[jaringan islam liberal; batak news; sebelum dee pilih buddha]

Sudah lama novelis Batak, Dee, merenungkan apa itu agama dan Tuhan sebelum akhirnya dia memeluk agama Buddha.

Artikel berbentuk wawancara ini dikutip Batak News dari Jaringan Islam Liberal, yang dipublikasikan pertama kali tahun 2003. Dee adalah nama pena bagi Dewi Lestari Simangunsong, penyanyi trio RSD, yang juga dikenal sebagai pengarang novel Supernova dan cerpenis. Dee menikah dengan Marcell Siahaan, yang juga seorang penyanyi.

DEWI LESTARI SIMANGUNSONG menuturkan tentang pengalaman spiritualnya. Ia menceritakan perenungan-perenungannya yang ekstrem tentang Tuhan dan gereja. Tiba-tiba, setitik sinar matahari sore masuk ke dalam gereja. Seketika itu gereja menjadi kuning semua. Bagus banget! Sampai-sampai saya merasa kalau tidak melihat matahari itu, saya akan menyesal seumur hidup.

Saya keluar, minggat dari khotbah. Saya pengin sekali melihat sinar matahari itu. Karena banyak pepohonan, akhirnya saya tak dapat melihat sinarnya langsung. Saya pergi dan kendarai mobil sampai jauh sekali dari gereja. Saya terhenti di sebuah rel kereta api. Saya menyaksikan rupa matahari yang akan turun, timbul-tenggelam. Mungkin hanya sekejap. Sekitar satu menit saja saya menikmati matahari yang saya kagumi itu. Tapi saya merasa, satu menit di rel kereta api itu jauh lebih berharga dari pada ibadah yang saya lakukan selama hidup saya.

Demikian nukilan cerita Dee Lestari, penyanyi yang juga penulis novel best seller ‘Supernova’, tentang pengalaman spiritualnya. Penyanyi bernama lengkap Dewi Lestari Simangunsong yang tersohor lewat grup Trio RSD (Rida Sita Dewi) mengungkapkan berbagai pengalaman keagamaannya dan persepsinya tentang agama dalam wawancara dengan Ulil Abshar-Abdalla pada hari Kamis, 4 September 2003.

ULIL ABSHAR-ABDALLA: Dee, dalam novel Anda banyak sekali dijumpai hal-hal yang bersifat renungan spiritual. Apa yang mendorong Anda untuk melakukan renungan-renungan semacam itu; apakah Anda pernah mengalami suatu peristiwa yang membuat terhenyak secara spiritual?

DEWI LESTARI (DEE): Sebetulnya, sejak kecil saya sudah senang melakukan perlamunan yang tendensinya ke hal-hal yang bersifat spiritual. Sejak kecil, saya memang hobi menghayal, dan sering kali saya terjebak ke dalam lamunan tentang pertanyaan-pertanyaan eksistensial-filosofis. Misalnya lamunan itu berisi: mengapa saya ada disini? Bisakah saya punya kehidupan yang lain? Neraka itu seperti apa, dan surga itu kayak apa?

Seringkali isi lamunan saya itu berada di luar cerita-cerita yang pernah saya dengar, tak sama dengan dogma-dogma yang saya pelajari, ataupun omongan orang yang umum beredar. Tapi saya memang tipe manusia yang tidak bisa dibilangin. Artinya, saya harus mencari jawaban itu sendiri, sehingga saya tak ingin cepat-cepat berpuas diri ketika membaca sebuah fenomena, atau menerima mentah-mentah sesuai dengan apa yang didiktekan orang. Saya selalu merasa bahwa pencarian spiritualitas adalah bentuk petualangan yang bersifat individual. Untuk itu, semua orang akan menjalaninya berbeda-beda.

ULIL: Apakah Anda hidup dalam lingkungan keluarga yang dapat disebut taat dalam beragama?

DEE: Ya. Ibu saya terhitung sebagai anggota majelis gereja. Selagi beliau masih ada (sekarang beliau sudah meninggal), selalu ada watch-dog moral yang mengharuskan saya pergi ke gereja dan sebagainya. Ayah saya, karena bertugas sebagai ABRI, sering berpindah-pindah tempat, sehingga kita relatif kurang banyak bertemu. Terkadang, kita hanya bertemu seminggu sekali. Tapi, ayah saya seorang yang moderat.

ULIL: Bagaimana agama diajarkan kepada Anda waktu kecil? Apakah sebagai doktrin yang penuh aturan, ancaman, horor, atau sebagai sesuatu yang menyenangkan hati anak kecil?

DEE: Sebetulnya saya tidak punya pengalaman yang traumatis dari sisi doktrin agama. Jadi menurut saya cukup menyenangkan, apalagi buat anak kecil. Ketika itu, yang paling menyenangkan adalah momentum seperti perayaan Natal. Tapi, memang lebih pada hal-hal yang bersifat seremonial ketimbang esensial. Esensi doktrin, justru saya pelajari baru-baru ini. Dulu, semuanya masih bersifat seremoni saja.

ULIL: Dalam perkembangannya, apakah Anda menemukan beberapa hal yang Anda anggap aneh atau janggal dalam doktrin agama yang pernah diajarkan pada Anda semasa kecil, sehingga menuntut Anda berpikir ulang?

