[grace siregar; batak news; seniman yang "dipaksa" jadi sarjana hukum]
Satu tahun terakhir ini warga masyarakat bisa rutin saban bulan menikmati pameran seni rupa di Kota Medan. Di sebuah galeri bernama Tondi. Grace Siregar — perempuan Batak yang menimba ilmu seni rupa di Belanda, istri seorang sutradara Inggris — adalah perintisnya.
Awalnya aku berniat berkunjung ke Medan, ke galeri Tondi, untuk meliput langsung dan mewawancarai Grace, tapi tak jadi-jadi karena kesibukanku sebagai “pengangguran plus-plus” alias “pembantu” istriku. Akhirnya kukirim surat kepada Grace [39 tahun], dengan beberapa pertanyaan. Ia membalasnya setelah kebahagiaannya bertemu dengan ibunya — “Mamak dan itoku yang bungsu sudah balik ke Sungailiat, Bangka Belitung. Luar biasa senangnya kami menikmati kehadiran mereka berdua,” tulisnya.
Berikut adalah jawabannya atas pertanyaanku. Ia memulai suratnya dengan menyapaku, “Ito Jarar yang asyik.” Cerita ini sengaja kubiarkan dengan gaya bertutur orang pertama agar “aroma” surat lebih terasa bagi pembaca. Selamat berkenalan dengan Grace, seniman yang asyik.
NAMA BAPTISKU ADALAH Elfrieda Solacratia Hanna Siregar. Aku lahir di Tarutung, 16 April 1968. Bapakku bernama Parbaungan Siregar berasal dari Pintu Bosi, Sipoholon, Tarutung. Mamakku Solavide Sihombing adalah seorang anak praeses gereja HKBP dari Medan. Pada tahun 1969 kami pindah ke Sungailiat dari Pintu Bosi, karena pada saat bapakku merantau ke pulau Bangka, bapak diterima bekerja di PT Timah Tbk dengan posisi sebagai seorang eksplorasi geologi.
Bapakku melihat bahwa aku menyukai coret-coret buku gambar. Maka pada saat seorang pelukis bernama Pak Ahmad lewat di kompleks perumahan kami, bapakku memintanya untuk mengajari aku melukis. Itulah awalnya bahwa aku tidak pernah terlepas dari berkarya. Ketika seusai SMA, aku mendapat PMDK, yaitu terpilih masuk ke perguruan tinggi negeri tanpa tes, yaitu ke Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya, Palembang, tahun 1988.
Ada gejolak menolak karena hasratku mau masuk ke IKJ (Institut Kesenian Jakarta). Tapi bapakku membuat kompromi bahwa aku harus menyelesaikan Fakultas Hukumku, dan setelah itu bapakku menyetujui aku terjun ke dunia seni rupa. Dalam 4,5 tahun aku selesaikan studiku. Setelah aku bekerja selama dua tahun dan menabung, tahun 1994 aku memutuskan untuk berangkat ke Belanda dan belajar seni rupa langsung dari seniman Belanda, Jan van Stolk.
Bergabung dengan perupa-perupa Belanda, berpameran bersama dan berpameran tunggal di Amsterdam serta mengunjungi setiap museum dan galeri seni rupa yang memamerkan karya-karya maestro dunia; seperti van Gogh, Rembrandt, Matisse, Mondrian, Picasso, Roscoe, Warholl, Pollock, Jean M Basquiat, Turner, Renoir, dan perupa-perupa besar lainnya yang masih hidup dan sebaya denganku. Lalu aku memutuskan untuk pulang ke Indonesia pada Oktober 1998.
