[grace siregar; batak news; seniman yang "dipaksa" jadi sarjana hukum]
Satu tahun terakhir ini warga masyarakat bisa rutin saban bulan menikmati pameran seni rupa di Kota Medan. Di sebuah galeri bernama Tondi. Grace Siregar — perempuan Batak yang menimba ilmu seni rupa di Belanda, istri seorang sutradara Inggris — adalah perintisnya.
Awalnya aku berniat berkunjung ke Medan, ke galeri Tondi, untuk meliput langsung dan mewawancarai Grace, tapi tak jadi-jadi karena kesibukanku sebagai “pengangguran plus-plus” alias “pembantu” istriku. Akhirnya kukirim surat kepada Grace [39 tahun], dengan beberapa pertanyaan. Ia membalasnya setelah kebahagiaannya bertemu dengan ibunya — “Mamak dan itoku yang bungsu sudah balik ke Sungailiat, Bangka Belitung. Luar biasa senangnya kami menikmati kehadiran mereka berdua,” tulisnya.
Berikut adalah jawabannya atas pertanyaanku. Ia memulai suratnya dengan menyapaku, “Ito Jarar yang asyik.” Cerita ini sengaja kubiarkan dengan gaya bertutur orang pertama agar “aroma” surat lebih terasa bagi pembaca. Selamat berkenalan dengan Grace, seniman yang asyik.
NAMA BAPTISKU ADALAH Elfrieda Solacratia Hanna Siregar. Aku lahir di Tarutung, 16 April 1968. Bapakku bernama Parbaungan Siregar berasal dari Pintu Bosi, Sipoholon, Tarutung. Mamakku Solavide Sihombing adalah seorang anak praeses gereja HKBP dari Medan. Pada tahun 1969 kami pindah ke Sungailiat dari Pintu Bosi, karena pada saat bapakku merantau ke pulau Bangka, bapak diterima bekerja di PT Timah Tbk dengan posisi sebagai seorang eksplorasi geologi.
Bapakku melihat bahwa aku menyukai coret-coret buku gambar. Maka pada saat seorang pelukis bernama Pak Ahmad lewat di kompleks perumahan kami, bapakku memintanya untuk mengajari aku melukis. Itulah awalnya bahwa aku tidak pernah terlepas dari berkarya. Ketika seusai SMA, aku mendapat PMDK, yaitu terpilih masuk ke perguruan tinggi negeri tanpa tes, yaitu ke Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya, Palembang, tahun 1988.
Ada gejolak menolak karena hasratku mau masuk ke IKJ (Institut Kesenian Jakarta). Tapi bapakku membuat kompromi bahwa aku harus menyelesaikan Fakultas Hukumku, dan setelah itu bapakku menyetujui aku terjun ke dunia seni rupa. Dalam 4,5 tahun aku selesaikan studiku. Setelah aku bekerja selama dua tahun dan menabung, tahun 1994 aku memutuskan untuk berangkat ke Belanda dan belajar seni rupa langsung dari seniman Belanda, Jan van Stolk.
Bergabung dengan perupa-perupa Belanda, berpameran bersama dan berpameran tunggal di Amsterdam serta mengunjungi setiap museum dan galeri seni rupa yang memamerkan karya-karya maestro dunia; seperti van Gogh, Rembrandt, Matisse, Mondrian, Picasso, Roscoe, Warholl, Pollock, Jean M Basquiat, Turner, Renoir, dan perupa-perupa besar lainnya yang masih hidup dan sebaya denganku. Lalu aku memutuskan untuk pulang ke Indonesia pada Oktober 1998.
Di Amsterdam-lah aku bertemu dengan suamiku yaitu sutradara film Inggris, Alexander Tristan Davey, yang pada saat itu sedang membuat film dokumenter berjudul Trois Cafes (Tiga Kafe). Kami menikah pada tanggal 18 Agustus 1998 di Amsterdam. “Menikah lagi” pada tanggal 6 Februari 1999 di HKBP Sungailiat, Bangka, sekalian dengan pesta adatnya. Suamiku diberi marga Sibarani dan kami mempunyai satu boru hasian (putri kesayangan); Rachel Sibarani. Sekarang suamiku bekerja di NGO International World Vision ITR di Banda Aceh.
