[jaringan islam liberal; batak news; sebelum dee pilih buddha]

Sudah lama novelis Batak, Dee, merenungkan apa itu agama dan Tuhan sebelum akhirnya dia memeluk agama Buddha.

Artikel berbentuk wawancara ini dikutip Batak News dari Jaringan Islam Liberal, yang dipublikasikan pertama kali tahun 2003. Dee adalah nama pena bagi Dewi Lestari Simangunsong, penyanyi trio RSD, yang juga dikenal sebagai pengarang novel Supernova dan cerpenis. Dee menikah dengan Marcell Siahaan, yang juga seorang penyanyi.

DEWI LESTARI SIMANGUNSONG menuturkan tentang pengalaman spiritualnya. Ia menceritakan perenungan-perenungannya yang ekstrem tentang Tuhan dan gereja. Tiba-tiba, setitik sinar matahari sore masuk ke dalam gereja. Seketika itu gereja menjadi kuning semua. Bagus banget! Sampai-sampai saya merasa kalau tidak melihat matahari itu, saya akan menyesal seumur hidup.

Saya keluar, minggat dari khotbah. Saya pengin sekali melihat sinar matahari itu. Karena banyak pepohonan, akhirnya saya tak dapat melihat sinarnya langsung. Saya pergi dan kendarai mobil sampai jauh sekali dari gereja. Saya terhenti di sebuah rel kereta api. Saya menyaksikan rupa matahari yang akan turun, timbul-tenggelam. Mungkin hanya sekejap. Sekitar satu menit saja saya menikmati matahari yang saya kagumi itu. Tapi saya merasa, satu menit di rel kereta api itu jauh lebih berharga dari pada ibadah yang saya lakukan selama hidup saya.

Demikian nukilan cerita Dee Lestari, penyanyi yang juga penulis novel best seller ‘Supernova’, tentang pengalaman spiritualnya. Penyanyi bernama lengkap Dewi Lestari Simangunsong yang tersohor lewat grup Trio RSD (Rida Sita Dewi) mengungkapkan berbagai pengalaman keagamaannya dan persepsinya tentang agama dalam wawancara dengan Ulil Abshar-Abdalla pada hari Kamis, 4 September 2003.

ULIL ABSHAR-ABDALLA: Dee, dalam novel Anda banyak sekali dijumpai hal-hal yang bersifat renungan spiritual. Apa yang mendorong Anda untuk melakukan renungan-renungan semacam itu; apakah Anda pernah mengalami suatu peristiwa yang membuat terhenyak secara spiritual?

DEWI LESTARI (DEE): Sebetulnya, sejak kecil saya sudah senang melakukan perlamunan yang tendensinya ke hal-hal yang bersifat spiritual. Sejak kecil, saya memang hobi menghayal, dan sering kali saya terjebak ke dalam lamunan tentang pertanyaan-pertanyaan eksistensial-filosofis. Misalnya lamunan itu berisi: mengapa saya ada disini? Bisakah saya punya kehidupan yang lain? Neraka itu seperti apa, dan surga itu kayak apa?

Seringkali isi lamunan saya itu berada di luar cerita-cerita yang pernah saya dengar, tak sama dengan dogma-dogma yang saya pelajari, ataupun omongan orang yang umum beredar. Tapi saya memang tipe manusia yang tidak bisa dibilangin. Artinya, saya harus mencari jawaban itu sendiri, sehingga saya tak ingin cepat-cepat berpuas diri ketika membaca sebuah fenomena, atau menerima mentah-mentah sesuai dengan apa yang didiktekan orang. Saya selalu merasa bahwa pencarian spiritualitas adalah bentuk petualangan yang bersifat individual. Untuk itu, semua orang akan menjalaninya berbeda-beda.

ULIL: Apakah Anda hidup dalam lingkungan keluarga yang dapat disebut taat dalam beragama?

DEE: Ya. Ibu saya terhitung sebagai anggota majelis gereja. Selagi beliau masih ada (sekarang beliau sudah meninggal), selalu ada watch-dog moral yang mengharuskan saya pergi ke gereja dan sebagainya. Ayah saya, karena bertugas sebagai ABRI, sering berpindah-pindah tempat, sehingga kita relatif kurang banyak bertemu. Terkadang, kita hanya bertemu seminggu sekali. Tapi, ayah saya seorang yang moderat.

ULIL: Bagaimana agama diajarkan kepada Anda waktu kecil? Apakah sebagai doktrin yang penuh aturan, ancaman, horor, atau sebagai sesuatu yang menyenangkan hati anak kecil?

DEE: Sebetulnya saya tidak punya pengalaman yang traumatis dari sisi doktrin agama. Jadi menurut saya cukup menyenangkan, apalagi buat anak kecil. Ketika itu, yang paling menyenangkan adalah momentum seperti perayaan Natal. Tapi, memang lebih pada hal-hal yang bersifat seremonial ketimbang esensial. Esensi doktrin, justru saya pelajari baru-baru ini. Dulu, semuanya masih bersifat seremoni saja.

ULIL: Dalam perkembangannya, apakah Anda menemukan beberapa hal yang Anda anggap aneh atau janggal dalam doktrin agama yang pernah diajarkan pada Anda semasa kecil, sehingga menuntut Anda berpikir ulang?

DEE: Saya selalu berpikir tentang persoalan yang kelihatannya dapat ditemukan pada semua agama meski dengan kadar yang berbeda-beda, yaitu soal eksklusivitas. Soal itulah yang sedari dulu mengganggu benak saya. Saya selalu tinggal dan berinteraksi dalam lingkungan yang beragam. Teman saya datang dari agama yang bermacam-macam. Tapi ketika saya kembali ke “sekolah Minggu” atau ke gereja, di situ saya mendengar bahwa hanya orang Kristen yang akan masuk surga, dan bla-bla-bla. Ketika saya bertukar pikiran dengan teman-teman dari agama yang lain, mereka juga mengatakan hal yang sama.

Persoalan ini sama sekali tidak masuk ke dalam akal saya. Bagi saya ini paradoks. Di satu sisi kita mengatakan Tuhan Maha segalanya, Maha Esa, namun perjalanan menuju ke sana kok berkesan sangat tersekat-sekat. Banyak orang yang berpikiran eksklusif mengatakan bahwa setiap agama punya klaim kebenaran, dan di luar mereka adalah salah.

ULIL: Lantas, sejak kapan Anda mulai merasakan hal-hal yang Anda anggap janggal tadi itu?

