[alvin nasution; batak news; wawancara hadi utomo di simalungun]
Soal “pernikahan” Presiden SBY, calon Gubernur Sumut, dan gerombolan wartawan meminta uang.
Artikel berbentuk berita berikut ini ditulis oleh Alvin Nasution, seorang wartawan suratkabar harian di Pematang Siantar, Sumut, dan dikirimkan ke imel bataknews [at] gmail [dot] com kemarin malam.
DUA HARI TERAKHIR aku kerja ekstra karena bos Partai Demokrat (PD), Hadi Utomo, datang ke Kabupaten Simalungun. Hadi datang bersama Palar Nainggolan, Maruahal Silalahi, dan Tuani Lumban Tobing, beserta rombongan. Mereka disambut 2 ribuan warga Demokrat yang sudah ‘membiru’ di Lapangan Balai Murni, Perdagangan, akhir pekan lalu. Kedatangan Hadi Utomo cs adalah untuk mengukuhkan seorang wakil bupati duduk di MPC Partai Demokrat, yang sebelumnya adalah orang teras di PNBK.
Bagiku, karena aku reporter, kedatangan Hadi Utomo menarik. Setidaknya, pikirku, aku punya 3 pertanyaan untuk dijawabnya; tuduhan Zainal Maa’rif yang bilang SBY sudah menikah sebelum masuk Akmil, soal cagubsu dari Partai Demokrat dan sikap Partai Demokrat terhadap calon independen. Singkat cerita, aku bisa bertemu dengan Hadi Utomo di rumah John Hugo Silalahi. John Hugo adalah Ketua DPC Partai Demokrat Simalungun.
Nah, melihat kesempatan terbuka, usai makan siang, aku keluarkan tape recorder dan mulailah wawancara. Tapi sebelumnya, aku harus melewati beberapa pengawal. Beruntung saja salah seorang pengawal lokal adalah temanku. Hadi Utomo bilang, tuduhan Zainal Maa’rif adalah penghancuran karakter seseorang. Apalagi tuduhan itu dialamatkan kepada seorang presiden, orang nomor satu di negeri ini.
“Zainal adalah wakil ketua DPR yang direcall partainya, FBR. Namun untuk proses pengganti antar waktu (PAW), harus ada keputusan dari presiden. Nah, Presiden SBY menyetujui dan mengeluarkan SK terhadap permintaan partai FBR. Setelah itu Zainal melakukan fitnah terhadap Presiden,” kata Hadi Utomo.
Atas dasar itu, kata Hadi Utomo, Presiden akan melakukan tuntutan terhadap tuduhan Zainal, dan memang sudah dilakukan SBY dengan membuat laporan kepada polisi. “Indonesia negara hukum. Di negara ini tidak boleh asal ngomong tanpa ada bukti nyata. Itu sama dengan menghancurkan nama baik. Dan Partai Demokrat tidak berkenan dengan pernyataan Zainal Maa’rif,” tukas Hadi Utomo.
Soal cagubsu, Ketua Umum DPP Partai Demokrat ini mengatakan partainya belum menetapkan satu pun calon untuk berlaga pada pemilihan Gubernur Sumatera Utara yang bergulir 2008 mendatang. “Sampai sekarang Partai Demokrat masih melakukan penjaringan,” katanya.
Pernyataan ini setidaknya mementahkan anggapan sejumlah kalangan bahwa Partai Demokrat akan mengusung Ketua DPC Partai Demokrat Tapanuli Tengah, Tuani Lumban Tobing, yang berpasangan dengan Presiden Pujakesuma, Kasimsio untuk maju dipemilihan Gubernur Sumatera Utara.
Sedangkan soal sikap Partai Demokrat tentang keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menetapkan calon independen untuk berlaga pada pemilihan kepada daerah, Hadi Utomo memang sedikit gusar. “Saya selalu perintahkan kepada jajaran Partai Demokrat agar menata diri lebih baik lagi supaya bisa bersaing dengan calon independen,” ujarnya.
Wawancara usai. Hadi Utomo akan bertolak ke Kota Perdagangan. Aku harus ikut karena mereka bayar aku untuk liputan society (iklan), dengan nebeng di mobil rombongan Partai Demokrat yang kebetulan milik temanku yang wartawan juga. Sampai di sana, Hadi Utomo cs disambut bagai pahlawan yang pulang perang dengan membawa kemenangan. Perdagangan membiru.
Singkatnya, acara seremoni berjalan satu per satu hingga akhirnya Hadi Utomo yang berpidato. Bagiku, ceramah itu tak terlalu penting lagi sebab aku sudah wawancarai dia sebelumnya. Jadi tape recorder aku taruh di moncong speaker yang nantinya kukutip sebagai pelengkap orderan society mereka.
