[batak news; the scotsman; aku sudah teken kontrak dengan TUHAN]
Gugatannya [tidak] masuk akal.
Berita unik ini ditulis situs berita The Scotsman beberapa waktu lalu dan dikutip ulang Koran Tempo.
SEORANG PRIA Rumania yang menjadi pelaku pembunuhan mencoba menggugat Tuhan secara hukum di pengadilan Kota Timisoara, Rumania. Pavel Mircea, pria yang dipidana penjara 20 tahun gara-gara membunuh, menggugat Tuhan karena Tuhan dinilai tidak melindunginya dari setan.
Mircea yang beragama Kristen mengklaim dia telah membuat kontrak dengan Tuhan saat dibaptis, tapi Tuhan dinilainya tidak memenuhi kontrak itu.
“Dia seharusnya melindungiku dari semua kejahatan, bukannya menyerahkanku kepada setan, yang mendorongku untuk membunuh,” katanya.
Namun pada pertengahan Juli lalu kantor jaksa pengadilan di Timisoara menolak kasus itu.
Menurut mereka, “Tuhan bukanlah seseorang yang berada di bawah hukum dan tak punya alamat tempat tinggal yang legal.”
IYALAH PULA, cemmananya lae Mircea ini. Kok jadi setan pula disalahkan. Ah, jadi teringat aku berita-berita pemerkosaan di koran kriminal terbitan Indonesia.
“Karena sudah dirasuki setan, akhirnya pria itu tak sadar lagi memerkosa putri kandungnya sendiri hingga beberapa kali.”
Berita begini mah, bisa jadi, setannya kasih amplop sama wartawan yang nulis. Atau, wartawannya yang ingin sok berbahasa dengan bunga-bunga. Dikira tulisannya makin indah, eh, tahu-tahunya malah jadi memerkosa ulang korban pemerkosaan.
Ah, tauk ah. Selamat berakhir pekan buat semuanya. [www.blogberita.com]
CATATAN BLOG BERITA:
KEDAI TUAK Batak News masih terus dibuka hingga dini hari. Karena tuakku belum habis. Klik KEDAI TUAK persis di bawah logo blog ini.
Anak-anak dan perempuan juga bisa nimbrung. Tapi kusodorkan kopi atau bandrek susu saja, ya. Buat kaum lelaki, selamat mabuk di rubrik baru ini.


25 Agustus 2007 at 9:07 am
Hahahahahahah……………….memang sudah sedeng manusia ini,koq bukan barangnya saja yang dituntut kenapa harus beringgas saat melihat belahan lewat.
26 Agustus 2007 at 12:57 am
Manusia Sekarang Kan Cuma MEngandalkan AKalnya SAja, PAdahal AKal ada BAtasnya.
Akal di anggap segalanya, Kita itu terbatas Akalnya, Dan kadang Tidak Memiliki Akal (Masak Tuhan diakal2i )
Ya Ga “lae Mircea”…..??? Selamat Menginap DI Hotel Prodeo ANda.
27 Agustus 2007 at 8:25 am
Lussu lae Mircea ini..
Aku kutip cerita lussu dari film In Pursuit of Happiness (Chris Gradner).
Seorang lelaki frustasi sedang berada di pinggir jurang. Lalu datang seekor banteng dan berkata: hai manusia, ada yang bisa saya bantu?. Tidak, hanya Tuhan yang dapat menolongku, kata si lelaki.
Lalu datang lagi seekor banteng: hai manusia, ada yang bisa saya bantu? katanya pula. Tidak, hanya Tuhan yang dapat menolongku, kata si lelaki ini.
Akhirnya loncatlah lelaki ini…dan mati.
Di negri antah berantah, dia bertemu Tuhan. Dia protes katanya: Tuhan, mengapa Engkau tidak menolongku? Tuhan menjawab: aku sudah mengirim dua ekor banteng, bodoh !!
27 Agustus 2007 at 1:41 pm
Bak coba tanya dulu sama si Gibran Lae jarar, mungkin dia ada simpan alamat Tuhan. Biar jangan terlalu penasaran si Mircea itu. Dibilang pula Tuhan menyerahkan dia pada Setan bah…
. Tapi kalo mau nuntut Tuhan kok ga langsung di jumpainya saja ya …
ada kok gibran simpan no hp TUHAN. nantilah kubilang biar ditelp.
BATAK NEWS:
27 Agustus 2007 at 2:43 pm
Sebernarnya agak rancu juga kalau dibilang Tuhan ga punya tempat tinggal yang legal. Tapi kalau ditanya tinggal dimana, jawabannya juga bisa dimana-mana kali ya. Seandainya si Pavel Mircea ini menggugat setan, jaksanya pro Tuhan ga ya? Atau malah ikut mendukung menggugat setan.
Ah bisa2 si pavel ini jangan2 cucunya Pangeran Vlad (Sang Dracula).
27 Agustus 2007 at 9:41 pm
membaca buku-buku karangan friedrich nietzsche memberikan 3 dampak pada pembacanya. membaca sekali membuat pembaca tersebut bingung. membaca dua kali membuat pembaca tersebut gila dan membaca tiga kali membuat pembaca tersebut mengerti. salah satu buku karangan nietzsche yang paling populer adalah zarathustra (hikmah zarathustra). mungkin si pavel mircea baru membaca buku tersebut 2 kali.
28 Agustus 2007 at 1:55 pm
Rupanya bukan cuma di Indonesia Tuhan dibawa-bawa dalam urusan merusak dan kejahatan. Tetapi di negeri barat, urusan seperti ini (tuhan-tuhanan) ditanggapi secara lebih “dingin”. Argumen dibalas dengan argumen. Pendapat dijawab dengan pendapat. Berkesan intelektual. Perbedaan keyakinan atau opini bukan dibalas dengan “fatwa” atau “jihad”. Yang membuat perbincangan jadi buntu dan tidak menarik.