Toba Samosir Tapanuli

Jarar Siahaan Penulis Berita Batak

Katanya, Pembangunan Samosir Maju dengan Pesat

14 Komentar

[batak news; sib; kata tokoh marga malau]

Setelah tiga tahun lebih dimekarkan dari Kabupaten Toba Samosir [Tobasa], katanya Kabupaten Samosir kini sudah maju dengan pesat. Toho do i? Betul nggak, nih?

Penilaian itu dilontarkan oleh dua orang perantau asal Samosir yang disebut sebagai “tokoh Malau se-Indonesia”, Drs ND Malau dan Simon Malau SH, seperti dikutip Batak News dari koran SIB. Berikut berita selengkapnya dikutip secara utuh.

PEMBANGUNAN DI KABUPATEN Samosir sejak dimekarkan kurang lebih 3,5 tahun lalu cukup membanggakan, khususnya pembangunan sarana dan prasarana seperti jalan, jembatan dan irigasi, sekolah, kesehatan dan pariwisata. Sehingga dalam beberapa tahun mendatang jika pembangunan ini konsisten dan berkesinambungan maka diharapkan akan menyamai kabupaten lainnya di Sumut.

Demikian diungkapkan tokoh Malau se-Indonesia Drs ND Malau dan Simon Malau,SH dari Jakarta serta sejumlah tokoh Malau lainnya kepada SIB di Medan baru-baru ini. Sesuai pengamatan kami, kata ND Malau yang juga konsultan itu, Kabupaten Samosir sudah jauh berbeda saat ini dibanding sebelum dimekarkan.

“Kita tidak bisa menutup mata menilai pembangunan Samosir tetapi harus objektif. Karena jika Samosir tidak maju maka kita sebagai putra Samosir juga akan merasa rugi. Oleh sebab itu sejak dimekarkan saya terus mengamati bahkan mengawasi jalannya pembangunan di daerah itu agar jangan sampai ada yang menyimpang,” ujarnya.

Menurut penilaian kedua tokoh Malau itu, pembangunan yang cukup pesat di Samosir adalah pembangunan jalan, jembatan,dan irigasi. Selama ini banyak desa terisolir tetapi saat ini sudah mulai terbuka dengan adanya pembukaan dan pembangunan jalan baru. Jalan lingkar Samosir juga sudah jauh lebih baik, jalan penghubung Tele menuju Pangururan sebagai pintu masuk lalu lintas darat tahun ini akan dibenahi dengan aspal hotmix. Sehingga para wisatawan akan dapat menikmati keindahan alam Danau Toba dari puncak menara tele tanpa terganggu akibat kerusakan jalan.

Selain itu kota-kota di Samositr juga sudah terang pada malam hari dengan dibenahinya lampu-lampu jalan. Pembangunan lainnya adalah jembatan permanen dengan konstruksi beton bertulang pengganti jembatan kayu. Untuk tahun ini telah direncanakan membangun jembatan yang menghubungkan Tomok-Pangururan untuk memperlancar arus lalu lintas. Juga pembangunan irigasi terus dilaksanakan dengan harapan Samosir akan menjadi lumbung padi di Sumut. Samosir juga tetap memprioritaskan pembangunan sarana pendidikan sebagai upaya meningkatkan mutu SDM. Semua sekolah mulai SD, SMP dan SMU/SMK telah dibangun merata baik melalui renovasi maupun penambahan ruang kelas baru.

Sarana kesehatan seperti puskesmas dan puskesmas pembantu juga sudah dibangun merata di setiap kecamatan dan desa. Sehingga masyarakat sudah menikmati dan berobat di sana. Sebagai daerah wisata yang memiliki potensi Danau Toba maka Samosir juga telah membenahi tempat-tempat tujuan wisata seperti di Sianjur Mula-mula, Simanindo, pembenahan Tano Ponggol berupa pengerukan untuk memperlancar arus hilir mudiknya kapal keliling Samosir. Bahkan promosi Samosir sebagai tujuan wisata juga terus sudah dilakukan melalui siaran melalui media massa baik cetak maupun televisi swasta nasional. Diakuinya, masih banyak yang harus dikerjakan dan dibenahi untuk membangun Samosir.