DEE: Pada mulanya saya memulai perenungan itu dari cinta. Semuanya bermula dari konsep cinta. Kebetulan saja konsep cinta atau kasih sangat kuat dalam doktrin agama saya. Tapi kemudian saya mempelajari lebih dalam lagi. Saya melihat banyak orang yang melandaskan hubungan mereka atas dasar cinta, dan ketika cinta sedang mekar-mekarnya, sepertinya segalanya bisa terobati. Tapi di saat yang sama, cinta itu juga sangat mudah berbalik menjadi racun. Saya bingung melihat fenomena itu; kenapa bisa begitu? Cinta yang tadinya begitu menyegarkan, di satu titik justru bisa mematikan.

Dualitas semacam itu saya perhatikan juga dalam pengertian kita tentang Tuhan. Jadi ada Tuhan dan ada setan. Hanya saja, setan juga diciptakan oleh Tuhan. Bagi saya, ada hal yang tidak masuk dalam otak saya dalam masalah ini. Saya bingung, kenapa bisa ada dikotomi semacam itu. Sepertinya, manusia selalu saja melihat segala sesuatu dari dualisme semacam itu. Jadi, hidup ini memang penuh paradoks. Di tengah kebingungan semacam itu, akhirnya pada penghujung tahun 1999, saya membaca sebuah buku yang termasuk international best-seller, berjudul The New Revelation: A Conversation with God karangan Neale Donald Walsch. Terus terang, buku itu membuka wawasan saya.

ULIL: Jadi fungsinya semacam pembuka kotak pandora?

DEE: Betul. Sebelumnya, saya juga sudah melakukakn perenungan-perenungan, bahkan sampai pada titik yang cukup ekstrim. Saya sempat berpikir, apakah dunia memang tercipta hitam-putih, atau jangan-jangan mata manusia saja yang melihatnya demikian, sementara Tuhan sendiri sebenarnya abu-abu. Hanya saja, ketika Dia dihampiri lebih dekat lagi, ada spektrum hitam dan putih.

Nah, begitulah kira-kira isi buku yang saya baca itu. Waktu itu, saya membelinya secara instingtif saja. Ketika itu saya sudah selesai kuliah, sebelum menyelesaikan novel Supernova yang pertama. Terus terang, saya menulis Supernova, (juga) karena tergerak setelah membaca buku Neale Danald Walsch tadi. Pada suatu malam saya merasakan semacam ekstase. Soalnya, apa yang terjadi pada Neale itu juga terjadi pada diri saya. Dari situ, saya merasa bisa berbincang-bincang dengan Tuhan dengan begitu dekat, tidak ada jarak. Dan, hidup ini sepertinya adalah doa. Jadi tidak ada yang tidak tergenggam dalam tangan Tuhan. Dari situ saya merasa bahwa sebetulnya ekslusivitas dan kompartemen-kompartemen yang selama ini saya huni, sebetulnya adalah ilusi belaka.

ULIL: Dee, membaca beberapa kutipan novel Anda seakan membawa kita membaca sebuah risalah filsafat, bukan sebuah novel biasa. Saya ingin bertanya lebih jauh: selain buku The New Conversation: A Conversation With God, buku apa lagi yang membentuk cara pandang Anda terhadap agama?

DEE: Setelah saya membaca buku itu, saya seperti mengalami kehausan yang sangat-sangat. Berpangkal dari sana, saya lalu mulai mencari banyak buku-buku lainnya. Saking hausnya, saya bisa membaca tiga buku dalam satu hari. Waktu itu saya berusaha memahami semua agama. Tiba-tiba, saya malah tertarik untuk kembali lagi ke kompartemen-kompartemen tadi, tapi dari sudut pandang yang lain. Dulu saya memandangnya dari sudut pandang orang yang berada di dalam kompartemen itu (insider), sekarang saya berusaha mencari pendapat lain dengan memakai sudut pandang orang yang sudah keluar dari sebuah kotak (outsider).

ULIL: Anda dari awal bertipe suka merenung, tapi mengapa ketika kuliah di Universitas Katolik Parahyangan, Anda memilih jurusan hubungan internasional?

DEE: Sebetulnya, itu terjadi di zaman ketika saya belum mengenal jati diri. Saya cuma melihat namanya yang menarik untuk ukuran anak selepas SMA: hubungan internasional. Kalimat itu seolah-olah mengandung magic bagi anak SMA. Baru kemudian, ketika pertama masuk kuliah, saya sadar ternyata telah menjebakkan diri ke dalam sebuah cabang ilmu yang mempelajari persoalan politik.

ULIL: Bagaimana dengan pengalaman spritual-keagamaan Anda ketika itu?

DEE: Dari tahun 1993 sampai awal 1999, dan selama kuliah, sebenarnya tidak terjadi apa-apa. Tapi ada suatu momentum menarik ketika mama saya sudah meninggal. Kala itu saya pergi ke gereja di mana saya mendengar khotbah walau sambil terkantuk-kantuk. Waktu itu, saya merasa akan berdosa kalau keluar dan tidak mendengar khotbah. Tiba-tiba, setitik sinar matahari sore masuk ke dalam gereja. Seketika itu gereja menjadi kuning semua. Bagus banget! Sampai-sampai saya merasa kalau tidak melihat matahari itu, saya akan menyesal seumur hidup.

Akhirnya saya keluar, minggat dari khotbah, karena saya pengin sekali melihat sinar matahari itu. Karena banyak pepohonan, akhirnya saya tak dapat melihat sinarnya langsung. Saya lalu memutuskan untuk melarikan mobil, pergi megejar matahari itu sampai jauh sekali dari gereja. Saya terhenti di sebuah rel kereta api. Saya menyaksikan rupa matahari yang akan turun, timbul-tenggelam. Mungkin hanya sekejap, sekitar satu menit saja saya menikmati matahari yang saya kagumi itu. Tapi saya merasa bahwa, satu menit di rel kereta api itu jauh lebih berharga dari pada ibadah yang saya lakukan selama hidup saya.

ULIL: Anda seperti meninggalkan rumah Tuhan demi menuju ciptaan Tuhan?

DEE: Betul. Di situ saya melihat apa yang disebut keagungan Tuhan, kebesaran-Nya, dan lain sebagainya begitu masuk dan meresap dalam jiwa saya selama satu menit saja, dibandingkan bertahun-tahun saya melakukan ibadah tanpa tahu saya sebenarnya sedang berbuat apa. Saya tidak mengerti tujuannya apa. Saya hanya merasa seperti robot yang disuruh-suruh ke sini-ke situ tanpa adanya inner motivation yang lahir langsung dari sisi dalam diri saya.