Kami sampai di Medan pertama kali pada tanggal 4 April 2006. Sebagai perupa yang aktif berpameran selama tinggal di Jakarta, aku melihat Sumatra Utara sebagai propinsi terbesar ketiga di Indonesia, tapi dunia seni rupanya sangat tidur dan sepi sekali. Padahal Jawa dan Bali, dunia seni rupanya bergerak terus non-stop dan bereksperimen terus oleh perupa-perupanya.
Media-media nasional yang kebetulan ada di Jawa mengekspos pameran-pameran ini, sehingga dunia seni rupanya hidup. Lah, kita? Alamak, mati kali!
Makanya walaupun aku tidak kenal siapa pun saat itu, aku bertekad mendirikan galeri seni rupa yang serius di Jl. Keladi Buntu No. 6, Medan. Sengaja aku pilih nama TONDI, karena selain aku orang Batak Toba, juga nama itu dalam bahasa Indonesia berarti jiwa atau roh. Supaya jiwa dan roh seni rupa Sumatra Utara bergerak terus dan inovatif terus.
Sejak itulah tersusun pameran setiap bulannya non-stop, terutama karya perupa Sumut, diselingi dengan pameran seniman dari luar Sumut. Peranan media juga aku utamakan karena melalui medialah masyarakat tahu bahwa mereka memiliki galeri seni rupa yang setaraf dengan galeri-galeri seni lainnya seperti di Jawa dan Bali.
Sebagai perupa, kita harus membawa anak-anak kita ke pameran-pameran seni rupa supaya rasa kemanusiaan yang sehat dan sensitivitas terhadap sesama manusia terus terasah. Aku setuju perkataan Picasso, “Karya seni rupa adalah sesuatu yang bisa membersihkan debu-debu di dalam kehidupan kita setiap harinya.” [www.blogberita.com]
CATATAN BLOG BERITA DOTCOM:
Silakan bila ingin mengutip artikel dari blog ini, dengan syarat menyebut sumber dan nama penulisnya. Bila dikutip untuk website, blog, atau milis, maka tuliskanlah sumbernya www.blogberita.com dan buatkan link ke artikel bersangkutan. Bila dikutip untuk koran, majalah, bulletin, radio, televisi, dll, maka tulislah/sebutkanlah sumber kutipannya; www.blogberita.com.
-
1
Ping balik on Feb 29th, 2008 at 4:12 pm
[...] amat sedih—seraya membayangkan bola matanya yang menguning itu. SMS tersebut lalu kuteruskan pada Grace Siregar di Tobelo-Halmahera Utara, Agus Budyanto (pelukis cat air yang sedang naik daun), Tumpley Siahaan [...]


21 Agustus 2007 at 1:50 am
Batak² kayak ginilah yg selalu membuatku bangga jadi orang Batak, bukan yg pukul²an di lapangan bola Balige atau yg marbada muncung di Lumban Silintong…
21 Agustus 2007 at 6:41 am
Luar biasa wanita batak yang satu ini. Sepertinya saya belum pernah mendengar seorang perupa dari kalangan wanita batak. Walau tidak tahu melukis atau apapun seni rupa tapi saya sangat suka menikmati setiap ada pameran seni rupa. Hal ini tak terlepas dari sahabat saya yang lulusan Universitas Medan jurusan Seni rupa. Namanya Bona Nainggolan (tapi saya paling suka memanggil dengan sebutan Pudan atau Sobat), dia berasal dari Laguboti.
Beberapakali saya diajak ke kampusnya untuk melihat pameran seni rupa atau main ke kostnya dan melihat teman-temannya sedang membuat hasil karya tangan. Yang buat saya kadang heran, mereka sambil bersenda gurau tapi bisa tercipta karya tangan yang indah. Di sinilah saya menilai kalau jiwa, pikiran dan tangan mereka sudah bersahabat dengan baik. Semoga karya seni dapat semakin diterima di masyarakat.