Namun kita harus memberikan waktu kepada Bupati Samosir Ir M Simbolon, Wakil Bupati Ober Sihol Sagala SE dan jajarannya untuk melanjutkan pembangunan itu. Beri mereka kesempatan dan pemikiran agar dapat bekerja dengan baik. Pemkab Samosir pun harus solid sehingga bisa bersinergi mensukseskan pembangunan Samosir.

Khusus kepada perantau asal Samosir, Malau menghimbau agar saling mendukung pemkab. Beri masukan dan dorongan bahkan pemikiran bagaimana mempercepat pembangunan Samosir yang sudah lama kita damba-dambakan. Mari kita utamakan dulu kepentingan masyarakat Samsoir dan sisihkan kepentingan pribadi demi Samosir, ujar Malau. [http://www.blogberita.com]

Artikel terbaru dalam diaryku, “Anakku minta kubelikan seekor buaya,” baca di sini.

About these ads

Penulis: Batak Toba

Demi Yesus, aku percaya Muhammad utusan Allah • Ikuti Twitter @ja_rar • Baca konten khas dan bernas di www.khas.co • Tahu nggak, menonton siaran Piala Dunia itu dosa loh menurut agama Islam. Baca di http://benar.org/do-sa

14 gagasan untuk “Katanya, Pembangunan Samosir Maju dengan Pesat

  1. Santabi Lae Jarar, Saking lamanya aku tidak pulang kampung, aku sudah tak tahu lagi ada berapa kabupaten sekarang dimekarkan di hita an (di kampung halaman kita)? Sudilah kiranya lae Jarar membuat listnya. Soalnya aku sering bingung, Toba Samosir dan Samosir apa bedanya? Toba Hasundutan itu yg mana lagi?

    BLOG BERITA DOT COM: :) setelah reformasi, kabupaten kita yang dulu, tapanuli utara — dengan ibukota tarutung — dimekarkan menjadi empat. taput tetap dengan ibukota tarutung; toba samosir dengan ibukota balige [wilayah balige-porsea-parsoburan sekitarnya]; samosir dengan ibukota pangururan [seluruh pulau samosir]; dan kabupaten humbang hasundutan dengan ibukota dolok sanggul ["sisa" wilayah dari taput].

  2. Memang sial posisi samosir itu.. kalo pun wisata nanti dikembangkan, yang menikmati ya parapat dkk. Sedangkan tanahnya tak sesubur tanah karo.

    Mungkin SDM nya yang paling “menjual” . Seandainya saja ada orang2 kaya asal samosir yang mau investasi dananya untuk mengembangkan industri pendidikan disana, menurutku ideal sekali, sehingga nantinya kepadatan pulau samosir itu bisa berkurang & ada aliran dana dari para perantau yg bisa dimanfaatkan untk keperluan lebih lanjut.

  3. Nama Tobasa itu seharusnya dirubah menjadi Toba saja karena Samosir sdh menjadi kabupaten tersendiri. Kalau masih Tobasa menggambarkan seolah2 Toba & Samosir itu masih satu kabupaten padahal itu sdh berbeda. Ini memang tugas daripada para anggota dewan yg katanya terhormat. Anggota dewan yg katanya terhormat itu harus memikirkan hal ini jgn bisanya cuma memekarkan daerah sementara hal2 lain tdk diperhatikan.

    Membaca artikel diatas saya pribadi ragu terhadap statement2 dari Mr. Malau bersaudara. Rasanya berlebihan kalau pembagunan di Samosir seperti yg mereka katakan. Saya beberapa kali bertemu dgn teman2 yg berasal dari Samosir atau membaca internet, banyak sekali keluhan mengenai pembagunan di Samosir yg tdk menggembirakan. Kalau saya bandingkan dgn statement Malau bersaudara rasanya cukup contradiktif. Kalau memang statement2 mereka itu benar saya rasa itu sesuatu yg luar biasa. Kabupaten yg masih seumur jagung bisa pembagunannya sepesat itu. Atau jgn2 mereka ini adalah tim sukses dari bupati yg mau punya tujuan2 tertentu, hal ini perlu dicermati.