ULIL: Anda telah memutuskan untuk meninggalkan khotbah gereja demi melihat keagungan Tuhan dari sisi yang lain. Setelah melihat keagungan Tuhan yang sangat spketakuler itu, bagaimana jadinya perkembangan dan pertumbuhan iman Anda, khususnya dalam menjalankan kehidupan sebagai seorang Kristen?

DEE: Sekarang saya melihat iman Nasrani saya dalam arti yang sangat luas. Mungkin, saya sudah tidak tertarik lagi ketika melihat suatu agama dengan aturan-aturan fisiknya saja. Terus terang, saya tidak lagi suka ke gereja, tapi saya masih suka membaca Bibel. Sekarang saya melihat agama sebagai property pribadi. Saya juga sudah menganggap segala hal adalah ritual, segala hal adalah ibadah. Saya menganggap semua hidup saya adalah ibadah, termasuk menulis Supernova. Kalau ada yang mengganggap menulis buku adalah hobi, bagi saya itu bukan lagi sekedar hobi. Bagi saya, itu adalah suatu kebutuhan. Menulis bagi saya adalah kegiatan yang sangat ritualistik. Ketenangan yang saya dapatkan darinya tidak bisa saya bandingkan dengan apapun.

ULIL: Dee, tadi Anda bercerita kalau belajar banyak agama. Apa yang Anda temukan setelah bertandang dan mengelana melihat banyak agama?

DEE: Misi saya ketika itu adalah untuk mencari benang merah agama-agama. Jadi, saya menyisihkan segala perbedaan, dan langsung berusaha menemukan esensi dari agama-agama yang saya pelajari. Saya merasa takjub, ternyata semuanya sama secara makrifat. Secara syariat memang berlainan, dan itu menurut saya memang karena sudah adanya pengaruh kebudayaan setempat.

Ketika misalnya Islam diturunkan di jazirah Arab, tak ayal lagi pasti ada pengaruh budaya setempat yang masuk dalam aturan main-aturan mainnya. Demikian juga dengan Kristen, Hindu, Budha, dan lain sebagainya. Tetapi ketika kita menceburkan diri dan tenggelam lebih dalam lagi ke relung-relung semua agama, disitulah kita baru akan menemukan suatu kubangan besar di mana semuanya menjadi larut, semua menjadi sama.

ULIL: Setelah Anda menemukan kenyataan bahwa (esensi) semua agama adalah sama, apa yang lantas Anda rasakan; apakah Anda merasa bahwa menjadi Kristen tidak lagi bermakna?

DEE: Justru sama sekali lain. Yang saya rasakan adalah penghargaan pada baju-baju yang kita kenakan. Hanya saja saya juga sadar bahwa di balik baju itu ada satu wadah yang sama. Dan, di situlah saya merasa bahwa pertengkaran mengenai agama menjadi sangat konyol. Sebab, di situ kita justru bertengkar mengenai effect, bukan cause. Kita mempertengkarkan akibat, bukan sebabnya.

ULIL: Anda tadi menyentil soal baju-baju yang dipertengkarkan banyak orang. Anda juga telah mengelana di berbagai agama. Pertanyaan saya, siapa figur tokoh agama atau orang bijak yang Anda kagumi?

DEE: Yang membuat saya paling terkesan sebenarnya Khrisna Murti, karena dia juga orang yang melepaskan diri dari denominasi. Saya juga mengagumi Kahlil Gibran, dan juga Paramhansa Yogananda.

ULIL: Tampaknya agama Hindu sangat memikat anda. Ini terlihat dari pemakaian simbol Omkara dalam novel sampul buku Supernova Dua. Itu permintaan Anda?

DEE: Ya, itu memang permintaan saya. Tapi sebenarnya saya tidak melihat Hindunya pada saat itu. Waktu itu, saya pernah membaca salah satu penelitian sains. Dari situ, kata “om” resonansianya berkaitan erat dengan sebuah kelenjar dalam otak kita yang menurut para saintis berfungsi seperti konektor antara kita dengan Tuhan. Jadi “om” bisa mengaktivasi kelenjar tersebut. Di sinilah saya melihat adanya universalisme simbol; bahwa “om” sebetulnya tidak bisa diklaim oleh agama apapun, karena dia merupakan suatu fenomena universal.

ULIL: Apa perasaan Anda ketika diprotes Forum Intelektual Muda Hindu Dharma (FIMHD) di Bali karena Anda menyantumkan simbol Omkara/Aum yang merupakan aksara suci Brahman Tuhan yang Maha Esa dalam agama Hindu di cover novel Anda?

DEE: Itu merupakan pengalaman yang sangat berharga. Saya menjadi tahu, memang ada level-level dalam kesadaran keberagamaan yang tidak bisa dihindari. Bahwa level-level kesadaran itu memang terjadi dan ada. Bagi kalangan yang mungkin belum sampai memahami bahwa kita ini wadah yang satu, mereka akan sulit untuk menerima pengakuan bahwa “Om” itu bukan milik dia saja.

ULIL: Ada pendapat mengatakan bahwa sebenarnya Tuhan tidak membeda-bedakan agama. Yang penting bagi Tuhan adalah perberbuatan baik manusia terhadap sesama. Bagaimana konsep surga dan neraka dalam pandangan Anda?

DEE: Menurut saya, surga dan neraka sudah kita ciptakan di dunia ini. Ada orang yang menciptakan surga di dalam kehidupannya, dan ada yang malah menciptakan neraka bagi dirinya dan orang lain. Kalau ada pejabat yang korup sementara masyarakatnya menderita, berarti dia sedang menciptakan neraka. Menurut saya, jika kita justru menjauhkan surga dan neraka dengan menjadikannya sebagai tujuan yang baru akan kita capai setelah mati, sesungguhnya kita telah banyak menggabaikan hal-hal penting yang mestinya harus sudah kita ciptakan dalam hidup ini.

ULIL: Apakah Anda sedang menggemakan pemikiran Calvin?

DEE: Barangkali begitu. Menurut saya, yang nyata ada adalah jiwa yang tersesat dan jiwa yang menemukan rumahnya kembali. Mungkin, apa yang oleh pengertian umum disebut neraka, manifestasinya ada dalam jiwa yang tersesat, yang ketika meninggal dia belum tahu jati dirinya siapa: apakah dia bagian dari Sang Pencipta atau bukan. Dan soal Tuhan mungkin tidak akan menghukum, saya sebenarnya sependapat.

