[ferry donald; batak news; tentara pukul pns]
Gara-gara kalah dalam lomba tarik-tambang menyambut HUT RI, sejumlah oknum TNI AD di Balige mengeroyok beberapa guru dan PNS hingga babak-belur. Bah, Komandan, cemmana ini, kok tentara mukul rakyat!
Peristiwa ini disaksikan ratusan warga masyarakat dan pejabat-pejabat Pemkab Tobasa. Salah satu warga, Ferry Donald [nama samaran], menuliskan beritanya dan disampaikan ke blog Batak News kemarin.
PEMUKULAN OLEH OKNUM TNI ini terjadi Selasa (14/8) pagi di lapangan Raja Sisingamangaraja XII Balige, dalam pertandingan tarik-tambang antara kubu TNI dengan kubu Dinas Pendidikan Nasional (Diknas) Kabupaten Tobasa.
Menurut salah seorang juri dan rekan penulis, saat game pertama, tim AD menang. Tim ini bersama puluhan rekannya para supporter bersorak kegirangan dengan teriakan khas TNI, “Hu…! Hu…!” Setelah jeda beberapa menit, game kedua pun dilanjutkan. Tim lawan Diknas mengambil kuda-kuda. Saat game kedua ini digelar, kedua tim terlihat alot. Sehingga tambang yang saling ditarik, mulai bergerak-gerak ke kiri dan kanan. Sementara kerumunan penonton dan supporter di sekitarnya juga mulai riuh. Pada akhirnya tim Diknas dinyatakan menang. Tinggal menunggu babak terakhir.
Tetapi pemain dari tim TNI AD tidak terima. Mereka menuduh tim lawannya, yang terdiri dari guru dan pegawai Diknas itu, curang. Mereka menuduh tim Diknas dibantu seseorang di ujung tambang. Tuduhan ini langsung disambuti sejumlah pemain tim TNI AD dengan melayangkan bogem mentah ke beberapa orang pemain Diknas. Karenanya, suasana jadi gaduh. Penonton, terutama kaum perempuan, menjerit-jerit. Para juri dan panitia berusaha mencegah pengeroyokan ini.
Sedangkan komandan tim TNI AD segera membariskan semua pemain dan anggotanya. Sampai keadaan ini, aku yang baru saja tiba dan berdiri di tepi lapangan mengira tim di lapangan akan bertanding biasa-biasa saja. Mendadak dangdut, eh bukan, mendadak saya lihat lebih dari lima orang pemain TNI AD berlari bagai tawon yang hendak menyengat musuhnya, sembari mengacungkan tinjunya. Sontak semua pemain dan penonton yang masih di lapangan berhamburan berlarian tidak tentu arah.
Naas, seorang pemain Diknas, bernama Elson Situmorang, guru SD yang berupaya melebarkan kedua tangannya, dengan maksud melerai, malah dibogem oknum TNI AD yang kalap tersebut. Ia pun tampak menghindar berlari dengan ziq-zaq. Namun terpeleset hingga menjadi bulan-bulanan. Dia disepak dengan sepatu dan dipukul berkali-kali. Ia pun hanya menutupi mukanya dengan kedua tangannya. Sementara temannya yang lain, Hendry Simarmata, seorang guru SMA, dikejar hingga ke ruang kantor Dinas Kehutanan Tobasa yang berlokasi di seberang lapangan. Hendry juga sempat kena bogem.
Aku yang kaget dengan kejadian ini berlari kecil mendekati TKP (tempat kejadian perkelahian). Tampak Sang Komandan TNI AD marah-marah, memanggil semua anggota dan memerintahkan semuanya masuk ke atas truk yang parkir di seberang lapangan. “Tim TNI kalah!” ucapnya keras.
Setelah itu keadaan mulai aman. Panitia pun sudah bisa mengendalikan diri setelah shock atas pemukulan tersebut. Pejabat Pemkab tampak hadir di lapangan. Kepala Dinas Sosial Pemuda dan Olah Raga, Drs Dugat Panjaitan, dan Asisten Administrasi Umum, Sedih Simanjuntak, SH tampak berdialog dengan panitia.