DEE: Saya selalu berpikir tentang persoalan yang kelihatannya dapat ditemukan pada semua agama meski dengan kadar yang berbeda-beda, yaitu soal eksklusivitas. Soal itulah yang sedari dulu mengganggu benak saya. Saya selalu tinggal dan berinteraksi dalam lingkungan yang beragam. Teman saya datang dari agama yang bermacam-macam. Tapi ketika saya kembali ke “sekolah Minggu” atau ke gereja, di situ saya mendengar bahwa hanya orang Kristen yang akan masuk surga, dan bla-bla-bla. Ketika saya bertukar pikiran dengan teman-teman dari agama yang lain, mereka juga mengatakan hal yang sama.

Persoalan ini sama sekali tidak masuk ke dalam akal saya. Bagi saya ini paradoks. Di satu sisi kita mengatakan Tuhan Maha segalanya, Maha Esa, namun perjalanan menuju ke sana kok berkesan sangat tersekat-sekat. Banyak orang yang berpikiran eksklusif mengatakan bahwa setiap agama punya klaim kebenaran, dan di luar mereka adalah salah.

ULIL: Lantas, sejak kapan Anda mulai merasakan hal-hal yang Anda anggap janggal tadi itu?

DEE: Pada mulanya saya memulai perenungan itu dari cinta. Semuanya bermula dari konsep cinta. Kebetulan saja konsep cinta atau kasih sangat kuat dalam doktrin agama saya. Tapi kemudian saya mempelajari lebih dalam lagi. Saya melihat banyak orang yang melandaskan hubungan mereka atas dasar cinta, dan ketika cinta sedang mekar-mekarnya, sepertinya segalanya bisa terobati. Tapi di saat yang sama, cinta itu juga sangat mudah berbalik menjadi racun. Saya bingung melihat fenomena itu; kenapa bisa begitu? Cinta yang tadinya begitu menyegarkan, di satu titik justru bisa mematikan.

Dualitas semacam itu saya perhatikan juga dalam pengertian kita tentang Tuhan. Jadi ada Tuhan dan ada setan. Hanya saja, setan juga diciptakan oleh Tuhan. Bagi saya, ada hal yang tidak masuk dalam otak saya dalam masalah ini. Saya bingung, kenapa bisa ada dikotomi semacam itu. Sepertinya, manusia selalu saja melihat segala sesuatu dari dualisme semacam itu. Jadi, hidup ini memang penuh paradoks. Di tengah kebingungan semacam itu, akhirnya pada penghujung tahun 1999, saya membaca sebuah buku yang termasuk international best-seller, berjudul The New Revelation: A Conversation with God karangan Neale Donald Walsch. Terus terang, buku itu membuka wawasan saya.

ULIL: Jadi fungsinya semacam pembuka kotak pandora?

DEE: Betul. Sebelumnya, saya juga sudah melakukakn perenungan-perenungan, bahkan sampai pada titik yang cukup ekstrim. Saya sempat berpikir, apakah dunia memang tercipta hitam-putih, atau jangan-jangan mata manusia saja yang melihatnya demikian, sementara Tuhan sendiri sebenarnya abu-abu. Hanya saja, ketika Dia dihampiri lebih dekat lagi, ada spektrum hitam dan putih.

Nah, begitulah kira-kira isi buku yang saya baca itu. Waktu itu, saya membelinya secara instingtif saja. Ketika itu saya sudah selesai kuliah, sebelum menyelesaikan novel Supernova yang pertama. Terus terang, saya menulis Supernova, (juga) karena tergerak setelah membaca buku Neale Danald Walsch tadi. Pada suatu malam saya merasakan semacam ekstase. Soalnya, apa yang terjadi pada Neale itu juga terjadi pada diri saya. Dari situ, saya merasa bisa berbincang-bincang dengan Tuhan dengan begitu dekat, tidak ada jarak. Dan, hidup ini sepertinya adalah doa. Jadi tidak ada yang tidak tergenggam dalam tangan Tuhan. Dari situ saya merasa bahwa sebetulnya ekslusivitas dan kompartemen-kompartemen yang selama ini saya huni, sebetulnya adalah ilusi belaka.

ULIL: Dee, membaca beberapa kutipan novel Anda seakan membawa kita membaca sebuah risalah filsafat, bukan sebuah novel biasa. Saya ingin bertanya lebih jauh: selain buku The New Conversation: A Conversation With God, buku apa lagi yang membentuk cara pandang Anda terhadap agama?

DEE: Setelah saya membaca buku itu, saya seperti mengalami kehausan yang sangat-sangat. Berpangkal dari sana, saya lalu mulai mencari banyak buku-buku lainnya. Saking hausnya, saya bisa membaca tiga buku dalam satu hari. Waktu itu saya berusaha memahami semua agama. Tiba-tiba, saya malah tertarik untuk kembali lagi ke kompartemen-kompartemen tadi, tapi dari sudut pandang yang lain. Dulu saya memandangnya dari sudut pandang orang yang berada di dalam kompartemen itu (insider), sekarang saya berusaha mencari pendapat lain dengan memakai sudut pandang orang yang sudah keluar dari sebuah kotak (outsider).

ULIL: Anda dari awal bertipe suka merenung, tapi mengapa ketika kuliah di Universitas Katolik Parahyangan, Anda memilih jurusan hubungan internasional?

DEE: Sebetulnya, itu terjadi di zaman ketika saya belum mengenal jati diri. Saya cuma melihat namanya yang menarik untuk ukuran anak selepas SMA: hubungan internasional. Kalimat itu seolah-olah mengandung magic bagi anak SMA. Baru kemudian, ketika pertama masuk kuliah, saya sadar ternyata telah menjebakkan diri ke dalam sebuah cabang ilmu yang mempelajari persoalan politik.

ULIL: Bagaimana dengan pengalaman spritual-keagamaan Anda ketika itu?