Tapi tiba-tiba hujan turun. Sangat deras, diselingi angin kencang. Beruntung Hadi Utomo sudah selesai pidato bahkan sempat mendendangkan lagu ‘Anju au’ dengan istrinya. Tak berapa lama, rombongan meninggalkan Perdagangan yang diguyur hujan itu. Tapi sebelumnya, sempat bagi-bagi uang.
Saat akan pulang, ada yang aneh. Segerombolan wartawan (17 orang) mendatangi aku. Aku heran. Tapi syukurlah, ternyata mereka bukan hendak konfirmasi kepadaku, tapi kepada teman yang membawaku ke Perdagangan. Temanku yang wartawan itu ternyata humas acara. Ke-17 wartawan itu minta “pertanggungjawaban”. Sebab, katanya, sudah datang jauh-jauh untuk meliput acara Partai Demokrat.
Aku mengerti dan senyam-senyum dalam hati. Sempat kudengar mereka berdebat.
“Kita kan rekan. Jadi situ harus ngerti juga dong dengan kerjaan kita,” kata pihak gerombolan wartawan itu.
“Jangan samaku. Aku bukan humas acara,” kata temanku itu mengelak sambil meninggalkan mereka.
Tak terima diperlakukan demikian, gerombolan wartawan tadi mengejar temanku itu. Jadilah mereka kejar-kejaran di tengah hujan. Temanku basah kuyup, gerombolan wartawan itu juga basah kuyup. Tapi sialnya, temanku itu malah datang kepadaku dan akhirnya kami berkumpul di bawah tenda.
Tepergok, temanku itu mengeluarkan HP-nya. Dihubunginya seseorang. Lima menit kemudian, datang orang itu ke hadapan kami. “Atur dulu ini,” kata temanku itu sambil menyibak rambutnya yang basah.
“Iya, bagaimana kami ini. Siapa yang tanggung jawab,” kata salah seorang dari gerombolan wartawan itu.
“Bah! Tadi kan sudah saya kasih. Jangan dua kali dong,” kata temannya temanku itu.
Singkat cerita, akhirnya dikeluarkan juga “pertanggungjawaban” sebesar Rp300 ribu untuk gerombolan wartawan itu. “Besok harus kutengok acara ini terbit di koran kalian. Kalau tidak, awas!” kata temanku itu. [www.blogberita.com]
Dasar wartawan bodrex! Minta “jatah” dua kali pula.
- Perihal kasus SBY ini, engkau percaya pada pihak mana; SBY atau Zainal?
- Apakah Rudolf Pardede masih layak mencalonkan diri menjadi Gubernur Sumut kembali?
Artikel lain:
-
1
Ping balik on Feb 29th, 2008 at 1:41 am
[...] Suara Merdeka di Semarang, koran harian Batam Pos di Batam, majalah Applaus di Medan, dan tabloid PC Mild di Jakarta. Artikel yang kalian tulis tentang aku dan blog Batak News memberiku semangat untuk [...]


1 Agustus 2007 at 1:40 am
Hahahaha wartawan bodrex… bodrexin kali lae? Aku percaya si zaenal ada udang dibalik udang, tapi gak berarti SBY juga betul. Turunkan aja itu si Rudolf, sudah makin tertinggal jauh nanti sumut dibikinnya. Lebih baik kembali berlayar aja dia.
1 Agustus 2007 at 5:20 am
Apa itu wartawan bodrex lae? Jelasin dong dikit, awak kan cuma orang awam. Yang kutau,waktu aku masih anak anak BODREK itu katanya singkatan dari “BODDA NI HEREK” benar gak Lae??
BATAK NEWS: istilah untuk menyebut wartawan yang suka memeras dan minta-minta uang dari narasumber. mereka bergerombol seperti dalam iklan pasukan obat puyeng, bodrex.
1 Agustus 2007 at 7:45 am
Horas.. Membaca berita di atas, tentang wartawan bodrex , itu sudah hal yang biasa, saya sudah melihatnya dan berhadapan langsung dengan kondisi itu, Tapi mereka bilang kita sama sama untung koq, katanya. Wartawan dapat Hadiah, dan yang memberi juga dapat hadiah berupa berita yang mengharum kan namanya di koran. Bahkan ada juga wartawan yang mengancam dibalik profesinya kepada semua kalangan untuk mendapatkan sesuatu, “nga mulai sian najolo on lae”, Tapi cepat juga perputaran politik di SUMUT ya, dulunya Jhon Hugo ketua DPD Golkar Simalungun sekarang jadi Ketua DPC PD di tempat yang sama, Drs. Tuani Tobing juga cepat “berlindung” di partai setelah pensiun dari PNS.