21 Agustus 2007 at 8:08 am
Bagi saya seni rupa merupakan seni yg paling indah. Saya paling menyukai lukisan yg berbau danau toba lengkap dgn pulau Samosirnya kampung laeku Suhunan Situmorang. Saya pernah membuka website http://www.asiaexplorers.com dimana website ini memuat daerah2 tujuan wisata di kawasan asia dimana yg paling ditonjolkan adalah danau toba dan daerah2 wisata serta kebudayaan Batak di pulau Samosir. MEmang luar biasa indahnya. Dari gambar2 yg disajikan saya copy satu yaitu Danau Toba dan pulau Samosir yg dimana kemudian saya bayar bayar tukang lukis untuk melukis hasil copy an ini diatas kanpas. Hasilnya luarrrrrrrr biasa indahnya. Memang mahal, tapi bila dibandingkan dgn manfaat yg saya peroleh dari lukisan tersebut biaya tersebut tdk seberapa. Saya tdk pernah bosan memandangi lukisan ini. Lukisan ini selalau memberi saya inspirasi dan ketenangan seperti tenangnya air Danau Toba itu. Kalau sdh begini yg lansung saya ingat adalah lagu Tao Toba dan Pulau Samosir.
Lae Suhunan ! ayo kita nyayikan dulu lagu Tao Toba dan Pulau Samosir.
Molo hutatap ho sian na dao, o tao toba na tio, boi do sonang rohakki tarapul ate2 ki lambok nang pusu2 ki. Ai dung lam hu pajonok doppak ho o tao toba natio rohakku pe gape sonang. Tu ho ro au paboahon, sude na di rohakkon. Ai nungga tarbarita goar mi di ujung ni portibi on…… dan seterusnya. Ah sekarang badan saya ada di Jakarta tapi pikiran saya jadi menerawang jauh ke danau toba dan samosir sana. Enaknya menyantap ikan mujahir na niura di kampung laeku Suhunan Situmorang sambil memainkan gitar di atas solu (perahu sampan). Seandainya saya punya sayap seperti elang saya akan terbang ke sana. Tapi itulah namanya seni, tdk lepas dari keindahan.
21 Agustus 2007 at 9:24 am
JJ SIAHAAN:
bah, ngapain kau di lapangan banteng, lae?
21 Agustus 2007 at 9:50 am
Mengapa yah orang-orang Batak itu dari dulu terkenal hebat-hebat dalam bidang seni?
21 Agustus 2007 at 9:57 am
Hm,,, bang, saya pengunjung yang ke seratus ribu nih…….
21 Agustus 2007 at 10:30 am
halo ito2 dan eda2,
horas jala gabe, grace siregar, TONDI
mauliate sudah membaca suratku yang kukirim ke ito jarar. mudah2an kita bisa bertemu di TONDI. Kalau mau lihat sejarah2 berpameran bisa buka google juga, trus tulis “grace siregar”. Salam kenal ya
21 Agustus 2007 at 2:27 pm
Ito Grace Siregar adalah contoh konkrit orang yang sangat peduli dengan budayanya dan daerahnya. Kehidupan nyaman di luar negeri ditinggalkannya, Jakarta yang penuh dengan jaminan kemapanan tidak dipilihnya.
Satu lagi perempuan batak akan menjadi icon perupa Indonesia setelah Dolorosa Sinaga. Semoga dengan keberadaan Ito Grace para seniman SUMUT khususnya Batak dapat belajar dan termotivasi. Karya seni bisa merubah budi pekerti maupun perekonomian bangsa yang sedang terpuruk ini. Selamat berjuang Ito…… dan mauliate untuk Lae Jarar yang telah memuat kegiatan ini.
JARAR SIAHAAN: kembali kasih, lae.
21 Agustus 2007 at 5:03 pm
Welcome to BatakNews. Ta baen ma ba biddatta. Kita buatlah perkumpulan bah
BATAK NEWS: untuk sementara kita sesama penulis/kontributor, pembaca pasif, dan komentator batak news bisa ngumpul-ngumpul di rubrik KEDAI TUAK.
21 Agustus 2007 at 5:56 pm
mantaf… orang-orang seperti ini di perlukan bangsa ini, agar kebudayaan indonesia terutama kebudayaan batak dapat terjaga dan dapat diturun kan turun temurun ke anak cucu kita kelak…kapan lagi ada pameran seni nya yahh???
awak orang medan koq ndak tau
21 Agustus 2007 at 7:30 pm
Memang hebat perempuan Batak, apalagi yang satu ini bisa memberikan kontribusi pada budaya yang membesarkan dia. Salut
Btw, kak farida, perempuan batak banyak yang berbakat. Salah satunya adalah pematung terkenal Dolorosa Sinaga yang lahir di Sibolga. Dolo juga pematung yang idealis karena karya2nya menyuarakan ide-ide humanitas dan keberpihakan pada kaum yang marginal. Kalo ngga salah beliau jg pernah menjadi dekan di IKJ.
