keluguan rakyat yang sebenarnya tidak tahu apa-apa. Kalaupun nanti keinginan kalian terwujud, apakah kalian masih ingat rakyat yang pernah kalian kambing hitamkan ? TIDAK… Karena kalian hanya PECUNDANG.
JARAR SIAHAAN: sebelum tobasa jadi kabupaten tersendiri, pecundang, koruptor, dan penjilat masih sedikit. setelah jadi kabupaten, maka pecundang, koruptor, dan penjilat makin banyak.
31 Agustus 2007 at 12:25 pm
@ Lae JJ
Berwarna kali hidup lae.
JJ SIAHAAN: aku yakin hidup lae juga berwarna. dan masih banyak orang lain yang hidupnya lebih berwarna dari yang kualami.
31 Agustus 2007 at 1:56 pm
hebat.. hebat.. barvo pendemo … saya sebagai warga Jakarta sangat terguncang melihat bobroknya pejabat tobasa.. wah..wah.. dang adong be hati nurani pejabat i ate? paila ilahon generasi Batak. monang sitorus ..bah mundur ma lae.. mangaku dosa ma nian.. asi roha akka jolma na di tobasa i.. ng pogos di oto oto i hamu lae monang sitorus.
kalo di jakarta Monang sitorus cs bisa disebut “KUCING GARONG”. BERTOBATLAH..! buat lae jarar.. teruslah berjuang. unang pola mabiar anggo “vokal” di san. percayalah ,suatu saat pasti ada perubahan, walaupun sekecil apapun itu… ingatlah.. itu sangat berati. horas… Radja Bakkara Jakarta
JARAR SIAHAAN: terima kasih dukungan semangatnya, lae.
31 Agustus 2007 at 3:38 pm
@PNS Tobasa
maaf klw komentar saya tidak berkenan dihati anda, saya kurang setuju dengan permintaan anda pada ito jarar, karena pada jaman sekarang ini susah sekali mencari orang seperti ito jarar yang berani menulis dengan benar tanpa direkayasa, walaupun ito jarar & keluarga tidak saya kenal, bukan berarti saya tidak tersentuh setelah membaca tulisan anda mengenai keluarga ito jarar.
saya yakin dan percaya selama pekerja yang kita lakukan itu membawa kebaikan bagi semua orang terlebih2 untuk Tuhan, kita akan diberi jalan dan kesabaran walaupun harus mengobarkan orang2 yang kita cintai dan orang2 yang kita cintai akan mengerti akan profesi kita
@ito jarar
teruslah menulis, saya yakin Tobasa akan berubah.karena saya tahu hati orang2 penting di Tobasa tidak terbuat dari batu
JARAR SIAHAAN: terima kasih, ito. tapi memang aku perlu “berubah”. aku sudah berjanji tidak akan lagi seperti dulu. aku akan tetap menulis korupsi, tapi tidak lagi segetol dulu. satu contoh, dulu aku tega meninggalkan istriku yang hamil tua pada tengah malam untuk pergi bersama kawan-kawan wartawan meliput ke tengah hutan kecamatan habinsaran. istriku tak memberi izin, karena dia sedang hamil tua, dan sudah larut malam, dan tak ada pula kawannya di rumah. tapi aku ngotot pergi. “ini berita penting, biar ketahuan kebobrokan aparat hukum itu,” kataku padanya.
kala itu ada bocoran dari intel kejaksaan bahwa aparat gabungan muspida akan razia illegal logging tapi mereka akan meloloskan truk-truk kayu milik seorang mafia hutan yang selama ini dikenal dekat dengan pejabat. dan betul memang, kami temukan fakta itu. kami bermalam di habinsaran, dan paginya meluncur kembali ke balige, tanpa sempat mandi, langsung konfirmasi ke tim razia. berita kami saat itu menghebohkan; terbongkar kalau oknum aparat berkolusi dengan mafia hutan.
mungkin orang akan berkata dalam hati, “ah, bisa saja kalian wartawan itu mau capek-capek meliput jauh-jauh ke habinsaran karena ada yang mendanai.” aku berani berkata, demi ***, tidak. kami melakukan liputan itu murni 100 persen karena dorongan naluri jurnalisme. kami memang berkorban. beritaku dan satu-dua foto yang terbit perihal liputan itu cuma dapat honor sekitar 15 ribu dari kantor. penghasilan yang tak sebanding dengan pengeluaran kami untuk biaya bensin, waktu, rasa capek, uang makan kami.