Si koban pemukulan, Elson Situmorang dan Hendry Simarmata, ditemui. Tampak memar dan benjol di atas telinga kirinya. Rekan-rekannya guru berkata supaya divisum saja ke rumah sakit. Atas kesepakatan, pihak Pemkab berdialog dengan komandan tim TNI di ruang Kadis Kehutanan.
Hampir satu jam, disepakatilah bahwa kejadian tersebut diakhiri dengan perdamaian. Si korban dibawa berobat ke RS HKBP Balige dan selanjutnya pihak TNI AD meminta maaf pada korban. Informasi lainnya menyebutkan, sebenarnya ada tiga orang lagi yang terkena pukulan, namun tidak begitu parah. [www.blogberita.com]
CATATAN BLOG BERITA DOT COM:
Aku jadi teringat slogan indah yang diajarkan sejak SD: “TNI adalah tentara rakyat — dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat.”
Silakan bila ingin mengutip artikel dari blog ini, dengan syarat menyebut sumber dan nama penulisnya. Bila dikutip untuk website, blog, atau milis, maka tuliskanlah sumbernya www.blogberita.com dan buatkan link ke artikel bersangkutan. Bila dikutip untuk koran, majalah, bulletin, radio, televisi, dll, maka tulislah/sebutkanlah sumber kutipannya; www.blogberita.com.















18 Agustus 2007 at 9:07 am
di papua malah TENTARA VS POLISI maklum lah pegang senjata rugi kan kalau ga di gunakan
weleh kayak film RAMBO aja
salam kenal bang http://papuaxxx.wordpress.com
BLOG BERITA: salam kenal, kawan.
18 Agustus 2007 at 9:12 am
Apakah pantas “bodyguard rakyat” memukul “rakyat” itu sendiri???
18 Agustus 2007 at 12:03 pm
hajar ajaaaa.. rakyat kan lemah.. tindas ajaa.. mereka memang ga tau terima kasih karena sudah dilindungi dari bahaya laten.. meski rakyat bayar pajak untuk ngegaji tentara, tapi bukan berarti rakyat boleh menang kalo adu
jotostarik tambang dengan tentara. Kenapa ga ditembaki aja semuanya sekalian ? sebenernya bahaya latennya dari sapa ?18 Agustus 2007 at 2:19 pm
Bah! Kelupaannya aku kalo yang dipukul tentara-tentara baj!n94n itu guru. Tak punya otak kalian, lae??!! Berkaca dulu kalian sana, kalo kalian bisa jadi tentara itu karena guru, nj!*g!! Laen kali, tak usah diterimalah
a***g2orang-orang yang masih muda begitu jadi tentara. Tak dipakenya otaknya, tapi ototnya duluan yang diayun. *komentar anak guru*18 Agustus 2007 at 2:23 pm
Doh, TNI memang aneh. Tak rakyat atau budak, semua dimakan saja dengan tangan.
Kabarnya manusia itu adalah mahluk terhormat lho.
18 Agustus 2007 at 3:29 pm
kejadian tersebut sangat memprihatinkan. itu mencerminkan bahwa mereka tidak berjiwa besar. terbukti dari mereka yang tidak bisa menerima kekalahan. dalam sebuah perlombaan pasti ada yang menang dan ada yang kalah. pemenang dalam sebuah lomba tidak memandang status. disinilah letak keadilan dari sebuah perlombaan. seharusnya kejadian ini disidangkan. bila perlu sampai ke mahkamah militer. kalau seandainya perlombaan tersebut dilangsungkan di baruara, tambunan balige dan kejadian yang serupa terjadi mungkin akan lebih seru mengingat orang-orang di baruara termasuk kategori orang yang brutal dan tidak takut sama siapapun. betul tidak bang jarar ?
kalau tidak salah dulu ada konflik antara warga tambunan dengan yonif onan sampang dan kabarnya ada anggota yonif tersebut yang dicangkul/dipacul hidup-hidup. selaku keturunan marga tambunan yang berasal dari baruara, aku tidak bangga melihat premanisme yang terjadi disini. aku lebih menyoroti masalah bagaimana kebersamaan warga tambunan dalam membela kehormatan warganya. itu yang kukagumi disini. kabarnya anggota yonif tersebut usil dengan gadis-gadis di tambunan. mungkin harus diadakan pembinaan mental lagi untuk para anggota tni agar lebih disiplin dan tidak memiliki mental “tempe”.