21 Agustus 2007 at 7:35 pm
@ Batak News
Yang kukagumi dari Grace, adalah ini: pertama, ia berhasil membebaskan dirinya dari perangkap bahwa seni harus indah, indie mooi, dan melukis sesuka hatinya, medianya pun tidak harus di kanvas. Ia melukis mural di kolong jembatan layang Jkt, berpameran instalasi di Semanggi, TIM, Bentara Budaya, dll, dng tema-tema lokal, nasional, global–bahaya pemanasan global–di Bentara Budaya, bahkan mau berpameran di Tobelo-Halmahera Utara. Ia menggunakan multimedia: lukis, video, foto, musik, batu es, pohon kelapa, apa saja. Ia adalah seniman pemberontak, tukang protes atas persoalan-persoalan sosial, kemiskinan, penggusuran, bahkan kematian Munir. Yg tak begitu familiar dng permorming-art atau seni instalasi memang akan bingung melihat karya-karya Grace. Tetapi nama dan karyanya sudah tujuh tahun ini dibicarakan para pengamat dan aktivis seni instalasi nasional dan internasional. Di luar media asing, Kompas, Jakarta Post, Tempo, Media Indonesia, Sinar Harapan, termasuk yg banyak mengulas karya-karya Grace.
Kedua, Grace adalah seniman yg tak mau menjadi kaum elitis, yg menarik jarak dng seniman-seniman pemula atau yg tak sealiran dngnya. Pergaulannya luarbiasa luas, mulai dari penyair Afsel sampai seniman instalasi Kanada, ditopang kemampuannya berbahasa Inggris dan Belanda, selancar berbahasa Batak dan Sumsel. Saya mengenal beberapa sastrawan/penyair dari Jerman, Belanda, Belgia, dari Grace ketika mereka berkunjung ke Jkt.
Ia membuat seni bukan untuk uang, tapi kepuasan batin dan jiwa–kebetulan didukung suaminya, pria Inggris yg amat baik, Alexander T Davey.
Ketiga, ia membuat dan menjadikan seni bukan untuk uang semata, tapi untuk menyampaikan suara pikiran, batin dan jiwa–kebetulan didukung suaminya, pria Inggris yg amat baik, Alexander T Davey. Tanpa pamrih, mau berlelah-lelah mencari, mengumpulkan, lalu menampilkan seniman-seniman daerah berikut karya mereka berpameran, atas biayanya sendiri! Hampir semua jenis seni dan seniman, mulai tari, lukis, foto, patung, puisi, prosa, musik, dihargainya, dirangkul, ditampilkan, demi kemajuan sang seniman. Bukan utk dirinya.
Keempat, moderat, demokratis, rendah hati, humoris. Ia tetap seorang HKBP-ian, meski besar di Bangka-Palembang dan bertahun-tahun mukim di Belanda dan Inggris. Tak mabuk beragama, tak doyan mengusut ketuhanan orang lain, tapi tak menjadikan dirinya agnostik, kendati sudah dilumuri pemikiran barat. Kami sering menjadikan cara-cara pendeta Batak berkhotbah dan seremoni HKBP sebagai bahan lelucon, membuat kami tertawa ngakak tapi tak menghina agama. Orang Batak yg narsis atau chauvinis pasti tak suka mendengar canda kami.
Kelima, suka bersahabat, bahkan dng orang-orang yg sama sekali tak ada sangkut-paut dng profesinya. Ia humanis, terkadang lembut, terkadang sifat dan karakter Bataknya mengemuka. Lucu banget kalau ia tiru gaya dan suara kerabatnya dari Sipoholon sana yg acap mengunjungi mereka ke Medan. Persis lawak Batak. Ia menyikapi kerabat-kerabatnya dengan kelucuan, terkadang protes, kesal, tapi penuh kasih.