dua kawanku wartawan yang malam itu bersamaku meliput ke hutan ialah rikardo simamora dan partogi siahaan. kalau rikardo membaca ini, aku yakin dia akan bersaksi hal yang sama. kami memang gila-gilaan waktu itu. dan hal beginilah yang sekarang ingin kuubah dalam hidupku sebagai penulis. aku tak mau lagi mengorbankan keluargaku demi berita korupsi — yang setelah terungkap di media malah jadi objek korupsi oknum aparat hukum.
31 Agustus 2007 at 3:53 pm
Karena hidup adalah perjuangan tanpa henti-henti, maka hidup itu adalah memilih. dan selalu ada pilihan, sekalipun dihadapkan dengan pilihan pahit. nasehat Seorang PNS di Tobasa itu sebenarnya tak bisa kuterima. aku tak setuju. dia itu lemah. kenapa harus mengaitkan keluarga abang dengan profesi abang. istri abang sudah cukup kuat, dia mempersilahkan abang menjadi seorang bloger. Jadi apa lagi bang? apakah abang harus mundur?
bang, aku masih sangat muda, bau kencur, dan belum kawin apalagi punya anak. aku juga bukan orang yang jujur. tapi ketika abang harus dihadapkan dengan 2 pilihan, aku tak ingin abang mundur.
bicara hidup susah? akh… itu klise. seperti apa rupanya wajah susah itu; tidak makan? tak punya rumah? tak punya mobil. kapan rupanya kita bisa senang? kapan kita bisa mengajak keluarga ke bali? singapura, atau hongkong? apakah setelah mundur, semua itu bisa tercapai? yang pasti, setiap profesi itu punya resiko. resiko terbesar mungkin adalah nyawa. berbahagialah mereka yang bekerja dengan kepuasan bathin……
JARAR SIAHAAN: aku setuju dengan pendapatmu. baru saja aku menjelaskan hal ini pada komentator sebelumnya. dan itu jugalah penjelasanku padamu, kawan.
31 Agustus 2007 at 4:14 pm
gimana ini, koq juragan bataknews disuruh “jangan menulis ini, itu” bah bisa turun hits nya. mudah-mudahan kita semua bisa mendekat objektif bila menilai sesuatu… itu aza dulu . soal bup tobasa dari demo pertama memang sudah kuduga tak bernyali ketemu dan menjawab …. DIAM ITU EMAS (TOBA MAS)… MAUP
BLOG BERITA: hits turun?
peduli setan, rik. jangankan hits turun, kalau besok anakku gibran atau istriku misalnya memintaku jangan dulu sentuh internet selama beberapa hari, aku pun akan biarkan blog ini. serius. aku merasa bebas menulis. mau nulis apa kek, mau tidak nulis apa kek, tak ada yang bisa mengaturku. dan kau sangat tahu watakku dari dulu. eh, cemmana kabar di kantormu? sudah lama sekali tak main ke sana.
31 Agustus 2007 at 6:21 pm
Lae Jarar, waktu melihat judul berita ini, aku agak bingung,” Apa hubungan Pancasila (dasar negara) dengan Bupati dan Kapolres?”. Setelah membaca ternyata Pancasila itu adalah Pancasila Sibarani, aku jadi geli sendiri.
@ jonggara
Aku sangat sependapat dengan mu kawan.
@ seorang PNS di Tobasa
Ito yang baik, aku percaya bahwa komenmu bukan merupakan suatu konspirasi (persekongkolan). Rasa sayangmu kepada keluarga Lae Jarar sangat kuhargai, tapi akan lebih baik jika keluarganya jangan dijadikan sebagai sandera untuk mempengaruhi.
Lae, aku sangat tersentuh dengan pengalamanmu ketika tinggal bersama adik-adikmu. Aku juga anak laki-laki paling tua dikeluargaku. Apalagi kita orang Batak, biasanya justeru kitalah yang memberi kepada adik-adik. Segala sesuatu ada waktunya dan pengorbanan itu akan terbayar lunas. Salam buat keluarga Lae di rumah. Keep Rock in.