Di Amsterdam-lah aku bertemu dengan suamiku yaitu sutradara film Inggris, Alexander Tristan Davey, yang pada saat itu sedang membuat film dokumenter berjudul Trois Cafes (Tiga Kafe). Kami menikah pada tanggal 18 Agustus 1998 di Amsterdam. “Menikah lagi” pada tanggal 6 Februari 1999 di HKBP Sungailiat, Bangka, sekalian dengan pesta adatnya. Suamiku diberi marga Sibarani dan kami mempunyai satu boru hasian (putri kesayangan); Rachel Sibarani. Sekarang suamiku bekerja di NGO International World Vision ITR di Banda Aceh.
Kami sampai di Medan pertama kali pada tanggal 4 April 2006. Sebagai perupa yang aktif berpameran selama tinggal di Jakarta, aku melihat Sumatra Utara sebagai propinsi terbesar ketiga di Indonesia, tapi dunia seni rupanya sangat tidur dan sepi sekali. Padahal Jawa dan Bali, dunia seni rupanya bergerak terus non-stop dan bereksperimen terus oleh perupa-perupanya.
Media-media nasional yang kebetulan ada di Jawa mengekspos pameran-pameran ini, sehingga dunia seni rupanya hidup. Lah, kita? Alamak, mati kali!
Makanya walaupun aku tidak kenal siapa pun saat itu, aku bertekad mendirikan galeri seni rupa yang serius di Jl. Keladi Buntu No. 6, Medan. Sengaja aku pilih nama TONDI, karena selain aku orang Batak Toba, juga nama itu dalam bahasa Indonesia berarti jiwa atau roh. Supaya jiwa dan roh seni rupa Sumatra Utara bergerak terus dan inovatif terus.
Sejak itulah tersusun pameran setiap bulannya non-stop, terutama karya perupa Sumut, diselingi dengan pameran seniman dari luar Sumut. Peranan media juga aku utamakan karena melalui medialah masyarakat tahu bahwa mereka memiliki galeri seni rupa yang setaraf dengan galeri-galeri seni lainnya seperti di Jawa dan Bali.
Sebagai perupa, kita harus membawa anak-anak kita ke pameran-pameran seni rupa supaya rasa kemanusiaan yang sehat dan sensitivitas terhadap sesama manusia terus terasah. Aku setuju perkataan Picasso, “Karya seni rupa adalah sesuatu yang bisa membersihkan debu-debu di dalam kehidupan kita setiap harinya.” [www.blogberita.com]
CATATAN BLOG BERITA DOTCOM:
Silakan bila ingin mengutip artikel dari blog ini, dengan syarat menyebut sumber dan nama penulisnya. Bila dikutip untuk website, blog, atau milis, maka tuliskanlah sumbernya www.blogberita.com dan buatkan link ke artikel bersangkutan. Bila dikutip untuk koran, majalah, bulletin, radio, televisi, dll, maka tulislah/sebutkanlah sumber kutipannya; www.blogberita.com.
-
1
Ping balik on Feb 29th, 2008 at 4:12 pm
[...] amat sedih—seraya membayangkan bola matanya yang menguning itu. SMS tersebut lalu kuteruskan pada Grace Siregar di Tobelo-Halmahera Utara, Agus Budyanto (pelukis cat air yang sedang naik daun), Tumpley Siahaan [...]


28 Agustus 2007 at 11:42 am
ito jarar yang asyik, to, aku kirim kembali undangan pembukaan di tondi untuk pembaca setia batak news ya. mauliate ito.
Teman-teman sekalian, saya mengundang teman-teman semua untuk bisa hadir di pembukaan pameran tunggal fotografi HENDRA G AMAN dengan tema SISINGAMANGARAJA XII pada:
Tgl/hari : 1 september 2007/sabtu
Jam : 12 siang
Tempat : Galeri TONDI Jl.Keladi Buntu No.6 Medan (belakang univ.darma agung)
Dibuka oleh group anak-anak jalanan medan dengan lagu ciptaan sendiri dan alat-alat musik buatan sendiri. Mereka memanggil diri mereka THE BAMBOES.