Keenam, tak suka sama orang pelit. He-he-he…
BATAK NEWS:
kupikir pun begitu; ito grace seorang seniman yang asyik-asoi-aman [ketiganya gak nyambung].
aku yakin dia pribadi yang menyenangkan. suatu hari aku harus bertemu dengannya untuk melihat bagaimana mimik wajahnya yang bulat itu saat bercakap-cakap, agar tulisanku bisa lebih mengalir dan tidak beraroma email.
22 Agustus 2007 at 8:45 am
hahaha, ito suhunan…..ito…ito… tak kusangka sampai ke detail-detailnya. malu aku maaaak!!! mau bilang apa lagi aku ya? sehat do ito?? oh yah to, bapak dan mamakku sudah baca sordamnya. aku hadiahkan pada mereka natal kemarin. tangis do bapak dohot omakku manjaha sordam-mi. “Persis” pengalamannya pada saat dia merantau pertama kali. apalagi saat di belawan itu, seluruh sanak keluarga mengantarnya dengan terisak-isak dan penuh doa.
parjolo, mauliate ito jarar
kapan kita bisa bertemu to?
ini ajang yang menarik untuk berdiskusi, mauliate untuk ito suhunan yang sudah memberikan info tentang blog ini pada tunggal ni dolihu. oh yah sebelum lanjut, aku mau kasih tahu ke ito marudut, dian, azer bahwa dolorosa sinaga sudah pameran tunggal di Tondi pada bulan februari 2007 selama 1 bulan. pamerannya ditulis di kompas, medan bisnis, dan media-media lainnya. sayang saya belum tahu blog ini. kalau tidak pasti sudah aku undang.
ito suhunan juga sudah membacakan karya Sordamnya di Tondi bulan september-oktober 2006 kemarin. luar biasa hasinya!! saat ini yang pameran di tondi adalah iconk, perupa papua dari fak-fak. juga ditulis di tulis di kompas, analisa, dll.
aku berusaha agar tondi bukan saja milik kita tapi milik semuanya. lintas pulau dan laut, agar karya-karya senirupa kita semakin kaya dan sumatra bisa menjadi kantong senirupa yang serius untuk indonesia, sama dengan yang di jakarta, bandung, jogjakarta dan bali.
selama ini senirupa kita hanya terpokus kepada jawa bali, walaupun kita menganut multikultural tetapi kalau dilihat secara detail, prakteknya adalah bi-kultural dimana 99% pemberitaan budaya hanya dipokuskan kepada jawa dan bali saja. kadang-kadang timbul dipikiranku apakah kita menganut paham multikultural atau bikultural?
buktinya kalau ada peristiwa-peristiwa diluar jawa dan bali, jarang sekali diliput karena mungkin alasan jauh atau (malas?) dari media nasional kita yang semuanya ada di jakarta?? bagaimana dengan budaya-budaya dan senirupa2 di sumatra? kalimantan? sulawesi? maluku? papua? begitu kaya dan begitu berfariasi tetapi hanya sedikit sekali yang diangkat.
bukan berarti aku tidak menghormati teman-teman perupa disana? Terus terang aku salut dengan mereka, karena mereka menggali dan terus menggali akar-akar budayanya dan membuatnya kedalam bentuk karya2 lain ke bentuk karya seni visual, sastra, puisi, film, tari, performance art, happening art yang menyegarkan. bahkan sekarang ada sebutan JAVANILOGI yi memperdalam budaya jdan philosofi jawa. lah kita???? apakah ada bataknilogi? yang aku dengar, dulu ada diajarkan aksara batak, musik batak, bahasa batak, dan budaya batak di usu atau di universitas2 lainnya tetapi sudah dihapus karena minat orangnya sedikit. pertanyaan sekarang, MENGAPA SEDIKIT? salah satunya karena kita tidak menanamkan betapa pentingnya bahasa batak dan elemen-elemenya to anakkon ta dohot boru ta. satu yang aku hormati dari bapak dan mamak kami bahwa walaupun kami dibesarkan bahkan dilahirkan di tengah-tengah suku melayu bangka dan cina bangka, tetapi kalau dirumah mereka berbicara bahasa batak. dari sejak kami kecil. kadang tetangga-tetangga bilang merea kampungan. mungkin saja mereka kampungan karena mereka keluar dari huta pintu bosi. tetapi tanpa disadarkan mereka, kami semua bisa berbahasa batak walaupun tidak selancar dengan sepupu-sepupu kami di lintong ni huta dan pintu bosi.