BLOG BERITA: terima kasih, lae yang baik. itulah yang kupikirkan hingga kini; aku anak paling besar, tapi tidak pernah mampu membantu kelima adikku. malah aku yang beberapa kali minta bantuan dari mereka setelah kini mereka bekerja. tapi sudahlah, lae, kita hepi lagilah. ribut-ributlah kita di lapo batak nius, dan mabuk.
31 Agustus 2007 at 6:26 pm
wah kalau bang jajar tak menulis lagi, tak adalah tempat untuk aku berkomentar
Wajar kok si PNS bilang gitu bang, mungkin dia ketemu di jalan sama kakak kita itu dan kakak cerita ke dia. Mungkin kakak kita menyimpan dalam hati dan takut mengatakan karena akan membuat abang kecewa. Takut ntar abang merasa kalau Kakak menghentikan idealisme abang.
Nah utk kasus ini, bagi2 lah waktu nya bang, mungkin jam sekian-sekian utk blogger, jam sekian-sekian utk kakak dan si gibran
Jangan biarkan wanita seperti dia harus kecewa lebih mendalam lagi. Dia adalah orang yg penyabar sedunia, tapi jangan terus kecewakan dia dengan kesabaran yang dia miliki
Sekuat apapun dan sehebat apapun motivasi abang untuk mengubah negara ini tapi jika negara kecil abang di rumah berantakan maka kekuatan dari berita kekacauan negara kecil itu akan lebih menghancurkan dan membakar semua yg abang tulis untuk kita tanpa tersisa sedikit pun, yang akhirnya akan di mamfaatkan segelintir orang untuk memperkuat dan memperkaya dirinya sendiri
So! Just Share Your Time Bro
Viva Bataknews
JARAR SIAHAAN: tadi dia imel aku. bukan dari istriku dia tahu, tapi dari blogku ini juga, dari artikel-artikelku yang lama. juga dari blogku yang satu lagi. terima kasih sekali lagi perhatianmu.
kalau mau jujur, hatiku paling dalam sekarang berteriak: “persetan dengan berita! persetan dengan korupsi!” masih banyak pihak yang seharusnya wajib untuk menulis berita korupsi; yaitu koran-koran besar terbitan medan dan puluhan wartawan di balige. tapi bukan berarti aku sama sekali tidak menulis korupsi, cuma tidak segetol dulu lagi hingga lalaikan anak-istri.
maka aku akan menulis berita korupsi di blog ini bila memang aku lagi suka, lagi punya waktu — contohnya seperti berita di atas. ketika nanti aku malas atau lagi asyik bermain-main dengan anakku, tak peduli aku dengan berita.
31 Agustus 2007 at 7:07 pm
Benar itu brooo, yang dibilang diatas..Anda melupakan keluarga. Ingat keluarga no 1. Dan itu diatas segalanya. Kalo anda memikirkan karir, resikonya siap-siaplah keluarga berantakan. Saya banyak teman kerja di jakarta dan di sini (singapore) , rata-rata yang workalkoholic, keluarga nya banyak yang berantakan, cerai, termasuk bos saya.
Saran saya anda tetap menulis tapi tetap kritis, konsisten dengan cita-cita dan kemauan anda, tapi tetap inget keluaraga nomor 1. YANG JADI PERtanyaan saya, kalo anda berhenti menulis tentang korupsi di Tobasa, apa kah hidup anda langsung berubah? Saya pikir nggak kok. Yang bisa merubah nasib kita setahu saya bukan pemda atau siapapun kecuali kita sendiri. Iya khan? TETAPLAH MENULIS, KRITIS, DAN INDEPENDEN, BERITAKAN MANA YANG BAIK DAN MANA YANG BENAR. TAPI INGAT ISTRI DAN ANAK-ANAK.
BATAK NEWS: aku setuju; keluarga harus nomor satu. aku tidak bilang aku berhenti menulis korupsi di tobasa. hanya tidak lagi segetol dulu hingga lalaikan keluarga.
