Film Murahan: Gue Tahu Pasta Gigi Lo Apa

[lajessca hatebe; batak news; keresahan seorang penulis skenario]

Perfilman kita sudah lama tak bergairah. Sinetron-sinetron di tivi, apalagi, ikut menambah deretan karya tak bermutu. Baginya, baru Nagabonar yang pantas disebut film bermutu.

Artikel ini kuterima lewat imel bataknews [at] gmail [dot] com kemarin. Ditulis oleh Lajessca Hatebe, nama samaran seorang penulis naskah film yang bekerja di sebuah stasiun tivi swasta di Jakarta. Perbincangan kami lewat imel cukup menyenangkan. Dia bercerita tentang dirinya, familinya, dan menyebut beberapa nama orang dan lokasi yang sudah kukenal dengan baik. Dia sudah menulis sejumlah skenario sinetron. Dia mengaku tertarik menulis di Batak News karena menurutnya blog ini sangat bagus.

USAI MAKAN SIANG. Berteduh di depan lobby kantor seraya menyulut sebatang rokok-ismeku, saya bertemu dengan seorang ilustrator musik sinetron/film. Perbincangan tentu saja sekitar produksi film di negeri ini. Ada pemikiran sumbang yang terurai dalam dialog sesaat. “Kok, sineas negeri ini gak mau belajar gimana konsep pra produksi film Hollywood, ya?”

Pertanyaan itu wajar terlontarkan dalam perbincangan kami siang itu. Bukan ingin mau sok idealis, tapi gimana agar film negeri ini sedikit punya greget di kancah perfilman sejagad. Bukan cuma jago kandang yang juga sering dimaki anak negeri. Belum lagi para rekan sineas yang masih setia pada pakem produksi film tahun 70-an, mulai gelisah melihat perkembangan film negeri dewasa ini. Mungkin, karena belakangan dari infotainment atau dari mulut sineas itu sendiri terucap pernyataan yang membuat telinga kaget dan sontak menggetarkar hati: “Si Anu bikin film berjudul… cuma seminggu… Si Bunu malah cuma sekian hari dengan low budget….”

“Eh, bikin film ato sinetron di negeri ini kan gampang. Punya koneksi dan pintar jual omongan, jadilah kau sutradara, penulis skenario, cameraman atau yang lainnya,” ujar si teman editor yang juga nimbrung dalam pembicaraan.

Aku jadi teringat pada teman-teman yang alih profesi di dunia perfilman negeri ini. Tadinya si teman itu cuma script lapangan, ujug-ujug sudah jadi penulis skenario. Tadinya si teman yang lain cuma seorang art atau penata lampu, ujug-ujug sudah jadi sutradara.

“Tuh! Benarkan! Bikin film di negeri ini gampang baget,” sambar rekan si Ilustrator musik, seraya tersenyum menunjukkan giginya yang kurang rapi.

“Enak, ya, di negeri ini jadi orang sineas,” timpal seorang penulis skenario yang nyeniman (seniman) banget dengan rambut gondrong dan berpakaian rada urakan. Teman ini sudah agak berumur. Jadi, jarang dapat job dari produser karena dianggap terlalu idealis. Padahal, ide-idenya banyak yang brilian. Bahkan ketika zaman film layar lebar berjaya, beliau ini sudah pernah dapat piala Citra sebagai penulis skenario terbaik. Tapi, yang begini-gini malah sering ditakuti para produser yang cuma berpikir kapitalis. Belumlah saya pernah bertemu dengan seorang produser film yang yang menomor-duakan profit. Makanya anak negeri ini belum bisa dikategorikan sebagai penonton yang apresiasif.

“Gue juga bingung nih…,” sambar saya tidak ingin membiarkan pikiran terlena dalam kebodohan mikirin para produser yang gak punya atensi apa-apa pada pesan moral untuk anak negeri ini. “Tidak punya kedalaman bisa menghasilkan sinetron rating, yang menjadi dipertuan agung oleh stasiun TV dan pemasang iklan…”

“Itulah film negeri kita,” teman si Ilustrator musik, juga kurang semangat. Karena dia sendiri tidak pernah merasa tertantang untuk bikin ilustrasi musik film atau sinetron. Pasalnya, semua diatur oleh produser. Musiknya harus banyak berbunyi, jreng… jreng… jreng… lalu gambar terlihat zoom in-zoom out dengan cepat, tidak jelas apa maksudnya selain bikin mata sakit. Atau, kadang gambar di-slow motion seakan ketegangan bisa tercipta di sana. Padahal, untuk penekanan emosi mimik tidaklah harus gitu-gitu amat.