1 Agustus 2007 at 8:34 am
Ah…. ada2 aja. Murah banget harga diri 17 wartawan itu cuma 300 ribu. Tapi itulah, setidaknya artikel ini semakin mempertegas kinerja para wartawan kita dimana yg namanya profesionalisme itu bisa diukur dgn nominal yg namanya rupiah. Mereka sering mencari berita bukan untuk kepentingan publik tapi hanya karena pesanan golongan tertentu. Kalau udah begini bagaimana menerapkan demokarasi di Negara ini. Seharusnya para wartawan itu objectif, independent, sehingga media mereka dapata memberikan pendidikan politik kpd masyarakat demi kemajuan demokrasi.
Perihal kasus yg menimpa SBY, memang sekarang media massa2 ibukota maupun derah rajin memberitakan hal ini. Banyak media massa yg menyajikan hal ini sbg headline berita mereka. Terlepas kasus ini benar atau tidak biarlah proses hukum yg menentukan itu. Secara pribadi saya berpendapat hal ini susah dibuktikan, kecuali kalau ada bukti2 yg materil. Kalau yg namanya menikah harus dong ada surat nikah, penghulu. Kalau cuma alat bukti yg diajukan cuma rekaman Video CD yg berisi pengakuan seseorang saya rasa itu tdk valid, dan siap2 saja Zaenal masuk penjara. Tapi yg terpenting dari kasus ini adalah kita hrs mampu mengambil hikmahnya dimana kita jgn sembarangan berbicara, menuduh seseorang melakukan ini dan itu kalau tdk didukung oleh bukti yg valid krn bisa jadi bumerang bagi didi sendiri. Kita harus mampu mengontrol pikiran kita.
Coba kita lihat apa yg dapt kita temukan disini :
Pikiran dapat diprogram sesuai yg diminta pemilinya.
Pikiran adalah komputer paling canggih di dunia.
Pikiran membuat anda bertindak.
Pikiran adalah sumber utama yg mengatur masa depan manusia.
Pikiran membuat kita maju dan berkembang.
Pikiran mampu mengontrol semua pekerjaan kita.
Pikiran telah mengangkat kita dan menjadikan kita suksea.
Pikiran ternyata mengangkat kita menjadi bintang.
Pikiran yg membuat kita gagal.
Pikiran menjerumuskana kita.
Pikiran membuat kita malas dan bodoh.
Pikiran menjadikan kita manusia super sibuk.
Pikiran membuat kita jatuh dan dikecam.
Pikiran telah menghancurkan kita.
Hal2 inilah yg merupakan produk dari pikiran. Kemudian apa yg kita temukan dari hal2 ini, itulah realitas kita.
1 Agustus 2007 at 10:19 am
nga pas be i di hargai 300ribu akka wartawan bodrex i… ai perbendaharaan kata na pe hurang do untuk ukuran ni jurnalistik. ikkon porlu do akka wartawan ni hita on sering mengikuti seminar jurnalistik… uang paila-ilahon diparekkeli halak…. hea do pakke on kata “pikirku” di berita…. hahahahah
BATAK NEWS: aku tertawa, tapi bukan tertawa karena komentarmu. namamu itulah yang bikin aku tertawa; SIHODA MANAKKAS
apakah tidak ada nama yang lebih buruk dari itu?
1 Agustus 2007 at 2:23 pm
Dulu di jkt kami pernah launchin sebuah produk, kami undang sekitar 25 wartawan dr media berbeda. Tentu saja utk itu sdh kami sediakan amplop khusus utk mereka sbg ungkapan terima kasih. Tp apa? yg dtg banyakan wartawan bodreks, jlh hampir sekitar 50, dg modal menunjukkan kartu ID, yg medianyapun kami tak pernah dengar (mungkin kami awam). Terpaksa jg kami berikan sedikit uang spy tdk ada keributan di lokasi acara. Dari mana ya mereka tau informasi ada acara? hehehe. Tp dari bbrapa amplop yg kami berikan kpd wartawan undangan ada yg 1 hari kemudian dikembalikan ke kami lg lho…salut juga.
