Toba Samosir Tapanuli

Jarar Siahaan Penulis Berita Batak

Hei Batak, Jangan Tulis Gue Tionghoa

22 Komentar

[jarar siahaan; batak news; jurnalis harus juga seorang moralis]

Di ruang sidang Pengadilan Negeri Medan, suatu hari di tahun 2000. Seorang terdakwa bermata sipit dan berkulit putih jadi “bulan-bulanan” hakim.

menulis adalah…Terdakwa adalah seorang warga keturunan Tionghoa dan si hakim bersuku Batak. Baik terdakwa maupun hakim sama-sama beragama Islam. Persidangan kasus narkoba ini menjadi sedikit ganjil karena hakim sibuk mengurusi agama terdakwa.

“Apa agama Saudara?” tanya hakim.

Dijawab Islam, hakim meminta terdakwa membuktikan dirinya sebagai muslim. “Ucapkan dulu dua kalimat syahadat dalam bahasa Arab,” pinta hakim.

Karena gugup dan tertekan, terdakwa tidak bisa lancar mengucapkan kalimat suci tersebut. Penguasa ruang sidang pun mencak-mencak. “Kaubilang kau Islam tapi tidak tahu kalimat syahadat! Jangan ikut-ikutan masuk Islam, mentang-mentang Islam agama terbesar!”

Setelah besoknya berita itu terbit di halaman depan, Pemimpin Redaksi koran di mana aku bekerja menyatakan setuju ketika aku, sebagai redaktur, menampilkan berita kriminal tersebut dari sudut pandang berbeda. Masih kuingat betul judulnya: Hakim “larang” terdakwa masuk Islam.

Di tempat lain, di Ambon, mulai 1999 hingga beberapa tahun kemudian, lebih 10 ribu warga tak-seiman tewas baku bunuh. Pemicunya hanya sebuah berita di koran lokal soal pertengkaran dua warga yang kebetulan berbeda agama. Pada awal 1990-an sesama jemaat dan pengetua gereja HKBP juga bertengkar fisik. Sebagian suratkabar di Medan memihak salah satu kubu. Kedua kasus ini tidak bisa cepat redam karena ada media yang ikut memanas-manasi situasi.

Bertahun-tahun koran mempertahankan rating berita ini agar oplah besar dan pundi uang mereka membengkak. Mereka hanya menulis dari satu pihak dan sengaja memancing sentimen agama serta etnis. Bahkan, dalam kasus Ambon, sebuah jaringan media besar di Jawa Timur sengaja menerbitkan dua koran dengan misi berbeda di sana: satu membela kubu Kristen, lainnya di kubu Islam. Barulah setelah Dewan Pers protes, kedua koran itu ditutup.

Belakangan ini pun, seperti dikeluhkan juru bicara Polda Sumut, Aspan Nainggolan, masih banyak media menulis berita berbau suku, agama, ras, antar-golongan (SARA) yang rentan menyebabkan perpecahan. Ia berharap, “Pers jangan condong mendukung atau memojokkan salah satu ras maupun agama.”

Aspan wajar cemas seperti itu. Karena memang pemberitaan media memiliki daya hancur yang dahsyat. Sumut bisa saja rusuh dalam sekejap jika misalnya ada judul berita koran “bodyguard pengusaha Tionghoa bunuh orang Batak” atau “10 pemuda Batak keroyok 1 warga Melayu.”

Berita kriminal seperti ini seharusnya ditulis tanpa menyebutkan apa suku maupun agama si pelaku dan korban. Secara hukum, memang media tidak salah bila memilih kata-kata itu, karena faktanya korban bersuku Batak atau beragama Islam misalnya. Tapi di sinilah dibutuhkan hati nurani wartawan.

Tidak semua fakta perlu ditulis. Fakta-fakta yang potensial membunuh kemanusiaan dan memporak-porandakan kerukunan beragama harus disembunyikan sebagai arsip di komputer-komputer redaksi.

Untuk menghindari dampak negatif itulah juga setiap negara memiliki kode etik pers sendiri. Pers Amerika, misalnya, dilarang memotret dalam ruang sidang. Berbeda dengan pers kita yang dibenarkan kode etik memajang wajah para terdakwa.

Idealnya memang seperti di Amerika, wartawan — terlebih pemimpin dan pemilik media — bekerja dengan hati nurani dan bukan semata-mata mengejar laba. Seperti ungkapan yang sudah jamak terdengar, wartawan tidak boleh menjadi “politikus tanpa tanggung jawab”.