    Saya pribadi melihat Samosir sgt bagus dikembangkan untuk daerah wisata karena memang alamnya luar biasa indahnya. Tapi untuk tujuan ini diperlukan suatu keseriusan yg luar biasa dan tdk gampang. Harus ada suatu tim yg jago dan bisa dipercaya untuk menarik investor untuk menginvestasikan uang mereka didaerah ini. Pemkab juga harus berani memberikan guarantee terhadap investasi mereka. Selain itu juga harus benar2 dipertimbangkan kepentingan2 masyarakat di sana yg menyangkut adat, kepentingan ekonomi dan sosial lainnya. Kita sama2 taulah bagimana karakter orang Batak yg tinggal di Bona Pasogit, umumnya mengaku pintar dan sok tau .

    Tapi setelah merantau baru bisa melihat bahwa dunia ini memang luas. Faktor penghambat lain untuk membangun Samosir adalah susahnya mendapatkan akses dari luar karena daerah tersebut terisolasi di tengah danau toba, selain itu juga anggaran APBD nya sangat terbatas, makanya saya katakan harus ada satu tim yg jago lobi dan bisa dipercaya untuk menarik investor. Janganlah mengharap APBD dari pemerintah untu membagun Samosir, itu namanya bulkshitttttt, karena untuk di korupsi aja APBD nya masih kurang. Jadi sgt rasional kalau saya katakan membangun samosir itu susah. Tp walaupun demikian kita hrs tetap optimis jgn pernah menyerah.

  4. Setuju dengan Pak Malau. Samosir sebagai pulau di dalam pulau tentunya punya potensi pariwisata yang sangat dasyat. Disamping potensi lain. Kalau bicara perkembangan dalam tiga tahun ini, tentunya akan lebih baik apabila didukung parameter2 terukur yang menunjukkan peningkatan. Seperti pembangunan sekolah2, pembangunan infrastruktur, termasuk peningkatan kualitas pelayanan masyarakat. Himbauan Pak Malau untuk memberikan waktu kepada Pasangan Bupati dan Wakilnya tentu ada benarnya, terkadang masyarakat menuntut adanya perubahan yang signifikan dalam waktu yang singkat. Akan tetapi dengan komunikasi dan pemberian partisipasi bagi masyarakat Samosir untuk ikut andil dalam percepatan pembangunan akan membentuk pola pikir masyarakat yang mandiri. Apalagi kombinasi antara Ir dan SE, patut diperhitungkan saya kira. Ibarat yang satu merencanakan pembangunannya, yang satu lagi memikirkan pembiayaannya. Kita tunggu kolaborasinya.

  5. bupati ganti bupati pembangunan tidak kunjung ada, banyak rumah susah untuk mendapatkan air (MCK) dan listrik (PLN) karena kondisi masyarakat yg masih susah sehingga tidak mampu membeli pompa air dan memasukkan listrik. Saya beberapa kali berkunjung dalam lima tahun tidak banyak kemajuan yg saya lihat secara nyata, dan tidak pernah lebih dari dua hari tinggal disana karena keadaan yg dilihat “susah” buat segalanya.

    Sangat miris dengan keadaaan masyarakat batak di kota-kota besar yg keren2 dan perlente. Banyak pejabat marga batak kini yg hanya memikirkan teman semarga, sedarah, dan sekampung dan tidak peduli dengan yg lainnya. Inilah penyakit yg ada di lingkungan orang batak!! tidak memikirkan keseluruhan dari manfaat kemajuan orang batak secara menyeluruh disemua bidang dan tempat khususnya SAMOSIR sebagai citra dari orang batak di luar negeri dengan DANAU TOBAnya.