1 Agustus 2007 at 2:24 pm
Kebenaran adalah milik orang benar…kesalahan adalah milik orang yang salah… jadi mengapa takut dikatakan salah, kalau benar dan janganlah takut melakukan yang benar walaupun sekali-kali salah namun tidak di sengaja…secara hukum … yah hakimlah yang berhak memutuskan kebenaran SBY atau Kebenaran Zainal Maarif… mari kita tunggu di teterikal peradilan kita…. pada lae batasuka…… kalau menurunkan Pak. Rudolf .. gimana caranya.. emang dia naik ke pohon mana ?? ha..ha… jangan mengada-ngada lae…..busyet……lu….
1 Agustus 2007 at 3:21 pm
percaya yang jujur ajah…ribet mikirinnya..
1 Agustus 2007 at 5:20 pm
Hiduplah Indonesia Raya,,,
1 Agustus 2007 at 6:04 pm
* Perihal kasus SBY ini, engkau percaya pada pihak mana; SBY atau Zainal?
Sementara masih percaya SBY
* Apakah Rudolf Pardede masih layak mencalonkan diri menjadi Gubernur Sumut kembali?
Tidak layak. Terlalu banyak resistensi dari semua kalangan masy. sumut termasuk batak.
1 Agustus 2007 at 9:20 pm
di akhir tulisan, ada 2 poin yang dilempar, tetap aja yang menggelitik inti paragraf sebelum dua poin itu…. Bodrex…obat kepala yang pusing…
1 Agustus 2007 at 9:43 pm
blog ini bagus om, aku sering dateng, aku suka gaya bahasanya. tapi tolong dong kalau ada bahasa daerahnya di terjemahin termasuk komen sekalipun! jujur, kadang bikin nggak ngeh… kalo masalah SBY kita liat aj nanti…
BATAK NEWS: terima kasih, kawan. tak usah panggil om. aku belum tua.
aku sendiri selalu menerjemahkan bila dalam artikel ada istilah-istilah batak. dalam komentar pun demikian. tapi mungkin bisa saja ada yang luput. komentarmu ini sekaligus imbauan kepada kawan-kawan pembaca orang batak, bila menulis komentar dalam bahasa batak jangan lupa membuat terjemahannya. karena kawan-kawan kita non-batak ternyata suka juga membaca blog ini.
1 Agustus 2007 at 10:10 pm
Wartawan bondrex. Aku geram sekaligus prihatin. Seharusnya AJI ataupun PWI melihat fenomena ini. Inikan preseden buruk di dunia jurnalis. Terserah apa yang hendak mereka lakukan nanti. Yang pasti harus ada solusi agar jurnalis tak selalu dikatakan buruk. Bang Jarar bilang, salah satu solusi, ya perhatikan dong gaji wartawan. Itukan termaktup dalam UU Pers. Tapi perlu juga dong dirazia wartawan2 yang tak punya surat kabar. Bahkan kalau menurutku harus diseret ke meja hijau. Dipenjarakan, atau setidaknya dipaksa kerja sosial seperti di luar negeri.
Soal kasus SBY dan Zainal Maa’rif. Bagiku ini menarik. Indera keenamku bilang Zainal punya bukti otentik. Taklah bodoh seorang mantan wakil ketua DPR memolisikan seorang presiden. Tapi tak sedapnya, Zainal malah buka pintu ‘Islah’. Jebakan coi! Hebat juga dia. Salah langka, SBY terperosok. Mengenai Rudolf masih laik mencalon jadi Gubernur. Menurut tidak! Rudolf menjadi gubernur hanyalah sebuah keberuntungan.
2 Agustus 2007 at 7:42 am
Kasus Zainal Maarif dengan Sby merupakan sebuah berita yang menarik untuk dianalisis dan diperhatikan. Hal ini menyangkut moralitas seorang pemimpin yang mengawaki satu organisasi yang besar, sebuah negara yang bernama Indonesia. Bila benar tuduhan tersebut dengan alat bukti yang ada….bagaimana bangsa ini ke depannya ???? bingung deh…. kayak organisasi PSSI yang dipimpin mantan terpidana Nurdin Halid atau PASSI yang dipimpin mantan terpidana dulu Bob Hasan….kalau awalnya seorang pemimpin sudah salah terus apa lagi yang diharapkan….??? atau memang bangsa ini bangsa kere yang hanya layak dipimpin oleh orang-orang yang mantan terpidana….? memang sih kalau menurut syair Ebit G. Ade… masih ada waktu untuk bertobat… tapi… apa nggak ada lagi orang yang benar di republik ini ? mari kita tanya pada rumput yang bergoyang atau tanya pada hati bersih kita.!!!