DEE: Dari tahun 1993 sampai awal 1999, dan selama kuliah, sebenarnya tidak terjadi apa-apa. Tapi ada suatu momentum menarik ketika mama saya sudah meninggal. Kala itu saya pergi ke gereja di mana saya mendengar khotbah walau sambil terkantuk-kantuk. Waktu itu, saya merasa akan berdosa kalau keluar dan tidak mendengar khotbah. Tiba-tiba, setitik sinar matahari sore masuk ke dalam gereja. Seketika itu gereja menjadi kuning semua. Bagus banget! Sampai-sampai saya merasa kalau tidak melihat matahari itu, saya akan menyesal seumur hidup.

Akhirnya saya keluar, minggat dari khotbah, karena saya pengin sekali melihat sinar matahari itu. Karena banyak pepohonan, akhirnya saya tak dapat melihat sinarnya langsung. Saya lalu memutuskan untuk melarikan mobil, pergi megejar matahari itu sampai jauh sekali dari gereja. Saya terhenti di sebuah rel kereta api. Saya menyaksikan rupa matahari yang akan turun, timbul-tenggelam. Mungkin hanya sekejap, sekitar satu menit saja saya menikmati matahari yang saya kagumi itu. Tapi saya merasa bahwa, satu menit di rel kereta api itu jauh lebih berharga dari pada ibadah yang saya lakukan selama hidup saya.

ULIL: Anda seperti meninggalkan rumah Tuhan demi menuju ciptaan Tuhan?

DEE: Betul. Di situ saya melihat apa yang disebut keagungan Tuhan, kebesaran-Nya, dan lain sebagainya begitu masuk dan meresap dalam jiwa saya selama satu menit saja, dibandingkan bertahun-tahun saya melakukan ibadah tanpa tahu saya sebenarnya sedang berbuat apa. Saya tidak mengerti tujuannya apa. Saya hanya merasa seperti robot yang disuruh-suruh ke sini-ke situ tanpa adanya inner motivation yang lahir langsung dari sisi dalam diri saya.

ULIL: Anda telah memutuskan untuk meninggalkan khotbah gereja demi melihat keagungan Tuhan dari sisi yang lain. Setelah melihat keagungan Tuhan yang sangat spketakuler itu, bagaimana jadinya perkembangan dan pertumbuhan iman Anda, khususnya dalam menjalankan kehidupan sebagai seorang Kristen?

DEE: Sekarang saya melihat iman Nasrani saya dalam arti yang sangat luas. Mungkin, saya sudah tidak tertarik lagi ketika melihat suatu agama dengan aturan-aturan fisiknya saja. Terus terang, saya tidak lagi suka ke gereja, tapi saya masih suka membaca Bibel. Sekarang saya melihat agama sebagai property pribadi. Saya juga sudah menganggap segala hal adalah ritual, segala hal adalah ibadah. Saya menganggap semua hidup saya adalah ibadah, termasuk menulis Supernova. Kalau ada yang mengganggap menulis buku adalah hobi, bagi saya itu bukan lagi sekedar hobi. Bagi saya, itu adalah suatu kebutuhan. Menulis bagi saya adalah kegiatan yang sangat ritualistik. Ketenangan yang saya dapatkan darinya tidak bisa saya bandingkan dengan apapun.

ULIL: Dee, tadi Anda bercerita kalau belajar banyak agama. Apa yang Anda temukan setelah bertandang dan mengelana melihat banyak agama?

DEE: Misi saya ketika itu adalah untuk mencari benang merah agama-agama. Jadi, saya menyisihkan segala perbedaan, dan langsung berusaha menemukan esensi dari agama-agama yang saya pelajari. Saya merasa takjub, ternyata semuanya sama secara makrifat. Secara syariat memang berlainan, dan itu menurut saya memang karena sudah adanya pengaruh kebudayaan setempat.

Ketika misalnya Islam diturunkan di jazirah Arab, tak ayal lagi pasti ada pengaruh budaya setempat yang masuk dalam aturan main-aturan mainnya. Demikian juga dengan Kristen, Hindu, Budha, dan lain sebagainya. Tetapi ketika kita menceburkan diri dan tenggelam lebih dalam lagi ke relung-relung semua agama, disitulah kita baru akan menemukan suatu kubangan besar di mana semuanya menjadi larut, semua menjadi sama.

ULIL: Setelah Anda menemukan kenyataan bahwa (esensi) semua agama adalah sama, apa yang lantas Anda rasakan; apakah Anda merasa bahwa menjadi Kristen tidak lagi bermakna?

DEE: Justru sama sekali lain. Yang saya rasakan adalah penghargaan pada baju-baju yang kita kenakan. Hanya saja saya juga sadar bahwa di balik baju itu ada satu wadah yang sama. Dan, di situlah saya merasa bahwa pertengkaran mengenai agama menjadi sangat konyol. Sebab, di situ kita justru bertengkar mengenai effect, bukan cause. Kita mempertengkarkan akibat, bukan sebabnya.

ULIL: Anda tadi menyentil soal baju-baju yang dipertengkarkan banyak orang. Anda juga telah mengelana di berbagai agama. Pertanyaan saya, siapa figur tokoh agama atau orang bijak yang Anda kagumi?

DEE: Yang membuat saya paling terkesan sebenarnya Khrisna Murti, karena dia juga orang yang melepaskan diri dari denominasi. Saya juga mengagumi Kahlil Gibran, dan juga Paramhansa Yogananda.

ULIL: Tampaknya agama Hindu sangat memikat anda. Ini terlihat dari pemakaian simbol Omkara dalam novel sampul buku Supernova Dua. Itu permintaan Anda?