2 September 2007 at 12:26 pm
Maju Terus…..Tetap berkarya.. Tuhan Yesus Berkati
3 September 2007 at 2:30 pm
Horas!! wah..wah..wah… kagum sekali saya melihat tulisan ini.. dan lebih kagum lagi melihat komentar2 dari pembacanya… hebat sekali sampai kalian sudah bisa langsung memberikan komentar seperti itu… yang menjadi pertanyaan buat saya, apakah kalian BENAR-BENAR mengerti permasalahan tuduhan korupsi tersebut?dan apakah kalian benar-benar tahu bukan hanya menduga, bukan hanya mendengar?? saya sendiri sangat kecewa KALAU MEMANG bapak Bupati TOBASA ternyata melakukan hal yang tidak terpuji tersebut.. tapi akankah kita merasa malu kalau ternyata dia tidak bersalah sementara bahasa hujatan yang beberapa dari komentator disini ucapkan sangatlah tidak bagus.. seperti Bodat dan lainnya… karena memang terkadang sifat manusia lebih mudah melihat kesalahan orang lain dari pada dirinya sendiri..
bahkan ada beberapa orang yang mempunyai hobi Maling teriak Maling… mengerti kan??? menurut saya apabila ito penulis disini tetap ingin menulis… menulisnya lah dengan kritis tapi tetap dengan bahasa yang enak didengar dan para komentator juga diharapkan untuk mengomentari hal-hal yang memang benar2 anda dapat buktikan kebenarannya.. diatas segalanya lebih baik kita mendoakan orang yang menurut kita salah daripada menghujatnya kan?? bukankah Penghukuman itu hak Tuhan Allah?? Tuhan Yesus memberkati
JARAR SIAHAAN: horas. komentarmu bagus. hukuman dari TUHAN adalah hukuman yang berlaku menurut agama. sementara negara kita bukan berdasarkan agama. katakanlah ito seorang polwan yang lagi bertugas mengatur lalu-lintas, lalu aku berkendara dan melanggar rambu serta tak punya sim. tentu salah bila ito berkata padaku, “sudahlah, tak usah ditilang. aku akan berdoa agar kau tidak lagi melanggar rambu, dan dari TUHAN-lah engkau menerima hukuman.” kupikir orang-orang naiflah yang berprinsip seperti itu. ada hukum negara yang harus dipatuhi setiap warga, termasuk hukum terhadap koruptor.
soal komentar pembaca yang menurut ito berbentuk hujatan dan “maling teriak maling”, tentu ito berhak menilai demikian. tapi para pembaca, menurut yang kuamati selama ini, sudah gerah dan geram melihat kasus dugaan korupsi di tobasa ini berlarut-larut.
bila ito berkata, “para komentator juga diharapkan untuk mengomentari hal-hal yang memang benar2 anda dapat buktikan kebenarannya,” aku tidak sependapat. kalau kita berprinsip seperti itu, maka tidak perlu ada wartawan, tidak perlu ada koran, tidak perlu ada berita di tivi, tidak perlu ada lsm, komentator, dan kritikus politik, dll. sebab kebenaran yang sah, menurut negara, adalah setelah divonis di pengadilan. maka kalau mengikuti prinsip ito, berarti wartawan di seluruh indonesia dan komentator di internet harus tutup mulut sebelum sebuah kasus divonis. bah, bah, akan makin merajalela korupsi di negara ini.
soal cara dan gaya bahasaku menulis, itu bisa kupertanggungjawabkan secara etika jurnalisme dan juga secara hukum. sudah 12 tahun aku menggeluti profesi ini. aku menulis dengan tanggung jawab, maka bila ada objek berita maupun pembaca yang merasa dirugikan, silakan gugat ke pengadilan, aku tidak akan lari. tiap penulis, wartawan, dan media punya gaya khas. misalnya kompas dikenal sangat santun, bahkan cenderung penakut. tempo dikenal berani dan tukang sintil yang kritis. rakyat merdeka dikenal garang, galak, dan cenderung kasar. setiap media, termasuk situs internet, bebas memakai gaya menulisnya sepanjang mereka siap bertanggung jawab.
sebenarnya komentar seperti yang ito sampaikan di atas sudah pernah muncul di blog ini dulu, mungkin ito baru saja membaca blog ini dan belum tahu betul apa dan bagaimana blog ini. silakanlah dibaca-baca dulu, biar ito makin kenal.