Menurut Wina Armada dalam bukunya, Menggugat Kebebasan Pers: sebelum menjadi wartawan, seseorang harus lebih dulu menjadi nasionalis. Sepadan dengan itu aku berpendapat: jurnalis juga harus seorang moralis. Artinya, orang-orang yang tidak bermoral tidak layak menjadi wartawan, sekalipun jago menulis.

Penjaga moral wartawan, dalam praktiknya, ialah kode etik pers. Belakangan, setelah reformasi, mulai berkembang pula jurnalisme-damai di Indonesia. Sayang, baru segelintir media yang menerapkannya. Jurnalisme-damai diperlukan terutama untuk meredam konflik. Ia tidak memanas-manasi. Jurnalisme jenis ini menghindari banyak teknik penulisan yang biasanya dipakai “koran kuning”: mulai stereotip, standar ganda, judul provokatif, hingga gaya bahasa hiperbola.

Sebab itulah, menurutku, redaktur tidak boleh membumbui judul agar lebih “sangar” dan menjual. Bila cuma satu orang warga menangis di pengadilan, jangan di-headline-kan “Tobasa Menangis” seperti pernah muncul di sebuah koran dua tahun lalu. Fakta seratus orang pengunjuk rasa juga tidak boleh digelembungkan menjadi seribuan orang, seperti ditulis sebuah harian lain.

Jurnalisme-damai juga mensyaratkan adanya pluralisme wartawan. Sebuah media akan lebih demokratis bila para wartawannya memiliki latar berbeda — baik agama, suku, maupun jenis kelamin. Media yang hanya dikelola jurnalis bersuku Batak, misalnya, justru sangat rentan memproduksi berita provokatif terhadap suku lain. Media yang awaknya cuma wartawan muslim juga sangat mungkin menulis artikel yang menyudutkan agama Kristen. Media yang sama sekali tidak punya redaktur wanita cenderung akan “memerkosa ulang” korban pemerkosaan dalam berita kriminalnya — topik ini akan kutulis secara khusus pada kesempatan lain.

Jika semua media menerapkan jurnalisme-damai, niscaya kasus Ambon dan HKBP takkan terulang.

Maka, Tuan dan Puan yang terhormat, wartawan yang hebat-hebat; tolong jangan tulis mereka Tionghoa, atau Keling, atau muslim, atau nasrani. [http://www.jararsiahaan.com]

CATATAN BLOG BERITA DOT COM:
Artikel ini kukutip dari draf buku yang tidak jadi kuterbitkan. Ini juga pernah kutulis di Harian Global — suratkabar di mana aku terakhir bekerja.

Artikel lain terkait topik ini:

Silakan bila ingin mengutip artikel dari blog ini, dengan syarat menyebut sumber dan nama penulisnya. Bila dikutip untuk website, blog, atau milis, maka tuliskanlah sumbernya http://www.blogberita.com dan buatkan link ke artikel bersangkutan. Bila dikutip untuk koran, majalah, bulletin, radio, televisi, dll, maka tulislah/sebutkanlah sumber kutipannya; http://www.blogberita.com.

About these ads

Author: Batak Toba

Demi Yesus, aku percaya Muhammad utusan Allah • Ikuti Twitter @ja_rar • Baca konten khas dan bernas di www.khas.co • Tahu nggak, menonton siaran Piala Dunia itu dosa loh menurut agama Islam. Baca di http://benar.org/do-sa

22 thoughts on “Hei Batak, Jangan Tulis Gue Tionghoa

  1. Dangkal… cocoknya bacaan kalian “lampu merah”

    BATAK NEWS: anda itu aneh. masak kau tuduh kami di sini dangkal, padahal komentarmu sendiri yang dangkal, tak berbobot, tak ada isinya selain cuma berkata “dangkal”. tunjukkan dong di mana kedangkalan kami. tulis analisa dan argumentasimu. kalau cuma berkata dangkal, tidak setuju, salah, anak tk pun bisa.

    di artikelku yang lain kau mengaku sangat muak melihat blogku ini. tapi kok masih kau baca juga blog ini? ah, jangan gitulah pren, konsistenlah dengan omonganmu. bersikaplah sebagai laki-laki. tak malu kau nanti diteriaki orang lain di sini?

    oh ya, aku ada tips; aku sering juga muak membaca blog-blog lain, terutama yang menghujat agama. sebab itu aku tak pernah lagi membacanya. selamat dangkal, eh, selamat muak. :lol:

  2. TOLONG BUAT PERS, AGAR JANGAN MEMUAT BERITA BERITA TENTANG PERPINDAHAN AGAMA SATU KE YANG LAIN. KAN MASIH BANYAK BERITA YANG LEBIH MENARIK ATAU MENDIDIK YANG LEBIH BAGUS UNTUK DIBACA. THANKS