Bagi saya, hakikat menjadi manusia adalah bagaimana mampu menemukan jati diri sendiri dan memiliki manfaat secara horisontal bagi kehidupan sosial, serta memiliki hubungan yang baik secara vertikal dengan Sang Pencipta. Semua itu sudah terlepas dari agama (beyond religion). Agama itu kan bersifat institusional.

Kadang-kadang, orang-orang yang kita sebut menganut animisme, dinamisme, bahkan ateisme sekalipun, bukan serta merta menjadikan orang yang tidak bermoral. Orang Indian yang punya tradisi meminta izin dulu sebelum memetik setangkai daun, bisa jadi lebih beradab dari mereka yang doyan ngebohongin rakyat. [www.blogberita.com]

Artikel terkait topik ini:


  1. CY

    Prematur atau tidak, insidentil atau bukan, mari kita serahkan pada waktu yg menilai. Pandangan saya, walaupun sesuatu itu terkesan prematur atau insidentil dimata manusia, tapi bagi Tuhan kan belum tentu prematur. Jadi semua itu relatif.

    Ganti kemasan? menurut saya (mungkin juga menurut Dee) agama Buddha dipilih Dee krn tidak mengklaim bahwa bisa masuk surga, jadi surga dan neraka semata2 berdasarkan karma dari perbuatan2 manusia. Intinya, bukan surga yg dituju tapi pembelajaran menuju kesempurnaan roh yg di tempuh pada tiap reinkarnasi sampai terbebas sama sekali dari belitan karma. :D

  2. Marudut R. Napitupulu

    @Suhunan Situmorang dan Paulin Wijaya

    Saya tidak melihat relevansi waktu terhadap perubahan keyakinan sesorang menciptakan ukuran baik tidak baik, layak tidak layak, benar tidak benar. Saya sependapat dengan CY. Tidak ada ukuran manusia untuk itu. Mohon penjelasan Amang Suhunan. Santabi dan Mauliate Parjolo (Terimakasih)

    @ Halak hita :
    kutipan aslinya dari:
    http://media.isnet.org/sufi/Mello/Burung/index.html
    107. JESUS MENONTON PERTANDINGAN SEPAKBOLA

    Jesus Kristus berkata bahwa Ia belum pernah menyaksikan pertandingan sepakbola. Maka kami, aku dan teman-temanku, mengajakNya menonton. Sebuah pertandingan sengit berlangsung antara kesebelasan Protestan dan kesebelasan Katolik. Kesebelasan Katolik memasukkan bola terlebih dahulu. Jesus bersorak gembira dan melemparkan topinya tinggi-tinggi. Lalu ganti kesebelasan Protestan yang mencetak goal. Dan Jesus bersorak gembira serta melemparkan topinya tinggi-tinggi lagi.

    Hal ini rupanya membingungkan orang yang duduk di belakang kami. Orang itu menepuk pundak Jesus dan bertanya: ‘Saudara berteriak untuk pihak yang mana?’

    ‘Saya?’ jawab Jesus, yang rupanya saat itu sedang terpesona oleh permainan itu. ‘Oh, saya tidak bersorak bagi salah satu pihak, Saya hanya senang menikmati permainan ini.’

    Penanya itu berpaling kepada temannya dan mencemooh Jesus: ‘Ateis!’

    Sewaktu pulang, Jesus kami beritahu tentang situasi agama di dunia dewasa ini. ‘Orang-orang beragama itu aneh, Tuhan,’ kata kami. ‘Mereka selalu mengira, bahwa Allah ada di pihak mereka dan melawan orang-orang yang ada di pihak lain.’

    Jesus mengangguk setuju. ‘Itulah sebabnya Aku tidak mendukung agama; Aku mendukung orang-orangnya,’ katanya. ‘Orang lebih penting daripada agama. Manusia lebih penting daripada hari Sabat.’

    ‘Tuhan, berhati-hatilah dengan kata-kataMu,’ kata salah seorang di antara kami dengan was-was. ‘Engkau pernah disalibkan karena mengucapkan kata-kata serupa itu.’

    ‘Ya — dan justru hal itu dilakukan oleh orang-orang beragama,’ kata Jesus sambil tersenyum kecewa. (Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ, Yayasan Cipta Loka Caraka, Cetakan 7, 1994)

    BATAK NEWS: wah, luar biasa kisah ini. sungguh menyintil. yang begini ini yang perlu dibaca si maniak agama.

  3. muh andre raberta

    kagum………. pertama saya baca buku novel supernova (akar) saya pernah mengirim email kepada dee, walau tak pernah di balas,.. perjalanan pencarian akan siapa jati diri ini lah. yang perlahan membukakan tabir rahasianya.., zaman dulu pun di sejarah perkembangan islam di indonesia kita mengenal syekh siti jenar yang akhirnya di skenariokan mati dibunuh oleh wali songo, ada juga Al hallaj, dan beberapa manusia yang dengan ketidak berdayaannya serta berada dalam proses penyerahan tertinggi pada Tuhan.., hingga terakuinya bahwa dialah Tuhan.,

    siti jenar dan al hallaj tidak sama dengan firaun yang mengaku dirinya tuhan.. firaun dengan kepengecutannya, sementara siti jenar dengan kepasrahan dan penyerahan yang dalam pada tuhan penggenggam semesta hanya sedikit yang akan kembali padaKu, merekalah yang sepanjang perjalanan hidupnya terus mencari dan mecari jawaban atas pertanyaan.., Siapa hakikatnya Diri Ini… buat Deee, teruslah menulis….

  4. @ Marudut R. Napitupulu (maaf agak panjang)

    Dalam komentar saya, secara eksplisit ada pengakuan saya: tercengang dan kagum pada Dee. Saya mengakuinya sebagai ‘bukan perempuan biasa.’ Mengapa kesimpulan saya sampai begitu? Barangkali saya keliru karena terlanjur mencitrakan orang-orang yg tergiur atau terseret memikirkan dan merenungkan soal-soal yg fundamental dan transendental seperti perbincangan Ulil dan Dee di atas, hanya terjadi dan ada di lingkungan yg tak begitu akrab dengan arus kultur pop, mode, fashion, entertain, dan sejumlah atribut yg melekat dalam diri manusia-manusia berbudaya kosmopolit.