DEE: Ya, itu memang permintaan saya. Tapi sebenarnya saya tidak melihat Hindunya pada saat itu. Waktu itu, saya pernah membaca salah satu penelitian sains. Dari situ, kata “om” resonansianya berkaitan erat dengan sebuah kelenjar dalam otak kita yang menurut para saintis berfungsi seperti konektor antara kita dengan Tuhan. Jadi “om” bisa mengaktivasi kelenjar tersebut. Di sinilah saya melihat adanya universalisme simbol; bahwa “om” sebetulnya tidak bisa diklaim oleh agama apapun, karena dia merupakan suatu fenomena universal.

ULIL: Apa perasaan Anda ketika diprotes Forum Intelektual Muda Hindu Dharma (FIMHD) di Bali karena Anda menyantumkan simbol Omkara/Aum yang merupakan aksara suci Brahman Tuhan yang Maha Esa dalam agama Hindu di cover novel Anda?

DEE: Itu merupakan pengalaman yang sangat berharga. Saya menjadi tahu, memang ada level-level dalam kesadaran keberagamaan yang tidak bisa dihindari. Bahwa level-level kesadaran itu memang terjadi dan ada. Bagi kalangan yang mungkin belum sampai memahami bahwa kita ini wadah yang satu, mereka akan sulit untuk menerima pengakuan bahwa “Om” itu bukan milik dia saja.

ULIL: Ada pendapat mengatakan bahwa sebenarnya Tuhan tidak membeda-bedakan agama. Yang penting bagi Tuhan adalah perberbuatan baik manusia terhadap sesama. Bagaimana konsep surga dan neraka dalam pandangan Anda?

DEE: Menurut saya, surga dan neraka sudah kita ciptakan di dunia ini. Ada orang yang menciptakan surga di dalam kehidupannya, dan ada yang malah menciptakan neraka bagi dirinya dan orang lain. Kalau ada pejabat yang korup sementara masyarakatnya menderita, berarti dia sedang menciptakan neraka. Menurut saya, jika kita justru menjauhkan surga dan neraka dengan menjadikannya sebagai tujuan yang baru akan kita capai setelah mati, sesungguhnya kita telah banyak menggabaikan hal-hal penting yang mestinya harus sudah kita ciptakan dalam hidup ini.

ULIL: Apakah Anda sedang menggemakan pemikiran Calvin?

DEE: Barangkali begitu. Menurut saya, yang nyata ada adalah jiwa yang tersesat dan jiwa yang menemukan rumahnya kembali. Mungkin, apa yang oleh pengertian umum disebut neraka, manifestasinya ada dalam jiwa yang tersesat, yang ketika meninggal dia belum tahu jati dirinya siapa: apakah dia bagian dari Sang Pencipta atau bukan. Dan soal Tuhan mungkin tidak akan menghukum, saya sebenarnya sependapat.

Bagi saya, hakikat menjadi manusia adalah bagaimana mampu menemukan jati diri sendiri dan memiliki manfaat secara horisontal bagi kehidupan sosial, serta memiliki hubungan yang baik secara vertikal dengan Sang Pencipta. Semua itu sudah terlepas dari agama (beyond religion). Agama itu kan bersifat institusional.

Kadang-kadang, orang-orang yang kita sebut menganut animisme, dinamisme, bahkan ateisme sekalipun, bukan serta merta menjadikan orang yang tidak bermoral. Orang Indian yang punya tradisi meminta izin dulu sebelum memetik setangkai daun, bisa jadi lebih beradab dari mereka yang doyan ngebohongin rakyat. [www.blogberita.com]

Artikel terkait topik ini:


  1. Farida Simanjuntak

    Agama adalah bagian dari diri tiap orang yang sangat sensitive dibicarakan. Apapun agama yang dianut harus berpandangan positif karena semua agama mengajarkan hal yang baik. Tuhan menurunkan firman-NYA dan manusia menjalankannya menurut keyakinan dan tata cara masing-masing. Selama kita masih percaya dan takut akan Sang Pencipta, maka jalankanlah agama dengan nurani bukan hanya topeng. Di keluarga besar saya ada juga yang berbeda agama tapi itu bukan penghalang untuk tetap menjadi satu keluarga. Malah makin beraneka ragam, ada 2 perayaan agama yaitu Natal dan Idul Fitri. Untuk perayaan dua agama ini mama saya selalu masak spesial.

    Sekarang di Company ini saya merasakan Hari Raya China dan juga Hindu. Semakin banyak perayaan agama yang bisa saya rayakan, semakin saya merasakan besarnya kemuliaan Sang Pencipta. Saya selalu ingat pesan bapak saya, “Jalani agamamu dengan taat tapi buka hatimu untuk agama lain. Tidak ada salahnya belajar dari agama lain karena semua untuk kehidupan yang lebih baik. Jangan pernah pupuk fanatisisme agama yang berlebihan.”
    Yang penting adalah bagaimana kita menjalankan agama dan menciptakan perdamaian. Love and Peace…. God Bless Us

  2. gadis

    Agama bukan untuk dihayalkan dan mencari – cari kebenaranya dari berbagai Agama karena Tuhan tidak menentukan Agama apa yang harus kita anut untuk datang kepadaNya. Agama apapun itu kalau kita merasa Tuhan itu hadir dan nyata datang dalam hidup kita kenapa..?kita tidak menganutnya.