  6. Membaca penjelasan yg diatas,mari kita ucapkan selamat kepada pemerintahan setempat karena sudah maju selangkah,tetapi perlu diingat masih baanyak langkah yg masih harus ditempuh.Kiranya penilaian dan laporan pandangan mata itu akan menjadikan cambuk pertama untuk menyongsong keberhasilan2 yg lain lagi dan lebih menyentuh kehidupan masyarakatnya.Memang akhir2 ini orang kita Indonesia sudah mengkonsumsi negatif thingking itu secara berlebihan,sedikit2 tim sukses bukankah masyarakat sekarang sudah semakin pintar dalam memilih?Satukan visi dan missi dan pemikiran yg positif yg sangat diperlukan pada saat seperti sekarang ini.Peaceeeeee……….

  7. Saya kira melihat kemajuan suatu daerah tidak melulu hanya dilihat dari infrasturuktur dasar yang sudah dibangun. Pembangunan infrastruktur dasar suatu daerah yang baru dimekarkan dengan sendirinya itu sudah harus terjadi. Disamping menjadi salah satu tujuan dari otonomi daerah, juga pemerintah pusat sudah mengalokasikan dana untuk itu yang biasa disebut dana perimbangan dengan segala jenisnya. Kemajuan suatu daerah ada baiknya lebih ditekankan pada tolak ukur ekonomi. Secara ekonomi kita harus mengukur sejauh mana pertumbuhan ekonomi yang sudah tercipta selama 3,5 tahun, bagaimana pemerataan pendapatan yang terjadi, dan bagaimana pola pendistribusian pendapatan tersebut.

    Dengan mengukur pertumbuhan ekonomi kita bisa mengetahui perubahan tingkat kesejahteraan masyarakat (kenaikan tingkat pendapatan rata-rata riel masyarakat.) Jadi sebaiknya dalam melihat kemajuan pembangunan Samosir harus dengan tolak ukur (metode pengukuran) yang jelas, dan angka-angka yang juga jelas secara statistik. Sebaiknya kita harus dengan jeli membaca pendapat diatas supaya kita memahami dengan jernih, dan dengan demikian kita bisa terhindar dari penggiringan opini. Horas Samosir…..

  8. @BatakUsa

    “Memang sial posisi Samosir itu.. kalo pun wisata nanti dikembangkan, yang menikmati ya Parapat dkk”. Seolah² anda mengecilkan Parapat. Karena kebetulan yg ajaib aku dilahirkan di Parapat, dan tahu menikmati keindahan, aku pikir Parapat dan Samosir area (TukTuk, Tomok, Ambarita, Pangururan, Simanindo, dan sekitarnya) memiliki pesona wisata yg sama potensialnya, karena 17 tahun lamanya aku memang menyelidik 2 wilayah itu. Kasarnya, aku bisa bilang begini, tanpa Parapat pun, Samosir bisa bagus, dan sebaliknya tanpa Samosir pun, Parapat akan tetap dikunjungi. Sayang sekali membuat anda kecewa, 2 wilayah itu tidak bisa dipisahkan, karena letak geografisnya dan karena hampir 95% penduduk Parapat adalah keturunan dekat par-Samosir.

    Di Parapat ada Batu Gantung, 7 Waterfalls, Marsuse Territory, Patra Jasa, Taman Eden, Siponggung, hutan pinus, view elok Danau Toba dari berbagai angle, Juma Rihit, Motung, Aek Natolu Field, Red Church, dan banyak lagi, terlalu panjang untuk didaftar disini. Barangkali, anda belum menikmati keseluruhan. Mungkin anda cuma melintas di jalan protokol, dan menganggap Parapat cuma satu titik transit.