    Dari pengamatan terhadap beberapa “responden”, kenal maupun tak kenal, termasuk penulis-penulis luar yg ada sedikit kutahu lewat karya mereka, orang-orang yg senantiasa gelisah karena terus memburu hakekat hidup-kehidupan, makna agama-Tuhan, lazimnya bukan orang-orang yang mendadak jadi perenung dan pemikir serius. Entahlah karena dibuat-buat atau karena secara materi tak punya kemampuan, umumnya mereka menarik jarak secara tegas dari sergapan kultur pop dan menegasi simbol-simbol modernisme yg ditampilkan dalam rupa materi–yg mereka sebut artifisial dan temporer itu.

    Dari perspektif itulah saya coba dekati dan pahami Dee–seorang perempuan Batak berwajah cantik dari Bandung (kota yg identik sebagai pembaharu dan “trendsetter” budaya pop macam fashion, musik, entertain, resto-bistro), sarjana hubungan internasional, penyanyi musik pop, penulis novel, tumbuh dan besar di lingkungan Protestanian yg terlanjur dicap pemberontak, agak liberal, aturan dan liturgisnya tak seketat Katolik, dan oleh sosiolog Max Weber disebut sebagai pendorong munculnya semangat kapitalisme.

    Berdasarkan ketercengangan dan decak kagum tersebut (terlepas dari pengaruh primordialisme bahwa ia seorang putri Batak Toba), saya coba ikuti karya tulisnya, melacak pendapat-pendapatnya–sebatas yang tersedia di media massa, termasuk wawancaranya dengan Ulil yg kemudian dimuat Batak News.

    Jujur, ketika ia nyatakan dirinya (meski malu-malu), suami, dan anaknya, sudah menjadi penganut dan dididik sesuai dengan ajaran Buddha, kembali saya tercengang! Bukan karena dengan konversi agamanya, sebagai sesama penganut Protestan, akan kehilangan seorang anggota! Terimakasih bila dipercaya, saya tak begitu tertarik membicarakan persentase penduduk negara atau dunia ini penganut Kristen/Katolik atau agama lain. Bagi saya, urusan mayoritas-minoritas, baik dalam agama maupun etnis, bukan soal angka belaka. Ada yg lebih penting di balik jumlah.

    Untuk apa, misalnya, warga Indonesia mayoritas adalah suku Batak tetapi perilaku kebanyakan manusianya brengsek dan senang menindas kaum minoritas? Apa artinya bangsa Jerman berpenduduk mayoritas Kristen-Protestan tetapi nyatanya bisa membunuh enam jutaan bangsa Jahudi? Apa tak menjijikkan melihat penguasa dan tentara bangsa Serbia yg mengaku Kristen Otodoks namun faktanya dengan enteng membantai dan memerkosa puluhan ribu Muslim Bosnia?

    Karenanya, saya tak tergoda menanggapi ketika teman-teman dan bahkan saudara-saudara dekat kasak-kusuk dan kecewa mengenai keputusan Dee menjadi Buddhis. Sama halnya ketika pesinetron Tamara Blezinsky, Lulu Tobing, dll, berpindah jadi Muslim menjelang kawin. Sebaliknya, saya pun tak tergiur mendengar si Anu sudah dibaptis, si Polan diam-diam jadi Kristen, di gereja Anu ada pendeta berstatus haji. Tak perlu pula saya kecewa atau menghujat bila ribuan atau jutaan Kristen mendadak minggat ke agama lain, sama tak pentingnya bila ratusan ribu atau sejuta penganut agama lain eksodus menuju Kristen.

    Yang membuat naluri dan nurani ke-manusia-an saya akan tercabik adalah bila perpindahan tersebut, “vice-versa”, karena dipaksa, diancam mati, sebagaimana yg terjadi di India tahun 1947; ketika kaum Muslim yg ingin mendirikan negara Pakistan memaksa, menjarah, memerkosa, membunuh, kaum Hindu, dan orang-orang Hindu India memaksa, menjarah, memerkosa, membunuh warga Muslim hingga korban jatuh jutaan orang di kedua belah pihak yg sesungguhnya bersaudara.

    Tetapi, sebagai figur publik plus boru Batak yg pernah membuatku tercengang dan kagum (karena pemikiran dan karyanya), ada keingintahuan untuk menilik alasan atau pemikiran yang mendorong Dee hingga memutuskan berubah keyakinan; namun bukan masalah ganti agamanya “an sich”. Setelah mendapatkan dari beberapa media (termasuk website JIL), menurut saya, pergolakan pemikiran yang dialaminya dalam rangka mencari Tuhan, tak sedahsyat yg dialami Ahmad Wahib, yg hingga wafatnya di usia muda, tetap Muslim.

    Mengapa saya ambil contoh Ahmad Wahib? Pertama, permenungan, pergumulan pikiran yang menggelisahkan jiwanya menyangkut agama dan Tuhan, kebetulan dibukukan dan muncul di masa kekuasaan Orde Baru yg amat represif terhadap segala diskursus berbau politik dan agama–sehingga sangat spesial dan karenanya mengesankan. Kedua, proses panjang pencariannya pada Tuhan, penafsirannya pada agama yg dianutnya hingga membuat dirinya diterjang kegelisahan yang berkepanjangan, terjadi di masa ketika jendela dunia belum seterbuka sekarang (belum ada internet), referensi buku-buku asing masih langka, dan pembicaraan (termasuk gugatan) terhadap agama dan Tuhan belum sebebas dan seterbuka sekarang.

    Dari latar yg serba terbatas seperti itu, ternyata seorang Ahmad Wahib, putra Madura yg kuliah di Yogja, diam-diam, telah memikirkan dan menuliskan hal-hal yg tak atau belum tersentuh pikiran orang-orang (Muslim) Indonesia kebanyakan dan juga penganut agama lain, utamanya Katolik, yg romo-romonya menjadi sahabat karib Wahib. (Bisa jadi banyak yg mengalami seperti yg dialami Wahib, tapi tak diketahui dan tak didokumentasikan).

    Tak cukup dituliskan di halaman blog ini, namun pertanyaan dan pencarian Wahib yg melelahkan, menyengsarakan, mengharukan, menyangkut Tuhan dan agama, bukan hasil picuan fenomena alam belaka dipadu tafsir sekelebat atas sikap-perilaku beragama orang-orang di sekitarnya–yg kemudian lantas mengubah persepsi, konsepsi, pencitraan, berikut peran dan fungsi Tuhan yg diyakininya. Menurutku pula, pergolakan dalam pikiran Wahib–menyangkut Islam dan Tuhan–yang amat meletihkan itu, justru kian menarik karena dirinya tetap Muslim. Proses pencariannya tak pernah berhenti, membuat pergumulan pikirannya tak terkesan simplistis dan hanya kegelisahan biasa yg jamak terjadi pada diri manusia lain.