siapa tahu bermanfaat, aku ingin mengulangi komentarku dulu:
setiap orang bebas memilih profesi untuk menjalankan fungsi berbeda. misalnya, polisi bertugas menjaga keamanan, lalu-lintas, dan menangkap penjahat. pendeta dan ustad bertugas mendoakan orang-orang jahat, termasuk koruptor, agar kembali ke jalan yang benar. wartawan dan komentator media/situs memiliki persamaan sebagai tukang kritik. [ada] pengacara dibayar mahal hingga bermiliar justru untuk meringankan hukuman bagi penjahat seperti koruptor. penyiar radio fm kerjanya cuma ngomong, tertawa ngakak, dan putar lagu. bahkan ada profesi yang memang kerjanya “mencari-cari” kesalahan orang, termasuk kesalahan koruptor, yaitu jaksa, anggota kpk, dan aktivis lsm. sudah pahamkah, ito rara? jadi tentu saja kurang tepat bila engkau meminta para komentator, wartawan, bloger, dan penulis untuk mendoakan [tersangka] koruptor. itu menggelikan. horas.
3 September 2007 at 5:11 pm
Hebat kali si Pancasila Sibarani ini. Sila ke berapa kira-kira dibuatnya: Kapolres dan Bupati Tobasa ‘berpacaran’.
Lae JJ: sekali batu karang di lautan, tetaplah batu karang… jangan rubah prinsipmu. Yang lae rubah adalah perhatian yang semakin lebih ke keluarga.. tapi aku yakin, perhatian lae itu sudah sangat besar. Prinsip dan perhatian bisa beriringan asal porsi masing-masing disesuaikan mana yang lebih prioritas.
JJ SIAHAAN: terima kasih laeku atas pengertianmu. aku sepakat dengan yang lae bilang. kalau boleh kuibaratkan sebuah martil, yang tentu kepalanya terbuat dari besi yang keras. aku akan tetap jadi martil, tetap jadi besi yang keras kepala. yang kuubah adalah: aku tak lagi membiarkan martil itu diketukkan setiap saat oleh siapa saja — selama bekerja di koran, aku tak mau tahu apakah berita korupsi yang kutulis jadi “sumber uang” bagi oknum aparat atau wartawan lain, yang penting kutulis. tapi sekarang prinsip itu kuubah; aku memilih untuk lebih waswas sebelum menulis korupsi, jangan sampai beritaku “diembat” juga oleh pihak lain. jadi intinya, tetap anti-korupsi tapi tidak setolol dulu lagi.
3 September 2007 at 7:20 pm
Horas Lae Jarar & Keluarga.
Menurutku inilah bukti dukungan semua pihak kepada Blog lae ini. Intinya semua komentator disini mendukung tulisan lae, karena menurutku tulisan lae lugas dan layak. Komentar dari ito seorang PNS di Tobasa itu adalah karena sayangnya dia sama lae dan keluarga lae.
Tapi ingat lae, aku setuju dengan lae architech yang di singapura. KELUARGA NOMOR # 1 (maaf sebesar-besarnya lae, bukan maksud menasehati lae,Mahkota seorang anak adalah orangtuanya. Jadi teruslah seperti apa adanya, menulis dengan hati.
Pemimpin-pemimpin masa depan yang diharapkan adalah orang yang menggunakan HATINYA dan bukan AKALNYA. Barulah bisa maju negara ini. Korupsi sudah menjadi tradisi tidak bisa di hentikan tapi (mungkin) masih bisa di kurangi. Blog lae ini adalah salah satu bagian yang sangat penting peranannya khususnya di Tobasa sekarang. Maju terusss lae. (tp tetap : Keluarga # 1).
JARAR SIAHAAN: terima kasih, lae. aku akan tetap menulis sesuai nuraniku, dan tetap anti-korupsi. bedanya, kini aku lebih memperhatikan keluarga daripada mengurusi berita-berita korupsi. seperti sudah kukatakan di atas, bila misalnya aku lagi asyik bermain dengan anak-istriku lantas ada demo soal korupsi, aku takkan meliputnya saat itu juga. satu-dua hari kemudian baru kutulis setelah wawancara dengan sumber-sumber terkait. hal seperti ini dulu tidak berlaku bagiku. walau subuh, hujan, tengah malam, atau belum makan sekali pun, dulu aku selalu siap meliput ke mana pun. sekarang tidak lagi. aku tidak mau lagi “sok” idealis begitu. horas.