    menurut keyakinan saya, kalau saja Dee tidak keluar meninggalkan gereje pada saat sinar matahari masuk sehingga Gereja menjadi kuning semua, mungkin saja Tuhan saat itu hadir dan menampak diriNya kepada Dee, agar keraguan dan khayalan2 Dee selama ini terjawab, karena menurut keyakinan saya Tuhan akan datang dan menampak diriNya kepada kita dalam bentuk apapun yang Dia inginkan

    memang saya belum pernah merasakan hal yang demikian, tapi saya yakin Tuhan akan menampak Dirinya bagi umatNya yang dicintainya.GBU

  3. Kadang-kadang, orang-orang yang kita sebut menganut animisme, dinamisme, bahkan ateisme sekalipun, bukan serta merta menjadikan orang yang tidak bermoral. Orang Indian yang punya tradisi meminta izin dulu sebelum memetik setangkai daun, bisa jadi lebih beradab dari mereka yang doyan ngebohongin rakyat.

    Banyak sekali orang yang menganggap agama mereka paling benar, bahkan sampai di dunia blog ini. Padahal tata krama yang mereka pakai belum sebagus orang yang terinjak – injak oleh statusnya sebagai penganut agama lain. Bagus. :D

  4. Apa yang dialami Dee sungguh merupakan sebuah pengalaman spiritual yang sangat berharga. Seandainya saja setiap orang bisa berpikir secara universal tentang ‘baju-baju’ yang ada… GBU.

  5. mubarok_555

    SAYA SANGAT SEPENDAPAT DENGAN gadis…

  6. Saya selalu berpikir tentang persoalan yang kelihatannya dapat ditemukan pada semua agama meski dengan kadar yang berbeda-beda, yaitu soal eksklusivitas. Soal itulah yang sedari dulu mengganggu benak saya. Saya selalu tinggal dan berinteraksi dalam lingkungan yang beragam. Teman saya datang dari agama yang bermacam-macam. Tapi ketika saya kembali ke “sekolah Minggu” atau ke gereja, di situ saya mendengar bahwa hanya orang Kristen yang akan masuk surga, dan bla-bla-bla. Ketika saya bertukar pikiran dengan teman-teman dari agama yang lain, mereka juga mengatakan hal yang sama.

    Persoalan ini sama sekali tidak masuk ke dalam akal saya. Bagi saya ini paradoks. Di satu sisi kita mengatakan Tuhan Maha segalanya, Maha Esa, namun perjalanan menuju ke sana kok berkesan sangat tersekat-sekat. Banyak orang yang berpikiran eksklusif mengatakan bahwa setiap agama punya klaim kebenaran, dan di luar mereka adalah salah.

    Ini jugalah yang mendasari saya untuk menggapai apa yang di sebut esensi agama itu. Sebab toh jika sama sama mengaku paling benar, sebenarnya siapa sih yang benar? Begitu mula mula muncul di benak saya. Dan hasil dari perenungan tersebut mungkin bisa di lihat di tulisan saya yang berjudul semua agama ternyata benar .

  7. jusron

    gue ga setuju brurrrrr
    coba deh baca Al Qur’an, Bible, Injil, Taurat atau Zabur lo pasti tahu………..

  8. opus007

    DEE: Menurut saya, surga dan neraka sudah kita ciptakan di dunia ini. Ada orang yang menciptakan surga di dalam kehidupannya, dan ada yang malah menciptakan neraka bagi dirinya dan orang lain. Kalau ada pejabat yang korup sementara masyarakatnya menderita, berarti dia sedang menciptakan neraka. Menurut saya, jika kita justru menjauhkan surga dan neraka dengan menjadikannya sebagai tujuan yang baru akan kita capai setelah mati, sesungguhnya kita telah banyak menggabaikan hal-hal penting yang mestinya harus sudah kita ciptakan dalam hidup ini.

    ”klo saya ngak setuju itu. berarti syurga bisa diciptakan dengan berbagai cara??? terserah kita yang atur?? taukah uang adalah syurga?? waduhhhhh… klo kita bisa ciptakan syurgaaa.. akan kujadikan selama hidupku ini bahagia selamanya ..he he heee…. kita justru menjauhkan surga dan neraka dengan menjadikannya sebagai tujuan yang baru akan kita capai setelah mati, ”yyaaa menurut saya itu pasti,,.kebahagian dunia bukanlah syura begitu pula kesengsaraan dunia bukan pula neraka.
    karena dunia tidaklah kekal/abadi. karena janji Tuhan adalah syurga/neraka itu kekal/abadi

    bila dunia ini syurga/neraka Untuk apakah sebenarnya kita diciptakan Tuhan didunia ini ??? bahwasanya bila orang nanam padi pasti panennya ya klo dah waktunyaa begitu pula syurga dan neraka,. apakah yang kita tanam kok kita tau~tau dapet syurga/neraka???? padahal tuhan ciptakan manusia agar mereka berbakti karena dunia adalah tempat seleksi manusia untuk memilih jalannya masing~masing….

  9. Ompu Matasopiak

    Tiap orang punya beberapa pengalaman yg dianggap ’spiritual’, semua sah² saja asal bisa dipertanggungjawabkan dan bukan sekedar trend!

  10. JoeS

    Agama itu akhirnya seperti memilih pekerjaan sebelum kita pastikan mana yang tepat untuk kita. Tapi milih agama janganlah jadi kutu luncat… Pindah-pindah terus…Itu namanya cari sensasi.

    Kalau sudah menentukan pilihan, maka camkan dan lakukanlah ajaran-ajarannya. Dalam kitab suci agama manapun, sudah terkandung semua hal tentang kebajikan dan standard perilaku baik. Sebenarnya kita hanya perlu satu.