    Sekali lagi, tanpa maksud meremehkan Dee, sebetulnya, di era pertumbuh-kembangan orang-orang seusianya, tak sulit lagi menemukan kaum muda yg berpikiran kritis dan “dahsyat” menyangkut agama dan Tuhan. Di masa sekarang, lebih “gila” lagi. Blog-blog penulis muda yg cukup sering saya jelajahi, bisa membuat perasaan minder sembari mendecakkan mulut karena terkagum-kagum atas kecerdasan, kekritisan, dan kelebatan pengetahuan mereka. Tapi, itu tadi, karena Dee telah menjadi sosok yg dikenal publik, hasil permenungan yg kemudian membuat dirinya memutuskan mengganti agama dan Tuhan yg sebelumnya diyakininya, menjadi sesuatu yg mengguncangkan dan perlu disebarkan ke publik.

    Sebetulnya, dalam komentar saya, tidak mengaitkan periode atau waktu “per se” terhadap perubahan keyakinan; memang, tentulah tak ada relevansinya. Bilapun pergolakan pikiran Dee saya bandingkan dengan Ahmad Wahib, sebetulnya untuk tak mengatakan: di tahun 60-an sampai awal 70-an, di mana akses ke sumber-sumber pengetahuan dan wacana sosio-religi masih amat terbatas, Wahib sudah lebih dulu menggumuli hal-hal yang di kemudian hari menggelisahkan Dee. Penilaianku mungkin subjektif, pergumulan Wahib jauh lebih manusiawi, durasinya lebih lama, lebih “dahsyat”, lebih menyengsarakan, tetapi toh dirinya tak harus mengganti keyakinan dan Tuhannya sesuai dengan idealisasi dan harapannya–dipicu oleh sebuah peristiwa alam.

    Lagi pula, dalam komentar saya, sama sekali tak disinggung ikhwal (ukuran) baik tidak baik, layak tidak layak, benar tidak benar, karena memang saya paling takut memasuki ranah tersebut. Keputusan Dee mengganti agama dan Tuhannya, tetap saya hormati (membuat lae Toga memberi pujian yang nyaris menjungkalkan diri saya karena merasa tersanjung). Yang saya komentari dari dasar peralihan Dee adalah: unsur atau peristiwa di sore hari itu, yg dalam sekejap bisa langsung mendekonstruksikan agama dan Tuhan yg sebelumnya diyakininya.

    Menurutku, alangkah prematurnya sebuah keputusan yg menurut saya amat sangat fundamental lahir dari sebuah fenomena alam–yg diyakininya karya Tuhan juga. Itu pun, andai tak dibeberkannya ke publik, tak ada perlunya dipikirkan.

  5. Ompu Matasopiak

    Bedah yg mantap tulang Situmorang! Sebenarnya akupun sudah mengerti maksud tulang dari tanggapan yg pertama. Masalahnya, ini menyangkut isi kepala dan hati Dee (baca = orang lain) yg kita sendiri tak akan pernah tahu sampai kapanpun, tetap misteri.

    Bisa jadi kejadian sore itu cuma pemicu, dan sesungguhnya Dee sudah bergumul bertahun² lamanya, menderita, terbeban, dan sebagainya seperti Ahmad Wahib. Mungkin kita merasa dengan gaya hidup Dee yg serba menyenangkan, kelebihan²nya, menjadi kurang pantas disebut ‘bergumul dan sengsara’.

    Atau bisa jadi juga benar seperti yg tulang bilang, ‘terkesan instant’, tapi tersinggung pulak nanti si Dee kita bilang kayak begitu. Aku yakin dia sudah cukup menderita ketika mewartakan kenyataan itu kepada org² yg begitu mengasihinya.

    Sama seperti inongku 10 tahun lalu bilang, “bahenma amang, dia ma na dumenggan diho, dalani ma”. Waktu itu aku memutuskan menggeluti musik, menolak kuliah, dan hidup mandiri tanpa kiriman uang apapun. Aku benar² hidup di jalanan, terhempas dari satu provinsi ke provinsi lain. Kendatipun beliau bilang, ‘bahenma amang…’, aku tahu beliau sangat kecewa, putus asa! Dan itu membuat hatiku tersayat perih 10 tahun berikutnya. Bukan karena apa yg telah kupilih, tapi karena aku tidak bisa membuat org yg kucintai sepaham dgn pemikiranku. Aku harus melihatnya nelangsa.

    Dibeberkan atau tidak dibeberkan, kurasa aku setuju dgn tulang Situmorang, tak ada perlunya dipikirkan!

    BATAK NEWS: makin lengkaplah kurasa blog ini; lae telah menambah daftar “orang-orang gila” di batak news. bahagia hatiku mendengar kisahmu, lae. aku merasa punya kawan [lagi] untuk bersinting-ria.

  6. gak berani komen :D jadi pembaca setia aja, apalagi isi komennya udah melebihi isi artikel. keren…

  7. mrlekig

    agama layaknya baju yg kita pakai, tujuannya sama yaitu untuk menutupi tubuh, boleh saja kita mengganti baju, tapi di hadapan Tuhan, semua baju tidak pengaruh, biarpun baju mahal, biarpun baju yg digunakan banyak orang, dll… Semua agama memiliki tujuan yang baik..

  8. Ali

    Bang Jarar, saya sudah lama melihat2 isi blog anda ini… Saya rasa isinya sangat bagus, penuh dengan toleransi ke-agamaan, dimana anda tidak berusaha menonjolkan salah satu agama. Karena menurut anda semua agama itu sama baiknya…

    Namun, saya sangat menyayangkan isi (dan mungkin tanggapan &pendapat anda) dari blog ini yang kelewat batas (menurut saya). Saya setuju kalau anda tidak menyukai orang2 yang terlalu berkutat dengan agama dan ibadah2nya. Dalam hal ini menurut anda mereka melakukan sesuatu yang berlebih-lebihan, berlebihan membela agama, berlebihan beribadah, dsb. (maaf ni kalau ada yang keliru).