BLOG BERITA: betul itu, kawan, dulu memang pernah kawan-kawan dari desa tambunan menyerang markas tentara di onan sampang.
18 Agustus 2007 at 6:40 pm
Satu yang ga suka dari aparat baek polisi dan TNI selalu menganggap paling hebat dalam segala hal . BErapa sih gaji nya ?? apa lagi kalau cuman kroco2 ?? Maklum lah dari tamatan SMP dah bisa masuk tentara
) sekarang kurasa dah beda . kata nya masuk polis aja harus minimal D1. mudah2an
20 Agustus 2007 at 7:40 am
Di salah satu kecamatan Aceh kemarin ada juga tarik tambang. Antara anggota KODIM dan ex tentara GAM (sekarang PSA). Ex GAM menang, kedua pihak heppi dan saling peluk…
20 Agustus 2007 at 9:04 am
Bah seharusnya ini sudah pelanggaran berat buat oknum TNI tersebut, jadi tidak boleh hanya damai-damai saja. Masak tugasnya melindungi malah jadi musuh. Ini namanya Pagar makan tanaman. Tak malu dan tidak tahu diri. buat Komandannya juga walau sudah berdamai dengan Korban harus ambil tindakan tegas buat anggotanya. Jangan tambah daftar hitam TNI yg akan membuat rakyat semakin tidak simpati. Seharusnya TNI manunggal dengan rakyat ini malah TNI Mandugu (menanduk) Rakyat.
Kacooooo Korbannya guru lagii. Memang benar-benar tidak berotak Oknum TNI tersebut. Nampak kali dulu tidur aja kerjanya dikelas makanya berani mukul Guru atau jangan-jangan tak tahu pula dia bahwa yang mengajar dikelas itu namanya Guru.. …. hahhhh inilah kemerdekaan itu. MERDEKK AAkkkkk (belum sempat selesai ngomong merdeka dah kena pukul…)
20 Agustus 2007 at 10:10 am
Yah, masak TNI lagi… TNI lagi. Cape deh… Ga ada cerita lain apa? TNI dikeroyok abang-abang penjual nasi goreng misalnya? Bercanda… Apakah para TNI diberi pelajaran olahraga? Supaya bisa sportif menerima kekalahan. Atau karena hanya otot mereka saja yang dilatih? Sehingga otaknya blengki-tongki?
20 Agustus 2007 at 10:12 am
Masya Allah… Ngeri kali aku baca berita di atas. Tapi, jujur saja. Aku itu paling susah menaruh simpati kepada aparat negeri kita ini. Bukan pada instansinya, ya… Karena yang salah itu kan oknum yang tidak menghormati korps-nya sebagai garda bangsa. Banyak kejadian yang langsung aku lihat atas tindakan tentara dan polisi yang tidak terpuji, sehingga membuat aku makin kurang menaruh hormat pada mereka. Aku selalu menyebut mereka itu “preman” yang dilegalkan… Se-enak jidat aja mereka bertindak brutal pada rakyat yang tidak punya senjata…
Coba berantem satu lawan satu tanpa senjata dan dibekingi korps-nya? Lihat aja… Kita sering baca di koran atau melihat berita di tivi, bila seorang oknum tentara atau polisi kena bokem ama orang lain, naga-naganya si oknum terbirit-birit pulang ke “kandang”, lalu serta merta mengadu kayak anak kecil sama rekan-rekannya. Lantas dengan arongannya, rame-rame mereka menghancurkan apa saja yang terlihat di TKP awal… Masyaallah, ahlak dan moral tentara negeri ku ini??? Kapan seh kalian tuh jadi aparat yang paling dicintai rakyakmu? Jangan deh selalu berdalih karena gaji kecil sehingga prilakunya kayak manusia bar-bar… Emangnya cuma ente-ente yang gajinya kecil… Noohhh, tukang pulung barang bekas ndak seberapa hasilnya tapi, mereka bisa hidup rukun dan sentosa… Please deh ahk…!