  11. gelleng

    Waspadalah……. akhir jaman telah dekat, bukankah Paus yg agung itu telah memproklamirkan bulan lalu, bahwa hanya agamanya yg terbenar didunia ini? Ito kita yg satu ini belum sekaliber dari nabi nabi palsu yg akan lahir di muka bumi ini. Cintailah sesama Mu seperti dirimu sendiri. Peaceeee.

  12. Dalam kehidupan beragama, sikap yang memadai adalah merayakan pluralitas tanpa meninggalkan partikularitas agama/kepercayaan yang kita imani. Shallom Chaver!

  13. Kalau menurutku agama manapun pastilah benar menurut pengikutnya dan itu pasti dibela matimatian kalau ada yang bilang agama yang dianutnya salah, jadi ada baiknya kita saling menghormati antar sesama umat beragama, karena agama seharusnya membawa keteraturan dan kasih didalamnya. Kalau aku sendiri ditanya agama yang mana yang benar ? pastilah kujawab agama yang kuanut, dan kalau ditanya agama yang mana yang salah ? pasti kujawab tidak ada .

    Tetapi ada baiknya kita tidak menguniversalkan agama, yakinilah salah satu diantaranya dan amalkan sesuai ajarannya, pastilah engkau akan selamat sampai disurgamu. Tuhan itu ada dimana mana, dan Tuhan itu untuk semua, kini tergantung engkau hai manusia kau mau pilih Tuhan yang mana ? Dan kurasa ito kita yang diceritakan diatas memilih jalur Tuhan dengan agama Budha yah sah-sah saza asalkan dia telah menyakininya dengan sepenuh hatinya, janganlah nanti setelah dia telaah lebih dalam lagi bibel (karena katanya dia masih sering baca) dia bilang wah ternyata salah penglihatan yang kemarin “balik lagi akh” , tetaplah pada pilihannya yang sekarang. Salam kasih ,untuk semua yakinilah agamamu dan amalkan ajarannya agar dunia indah, lihatlah pelangi itu betapa indah dengan segala perbedaanya .

  14. Saya sangat mendukung segala upaya untuk memikirkan dan mengkritisi ajaran agama (apapun itu) dan sikap keberagamaan–macam yg dilakukan Dee, terlepas dari sependapat atau tak. Kita tahu, pergumulan Dee menyangkut agama dan Tuhan, bukan hal baru, bahkan sudah setua usia agama itu sendiri. Sejak belasan abad lampau, sejumlah filsuf, ilmuwan, sastrawan, sudah merenungkan, memikirkan, membuat pendapat yang bisa menguncangkan keimanan–terlalu genit kalau nama-nama mereka disebut di sini.

    Saya termasuk yg tercengang dan kagum mendengar dan mengetahui tingkat (kedalaman) pemikiran, permenungan, dan kegelisahan Dee ketika beberapa tahun lalu keberadaan diri, sikap dan pendapatnya mulai diperhitungkan publik. Lebih tercengang lagi ketika ia, walau tak eksplisit, mengumumkan kepada publik, bahwa dirinya, Marcel dan putranya, sudah menganut dan dididik sesuai dengan agama baru mereka.

    Sebelumnya, dalam bayanganku, manusia perkotaan semacam dirinya–yang kuasumsikan hidup di tengah keluarga dan lingkungan yg pseudo-religius, kalau tak sekuler, sebagaimana ciri kaum Protestanian perkotaan pada umumnya, datang dari kelas menengah, wanita muda yang cantik-modis-figur publik (maaf, tak bermaksud bias-gender), ditambah kota serta kampus tempatnya tumbuh tak begitu kondusif sebagai lokasi ‘permenungan’–tak terbayangkan bisa masuk ke dunia pergumulan batin dan pikiran yang, kubayangkan, amat membutuhkan keseriusan berpikir, diskusi, dan membaca.

    Tetapi mengenai ‘unsur’ atau ‘peristiwa’ yg membuat dirinya kemudian berubah sikap dan pandangan mengenai agama yang dianutnya (atau pada eksistensi Tuhan itu sendiri), menurutku masih terbilang prematur, kalau tak insidentil. Menurutku, ia tak mengalami suatu proses pergumulan yang panjang, melelahkan pikiran, menyengsarakan batin, macam yang dialami Ahmad Wahib–yg goresan-goresan kegelisahan dan pergolakan pemikirannya, berupa ‘diary’, kemudian dibukukan dalam ‘Pergolakan Pemikiran Islam’, awal tahun 80-an.

    Dengan segala hormat pada Dee dan orang-orang yang mengalami dan melakukan hal yg sama dengan dirinya, sebetulnya, dalam tataran dan spektrum yang lebih sempit, pengalaman dan keputusannya (ttg agama, Tuhan), tak jauh beda dengan yang dialami dan dilakukan bintang Hollywood Richard Gere, hingga kemudian mengkonversi keyakinannya dari Kristen ke Zen (sebuah sekte agama Buddha, kalau tak salah, berakar di Tibet). Dengan kata lain, pengalamannya yang “cuma” karena melihat sinar atau cahaya pantulan kemuning senja di ruang tempatnya beribadah pada sebuah senja itu, lantas langsung mendekonstruksikan (meminjam Derrida) konsep, bangunan keimanan, persepsinya tentang agama, keberagamaan, Tuhan, yang dipahaminya sebelumnya, begitu prematur–walau kemudian, pengakuannya, ia melahap berbagai referensi menyangkut agama dan Tuhan untuk “menguatkan” keyakinannya yg baru.