Horas jala gabe, Grace Siregar TONDI
JARAR SIAHAAN: tidak apa-apa, ito, lebih bagus. jadi untuk selanjutnya, selain kupasang sub-judul pengumuman pameran di artikel/halaman utama, ito tulis juga di kolom komentar ini.
28 Agustus 2007 at 12:47 pm
Hai… ikutan ye… salam kenal…

Sy mo ksh info ke Inang Grace Siregar ttg anak inang yg mo ksh kursus tari khususnya Tari Tor-Tor. Kebetulan sy ikutan kursus Tari Tor-Tor di Taman Mini Indonesia Indah. Inang tinggal di daerah mana ya…?? Kl mo tau lbh lanjut, bs langsung ke Taman Mini Indonesia Indonesia di anjungan Sumatera Utara, ketemu dng Mbak Dwi atau bs hub sy di telepon rumah (021) 754***. Thx. HORAS
JARAR SIAHAAN: selamat datang di komunitas batak news — tempat nongkrong pembaca-pembaca gila.
sherly, aku terpaksa mengaburkan nomor telepon yang kauberikan. ini demi kebaikanmu juga, agar jangan ada yang iseng menelepon. nanti kalau ito grace ingin mengontakmu, aku berikan alamat imelmu saja, ya [benar kan imel yang kautulis ketika mengisi kolom komentar ini tadi?]. dan dari imel itulah nanti kau beritahu nomor teleponmu. cara seperti ini relatif lebih aman.
28 Agustus 2007 at 7:06 pm
horas ito jarar na burju, mauliate to sudah diperlengkap undangannya. horas juga untuk inang sherly, makasih info tortornya. nanti akan aku sampaikan kepada adikku untuk mendaftarkan keponakan2ku untuk ikut latihan tari tor-tor. sayangnya, aku tinggal di medan. ada info guru tor-tor yang ada di medan? sampai jumpa di medan ya. Grace Siregar
29 Agustus 2007 at 12:40 pm
Thx, ito Jarar
Maklum baru siiihhh…. yoi itu email sy. Sorry sebelumnya utk inang Grace, saya naposo bulung, blm waktunya inang2 hehehe….. :p Kl di Medan, utk pelatih tari tor2 sy kurang tau, inang. Krn sy tinggal di Jakarta.
8 September 2007 at 10:54 pm
Horas ito boru Regar,Lae Siahaan dht Situmorang, saya merasa terharu atas ketampilan kalian. Sayang sekali manusia-2 seperti kalian ini jarang lahir di muka bumi ini. Pernah saya membaca: Kalau Budaya sesuatu Etnis itu menghilang secara langsung juga bangsanya akan ketinggalan. Seperti Babilon, Mesir,Junani d.l.l. Berarti kita Batak akan berkembang. Memang saya tgl di Luat ni Sileban. Kadang-2 ada juga Ito kita itu :Ulos nya itu selalu dibawa/dihadang ke mana-mana.karena bangga sebagai Boru ni Rajai. sayang-nya: “Tombus namangaranto i”, alai ndang adong Hepeng naeng mulak.
JARAR SIAHAAN: terima kasih, lae. maaf, link yang lae berikan terpaksa kuhapus. karena dia adalah orang yang pernah membajak nama domainku. segala link yang mengarah pada puluhan blog dan situsnya tidak kuterima di batak news. bagiku, dia itu adalah orang yang tak punya nurani dan solidaritas terhadap sesama batak. artikelku tentang masalah ini silakan baca di sini.
9 September 2007 at 4:55 pm
horas ito sibondut labang,
saya kurang mengerti di alinea kalimat “memang saya tgl di luat…. s/d alai ndang adong hepeng naeng mulak.” maksudnya to???