Wajar saja teman si Ilustrator itu gak mood-mood banget bikin ilustrasi musik sinetron/filmnya. Entah apa enaknya itu di kuping para produser berazas kapitalisme itu, selain meniru-niru ala film dari negeri Shahrul Khan. Padahal, ilustrasi musik sangat berperan penting dalam membangun suasana dan emosi sebuah gambar film. Tidak asal jreeennngg…!

Saat nulis artikel ini pikiran saya memang lagi males mikirin kerjaan kantor. Tiba-tiba intra-mail komputerku kasih tahu ada imel yang masuk. Aku lihat pengirimnya, Rila, si sekretaris boss yang lumayan cantik. Saya baca imel Rila: “Buat rekan-rekan tim kreatif dan produksi, kalo mo ikut nonton bareng di PIM (Pondok Indah Mall), bisa ambil tiket di Rila…” Saya langsung ke tempat Rila dan menanyakan film apa? “Love Is Cinta, pak,” sahut Rila antusias. Karena setiap ada nonton bareng dari kantor, ujung-ujungnya usai nonton, sang Boss suka ngajak makan bareng juga sambil minta pendapat tentang film yang baru ditonton.

Sebenarnya, males juga saya ikut. Bukan apa-apa. Saya belom melihat ada film negeri ini yang layak ditonton, kecuali Nagabonar 2, yang lumayan bagus digarap lae kita si Deddy Mizwar. Tapi karena tiket udah keburu dibeli dan “anak-anak” editor pada ogah ikut, saya terpaksa ikutan. Belum lagi saya kurang mood nulis cerita film yang dipesan teman. Padahal, di otak udah ketemu basic story yang aku anggap sangat menarik untuk diangkat ke layar lebar.

Usai nonton, untung boss ngajak makan bakmi (ndak usah kale, ye, nyebutin nama restorannya, soalnya kagak dibayar iklan), hatiku mangkel sudah. Gimana tidak kesal melihat film kacangan begitu. Mosok sepanjang film cuma teriak-teriak dan nangis doang. Kalo sedih masih lumayan. Ini malah nyebalin. Udah gitu, dialog-dialognya banyak yang garing dan pengulangan yang tidak berarti. Mungkin pembuatnya akan berdalih “penekanan emosi” Dan yang bikin saya makin e’nek ada dialog si cowok bilang: “Gue tahu odol lo apa…! Gue tahu pasta gigi lo apa…!” Lho? Emangnya odol sama pasta gigi ndak sodaraan ape?

Kalo gak sedikit terpaksa dari kantor, males banget deh mo nonton tuh film. Tapi ada hikmahnya juga sih datang nonton ke PIM untuk lihat film kacangan itu. Syukur banget penontonnya ndak ada. Ini berarti bahwa penonton negeri kita ini sudah menuju ke tahap penonton yang apresiasif. Tidak mau menonton film yang oleh teman-teman yang punya milis tentang film negeri ini di internet dikasih simbol 5 kancut alias 5 celana dalam.

Pikiran saya kontan teringat ujar-ujar seorang sutradara besar negeri, masih orang kita Batak, yang bilang: “Emangnya bikin film itu gampang?” [www.blogberita.com]

Artikel Lajessca Hatebe sebelumnya:

Tentang Jarar Siahaan

Jarar Siahaan adalah Pemimpin Redaksi Koran Tapanuli, tinggal di Balige, Kabupaten Toba Samosir. Ikuti pendapatnya tentang menulis dan bahasa di facebook.com/menuliskalimat atau situs Menulis Kalimat.
Entri ini ditulis dalam Artikel, Hiburan, Indonesia, Opini. Buat penanda ke permalink.