untuk aku sendiri yang bersuamikan orang asing, kami merencanakan untuk tinggal dihuta selama 1 tahun supaya suamiku dan boruku dan aku sendiri lancar berbahasa batak. aku saat ini lagi mencari guru tari tor-tor daripada boruku belajar tari bali dan ballet yang jauh dari setangah darahnya.
banyak sekali aku temui anak-anak batak yang lahir dan dibesarkan diperantauan khususnya di Jakarta yang malu mengakui bahwa mereka orang batak hanya karena diskriminasi yang mengatakan bahwa batak itu adalah kasar, maling, dll. juga keluarga tidak mengajarkan dari kecil berbahasa batak dirumah dimana itu adalah aset penting untuk anak-anak kita supaya mereka tahu akar dari budaya kita. bukan hanya budaya pulang kampung yang kita bawakan tetapi berbahasa batak secara aktif di rumah.
yang trend aku lihat bahwa anak-anak dibesarkan dengan kfc, mcdonald, lu gue lu gue, mall, karena kalau tidak ikut trend tidak keren. marga juga dihilangkan. misalnya namanya Martha Nauli S atau Togar Manahan S! lha S-nya itu apa? Sarung tangan? Selokan? Alasannya karena di akte tidak dimuat. saya juga tidak punya marga di balik nama di akte tetapi saya tetap saya pakai Siregar dengan rasa hormat dan bangga.
memang betul anak-anak batak diluar sumut tidak boleh dibuat marganya, terbukti dengan lahirnya keponakan-keponakan saya di jakarta pada saat diminta untuk mencantumkan marga mereka masing-masing di akte kelahiran di rumah sakit ataupun di kantor catatn sipil, dengan nyata ditolak dan tidak bisa karena berdasarkan undang-undang. undang-undang yang mana? lha, ini kan sejarah dari nenek moyang kita yang tidak bisa diambil oleh siapa pun! ini adalah salah satu bentuk diskriminasi yang harus kita perjuangkan. tetapi pernah aku baca di kompas, kira-kira 2 tahun yang lalu bahwa unicef bekerjasama dengan lsm lokal sudah berhasil mengubahnya. jadi untuk anak-anak kita yang lahir diluar sumut bisa meminta surat lampiran yang disertakan di akte kelahiran anak-anak kita agar bisa dibuat marganya masing-masing.
menurutku, orang batak adalah perantau yang baik. buktinya dimana pun kita berpijak disitu langit kita junjung. sampai-sampai tidak ada yang mau pulang lagi ke tanah leluhurnya?
Horas, Grace Siregar
JARAR SIAHAAN: ito, kalau aku ada waktu ke medan, pasti kuusahakan ketemu ito. maaf dulu ya, imel ito belum sempat kubalas. banyak sekali imel yang belum bisa kubalas. pertanyaan ito di imel itu juga akan kujawab. tapi jangan kecewa nanti ya.
23 Agustus 2007 at 3:12 pm
Great…. ternyata sdh banyak para seniman yang pernah mejeng di Tondi. Ito aku baru melek akan seni karena istriku dua tahun belakangan ini kerja di suatu auction hause, aku sendiri akuntan. Secara jujur kuakui aku mulai tertarik melirik barang seni karena katalog-katalog yang dibawa istriku pulang untuk dikoleksi. Kulihat harga-harganya tak ada yang murah, maklumlah naluri akuntan selalu melihat sesuatu dari rupiahnya dulu (investasi). Tetapi betul kata pepatah, “Tak kenal maka tak sayang” lama-kelamaan aku sudah mulai bisa menikmati keindahan dan menangkap gejolak hati si pencipta barang seni tersebut.
Mauliate godang tu ho ito (terimakasih banyak padamu ito) mau menulis untuk kami orang-orang yang tak sensitif ini. Kalau bisa undang teman-teman artist lain untuk menulis ,di blog yang kesohor (jangan besar hidungmu Lae Jarar) ini, tentang seni supaya kami bisa lebih sensitif. Oh ya.. dibandingkan negara-negara tetangga kayaknya seniman muda kita belum bisa ditonjolkan. Kalau saya lihat biodata artis di katalog lelang Indonesia Art hampir semua sudah tua dan bahkan sebagian besar sudah tinggal nama.