    Bukan untuk meremehkan Dee atau orang-orang yg mengalami kegelisahan yg sama dengan dirinya, andai saja pergolakan pemikiran dan keimanannya itu lebih “dahsyat” dibanding yang dialami Ahmad Wahib (untuk ukuran manusia Indonesia, terjadi pada dekade 60 sampai 70-an, di mana jendela dunia belum terbuka selebar sekarang, buku asing masih barang langka, diskursus menyangkut esensi agama, plurasime, dsb, belum berkembang dan seterbuka sekarang), pasti saya termasuk yg ikut berterimakasih pada dirinya, karena bisa ikut memetik buah-buah pemikirannya yang mahal dan langka.

    Bagi saya pribadi, apapun alasannya, mengubah keyakinan, adalah hak azasi setiap orang–yg harus dihormati. Yang saya khawatirkan dari Dee(untuk apa pula saya perlu khawatir?) ialah, jangan-jangan sebetulnya ia tetap gelisah dan masih terus mencari agama dan Tuhan yang paling ideal sesuai dengan pemikiran dan HARAPANNYA, sementara ia sudah terlanjur mengumumkan kepada publik bahwa ia sudah mendapatkan agama dan “Tuhan yang baru”, sesuai konsep, persepsi, bayangan, harapannya.

    Katanya, pergumulan semacam itu, jauh lebih memenderitakan…

  15. Hohoho, memang akar pemikiran-pemikiran filosofis adalah eksklusivitas agama, ya :P

  16. baliazura

    Agama itu buat manusia bukan manusia buat agama. jadi sebenernya kita ga perlu mempermasalahkannya. ” misalkan ada pasar malam agama yg di ikuti semua agama yg ada di dunia ini dan kita misalkan TUHAN datang ke psar malam itu maka PASTI TUHAN aka binggung karena masing masing stand menawarkan dan mengklaim agama paling benar kemudian TUHAN akan pergi dan mungkin berkata ” Aku tidak pernah mengajarkan hal itu ”

    Maka agama apapun kalau kita merasa dekat dengan TUHAN dan yakin akan adanya TUHAN kemudian bisa merasakan Extensi dari Ketuhanan dialah orang yg berAGAMA.

    “….Kau pergi untuk mencari Tuhan
    tapi kemudian kau selalu berhenti
    di tempat2x yang dihuni roh jahat……
    tinggalkan saja jalan ini yang setengah2x
    tidak akan membawamu menemui KEKASIHMU.. ( Jalaludin Rummi )

  17. @Lae Suhunan.
    Sebelum menulis komen itu, aku curiga, jangan-jangan Lae sudah diskusi dulu dengan Tuhan Lae. Benar-benar komen yg segar, jernih, tanpa kontaminasi apapun. Yg begitu itu, hanya ada jika kita langsung berhubungan dengan Sumber Pertama Kebenaran. Institusi-institusi itu, seringkali hanya menyumbangkan distorsi. Omong-omong, di mana Lae biasanya diskusi dengan Dia? Pengen pulak awak nimbrung, biarpun cuma jadi peninjau tak aktif. Salam damai.

  18. Wah, kalo sudah membicarakan yang satu ini (agama), saya suka ketar-ketir juga. Karena pada akhirnya, setiap orang yang kadung “terbuai” pada salah satu agama cenderung akan membuat pembelaan. Saya sendiri melihat agama itu hanya semacam status. Karena agama itu (Kristen, Islam, Hindu, Budha, dll), hanyalah peng-wadahan dari kumpulan manusia yang meyakininya. Agama itu adalah buatan (sebutan) manusia. Yang terutama bagi saya adalah esensi dari keberadaan Tuhan dan Sabda-Nya. Di sini saya hanya ingin berbagai cerita, yang mudah-mudahan bisa semakin membuka wacana kita ketuhanan Sang Pencipta (tentu saja bagi mereka yang percaya).

    Saya pernah membaca satu buku, yang menurut saya sampai kini sangat bagus karena banyak ajar-ajar yang membuat kita lebih jauh berpikir tentang hakikat hidup ini. Judul buku itu; “Burung Berkicau” (sorry, lupa nama pernerbitnya) – Satu cerita yang tidak bisa saya lupakan hingga kini berjudul; “Yesus Menonton Sepak Bola”: Ceritanya, Yesus Kristus (Tuhan) sedang menonton pertandingan sepak bola antara kesebelasan Protestan melawan kesebelasan Katholik. Yesus duduk persis di tengah tribune yang memisahkan suporter Protestan dengan suporter Katholik. Riuh rendah suara kedua suporter kesebelasan meneriaki “jago”-annya untuk memberi semangat. Sesekali di antara suporter terjadi saling mengejek. Hingga pada akhirnya penyerang Katholik berhasil membobol gawang kiper Protestan. Tak disangka-sangka… Yesus bersorak seraya bertepuk tangan “HOREEE…!!” – Suporter protestan bingung dan saling berbisik: “Lho, kok Tuhan Yesus membela Katholik?” – Terjadi keresahan di kubu Protestan. Suporter Katholik mengelu-elukan Yesus karena merasa membela kesebelasan mereka.