    Kebetulan teman gaulku di Parapat adalah para seniman, gigolo, gigala dan para tourist guide, yg pada gilirannya aku berteman dgn banyak bule juga (dan aku masih tercatat sebagai satu anggota penting dalam sebuah organisasi rehabilitasi kesenian dan kebudayaan yg digagas perempuan cantik asal Inggris, belum saatnya kusebut nama organisasi itu, tunggu tanggal mainnya), dan bila kutanya pada mereka (jujur aku selalu menanyakan ini) apa yg menurut mereka kurang dari Toba, jawabnya rata² sama, “Kami butuh atraksi wisata, dan itu sangat minim disini, hampir tidak ada, tidak seperti Bali, dimana² kami menemukan tari kecak, dimana² ada ukiran, dimana² ada orang Bali dgn pakaian tradisional, kami benar² dibawa dalam atmosfir berbeda yg aneh namun nikmat. Kami tidak tertarik dgn bangunan megah, teknologi mutakhir, sebab semua itu sudah ada di negara kami dalam porsi yg bahkan susah kamu bayangkan”

    Rupanya, itu yg mereka inginkan, ritual² seperti Mangalahat Horbo, Mangongkal Holi, Somba-Somba, pesta panen, hiburan tradisional gondang sabangunan – uning²an, tortor, kemana² kita memakai ulos, ada lebih banyak gorga di setiap sudut, dan keaslian lain semacam itu. Sementara, celakanya, orang Batak adalah org yg sangat tertutup dan complicated, mana mungkin kita melakukan ritual tiap hari dengan sembarangan? Yg terjadi adalah, TukTuk dan Parapat berlomba membangun diskotik, bar, memangnya mereka kekurangan diskotik di eropa dan amerika sana??

  9. @Ompu Matasopiak

    Horas… Kurasa ada kesalah pahaman disini. Yang kubicarakan itu bukan dalam konteks orang batak di tapanuli , tetapi secara khusus orang yang tinggal di samosir.
    Maksudku sial itu begini, kalaupun nanti wisata di kembangkan, pembangunan hotel2/resort wisata pasti akan lebih dahulu dilakukan di daerah2 yang “ngetop” dan lebih maju secara infrastruktur, tentunya parapatlah yang paling tepat. Nah,kalaupun nanti ada penerimaan tenaga kerja untuk mengelola tempat2 wisata tersebut, tentunya orang2 parapat dan sekitarnya lah yang lebih dahulu menikmati, Mengingat masih cukup tinggi tingkat pengangguran disana, tentunya lapangan pekerjaan yang dibuka akan habis terserap ,dan tak tersisa untuk orang2 samosir. Apa mau semua orang samosir di”pindahkan” ke parapat/luar pulau???

    Menurutku industri wisata pasti akan berkembang suatu hari di daerah sana, terlepas dari percaya tidaknya kita dengan pengelolaan pemerintah, tetapi kata pepatah “dimana ada gula ,disitu ada semut”. Tentu saja sebagai orang batak,kita bisa berandai2 orang2 parapat nantinya akan “membantu” orang2 samosir dst dst.. Pengacara2 batak yang kaya2 itu akan membangun ini dan itu… pejabat2 batak sukses itu akan membantu ini dan itu…. Tapi sayangnya hal itu tidak terjadi di dunia nyata,setidaknya belum sampai saat ini. Jadi menurutku, sekarang yang orang2 asal samosir harus fokuskan adalah pemberdayaan SDM nya. Dengan ‘susah’nya pendidikan disana, pembangunan sarana pendidikan akan langsung terserap habis sama orang2 samosir…hal yang penting supaya mereka siap untuk berkompetisi di kemudian hari.

  10. Seperti yg aku katakan sebelumnya di artikel yg lain, para turis itu tidak perlu pizza atau diskotik/bar di kawasan pariwisata parapat, samosir. buat apa jauh-jauh berlibur kalau hanya melihat diskotik. he he he. Yang mereka perlukan ialah ritual/atraksi2 kultur-budaya batak itu sendiri, karena di eropa inggak ada kek gitu lae. bukan begitu?. Mungkin seperti mengadakan acara mangalahat horbo(yg di reka utk kebutuhan pariwisata), festival gondang/uning-uningan/world music, pameran fashion ulos dan design, pokoke yg menarik lah. Ngomong2 apa ada sekolah pariwisata di sekitar Parapat, Samosir, Pangururan??