4 September 2007 at 6:24 pm
Betul itu .kayaknya memang kita sudah waktunya lebih bijak dari masa lalu. Dulu kita hunting berita sampai lupa waktu, dan terlebih sampai meninggalkan keluarga. Hasilnya? Manna? Biarlah itu pelajaran bagi kita. Kita ikut aja hukum alam. Contohnya, Biarlah jika sudah saatnya menjadi ayah yang baik, pegawai yang baik, atau jadi seorang Juragan, biarlah begitu … inikan hanya masalah waktu. kapan maen ke kantorku?
BLOG BERITA:
siiiplah. takkan pernah bisa kulupakan kegilaan kita saat itu — “berita segalanya”, padahal honor berita cuma sanggup beli sebungkus rokok. mudah-mudahan besok aku ke kantormu. siapkanlah semua pasukanmu. suruh bersihkan kantor. jangan ada yang pakai celana bolong-bolong. nanti kufoto pulak.
10 September 2007 at 10:39 pm
bagus…demo trus..tepuk tangan aku, untuk kebebasan dan idealisme.
Tak perduli sitorus marganya, kalo salah, tetap salah,
Tapi, populer kali Sitorus ini di tobasa ( Jadi tertawa kecut aku, lae) Pimpinan Eksekutif dan Legislatifnya sama, Sitorus, alai di demo, tak becus berarti.
Pada tahun 2004 sesudah pemilu Legislatif, saya kebetulan “membantu” Abang (aku panggil dia abang) saya yang terpilih menjadi anggota legislatif propinsi SUMUT, yang kebetulan sama partainya dengan yang memberangkatkan kedua sitorus yang menjadi pimpinan di Tobasa itu. Saya mengetahui persis, bahwa yang memberangkatkan mereka (AKka sitorus i) ke tampuk pimpinan di Tobasa adalah orang yang sama…sekarang ngga akur lagi mereka ya, kayaknya mereka dah kehabisan “kue” dari sang Raja Yang notabene Sitorus jg.
Hebat kali lae…Sitorus jadi terkenal sekali di Indonesia ini,
Dibalik semua itu, ini menjadi sebuah pelajaran bagi siapa saja yang ingin memiliki kekuasan, mungkin kekuasan yang mereka dapat hanya dengan kekuatan “Cost Politics” dan bukan orang yang berkompeten dan memiliki kapasitas dan “ability” untuk menjadi pemimpin, yah inilah hasilnya.
24 September 2007 at 1:17 am
Horas…..Laeku…!
Aku terharu juga membaca Perjuangan Lae untuk Tobasa dan mungkin tidak banyak yang tahu bahwa lae udah sampai sejauh ini berkorban demi menyelamatkan Negeri kita TOBASA…saranku kepada lae jangan pernah surut semangat untuk memberantas Korupsi karena sudah menjadi dilema bahwa ketika kita memilih untuk memberantas Korupsi berarti kita telah memilih jalan penuh kesulitan baik materil maupun moril bahkan sampai ada orang yang mampu berkata bahwa Kita Tidak Tahu diri, aku sudah merasakan seperti yang lae alami, seperti contoh masalah keterlibatanku dalam masalah Kasus Korupsi yang dilakukan oleh Bupati Tobasa Drs. Monang Sitorus, awalnya ketika saya mengetahui semakin maraknya Pemberitaan pada Media Cetak dan Aksi Unjuk Rasa yang dilakukan masyarakat akhir-akhir ini baik di Tobasa, Medan maupun di Jakarta yang intinya meminta Kasus Korupsi 3Milyar segera diusut dan bila perlu segera Bupati Tobasa ditangkap, namun setelah aku menjadi bagian dari pergerakan ternyata didalam tidak seindah Orasi, dan Retorika yang disampaikan pada saat ada aksi unjuk rasa yang ada hanyalah sebuah kepentingan dari mulai golongan kecil sampai yang paling besar.