11 September 2007 at 5:12 am
Horas pariban br.Regar/br.Enggan, tabo nai molo boi margait-gait ate? Enaksekali kalau bisa bercanda ya?Artinya itu diluat ni Sileban :Tinggal di Negeri Orang. Orang kita paling bisa bercanda. Merantau sudah berhasil, kenyataan tdk ada ongkos utk pulang itulah ironisnya. Kalau di Angkola panggilannya br.Regar itu adalah br.Enggan.
Godang tabesian luat ni Sileban,
19 September 2007 at 3:58 am
Sekitar 5 tahun lalu, aku punya ’soulmate’ di internet bernama Cayung Siagian, seniman ini berasal dari Balige, menikah dengan bule Amrik dan menetap disana, keistimewaan-nya adalah melukis dgn jari-jari dgn thema-thema lukisan yg soulful (dari hati), namanya sudah terkenal di Bali dan Brooklyn (terakhir kali kontak, Cayung memang tinggal di kota gangster ini), sayang sekali aku kehilangan kontak sekitar 2 tahun lalu, padahal dulu dia sempat menjadi ‘guru spiritual’ dgn mengajarkan konsep² Parmalim padaku, yg masih kuamalkan sampai skrg. Kalau lae Jarar bisa mengangkat berita ter-update ttg dia, aku akan berterima kasih sekali lae…
BATAK NEWS: dulu ada kawanku wartawan yang pernah sebut-sebut nama cayung. tapi aku pribadi tidak punya informasi sedikit pun tentangnya. kalau lae atau pembaca lain ingin menuliskan artikel tentang seniman batak ini, pintu blogku akan terbuka lebar.
19 September 2007 at 10:43 am
Apakah kakak Grace bro Regar punya website galeri tondi? Sorry agak-agak OOT yah, masalahnya udah ku-search beberapa kali tak ada…kan kasihan awak yg di Surabaya ini masa harus datang ke Medan…
22 September 2007 at 1:40 pm
horas ompu matasopiak,
iya nih, saya lagi kerjasama dengan anak desain grafis untuk membuat webditenya tondi. nanti kalau sudah selesai akan saya kasih tahu ito jarar untuk bisa dibuat link-nya. songoni ma ate ito
wah kalau merantau, jangan lupa pulang lihat huta ta.
horas jala gabe,
grace siregar
24 September 2007 at 9:42 am
Bangga juga awak dengan pencapaiannya pariban yang satu ini (ahu tubu ni boru Regar do). Nanti kapan-kapan kalau ke Medan, coba aku mampirkan dulu di Galeri Tondi.
Maju terus …
24 September 2007 at 5:24 pm
Eda Grace,
Maju terus buat Tondi nya.
kalo nanti ada kesempatan pulang, aku mau mampir ke galerynya.
25 September 2007 at 7:31 am
hallo eda mery dan ito sibarani,
ya, aku tunggu kedatangannya ya? untuk ito sibarani, suamiku diberi marga sibarani dipesta adat pernikahan kami setelah pemberkatan nikah. jadi kita saling manggil apa ya to? horas, grace siregar
2 Oktober 2007 at 9:49 am
Inang na manubuhon ahu boru Regar do, jadi sude boru Regar gabe paribanhu ma. Molo tu pariban, ba marangkang ma iba. Suami diberi marga Sibarani jadi anaknya siapa? Kita ada saudara juga Sibarani di Nederland, sudah beranak-pinak di sana. Horas!
7 Oktober 2007 at 2:14 pm
@ Ito Grace Siregar
Mauliate Ito,
Selamat atas pembukaan Galeri Tondi.
Tahun depan saya marjalang (jalan) lagi ke Tano Batak, buat karya photo yang indah, aku akan mampir.
15 Oktober 2007 at 8:27 pm
Horas!