20 Agustus 2007 at 4:25 pm
mari merenung, itukah pengayom masyarakat, pelindung masyarakat atau mereka adalah penjajah masyarakat diatas embel-embel TNI…tanya kenapa
20 Agustus 2007 at 5:34 pm
Bah jadi teringat aku dulu kalau Persbha (Persatuan Sepak Bola Bhayangkara) main bola di balige. Kalau kalah ujung-ujungnya onar dan ada letusan senjata. Belum berubah rupanya ya. Kayaknya masih perlu pembinaan. Kalau udah ga bisa dibina, dibina**** saja!
Mereka2 ini yang bikin di Balige ga bisa ada tempat hiburan yang asyik, seperti tempat billiard.. soalnya kalau kalah biasanya destruktif.. itu masih belum minum ‘tuak’ gimana kalau minum? Udah ga bayar ngerusak pula. Ck.ck..ck.. WAKE UP, MAN !!!!!!!!
20 Agustus 2007 at 9:04 pm
buj*** maho diho tentara narojanon allang ma t** ba** rakyat biasa u pukul coba gam sana pukul biar lw d tembak matii
21 Agustus 2007 at 1:21 am
Eh tahe, seperti ini mungkin tentera balok satu-balok dua, baru lulus terus turun ke masyarakat, gatal tangannya. Yang bikin gereget yang kena hantam itu ‘guru’ pula. Kalau tentara pergi perang dapat tanda jasa, kalau guru-pahlawan tanpa tanda jasa. Macam mana pula tentera ini. Push up 1000 x !!! Siap komandan, laksanakan!!.
21 Agustus 2007 at 7:21 pm
Belum lama kampungku yaitu Dolok Sanggul ,yang tadinya kecamatan ,diresmikan jadi ibukota kabupaten Humbang Hasundutan. Sebagai kabupaten tentu segala sesuatu menjadi berkembang. Perkembangan ini tentu banyak membawa hal-hal positif bagi masyarakatnya. Namun buat aku pribadi perkembangan ini sedikit menggangu karena personnel polisi pasti bertambah banyak karena polsek berubah menjadi polres. Demikian juga tentara pasti bertambah banyak karena berubah dari koramil menjadi kodim (kalau gak salah, maklum aku kurang paham dengan struktur organisasinya).
Ironis sekali kawan…… Seharusnya aku justru merasa semakin nyaman karena semakin banyaknya aparat keamanan (?????). Aku yakin dengan semakin banyaknya jumlah mereka kampungku itu akan menjadi sarang kriminal. Mereka pasti akan menjadi backing perjudian, pelacuran, preman dll dan yang paling sial adalah mereka bukan orang yang punya nilai historis dengan daerah tersebut. Seluruh illegal operation tersebut akan segera mereka ciptakan untuk mendapatkan uang. Mereka akan mencari preman ( penduduk kampung ) sebagai operator di lapangan untuk mendapatkan sebagian dukungan dari penduduk setempat.
Aku bukan orang yang sok suci seperti orang-orang yang mendukung hukum anti ini..anti itu.. yang mengatasnamakan syariaat. Itulah kenapa aku sebut illegal operation. Artinya kalau memang harus diadakan sebaiknya dilakukan secara legal supaya bisa menghasilkan PAD untuk daerah dan bukan ke kantong para pedagang kekuasaan itu (aparat pemda, militer , polisi, hakim dan jaksa). Para pedagang kekuasaan itu selalu berpindah dan yang tetap tinggal adalah rakyat yang dengan setia selalu mencoba untuk tetap hidup sesuai dengan nilai-nilai yang telah dibangun oleh nenek moyang kami. Kepada semua saudara dari Humbang Hasundutan agar selalu kritis menanggapi perkembangan yang terjadi, jangan terlena oleh strategi biadab para pedagang kekuasaan itu. Salam Kritis….. Parpasaribu