24 Respon untuk Film Murahan: Gue Tahu Pasta Gigi Lo Apa

  1. Nina Rialita Ginting berkata:

    Saat pertama kali aku melihat layar lebar Ada Apa dengan Cinta, jujur dalam hati aku ngerasa, sepertinya film Indonesia mulai bangkit. Namun begitu film-film Daun di atas Bantal yang semakin membuat aku yakin film kita hidup, film-film seperti Eifel I’am in love, and bla-bla…, perutku mual dan drop langsung. Mungkin sebagian ngerasa kalau AADC itu nggak jauh beda. Tapi aku merasa film ini beda. Yah pendapat pribadi mungkin. Yang paling buat aku palak adalah melihat sinetron remaja kali ini. Ampun, ntah apa-apa yang ingin disajikan dalam alur ceritanya. Hanya membuat remaja memaknai hidup dan kecantikan salah kaprah. Satu-satunya sinetron yang lumayan buat aku mau nonton di depan TV cuma satu. Santri gaul. Mudah-mudahan ceritanya nggak ngalor ngidul.

    SEbenarnya aku pernah ketemu art director film Indonesia di Medan beberapa waktu lalu, namany Glenn Matindas yang ikut nimbrung di Janji Joni. Beliau memang ngakui kalau film Indonesia sudah benar-benar salah kaprah. Begitu juga para artis sekarang yang gampang banget jadi aktris atau aktor. Baginya pemain film yang unik itu cuma dua yakni Christine Hakim dan Benyamin S. Nah sineas saat ini yang membentuk pemain film muda beranggapan kalau punya wajah cantik dan ganteng itu cukup. Glen bahkan bilang nggak habis pikir ada sinetron yang pemeran sebagai ibu adalah Della Puspita dan anaknya si Dude Herlino. “Benar-benar salah kaprah, padahal yang dibutuhkan itu karakter. Bukan hanya saya tapi mungkin seluruh orang bilang Benyamin itu nggak ganteng, tapi lihat aktingnya. Atau pemeran pembantu di Pengantin Remaja yang jadi guru, jauh dari cantik tapi lihat berapa sinetron yang dibintanginya, walau pemeran pembantu tapi dia punya karakter yang bagus banget,” ujarnya.

    Makanya kondisi yang sudah salah kaprah ini kata Glen dijadikan makanan untuk agen-agen model. “Bisa-bisanya mau jadi artis aja koq malah bayar. La yang jadi artis karbitan. Pdahal bagi saya kalau mau jadi aktris bagus ya sekolah akting. Ini belum jadi artis beneran dah merasa puas dan nggak mau belajar. Seorang David Bechkam aja latihan terus karena memang hidupnya di situ, kondisinya sama dengan para aktris dan aktor, yang muda harus mau belajar.”

  2. Raja P Simbolon berkata:

    Aku sebenarnya nggak gitu senang nonton, karena aku tahu, di sekitar orang-orang yang sedang berakting itu, ada segerombolan orang lain yang tak tampak, seperti sutradara, kameraman, pencatat adegan, dan lain-lain. Makanya, kalau istriku lagi nonton sinetron ‘naloakon’ itu, langsung hilang soornya aku buat. Aku bilang saja…., “Kok mau kau dibodoh-bodohi. Orang di sinetron itu nangis-nangis kan karena diarahkan sutradaranya yang nggak kelihatan.”
    Tapi aku bukan benar-benar nggak suka nonton. Aku justeru suka nonton film yang aneh-aneh seperti Spiderman, The Days After Tomorrow, Armageddon, Kingkong, dan lain-lain. Soalnya aku kagum dengan cara pembuatan film itu.
    Sinetron memang membuat pikiran para wanita Indonesia yang kebanyakan sempit, makin sempit lagi. Pernah namboruku pas masuk ke ruang TV langsung melihat adegan Titanic saat-saat mau tenggelam. Aku langsung bilang, itu siaran langsung sebuah kapal laut yang sedang tenggelam dan nggak bisa diselamatkan. Dia langsung histeris…, “Amang oi.. di dia on. Amang… si ni roha i… nga mardabuan be jolma i. Na boha nangkin i gabe balik kapal i.” Dasar keseringan nonton sinetron, jadinya nggak tahu kalau teknologi film sudah begitu canggih. Bukan kayak sinetron, cuma cakap-cakap aja…

  3. Z@bRin3... berkata:

    bisakah anda beri tahu bahasa yang digunakan pada jaman dahulu

  4. Ping-balik: Gaji wah, karya bah » Jarar Siahaan » BlogBerita.Net

Komentar ditutup.