Aku juga mau usul ke Ito supaya ito juga mengajarkan ke artist muda kita commercial side – nya karena menurutku kalau tidak menghasilkan kesejahteraan akan memperlambat kreativitas. Sukses untuk TONDI
BLOG BERITA:
bukan cuma hidungku yang jadi besar, lae, muncungku pun hampir robek karena ge-er dipuji.
25 Agustus 2007 at 10:57 pm
Sudah lama Galeri Tondi saya dengar dari Lae Suhunan Situmorang. Suatu saat saya akan kesana, siapa tau juga suatu saat ada kesempatan Photographer halak hita bisa berpameran disana. Horas Ito Grace.
26 Agustus 2007 at 3:46 pm
hallo ito charlie,
datanglah ke tondi. bawa karya-karya photonya. kita akan lihat sama-sama, dan bisa dipamerkan karya-karyanya. sudah saya kirimkan undangan ke ito jarar untuk pembukaan di bulan september. horas, grace siregar
27 Agustus 2007 at 12:49 am
Salut!! Horas ma namboru Grace, semangat terus untuk aktif, memajukan dan berkarya bagi dunia seni rupa indonesia. Ternyata banyak juga orang batak yg jadi pelukis yah? Kok aku nggak tahu, jelas saja aku tidak tahu. menikmati seni lukis pun, aku terkadang masih bingung atau karena yg sering kuliat lukisan abstrak? hehehehehe. mungkin juga. Dan soal bataknilogi, menarik juga kalau kehidupan di hitaan itu dilukis ke kanvas. maksudnya? yah seperti banyak lukisan karya perupa Bali itu yang menuangkan kegiatan sehari-hari, upacara2 ke dalam kanvas. Btw, apa tahe artinya Happening-art ini, hamuna? Secara Sibarani, berarti marnantulang do au hape.
Horas!
27 Agustus 2007 at 8:24 am
horas bere smn
mauliate parjolo to ito jarar, yang punya ide blog ini. Positif sekali to. sudah aku baca apa latar belakang munculnya blog ini. memang to, untuk menjaga idealisme kita, kita harus berani jalan terus dan menciptakan ide itu ke dalam realitas. Salut!
oh happening art itu bisa disamakan dengan performance art yaitu suatu performance yang bukan digolongkan ke tari dan juga bukan teater. jadi suatu karya gerak terkadang tidak bergerak sama sekali, juga terkadang punya cerita dan terkadang abstrak dan tidak punya cerita, yang juga timbul secara tiba-tiba ingin tampil. Bukan hanya diacara pembukaan pameran atau suatu festifal tetapi juga terkadang muncul di tengah pasar dan tempat-tempat lain. saya pernah tiba-tiba melakukan performance art untuk beberapa menit pada saat saya sedang belanja ditengah-tengah pasar ginjing, pramuka, jakarta. orang-orang bingung mau bersikap seperti apa tiba-tiba saya mengeluarkan sekeranjang buah ke lantai dan mengaturnya kembali ke mangga-mangga itu kedalam keranjang buah dengan rapi. setelah itu saya memberi hormat kepada pengunjung pasar tanda performance art saya selesai. tukang buah yang tadinya melongo, hanya geleng-geleng kepala saja melihatku berlalu dan berbelanja lagi. mungkin banyak orang yang mengira saya gila, tetapi pada saya melihat buah mangga2 itu, saya merasa bersyukur kepada Tuhan atas berkatnya melihat buah mangga yang matang dan segar itu. kalau suami dan anak saya sudah terbiasa dengan spontanitas ini. bahkan mereka menjadi penikmat yang setia kapan saja rasa ingin berkarya itu timbul.
cara kita menikmati karya kita bisa memakai “rasa” kita masing-masing . Menikmati karya-karya senirupa dengan rasa kita terhadap karya baik yang berbentuk dan tidak berbentuk (abstrak). kita bisa berkurasi sendiri dengan terhadap karya-karya tersebut, dan kurasi itu berbeda-beda terhadap setiap individu. kadang karya bisa menyentuh rasa kita, kadang tidak sama sekali, kadang kita punya pendapat, kadang tidak sama sekali. itulah kekuatan dari rasa kita terhadap kekuatan dari karya-karya senirupa.