2 Agustus 2007 at 8:02 am
yang ini hanya dagelan politik agar ada dijual pemilu yang akan datang,dan jurkam nya akan berkata:yang ini bukan pemimpi,tapi benar-benar pemimpin,walaupun dia dihujat,namun tidak melaknat,bahkan ketika ada yang mengatakan dia bejat,namun dia tidak membuat nya kualat,……dst ,sehingga rakyat terbuai,walaupun sudah terburai
mauliate bang jj-horas
2 Agustus 2007 at 1:24 pm
Hari ini saya membaca sebuah tabloid yg berjudul PC Mild (The Indonesia,s Greatest Computer Newspaper) dimana salah satu isinya adalah mengenai Batak News (lengkap dgn gambar pendirinya yg sedang memegang sebatang rokok). Tabloid ini memberi komentar ttg Batak News Sbb:
Di tengah komunitas jurnalis tanah air, penggagas sekaligus pemilik blog ini dikenal sebagai seorang jurnalis idealis. Ia rela meninggalkan statusnya sebagai pekerja media, dan mulai melirik blog sebagai tempatnya melanjutkan idealisme kewartawanannya.
Bermodalkan sebuah laptop, Jarar Siahaan mulai menuangkan pikiran dan gagasannya melalui blog Batak News. Sebuah pekerjaan yg dilakukan sungguh2 yg datang dari sebuah idealisme akan memancarkan hasil yg baik. Setidaknya hal tersebut dibuktikan oleh blog yg telah berhasil mencatat hit di atas 30 ribu dalam usia yg relatif muda, hanya dua bulan.
Kehadiran Batak News yg mendapat sambutan luar biasa dari pengakses internet, dapat menjadi tonggak bagi kehadairan era baru dunia jurnalisme indonesia. Era kebangkitan berita berita lokal, di tengah desakan arus pengglobalan dunia.
Comentar ini saya kutip secara lengkap tanpa dikurangi ataupun ditambah2. Horas.
BATAK NEWS: wah, tak kusangka ternyata perhatian media cukup besar terhadap blogku. dulu aku diwawancarai suara merdeka dari semarang, kemudian harian batam pos juga pernah menyinggung batak news, baru-baru ini dikutip juga oleh majalah applaus, dan sekarang lae bilang blogku ditulis juga di tabloid pc mild. terima kasih untuk semua redaksi media tersebut.
terima kasih untuk laeku rim yang telah menginformasikannya. tapi kusimak dari kutipan tabloid itu, kayaknya sudah dimuat beberapa bulan yang lalu — bukan pada edisi bulan ini, kan lae? bila lae tidak berkeberatan, simpanlah dulu guntingan halaman berita tabloid itu, kapan-kapan mungkin lae bisa bawa ke balige, atau kalau tidak merepotkan dikirimkan via pos saja.
3 Agustus 2007 at 11:36 am
komentarmu ini sekaligus imbauan kepada kawan-kawan pembaca orang batak, bila menulis komentar dalam bahasa batak jangan lupa membuat terjemahannya. karena kawan-kawan kita non-batak ternyata suka juga membaca blog ini.
————————–
Lae yang Batak pun banyak yg udah ga bisa Bahasa Batak hehehehehe
Just Kidding Bro, tapi sesekali boleh juga teman yang ga ngerti Bahasa Batak to the point nanya artinya dong.
Thank you.
8 Agustus 2007 at 2:46 am
pak zainal ma’arif adalah politikus yang intelek. dia pasti memiliki banyak evidence dalam tindakannya melakukan pembunuhan karakter alias character assassination terhadap presiden sby. mungkin juga karena jabatannya dicopot dari wakil ketua dpr. logika formalnya, pak zainal itu pasti tipikal pendendam. tapi semua ini imbasnya pasti akan ke rakyat juga. aku jadi ingin menyuarakan lirik lagu “pancasila dasarnya apa? rakyat adil makmur yang mana? pribadi bangsaku…tidak maju-maju, tidak maju-maju…tidak maju-maju.
30 Agustus 2007 at 3:18 pm
menurut aku….. zainal ma’arif pasti punya alasan yang kuat tp banyak pejabat yang ga berani bicara mungkin karena takut atao cari muka yang pasti berani bicara berarti bisa dipertanggung jawabkan………!!!
mengenai rudolf pardede……. saya rasa layklah dia sebagi gubernur…… kalo dibilang ngak maju-maju daerah sumut, gubsu yang lain juga ga sanggup kok…….. terbukti presiden aja ga ada yang becus ……… memang mental negara ini mental tempe …….. taunya uang melulu…… kasus tki dimalasya aja ga ada yg berani perjuangkan………. kok takut amaa malasya……. dasar pejabat bulsiiiiiiiitttttt!!! militer tp penakut