  11. saya berpendapat bahwa kelihatannya pembangunan di samosir justru tidak melihat aspek sosial kemasyarakatan, karena cenderung asal jadi, hal ini banyak terjadi di berbagai daerah di indonesia dimana pembangunan daerah malah akan membuat konflik sosial karena tanpa pertimbangan matang diantara penduduk yang masih tinggal disana dengan putra daerah yang berada di perantauan,contoh : dalam pembangunan melakukan pemaksaan kehendak tidak dinegosiasikan dulu dengan pemilik tanah, hal ini sudah banyak terjadi di daerah manapun diseluruh indonesia yang pada akhirnya akan menuai masalah dimasa datang, terutama ganti rugi dan perizinan dari keturunan pemilik tanah dimanapun berada, ini lah yang akan menjadi konflik sosial yang berkepanjangan dan musnahnya suatu budaya, hal ini perlu dicermati oleh seluruh orang samosir baik disamosir maupun di perantauan, karena akan menjadi kehancuran bahkan investasi tidak akan datang karena tidak ada nilai jual yang diberikan, toh pembangunan infrastruktur seperti itu dinegaranya pun ada juga, bahkan lebih baik, jadi saya menghimbau belajarlah dari pembangunan di tempat tempat lain, jangan asal membangun, lihat aspek kedepan, dari sisi kekuatan,kelemahan,kesempatan dan tantangan yang kan dihadapi dimasa mendatang , horas … horas.

  12. syalom semua para tetua (tulang, amang boru, apung, bp Tua, Inang Tua, dll)…

    hmmm..mulai dari mana yah??

    saya disini mau mengomentari dan sedikit minta tolong juga bagi tetua yang udah banyak tau tentang samosir…

    terus terang yang saya liat pembangunan si samosir belum optimal, bahkan masih jauh dari harapan. jalan lintas yang ada pun hanya ekedar jalan saja..sebagai jalan kabupaten, jalan raya yang menuju tomok-pangururan masih kurang diperluas lagi…kendaraan roda emapt(apalagi truk besar) mungkin tidak leluasa untuk berpapasan…

    nah, itu dari segi fisiknya..dari segi SDM juga masih sangat banyak yang harus dibaharui lagi…yang pasti pemda harus bekerja keraslah untuk memberikan pelayanan yang terbaik buat masyarakatnya..

    emang bener apa kata Tulang Suhunan itu, berita yang ada di Harian xxx itu masih diperntanyakan keakuratannya bahkan bisa dibilang masih jauh dari nilai-nilai jurnalistik yang ada..

    nah, sampai juga di sisi saya minta bantuan dari para tetua..

    sekarang saya lagi ngerjain skripsi tentang URUSAN OTONOMI DAERAH (yi “URUSAN PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN PEMBANGUNAN”) yang ada di Kab.Samosir…untuk itu saya minta bantuan dari tetua semua untuk bersedia memberitahu atau menginformasikan data yang berkaitan dengan topik saya itu…sekarang saya masih dalam tahap mengerjakan proposal, dalam arti belum terjun ke lapangan…

    atas bantuan dan perhatian tetua semua..saya ucapkan terimakasih..

    GBU all

  13. oh yah..alamat email saya: norasitio@yahoo.com

    website saya ga ngerti..kayaknya dah mula eror..karna ga pernah diupdate..

    thx..

  14. Santabi tu Hamu angka raja Soripada,
    Saya,,putra samosir merantau di Bandung,,
    biasanya saya pulang 2 kali setahun,,
    Terakhir saya pulang, Bulan Juli 2007,,
    Dan menanggapi masalah kemajuan,,
    saya melihatnya tidak terlalu signifikan,,
    tidak banyak perubahan,,
    baik dari segi aspek mana pun,,
    seolah-olah kalau dipikir-pikir,,
    pemekaran kabupaten Samosir terlalu dipaksakan,
    tanpa studi analisis yang matang.
    Mauliate