tidak perlu dipaksakan bahwa kita harus mengerti, yang penting kita punya kesempatan untuk bisa melihatnya dengan mata dan mata hati kita. kadang-kadang karya-karya realis dimana kita ditunjukkan “ini lho mukanya, ini lho suasananya” juga tidak mengena bagi sebagian orang. tetapi pada saat kita melihat bunga mataharinya van Gogh, kita mau nangis. kadang-kadang karya abstrak bisa mengena kedalam hati kita, karena jagad raya yang universal ini sangat-sangat luas. dan bagi sebagian orang tidaklah mengena sama sekali. misalnya, ketika saya melihat karya-karya roscoe yang abstrak di galeri nasional london, saya tersentak dan termangu, sampai saya menangis dalam keterdiaman. bentuk karya juga bermacam-macam, ada yang indah-indah dan juga ada yang tragis, mengangkat kepatahan kepedihan kehidupan ini. setiap perupa mempunyai proses dan jalan pengembaraan pemikiraan yang berbeda-beda pula. dan itulah mengapa karya nmemiliki nafas yang berbeda-beda pula.
untuk pertanyaan ito marudut tentang harga, itu adalah sesuai dengan permintaan masing-masing. pada dasarnya perupa bisa diajak kompromi, yang penting terus terang. perupa akan merasa terhormat pada saat ada yang mencintai karya-karyanya. berapa banyak perupa yang bisa menjualkan karya-karyanya dimana karya-karya itu jujur? 0,00000001%. kecuali bagi yang tadinya bermaksud membuat karya-karya souvenir. tidak ada salahnya karena setiap perupa punya tujuan yang berbeda-beda.
pada dasarnya, nilai karya senirupa tidak akan pernah dicapai oleh nilai uang. contohnya, mengapa karya bunga matahari van Gogh yang dibeli sebuah bank jepang seharga US$20juta bisa lepas? nanti juga kalau ada yang mau membeli US$30juta akan lepas juga dan seterusnya dan seterusnya…..karena nilai karya itu tidak akan pernah dicapai oleh nilai dari uang itu. naah kita orang indonesia, seperangkat komputer baru dan canggih yang harganya mahal bisa dibeli, rumah baru dikawasan elit bisa dibeli, mobil terbaru bisa dibeli, perangkat rumah tangga yang terbaru bisa dibeli, hp keluaran baru bisa dibeli, pada saat senang dengan satu lukisan…maunya kalau bisa murah sekali atau bila perlu GRATIS! memang begitulah keadaan dunia senirupa kita. Juga terhadap buku!
memang ada yang bisa hidup dengan seninya, terkenal dan berkecukupan bahkan berkelebihan tetapi bila dibandingkan dengan jumlah total perupa di negara ini dari sabang sampai marauke, adalah 0,000000001%. Dilema memang tetapi itu adalah pilihan hidup. Makanya untuk bisa bertahan banyak perupa-perupa yang banting setir menjadi pekerja dan mendiamkan berkeseniannya, yang akhirnya lama kelamaan sekarat dan mati! perupa-perupa kita yang masih bertahan saya acung jempol, karena dengan tidak didukung oleh lembaga, masyarakat bahkan keluarga…masih bisa berkarya sampai MAMPUS! ini bahasa obrolan perupa-perupa kalau bertemu
Horas jala gabe! Grace Siregar
27 Agustus 2007 at 2:00 pm
Kuliah singkat yang sangat menarik…. Ito Grace, bisa jelaskan arti ” Karya-karya yang jujur” ? Apakah ada karya yang tidak jujur? Mauliate Godang, kuliah selanjutnya sangat dinantikan.
27 Agustus 2007 at 8:55 pm
horas ito marudut,
karya-karya yang jujur adalah karya-karya yang keluar dari lubuk hati dan pemikiran para perupanya. karya-karya yang lahir diatas “ujung tanduk”, yang berani membongkar tembok-tembok yang didalam hati para perupa. karya yang lahir bukan berdasarkan permintaan pasar, kurator, kritikus seni, dosen, teman, kolektor, media, atau apa saja. karya2 yang lahir dari “proses” pengembaraan hidup dan pemikiran setiap perupa. grace siregar