Kita sudah tahu bahwa Bupati dan Kroni-Kroninya telah melakukan Pemerkosaan terhadap Kebebasan dan Kesejahteraan Masyarakat Tobasa hal ini jelas terlihat tidak adanya Manfaat yang bisa dirasakan oleh Masyarakat namun tingkat keberhasilan yang elu-elukan Pemerintahan Monang Sitorus hanyalah keberhasilan secara politis (Tebar Pesona) alias dibuktikan dengan Mendapat Penghargaan dan mendapatkan sanjungan dari pihak-pihak yang diuntungkan oleh Pemerintahan Monang Sitorus.
Setelah ditelusuri dengan adanya konflik politik antar Kelompok Ketua DPRD Tobasa Tumpal Sitorus dan Bupati Monang Sitorus telah semakin membuat nasib TOBASA jadi semakin terpuruk karena Konflik Politik hanya dilakukan pada Pendapat di Media dan dari Mulut ke Mulut secara Lisan namun seharusnya yang dilakukan Pimpinan DPRD adalah semakin meningkat fungsi DPRD sebagai Fungsi Anggaran (Anggaran APBD tidak bisa sepihak dilaksanakan oleh Eksekutif), Fungsi Legislasi (butuh persetujuan DPRD untuk Legalitas Kebijakan Eksekutif) Fungsi Controling (fungsi Pengawasan terhadap segala kebijakan yang dilakukan oleh BUPATI dan JAJARANNYA… maka kalau DPRD memang berpihak kepada Rakyat Tobasa dengan melaukan ketiga fungsi tersebut telah dapat meminimalisir kasus korupsi pada Pemerintahan Daerah TOBASA.
Kita tidak melihat fungsi ini berjalan di TOBASA tetapi yang ada hanyalah sandiwara politik yang telah menghabiskan uang masyarakat melalui APBD maupun dana pribadi (kelompok yang tidak suka dengan BUPATI memberikan sejumlah uang untuk membantu gerakan menjatuhkan Bupati Monang Sitorus) bagi PNS yang bergabung dijanjikan Jabatan kalau Bupati lengser maka mereka juga ikut memberikan sejumlah uang, sampai kapan mereka jadi perahan sementara kita tidak melihat adanya upaya yang maksimum untuk mempercepat proses hukum untuk kasus korupsi Bupati, malah yang ada Anggota DPRD kena Tangkap sedang main judi…..
Ketika kita lakukan aksi bersama-sama dengan PNS ada kejadian yang sempat membuat TOBASA seolah-olah kembali ke jaman Rezim Soeharto yakni adanya isu bahwa Sdr.Cristian Manurung diculik tetapi setelah beberapa hari kemudian Sdr. Cristian Manurung muncul dan meminta Ketua DPRD yang menjemput di Bandara yang jelas dapat dipastikan bahwa Kejadian tersebut hanya REKAYASA………. Satu yang Pasti adalah Ketua DPRD dan DPRD Tobasa dengan Bupati Monang Sitorus sama-sama korupsi jadi mari kita perangi Korupsi di TOBASA…. walau banyak yang telah mengancam aku lae yang intinya meminta agar aku jangan mencampuri masalah Korupsi di Tobasa yang jelas setiap orang yang bekerja PASTILAH MAKAN…..
JARAR SIAHAAN: horas, lae. terima kasih. aku cuma melakukan apa yang bisa kulakukan, lewat tulisan di blog ini. kupikir apa yang kulakukan untuk masyarakat tobasa selama menjadi wartawan belum maksimal. tapi itulah dulu kemampuanku, biar pun sedikit, tapi aku berbuat. soal hasil akhir dari pengungkapan kawan-kawan pers dan lsm perihal korupsi di tobasa ini, aku pesimis. karena aparat hukum pun umumnya bisa disuap. salam.
24 September 2007 at 9:02 am
Tapi memang marga yang paling menonjol di Toba sekarang ini Sitorus ya. Orang Batak terkaya dan nomor 14 di Indonesia versi Forbes adalah Martua Sitorus. Ayo yang Sibarani, kapan kita membangun kampung kita?