[toga nainggolan; batak news; pantun seorang lelaki muslim]
Seorang wartawan muslim berkirim imel padaku tadi pagi. Ia menulis pantun. Sebuah pantun yang tidak dia rencanakan sebelumnya. Tertulis mengalir. Ia menangis setelahnya.
Pantun ini ditulis oleh Toga, seorang wartawan di Medan. Dia meminta agar aku sendirilah yang membuatkan judul pada pantunnya ini.
Toga adalah kawanku. Aku tahu dia sepertiku; selalu resah melihat orang-orang beragama yang sibuk bertengkar, mempertentangkan agama mereka, dan justru lebih khusyuk mempromosikan agama mereka seperti iklan kecap manis daripada khusyuk berbuat baik kepada sesama.
Haleluya, Allahu Akbar
Bila jalan di semak belukar
hati-hati digigit ular
Bila Islam dan Kristen bertengkar
yang menang orang yang ingkar
Kalau sampai tergigit ular
rasa sakitnya seperti terbakar
Kalau menang orang yang ingkar
semua agama segera bubar
Setelah sakit seperti terbakar
badan menggigil sampai tak sadar
Kalau semua agama sudah bubar
dunia pun jadi kampung bar-bar
Usai menggigil sampai tak sadar
tak lama kau pun jatuh terkapar
Dalam dunia yang jadi kampung bar-bar
tak lagi ada Haleluya atau Allahu Akbar!
Jika dirimu sudah terkapar
ke seluruh nadimu bisa menjalar
Jika tiada lagi Helluya dan Allahu Akbar
bumi dan semesta pun berhenti berputar
Di seluruh nadimu bisa menjalar
tak lagi ada yang bisa jadi tawar
Sedetik saja semesta tak berputar
Semua yang ada musnah terbakar
Saat tiada yang bisa jadi tawar
ke liang lahat jasadmu diantar
Saat semua telah musnah terbakar
tiada guna sesal diujar
*****
Sebelum ke liang lahat jasadmu diantar
mumpung masih guna sesal diujar
di dadamu biar kasih dan iman mekar
di langit di bumi damai menebar
Ingat bagaimana Bapak kita, Ibrahim, gemetar
suami Ibu-ibu kita, Sarah dan Hajar
Membayangkan kelak setelah tahun dan abad bertukar
turunan yang sama-sama diberkati itu malah sibuk bertengkar
Mari buktikan ketakutannya tak benar
dengan berlaku bak saudara kembar
Duduk sebaris berdiri sejajar
tak merasa lebih besar apalagi paling benar
Haleluya, Allahu Akbar
Puji Dia yang Maha Besar. [www.blogberita.com]
Oleh Toga Nainggolan, Medan, pada pagi yang hening di akhir Juli 2007.
Tulisan Toga sebelumnya:
Silakan bila ingin mengutip artikel dari blog ini, dengan syarat menyebut sumber dan nama penulisnya. Bila dikutip untuk website, blog, atau milis, maka tuliskanlah sumbernya www.blogberita.com dan buatkan link ke artikel bersangkutan. Bila dikutip untuk media cetak seperti koran, bulletin, dll, maka tulislah sumber kutipannya; www.blogberita.com.


31 Agustus 2007 at 4:38 pm
sok hebat kali lah kau jarar, aku kenal kau siapa di dekat Pom bensin balige…… he… he,…..
JARAR SIAHAAN: memang banyak yang mengenalku. rumahku memang dekat pom bensin. memangnya kenapa? sudah beberapa kali kau berkomentar di blog ini dan isinya selalu “sampah”. kenapa kau tidak mengomentari esensi sebuah artikel agar terlihat kemampuanmu sampai di mana.
aku pernah baca salah satu komentar pembaca di blog ini dulu. dia tulis begini: “iri tanda tak mampu.”
oh ya, satu lagi, karena aku merasa komentar-komentarmu cuma “numpang kencing”, tak berguna, dan cuma jadi sampah, maka selanjutnya komentarmu akan kuhapus. kecuali kalau kau tidak malu memakai nama samaran lain.
3 September 2007 at 2:55 am
Horas Lae Siahaan,
Madekdek do ilungku Lae manjaha haiason/haulion ni roha muna i. Alana otik do jolma nasongon hamu. Ai hudok do tong tu Bangsoi:”Ndang Titel,Hamoraon dohot haulion ni rupamunai naeng dihami”, alai haulion/haBatakhon mumai do nanaeng di hami ! Alana borat jala maol do paturehon Bangsoi.Adong mai angka si Ganjang dila, Pantang sobilak, si Jogalrungkung,Parbada bolon dohot na-asing-2. sai dilean Ompunta siMula Nabolon i ma di hamu gogo dohot habisuhon ! Asa adong pasahaton muna tu bangsoi ! Godang tabe, J.Sianturi
JARAR SIAHAAN: horas, lae. aku sependapat dengan pemikiran lae. minta tolong lain kali lae tuliskan juga terjemahan komentar ke bahasa indonesia, supaya pembaca non-batak bisa mengerti.
maklumlah laeku, beberapa kali pembaca mengeluhkan hal ini. terima kasih, salam.
26 September 2007 at 7:53 pm
Pantunnya keren man….. Bisa aja bikin yg begitu……
27 September 2007 at 9:34 am
Aku batak sundulan…artinya batak bukan sunda apalagi jawa juga kaga’ tapi indo jerman.
dalam hidup kagak penting mikir ruwet-2 yang penting duit banyak usaha lancar…punya mobil mewah..mati masuk surga…kenape lho pade bingung-2 pikit itu kebutuhan lho sehari-hari cukup kagak
2 Oktober 2007 at 4:52 pm
Aku sungguh sungguh terpesona kawan dengan kalimat-kalimat yang bertubi-tubi artinya. Sangat menghunjam dihati.
Salam kenal Kawan
3 Oktober 2007 at 12:11 pm
Baru pertama tp ak langsung setuju dgn apa yg anda tulis di sini. Selayaknyalah kita hidup selalu damai tanpa membedakan suku, ras dan agama, selalu menebarkan cinta. Agama bukan untuk dipertentangkan karena agama merupakan hak azazi yang paling hakiki. Bukankah sebagai muslim kita punya satu ayat ” LAKUM DIINUKUM WALIYA DIIN”. Kenapa masih saja banyak yang mempertentangkannya….!!!??
7 Oktober 2007 at 9:53 pm
pingin sih gak berantemmmmmmmm……………………….. cuma yang ngajak siapa duluan yaaaaaaa??????????????????………………………
udah lah!!!!! klo orang gak mau masuk satu agama gak usah dipaksa!!!!!!!
agama kan hak asasi!!!!!!!!!!!
masak ampe nyulik n cuci otak segala!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!1
gak malu????????????????????
katanya kedamaian dalam kasihhhhhhh???????????????
12 Oktober 2007 at 4:27 pm
Salute to Bang TOGA for the poetry
MAKIN SERU aja lah blog Lae Jarar ini. jadi betah aku baca semua artikelnya
Salam
12 Oktober 2007 at 5:32 pm
Yang penting peace…
Shalom…
wassalamualaikum.