    Tapi, kalau menurut saya, (saya cuma mau mengingatkan saja) anda juga sudah berlebihan dalam memandang mereka. Anda memanggil mereka dengan sebutan maniak agama, dsb. Mereka para maniak agama, yang berlebih2an dengan agamanya, tapi anda juga seperti mereka, terlalu berlebihan dalam mengekspresikan suatu “anti maniak agama”…

    Ada baiknya, jika kita melkukan semua itu dengan seimbang.. kita tidak sepenuhnya menyalahkan (atau anti) maniak agama, juga tidak sepenuhnya setuju dengan maniak agama… karena tidak satu hal pun di dunia ini yang mutlak benar dan mutlak salah.. semua punya kelebihan dan kekurangan. mungkin itu sedikit saran dari saya…. terus berkarya… For Better Indonesia.. Salam..

    BATAK NEWS: :) terima kasih, kawan. aku sangat suka komentarmu. aku ingin mengatakan bahwa istilah yang kubuat, “maniak agama”, bukanlah sesuatu yang aneh atau keterlaluan. engkau bilang, “anda juga sudah berlebihan dalam memandang mereka. anda memanggil mereka dengan sebutan maniak agama.”

    apanya atau di mana yang keterlaluan itu, kawanku? tidak ada. cobalah buka kamus besar bahasa indonesia [kbbi] yang resmi diterbitkan pemerintah kita. di situ kata “maniak” bermakna: orang yang tergila-gila/sangat suka dengan sesuatu.

    dan memang itulah yang kumaksud; mereka adalah orang yang tergila-gila pada agama. mereka sangat gemar membahas ayat-ayat, bahkan sampai mempertentangkannya dengan kitab suci agama lain, bahkan pula sering sampai menghujat nabi-nabi. bukankah orang-orang seperti ini memang masuk kategori maniak agama?

    sah-sah saja bila engkau, kawanku, berprinsip agar berlaku seimbang [tidak sepenuhnya anti-maniak agama dan tidak sepenuhnya setuju]. tapi kalau aku tidak, kawan. aku tidak bisa bersikap seimbang seperti itu — dalam istilahku bersikap “abu-abu”. dari dulu aku tidak setuju dengan mereka yang cuma pintar berkampanye agama.

    bahkan adik kandungku sendiri pun kudebat keras. aku punya seorang adik perempuan yang setiap saat membahas ayat-ayat kitab suci dengan siapapun yang dia temui. dan aku menentangnya. bagiku, agama bukan untuk “dipromosikan” apalagi diperdebatkan dengan agama lain. agama adalah “rambu-rambu” untuk diri kita sendiri agar melakukan kebajikan dan membantu sesama.

    kalau mungkin engkau akan bertanya apa yang telah kuperbuat secara nyata untuk sesama manusia, aku tidak akan menceritakannya satu persatu di sini. bacalah artikel-artikelku di blog ini, juga di blogku yang satu lagi, maka engkau akan menemukannya. maaf kawan, aku memang keras kepala, dan akan selamanya menyebut mereka “maniak agama” — kecuali kata “maniak” telah diralat/direvisi maknanya dalam kamus, barulah aku berhenti memakai istilah itu. :)

  9. Ompu Matasopiak

    @Ali

    Kurasa begini singkatnya, lae Jarar itu menganggap bukan disini tempatnya para ‘maniak agama’ itu. Para maniak agama itu ada, kita tak boleh menutup mata, dari semua agama, ada segelintir orang yg maniak terhadap agamanya! Maniak dalam pengertianku itu adalah ‘pintar secara teori’ dan ‘pintar berdebat’. Dalam hidup nyata, kebanyakan mereka malah menjengkelkan….!

  10. i luv Dee…. peace!

  11. Marudut R. Napitupulu

    @ Lae Situmorang
    3 kali aku baca baru aku bisa nangkap esensinya. Seperti kata lae Toga, sudah diskusi rupanya Lae denganNya. Dan respon lae, aku artikan sebagai salam hangat. Saya dapat menerima pendapat yang lae sampaikan dan bagiku suatu masukan untuk lebih lagi untuk berproses dalam suatu pencarian. Terimakasih. Salam Hormat.

  12. Ali

    hmm… Saya setuju dengan pendapat2 Bang Jarar sepenuhnya. Bahwa: “bagiku, agama bukan untuk “dipromosikan” apalagi diperdebatkan dengan agama lain. agama adalah “rambu-rambu” untuk diri kita sendiri agar melakukan kebajikan dan membantu sesama.”

    Dan saya rasa juga sah-sah saja kalau Bang Jarar tetap mau memakai istilah maniak. mungkin pembaca yang lain juga boleh memakai istilah itu juga.. Oya Bang, Kalau boleh saya menyimpulkan… berarti maniak agama yang Bang Jarar maksud adalah seseorang yang berusaha “mengusik” agama yang lain, dengan mengagung2kan agamanya sendiri. Lalu menurut Bang Jarar apa bedanya dengan dakwah atau “missionaris”? apakah cara yang cocok untuk mendakwahkan agama kita? menurut Bang Jarar… makasih.

    JARAR SIAHAAN: benar, itulah yang kumaksud dengan “maniak agama”. kawanku ali, aduh, pertanyaanmu yang terakhir akan kujawab dengan sangat aneh. akan aneh, tapi inilah pendapatku.

    bagiku, di zaman sekarang ini tidak perlu lagi kita berdakwah atau menjadi missionaris untuk mempromosikan agama dan merekrut umat baru. itu hanya cocok di zaman dahulu kala, saat manusia masih menyembah berhala. atau kalau mau berdakwah di zaman ini, jangan di kota-kota yang warganya sudah beragama, tapi berdakwalah ke pedalaman hutan di mana belum ada gereja atau masjid.

    ini zaman canggih, era komunikasi; informasi menyebar cepat; buku-buku agama dan kitab suci sangat mudah dibeli dari toko buku; gereja, masjid, vihara ada di mana-mana; jadi setiap orang bisa mencari, memilih, dan mempelajari agama yang dia sukai. intinya: tak perlu merekrut umat baru. biarkan setiap orang berpikir sendiri, dan memilih agamanya. sudahlah ya kawan, pendapatku ini akan makin aneh kalau kita panjang-panjangkan. salam damai untukmu, ali. TUHAN memberkati kita sekalian.