    Babak kedua sudah berjalan hampir dipenghujung pertandingan. Beberapa suporter Protestasn mulai melirik-lirik mau pindah tempat duduk ke tempat Katholik karena ternyata Yesus membela mereka. Tak ingin kalah, pemain Protestan ngotot menyerang… GOOOLLLL…!!! – Kesebelasan Protestas berhasil membalas kekalahan hingga skor 1-1. Anehnya, Yesus meloncan bersorak, bertepuk tangan sembari berteriak; “HOREEE…!!” – persis seperti DIA tadi mengelu-elukan kubu Katholik… Dan yang terjadi sesaat, stadion kontan hening, sampai membuat Yesus yang bersorak-sorak senang kaget dan spontan berhenti, malu-malu kucing melihat semua mata suporter dan pemain memandang kepada-Nya dengan bingung. Lalu muncul perwakilan kedua kubu menghampiri Yesus.

    “Yesus! Ada apa sebenarnya dengan-Mu?! Ketika kesebelasan Katholik berhasil memasukkan bola ke gawang, Engkau berteriak mendukungnya. Ketika kesebelasan Protestan membalas, Engkau juga mendukungnya. Sebenarnya, di pihak siapakah Engkau?” – Pertanyaan ini diajukan kedua wakil kubu. Semua mata memandang seakan tak berkedip ke arah Yesus yang cuma tersenyum menyejukkan hati orang yang melihatnya. Kegelisahan terlihat di wajah kedua kubu. Lalu Yesus bangkit. Mengedarkan pandangannya hingga ke ujung dunia pun bisa dilihatnya. Kemudian dengan suara yang lembut dia berkata: “Aku datang bukan untuk Protestan dan bukan pula untuk Katholik. Tapi, Aku datang untuk semua orang yang percaya bahwa Akulah Jalan, Akulah Keselamatan, dan Akulah Kehidupan.” – Semua orang terdiam merenung. Tak ada lagi saling membenarkan diri. Semoga cerita ini dapat kita renungkan bersama, apa makna yang terkandung di dalamnya. Horas.

    BLOG BERITA: sedaaappp, aku suka cerita ini. semoga yang selama ini tidak mengerti bisa menjadi mengerti; bahwa agama cuma bungkus, kemasan, embel-embel, sebutan, bla-bla-bla. isinya yang perlu; TUHAN.

    aku jadi teringat seorang pembaca pernah berkomentar pada artikelku yang lain — masih dengan topik agama. dia bilang: “wajar saja kang jarar tidak peduli dengan agama karena kang jarar sebenarnya tidak memahami apa itu agama.”

    lalu kujawab: “betul, justru memang aku tidak peduli dengan agama, aku tidak mau tahu dengan agama, tidak terlalu penting agama itu bagiku, yang penting adalah TUHAN.”

    kurasa dia makin bingung membaca komentarku, dan jangan-jangan makin serius dia membuka kitab suci agamanya — mencari ayat yang tepat untuk mendebatku lagi. :lol: hua-ha-ha …. bloger gila kayak aku ini kok mau didebat dengan kitab suci. tak mempan itu! tapi taklukkanlah aku dengan KASIH, TOLERANSI, PERDAMAIAN, KEMANUSIAAN membantu sesama yang MISKIN dan MENDERITA, dll.

  19. Tuhan ada untuk semua. Saya sendiri sebagai Katolik tak pernah pernah menyatakan, hanya Katolik-lah yang nantinya akan menempati surga. Bukanlah, seorang perempuan Samaria pernah mengingatkan hal itu pada kita?

  20. Terus terang aku sudah pernah membaca wawancara Ulil dan Dee sebelumnya tetapi komentar lae Suhunan membuat wawancara diatas lebih bermakna. Komentar lae ini membuatku termenung dan memikirkan kembali perjalanan spiritualku sendiri. Apakah aku sudah bisa melihat dan menerima keagungan Sang Pencipta tanpa sekat-sekat agamaku yang menurut Dee tidak masuk diakalnya itu?

    Sama seperti Dee, aku memulainya dengan cinta. Mungkin benar kata orang, “Cinta itu buta.” Aku menjadi buta dengan dogma. Aku buta dengan syariat dan ritual agama lainnya. Hakikinya aku bisa berjuma dengan Tuhan. Aku tidak perlu ke Masjid, Gereja, Pura untuk berjumpa dengan Sang Khalik. Didalam kemerah-merahan sinar matahari senja nan cantik, akupun berjumpa denganNya disana. Aku berjumpa denganNya didalam segala ciptaanNya. Dan dalam setiap perjumpaanku dengan Sang Khalik, aku mendengar ini: “Aku tidak pernah menciptakan agama dan menawarkannya kepada engkau. Aku hanya rindu untuk memiliki hubungan pribadi dengan engaku.” Ajakan Tuhan ini “makes a perfect sense” tanpa aku harus secara gegabah mendekonstruksi bangunan keimananku, apalagi hanya untuk membangun sekat-sekat keimanan baru sesuai kebutuhan bathin dan harapan semata.

    Bagi saya pribadi, agak ironis ketika kita berusaha membebaskan diri dari sekat-sekat agama tetapi akhirnya masuk lagi dalam sekat yang baru. Kalau agama itu (entah Kristen, Islam, Hindu, Budha) adalah sekedar, kata lae Jarar, kemasan, mengapa pula, setelah melakukan pergumulan yang katanya dasyat, akhirnya hanya sekedar mengganti kemasan. Dus… aku cendrung sepakat dengan lae Sunuhan, ‘unsur’ atau ‘peristiwa’ yg membuat Dee kemudian berubah sikap dan pandangan mengenai agama yang dianutnya (atau pada eksistensi Tuhan itu sendiri) terbilang prematur, kalau tak insidentil.

    Walau demikian, pilihan keyakinan Dee patut kita hormati. Doaku Dee telah menemukan agamanya yang ideal tidak seperti yang dirisaukan lae Sunuhan. Semoga.