Tadi aku baru pulang dari Tondi karena banyak sekali pengunjung yang datang melihat pameran disain grafis “eksistensi” yang buka dari pukul 8 pagi dan aku tutup pukul 6.30 sore. kebanyakan dari mereka adalah anak-anak muda berumur 16 thn-27th. sepertinya mereka tergila-gila dengan karya-karya disain grafis dan stensil yang jarang dipamerkan, pun di jakarta atau kantong-kantong seni rupa yang lainnya.
aku perhatikan bahwa mereka berada diruangan tondi sampai 2 jam. berkeliling-keliling, pindah dari satu ruangan keruangan yang lainnya. tergerak melihat antusias mereka, aku ajak mereka ngobrol diluar dibawah pohon mangga sambil minum kopi arabika kiriman tulangku dari lintong ni huta. banyak sekali mereka bertanya dan bertukar pikiran.
Tajam ulasan mereka. salah satu pengunjung yang dipanggil ucok mengatakan bahwa pameran disain grafis dan khususnya stensil baru pertama ini dipamerkan secara serius di medan ini. kebanyakan coret-moret perupa dijalan tidak pernah dianggap serius. ucok bilang, hatinya sangat legah ada pameran senirupa baru yang diangkat didalam suatu galeri seni seperti tondi. aku hanya tersenyum-senyum saja mendengar ungkapan hati mereka.
ada satu pertanyaan yang tiba-tiba ditujuhkan padaku ditengah-tengah ulasan karya-karya disain grafis dan stensil. pertanyaannya sederhana “kak grace, karya-karya yang bagaimana yang kak grace buat pada umumnya?” lama tidak aku jawab, tiba-tiba semua mata 5 orang anak muda ini melihat kearahku, mencari jawaban yang tidak ada unsur “bualanmya.”
Hmmmmm, 1 menit berlalu dengan keterdiaman. jawaban apa yang mesti aku kasih. otakku mulai mengingat karya-karya yang aku buat sejak tahun 90-an, satu persatu lewat dikepalaku, terus terang aku juga sudah tidak begitu ingat lagi siapa-siapa yang pernah mengoleksi karya-karyaku dan aku juga tidak tahu dimana mereka satu persatu saat ini…..
Jawabku: “aku berkarya mengangkat rasa duka/kepatahan/kepedihan dari kemanusiaan kita. pada saat pengunjung melihat karya-karyaku dan pengunjung itu menangis dan air matanya meleleh dalam keterdiamannya, saat itulah karya-karyaku dapat berkomunikasi dan nyambung dengan kepatahan dan kepedihan itu, karya itu menjadi jembatan kepedihan kita.”
ada satu karyaku yang berukuran 3 m yang dikoleksi oleh suhunan situmorang, karya tentang rasa keadilan yang dicari oleh manusia yang keadilannya sedang diperjuangkan. karya itu tidak manis sama sekali. dilatar belakangi warna gelap dengan figur 2 orang manusia yang dalam kepatahan mereka…mencari keadilan diremang-remang ketidakpastian, sebuah tangga dimana diujung tangganya ada mahkota keadilan, suatu pertanyaan akankah mahkota itu sudah cukup untuk menggambarkan tentang kemenangan keadilan seseorang yang sedang terganggu? siapapun yang melihat karya itu akan merasa terganggu….terganggu oleh rasa ketidak pastian……”
aku tidak tahu apakah anak muda itu mengerti jawabanku, karena banyak sekali karya-karya yang indah tidak mengusik mata keindahan, yang dicoba oleh senimannya secara paksa agar keindahan itu muncul, walaupun karya-karya indah itu sudah acap kali dilihat dan diulang-ulang berjuta-juta kali.
Grace Siregar
15 Oktober 2007 at 10:23 pm
aku ucapkan selamat buat paribanku, Grace Siregar.
Totalitas! itulah yang aku simpulkan dari apa yang pariban lakukan. Bisa kubayangkan betapa lelahnya melakukan semua itu, ya berkarya, ya juga sebagai kurator, mungkin ikut pula memikirkan aspek PR, lalu masih juga menyempatkan nulis laporan ringkas buat dimuat di blog ini. Salut!