  13. Raja Enggang

    Saya hanya kepengen mengingatkan, bahwa Setan dan Iblis pun percaya pada Tuhan. Nah apakah pengalaman spiritual yang kita peroleh masing-masing selama hidup ini, betul-betul berasal dari Tuhan. Yang perlu dipertanyakan lebih dalam lagi bagi yang telah pernah mengalami pengalaman spiritual itu, yalah apakah ia telah bisa melakukan kebajikan-kebajikan yang memang harus dilakukan oleh dirinya sendiri. Misalnya : Apakah ia masih sering menipu diri sendirinya ? ( menipu diri sendiri inilah yang paling sering dilakukan kita manusia)

  14. @Marudut R. Napitupulu
    Thanks, lae sudah makin memperjelas tentang cerita dari buku Burung Berkicau. Dalam tulisan saya di kolom komentar ini, memang hanya mengangkat esensi dari cerita itu. Mauliate sudah memuat seperti aslinya. Aku sudah lama kehilangan buku itu, dan hanya sangat, sangat, sangat terkesan dengan cerita Yesus menonton sepak bola itu. Karena menurut aku, seperti itulah seharusnya kita manusia menyikapi hidup beragama. Bukan label agamanya yang terutama, tapi bagaimana kita bisa mengaplikasikan esensi ajaran Tuhan itu dalam kehidupan sehari-hari. Aku menyebut ajaran Tuhan, karena ajaran agama banyak buatan manusia dengan segala aturan dan peraturannya. Salut juga buat komitmen lae Jarar soal pandangannya terhadap agama. Horas ma.

  15. SMN

    Suara Yang Paling Indah (dikutip dari cetivasi). Dari buku “Opening the Door of Your Heart” Ajahn Brahm

    Seorang tua yang tidak berpendidikan berniat mengunjungi suatu kota besar untuk pertama kali dalam hidupnya. Dia dibesarkan disebuah dusun terpencil, bekerja keras membesarkan anak -anaknya dan sekarang menikmati kunjungan pertamanya ke rumah anaknya yang modern. Suatu hari, sewaktu berjalan-jalan seputar kota, si orang tua mendengar suara yang menyakitkan telinga. Belum pernah dia mendengar suara yang begitu tidak enak didengar di dusunnya yang sepi dan dia bersikeras mencari sumber bunyi tersebut.

    Mengikuti arah suara yang menggangu itu ke sumbernya, dia melihat sebuah ruangan di dalam sebuah rumah, di mana terdapat seorang anak kecil sedang belajar bermain biola. “Ngiiiik! Ngoook!” berasal dari nada sumbang biola tersebut. Saat dia mengetahui dari putranya bahwa itulah yang dinamakan “biola”, dia berpikir bahwa dia tidak akan pernah mau lagi mendengar suara yang mengerikan tersebut.

    Hari berikutnya, di bagian lain kota tersebut, si orang tua ini kembali mendengar sebuah suara yang mendayu-dayu membelai-belai telinga tuanya. Dia tidak pernah mendengar melodi yang begitu indah di dusunnya, diapun mencoba mencari sumber suara tersebut. Sampai ke sumbernya, dia melihat sebuah ruangan depan sebuah rumah, di mana seorang wanita tua, seorang maestro, sedang memainkan sonata dengan biolanya.

    Seketika, si orang tua ini menyadari kesalahannya. Suara tidak mengenakkan telinga yang didengarnya dulu bukanlah merupakan kesalahan dari sang biola, bukan pula salah sang anak. Itu hanyalah proses belajar seorang anak untuk bisa memainkan biolanya dengan baik.

    Dari pemikirannya yang sederhana muncullah sebuah kebijaksanaan, si orang tua mulai berpikir demikian pula halnya dengan agama. Sewaktu menemukan seseorang religius yang “bersemangat” (baca: fanatik) terhadap kepercayaannya, tidaklah benar untuk menyalahkan agamanya. Itu hanyalah proses belajar sang pemula untuk bisa “memainkan” agamanya dengan baik.

    Sewaktu kita bertemu dengan seorang suci, seorang maestro agamanya, merupakan sebuah penemuan indah yang memberi inspirasi kepada kita untuk bertahun-tahun, apapun agama mereka. Namun ini bukanlah akhir dari cerita.

    Hari ketiga, di bagian lain dari kota tersebut, si orang tua mendengar sebuah suara lain yang bahkan melebihi keindahan dan kejernihan suara sang maestro biola. Menurut anda, suara apakah itu? Melebihi indahnya suara aliran air pegunungan, melebihi indahnya suara angin di musim gugur di sebuah hutan, melebihi suara burung-burung pegunungan yang bernyanyi setelah hujan lebat. Bahkan melebihi keindahan keheningan pegunungan yang damai di musim salju pada malam hari. Suara apakah yang telah menggerakkan hati si orang tua melebihi apapun itu?

    Itulah suara sebuah orkestra besar yang memainkan sebuah simfoni. Bagi si orang tua, alasan mengapa itulah suara terindah di dunia adalah, pertama, seluruh anggota orkestra merupakan maestro alat musiknya masing-masing; dan kedua, mereka telah belajar lebih jauh lagi untuk bisa bermain bersama-sama dalam harmoni. “Mungkin ini sama dengan agama,” si orang tua berpikir.

    “Marilah kita semua belajar dari pelajaran-pelajaran kehidupan dalam inti kesejukkan kepercayaan kita masing-masing. Marilah kita semua menjadi maestro dalam cinta kasih di dalam agama masing-masing. Lalu, setelah mempelajari agama kita dengan baik, lebih jauh lagi, mari kita belajar untuk bermain seperti halnya anggota sebuah orkestra, bersama-sama dengan agama lain, dalam sebuah harmoni!” Itulah suara yang paling indah.

  16. Bryan

    semua agama pasti punya nilai kebenaran masing2 sesuai iman yang dianut dlam agamanya…

    yg terpenting iman bukanlah logika, namun logika tanpa iman ga kan jalan….

    pikiran manusia tu terbatas n terlalu sempit utk memikirkan mengenai kebenaran TUHAN, setiap org beda persepsi n pendapat…

    yg jelas jgn sampai terperosok dlm jurang logika…. that’s dangerous, very very dangerous…
    anda bisa kehilangan makna diri anda di dunia….

    GBU

  17. rino

    “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku” (QS Al Kafiruun:6)

    “Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka dengan kebohongannya benar-benar mengatakan “Allah beranak.” Dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta”. (QS Ash Shaaffaat151-152)

    Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara. QS An Nisaa’:171

    “yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia TIDAK MEMPUNYAI ANAK, dan tidak ada sekutu bagiNya dalam kekuasaan(Nya), dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya” QS Al Furqaan:2

    “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”. QS Al Maidah:3